“APALAH kalian ini. Tak salah ‘kan kalau aku sekadar mengambil sedikit keuntungan dari jerih-payahku? Bukannya banyak sangat. Pun bukan untukku seorang. Ada bagian untuk keluargaku, saudara-saudaraku, anak buahku, timku, dan sekitar-sekitar itu. Lagi pula, untuk mendapatkan kesemuanya itu, aku harus mengeluarkan modal, bukannya gratis,” tinggi suara Wak Entol menyergah orang-orang yang mengeritiknya. 

“Kalian memang SMS-lah. Susah melihat (orang) senang, senang melihat (orang) susah, suka membuat sensasi!” suara Wak Entol semakin lantang dan berapi-api.

Karena disergah Wak Entol, orang-orang dan para pemuda kampung tak mau kalah. Mereka memandang Wak Entol dengan penuh kebencian. Di antara mereka ada pula yang hendak menerkam, menikam, bahkan mencencang Wak Entol sampai mati karena begitu geramnya. Ada pula di antara orang muda-muda itu yang hendak menelan Wak Entol mentah-mentah tanpa dimuntahkan kembali, biar terkubur abadi di dalam perutnya, tak keluar-keluar lagi.

Aneh dan malangnya, mereka ragu melaksanakan niat itu. Pasalnya, mereka mengetahui bahwa Wak Entol memiliki ilmu hitam peringkat tertinggi. Bahkan, peringkatnya konon sampai mencecah langit ketujuh. Dia tak mudah dikalahkan dalam perlawanan fisik. Nyali orang kampung dan para pemuda ciut mengecut ketika mengingat semua kehebatan Wak Entol dalam bertarung. Tinggallah kebencian dan kegeraman mereka terpendam di hati, tak mampu diwujudkan dalam kenyataan. Kasihan dan malang nian nasib mereka karena tak mampu meluahkan gesaan sanubari yang bertubi-tubi.

“Kalau hendak untung, jadi pedagang saja, Wak. Jangan jadi perantara kami. Makan-sumpah nanti!” balas Ketua Pemuda kampung dengan mengerahkan semua tenaga yang dimilikinya. Dia memberanikan diri dengan membangkitkan semua semangat yang dimilikinya melalui “ilmu pembangkit semangat” dari tujuh tanjung tujuh teluk seraya mengacungkan tangan yang terkepal. Walaupun begitu, malangnya lagi kepalan tangannya tak kokoh dan terlalu ketara gemetarnya. 

“Iya kan, Saudara-Saudara?” dia meminta kepastian orang-orang kampung yang hadir dan para pemuda yang datang ke rumah Wak Entol petang itu.

“Iyalaaah, iyaaaa, iyalaaah!” jawab orang-orang dan para pemuda serempak, serentak, dan kompak. Semua mereka mengepalkan tangan dan mengacungkannya ke atas sambal berteriak keras, entah apa. 

Keberanian orang-orang dan para pemuda agak muncul juga karena Si Ketua Pemuda sanggup menjawab sergahan Wak Entol. Akan tetapi, mereka tetap takut beradu mata dengan Wak Entol. Konon ada petuah, orang yang memiliki ilmu hitam, matanya tak boleh ditentang. Kalau ditentang, si penentang akan semakin tunduk di bawah kehendaknya. Jadilah keberanian orang-orang itu berubah-ubah: terkadang timbul terkadang tenggelam pula, kadang-kadang hangat, kadang-kadang sejuk pula, tergantung situasi, macam hangat-hangat tahi ayam, bidal orang dulu-dulu.

“Sumpah, kata kalian. Aku ini kebal sumpah. Tak akan termakan sumpah kalian. Dan, jangan kalian pikir kalian saja yang punya sumpah, aku juga punya sumpah. Malah, sumpahku jauh lebih hebat daripada sumpah kalian. Tak ada yang gratis di negeri ini. Aku juga harus mengumpulkan modal untuk membeli suara kalian. Mau apa rupanya kalian!” Wak Entol mencabar garang.

Tak ada yang berani menjawab tantangan Wak Entol. Pasalnya, waktu berkata tadi suara Wak Entol membahana, menggelegar, terdengar sampai ke seberang lautan yang sangat jauh. Langit tiba-tiba berubah menjadi mendung semendung-mendungnya. Itu bermakna peringkat kemarahan Wak Entol sudah hampir mencapai titik didihnya.

