Gunung Bintan lekuk di tengah: Pemandangan Gunung Bintan dilihat dari kawasan Teluk Bintan pada bulan Februari 2021. foto: dok. aswandi Syahri

Kala Musim Durian Tahun 1907

KUTUBKHANAH kali ini menampilkan sedutan sebuah tulisan tentang pelayaran sejumlah orang Inggris dan beberapa orang Melayu dari Kampong Tandjong Rhu di Singapura ke Pulau Bintan menggunakan perahu layar jenis cutter ukuran sepuluh ton pada tahun 1907.

Dari Singapura mereka singgah terlebih dahulu di Teluk Bulang, Nongsa, dan kawasan lainnya dalam wilayah Pulau Batam. Lalu menyeberang ke Pulau Buau, Lobam, Tanjung Uban, singgah ke Tanjungpinang, dan terus ke Teluk Bintan dengan tujuan mendaki Gunung Bintan.

Artinya, tidak seperti pada masa kini, mereka mencapai Gunung Bintan melalui laut. Dengan dituntun oleh penduduk setempat yang menjadi penunjuk jalan, mereka mulai mendaki melalui jalur termudah yang terletak pada sebuah kampung di sebelah timur Gunung Bintan.

Sejauh ini, tulisan yang tidak diketahui siapa penulisnya (anonim) ini adalah kisah pendakian ke Gunung Bintan yang pertama kali ditulis. Berikut ini adalah sedutan kisah pendakian Gunung Bintan pada tahun 1907 yang diterjemahkan dari bagian-bagian artikel berberbahahsa Inggris berjudul, A Fortnight’s Cruise In A Ten-Tonner yang dimuat dalam The Singapore Free Press and Mercatile Advertiser pada tanggal 14 dan 21 Agustus 1907.

***

Tanjungpinang
Tanjungpinang atau Riau, yang didirikan untuk menyaingi Singapura, membosankan, namun adalah sebuah kota kecil yang indah.

Di sini terdapat sebuah Kampong Cina yang terletak di darat dan di atas laut. Ada sebuah dermaga yang baik, kantor-kantor pemerintah, sebuah hotel, sebuah gedung Club, sebuah gereja, dan halaman gereja yang luas.

Ada deretan rumah-rumah yang letaknya teratur, juga sebuah jalan raya berpagar pohon cemara yang indah mengarah ke benteng bernama “Fort Crown Prince” di atas bukit: tempat di mana orang mendapatkan sebuah pemandangan yang luas ke arah laut dan pulau-pulau di sekitarnya. Semuanya dapat dilihat dari sana.

Letak Tanjungpinang hanya lima hingga enam jam perlayaran melintasi laut yang tenang menggunakan kapal uap dari Singapura.

Tanjungpinang adalah sebuah tempat yang layak untuk dikunjungi. Hotel di tempat ini akan cukup melayani Anda, meskipun anda tidak akan menemukan sesuatu yang menyenangkan pada makan malam pukul sembilan, seperti yang ada dalam pikiran seorang Inggris ortodok.

Menjelang jam-jam malam yang dingin, sekali lagi kami mengenakan pakaian resmi kami dan berkeliling mengamati kawasan di sekitar kota Tanjungpinang. Tampak jelas pada setiap arah dan sepanjang jalan yang kami lalui, kami tak melihat apa-apa, kecuali semak belukar di perbukitan tanah liat yang tandus.

Teluk Bintan
Kami telah berencana menghabis waktu selama dua puluh empat jam di Tanjungpinang untuk mengambil pasokan bahan makanan segar dan air tawar, lalu berlayar ke Teluk Bintan, serta mendaki gunung yang tegak berdiri sebagai puncak Pulau Bintan. Jadi, setelah urusan di pasar selesai, kami menanti air laut pasang untuk menyeberangi perairan berlumpur di sebelah utara Pulau Penyengat.

Pada pukul satu siang, kami berlayar keluar dari Pelabuhan Tanjungpinang. Walaupun kaki langit di sebelah barat tampak sangat hitam, kapten kapal berharap semua itu tak akan banyak berarti.

Namun bagaimanapun juga, kami tak dapat membersihkan penghalang pandangan ke Pulau Los, dan harus pergi mendekat terlebih dahulu untuk membersikannya, sebelum sampai ke Teluk Bintan. Sejurus setelah itu, hujan-badai yang mengancam berada di atas kami, dan meskipun kami sekarang telah berlayar ke arah utara, beting Teluk Bintan begitu luas.

Penumpang dan anak buah kapal menutup jendela kabin rapat-rapat. Kapal layar jenis cutter itu terus berlayar menuju laut terbuka dibawah layar jib dan layar utama yang mengembang diembus angin.

Kebun Durian
Hari hujan lebat. Kami terus berjalan ke kebun durian di kaki bukit. Walaupun cuaca mendung dan hujan, pemandang di sini menarik, karena di bawah pepohonan itu, rerumputan di merata tempat ditandai oleh titik-titik pondok kecil beratap kadjang tempat penduduk berteduh.

