Rumah, Perahu dan Perbukitan: Pemandangan salah satu sudut kampung Tarempa di Kepulauan Anambas pada akhir abad ke-19 . (foto: dokumentasi aswandi syahri)

Selama bulan Agustus hingga September 1900, Cecil Boden Kloss, seorang zoologist Inggris  yang kemudian menjadi menjadi direktur Raffles Museum Singapura (kini, Singapore History Museum) menjelajahi pulau-pulau di Laut Cina Selatan yang ketika itu merupakan wilayah kerajaan Riau-Lingga dan daerah takluknya. Penjelajahan itu adalah bagian dari sebuah “perlayaran ilmiah” untuk mengumpulkan berbagai spesimen mamalia, burung-burung, dan berbagai objek zoologi lainnya dari kawasan itu.

Setelah singgah di Pulu Lingga, Pulau Taya, Pulau Nyamok, Pulau Pengikik, Pulau Tambelan, Pulau Benua, Tambelan Besar, Pulau Wai, dan pulau-pulau kecil lainnya,  Kloss sampai di Kepulauan Anambas, dan singgah di Tarempa.

Berselang tiga tahun kemudian, kisah perlayaran dan catatannya selama di Tarempa dipublikasikan dalam Notes on a Cruise in the Southern China Sea yang dimuat dalam Journal of the Straith Branch of the Royal Asiatic Society edisi bulan Januari 1904. Berikut ini adalah sedutan terjemahan bagian catatan ketika ia singgah di Kepulauan Anambas pada bulan Agutus tahun 1900.

***

Kampung Tarempa

Tarempa terletak pada sebuah teluk kecil di Pantai Utara Pulau Siantan dan merupakan sebuah pemukiman terbesar di belahan Timur Anambas. Luasnya sekitar 20.000 hektar: sebuah pemukiman  padat  yang diseliputi oleh hutan lebat, berbukit-bukit yang  menjulang hingga ketinggian 1855 kaki.

Kampung Tarempa adalah sebuah tempat kecil yang tumbuh subur, dengan sebuah tempat pekuburan orang Cina, dan dua puluh atau tiga puluh kedai milik orang Cina beratap besi berlapis seng dengan proporsi penduduk Cina yang berimbang.

Sebuah kapal uap kecil bernama “Banka” singgah di derah ini sekali atau dua kali dalam sebulan.  Tarempa terbentang  sepanjang kepala teluk dan mempunyai sebuah anak sungai yang airnya masin dan bermuara di belakangnya.

Pada salah satu sisi kampung itu, yang mebentang  kearah laut, berjajar rapi  kedai-kedai Cina dengan tempat pengisap candu, sebuah sekolah Cina disebelah kirinya, serta beberapa rumah rumah orang Melayu di ujung jalan itu.

Bijih Besi Hitam

Di tengah-tengah kampung itu terletak rumah Dato’s (Datuk Kaya) – berupa bangunan kayu dengan model yang beradab; sebuah rumah besar milik Sultan Lingga. Merentang jauh di sebelah kanannya terletak bagian terbesar  rumah-rumah  orang Melayu: di belakang hamparan datar, tempat dimana kampung itu dibangun dengan latar belakang bukit-bukit ditutupi hutan dan pohon kelapa yang tumbuh di kawasan miring yang berbentuk setengah lingkaran. Semunya membrikan efek pemandangan yang sangat indah.

Bila melihat ke bawah di sepanjang lereng bukit akan tampak atap rumah-rumah itu, dan teluk berbentuk setengah lingkaran dengan  perahu-perahu yang sedang labuh jangkar. Kemudian di seberangnya sebuah jalur perairan dengan bukit berhutan yang muncul di sebelahnya.

Lebih satu mil ke sebelah Utara Pulau Siantan terletak dua pulau yang cukup luas,  pulau Mobur dan Mata (Matak)  dengan sebuah selat kira-kira satu mil lebarnya membentang diantara keduanya.

Diantara pulau Mata dan Siantan terhampar sebuah selat yang sangat indah meskipun dihalangi oleh banyak pulau-pulau kecil dan beting karang di ujung sebelah Timurnya, Perairan ini mempunyai perairan yang dalam di bagian Barat tepat dimana Teluk Tarempa terletak.

Tidak hanya pada daerah yang terakhir itu kapal-kapal dapat berlindung di perairan yang dalam dari semua terpaan angin, namun jauh hingga ujung Timur pantai itu terdapat sebuah teluk dimana kapal dapat berlabuh pada jarak 10-15 fathoms berhampiran pantai. Pelabuahan yang terbaik dalam sebuh ukuran yang kecil tidak dapat diharapkan karena air dan kayu sulit didapat.

Datuk Kaya Tarempa sangat boros. Meskipun memiliki senuah rumah baru dan agak mencolok, tetapi ia tinggal di rumah kedua, sebuah tempat tinggal yang lebih sederhana. Ia memperlihatkan kepada kami contoh bijih besi hitam, yang sangat banyak terdapat di bukit di belakang kampung.

