Pemandangan sisi Utara Telok Kwala dan Kampung Telok Kwala (Teluk Kuala) di Pulau Jemaja pada akhir abad 19. (dokumentasi: aswandi syahri)

Sepanjang bulan Agustus hingga September  tahun 1900, seorang zoologist ahli mamalia dan burung-burung Asia Tenggara berkebangsaan Inggris, Cecil Boden Kloss, menghabis waktu menjelajahi pulau-pulau di Laut Cina Selatan bersama Dr. W.L. Abbott dari Amerika.

Tujuannya adalah mengumpulkan spesimen mamalia dan burung-burung serta sebarang objek kajian zoologi lainnya yang mungkin terlihat dalam perjalanan itu.

Setelah mengujungi Lingga, Tambelan, Anambas, dan Sianta, ia tiba Pulau Jemaja pada 16 September. Di Jemaja, ia tidak hanya menjalankan misi ilmiahnya, tapi juga singgah beberap kampung, sunggah ke rumah Datuk Kaya Jemaja untuk menyerahkan surat Sultan Lingga yang dibawanya, dan mengunjungi beberapa tempat menarik.

Laporan Cecil Boden Kloss tentang perjalanan itu kemudian dipublikasikan dalam Journal of The Straits Branch Royal Asiatic Society edisi bulan Januari 1904. Berikut ini adalah terjemahan catatan Cecil Boden Kloos tentang Pulau Jemaja, bagian dari sebuah catatan yang berjudul, “Note on a Cruise in the Southern China Sea”.

***

Kampung Telok Kwala

Pada tanggal 16 September, kami berlayar dikala  fajar merekah dan mengelilingi ujung bagian Selatan Pulau Telaga.

Angin berhembus dari arah haluan, namun kami telah bergerak sejauh tujuh belas mil, yang merupakan jarak antara pulau itu dan pulau Jimaja (Jemaja) dan kemudian mengambil jalan pintas menghampiri jalan masuk ke Teluk Kuala Maras di pantai Barat ketika senja.

Setelah itu hembusan angin terasa semilir dan air pasang menghanyutkan kami jauh ke bagian Utara sehingga kami segera labuh jangkar pada kedalaman 10 fathoms (depa), kira-kira tiga perempat mil dari pantai. Jauh pada sisi lainnya terhampar sebuah beting karang: kami menemukan tempat berlabuh yang baik diantara keduanya, terlindung dengan baik dari segalanya, kecuali angin Timur.

Jemaja adalah pulau terbesar dari Kepulauan Anambas dengan luas barangkali mencapai 30,000 acre (hektar). Ia adalah sebuah pulau berbentuk huruf  Y tidak beraturan, dengan panjang kira-kira 14 mil dari Utara dan Selatan, dan 9 mil lebar. Bentuk permukaan tanahnya sangat tidak rata dan terdapat banyak puncak yang tingginya antara 700 kaki dan 1530 kaki.

Puncak tertinggi terletak di Gunung Tujoh (Gunung Tujuh). Ketidakteraturan garis pantainya telah menyebabkan banyak teluk. Yang terbesar diantaranya terletak di bagian Utara dan Tenggara. Namun Telok Kwala (Teluk Kuala) yang berada di tengah-tengah kawasan pantai Timur, walapun lebih kecil, merupakan teluk yang sangat penting karena memiliki jumlah penduduk yang terbesar dan pelabuhan tempat berlabuh kapal uap.

Pantai-pantainya menanjak tajam hingga ketinggian 1000 kaki pada tempat yang tidak berhutan, namun juah di hadapannya muara sungai menyebar pada sejumlah dataran berpaya yang padat ditumbuhi pohon-pohon bakau .

