Gurindam Dua Belas.

DIRI meliputi unsur jasmaniah dan rohaniah. Ianya anugerah berharga sekaligus amanah Allah. Sebagai titipan dari Yang Maha Pencipta, diri mesti dijaga dengan baik agar terhindar dari berbuat salah. Terus dan terus menumpuk kebaikan dan pada waktu yang bersamaan menekan keburukan diri merupakan tanggung jawab manusia yang telah menjadi fitrah. Ketika amanah itu dicuaikan, manusia terjerembab ke kubang pengkhianatan diri, suatu kecelakaan yang seyogianya tak terjadi pada makhluk yang berakal-budi dan yang paling sempurna diciptakan oleh Allah.

Perihal akhlak dan muamalah, khasnya yang berkaitan dengan penjagaan diri, diungkapkan oleh Raja Ali Haji rahimahullah (RAH) dalam Gurindam Dua Belas (GDB, Haji, 1847), Pasal yang Kedelapan. Bait 1 langsung dimulai dengan, “Barang siapa khianat dirinya, apalagi kepada yang lainnya.”

Alangkah malangnya diri. Tubuh kasar dibiarkan tak terawat. Atau, mungkin tubuh mendapatkan perhatian yang khas, dibedak disolek sedemikian rupa sehingga penampilan luar membuat orang yang memandang jadi terpesona oleh kilauan wajah yang senantiasa merona. Sayangnya, keelokan tubuh tak mampu membina jiwa secara seksama sehingga perilaku yang muncul ke permukaan membuat risau kawan dan taulan sini dan sana. Akal dan nurani dibiarkan hanyut terhantar ke samudera hitam nan liar tak bertepi entah ke mana. Itulah gambaran sederhana tentang orang yang berkhianat pada dirinya.

Kalau diri sendiri rela dikhianati, dirusakbinasakan, apatah lagi diri orang lain. Manusia yang berperangai demikian tak segan-segan mengajak orang lain, dengan segala cara dan daya, untuk berasyik-masyuk di lembah hitam kehidupan, yang disulap sebagai taman surga duniawi. Padahal, semuanya hanyalah fatamorgana belaka. Pasalnya, surga sesungguhnya hanyalah dapat dicapai oleh diri dan jiwa yang terpelihara dengan baik, bagai menating minyak yang penuh. Hanya orang yang mampu memegang amanah dirilah yang boleh dibilangkan nama.

Selanjutnya, “Kepada dirinya ia dianiaya, orang ini jangan engkau percaya,” demikian wasiat dalam GDB, Pasal VIII, bait 2. Tak ada kepercayaan yang dapat disandarkan pada orang yang rela menganiaya dirinya sendiri. Kalau kepada dirinya saja dia dapat berbuat sewenang-wenang, apatah lagi kepada orang lain. Jadi, jika hendak memberikan sesuatu kepercayaan kepada orang lain, awal-awal lagi kita harus meneliti adakah orang itu telah berbuat baik bagi dirinya sendiri? Jika tidak, sia-sialah kepercayaan yang diamanahkan kepadanya, bahkan boleh mendatangkan malapetaka bagi kita dan atau orang banyak.

Membela diri dari tuduhan yang tak berdasar menjadi kewajiban setiap diri. Akan tetapi, senantiasa membenarkan diri di satu pihak dan menyalahkan orang lain di pihak lain bukanlah perilaku terpuji. GDB, Pasal VIII, bait 3 berbicara tentang hal itu, “Lidah suka membenarkan dirinya, daripada yang lain dapat kesalahannya.”

Dalam setiap perkara yang melibatkan diri dan orang lain, selalulah diri sendiri yang dibenarkan, diri sendirilah yang harus menang. Lidah menyebut dan hati pun mengikut, “Aku lah yang benar, sedangkan kamu, dia, dan mereka salah belaka. Bukankah dunia diciptakan untukku seorang? Bukankah hanya aku yang mampu berpikir, berasa, berkata, dan bertindak benar?” Itulah dunia keakuannya yang pantang mengaku salah. Dunia yang dibangun dari kerajaan pikir yang kelam dan bersinggasanakan hati yang hitam legam.

Padahal, diri yang dikelola oleh pikiran yang bernas dan nurani yang kemas akan mengupayakan lisan untuk tak mengatakan kebenaran diri, kecuali dalam keadaan yang sangat mustahak. Jika diri memang benar, biarlah orang lain yang menyebutkan kebenaran itu. Hanya orang yang mampu menahan lisannya untuk membenarkan diri sendiri dan menyalahkan orang lain yang dapat digolongkan sebagai manusia yang boleh dibilangkan nama.

