Di mana orang berhimpun
Di sanalah pantun dilantun

Di mana orang berbual
Di sana pantun di jual

Di mana ada nikah kawin
Di sana pantun dijalin

Ungkapan-ungkapan di atas adalah ungkapan yang menyatakan sebuah esensi pantun pada masyarakat khususnya masyarakat Melayu di wilayah-wilayah yang masih serumpun. Ungkapan hebat ini dengan penuh filosofis disampaikan oleh Allayarham Tenas Effendi.

Bukan tanpa makna, bahwa ungkapan di atas adalah sebuah tanda pantun akan sangat menjadi penting di dalam tradisi lisan dan juga kesusasteraan masyarakat melayu. Essensialnya pantun pada masyarakat melayu telah menjadikan pantun tercatat sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nasional yang tercatat pada tahun 2014 yang diusulkan oleh dunia daerah di Provinsi Kepulauan Riau yaitu Kabupaten Lingga dan Kota Tanjungpinang. Pantun Melayu merupakan domain tradisi lisan yang dicatat sebagai WBTB Provinsi Kepulauan Riau (Pusdatin, 2020). 

Berita yang sangat mengembirakan sekaligus sebagai sebuah tantangan besar dan amanah bagi Kota Tanjungpinang sebagai wilayah yang bergelar Kota Gurindam Negeri Pantun sekaligus sebagai sebuah daerah yang mengusulkan pantun sebagai WBTB nasional pada tahun 2014 dan kini pantun masuk sebagai antrian untuk diangkat sebagai Intangible Cultural Heritage (ICH) oleh UNESCO yang diperkirakan waktu persidangan pantun sebagai WBTB dunia ini akan berlangsung pada akhir tahun 2020 ini. Dengan naiknya status pantun sebagai WBTB dunia yang dicatat oleh UNESCO maka eksistensi pantun pada masyarakat melayu khususnya Indonesia dan Malaysia yang merupakan dua negara pengusul pantun sebagai WBTB dunia harus semakin ditingkatkan, bukan saja semata-mata sebagai sebuah khazanah sastra dan tradisi lisan, namun ianya harus menjadi jati diri yang melekat sebagai kepribadian di dua negara tersebut. 

Di Kota Tanjungpinang sendiri bagaimanakah eksistensi pantun ?. Pada tanggal 19 Oktober 2020 silam, telah dilakukan Verifikasi dan Validasi oleh Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang melibatkan juga beberapa pelestari dan penggiat pantun muda Kota Tanjungpinang. Di dalam pertemuan tersebut beberapa pertanyaan muncul seperti apa itu pantun, bagaimana penggunaan pantun, apakah penggunaan pantun masih sering digalakkan, bagaimana pelestarian pantun ? dan menurut penulis pertanyan-pertanyaan ini akan mengiring dan sebagai bukti apakah pantun memang layak diangkat menjadi WBTB berkelas dunia oleh UNESCO ?. 

Pertanyaan-pertanyaan itu menggiring kita harus mengingat dan melihat realitas pantun di negerinya sendiri, Kota Tanjungpinang Negeri Pantun. Pantun di Kota Tanjungpinang tak dapat dinafikan memang cukup berkembang. Sebagai tradisi lisan ianya berkembang di dalam adat istiadat pernikahan Melayu, di dalam sambutan-sambutan pejabat daerah, di dalam musyawarah-musyawarah adat.

Sebagai tradisi tulis, pantun sudah ada sejak ditulis oleh Haji Ibrahim dalam sebuah buku berjudul Pantun-Pantun Melayu Kuno. Sebagai tradisi tulis pantun juga ditulis dan dikaji sehingga muncul nama Tusiran Seseno yang menulis buku seperti Mari Berpantun, Antologi Pantun Tanjungpinang, dan beberapa buku lainnya, Ali Achmad atau lebih dikenal dengan Datok Alipon yang pada tahun 2007 telah dinobatkan sebagai Maestro Pantun dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia juga telah menulis buku seperti Pak Ali Berpantun dan buku 1001 Pantun. Tamrin Dahlan yang sangat dikenal sebagai Spesialis Pemantun Nikah juga telah menulis buku berjudul GPS (Gurindam, Pantun dan Syair).

Di kalangan lebih muda terdapat nama seperti Yoan Sutrisna Nugraha yang telah menulis buku berjudul Kumpulan Pantun Negeri Pantun, dan terdapat nama Rendra Setyadiharja yang telah menulis dan mengedit buku pantun seperti Pantun, 500 Pantun Pemilu, dan karya terbarunya adalah Khazanah Negeri Pantun yang diberi pengantar oleh Sastrawan Negara Malaysia Prof. Muhammad Haji Salleh. 

Selain pantun eksis sebagai tradisi lisan di Kota Tanjungpinang, pantun juga berkembang dari bentuk perlombaan dan juga seni pertunjukan di beberapa acara yang para pemantun Kota Tanjungpinang terlibat di dalamnya. Mulai dari Peraduan Berbalas Pantun pada ajang Gawai Seni Kota Tanjungpinang dimana perhelatan ini sudah ada sejak tahun 2002 dan berlangsung sehingga gawai seni saat ini, Eksebisi Peraduan Berbalas Pantun pada Festival Tradisi Lisan Se-Nusantara di Taman Ismail Marzuki Jakarta tahun 2007, Monolog Pantun yang diselenggarakan sempena Hari Lingkungan Hidup Dunia di Pekanbaru Riau tahun 2007. Selain itu oleh Pemerintah Kota Tanjungpinang dan beberapa pihak di Negeri Pantun ini telah berhasil menyelenggarakan Pemecahan Rekor Berbalas Pantun terlama yaitu pada Pemecahan Rekor MURI Berbalas Pantun Terlama selama 6 Jam Tanpa Henti di Taman Ismail Marzuki Jakarta pada April 2008 dan kemudian Pemecahan Rekor  MURI Berbalas Pantun diiringi musik dan tarian selama 10 Jam, 10 Menit dan 10 Detik di Tanjungpinang yang ditaja oleh UMRAH Kepulauan Riau. Tak hanya itu pantun juga dikreasikan menjadi sebuah pertunjukan opera dalam Opera Pantun dalam acara Festival Pantun Serumpun di Taman Ismail Marzuki Jakarta pada tahun 2008. 

