Gurindam Dua Belas.

ADA tiga unsur penting pembentuk jati diri dan karakter manusia. Ketiga unsur itu adalah hati, budi, dan bahasa. Unsur-unsur itu bekerja secara tak terpisahkan pembentuk karakter bangsa. 

Hati menjadi tempat bernaungnya budi. Dalam pada itu, bahasa pula mencerminkan kualitas hati, yang menampilkan kehalusan budi. Hati yang terpelihara akan memancarkan budi dan atau budi pekerti yang unggul dan prima. Persebatian hati, budi, dan bahasa yang terpelihara mewujudkan karakter hebat dan tangguh. Oleh sebab itu, kalau hati diibaratkan kerajaan, maka budi menjadi tahtanya, dan bahasalah yang menjadi mahkotanya. 

Kualitas karakter menjadi penanda keunggulan manusia. Ianya seyogianya dipupuk dan dibina di dalam diri supaya mampu tampil sebagai sosok manusia yang sesungguhnya bangsawan. Itulah kekuatan magis sebuah bangsa, yang seharusnya diolah sedemikian rupa untuk menjadi perekat persatuan dan kesatuan. Itulah juga sesungguhnya menjadi pakaian moral yang paling padu, patut, dan padan bagi setiap bangsa. Kalau ada kenyakinan yang kuat untuk membelanya, ianya dapat menjadi pakaian yang pokta  (mulia) bagi bangsa yang unggul di dunia. yang persaingan menjadi suatu kenescayaan.

Raja Ali Haji rahimahullah melalui Gurindam Dua Belas, GDB (Haji, 1847), Pasal yang Kelima menyirami rohani manusia dengan kepoktaan dan keteralaan budi dan bahasa. Pasal yang memerikan perihal akhlak atau budi-pekerti dan disepadankan dengan muamalah (perhubungan sesama manusia) itu bertutur indah pada bait 1, “Jika hendak mengenal orang berbangsa, lihatlah kepada budi dan bahasa.”

Bangsa yang dimaksudkan taklah sekadar kumpulan orang-orang seasal keturunan, seadat-sebudaya, sepengalaman sejarah, dan atau sefaham politik kenegaraan. Lebih daripada itu, konsep bangsa itu juga mencakupi keturunan manusia yang berkarakter mulia. 

Budi adalah unsur batiniah yang berupa sebatian akal dan nurani untuk menjelmakan pikiran, perasaan, sikap, sifat, dan perilaku terpuji yang bersumber dari hati yang terpelihara. Dari situlah teserlahnya bahasa yang memesona, yang tak hanya bernas kandungan isinya, elok cara penuturannya, tetapi juga indah tutur bicaranya. Itulah sebabnya, suatu bangsa akan mampu menjadi besar dan mulia jika sanggup menjadikan budi-bahasa warisan terala (luhur)-nya sebagai kekuatan karakternya. 

Setelah itu, GDB membicarakan tanda orang yang berbahagia. Pasal yang Kelima, bait 2, memerikan ini. “Jika hendak mengenal orang yang berbahagia, sangat memeliharakan yang sia-sia.” 

Pengertian yang dimaksudkan oleh bait GDB di atas, manusia akan berbahagia jika dia sanggup memelihara dirinya agar terhindar dari berbuat yang sia-sia atau melakukan pekerjaan yang tak bermanfaat. Dengan perkataan lain, jika manusia ingin berbahagia, janganlah melakukan pekerjaan yang tiada faedahnya.

Perilaku memungkinkan orang lain dapat menilai derajat seseorang. Itu berarti, bukan pangkat, jabatan, harta, atau hal-hal yang berkaitan dengan unsur material lainnya yang sesungguhnya menentukan derajat manusia. GDB Pasal yang Kelima, bait 3, menegaskan, “Jika hendak mengenal orang mulia, lihatlah kepada kelakuan dia.”

Kelakuan atau perilakulah yang menentukan kemuliaan seseorang, suatu puak, suatu kaum, suatu kelompok, sampai ke suatu bangsa. Perbuatan, perangai, atau tingkah laku  menjadi indikator mulia atau hinanya manusia. 

Hidup berada, tetapi perangai bakhil (kikir), misalnya, tak mencerminkan kemuliaan. Pangkat tinggi dan jabatan bagus, tetapi tak mampu membedakan halal dan haram, umpamanya, bukan contoh yang representatif bagi orang mulia. Paras elok dan potongan ada (bentuk tubuh bagus), tetapi perilaku kasar membuat gusar, contohnya, tak dapat dijadikan pujaan karena tak mencerminkan kualitas mulia. Manusia yang berperilaku baiklah yang memperoleh anugerah manusia nan pokta. Kebiasaan memelihara kelakuan yang baik menjadi tanda bagi kemuliaan diri manusia. 

