Peta situasi dan letak Negeri Riau (Rhio) dan pelabuhan di Pulau Bintan pada akhir abad ke-18. Sebuah peta laut yang dibuat oleh Mr. Mannevillette dan dipublikasikan di London, Inggris, oleh Laurie & Whittle pada 17 Mei 1794. Di Negeri Riau pada masa itu, “…kawasan istana Raja (King Palace) dikelilingi oleh rapatnya rumah-rumah yang terhampar di tebing sebelah Utara sungai; sebuah kawasan pemukiman dimana rumah baru dibangun setiap hari...” Repro : Aswandi Syahri

KEBUDAYAAN Melayu merupakan salah satu kebudayaan yang relatif tua. Persebaran dan pengaruhnya meliputi wilayah di antara Pulau-Pulau Madagaskar di sebelah barat sampai dengan Pulau Pas di sebelah timur dan dari Formosa di sebelah utara sampai dengan Selandia Baru di sebelah selatan. Oleh sebab itu, kedudukan kebudayaan Melayu di Indonesia sangat penting dan menjadi salah satu kebudayaan utama yang memberikan kontribusi yang signifikan dalam pengembangan kebudayaan nasional Indonesia.

Puncak kejayaan kebudayaan Melayu, seperti yang diberitakan oleh Yi Jing (I-tsing), bermula dari kegemilangan dan kecemerlangan Melayu Sriwijaya (abad ke-7 s.d. ke-13) yang dikenal sebagai kebudayaan Melayu-Budha. Masa Sriwijaya itu dikenal sebagai Melayu tua.

Setelah kegemilangan Sriwijaya meredup, kejayaannya dilanjutkan oleh kerajaan-kerajaan Melayu yang berdiri di sepanjang Selat Melaka. Wilayahnya meliputi Pulau Sumatera, Kepulauan Riau, dan Semenanjung Malaysia. Di antara kerajaan-kerajaan itu ialah Bintan-Temasik, Kerajaan Melaka, Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang, Siak, dan Kesultanan Riau-Lingga. Begitulah kerajaan-kerajaan Melayu itu berkembang dan masyhur antara abad ke-12 sampai dengan akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, yang mengangkat harkat, martabat, dan marwah Melayu dalam naungan tamadun Melayu-Islam (sejak Melaka).

Pada masa kekuasaan kerajaan-kerajaan Melayu itu tamadun Melayu berkembang pesat. Hal itu dimungkinkan karena pelaksanaan pemerintahan atau pentadbiran negeri diintegrasi dan disebatikan dengan nilai-nilai Melayu dalam Kanun Kerajaan. Tak heranlah bila implementasi tamadun Melayu dilakukan dalam semua aktivitas kehidupan masyarakat di Bumi Melayu.

Invasi kekuatan asing dengan  politik kolonialismenya (Portugis, Inggris, dan Belanda), tak dapat tiada, telah menjejas keberadaan tamadun Melayu. Nilai-nilai budaya Melayu lama-kelamaan mulai berkurang perannya dalam menuntun perilaku hidup masyarakat. Akibatnya, orang Melayu banyak yang kehilangan hubungan dengan produk dan nilai-nilai budaya Melayu itu sendiri, kalau tak dapat dikatakan kehilangan jati diri sama sekali.

Alam Indonesia merdeka ternyata belum membawa pencerahan kultural di kawasan ini. Karena Orde Lama dan lebih-lebih Orde Baru yang otoriter dan sentralistis, kebudayaan Melayu tak dapat melanjutkan kecemerlangan masa lalunya. Pembinaan dan pembangunan kebudayaan, kalaupun dapat disebut begitu, dipusatkan di Jakarta tak memberi peluang luas bagi kebudayaan Melayu. Malah, ada kesan, eksistensi kebudayaan Melayu lebih baik pada zaman penjajahan Belanda dibandingkan pada masa Orde Baru. Pasalnya, walaupun tak sepenting zaman keemasan kerajaan-kerajaan Melayu, pada masa penjajahan Belanda, hukum adat (hak ulayat, misalnya) masih diakui. Sebaliknya, oleh Orde Baru, hak-hak adat seperti itu dicuaikan sama sekali.

