Gunung Daik, ikon Kabupaten Lingga

SULTAN Sulaiman Badrul Alam Syah II ibni Sultan Abdul Rahman Muazzam Syah I merupakan Sultan V Lingga-Riau.  Baginda dilantik pada  21 Safar 1274 (10 Oktober 1857) dan memerintah sampai 1883. 

Peresmian pelantikan putra Sultan Abdul Rahman I dan permaisurinya Cek Nora (keturunan Belanda) itu dilaksanakan pada 12 Oktober 1857 di Balairung Istana Daik, Lingga, yang pengukuhannya berdasarkan akta Pemerintah Hindia-Belanda 9 Februari 1858 (Netscher, 1870). 

Selama memerintah, Sultan Sulaiman II didampingi oleh dua Yang Dipertuan Muda. Pertama, Raja Abdullah ibni Raja Jaafar (1857-1858). Kedua, Raja Muhammad Yusuf al-Ahmadi ibni Raja Ali (1858-1899). 

Pada 1 Desember 1857 Baginda dan Raja Abdullah harus menandatangani perjanjian dengan Belanda. Perjanjian itu, antara lain, mengatur perkara ini. Sultan harus menyetujui Kesultanan Lingga-Riau merupakan bagian dari kekuasaan Hindia-Belanda. Sultan memerintah negeri pinjaman dari Pemerintah Hindia-Belanda. Oleh sebab itu, Sultan mesti tunduk terhadap peraturan Pemerintah Hindia-Belanda. 

Karena menyadari kekuasaannya dalam bidang politik, pemerintahan, dan pertahanan-keamanan sangat terbatas akibat perjanjian itu, Sultan Sulaiman II lebih memusatkan kebijakannya dalam pembangunan ekonomi, pendidikan, dan kebudayaan. Untuk mengembangkan ekonomi rakyat, Baginda mengembangkan perkebunan sagu secara besar-besaran, setelah upaya pertanian padi yang gagal. Ternyata, sagu berkembang menjadi komoditas ekspor andalan kerajaan pada masa itu (Malik et al., 2020). Ekonomi kerajaan dan rakyat pun terselamatkan.

Dalam bidang kebudayaan semakin digesa pengembangan tradisi literasi. Dari senarai penulis Lingga-Riau, dapatlah diketahui bahwa pada masa ini ada dua penulis yang aktif melakukan pengembangan dan pembinaan bahasa Melayu secara intensif dengan manajemen modern. Mereka adalah Raja Ali Haji dan Haji Ibrahim Datuk Kaya Muda Riau. Keduanya beraktivitas di Pulau Penyengat Bandar Riau. Perjuangan kedua cendekiawan itu disokong penuh oleh kerajaan.

Raja Ali Haji (1809-1873) memang telah melakukan kajian bahasa Melayu secara ilmiah pada masa Sultan Mahmud Muzaffar Syah berkuasa (1841-1857). Karya linguistik pertama beliau berupa buku tata bahasa dan ejaan, Bustan al-Katibin, terbit pada 1850. Selanjutnya, pada masa Sultan Sulaiman II, beliau menerbitkan karya linguistik Kitab Pengetahuan Bahasa, yakni kamus ekabahasa Melayu pada 1858. Baik buku tata bahasa maupun kamus itu merupakan karya sulung dalam bidangnya yang ditulis oleh penulis Melayu.

Haji Ibrahim Datuk Kaya Muda menulis karya dalam bidang bahasa Cakap-Cakap Rampai-Rampai Bahasa Melayu-Johor, yang terdiri atas dua jilid. Jilid pertama terbit pada 1868 dan jilid kedua terbit pada 1875. Buku bidang etimologi (asal-usul kata) itu diterbitkan di Batavia (Jakarta sekarang).  

Raja Ali Haji dan Haji Ibrahim ikut pula mengerjakan kamus dwibahasa: Melayu Belanda dan Belanda-Melayu bersama Hermann Theodor Friedrich Karl Emil Wilhelm August Casimir von de Wall. Dalam hal ini, Pemerintah Hindia-Belanda mengutus H. von de Wall ke Kesultanan Lingga-Riau pada 1857 untuk mendalami Bahasa Melayu dan mengerjakan karyanya itu. Konsultan pakarnya adalah Raja Ali Haji dan Haji Ibrahim. Pakar bahasa Belanda, kelahiran Giessen, Jerman, 30 Maret 1807, itu menetap di Tanjungpinang sampai beliau meninggal dunia pada 2 Mei 1873 dan dikebumikan di Pemakaman Kerkhof, Tanjungpinang. 

Karya-karya mereka menjadi begitu istimewa dibandingkan dengan karya-karya para penulis Melayu di kawasan lain yang tak menghasilkan karya dalam bidang ilmu bahasa. Pada masa itu telah dilakukan upaya pembakuan atau standardisasi bahasa Melayu. Ditambah dengan karya dalam pelbagai bidang lain yang bermutu tinggi, bahasa Melayu baku (Melayu Tinggi) Riau-Lingga menjadi paling terkemuka di antara dialek Melayu yang ada di nusantara ini. Atas dasar itulah, bahasa Melayu baku Riau-Lingga yang dikembangkan dan dibina di Pulau Penyengat Indera Sakti diangkat menjadi bahasa Indonesia, yang berkedudukan sebagai bahasa nasional sekaligus bahasa negara Republik Indonesia. 

