Sis-sisa tongkat bangunan panggung Sekolah Melayu yang dibanguan oleh Raja Ali Kelana di Kampung Baru Pulau Penyengat tahun 1895. Sekolah yang terletak diseberang kompleks Istana Keraton milik Sultan Riau di Pulau Penyengat ini pernah dkunjungi oleh seorang wisatawan asal Skotlandia pada tahun 1920.

SEJAK awal abad ke-20, Kota Tanjungpinang telah dipromosikan oleh OfficieelToeristenbureau voor Nederlandsch-Indie (Biro Pariwisata Hindia Belanda) sebagai kota tujuan wisata yang menarik untuk dikunjungi.

Informasi tentang daya tarik pariwisata Kota Tanjungpinang ketika itu, telah dicantumkan dalam buku-buku panduan pariwisata Hindia-Belanda untuk kalangan turis bule yang berbahasa Inggris, seperti dimuat dalambooklet pariwisata Hindia Belanda tahun 1920 yang berjudulShort guide of Sumatra, with a more complete description of the Padang highlandstahun 1910,  umpamanya. 

Bahan-bahan informasi seperti itu cukup berperan dalam menarik minat turis-turus bule untuk berkunjung ke Tanjungpinang. Pada tahun 1920, umpamanya, seorang turis bule asal Skotlandia, singgah melancong ke Kota Tanjungpinang setelah mengunjungi Bali dan  Singapura. Ia cukup lama dan kerasan berada di Kota Tanjungpinang, meskipun ketika itu belum ada bioskop, kendaraan bermotor, dan rickshaw. Selama di Kota Tanjungpinang ia nginap di hotel Riouwyang menyediakan hidangan alakadarnya, namun menyuguhkannya rijstafel, satuhidangan nasi dengan aneka ragam lauk-pauk “kacukan” yang sangat terkenal di Hindia Belanda ketika itu.

Bule asal Skotlandia itu juga terpesona dengan banyaknya kedai kopi di Tanjungpinang. Ia juga mencatat berbagai hal yang belum penah ia lihat ketika mengitari kawasan pasar di Pusat Kota Tanjungpinang yang ia sebut bazaar.

Seperti wisatawanbule pada masa kini, ia juga mengunjungi Pulau Penyengat. Melihat bangunan-bangunan peninggalan Kerajaan Riau-Lingga, dan mendengar cerita tentang Sultan dan keluarganya yang meninggalkan pulau bersejarah itu ketika dimakzulkan oleh pemerinah Hindia Belanda melalui Resident van Riouwsembilan tahun sebelumnya.

Turis bule asal Skotlandia yang menyebut dirinya ‘penulis lepas’ (freelance) itu  menuliskan pengalaman selama melancong ke Tanjungpinang dan sekitarnya untuk konsumsi para pembaca berbahasa Inggris di Singapura pada tahun 1920 itu juga.

Berikut ini adalah beberapa catatan menariknya tentang Kota Tanjungpinang dan pesona pariwisatanya pada tahun 1920. Diterjemahkan dan dikemas semula dari sebuah tulisan berjudul “A Ramble in Riouw” yang dimuat dalam The Singapore Free Press and Merchantile Advertiser, tanggal 16 dan 22 April 1920.

Kedai Kopi

Riouw atau Kota Tanjungpinang, serupa seperti kota kecil lainnya di Malaya[Tanah Semenanjung]. Di kota ini hanya ada sebuah jalan  utama, yang karakteristik utamanya dijejali oleh kedai-kedai kopi. Setiap kedei[toko] ketiga dari sebarisan toko di jalan itu, tampaknya diserahkan kepada bisnis kedai kopi.

Di luar setiapkedai seperti itu, saya menyaksikant pemandangan menawan yang membuat saya sangat igin membidikkan kamera. Lima anak perempuan Tionghoa yang manis-manis, yang kesemuanya berumur lebih dari 13 tahun, berkumpul mengelilingi seorang penjaja keliling (street hawker). Sebuah pemandangan ajaib dari anak-anak kecil setengah telanjang yang jarang saya lihat.

Mereka asyik dalam tawar-menawar. Begitu saya melihat mereka, anak perempuan manis yang paling kecil mengeluarkan sekeping uang cent yang ditukarkan dengan semangkuk bubur, dengan segala kecerdikan anak-anak seusianya.

Bazaar

Bazaar atau pasar di Tanjungpinang terletak pada sebuah jalan, dan disebelahnya adalah sekumpulan rumah gubuk dimana tinggal mayoritas penduduk miskin kota ini, yang kebanyakannya terdiri dari orang Tionghoa.

Pasar tersebut, yang dalam kenyataannya benar-benar meluas hingga ke gubuk-gubuk reot ini, kebanyakannya adalah kedei-kedei. Anehnya, walaupun dengan bentuknya yang seringkali sangat reyot, para penghuninya selalu selamat berada di dalamnya.

Untunglah di Kota Tanjungpinang tidak pernah dirayakan St. Andrew nicht (malam perayaan di kalangan masyarakat Skotlandia yang disebut juga Burn Night: ‘malam bakar-bakar’), atau sejumlah penghuninya kehilangan barang miliknya pada keesokan paginya.

Tukang gigi berlimpah ruah banyaknya, dan mereka berbagi lantai tempat menjalankan profesinya. Begitulah saya melihat seorang tukang jahit bangsa India dan seorang tukang gigi bangsa Tionghoa berkongsi tempat kerja: ada juga seorang tukang gigi menempati separuh lantai kedei milik sebuah kedai agen mesin jahit.