Bersifat sabar itu penting. Akan tetapi, lebih penting daripada itu adalah sabar dari memuji diri sendiri. Diri yang tak terpelihara dengan baik akan cenderung berperilaku begini, “sedikit bubur, banyak sudu”. Yang dibuat sedikit, itu pun kalau memang ada, tetapi puji-pujiannya sampai ke langit yang ketujuh. Yang memuji siapakah? Orang lainkah? Kalau memang demikian, tak perlu terlalu dirisaukan. Masalahnya, pujian justeru datang dari diri sendiri. Ibarat dalam sebuah pertandingan, yang main diri dan yang jadi jurinya pun diri sendiri.

Apakah kata GDB, Pasal VIII, bait 4 tentang hal itu? “Dari pada memuji diri hendaklah sabar, biar daripada orang lain datangnya khabar.” Artinya, tak baik memuji diri sendiri. Kalau memang ada kebajikan dan kebaikan yang kita lakukan dan memang patut lagi layak mendapat pujian, biarlah orang lain yang memujinya. Jika pujian manuasia tak kunjung datang, bukankah Tuhan Maha Mengetahui? Dan, mampu menahan diri dari kelakuan memuji diri sendiri merupakan ciri manusia yang boleh dibilang nama.

Siapa pulakah yang tak mau berbuat jasa. Lagi pula, setiap manusia dianjurkan untuk berbuat jasa sebanyak mungkin sesuai dengan daya dan kuasa yang dimilikinya. Namun, GDB, Pasal VIII, bait 5 mengingatkan kita, “Orang yang suka menampakkan jasa, setengah daripada syirik mengaku kuasa.”

Rupanya, dalam hal berbuat jasa atau berbuat kebaikan, yang tak benar adalah menampak-nampakkannya. Ke dalam pengertian itu termasuklah menyebut-nyebutkannya pada setiap kesempatan, pada setiap waktu, di setiap tempat. Seolah-olah, hanya dia seoranglah tukang buat jasa di dunia ini, orang lain tidak. Itulah perilaku “setengah daripada syirik mengaku kuasa”.

Bukan main-main, perilaku seperti itu rupanya nilainya sama dengan setengah menyekutukan Tuhan, menganggap diri sama berkuasanya dengan Allah. Padahal, kalaulah bukan dengan kuasa Ilahi, adakah barang sesuatu yang mampu kita perbuat? Orang yang tak menghiraukan seberapa banyak pun jasa yang pernah dibuatnya dalam kehidupan ini tergolong manusia yang boleh dibilang nama.

Namanya juga manusia. Pada suatu ketika dan di suatu tempat kita mungkin pernah berbuat salah, melakukan kejahatan. Dalam pada itu, di suatu tempat dan pada ketika yang lain kita pun mungkin pernah berbuat baik, melaksanakan kebajikan. Bagaimanakah kita harus bersikap menghadapi dua fenomena yang bertolak belakang itu? GDB, Pasal VIII, bait 6 memberikan solusi, “Kejahatan diri sembunyikan, kebaikan diri diamkan.”

Jelaslah sudah bahwa kita tak perlu memberi tahu orang lain tentang kejahatan yang pernah kita lakukan. Bukankah itu aib namanya? Yang penting, kita perlu menginsyafinya sehingga tak melakukan perbuatan jahat itu lagi. Sama halnya dengan kita tak perlu pula membesar-besarkan kebaikan yang pernah diperbuat. Biarlah hanya Tuhan saja yang mengetahuinya. Sesiapa yang mampu bersikap seperti itu dapatlah digolongkan sebagai manusia yang boleh dibilangkan nama.

Inilah bait terakhir GDB, Pasal VIII, “Keaiban orang jangan dibuka, keaiban diri hendaklah sangka.” Mencari-cari apatah lagi membuka atau menyebut-nyebut aib orang lain merupakan perbuatan tercela, perilaku yang sangat jahat. Rasakanlah kalau keaiban kita yang diceritakan orang, tentulah kita pun tak menyukainya. Alih-alih mengukur dan mencari-cari keaiban orang, lebih baik menyadari dan mengakui bahwa diri kita pun tak kurang aibnya.

Yang pasti, tak ada manusia yang sempurna di dunia ini. “Tak orang tak kita,” kata orang bijak bestari. Oleh sebab itu, kita harus mawas diri. Menyadari keburukan diri dengan niat dan upaya untuk menekannya serendah mungkin, jauh lebih baik daripada membuka aib orang yang tak sepenuhnya kita ketahui. Dengan cara itu, bermakna kita telah mengikuti pedoman Tuhan Yang Bahari. Itulah jalan orang-orang yang tiada merugi hidup di dunia yang fana ini.*** 

Tinggalkan Balasan