Tumpukan buah durian mengisi penuh beranda depannya dan menutupi hamparan tanah di bawahnya. Samar-samar udara di sekitarnya telah diliputi oleh aroma ‘farfum durian’ yang menyenangkan, karena buah durian yang baru jatuh itu akan menyebarkan aroma dahsyatnya beberapa hari kemudian.

Kebun durian tersebut terletak di sekeliling Gunung Bintan yang tampaknya berkembang dengan baik di bawah kondisi kelembaban dan tanah yang baik di tempat seperti itu. Tempat ini kaya akan humus dan sangat subur.

Musim panen adalah saat yang terbaik untuk berburu durian Gunung Bintan: harga buah itu adalah $ 7 untuk seratus buah, dan para pemilik kebun tampaknya melakukan perdagangan kilat dengan orang Cina yang datang dari kebun-kebun gambir yang terletak di dalam hutan.

Gunung Bintan
Di kebun buah-buahan itu, setelah hari hujan, kami mendapatkan berapa orang yang tahu jalan naik ke gunung. Melalui jalur yang kami ikuti, perjalanan mendaki gunung itu adalah sesuatu yang mudah.

Kami memutar sepanjang pinggir bahu gunung, melintasi puncaknya. Dari sana memutar melerengi bagian belakang gunung, dan dari situ mendaki ke bagian gunung yang berbentuk pelana [bagian lekuk Gunung Bintan yang bentuknya seperti pelana kuda bila dilihat dari laut].

Dari bagian yang berbentuk seperti pelana itu, puncak sebelah barat dan yang paling tinggi, jaraknya hanya beberapa menit, dan mendakinya dapat dilakukan dengan mudah. Hampir semua pohon kayu besar disekitarnya telah tumbang ke lereng yang lebih rendah di mana banyak terdapat tanaman pakis dan semak belukar.

Bagian gunung yang berbentuk pelana itu terdiri dari beberapa hektar hamparan tanah yang cukup datar, sebuah tempat yang menyenangkan untuk mendirikan sebuah rumah, karena meskipun tidak terlalu sejuk, udara di sekitarnya lumayan segar dibandingkan di bagian bawah gunung. Namun kami diberitahu bahwa tidak ada air di sekitar kawasan ini bila ketinggiannya lebih dari 200 kaki.

Dari titik ini, permukaan gunung menurun sangat curam ke arah selatan. Di sebalah utara, permukaannya mendaki secara bertahap. Namun lokasi yang paling nyaman untuk mendaki seperti yang kami lakukan, adalah dari kampung yang terletak di sebelah timur gunung.

Puncak Gunung Bintan yang sesungguhnya, yang tingginya 1.253 kaki, sebagaimana lazimnya gunung kecil di daerah ini, adalah sebuah tempat kecil yang dikelilingi pohon-pohon dan semak pakis ressam.

Letak gunung yang terisolasi, yang dengan segera mencuat dari rawa di dasarnya yang berada dekat pinggir laut, memberinya penampilan ketinggian yang palsu.
Tepat di atas puncaknya yang berangin, kami menemukan sarang burung merpati dengan dada berwarna rose yang indah atau merpati buah jambu (Ptilinopus jambu) yang hinggap pada sebuah wadah datar yang terdiri dari beberapa ranting kecil dengan dua bitir telur berwarna krem terhuyung-huyung di atasnya.

Sang Nakhoda, setelah memotong bagian tertentu pada sebatang pohon, memanjatnya untuk melihat pemandangan. Jauh ke arah Selatan sesorang dapat melihat Kota Tanjungpinang, Bukit Bintang Kecil (Gununung Bintan Kecil), dan Laut Cina Selatan dimana samar-samar terlihat menara lampu Horsburg serta pantai Johor.

Keragaman flora di gunung ini sangat minim. Anggrek ditemukan hampir di seluruh tempat, dan tidak ada hewan yang tampak, kecuali napu (sejenis pelanduk). Kami telah menghabiskan waktu dua jam setengah mendaki dan kurang dari setengah jam menuruni Gunung Bintan.

Di kaki gunung, Inche Bakar, telah menanti kami, dan telah mempelawa kami sebelum kami kembali ke perahu menggunakan sampan koleknya.

Pendaki Pertama
Ketika kami istirahat menghabiskan sisa hari di atas perahu, si Amat, yang telah kami bawa serta, mengutarakan pengalaman kepada seorang kelasi. Nakhoda teseret pula ke dalam percakapan tentang puncak gunung setempat yang telah ia daki, dan apa yang ia kisahkan menarik perhatian pendengarnya.

“Mengapa,” tanya sang kelasi, “jika ribuan orang Melayu datang ke sini dari Singapura seperti yang telah kita lakukan, tak satupun dari mereka berfikir tentang mendaki Gunung Bintan?”

“Benar,” komentar si Amt dengan bangganya. “Saya akan menjadi satu-satunya dari seluruh penduduk Kampung Tanjong Rhu [di Singapura] yang telah pernah berada di puncak Gunung Bintan.”***

Tinggalkan Balasan