Gelar akademik menjadi penentu orang berilmu? Penampakan luar sepertinya boleh dikatakan benar, tetapi rupanya salah. Karena apa? Gelar akademik boleh didapatkan orang dengan pelbagai cara, sama ada sah ataupun haram. Secara sah, berarti pemiliknya memang tamat dari menuntut ilmu di perguruan tinggi sehingga dia berhak atas gelar itu. Sebaliknya, secara haram, sekolah tidak, belajar pun tiada, anehnya sederetan gelar akademik berderet di depan dan di belakang namanya. Salangkan orang yang memang belajar belum tentu berilmu, yang tak belajar apatah lagi? Bahkan, orang yang memang belajar secara akdemik, tetapi tak berilmu, itulah juga yang menjadi punca banyaknya masalah kehidupan. 

GDB Pasal yang Kelima, bait 4, menjelaskan, “Jika hendak mengenal orang berilmu, bertanya dan belajar tiadalah jemu.” Rupanya, tanda orang berilmu adalah sepanjang hidupnya dia terus dan terus bertanya tentang fenomena kehidupan ini. Selebihnya, dia pun terus tanpa henti belajar sepanjang hayat untuk memperbaiki mutu kehidupan dan kemanusiaan. Orang yang berilmu adalah orang yang mencintai ilmu pengetahuan, apakah ilmu dunia dan, lebih-lebih, ilmu agama. Dia mendasarkan pikiran, perkataan, dan perbuatannya dari ilmu yang dimilikinya. 

GDB Pasal yang Kelima diteruskan,“Jika hendak mengenal orang yang berakal, di dalam dunia mengambil bekal.” Melalui bait 5 ini ditegaskan bahwa dunia bukanlah tempat terakhir bagi makhluk Allah. Manusia dan segala makhluk ciptaan Tuhan sedang berjalan atau berlayar menuju alam yang menjadi tujuan hidup sesungguhnya, sedangkan dunia hanyalah tempat persinggahan sementara sahaja.

Dalam perjalanan menuju alam yang kekal itu manusia seyogianya memiliki bekal. Bekal itu harus dikumpulkan sebanyak-banyaknya di dunia ini untuk kehidupan yang abadi kelak. Di akhirat tiada lagi perintah menuntut ilmu, tinggal menikmati kadar ilmu yang diperoleh di dunia. Itulah gunanya dunia ini, terutama bagi manusia, sebagai tempat menyiapkan bekal. 

Untuk itu, diperlukan kecerdasan komperehensif dengan menggunakan akal dan hati nurani. Di antara kecerdasan itu yang paling mustahak adalah kecerdasan religius yang mampu memancarkan cahaya keyakinan bertimbal keimanan:  memang ada kehidupan abadi setelah dunia yang fana ini. Hanya manusia yang sesungguhnya berilmu yang mampu memahami dan meyakini kenyataan itu.

Manusia yang berusaha mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya itulah yang memanfaatkan dengan baik akal yang dianugerahkan kepadanya. Bekal yang dimaksudkan tentulah amal shalih sesuai dengan tuntunan agama. Menggunakan akal secara benar dan baik taklah memadai hanya dengan melaksanakan kebajikan, tetapi juga harus menunaikan kewajiban dengan penuh ketaatan yang hanya mengharapkan ridha Allah.

Bagaimanakah hendak mengetahui seseorang berperilaku baik? GDB Pasal yang Kelima, bait 6, menunjukkan caranya, “Jika hendak mengenal orang baik perangai, lihatlah ketika bercampur dengan orang ramai.”

Di situlah medan yang sesungguhnya. Baik-buruk tabiat atau perangai manusia dapat diketahui ketika dia berada di lingkungan masyarakat atau dan bangsanya. Orang yang baik perangai senantiasa bersikap santun, menghindari perbuatan tercela, dan selalu berusaha menjadi yang bermanfaat di lingkungan masyarakat dan bangsanya, bahkan di antara bangsa-bangsa. Alangkah ruginya diri jika perilaku hidup tak berbudi sehingga banyak orang yang membenci. Diberi kepercayaan, malah menusuk dari depan dan belakang, kanan dan kiri. 

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya, Allah memperhitungankan segala sesuatu,” (Q.S. An-Nisa’, 86).

Kualitas hati, budi, dan bahasa menjadi penyerlah utama karakter bangsa pilihan. “Sesungguhnya, orang-orang pilihan di antara kamu adalah yang paling baik karakternya,” amanat Rasulullah SAW yang patut dijadikan pedoman. Alhasil, keunggulan karakter itulah yang memungkinkan suatu bangsa terus mara (maju) dalam semua bidang kehidupan. Pasalnya, mereka hidup dalam limpahan rahmat Tuhan.***

Tinggalkan Balasan