Politik pemerintahan yang otoriter, sentralistis, dan hanya mementingkan pertumbuhan ekonomi tak hanya menyebabkan terjadinya tragedi degradasi ekologis dan ekonomis, juga degradasi kultural di tengah masyarakat. Generasi muda Melayu kehilangan hubungan batin dengan budaya nenek-moyangnya. Padahal, bagi  masyarakat dunia kebudayaan Melayu diakui sebagai salah satu kebudayaan penting. Sebagai akibatnya, generasi Melayu sekarang kurang mampu mengapresiasi nilai-nilai budayanya sendiri sehingga tak dapat mengimplementasikannya dalam aktivitas kehidupannya sehari-hari.

Dari nukilan sejarah serbaringkas di atas, dapatlah dipahami sisa keberadaan kebudayaan Melayu di Kepulauan Riau yang masih dijunjung tinggi oleh pendukungnya setakat ini lebih banyak merupakan  kontribusi dari Kerajaan Melayu masa lampau. Pada era otonomi sekarang, pembinaan dan pengembangan budaya Melayu itu harus dilakukan lebih intensif untuk mewujudkan masyarakat madani.

Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, saat ini masyarakat Kepulauan Riau sedang terlibat dalam konteks pembangunan dan persaingan industri global. Pertarungan itu membawa budaya secara bersamaan. Budaya Melayu akan berhadapan dengan budaya asing, yang memang semakin dirasakan saat ini. Oleh itu, perlu diupayakan peningkatan peran budaya Melayu di tengah masyarakat Kepulauan Riau kini dan ke depan agar penetrasi budaya asing yang negatif dapat dicegah.

Era otonomi daerah seyogianya memungkinkan daerah-daerah, termasuk Kepulauan Riau, menegakkan supremasi kebudayaannya, budaya Melayu. Itu perlu  dilakukan tak hanya demi kepentingan kebudayaan Melayu itu sendiri, tetapi sangat diperlukan oleh masyarakat dalam menuntun kelanjutan perjalanan hidupnya. Pasalnya, hanya berpedoman pada nilai-nilai budaya Melayu (sumber utamanya Islam) dibancuh serasi dengan nilai-nilai budaya luar yang positif, barulah pembangunan Kepulauan Riau dapat dilakukan secara benar, baik, dan canggih sehingga memenuhi keperluan zahir dan batin masyarakatnya. Jika tidak, pembangunan tak akan pernah menyentuh keperluan masyarakat yang hakiki sehingga hasilnya hanyalah semu belaka.

Kebudayaan adalah anugerah Allah. Kepulauan Riau ditakdirkan menjadi wadah kebudayaan Melayu. Itulah sebabnya, Tuhan menempatkan orang Melayu sebagai penduduk asal kawasan ini. Sistem nilai utama yang seyogianya dianut di sini  tiada lain, yakni  sistem nilai Melayu. Jika dipaksakan dengan sistem nilai lain, kita tinggal menunggu detik-detik kemusnahan. Generasi Melayu hendaklah mengambil berat masalah ini.

Untuk mencapai matlamat itu, semua komponen Kepulauan Riau harus memiliki komitmen dan menjalankan fungsinya masing-masing. Eksekutif jujur dan ikhlas mengupayakan pengembangan kebudayaan Melayu dalam kebijakan pembangunan yang dilaksanakan. Bahkan, nilai-nilai budaya itu harus tercermin di semua karya pembangunan yang dilaksanakan. Legislatif menggesa dan mendukung program kebudayaan. Ilmuwan, budayawan, dan praktisi seni-budaya melakukan pengkajian, kegiatan, dan menghasilkan karya seni-budaya dalam upaya pencerahan dan pencerdasan masyarakat. Organisasi kemasyarakatan dan kepemudaan yang bernaung di bawah payung panji Melayu seyogianya berusaha keras memajukan masyarakatnya secara arif dan bertamadun. Alhasil, rakyat melibatkan diri secara aktif dalam semua program pembangunan dengan rasa cinta, damai, dan bahagia. Barulah masyarakat merasakan bahwa mereka memang hidup di Bumi Melayu, yang mereka adalah ahli waris sahnya. Apatah lagi,  unsur kebudayaan Melayu Kepulauan Riau, yakni pantun, telah membuktikan diri sebagai warisan budaya tak benda dunia. Masih tak percaya diri jugakah?***

1 KOMENTAR

  1. Mantab dan syabas dato’, harus ada yang peduli, harus ada yang tetap.menjunjung tinggi nilai kemelayuan. Semoga sukses mengangkat harkat dan.martabat Melayu di Kepulauan Riau.

Tinggalkan Balasan