“Mengapa kalian terdiam macam kera bodoh, hah? Tunggu, ini sumpahku untuk kalian semua, tak besar tak kecil, tak tua tak muda,” Wak Entol mengancam seraya merapal sumpahnya di dalam hati. Tak ada sesiapa pun yang mendengar sumpah-seranahnya.

roh kembali darah kembali
mani manikam darah gemuruh
darah gemuruh dalam tubuhku
darah berani naik ke kepalaku
jembalang puaka di hatiku
harimau mengamuk di mukaku
kuseru dikau
jadikan orang-orang di hadapanku
kera bodoh tak tahu lalu
berkat kuasa sembahan abadiku
tuhan fir’aun penguasa tujuh
tujuh lapis langit tujuh lapis bumi
kreeeh… kreeeh… kreeeh!

Entah bagaimanalah cara Wak Entol melakukannya, begitu dia selesai merafal sumpah-seranahnya, orang-orang dan para pemuda yang datang menyansang ke rumahnya sekonyong-konyong berubah menjadi kera semuanya, kecuali Si Ketua Pemuda kampung. Rupanya, ketika melihat gelagat Wak Entol mulai mengamuk dan merapal serapah, pemuda itu pun menggunakan ilmu batinnya untuk melawan ilmu hitam Wak Entol. 

Dia memang terhindar dari “Sumpah Kera Bodoh” yang diucapkan oleh Wak Entol. Akan tetapi, semangatnya melayang entah ke mana, bagai makhluk yang melompat dari satu pohon ke pohon yang lain, dari satu dahan ke dahan yang lain. Dia kena tempias angin lompat, dampak terkecil dari serapah kera bodoh Wak Entol.

“Hahaha … Itu baru sumpah namanya, para jagoan. Jadi kera kalian semuanya, bukan? Jangan kalian coba melawanku. Kalau menurut kataku saja, tak perlu susah-susah kalian jadi kera segala.” 

Wak Entol makin naik daun di depan orang-orang yang telah menjadi kera bodoh itu. Walaupun begitu, dia kagum juga kepada Si Ketua Pemuda yang tak mempan disumpahnya. 

“Hebat juga ilmu kau, Anak Muda? Kalau mau, kau boleh menjadi anak buahku secara permanen dengan gaji tetap ditambah bonus yang berfluktuasi sesuai dengan income yang kita peroleh. Kau pikirkanlah tawaranku itu. Daripada ilmumu tak bermanfaat dan hanya untuk menentangku, yang pasti tak sanggup kau lawan, lebih baik kau gunakan kebolehanmu itu untuk mengabdi dan berbakti kepadaku. Itu jauh lebih baik daripada harus melawan arus terus-menerus,” Wak Entol berhenti sekejap seraya memandang lekat kepada Si Ketua Pemuda. 

“Untuk kauketahui,” dia melanjutkan, “pusaran arusnya memang seperti yang aku lakoni kini. Inilah arus yang kami ciptakan. Arus kemenangan yang tak tertandingi, arus para pemuja roh Fir’aun Sang Abadi. O, ya. Sebetulnya, apa yang kalian mau dariku sehingga datang beramai-ramai ke rumahku ini. Dan, mengganggu ketenteraman dan kenyamananku yang sedang menikmati indahnya kemenangan?” 

“Kami tak minta banyaklah, Wak Entol. Sebelum saya utarakan hajat kami, sudilah Wak membebaskan orang-orang ini dan kawan-kawanku dari sumpah Wak Entol itu. Kasihan mereka kalau harus menjadi kera bodoh seumur hidup. Saya akui bahwa saya tak mampu mengubah mereka menjadi manusia semula. Ilmu saya masih terlalu rendah jika dibandingkan dengan ilmu Wak Entol,” Si Ketua Pemuda merayu Wak Entol. Matanya semakin kuyu dan tubuhnya semakin layu. Dia, Si Ketua Pemuda itu, terengah-engah kelelahan seperti orang baru selesai melompat dan meloncat. Batinnya bagai melompat dan meloncat dari satu pohon ke pohon yang lain, dari satu dahan ke dahan yang lain di belantara yang tiada bertepi. Musuh terus mengejarnya sehingga dia tak boleh berhenti.