Kami memperoleh berbagai bekalan di sini, berkat adanya orang Cina; kelapa bermutu yang berlimpah dan air tawar  yang dapat disauk di sebuah kolam besar dekat pantai.

Air Terjun 400 Kaki

Sampan-sampan di pulau ini sangat mirip dengan sampan-sampan yang terdapat di Tambelan; hanya saja mereka berbeda secara prinsip dalam hal haluan dan buritan  yang agak tinggi, lebih ringan dan rendah dengan buritan kurang menjorok ke depan.

Sampan-sampan ini digerakkan dengan dua bilah pendayung. Sementara itu, sampan-sampan yang digunakan oleh orang-orang Cina adalah dari jenis yang sangat besar,  dengan ujung haluan cendrung manaik dan tinggi.

Setelah diceritakan oleh seorang anak Sultan Lingga yang tinggal di kampung itu tentang sebuah air terjun yang terletak di bagian timur Pulau Siantan, kami bersiap-siap pergi ketika terbit matahari di suatu pagi untuk mengunjunginya dengan menggunakan sebuah perahu penangkap ikan paus.

Angin di hadapan mati dan kami harus berkayuh -sejauh sekitar delapan mil- dan harus menguras tenaga. Jalur pelayaran itu terletak di sebelah kanan selat antara pulau Siantan dan Mata (Matak), kemudian memotang pantai sebelah Timur dan akhirnya melintas mendekati pohon-pohon bakau yang memungkinkan kami membawa perahu untuk mendekat ke bawah air terjun itu.

Dengan dibatasi oleh hutan,  serangkain air terjun  jatuh dari ketinggian sekitar 400 kaki. Ada dua belas atau tiga belas air terjun seluruhnya, dan pesona utamanya terletak pada kerangamannya – aliran air berbusa bagaikan pita yang besar mengalir lembut diatas permukaan batu. Mengalir panjang beriring-iringan tanpa hentinya dari ketinggian, dan serangkaian air terjun kecil jatuh melayang di atas batu-batu menyerupai anak tangga. Dimana-mana, diantara air-air terjun itu terhampar kolam-kolam yang tampak tenang dan menggoda.

Raja yang merupakan anak Sultan Lingga itu  sebenarnya akan ikut menyertai kami, namun ia terlambat datang. Walaupun ia tiba sebelum kami meninggalkan tempat itu, namun  kami telah mulai bersiap untuk berlayar pulang, karena saat itu angin bertiup sedang.

Bagaimanapun, kami tidaklah lama jalan bersamanya, karena perahu milik Raja itu -sebuah perahu yang dibangun di Singapura dalam tahun yang sama dengan perahu yang kami punya- sedikit lebih besar dengan layar yang lebih banyak tersebut segera meninggalkan kami dibelakang, dan kami mencapai Siantan dengan gerak yang tidak pantas.

Teluk Ayer Bini

Hari-hari antara tanggal 24 Agustus dan 5 September dilewati dengan mengunjungi pulau-pulau di sebelah Utara. Namun pada hari yang terakhir, kami berlayar mengelilingi Pulau Siantan dan pulau-pulau yang tersebar di ujung bagian Timurnya karena selat di sebelah Utara tidak dapat dilayari. Pada petang harinya kami menambatkan perahu di Teluk Ayer Bini, sebuah teluk  yang sebagiannya terlindung oleh sebuah pulau pada pintu masuknya.

Pantai itu berwarna kemerahan, sangat curam , dan tidak bersih, kecuali pada satu atau dua tempat dimana rumah-rumah penduduk berada dan telah dibuat kebun serta tempat bercocok tanam di ladang.

Butuh kerja keras untuk memanjat lereng yang licin karena siraman air hujan yang tidak henti-hentinya turun di seluruh tempat kami berada. Sebuah aliran sungai dengan dua cabangnya mengalir ke bagian ujung teluk dan kami terus berkayuh pada salah satunya hingga dihentikan oleh sebuah air terjun kecil. Sementara itu, kawasan lainnya hanyalah hamparan bongkahan batu-batu granit yang kering.

Buruknya cuaca membuat spesimen jarang didapat dan setelah tiga atau empat hari yang tidak menguntungkan itu, kami berlayar untuk terakhir kalinya mengunjungi Tarempa.

Lebih empat hari waktu yang dihabiskan disini untuk berkerja dan melakukan pengumpulan bahan-bahan contoh yang agak baik dari jenis mamalia dan burung-burung. Kemudian kami meninggalkan Polo Telaga dan berlayar ke arah Barat.***

Artikel SebelumBagi-Bagilah
Artikel BerikutPersebatian dan Marwah
Aswandi Syahri, lahir di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, pada 29 Januari 1970. Alumni ilmu sejarah pada Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra (kini, Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Andalas. Pernah menjadi jurnalis, dan kini masih menjabat sebagai sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Provinsi Kepulauan Riau. Menulis sejarah sejak di bangku SMA, dan telah menghasilkan sejumlah buku tentang sejarah dan kebudayaan Melayu di Kepulauan Riau

Tinggalkan Balasan