Kampung di pulau ini terletak di pantai sebelah Utara dan terdiri dari tiga puluh hingga empat puluh buah rumah, sebuah masjid kecil, rumah Dato’ (Datuk Kaya Jemaja), bangunan milik petani-opium, kedai, gudang, dan lain-lain. Semuanya dikelilingi oleh sebuah pagar pertahanan setinggi 8-10 kaki yang terbentuk dari pohon-pohon muda kecil yang ditanam rapat, Dari salah salah satu sisi pagar ini menjulur sebuah dermaga kecil.

Datuk Kaya Berwajah Irlandia

Bangunan milik Dato’ (Datuk Kaya Jemaja)  adalah sebuah rumah yang dibangun dengan baik, dan merupakan bangunan yang terbesar di tempat itu, dengan sebuah tiang bendera berdiri di hadapannya.

Kami disuguhkan kursi-kursi yang jarang dugunakan atau dibawa keluar. Seperti selalunya, dari suatu tempat di bawah atap dan didudukan disitu, menanti Dato’ (Datok Kaya Jemaja) mempersiapkan dirinya.

Ia adalah seorang laki-laki yang agak besar dengan raut muka bagaikan wajah orang Irish (Irlandia) dan memakai “baju tangan kanching” yang sesunggungnya menyerupai pakian malam. Ia memakai sebuah tutup kepala berwarna ungu dengan jumbai-jumbai hitam besar yang dengan mantap terletak dekat mata kanannya.

Hanya ada beberapa masyarakat yang menyaksikan pertemuan itu. Dato’ (Datuk Kaya Jemaja) dengan hati-hati membaca seluruh surat Sultan Lingga, dan seorang ilmuwan dalam rombangan kami mencatatkan kunjungan kami pada kertas bersampul coklat yang merupakan arsip-arsip Jimaja (Pulau Jemaja).

Selanjutnya, percakapan beralih kepada masalah yang berkenaan dengan fauna yang terdapat di perbukitan di pedalaman Pulau Jemaja. Deskripsi Datuk Kaya tentang hal ini memberikan sebuah gagasan tentang sesuatu yang mengesankan.

Kuala Maras

Selanjuntnya, dari sini Sungei Maras mengalir berkelok-kelok ke tengah lembah dengan sebuah jalur sempit dan bagian-bagian yang meninggi di pinggirnya.

Di ujung aliran sungai itu, terdapat sebuah kampung yang terdiri dari delapan atau sembilan buah rumah dan sebuah mesjid, satu atau dua dari kumpulan rumah-rumah itu mempunyai ukuran yang besar dan dibangun dengan panel-panel kayu berukir, walau pun sekarang usianya telah tua.

Di lembah itu akhirnya kami mendapatkan sepesimen burung kakak-tua karena mereka makan di pohon buah-buahan pembatas sungai itu, dan juga seekor burung pekaka kecil yang indah (Ceykx rifidorsa) dengan paruh dan kaki berwarna merah karang, dada kuning, dan kepala berwarna merah bata

Pada tanggal 24 September, kami berangkat pada awal sautu pagi dengan tujuan melihat kebenaran yang terdapat dalam laporan yang diberikan kepada kami berkenan dengan “danau” yang berada di tengah-tengah pulau itu.

Sebuah Danau

Mula-mula kami pergi ke Kampong Ayer Maras (Kampung Air Maras) dimana seorang penghulu membekalkan kami dengan seorang penunjuk jalan. Sementara kami menunggu penujuk jalan itu, kami memeriksa dan mengamati sebuah air terjun kecil kira-kira 20 kaki tingginya yang berada di belakang kampung itu.

Bagaimana pun tak banyak yang dilihat karena airnya sangat sedikit pada saat itu. Kami kemudian diberitahu bahwa terdapat dua rangkaian danau. Kami memilih danau yang besar, dan ketika penunjuk jalan sampai, sesuai dengan rencana kami mulai berjalan mengikutinya.

