Bersama sejarawan Leonard Y. Andaya dan Barbara Andaya dari University of Hawai’i ketika mengunjungi kompleks makam Sultan Lingga, Sultan Abdulrahman, di Bukit Cengkeh, Daik Lingga tahun 2011.

Mengunjungi Daik-Lingga Zaman Sultan Abdulrahman (1819)

Tujuh tahun setelah Sultan Johor, Sultan Mahmud Ri’ayatsyah mangkat di Daik -Lingga pada tahun 1812, dan lima tahun sebelum traktat London disahkan pada tahun 1824, Christiaan van Angelbeek mengunjungi Daik-Lingga, yang ketika  itu menjadi ibu negeri sebuah kerajaan yang masih bernama Johor, yang cakupan wilayah takluknya hingga ke Singapura dan Tanah Semenanjung.

Angelbeek datang pada tahun 1819, tepatnya pada masa pemerintahan Sultan Abdulrahman yang menggantikan ayahandanya, Sultan Mahmud Ri’ayatsyah yang mangkat pada tahun 1812. Banyak hal yang ia lihat dan catat selama bermastautin di tempat yang ia sebut Kwala Daik (Kuala Daik); begitu  juga tentang asal-usul dan sejarah penduduk Pulau Lingga, yang semuanya ia catat dalam catatan hariannya (dagverhaal).

Christiaan van Angelbeek berasal dari keluarga pejabat tinggi Belanda di Hindia Belanda. Ia cucu Gubernur Belanda di Srilanka. Lahir di Amsterdam pada 1803, dan wafat dalam usia 23 tahun. Jasadnya dimakamkam di Buitenzorg (Bogor) pada 24 Agustus 1825.

Bagi Angelbeek, kawsan Riau-Lingga bukanlah daerah yang asing. Ia pakar dan fasihdalam bahasa Melayu. Dialah anak muda Belanda yang menjadi penghubung dan mengurus segala hal ikhwal rombongan diraja Lingga-Riau yang dipimpin oleh Raja Ahmad dan Said Muhammad Zain al-Qudsi serta Raja Ali Haji  ketika mengunjungi Batavia [kini, Jakarta] pada tahun 1822.

Ketika mengisahkan perjalanan mereka ke Batavia dalam Tuhfat al-Nafis, Raja Ali Haji dan ayahnya, melukiskan sosok anak muda bernama Angelbeek ini sebagai “orang mudak yang cerdik”.

Pada tahun 1825 Angelbeek sekali lagi dikirim Linga-Riau- dan Singapura sebagai wakil resmi Gubernur Jenderal van de der Capellen untuk menyelesaikan persoalan-persoalan politik yang timbul menyusul ditandatanganinyaTraktat London, yang kemudian membelah bagi wilayah Kerajaan Johor, oleh wakil-wakil Kerajaan  Inggris dan Belanda di kota London tanggal 17 Maret 1824.

Setahun setelah ia wafat, catatan perjalanan (dagverhaal) Angebeelk selama berkunjung ke Daik-Lingga pada tahun 1819, yang ia tuliskan menjadi sebuah artikel, diterbitkan dalam  jurnal Verhanhandelingen van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen yang terbit di Batavia pada 1826.

Dalam aritekelnya itu, ia menejelaskan berbabagai hal tentang Daik-Lingga pada tahun 1819. Berikut ini adalah sedutan catatannya tentang Kuala Daik, Sungai, Sarang Meriam, Istana dan Masjid peninggalan zaman Sultan Mahmud Ri’ayatsyah di Daik-Lingga pada tahun 1819.Aslinya, sedutan tulisan ini dimuat dalam sebuah artikel berbahasa Belanda berjudul, Korte Schets van Het Eiland Lingga en Deszelfs Bewoners(Gambaran Singkat Pulau Lingga dan Penduduknya). Inilah sedutannya yang saya alihkan kedalam bahasa Indonesia. Selamat membaca!

***

PulauLingga, tempat kediamanorang-orangMelayuasli, terletak digaris khatulistiwa, diantaraPulau SumateradanKalimantan, dan berbatasan dengan Selat Melaka di sebelah Barat Lautnya serta Pulau Bangka di sebelah Tenggara.

Ibu negeri atau kawasan utama di pulau ini disebut Kwala Daik (Daik), di tepi Sungai yang terletakdi sisi Selatannya, atau di sebelah BaratTanjongHiang. Sultannya menetap di sana.Labuhan ibu negeri ini luas danbaik, seolah-olah memperlihatkan sebuah telukdenganpulau-pulau kecil, yangterletak di sekitarnya.

Di sisiUtarapulau ini, telatak daerahMarodong, sebuah kampungyang cukup luas;dandisebelah Baratnya terletak KwalaDadong, sebuahteluk, dimana terdapat sebuah tempat labuh jangkar (ankerplaats) yang aman. Ini adalah tempatpemukiman utama di Pulau Lingga.

