photo of turned on night lamp
Photo by Ahmed Aqtai on Pexels.com

HARI bahagia itu bernama Aidilfitri, suatu hari yang mulia. Bagi umat Islam, Aidilfitri atau biasa juga disebut Hari Raya disambut dengan penuh suka cita. Rasa gembira itu pulalah yang memunculkan perasaan bahagia yang tiada bertara. 

Kebahagiaan itu mewujud tak hanya karena kita telah selesai menunaikan ibadah puasa sebulan penuh pada Ramadan. Soal berpuasa, setelah Ramadan, masih banyak umat Islam yang menunaikan ibadah puasa sunat Syawal selama enam hari, bahkan ketika suasana Hari Raya masih terasa untuk memperoleh pahala yang setara dengan berpuasa setahun penuh. Selain itu, banyak juga umat Islam yang melaksanakan pelbagai jenis puasa sunat sepanjang tahun demi mendapatkan keridaan Allah. 

Bukan pula karena pada Hari Raya Aidilfitri kita dapat memamerkan segala kemewahan yang dimiliki kepada orang lain. Bukan, karena ada sangat banyak umat Islam yang merayakan Hari Raya Aidilfitri secara amat sederhana sesuai dengan keyakinan mereka: yang terbaik di dalam hidup ini adalah kesederhanaan, bukan bermewah-mewah, bermegah-megah, dan berfoya-foya. Apatah lagi, pada Hari Raya tahun ini kita masih dihadapkan pada pandemi Covid-19 seperti tahun sebelumnya. Kesemuanya ini memang ujian Allah.  

Hari Raya Aidilfitri merupakan subordinat dari hari besar. Akan tetapi, Hari Raya memiliki keistimewaan karena berkaitan dengan nilai religius. Oleh sebab itu, Hari Raya tak dapat dipertukarkan tempatnya dengan hari besar lainnya walaupun ianya memang merupakan salah satu hari besar. Karena Aidilfitri berkelindan dengan nilai religiuslah, kedudukannya menjadi istimewa bagi umat Islam sehingga harus disambut dengan perasaan bahagia, apa pun tantangan yang sedang melanda.

Betapakah kita tak akan bahagia? Kita telah berjaya melawan hawa nafsu selama sebulan penuh ketika melaksanakan ibadah puasa wajib sebulan Ramadan, bulan yang memang disediakan khusus oleh Allah bagi umat Islam yang beriman. Dengan telah melaksanakan ibadah puasa wajib itu secara benar, kita dijamin kembali menjadi suci seperti bayi yang baru lahir ke dunia. Bersamaan dengan itu, mudah-mudahan kualitas ketakwaan kita kepada Sang Khalik pun akan meningkat pula. 

Jadilah orang-orang yang menunaikan ibadah puasa Ramadan itu manusia baru dengan kualitas prima, zahir dan batin. Pada gilirannya, kita seyogianya dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai manusia, baik tugas keduniaan maupun tanggung jawab keakhiratan, dengan semangat baru setelah Ramadan berlalu. Oleh sebab itu, memahami, menghayati, dan merayakan Hari Raya sebagai hari bahagia tentulah tak berlebihan adanya.

Ada alasan yang lebih mustahak kita bersuka cita dan berbahagia pada Aidilfitri. Hari Raya itu jatuh pada Syawal. Bermaknakah Syawal? Tentu saja dan maknanya sangat elok yaitu ‘peningkatan’. Dengan demikian, setelah ditempa, diuji, sekaligus dihadiahi dalam ibadah puasa sebulan penuh, umat Islam yang beriman—yang mudah-mudahan setelah menunaikan ibadah puasa Ramadan dapat menyandang predikat ‘bertakwa’—diisyaratkan oleh Allah untuk meningkatkan kualitas dirinya selama sebelas bulan berikutnya sampailah bertemu kembali dengan Ramadan berikutnya.

Kualitas diri seperti apakah yang meningkat dimulai dari Syawal? Jawabnya, kualitas keimanan, ketakwaan, kebaikan sebagai manusia, dan pelbagai mutu positif manusia sebagai makhluk ciptaan Ilahi umumnya. 

Sebagai contoh, katakanlah sebelum ini Si Fulan dikenal sebagai seorang yang cenderung tak selari antara perkataan dan perbuatannya, tak selaras antara ajaran agama yang dianutnya dan perangainya, tak seimbang pendidikan, pangkat, dan jabatannya dengan perilakunya. Jika ibadah puasa Ramadan telah mengantarkannya ke predikat orang yang bertakwa, semua perangai buruk itu berubah seratus persen, dari tak seirama antara kegiatan ibadah dan perangai menjadi sejalan benar: bagus kualitas ibadahnya, elok pula perangainya, dan semakin mulia karakternya. 