“ATAS nama diri saya dan kawan-kawan kera saya  ini, kami mohon maaf dan ampun beribu ampun kepada Tuan Besar Entol. Saya juga bermohon dengan amat sangat, kembalikanlah mereka menjadi manusia semula. Kasihanilah mereka. Berilah kami yang tiada berdaya ini belas kasihmu, wahai Tuan. Tanpa kasih Tuan, apalah artinya hidup kami di dunia ini. Tuanlah yang menjadi penentu hidup dan mati kami. Hitam kata Tuan, maka hitamlah kami. Putih kata Tuan, maka putihlah kami.” 

Ketua Pemuda menghiba sejadi-jadinya di hadapan Wak Entol seraya terus terengah-engah. Wajahnya kelihatan sendu sesendu-sendunya, pilu sepilu-pilunya, dan sedih sesedih-sedihnya. Bahkan, akan menjadi semakin menyedihkan jika dilihat oleh orang yang lalu. Untunglah, tiada manusia yang tersisa berani lalu di tempat itu. 

“Kalau Tuan Entol berkenan mengubah mereka menjadi manusia semula, saya bersedia menjadi hamba abdi Tuan, menjadi anggota Geng Entol, Pemuja Roh Fir’aun Yang Abadi. Jangankan setakat itu. Bahkan, sampai ke neraka jahanam sekalipun saya rela menjadi hamba abdi Tuan Entol Yang Mulia.”

Wak Entol bertepuk tangan kecil tiga kali. Dari raut wajahnya terlihat jelas bahwa dia sangat senang dan bahagia bangat. Dia mengernyitkan dahinya secara khas berkali-kali seraya tersenyum bangga sebangga-bangganya, gembira sejadi-jadinya. 

“Hahaha…” Wak Entol terbahak-bahak sampai liurnya berjujuhan keluar. “Mantap kali kau ini. Itulah pemuda harapanku. Kau memang sosok pemuda yang mampu membaca situasi walau belum sampai ke peringkat tinggi. Pemuda yang berpikiran pragmatis dan maju, harapan masa depan. Kalau banyak pemuda di kampung ini seperti kamu, Geng Besar Entol akan melesat jauh dengan cepat dan, sudah pasti, banyak keuntungan yang akan kita raup dalam waktu yang tak terlalu lama,” Wak Entol menyeringai lagi.  

“Aku bangga terhadap pemuda cerdas seperti kau ini, Anak Muda. Inilah era kalian. Kau mesti memanfaatkan kesempatan emas ini dengan sebaik-baiknya. Dan, kesemuanya itu harus dipertahankan sampai ke tetesan darah yang penghabisan. Sampai bila-bila masa. Apa pun caranya. Paham kau kata-kataku ini? Jangan tak paham pula kau!”

“Tetapi, Tuan Besar Entol. Bagaimanakah nasib kawan-kawan saya ini? Bolehkah mereka menjadi manusia semula?” Ketua Pemuda masih ragu akan komitmen Wak Entol.

“Ow…ow…ow… Nyaris lupa pula aku kalau tak kauingatkan. Soalnya, aku sangat girang  mendengar pengakuanmu, Anak Muda. Tentu saja mereka boleh kujadikan manusia kembali. Kautunggu sekejap ya. Jadi dari sumpah, kembali juga dengan serapah. Paham kau?”

Wak Entol pun merapal serapahnya. Seperti biasanya, tiada sesiapun boleh mendengarnya, termasuk Si Ketua Pemuda di hadapannya.

kera ada di rimba raya
sifat degil menjadi kera
kalian melawan aku
raja dari segala raja
melawan nenek-moyangku
melawan tuhan fir’aun sembahanku
dengan belas kasihku
aku balikkan kalian semula 
jadi manusia 
bukan manusia sebarang manusia
manusia patuh kepadaku
jangan kalian melawan aku
jadi kera kalian tujuh keturunan
tiada jembalang melawan aku
berkat perkenan tuhan fir’aun
sembahanku nan abadi
puah… puah… puah!

