Selat Boelan (Bulang), Senimba Baai (Teluk Senimba) dan Pulau Bulang dalam peta Pulau Batam dan alur perlayaran di Selat Riau tahun 1909 (foto: dok. aswandi syahri)

SETELAH menjelajahi pulau-pulau di Laut Cina Selatan pada tahun 1900, Cecil Boden Kloss (zoologist berkebangsaan Inggris yang pakar tetang mamalia dan burung)  dua kali berkunjung ke Pulau Batam pada tahun 1905 dan 1906.

Sama seperti misinya ke pulau-pulau dalam Kepulauan Riau yang terhampar di kawasan Laut Cina Selatan, dua kali kunjungannya ke Pulau Batam itu adalah sempena perjalanan imiah sebagai seorang zoologist dan naturalist; tujuannnya adalah mengumpulkan spesimen fauna tempatan yang mungkin menarik bagi ilmu pengetahuan.

Mula-mula Boden Kloss mengunjungi kawasan Teluk Senimba di sekitar Tanjung Riau, yang terletak di bagian Timur Pulau Batam, pada bulan September 1905. Selanjutnya, pada bulan Maret 1906, ia menyusuri Selat Batu Hadji (Batu Aji) dengan tujuan ke Pulau Bulang.

Catatan dua kali perjalanan ilmiah ke Pulau Batam itu kemudian dipublikasikan dalam Journal of the Straith Branch of the Royal Asiatic Society, No. 50, September 1905, dengan judul “Some Visit to Batam Island ”. Berikut ini adalah sedutan yang diterjemahkan dari bagian-bagian laporan perjalanan itu.

***

Teluk Senimba

Meskipun Pulau Batam begitu dekat jaraknya dengan Singapura, dan seringkali dikunjungi oleh para pemburu babi, namun belum pernah diteroka oleh pakar tumbuhan dan hewan (naturalist), sehingga keringkasan berikut ini, yang bahannya berasal dari cacatan yang terkumpul selama dua kali kunjungkan singkat ke Pulau Batam untuk mengumpul spesimen fauna, mungkin menarik.

Pulau Batam berjarak 9 mil dari Sungapura, kira-kira 15 mil panjang dan 10 mil lebarnya. Sisi sebelah utara agak menjorok ke dalam, dan pada bagian lain dikelilingi rapat oleh pulau-pulau lain.

Terdapat perbukitan pada bagian tengahnya yang ditutupi hutan, di mana terdapat hamparan lapisan batu akik (quartz) yang luas dan membentuk butiran-butiran.

Kebanyakan dataran-dataran rendah Pulau Batam yang suatu saat pernah dibuka, adalah kawasan berpaya atau berpasir dan sangat tidak subur. Namun di hamparan tanah laterite merah tersebut tumbuh dengan subur tanaman nanas yang diusahakan oleh orang Bugis dan orang Cina yang bermukim di kawasan itu.

Sejumlah besar pohon karet muda (Dichopsis sp.) ditemukan di hutan-hutan, tempat sekelompok masyarakat Proto Melayu (Orang Darat), yang masih sangat sedikit dipengaruhi oleh anasir luar, mengembara.

Kunjungan pertama saya ke Pulau Batam dilakukan dalam bulam September 1905. Saya meninggalkan Singapura menggunakan sebuah perahu kecil yang cepat pada pukul 11 pagi, dan diterpa badai yang datang mendadak menjelang Pulau Sambu sebelum patang. Kemudian terus menghilir ke arah sebuah tebing pasir yang pasang rendah, namun tetap setinggi galah, dan lego jangkar di hujung Teluk Senimba pada pukul 5.30 petang.

Teluk tersebut sangat dangkal dan pada saat air surut dataran lumpur yang luas menghampar disekelilingnya. Saya mengumpulkan sejumlah kerang kecil yang menarik, dengan warna-warni yang cerah. Terdapat tujuh buah rumah di kampug di  Teluk Senimba itu, dan selanjutnya sejumlah bangunan lain terletak di sepanjang pantai.

