PERSEBATIAN merupakan satu di antara kearifan lokal yang dipandang mustahak oleh orang Melayu. “Apa tanda Melayu berjaya, musyawarah dan mufakat pedoman bekerja. Apa tanda Melayu sejati, pantang bercerai hidup bersebati.” Begitu kearifan terala dicuaikan, nescaya malapetaka segera menerpa. 

Secara internalnya, kecuaian yang dimaksud karena tak berupaya membaca tanda-tanda zaman dan atau tak peduli terhadap petuah para pendahulu. Secara eksternalnya, upaya sistematis yang disengaja oleh anasir luar, dulu penjajah, karena mereka menyadari bahwa persebatian Melayu akan menjadi ancaman bagi kekuasaan mereka. Sayatan penjajah terbukti  sukar bangat disembuhkan. Kisah pilu itu pernah terekam dalam sejarah bangsa kita.     

Kisah ini menjadi contoh nyatanya. Tragedinya menimpa dua orang putra Sultan Mahmud Riayat Syah (1761-1812): Tengku Husin dan Tengku Abdul Rahman. Takdirnya, Tengku Abdul Rahman, bukan Tengku Husin kakandanya, yang diangkat menjadi Sultan atau Yang Dipertuan Besar Kesultanan Lingga-Riau-Johor-Pahang. Baginda menjadi sultan menggantikan ayahndanya yang mangkat di pusat kerajaan, Daik, Lingga, pada 12 Januari 1812.

Padahal, putra sulung Sultan Mahmud adalah Tengku Husin. Oleh sebab itu, beliau dikenal dengan sapaan Tengku Sulung atau Engku Long. Urutan kelahiran itu sangat penting dalam Adat-Istiadat Diraja Melayu. Jika sultan mangkat, putra sulunglah yang menggantikan ayahndanya.

Waktu ayahndanya mangkat Tengku Husin tak dapat menyaksikannya. Kala itu beliau tak berada di Daik, Lingga. Konon sedang berada di Pahang karena menikah dengan putri Bendahara Pahang. Namun, bukan perkara itu yang menjadi punca beliau tak ditunjuk menggantikan ayahndanya. Ada perkara lain yang lebih mustahak, justeru, tak lazim menurut Adat-Istiadat Diraja Melayu selama ini. Apakah gerangannya?

Tengku Abdul Rahman atau Raja Jumat adalah adinda Engku Long. Anehnya, Sultan Mahmud berwasiat agar putra keduanya yang harus menggantikannya jika Baginda mangkat. Berdasarkan wasiat ayahndanya itulah Tengku Abdul Rahman diangkat menjadi sultan. Karena wasiat ayahndanya jugalah Tengku Husin, sebagai putra sultan,  seyogianya melupakan harapannya untuk menjadi Sultan Lingga-Riau-Johor-Pahang. Beliau semestinya secara kesatria harus berupaya untuk memahami kebijakan yang dilakukan oleh ayahndanya. Dan, karena wasiat itu jugalah orang-orang yang masih hidup pada masa itu dan seterusnya harus menghadapi keadaan serbasalah. Dimakan mati emak, diluah mati bapak.

Engku Puteri Raja Hamidah, ibu tiri sekaligus Mak Cik orang berdua beradik yang sedang memperebutkan tahta kerajaan itu, tak bersetuju Tengku Abdul Rahman diangkat menjadi  sultan. Konon, perhubungan antara Engku Puteri dengan Raja Jumat memang tak terlalu mesra jika dibandingkan dengan perhubungan beliau dengan Engku Long. 

Perempuan yang amat setia memegang amanah itu lebih sayang kepada Tengku Husin mulanya. Oleh sebab itu, beliau sangat berharap Engku Long yang menjadi sultan. Akan tetapi, bukan pasal itu yang menjadi penyebab utama putri Raja Haji Fisabilillah itu tak menyetujui Tengku Abdul Rahman menjadi sultan. Sebagai orang yang sangat setia menjunjung adat, Raja Hamidah tak hendak penunjukan dan pengangkatan sultan itu tak menurut Adat-Istiadat Diraja Melayu. 

Sebaliknya pula, Yang Dipertuan Muda VI Kesultanan Lingga-Riau-Johor-Pahang, Raja Jaafar ibni Raja Haji Fisabilillah, saudara kandung Engku Puteri, menyokong Tengku Abdul Rahman sepenuhnya. Konon, perhubungan Raja Jaafar dengan Tengku Husin tak mesra karena perseteruan mereka semasa muda. 

Raja Jaafar jatuh hati kepada dara manis bernama Encik Puan Bulang, yang nama timangannya Buntat, binti Engku Muda Temenggung Raja Melayu. Malang bagi Raja Jaafar, kekasih hatinya itu alih-alih menikah dengan Tengku Husin. Namun, bukan itulah yang menjadi punca beliau menyokong Tengku Abdul Rahman dan menolak Tengku Husin. Barang yang lepas biarlah berlalu walaupun ianya menorehkan pilu. Kewajiban melaksanakan wasiat sultan yang mangkatlah yang menjadi pegangan utama seorang pemimpin. 

Bukankah sultan pemegang utama teraju adat? Jika ada titah sultan yang tak sesuai dengan kelaziman selama ini, hal itu bermakna sultan menganggap ketentuan itu tak dapat lagi dipertahankan. Apatah lagi, kalau sudah berkaitan dengan kepemimpinan negara, yang marwah bangsa sebagai tagannya.

