Digitalisasi manuskrip Sulusilah dan Sedjarah Riau-Lingga dari Karimun koleksi Haji Raja Azli Tanjungbalai Karimun pada tahun 2015 . (foto: aswandi syahri)

SUSUR galur keluarga istana raja-raja Melayu tidak di hanya diabadikan dalam Hikayat, Tawarikh, Tarikh, Sejarah, dan sejenisnya. Diagram “pohon keluarga” juga banyak digunakan untuk menggambarkan susur galur raja-raja Melayu beserta anggota keluarganya yang belapis-lapis itu. Begitu juga di Kerajaan Riau-Lingga.

Selain ditulis dalam format naratif seperti dicantumkan oleh Raja Ali Haji dalam narasi Silsilah Melayu dan Bugis dan Sekalian Raja-Rajanya serta pada bagian-bagian awal narasi Tuhfat al-Nafis, susur galur keluarga diraja Riau-Lingga juga divisualisasikan dalam rangkaian diagram “pohon keluarga” yang membentuk percabangan-percabangan hubungan individu dengan individu lainnya dalam istana Kerjaan Riau-Lingga.

Rangkaian diagram yang  menggambarkan hubung-kait seorang individu dengan invidu lainnya  dalam sebuah susur-galur keluarga ini menyerupai cabang dan dan ranting pohon yang melebar ke bawah, sehinga membentuk sebuah “pohon keluarga”. Secara leksikografis diagram “pohon keluarga” seperti ini disebut silsilah. Namun demikian, ada juga ragam bahasa tempatan lainnya  yang menyebutnya Ranji, Salah-Silah, Salasilah, Silah-silah, Salsilah, Sulusilah, dan lain sebagainya, yang sumber asal-usul etimologisnya merujuk kepada Silsilat atau Silsilah dalam bahasa Arab.

Di kerajaan Riau-Lingga pada masa lalu, yang wilayah kini mencakupi seluruh wilayah Provinsi Kepulauan Riau, tradisi penulisan silsilah dengan pola lama atau pola “pohon keluarga” tersebut, masih terus dilanjutkan oleh keluarga kerajaan Riau-Lingga, khusus dari Karimun, hingga masa kini. Dalam format yang paling “mutakhir”,  silsilah dalam format “pohon keluaga” ini antara lain disusun oleh Raja Muhammad ‘Asyura bin Raja Ibrahim dari Karimun pada tahun 2002, yang kemudian diterbitkan dengan judul Silsilah Keluarga, pada tahun 2011.

Masih dari Karimun, saya dan Irwanto (yang kini berkhidmat di Dinas Kebudayaan Provinsi Kepulauan Riau) juga menemukan sebuah silsilah yang disusun dalam format “pohon keluarga” ini ketika mengumpulan bahan sumber untuk penulisan buku Khazanah Masjid Bersejarah Bumi Berazam (Kabupaten Karimun) pada bulan September 2015.

Wujudya adalah manuskrip himpunan berbagai Silsilah, yang oleh penyusunnya disebut Sulusilah, dan digabungkan dengan berbagai narasi Sedjarah. Termasuk narasi-narasi pendek pada nama-nama  indivisu tertentu yang dicanumkan pada untaian “pohon keluarganya”. Pola silsilah ini menunjukkan bahwa penyusunannya masih menggunakan cara lama, namun demikian tidak lagi menggunakan huruf jawi atau huruf Arab Melayu. Manuskrip Sulusilah dan Sedjarah dari Karimun itulah yang akan dipaparkan sebar ringkas dalam ruang Kutubkhanah minggu ini.

***

Sebagaimana tertulis pada halaman awalnya, Manuskrip Sulusilah dan Sedjarah dari Karimun yang kini berada dalam simpanan H. Raja Azli (seorang Aparatur Sipil Negara Kabupaten Karimun) disusun oleh Radja Hadji Abbdullah Os (Oesman) pada 27 November 1968. Siapa Raja Haji Abdullah? Dari manuskrip silsilah ini  dapat diketahu bahwa Radja Hadji Abdullah bin Raja Oesman yang menyusun manuskrup silsilah keluarga Raja-Raja Riau-Lingga dari Karimun ini  adalah zuriat para Amir (wakil Sultan dan Yang Dipertuan Muda Riau) yang  memimpin Karimun dan bersemayam di daerah Meral. Bahkan Raja Hadji Abdullah bin Raja Oesman pernah pula menjabat To-Cho, yakni Amir Karimun di Meral pada zaman pendudukan Jepang (1942-1945).

Dalam arsip dan bahan-bahan sumber lain tentang Raja Hadji Abdullah Oesman ini, dapat pula diketahui bahwa beliau adalah salah seorang tokoh sentral dalam pergerakan kesultan Riau-Lingga (Sultanaat Riouw Beweging) antara tahun 1946 hingga 1949. Beliau pernah menjadi president Jawatan Pengurus Rakjat Riau (JPKR) yang mempunyai misi untuk merestorasi Kerajaan Riau-Lingga ketika itu.

Nama Radja Hadji Abdullah Oesman telah tersimpan lama dalam catatan saya, dan menjadi orang “yang paling saya cari” di Karimun. Mengapa demikian? Beliau adalah salah seorang penyimpan sejumlah bahan sumber penting tentang sejarah kerajaan Riau-Lingga dan Kepulauan Riau, dan salah seorang yang terlibat dalam sebuah diskusi cendekia Kepulauan Riau yang ditaja oleh Raja Haji Muhammad Junus Ahmad di Tanjungpinang sempena menghimpun bahan sumber sejarah Riau  pada tahun 1955. Manuskrip Sulusilah dan Sedjarah dari Karimun ini adalah salah satu buktinya.