Setelah mengemas barang bawaan dan turun ke darat keesokan paginya, kami menemukan sebuah kedai Cina yang telah ditinggalkan, di belakang kampung. Kedai ini kami buka paksa dan mengeluarkan semua sampah yang terdapat di dalamnya ke bagian samping.

Saya atur tempat tidur saya, meja dan kursi pada bagian tengah ruangan dimana pembantu saya menempatkan dapurnya dan tempat tidurnya. Terdapat sebuah sumur untuk air minum dan sebuah sumur untuk mandi yang letaknya agak jauh, sehingga membuat kami cukup senang.

Sekumpulan bukit yang ditumbuhi pohon kayu memanjang dari selatan ke bagian timur, ke arah tengah Pulau Batam. Sebuah sungai mengalir di ujung Teluk Senimba dan besimpangan sejauh satu mil pada sebuah kawasan tanjung yang panjang.

Ketika saya duduk sambil ngobrol dengan penduduk setempat di luar rumah pada waktu petang, kami melihat mata sekor buaya besar di atas air yang tenang, kira-kira 140 yards jauhnya. Saya diminta untuk menembaknya, namun jarak tembak senapang saya hanya 100 yards.

Mereka memaksa. Saya bidik  dengan tepat dan menembaknya dari kursi tempat saya duduk; setelah sedikit meronta dan marah, reptil itu pun menghilang. Penduduk setempat mengira binatang itu kena. Dan benar, tiga atau empat hari kemudian, kami menemukannya di Pohon Bakau.

Pada pukul 3 petang, saya keluar dengan sebilah parang dan menemukan jalan setapak yang mengarah ke atas perbukitan; membersihkannya dan menaruh 3 lusin perangkap. Ketika kembali, saya mendapatkan sepasang ‘tupai tanah, ( Tupaia ferruginea batamana sp. Nov.). Juga terjerat dan terlihat beberapa ekor babi kecil. Saya kuliti tupai itu, dan setelah santap malam menyusuri sepanjang pantai untuk berburu babi. Namun saya tak melihat seekor pun.

Setelah sepekan menjelajahi kawasan perbukitan di sekitar Teluk Senimba di Pulau Batam, pada tanggal 23 September 1905, saya menyewa sebuah sampan besar yang tiris berpendayung pendek, dan berkayuh ke Pulau Sambu. Dari Pulau ini, saya naik sebuah kapal penumpang, dan kembali ke Singapura.

Pulau Bulang

Kunjungan saya yang kedua kalinya ke Pulau Batam dikarenakan keinginan untuk mengumpulkan [fauna dan flora] di puncak perbukitan Pulang Bulang.

Saya meninggalkan Singapura pada 18 Maret 1906. Pada kesempatan ini, saya menggunakan sebuah prau [perahu] Melayu yang tidak dapat berlayar sebagaimana layaknya sebuah cutter [sejenis kapal layar Eropa], dan kami harus sedikit berkayuh, terutama ketika berada diantara tide-rips di belakang Pulau Sambu.

Namun bagaimanapun, pada pukul tujuh kami dapat mencapai Pulau Boyan, tempat dimana seorang Controleur [pejabat pemerintah kolonial Belanda setinggkat Camat] yang ditempatkan, dan lego jangkar pada arus yang kuat, di Selat Batu Hadji, untuk bermalam.

Saya mendapatkan bahwasanya Tuan Controleur, orang yang baru saja diangkat, tidak dapat memberikan sebarang informasi tentang Pulau Bulang. Namun ia dengan ramah memberikan saya bantuan seorang polisi selama  perjalanan, yang saya tolak karena tidak berguna dan menyulitkan saja.

Arus air laut yang kuat yang menghadang kami, meski tidak ada angin sepanjang pagi itu, sehingga kami melewati waktu dengan mengisi balang air dari sebuah sumur di Pulau Bulang: karena tidak ada air tawar di Pulau Boyan.