Keadaan menjadi semakin rumit dan sengit. Engku Puteri Raja Hamidah enggan menyerahkan regalia, alat kebesaran kerajaan, kepada Sultan Abdul Rahman Muazzam Syah I. Regalia selama ini berada di bawah penjagaan Engku Puteri karena beliau memang diamanahkan oleh Allahyarham Sultan Mahmud untuk menjaganya. Perempuan berhati baja itu menjaga amanah itu dengan penuh cinta-kasih walau jiwa-raganya sebagai taruhannya.

Pasalnya, beliau sangat memahami bahwa regalia merupakan simbol marwah Melayu. Padahal, tanpa regalia penabalan seorang sultan tak sah menurut Adat-Istiadat Diraja Melayu. Tak ada Kesultanan Melayu tanpa regalia kerajaan. Alhasil, orang-orang anak-beranak dan adik-beradik itu serta rakyat penyokongnya masing-masing harus menghadapi keadaan serbasalah.

Tatkala anak negeri menghadapi siatuasi yang remuk-redam, mulailah kuasa asing memainkan siasat busuknya. Tiada lain tujuannya, penguasaan politik dan ekonomi. Tengku Husin diangkat oleh Inggris menjadi Sultan Singapura pada 1819. Padahal, Singapura kala itu menjadi bagian Kesultanan Lingga-Riau-Johor-Pahang. Dengan demikian, Inggris telah membelah Kesultanan Melayu. 

Tak hanya itu. Inggris, dengan memanfaatkan Tengku Husin, mencoba untuk menyogok Engku Puteri dengan 50.000 ringgit Spanyol untuk mendapatkan regalia agar penabalan (pelantikan) Tengku Husin menjadi sah. Dengan demikian, penaklukan Singapura juga sah sampai bila-bila masa. Sekali lagi, bukankah regalia adalah kerajaan itu sendiri? Sesiapa yang menguasai regalia, dia pun penguasa sah kerajaan. Begitu pula sebaliknya. 

Betapa Engku Puteri merasa terhina oleh upaya raswah Inggris. Bagi beliau, perilaku itu sama dengan hendak membeli marwah Melayu. Beliau jadi berbalik membenci Tengku Husin, anak yang sebelumnya sangat disayanginya, karena ternyata begitu rapuhnya Tengku Long. Itu juga membuktikan bahwa politik uang untuk mendapatkan kekuasaan sangat nista dalam budaya Melayu. Pelakunya, seperti yang coba dilakukan Tengku Husin dengan sokongan Inggris, diyakini pasti menerima padah (akibat buruk), cepat atau lambat.

Karena tak berhasil membujuk, pada 13 Oktober 1822 Gubernur Belanda di Melaka, Timmerman Tijssen, dengan pasukan tentaranya mengepung istana Engku Puteri di Pulau Penyengat Indera Sakti. Perempuan Melayu yang kokoh itu hanya sendiri ditodong dengan senjata para serdadu. Regalia akan dirampas dari tangannya secara paksa. Benda pusaka itu direjamnya dari tingkap istananya. Pang! Dan, Belanda pun mengutipnya di bawah tingkap.

Akan tetapi, Belanda tak paham akan hal ini. Pengambilan yang tak beradab dan tak beradat itu membuat regalia tak lagi memiliki nilai tuah dan keramatnya. Belanda tak pernah berhasil menaklukkan marwah Melayu, kecuali memungut kepingan logam di atas debu. Walau terbuat dari emas, logam itu tak bernilai apa pun secara kultural. Marwah Melayu tak pernah tergadai. Dan, janganlah sesiapa pun coba melakukannya pada masa kini atau nanti. Pasalnya, perilaku itu akan buruk padahnya!

Di kelompok sebelah, Sultan Abdul Rahman Muazzam Syah I dan YDM Raja Jaafar pun bagai mati akal berhadapan dengan ibu dan saudara perempuannya yang sangat berwibawa itu. Alhasil, baru pada 27 November 1823 Tengku Abdul Rahman disahkan menjadi Sultan Lingga-Riau-Johor-Pahang.

Tak lama sesudah itu, 17 Maret 1824, kuasa asing Inggris dan Belanda mengapling Kesultanan Melayu itu melalui Traktat London. Lingga-Riau dan daerah takluknya berada di bawah pengawasan Belanda, sedangkan Johor, Singapura, dan Pahang dikuasai Inggris. Di Kesultanan Lingga-Riau laut memerah oleh darah para syuhada. Sebaliknya, di kawasan Sultan Husin Syah nyaris tak terdengar hiruk-pikuk serupa. Alhasil, Singapura lepaslah sudah dari dekapan sayang Bunda Tanah Melayu.

Tatkala kita sanggup membuka ruang hati yang terdalam seyogianya sadarlah kita akan punca segalanya. Sangat diperlukan kecerdasan, khasnya kecerdasan kultural, untuk memahami dan menghayati kearifan yang ditauladankan oleh para pendahulu dalam menjaga bangsa dan negara. Persebatian haruslah diutamakan agar marwah bangsa tetap terjulang sampai bila-bila masa. Dari dahulu sampai sekarang, begitulah adanya juga adatnya.***

Tinggalkan Balasan