Begitu Wak Entol menyelesaikan semburan terakhirnya, puah!, sekonyong-konyong semua orang yang tadinya menjadi “kera bodoh” berubah menjadi manusia semula. Sungguh, suatu keajaiban dan fenomena yang luar biasa. Patutlah apa pun yang dikehendaki oleh Wak Entol, pasti jadi. Kalau dia mau orang jadi sakit, sakitlah orang. Kalau dia mau orang jadi penurut, penurutlah orang. Mereka, kesemuanya, termasuk Si Ketua Pemuda, kemudian, bersimpuh takzim di bawah telapak kaki Wak Entol, tuan penentu hitam-putihnya perjalanan hidup mereka. 

Mereka mohon ampun kepada Pemimpin Kaum Pemuja Roh Fir’aun Sang Abadi. Bahkan, ada di antara mereka yang menangis tersedu-sedu nan menyanyat pilu, yang kepiluannya terdengar sampai jauh ke negeri-negeri nun di seberang tujuh lautan.

 “Sudahlah, lupakan kesalahpahaman ini,” Wak Entol menegaskan perintahnya dengan nada suara yang dibapak-bapakkan. “Mengapa kalian menggertakku tadi sehingga aku terpaksa menyumpah kalian menjadi . . . eh . . . ,” Wak Entol menahan kata-katanya karena jika diteruskannya, orang-orang itu akan menjadi kera bodoh lagi, “apa sebenarnya yang kalian inginkan dariku sehingga harus main gertak segala?” 

“Kami minta jatah kami. Sudah lama kering ini, Tuan Besar Entol,” jawab Ketua Pemuda yang telah berikrar menjadi anggota Geng Besar Entol dengan suara mantap karena yakin akan  pelindungan tuannya terhadap dirinya.

 “Oh, minta jatah rupanya kalian. Mengapa tak cakap dari tadi? Mengapa kalian berbelit-belit ke sana ke mari. Kalau begitu kan mudah, aman, senang sama senang namanya. Itu baru kerja sama yang saling menguntungkan, yang lagi trend di mana-mana kini,” Wak Entol memberikan tunjuk ajar pertamanya kepada anggota barunya. 

“Jangan terlalu kampunganlah, harus kalian ikuti perkembangan zaman. Walaupun begitu, untungku tentu harus jauh lebih besar daripada kalian. Tradisi geng memang macam itu sejak dahulu kala. Kalian tak perlu memprotesnya. Kalau kalian protes, aku sumpah kalian jadi … lagi.” 

“Jangan diteruskan, Tuan Besar Entol. Kami tak mau jadi kera bodoh lagi. Ampun beribu ampun, Tuan Besar yang penuh kasih tak pilih kasih!” 

“Kalian usah cepat-cepat memotong perbicaraanku. Maksudku, aku sumpah kalian menjadi anak buahku yang paling setia. Anak buah yang menyediakan segenap jiwa dan raganya hanya untuk kejayaan Tuan Besar Entol dan keabadian Geng Besar Pemuja Fir’aun Sang Abadi,” Wak Entol tersenyum penuh arti.  

Mereka bahagia bangat mendengar sumpah terakhir Wak Entol. Kesemuanya meloncat-loncat kegirangan bagai kera mendapat pisang. Hentakan kaki mereka sampai menggoncangkan seluruh negeri, bagai gempa menggoyang bumi, macam air-bah memorakporandakan sekotah negeri.

“Kami kira disumpah menjadi kera bodoh lagi, Tuan Besar!” ucap mereka serempak, serentak, dan kompak seraya tersenyum karena tak disumpah menjadi kera semula.

Kegembiraan mereka menjadi seriang-riangnya. Mereka suka suka-sesukanya. Pasalnya, Wak Entol bersiul irama chacha seraya membagikan jatah kepada mereka. Di sebalik dinding, sesosok makhluk, entah jenis apa, menyaksikan kedermawanan Wak Entol seraya bernyanyi lagu “Bagi-Bagilah”. Dengan senyum sejuta kemenangan, santai dia meninggalkan rumah. Diiringi irama dondang kreatif yang berpadu serasi dengan tingkah rock n roll, lagu makhluk “entah apa itu” terdengar semakin lincah. Ewaaah!***

Tinggalkan Balasan