AKHIRNYA, berita itu viral juga. Pihak istana awalnya menutup rapat maklumat tentang menghilangnya Abu Nawas dari Bagdad. Desas-desus di luar tentu saja ada, tetapi hanya itu ke itu saja dan dari orang itu ke itu juga. Tak ada sesuatu apa pun yang tembus ke pokok persoalannya. Konon kabarnya, itu pun memang disengaja supaya segala yang benar-benar itu tak mengemuka. Kesemuanya itu bernama arena.

Tibalah ketikanya. Misi yang mulanya rahasia dibuka ke publik. Berita bahwa hari ini Abu Nawas menyampaikan laporan pertanggungjawabannya kepada Sultan Harun al-Rasyid dimuat di semua media, dari media arus utama sampai ke media sosial.

 “Pasal itulah,” titah Sultan, “Beta berharap engkau melaksanakan misi ini untuk menolong saudara-saudara kita. Tak ada batas negeri bagi persaudaraan sejati, sepanjang kita tak melanggar kedaulatan mereka.”

Abu Nawas tak kuasa mengelak walau awalnya dia agak enggan. Dilaksanakannyalah titah Sang Raja. Hari ini dia telah kembali dan langsung menghadap Baginda di Istana Bagdad.

“Beta mau mengetahui pengalamanmu melacak kasusnya. Sampaikanlah selengkap mungkin duduk perkara yang sebenarnya. Betulkah engkau telah menunaikan titah Beta sebab hanya dua minggu telah selesai? Kabarnya di kalangan mereka sendiri sampai kini tak selesai-selesai juga, bahkan cenderung semakin gaduh dan kacau-bilau,” Sultan menatap tajam Abu Nawas.

“Oh, inilah pekerjaan yang paling sukar dan pelik sepanjang karir hamba, Tuanku. Kalau reputasi hamba seperti dulu pun, kepala hamba mungkin pecah tujuh kecaian dan pinggang hamba bengkok tujuh patahan. Tokoh-tokoh mereka saban hari bertengkar tentang pelbagai masalah, tetapi ya dari itu ke itu juga. Tak satu pun menyelesaikan masalah pokok. Satu-dua yang kecil-kecil adalah diselesaikan. Sekadar menghibur orang-orang yang lalu. Masalah utamanya tak kunjung tuntas. Simpulan sementara hamba, pertengkaran itu semacam job&jab baru mereka,” jawab Abu Nawas sambil mengerutkan dahi dan mengerlingi Sultan dengan jelingan khas untuk melihat reaksi penguasa Irak itu.

“Engkau belum mampu meyakinkan Beta,” Sang Raja menyela. “Bagaimanapun silalah sampaikan laporan lengkapmu.”

“Semua berkas hukum yang umumnya tak jelas itu sudah hamba periksa, Tuanku. Setelah hamba tilik, betul bangat, sama sekali tak selesai dan aneh dipandang dari sudut hukum yang berlaku di mana pun. Sayang dan malangnya, ada saksinya yang telah wafat, ada yang tak mau bersaksi karena 1001 alasan, ada bukti yang hilang dan tertukar dengan sendirinya tanpa dipertukargantikan, ada alat bukti yang datang sendiri, dan pelbagai ragam aneh lagi,” Abu Nawas memerikan temuannya.

Kali ini Sultan Harun al-Rasyid termenung. Di dalam hati Baginda bergumam, “Begitu parahkah?” lalu Baginda melanjutkan, “Mungkin engkau mengarang sahaja, Abu. Beta belum terlalu percaya. Di manakah semua berkas itu?” 

Abu Nawas menjawab bahwa semua berkas dibawanya, tetapi tak ke istana Sang Raja. Dengan pertimbangan tertentu, diamankannya di suatu tempat yang sangat rahasia.

“Lalu di mana, Abu? Engkau jangan membuat Beta naik darah. Engkau pendapkan atau mungkin engkau hilangkan. Mana tahu dengan siasat berkonspirasi dengan pihak tertentu, engkau musnahkan agaknya.”

“Hamba tersinggung dengan ucapan terakhir Tuanku itu. Seburuk-buruknya hamba, apatah lagi hamba bukan laki-laki yang buruk rupa, bukan karakter Abu Nawas seperti itu. Manusia sejagat raya tahu kualitas dan karakter sejati hamba. Seyogianya, sebagai pemimpin berpengalaman, Tuanku maklum akan reputasi hamba,”  durja Abu Nawas merona kemerahan. Dia pura-pura merajuk.

“Maafkan kelancangan Beta, tetapi di manakah Abu?” lembut pertanyaan Sultan yang membuat Abu Nawas berasa geli, tetapi di hati saja. Tak sampai hati dia menzahirkannya di luar hati. Khawatir dia Sang Raja berkecil hati. 

“Kena kau,” katanya di dalam hati, “Abu Nawas dilawan!” lalu dia melanjutkan menjawab pertanyaan Sultan.