Pantun di Kota Tanjungpinang Negeri Pantun juga menjadi sorotan instansi vertikal pusat seperti Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, sehingga beberapa pemantun Kota Tanjungpinang mendapatkan kesempatan menjadi narasumber pada Bengkel Pantun di beberapa wilayah seperti Provinsi Bengkulu tahun 2012, Provinsi Gorontalo tahun 2013, Provinsi DKI Jakarta tahun 2014 dan Provinsi Kalimantan Selatan tahun 2014. Selain bengkel pantun di beberapa wilayah Indonesia, Bengkel Pantun juga kerap digelar di Kota Tanjungpinang seperti Bengkel Pantun yang selalu ditaja oleh Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Riau dan terakhir dilaksanakan pada tahun 2019 silam. Bengkel pantun tersebut ditujukan kepada siswa-siswi SLTA sederajat dalam rangka proses pelestarian pantun. 

Dengan banyaknya perhelatan pantun di Kota Tanjungpinang, pertanyaan selanjutnya bagaimana proses pelestarian pantun dahulu kini dan masa depan, akankah masih ada generasi muda yang ingin dan hendak melestarikan pantun di negeri pantun ini ?. Di dalam beberapa catatan penulis maka terdapat sejumlah nama pemantun dan pengiat pantun yang hadir sebagai generasi pendahulu dan sebagiannya sampai saat ini masih berkiprah, yaitu tersebut beberapa nama seperti Abdul Karim Wahab, Tusiran Suseno, Amiruddin, bahkan dua orang Walikota Tanjungpinang seperti Hj. Suryatati A. Manan dan Syahrul merupakan pemimpin wilayah yang berperan dalam pengembangan pantun dan juga menjadi pengiat pantun, tercatat juga nama Ali Achmad atau Datok Alipon Sang Maestro Pantun, Tamrin Dahlan Sang Spesialis Pemantun Nikah, Teja Al Habd, Amran Syahidid, dan Encik Abdul Hajar adalah generasi yang telah giat sebagai pelestari pantun yang memulai karirnya sejak tahun 1980an hingga saat ini. Di generasi penerus tampaknya pantun memiliki penerus yang cukup prospektif yaitu tersebut nama seperti Rendra Setyadiharja, Yoan Sutrisna Nugraha, Muharroni, Al Naziran Syahputra, Zainal Anbiya, Barozi, Al Mukhlis, Angga Adharullah, Edi Kurniawan, Mukhtar, dan terdapat beberapa pengiat pantun perempuan seperti Syafaria, Parma Sari, Parma Asih dan Akta Parmasari. Di generasi ini kisaran tahun berkiprah sebagai pemantun dan pengiat pantun mulai tahun 2002 hingga saat ini dan juga menjadi harapan masa depan. Di generasi inilah eksistensi pantun harus terus berlanjut dalam konteks pelestariannya. Tampaknya pelestarian pantun di generasi harapan masa depan telah menunjukkan suatu tanda-tanda yang baik, lahir nama seperti Syarifah Nazdla Al Qudsy, Said Rully Aditianda, Adelia Fitri, Chintya Rahmadani, Rahmawati Aulia, Devin Pramana, Darmawansyah, Irfansyahputra, Sabri yang kini sedang duduk di bangku SLTA dan Perguruan tinggi, generasi harapan ini baru berkiprah dimulai tahun 2019 dan diharapkan hingga masa depan. 

Namun di era digital saat ini, apakah eksistensi pantun menjadi mati dengan perlawanan dengan media sosial yang begitu hiruk pikuk pada generasi saat ini ?. Ternyata pantun juga masih hidup di beberapa kanal media sosial seperti Instagram pada akun @pandantun. Selain itu hidup dan eksis juga pada kanal Youtube pada saluran Pandantun, Hangkate-Al Naziran Syahputra, saluran milik Yoan Sutrisna Nugraha, Adi Pranadipa dan bahkan pantun juga telah masuk ke kanal RRI.NET. 

Dengan eksistensi pantun sedemikian rupa di atas, ternyata pantun masih belum membumi di mulut-mulut masyarakat, pantun hanya eksis dalam tataran peraduan atau perlombaan atau seminar, bahkan jika tidak ada Adat Istiadat Perkawinan yang menggunakan pantun, maka pantun tak akan tampak jelas di masyarakat. 

Siapkah Pantun sebagai WBTB sekelas dunia ? Tepuk dada tanya selera, itu pepatah yang paling pas dilontarkan, selain beberapa hal yang sudah dijabarkan di atas, tampak usaha yang harus lebih keras membumikan pantun di masyarakat, menjadi alat komunikasi persuasif yang efektif, menjadi alat komunikasi yang sopan, santun, media penuntun dan media berbicara yang beretika yang luhur. Eksistensi pantun harus lebih luas dibanding hanya sebagai tradisi tulisan dan juga seni pertunjukan pada perlombaan dan seminar namun ia harus mengakar menjadi tradisi lisan yang massif sehingga sebati dengan bangsa tempat ia berada.

Tinggalkan Balasan