***

Bila dilihat sepintas kilas, pola susunan “pohon keluarga” dalam Manuskrip Sulusilah dan Sedjarah dari Karimun ini sama seperti pola silsilah dalam manuskrip silsilah kerajaan Riau-Lingga lainnya. Namun demikian, dalam banyak hal ianya unik dan langka. Meski fokusnya adalah silsilah keluarga besar istana Riau-Lingga yang bermula sejak masih bernama Johor dan kait kelindannya dengan Bintan dan Raja-Raja Singapura pra Islam, silsilah dalam manuskrip Sulusilah dan Sedjarah dari Karimun ini mencantumkan juga berbagai rangkaian silsilah yang menjelaskan hubungan antara kelaurga besar Raja-Raja Riau-Lingga dengan keluarga Raja-Raja Indragiri, Siak, Bugis, Kalimantan Barat (Pontianak), Terengganu, Perak, Selangor, Pahang, dan lain sebagainya: Cakupan sangat luas.

Namun lebih dari itu, Manuskrip Sulusilah dan Sedjarah dari Karimun ini adalah sebuah manuskrip “silsilah plus”. Berbagai informasi plus, yang tak mungkin ditemukan dalam silsilah Riau-Lingga lainnya ditemukan dalam silsilah ini. Karena ia adalah Sulusilah yang juga mengandungi narasi Sedjarah. Umpamanya, kita dapat membaca sebuah salinan Sedjarah yang berjudul, “Kisah Sedjarah Melaju Jang Diringkaskan Karangan Datuk Hadji Mohamad Said Tulisan Bahasa Arab Bagi Cetakan Jang pertama 1939”.

Sebagai sebuah “silsilah plus”, maka didalamnya kita juga akan menemukan berbagai penjelasan dan pengetahuan tentang gelar nama-nama raja-raja Melayu yang berasal dari bahasa Arab dan Bahasa Hindu (Sansekerta). Begitu pula dengan daftar berbagai nama timang-timangan keluarga raja-raja Riau-Lingga menurut sifatnya, yang lazim dilekatkan pada nama batang tubuh anak raja-raja Melayu. Seperti, Budjang, Bulad, Andut, Emas, dan lain sebagainya. Begitu pula dengan apa yang dikenal sebagai nama Base-Base: seperti, Long [Sulong], Ngah [Tengah], Su [Bungsu], Andaak {Pandak], Entih [Putih], Ambong, dan lain-lainnya. 

Tidak seperti silsilah dalam format pohon keluarga yang lazim dikenal, dalam manuskrip Sulusilah dan Sedjarah dari Karimun ini, kita mendapatkan banyak tambahan informasi lainnya berkenaan dengan nama-nama individu penting yang dicantumkan dalam “pohon silsilah”.

Umpamanya,  pada nama Sultan Abdulrahman Muazamsyah, Sultan terakhir Kerajaan Riau-Lingga (1885-1911), terdapat penjelasan tambahan yang ditulis menggunakan tinta merah sebagai berikut:

Setelah Sultan Abdur Rahman Muazamsjah diangkat djadi sultan Lingga-Riau, maka pangkat dari Radja Moeda ini dihapuskan dengan mupakat Sultan dengan Belanda, dan pangkat Radja Moeda diserah oleh Sultan pada Belanda jang mendjadi Resident Riau. Maka itu Belandalah jang mendjalankan pemerintah di Riau bahagian bangsa asing, dan orang2 Melaju dibawah kekuasaan Radja”….dan [Sultan Abdulrahman Muazamsyah] “Dipetjat oleh Belanda karena tidak mau menurut kemauannja [Belanda] dan mau ditangkap, lalu pindah ke Singapore sampai habis hajatnja. Makamnya ada di Teluk Belanga. Mulai dari sinilah pangkat Radja Muda dihapuskan dengan pengaruh Belanda, karena pangkat itu diberi pada Belanda jang menjalankan.”

Lebih dari itu semua, manuskrip Sulusilah dan Sedjarah dari Karimun ini juga menjelaskan mengapa sebuah silsilah harus ditulis dan ditukuk-tambah oleh waris-warisnya di kemudian hari. Dalam konteks penulisan silsilah sebagai sebagai sebuah  genre dalam tradisi pensejarahan istana Kerajaan Riau-Lingga yang berkelanjutan,  maka manuskrip Sulusilah dan Sedjarah dari Karimun ini juga menjelaskan apa saja bahan sumber yang dipergunakan dalam penyusunannya: sebuah informasi yang langka dalam sejarah penulisan silsilah Kerajaan Riau-Lingga.

Dalam penjelasannya, Radja Hadji Abdullah Oesman antara lain menyebutkan bahan sumber yang dipergunakannya untuk merampungkan manuskrip Sulusilah dan Sedjarah dari Karimun ini. Antara lain ia menggunakan sebuah manuskrip silsilah yang disusun oleh Tengku Abubakar dari Lingga, dan “…tjatatan-catan lama tulisan jawi jang beberapa dintaranja telah sukar dibaca karena rusak…”***

Artikel SebelumSarang Meriam – Masjid – dan Istana
Artikel BerikutBagi-Bagilah
Aswandi Syahri, lahir di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, pada 29 Januari 1970. Alumni ilmu sejarah pada Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra (kini, Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Andalas. Pernah menjadi jurnalis, dan kini masih menjabat sebagai sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Provinsi Kepulauan Riau. Menulis sejarah sejak di bangku SMA, dan telah menghasilkan sejumlah buku tentang sejarah dan kebudayaan Melayu di Kepulauan Riau

Tinggalkan Balasan