Pada sebelahnya petangnya, ketika arus air laut berkurang, kami berlayar kembali hingga malam tiba, dan mencapai sebuah kapung dimana saya berharap dapat naik ke darat untuk beristirahat.

Pada pagi berikutnya ketika berjalan puncak perbukitan Pulau Bulang, saya mendapatkan jalan kesitu melewati rawa-rawa. Sehingga kami memutuskan untuk berlayar kembali mencari sebuat tempat untuk berhenti, akan tetapi hutan kedua sisi selat itu telah lama dibersihkan dan tidak mungkin digunakan sebagai daerah untuk mengumpulkan fauna dan flora.

Karena saya tidak diperlengkapi dengan sebarang perlengkapan untuk membuat tempat berteduh, akhirnya diputuskan untuk berlabuh di Teluk Senimba sekali lagi–terutama sekali karena saya ingin menembak babi yang berjanggut. Tidak diragukan, banyak tempat-tempat yang memuaskan di bagian dalamnya, namun untuk pergi ke tempat itu harus siap-siap untuk berkemah.

Setelah meninggalkan selat tempat berteduh, kami kembali kepada saat-saat yang sibuk menghapapi angin haluan yang kencang; prau, tidak dapat berjalan dalam cuaca yang buruk dan kami harus bertahan setiap saat. Namun ketika kami mencapai Teluk Senimba, adalah  satu yang menarik untuk menyinggahi sebuah kampong.

Air laut pasang surut. Dan begitu kami sampai, ada sekor babi pada sebuah kubangan lumpur, sehingga menyebabkan saya berdayung kencang ke arahnya dengan senapang. Namun demikian babi lari menghilang diantara rimbunan pohon bakau. Saya berada di belakang kemudi selama delapan jam tanpa sepatah kata dan tersiksa karena sinaran mentari.

Kedai tempat tinggal saya sebelumya telah dirobohkan. Namun orang Cina lainnya telah membangun sebuah kedai baru yang juga gagal dipergunakan, sehingga kami memutuskan untuk mengambil tempat kosong itu sebagai tempat tinggal seperti sebelumnya.

Pada tanggal 22 Maret itu, kami berkeliling di kawasan sekitarnya pada siang hari namun hanya melihat “krah’ [kera]; memintas dan menurun ke arah sebuah jalan kecil pada bagian sisi sepanjang dasar sebuah jurang yang kering, dengan harapan menemukan hutan. Namun yang ditemukan hanyalah sebidang tanah yang dipenuhi semak belukar.

Saya menghabiskan petang hari itu di lumpur smbil mengumpulkan batu karang, dan bunga karang dalam berbagai warna dan bentuk. Para perempuan Kampong menangumpulkan kerangan-kerangan dalam berbagai cara; mereka menyibak lumpur untuk membuat lubang pada tempat dimana kerang-kerangan hidup dan kemudian mendorong dengan agak kuat.

Saya memperoleh tiga belas spesies mamalia selama dua kali kunjungan ke Pulau Batam. Dengan kata lain, mamalia di Pulau Batam sesungguhnya telah habis (exhausted): untuk itu jika hal tersebut benar-benar terjadi, untuk memastikan laporan tentang adanya Presbytes, M. nemestrina, Paradoxurus, Sciuropterus dan Ratufa (sejenis tupai raksasa)  adalah hal yang menarik.

Namun untuk mendapatkan semua ini, barangkali perlu berkemah di tengah-tengah Pulau Batam, di mana hutan yang baik mungkin masih ada.***

Artikel Sebelum“Perdamaian Kuala Bulang” 3 September 1803
Artikel BerikutKota Tanjungpinang Tahun 1939
Aswandi Syahri, lahir di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, pada 29 Januari 1970. Alumni ilmu sejarah pada Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra (kini, Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Andalas. Pernah menjadi jurnalis, dan kini masih menjabat sebagai sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Provinsi Kepulauan Riau. Menulis sejarah sejak di bangku SMA, dan telah menghasilkan sejumlah buku tentang sejarah dan kebudayaan Melayu di Kepulauan Riau

Tinggalkan Balasan