Abubakar alias Pak Andak Abuk.Berpose dalam posisi siap bertarung menggunakan senjata belantan. Pada masa mudanya ia adalah salah seorang bajak laut dari Pulau Galang. Foto ini dibuat oleh Viviene Wee tahun 1984, dan dimuat dalam disertasinya yang berjudul Melayu: Hierarchies of Being in Riau, 1985, hal: 595. (foto: dokumentasi Aswandi syahri)

Pada Abad 19, rakyat laut di Kepulauan Riau-Lingga yang terdiri dari berbagai kelompok atau puak adalah salah satu elemen penting dalam arus sejarahdi kawasan Selat Melaka sejak zaman emporium Melaka berkuasa. Orang Eropa, terutama Inggris, menyebut mereka maritime population (rakyat laut).

Mereka telah memberi warna yang sangat penting dalam kehidupan ekonomi dan politik kerajaan Johor yang ketika itu berpusat di Daik-Lingga. Cakupan wilayah jelajah mereka jauh hingga ke Tanah Semenanjung, Singapura, sebagian pesisir Timur Sumatra, bagian Utara Pulau Jawa, Australia dan seluruh wilayah provinsi Kepulauan masa kini.

Menurut Captain Artilerry Inggris, Peter James Begbie, rakyat laut Kerajaan Johor di Kepulauan Riau-Ligga ini dipandang negatif oleh kebanyak orang Eropa karena akfitas perlanunan atau perompakan di laut yang sering mereka lakukan. Namun demikian, Kerajaan Johor ketika itu (yang kelak dikenal sebagai kerajaan Lingga-Riau) cukup lama menikmati dan diuntungkan oleh aktifitas lanun dan rakyat lautnya, “…the empire of Johore consist of at present principallyof numerous islands, which have long been celebrated for the piratical pursuits of their inhabitants…”, tulisa Begbie.

            Berikut ini adalah nukilan beberapa catatan Peter James Begbie tentang rakyat Laut kerajaan Johor di Kepulauan Riau Lingga pada tahun 1823. Dinukilkan dari Chapter VII halaman 263-273 buku Peter James Begbie yang terbit untuk pertamakalinya di Madras, India, dengan judul The Malayan Peninsula, pada tahun 1834.

***

Sejumlah pulau, seperti Temiang (Tamiang), Galang, Mepar (Mappa), Buru (Booroo), Sekanak (Sakana), Terong (Trong), Pekaka, Soongei dan lain-lain, lebih ekslusif dikhususkan untuk aktifitas pembajakan di laut (piracy), ketimbang yang lain.

            Orang Lanum (Lanun atau Ilanun yang datang dari kawsan Utara Kalimantan), bukan rakyat Kerajaan Johor (yang ketika itu beribukota di Daik-Lingga), dan pada dasarnya mereka adalah bangsa bajak laut (lanun). Walaupun demikian hasil jarahan mereka tidak menodai orang Johor dengan kekejaman  yang terkutuk

            Di sejumlah pulau itu, kaum laki-laki maupun perempuan dipekerjakan di perkebunan. Mereka juga menjual sagu dan agar-agar yang mereka miliki kepada junk-junk Cina yang setiap tahun menyinggahi pulau-pulau kecil ini, Singapura, Lingga, serta Riau (Rhio).

            Sementara itu, orangTumboosoo (Tambus) merupakan rakyat laut Kerajaan Johor. Mereka tidak punya tempat tinggal yang tetap, mengembara dari pulau ke pulau seperti orang laut, berpindah-pindah seiring bergantinya angin monsoon, dan mencari tempat berteduh di setiap anak sungai; seperti orang laut. Tempat tinggal mereka berbeda dari bajak laut lainnya.

Pertelagahan sengit  kerap terjadi antara perahu perang (firebooters) orang Lanum (Lanun) dan perahu rakyat laut Kerajaan Johor ini.

Menurut iformasinya, pada bulan Maret setiap tahunnya, rakyat laut Kerajaan Johor ini hijrah dari tempat mereka bermukim ke Pulo Liaper dan Billiton (Belitung), dua pulau yang menjadi tempat mereka bertemu. Selanjutnya mereka langsung menuju Pantai Utara Pulau Jawa. Sebalikna, orang-orang Lanum (Lanun), terus berlayar ke arah Timur, dan menjelajahi pantai kawasan New Holland (di Autralia).