Sungai dan Sarang Meriam

Sungai utama pulau ini [Sungai Daik]bermuara di sisi sebelahSelatan;sumber airnya berasal dari pegunungan, dan memakan waktu tiga atau empat jam bila dilayari; semakin ke hulu semakin dangkal, namun mengandungi air tawar yang jenih.

Di tepi sungai ini pemandangannya menyenangkan;  tidak terlalu tinggi atau terjal, dan semuanya dilseliputi dengan pohon-pohon rindang dan semak-semak lebat. Kita dapat melihat dan menikmati pemandangan rumah-rumah penduduk yang indah dan bervariasi di kedua sisinya yang diselang-selingi hijau pepohonan yang tumbuh subur.

Di sungai ini, selain terdapat beberapa jong milik orang Siam (Siamsche jonken), terdapat juga sejumlah perahu penduduk setempat (Indlansche vaartuigen) dalam berbagai bentuk dan buatan, yang tidak cukup untuk membuat daerah ini bangkit dan lebih baik.

Di muara sungai, di sebelah kirinya, terdapat sebuah sarang meriam (batterij)yang tertutup pancang-pancang kayu runcing (paalwerk), dan sarat dengan 20 hingga 24 pucuk meriam. Sarang meriam ini berbentuk persegi panjang, tertutup dan ditutup pada semua sisinya.Walau seluruh bangunan itu kini dalam kedaan rusak,namun bagaimanapun, sarang meriam pertahanan sungai yang sangat baik letaknya itu akan segera diperbaiki apabila diperlukan.

Istana Sultan dan Masjid

Dalam,atau istana tempat tinggal Sultan, letaknya dua dua jamperjalanan menyusuri sungai dari dari arahlaut, dan letak istana itu di sebelah kiri sungai; berhampiran sebuah jalan cukup lebar (sebuah pemadangan yang istimewa di tempat ini, karena ukurannya yang besar dari jalan setapak), dan mengarah ke pedalaman.

Istana atau tempat tinggal Sultan ini, berdiri diatas sebuah lapangan besar yang bentuknya hampir empat persegi, dimana terdapat sebuah pintu kayu yang tinggi atau bangunan pintu gerbang. Lapang besar ini adalah sebuah Aloen-Alooen bagi orang Jawa, dan disini disebut dengan nama Meidan (Medan) yang asalnya adalah bahasa Persia (Persischen).

Di Meidan ini, kita dapat melihat istana Sultan yang terletak di sebelah kiri, dikelilingi oleh pagar kayu yang agak tinggi, dilengkapi sebuah pintu gerbang beratap tanpa satu cita rasa dan hiasan.

Beberapa langkah dari pintu gerbang ini, berdiri sebuah Balei[Balairung] atau tempat mengadakan pertemuan. Sebuah banguan empat persegi yang besar, dengan pilar-pilar kayu yang berfungsi menopang atapnya. Seluruh bagian (sisi) bangunan Balei ini tebuka, dan dibagi menjadi tiga bagian, bertingkat-tingkat, dimana bagian yang paling tinggi atau tingkat yang ketiga lebih kecil ukurannya.

Di bangunan Balei inilah semua urusan kerajaan dibahas secara terbuka; Sultan menerima semua perutusan dan orang-orang asing (vreemdelingen) yang datang ke Daik-Lingga; Bangunan ini juga menjadi tempat ia ditabalkan, dan tempat dimana seluruh rakyat jelata diizinkan menyampaikan keberatan mereka serta tempat keputusan diraja dibuat. Dan, di tempat ini pula semua pesta besar iastana diselengarakan.

Dalam,atau tempat tinggal Sultan sendiri mempunyaisedikitcatatanyang layakdiungkapkan tatkala kami memasuki pintuk gerbangnya. Ketika memasuki bagian dalam pintu gerbang, mula-mula seseorang akan melihat sebuah bangunan kecil, miripdenganbangunan Balei besar diyang terletak Meidan.Fungsinya sebagairumah tempat Sultan bermain (speelhuis).

Sedikit lebih jauh di bagian belakang, terletak rumah-rumahpara pangeran, dan bunda Sultan Lingga.Rumah-rumah iniadalahrumah panggungyang tingginya tiga atau empatmeter di ataspermukaan tanah. Bangunan itu adalah sebuahbangunanyang besar.Seluruhnya dari kayu, dan bagian dalamnya dibagi menjadiruangan-ruangan.

Tidak jauh daripintu masukkawasan Meidan itu, terletak sebuah bangunanmasjid atau rumah ibadah, yang dibangundaripasangan batu.Disampingnya terdapat pula sebuahbak cuci (wastebak) [kulah atau kolam] yang terbuatdari batu bata, tempatbersuci menjelang beribadah. Tidak jauh daribangunan masjid ini adalahtempat pemakaman anggota keluarga kerajaan.***

Tinggalkan Balasan