Hal itu dapat dimaknai bahwa berjaya atau tidaknya seseorang memperoleh predikat bertakwa dari pelaksanaan ibadah puasa Ramadan—yang dalam hal ini ibadah-ibadah Ramadannya diterima oleh Allah—dapat diukur dari peningkatan kualitas kebaikan diri dimulai sejak Syawal. Jadi, mustahaknya Syawal yang Aidilfitri jatuh pada hari pertamanya itulah yang juga menyebabkan Hari Raya mesti disambut dengan penuh bahagia dan suka cita.  

Sebagai lazimnya hari bahagia, Hari Raya membuat kita bersuka cita. Walaupun begitu, Islam mengajarkan umatnya agar tak berlebih-lebihan dalam merayakannya. Dalam hal ini, berpada-pada dan bersikap sederhana jauh lebih baik daripada memamerkan segala kelebihan dunia yang dimiliki. Jangan sampai terjadi bersuka cita  berubah menjadi berlaku riya, yang pasti sifat, sikap, dan perilaku yang disebut terakhir itu tak disukai oleh Allah. Sesuatu yang jauh dari perkenan-Nya tentulah membawa mudarat, bahkan menjadi indikator rendahnya kualitas ibadah puasa Ramadan yang secara kasat mata dapat diamati oleh manusia.

Sebagai manusia biasa, biasanya kita berharap hari bahagia itu tak terusik. Artinya, semua keinginan kita untuk ber-Hari Raya, bersilaturrahim, dan berbahagia bersama keluarga, kerabat, dan sahabat dapat berlangsung seperti yang diinginkan. Itu harapan kita. Akan tetapi, tak jarang terjadi harapan itu tak terpenuhi atau sekurang-kurangnya tak semuanya sesuai dengan yang kita dambakan. Itulah sebabnya, Hari Raya berpotensi juga untuk membawa kabar duka jika kita tak berhati-hati, di samping berita gembira.

Berhubung dengan tradisi mudik (balik kampung) pada Hari Raya, misalnya, jika niatnya murni untuk bersilaturrahim dengan keluarga, kerabat, sahabat, dan lebih-lebih menjenguk ibu dan ayah di kampung halaman jika mereka masih hidup, tentulah sangat baik matlamatnya. Akan tetapi, tahun ini tradisi mudik itu terpaksa ditunda karena pandemi Covid-19 sedang melanda. Demi kebaikan bersama, baik bagi kita yang mudik maupun saudara-mara di kampung halaman, memang ada baiknya mudik ke kampung halaman itu ditunda. Jika keadaan sudah memungkinkan kelak, tradisi itu dapatlah dilaksanakan kembali karena memang baik adanya asal dilaksanakan secara benar. 

Dapat dipahami, karena berbahaya, sangat tepatlah pemerintah melarangnya untuk keselamatan rakyat. Dalam pada itu, bersamaan dengan pelaksanaan ibadah-ibadah Syawal yang mulia, ada baiknya diperbanyak doa. Semoga pandemi Covid-19 yang telah membuat banyak aktivitas tergendala, dan tak sedikit pula yang berasa putus asa selama ini, segera berlalu. Hikmahnya mungkin wabah ini membuat kita lebih berhati-hati, lebih sabar, dan lebih berdisiplin diri. 

Bersamaan dengan itu, ketakwaan dan keyakinan kita kepada Allah, yang tiada segala sesuatu terjadi tanpa perkenan-Nya, semoga terus meningkat pula. Bukankah kita sangat yakin bahwa sangat mudah bagi Allah untuk mengadakan segala sesuatu? Sebaliknya pula, sangat mudah bagi-Nya untuk melenyapkan segala sesuatu. Doa kita yang utama tentulah agar Covid-19 yang begitu mendera sesegera mungkin dilenyapkan oleh Allah. 

Di samping itu, kita sangat berharap, Allah juga menunjukkan Kemahakuasaan-Nya dengan melenyapkan pelbagai angkara murka dunia karena kekejaman nafsu manusia. Di antaranya yang begitu mengemuka setakat ini adalah pembantaian Zionis Israel terhadap rakyat Palestina. 

Sebagai bangsa yang berfaham bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan, kita mengutuk keras perbuatan biadab Zionis Israel terhadap rakyat Palestina. Bersamaan dengan itu, segala doa dimohonkan kehadirat Allah agar bangsa Palestina dapat segera menikmati kemerdekaannya kembali seperti bangsa-bangsa merdeka lainnya di dunia.   

Akhirulkalam, bersempena hari yang mulia ini saya mengucapkan Taqabballahu minna wa minkum, barakallahu fiikum kepada sidang pembaca. Semoga hari ini dan ke depan ini kehidupan kita semakin baik, indah, dan berkah adanya. Salam Aidilfitri 1442 H./2021 M. dan tetaplah berbahagia walaupun cabaran selalu melanda.*** 

Tinggalkan Balasan