Ukuran perahu-perahu yang dipegunakan oleh rakyat laut Kerajaan Johor bervariasi, mulai dari lima hingga sepuluh coyangs (koyan: satuan ukuran berat) dalam kapasitas daya angkutnya (burthen). Perahu-perahu ini dipersenjatai dengan meriam besi atau kuningan yang dapat berputar (sejenis lela), dan membawa 40 hingga 80 orang awak perahu.

Sementara itu perahu orang-orang Lanum lebih besar. Kapasitas daya angkutnya (burthen) bervariasi, mulai dari sepuluh hingga dua puluh coyangs, dan awak perahunya berjumlah hingga 170 orang.

Ketika kembali dari misi pebajakan di Pantai Utara Jawa hingga Australia, mereka umumnya memperbaiki perahu, dan,  dengan segera bersiap semula melautserta mencari “laman bermain” yang berbeda.

Rakyat laut Kerajaan Johor umumnya membatasi diri mereka di sekitar kawasan Selat Melaka. Sementara itu aktifitas  orang-orang Lanum (Lanun) mencakupi perairan di kedua pantai Semenanjung (pantai Timur dan Pantai Barat tanah Semenanjung). Namun bagaimana pun juga, Rakyat laut Kerajaan Johormerayau di laut untuk waktu yang panjang.Pergerakan mereka biasanya dimulai pada bulan Juni dan berakhir pada bulan Oktober, ketika angin laut telalu besar untuk perahu mereka yang berukuran kecil.Sebaliknya, orang-orang Lanum (Lanun), menghentikan semua aktifitas pembajakan di laut hingga hingga akhir bulan Agustus atau awal bulan September.

Disamping kapal dan perahu dua kelompok bajak laut ini, terdapat pula sejumlah kapal negeri lainnya melakukan hal yang sama. Kerajaan-keraja kecil sepertiPedir, Siak, Manglun, Sooso di Pantai Timur Sumatra, dan Salangore (Selangor), Moar (Muar) dan daerah lainnya di Semenanjung Malayu juga membenarkan akfitas pembajakan sejauh keadaan memungkinkan bagi mereka melakukannya.

Pada tahun 1826 Residen Belanda di Riau (Tanjungpinang), pernah mengirim angkatan laut yang disertai oleh perahu tempatan milik Rajah Moodah kawasan itu (Yamtuan Muda Riau) dalam sebuah ekspedisi ke Pulau Karimun, sebuah pulau yang diyakini sebagai tempat berkumpulnya bajak laut dalam jumlah yang besar. Sejumlah tindakan serupa juga dilakukan oleh pihak Inggris.

Kelompok bajak laut bajak laut utama pada masa ini adalah mereka yang berasal dari Tamiang (Pulau Temiangdi Kecamatan Senayang) dan Pulau Galang. Mereka mempunyai sejumlah pemimpin yang disebut Panglimah (panglima).

Sejumlah catatan dalam manuskrip Melayu yang ada dalam simpanan Peter James Begbie merekam sejumlah nama panglima bajak laut yang eksis di Pulau Temiang dan Pulau Galang pada tahun 1823.

Bajak laut di daerah Pulau Tamiang antara lain dipimpin oleh Panglimah Iding (yang merupakan ayah mertua Datoo Massar). Selanjutnya ada Panglimah Jago; Panglimah Lamud; Panglimah Boorig; Panglimah Moodik; dan Panglima Joolamo yang merupakan keturunan Cina; selain itu ada juga PanglimaKatchang yang kemudian ditangkap di Kampong Cina Canton. di Tanjungpinang, atas bantuan Said Muhammad Zain al-Qudsi.

Masih dari Pulau Timiang, dikenal pula Panglimah  Awang; Panglimah Ondoo Lanoon; Panglimah Toompang; dan Panglimah Asan. Dua Panglimah yang disebutkan terakhir ini, kerap terlihat berhampiran daerah Sakana (Sekanak).

Sementara itu di Pulau Galang, para lanun atau bajak laut ini dipimpin oleh para panglima yang berna, Panglima Raja Lang; Panglimah Ootara; Prangdola; Abong; Lasang, Sampan; Onndoong; Ooyan; dan Poona.***

Tinggalkan Balasan