Jalan setapak itu melintasi rawa-rawa yang sebagian besarnya  ditumbuhi pohon sago (sagu) dan sangat berlumpur. Kemudian sebuah kampung kecil yang dikelilingi oleh pohon buah-buahan, dan segera setelah itu melewati sebuah aliran sungai dimana alat perlengkapan pengolahan sago ( sagu) didirikan.

Selanjutnya muncul pula semak-belukar yang padat diikuti oleh tanaman sago dimana sejumlah orang sedang berkerja. Sekarang hampir semua jejak kaki kami lenyap ke dalam lumpur sedalam lutut, dan setelah menyebrang sejumlah selokan, kami menghampiri tebing sebuah sungai kecil dengan sebuah hamparan pasir yang bersih.

Ketika beberapa jauh mengarunginya hingga ke atas hamparan pasir itu, semua berubah menjadi bebatuan dan segera setelah itu kami pun mencapai “danau” tersebut. Ini adalah suatu yang mengecewakan karena apa yang disebut “danau” hanyalah sebuah kolam batu besar pada dasar sungai, kira-kira 60 kaki panjang dan 30 kaki lebar, dan, seperti yang kami dapatkan dari penyelam, dalamnya sekitar 17 atau 18 kaki.

“Danau” itu dihubungkan oleh sebuah air terjun dengan sebuah kolam kedua yang berada diatasnya, pada ketinggian 30 atau 40 kaki. Air di situ sangat sempurna jernihnya dan semuanya sangatlah molek.

Bebatuan dan air dibayang-bayangi serta dipagar oleh rimbunan hutan lebat. Namun bagimana pun, apa yang ada susunggunya bukanlah sebuah gejala alam yang fenomenal sebagaimana telah dilukiskan oleh informan kami.

Membeli Kolek Siantan

Baik di pulau Tembelan maupun di Pulau Siantan kami telah berusaha untuk mendapatkan salah satu canoes (sejenis kolek khas Siantan yang pembuatannya dengan cara dicungkil) dari tempat itu, tapi sia-sia. Masyarakat tidak mau menjual atau tidak dapat membuatnya dalam waktu yang singkat.

Disini, sebagai kesempatan terakhir seseorang dapat memperoleh koleksi kolek sejenis yang siap pakai seharga $ 40, meski sesungguhnya kolek yang dibuat dari batang kayu yang dicungkil memanjang separuhnya dalam bentuk yang kasar, dapat dibeli seharga $ 3.

Selain itu, terdapat kesulitan  lain dalam menyelesaikan pembayarannya karena orang di pulau itu tidak menerima koin Belanda atau Singapore notes, dan kami sama sekali tak punya uang dari Negeri-Negeri Selat (Penang, Melaka atau Singapura).

Untungnya, sekelompok orang Terengganu yang datang mengunjungi pulau itu menggunakan sebuah prau (perahu), telah sudi menukar uang kertas kami seharga sarung yang merupakan barang dagangan mereka.

Setelah mendapat bantuan dari orang Terengganu ini -yang sangat kontras sekali dengan orang pulau Jemaja dalam banyak hal- kami membawa cannoe tersebut dan meninggalkan pulau Jemaja pada tanggal 28 September. Kemudian kami berlayar memutar ke Selatan pulau itu, lalu mencapai  Singapura pada tanggal 8 Oktober melalui Tiuman (Tioman), dimana kami melewatkan beberapa hari disana.***

Artikel SebelumPerempuan Inggris Pertama ke Tarempa
Artikel BerikutMendaki Gunung Bintan
Aswandi Syahri, lahir di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, pada 29 Januari 1970. Alumni ilmu sejarah pada Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra (kini, Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Andalas. Pernah menjadi jurnalis, dan kini masih menjabat sebagai sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Provinsi Kepulauan Riau. Menulis sejarah sejak di bangku SMA, dan telah menghasilkan sejumlah buku tentang sejarah dan kebudayaan Melayu di Kepulauan Riau

Tinggalkan Balasan