INILAH dia warisan dunia itu: minyak zaitun dari Melaka, dibuat obat pereda nyeri, pantun namanya warisan pusaka, tetap lestari menyerikan negeri: dan, ianya selalu berkisah tentang jaminan mutu.

Pantun setakat ini masih melengkapi komunikasi sehari-hari orang Melayu, khasnya di kalangan orang tua-tua yang memang mahir berpantun. Dalam hal ini, pantun disisipkan dalam percakapan keseharian tentang topik apa pun dan dengan tujuan apa pun. Maksudnya, untuk memberikan penekanan terhadap topik, tujuan, dan atau pesan komunikasi. Dalam kebiasaan seperti itu, komunikasi atau percakapan tanpa pantun dirasakan hambar, tak bertenaga. 

Kebiasaan seperti itu juga mulai kembali dilakukan oleh para guru yang mendidik para siswanya. Pantunnya disesuaikan dengan materi yang diajarkan. Memang tak semua guru mampu melakukannya. Akan tetapi, para guru yang mahir berpantun dan menggunakannya untuk menjelaskan materi pelajaran yang diajarkannya akan menjadi guru idola dan disayangi oleh para siswanya.

Permainan kanak-kanak Melayu juga banyak disertai pantun. Dalam hal ini, untuk memulai suatu permainan, dalam menentukan urutan pemain misalnya, kanak-kanak menggunakan pantun khas. Di dalam permainan pun, untuk menambah keriangan sambil bermain, kanak-kanak biasa menggunakan pantun. Pantun yang digunakan itu umumnya menimbulkan kelucuan.

Acara adat-istiadat orang Melayu sampai kini masih disertai dengan pantun. Dalam rangkaian acara adat pernikahan, misalnya, dari kegiatan merisik sampai dengan mandi sampat, tetap ada pantun. Begitu pula dalam acara-acara berjejak tanah, mandi Safar, bertabal nama, dan lain. Acara dan upacara seperti itu, jika tak disertai pantun, terasa ibarat gulai kurang asam dan garam sehingga dapat menimbulkan kekecewaan orang-orang yang menghadirinya. Pantunlah yang paling menghidupkan suasana acara adat-istiadat tersebut. 

Sejak kehadirannya yang paling awal, kesenian dan lagu Melayu berperan penting memasyhurkan pantun ke merata dunia. Sangat banyak lagu Melayu yang liriknya pantun. Selain lagu-lagu pusaka yang tak diketahui penciptanya dan masih abadi, lagu-lagu berlirik pantun itu pulalah yang “melambungkan” nama pencipta dan atau penyanyinya. 

Dalam deretan itu, ada Tan Sri P. Ramlee, Puan Sri Saloma, S. Effendy, Dato’ Ahmad Jais, Toh Puan Setia Datin Rafeah Buang, Mohd. Daud Kadir (Papi Daud), A. Ramlie, The Mercy’s, The Favourite’s Group, D’Lloyd, Benyamin Sueb (Benyamin S.), Tan Sri S.M. Salim, Dato’ Suhardi bin Salirman (Suhardi S.), Suhaimi Mohd. Zain (Pak Ngah), Dato’ Siti Nurhaliza, dan Iyeth Bustami, sekadar menyebut beberapa nama saja. Para penyanyi muda Melayu juga sangat bergairah menyajikan lagu-lagu modern yang berlirik pantun. Ternyata, sambutan masyarakat penikmat pun cenderung positif. 

Bersamaan dengan jenis-jenis kesenian Melayu seperti Gazal, Dondang Sayang, Joget Dangkong, Nazam, dan lain-lain, teater tradisional Melayu pun memberikan sumbangan yang sangat signifikan dalam pelestarian pantun. Di antaranya, ada Wayang Bangsawan, Makyong, Mendu, Gobang, Boria, Dikir Barat, Wayang Cecak, dan lain-lain. Komunitas pelbagai seni tradisi itu merupakan pelaku sekaligus pejuang pelestarian pantun.  

Radio-radio siaran, termasuk Radio Republik Indonesia, khususnya di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, dan Pekanbaru, Riau, juga radio-radio siaran Malaysia dan Singapura dahulu,  dan televisi, utamanya TV Tanjungpinang (TV TPI), juga sangat berjasa melestarikan pantun. Acara-acara pantun di media-media siaran itu menyediakan ruang dan waktu yang sangat memadai bagi para pendengar dan pemirsanya untuk saling berbalas pantun. 