Bahasa nasional dan bahasa negara itu merupakan pemberian utama Riau-Lingga kepada Indonesia. Alhasil, bangsa Indonesia yang hidup di alam Indonesia merdeka boleh berbangga karena dapat berdiri setara dengan bangsa-bangsa besar lainnya di dunia. Pasalnya, bahasa nasional sekaligus bahasa negara kita berasal dari bahasa bangsa kita sendiri, bukan dari bahasa asing, apatah lagi bukan dari bahasa penjajah. 

Selain kedua penulis itu, pada masa pemerintahan Sultan Sulaiman II, di antara para penulis yang aktif berkarya adalah Raja Haji Daud, Raja Ali (Yang Dipertuan Muda VIII, 1844-1857) yang karyanya diterbitkan secara anumerta kala itu, Raja Haji Abdullah (Yang Dipertuan Muda IX, 1857-1858), Raja Hasan, Raja Abdul Muthalib, Raja Haji Muhammad Tahir, Raja Safiah, dan Raja Kalsum.

Tradisi intelektual dan kepengarangan di Kesultanan Lingga-Riau kala itu telah menghasilkan karya dalam pelbagai bidang. Di antaranya bidang ilmu bahasa, sastra, sejarah, agama Islam, kedokteran, hukum, pemerintahan, politik, astronomi, dan lain-lain.

Bersamaan dengan itu, pengetahuan tradisional yang telah berkembang sejak lama terus ditingkatkan. Yang bertahan sampai setakat ini adalah kecakapan teknik. Dari kecakapan itu lahirlah pelbagai gastronomi Melayu, yang beraneka ragam.

Lauk-pauk: gulai asam pedas, acar, opor, singgang, pindang, gulai kari, sayur lemak, sayur air, pekasam, cencalok, bilis gulung, ikan bakar, cumi-cumi masak hitam, laksa, kerabu, lendot, dan lain-lain.

Makanan: kepurun, lempeng, gobak (gubal), sagu rendang, sagu resik, sagu lenggang, nasi lemak, nasi dagang, nasi kerabu, bubur lambuk, bubur air, bubur pedas, pulut kuning, pulut putih, lemang, mie siam, mie lendir, mie goreng Melayu, roti canai, roti jala, dan lain-lain. 

Kue dan penganan: pengat labu, pengat ubi, apam, otak-otak, epok-epok, engkak, opak-opak, bingka, emping, bulda, botok-botok, lempar, dodol, lempuk, sagun-sagun, aman sari, belebat, penganan talam, buah melaka, tepung gomak, rendang pisang, kue bangkit, bolu, bolu kemboja, tepung kusui, kole-kole, putu mayang, putu piring, abuk-abuk, seri salat, dan lain-lain.

Minuman: air sirap ros, sauh manila, cendol, air dohot, air selasih, air sepang, es apolo, es gunung, es campur, dan lain-lain.

Jenis pengetahuan yang juga berkembang sebagai tinggalan masa lalu berupa hasil kemahiran. Di antaranya pembuatan tudung mantur (manto), tenun, batik cap Lingga, pakaian Melayu (barut, teluk belanga, cekak musang, gunting cina, baju kurung, belah labuh, aneka tanjak dan tengkolok) keris Melayu, serampang, lembing, parang pendek, parang panjang, pelbagai pisau, lapun, pembuatan perahu dan kelengkapannya, pelbagai alat tangkap ikan, pelbagai peralatan rumah tangga (tikar, lekar, tapis, ayak, tudung saji, dan lain-lain), rumah irik (peralatan produksi sagu), dan sebagainya.

Juga berkembang pengetahuan pertanian dan perikanan. Ada pula kearifan navigasi tradisional Melayu, yang disesuaikan dengan keberadaan benda-benda langit, dan pengetahuan pengobatan. 

Ekspresi budaya tradisional berupa verbal tekstual meliputi pelbagai prosa dan puisi. Karya sastra atau narasi informatif (lisan dan tulisan), juga seni musik (senandung, gazal, dondang sayang, joget, langgam, inang, zapin, dan lain-lain), 

Seni gerak meliputi tari (zapin, joget dangkung, joget lambak, gobang, dikir barat, tari tempurung, dan lain-lain), permainan rakyat (di darat dan di laut), seni pertunjukan (wayang bangsawan, makyong, mendu, boria, wayang cecak, barzanji, asyrakal, marhaban, berdah,  dan lain-lain). Tentulah pelbagai seni rupa, arsitektur, dan upacara adat Melayu yang kita warisi sampai setakat ini juga hasil pembinaan pada masa lalu.

Perian serbaringkas itu menampilkan sesuatu yang patut dibanggakan. Walaupun memerintah dalam keadaan tertekan, Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah II konsisten mengutamakan pembangunan kebudayaan. Tidakkah kebijakan itu menyiratkan pemikiran, “Dengan kekuatan budaya, bangsaku akan bertahan!” Fakta itu, kemudian, memang tak terbantahkan.***   

Tinggalkan Balasan