Permata

Kota Tanjungpinang terletak di pulau dataran rendah, yang mungkin menyumbang kepada reputasinya sebagai daerah yang tidak sehat. Namun demikian, karena letak geografisnya itu, tempat ini adalah sebuah permata.

Sejak melangkah dari dari pagar pemandian di rumah Reisident Riouw pagi ini, saya arahkan pandangan mata saya ke bentangan pulau yang indah, yang bertabur di laut biru, bekilauan dibawah sinar mentari tengah hari.

Bagi seseorang yang merasa tidak diteror oleh keyakinannya tentang bentuk perahu penduduk setempat, yang bentuknya saya dengar sebagai sesuatu yang terdiri dari “beberapapapanmelengkungdengan beberapa“sapu tangan” [layar dari perca kain]yang dipakupada sebuah tongkat, dan dapat melakukan pelayaran ke sejumlah pulau di sekitarnya.

Dari semua pulau ini, diantara yang paling menarik adalah Pulau Penyengat. Salah satu pulau kecil paling menawan di belahan dunia Timur yang penah saya kunjungi.

Penyengat

Karena hari Sabtu, masjid di pulau ini tutup. Namun ketika saya berjalan melewati hamparan setiap tanaman tropis, khayalan kita segera dibawa kepada cerita ringkas tentang tindakan yang menyebabkan  pemakzulan Sultan Riau beberapa tahun yang lalu. Sebagai tindakan lebih lanjut, istananya  telah diratakan dengan tanah. Hanya tiang bendera dan sebagian balai dibiarkan tetap ada, menjadi saksi keluarga diraja yang meninggal pulau itu.

Di seberang lokasi istana Sultan itu, sebuah sekolah dibawah kendali pemerintah Belanda sedang berlangsung. Sekitar 50 orang anak-anak Melayu sedang diajar oleh tiga “Raja”.

Di seluruh dunia, masa kecil sama saja. Anak-anak sekolah itu tanpa dipaksa memanggil kami dengan gembira dan puas dengan terhentinya proses belajar di ruang kelas karena kunjungan kami.

Hotel Riouw

Di sebagian besar kawasan Hindia Belanda, persoalan pembatu rumah tangga dipecahkan oleh tenaga kerja perempuan asal Jawa. Di Hotel Riouw di Kota Tanjungpinang, tukang masaknya diisi oleh tiga orang pembantu perempun; Sementara itu untuk melayani para penyewa kamar, dibagi bersama oleh seorang anak laki-laki Jawa dan seorang anak laki-laki Tionghoa.

Menu hidangan hotel tidak pernah bervariasi: untuk sarapan pagi, dua butir telur setengah masak, daging dingin, roti yang dibubuhi manisan halia (jahe), dan kopi panas yang baik. Untuk makan siang: Rijstafel (hidangan khas orang Belanda di Hindia Belada, dimana nasi di hidangkan diatas meja bersama beragam lauk-pauk khas penduduk pribumi Hindia Belanda) dan buah pisang.

Untuk makan malam, hidangannya terdiri dari soup, hidangan utama (entrée), daging panggang, dua macam sayuran, tanpa pudding, dan hanya ada pisang sebagai pencuci mulut. Kopi hanya dihidangkan pada sarapan pagi.

Orang Melayu

Bagi orang Melayu, menangkap ikan di laut adalah sumber kehidupan.Dari cadangan ikan di sekitar perairan Kepulauan Riau, mereka hanya membutuhkan sekedar untuk mencukupi kebutuhannya pada hari itu. Beberapa sisanya disimpan, diasinkan untuk kebutuhan pada hari-hari selanjutnya.

Berilah uang beberapa cent, ia akan segera bergegas ke bazaar (pasar), dan kembali dengan membawa mata pancing yang akan digunakannya untuk menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang pemancing yang handal.

Suatu petang, ketika ikut dalam sebuah sampan, saya menyaksikan untuk pertama kalinya penduduk setempat menombak ikan. Ia tegak berdiri dalam sebuah sampan kolek bersenjatakan sebatang tombak menyerupai trisula kecil. Orang Melayu itu terus mengintai melalui permukaani air yang dangkal dan rerimbunan alang-alang sambil mengamati sasaran yang bersembunyi. Lalu menghunjamkan senjata yang ematikan itu.

Bahasa Belanda

Seperti orang Prancis di Indo-China, orang Belanda di Hindia Timur berhasil dalam memberi kesan bahasa mereka kepada pendudk setempat.Dan kebanyakan dari mereka cukup lumayan dalam berbahasa Belanda. Baik itu para kuli, pendayung sampan, atau para pedagang di bazaar[pasar].

Sebaliknya, di Singapura, apakah para kuli penarik rickshaw (sejenis becak alat transportasi yang ditarik manusia) yang kebanyak orang Tionghoa, pernah mengerti apa yang diucapkan dalam bahasa Inggris?

Sayang, kapal uap telah besiul tiga dua kali, dan saya menyesal karena harus segera meninggalkan tempat kecil yang menarik ini: meskipun pada abad ke-20 ini ia belum punya gedung pertunjukan bioskop, tak ada kendaraan bermotor, bahkan juga tidak punya alat transportasi rickshaw yang ramah itu.***

Tinggalkan Balasan