“Hamba amankan di tempat teraman, Tuanku. Di gerbang akhirat. Hemat hamba, perkara-perkara itu hanya dapat diselesaikan di alam akhirat. Di sana semua bukti, saksi, hakim, jaksa, panitera, pakar, masyarakat, dan lain-lain—hendak atau enggan—akan rela berkolaborasi untuk pengadilan dan keadilan yang sesungguhnya. Untuk kasus rumit seperti ini, dan nyaris satu-satunya di dunia yang fana ini, hanya Pengadilan Akhirat yang mampu menyelesaikannya, Tuanku. Menjelang masuk ke alam akhirat nanti, akan hamba ambil dan hamba serahkan secara suka cita kepada Tuanku. Bersamaan dengan itu, kita akan mengambil “mahkota cahaya” yang sejak lama Tuanku dambakan.”

Sultan tersipu malu mendengar mahkota cahaya yang disebutkan Abu Nawas. Baginda sangat ingin memilikinya. “Sabit di akal Beta, Abu.  Lalu, mengapakah engkau mengerjakan pekerjaan yang tak Beta titahkan? Itu boleh menimbulkan aib karena di luar kearifan dan kebijaksanaan Beta.” Sang Raja membusungkan dada ketika menyebut kata “kearifan” dan “kebijaksanaan”.

“Bukan bermaksud mendurhaka, Tuanku. Daripada hamba ditugasi dua kali di tempat yang sama, lebih baik hamba selesaikan sekali jalan. Sekali saja, bahkan, hamba berasa jera. Sekarang sedang musim pandemi Covid-19. Di sana ada sistem penanggulangan serbacanggih: “Sambil menyelam minum air”. Banyak dana yang mesti dihemat, katanya. Apatah lagi, mereka memerlukan daya dan dana yang tak terperi untuk rekonstruksi fisik pascabencana, rekonstruksi sosial, mengejar pertumbuhan ekonomi, pengembangan infrastruktur, dan sebagainya agar negeri mereka serba bercahaya, berdelau, Tuanku.” 

“Paslah kalau begitu, Abu. Tak sia-sia dan tak salah Beta mengutusmu,” puji Sultan. Baginda berasa puas sepuas-puasnya.

“Kali ini salah, Tuanku,” Abu Nawas memotong pantas, “dan itulah alasan kedua hamba agak enggan menunaikan misi ini. Salangkan negeri kita diporak-porandakan Amerika Serikat dan sekutunya—dulu sampai sekarang—Tuanku, para menteri, seluruh rakyat Irak, bahkan hamba, tak mampu berbuat apa-apa. Perpustakaan, museum, dan situs arkeologi kita menjadi sasaran utama gempuran mereka agar tiada lagi yang dapat kita banggakan sebagai bangsa.” 

“Hamba pun harus dilenyapkan dari memori para penerus karena dianggap berbahaya jika bangkit. Begitu pula Palestina, Lebanon, Libya, dan yang senasib dengan kita terus diupayakan untuk dihancurleburkan dan diintimidasi dengan pelbagai helah. Anak-anak, kaum wanita, orang tua-tua, bangunan, hewan ternak kesemuanya dimusnahkan, sumber daya alam kita dijarah habis, bahkan keyakinan kita dikikis, agar kita tak mampu bangkit. Kalau dulu, takkan hamba biarkan tragedi memilukan dan memalukan ini terjadi,” Abu Nawas nampak sangat serius. Balairung seri Istana Bagdad hening.

“Lalu, mengapa engkau tak bertindak? Adakah karena belum Beta perintahkan?” bergetar suara Sultan Harun al-Rasyid karena geram berbaur pilu.

“Untuk itu, hamba tak memerlukan perintah Tuanku. Akan tetapi, kita memang tak boleh. Sadarkah Tuanku?” 

“Astaghfirullah!” terperanjat Sultan Harun al-Rasyid. 

“Kita tak boleh lagi mencampuri kesemuanya ini. Tugas kita telah lama selesai. Upaya hebat Tuanku pun terbilang setengah mukjizat. Cuma, sedikit saja harapan hamba. Semoga suatu hari kelak, ada generasi penerus yang sanggup membangkitkan hamba kembali ke dunia,” Abu Nawas merenung dan matanya berkaca-kaca. 

“Sadarkah Tuanku? Kita sekarang berada di alam barzah!” 

Abu Nawas menutup laporannya dengan wajah muram semuram-muramnya seraya memberi hormat. Namun, karena tergesa-gesa, dia salah mengatur sembah. Sambil menghadap gerbang ke luar, dia membungkuk sehingga Sultan dipunggunginya. Ada benda aneh pula yang menempel di kedudukan celananya.

“Apakah yang menempel di kedudukan seluarmu, Abu?” tanya Sultan agak kesal. Para menteri pun mulai berani memamerkan kebolehan utama mereka, terkekeh-kekeh.

“Pelitup negeri jiran, Tuanku!” jawab Abu Nawas tanpa menoleh dan langsung pergi menuju singgasana peristirahatannya.***

Tinggalkan Balasan