Penyiarnya cenderung hanya bertindak sebagai host saja, yang tak perlu aktif berpantun, kecuali kalau diminta oleh para pendengar atau pemirsanya. Acara seperti itu tak hanya melestarikan pantun, tetapi telah berjaya menjalinkan muhibah di antara masyarakat yang bermastautin di Kepulauan Riau, Riau, Jambi, Malaysia, Singapura, dan beberapa provinsi lain yang berdekatan di Indonesia, asal siarannya dapat diterima di tempat tersebut.

Suatu kegiatan berpantun yang masih sangat diminati saat ini adalah Berbalas Pantun. Di Kepulauan Riau dan Melaka, Malaysia, melalui Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) yang dipimpin oleh Tuan Yang Terutama (TYT) Negeri Melaka, Tun Seri Setia (Dr.) Hj. Mohd. Ali Rustam, misalnya, kegiatan berbalas pantun dilaksanakan saban tahun. Aktivitas ini melibatkan pemantun tunggal dan kelompok (3-4 orang per kelompok) yang bertanding berpantun dan dinilai oleh dewan juri. Di Kepulauan Riau, kompetisi berbalas pantun melibatkan peserta berperingkat-peringkat sekolah: Sekolah Dasar), Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, dan Perguruan Tinggi serta masyarakat umum. 

Pantun memang senantiasa menginspirasi gagasan para pemiliknya. Maka, hadirlah pula kegiatan yang disebut Cerdas-Cermat Pantun (CCP). Penggagas kegiatan soal-jawab pantun ini adalah seorang guru dan Kepala SMA asal Kepulauan Riau, yang kini menjabat Kepala Sekolah Indonesia Kuala Lumpur, Malaysia, Dr. Encik Abdul Hajar, M.M. Sekarang CCP menjadi ajang uji kecerdasan di kalangan pelajar dan mahasiswa yang sangat disukai. Dalam perkembangan terkini, CCP telah memanfaatkan media daring (online). Di samping adanya peserta, CCP juga melibatkan dewan juri yang menilai jawaban peserta.

Karena begitu memasyarakatnya pantun, khasnya di Tanjungpinang, Pemerintah Kota ini pernah menyelenggarakan acara Pencatatan Rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) berpantun terlama. Kegiatan itu diselenggarakan pada 2008, melibatkan pemantun dan seniman tempatan. Rekornya, pemantun berbalas pantun tanpa teks terus-menerus 6 jam.

Pencatatan Rekor MURI berpantun terjadi lagi di Kota Tanjungpinang pada 13-14 September 2015. Kali ini pencatatan dilakukan oleh para pemantun Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) yang berbalas pantun dari malam sampai subuh, 10 jam, 10 menit, 10 detik di halaman Gedung Daerah, Tanjungpinang. Dengan perpaduan musik dan tari Melayu, aktivitas berpantun itu kelihatan lebih rancak sehingga penonton tak berganjak walaupun harus bergadang semalam suntuk. 

Sekarang senantiasa ada pantun di setiap pidato orang-orang yang memberikan kata sambutan suatu acara, khasnya pejabat. Untuk ini, pantun dihadirkan di awal, di tengah, dan di akhir pidato. Sekurang-kurangnya, pantun diucapkan di akhir pidato. Dengan kebiasaan itu, orator akan mendapatkan tepuk tangan meriah dari hadirin jika berpantun dalam pidatonya. Sebaliknya, pidato tanpa pantun akan sulit mendapatkan tepukan dari hadirin karena orangnya dianggap kaku, kurang merakyat, bahkan kurang cerdas.

Penulisan buku antologi pantun juga semakin bersemarak sekarang. Kreativitas yang dipelopori oleh Haji Ibrahim (1877) itu kini telah ditekuni oleh banyak orang, baik individu maupun berkelompok. Penulisnya tak hanya dari kalangan senior, tetapi juga para penulis muda, terutama setelah pantun resmi tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia oleh UNESCO. Para guru dan dosen pun mulai menerbitkan buku pantun sesuai dengan bidang ilmu atau mata pelajaran yang mereka ajarkan.

Berkenaan dengan penulisan buku antologi pantun, juga telah tercatat Rekor MURI buku pantun kategori penulis terbanyak. Judulnya  Pantun Nasihat 1000 Guru ASEAN, berisi pantun 1.250 guru dan dosen empat negara: Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.  Penggagas dan penyelenggaranya seniman dan penyair Asrizal Nur. Buku 1.400 halaman itu dicetak Juli 2020 dan diluncurkan pada 10 Maret 2021 di Auditorium Perpustakaan Nasional, Jakarta. 

Itulah keunggulannya: Cik Banun gadis Lingga, elok bahasanya perangainya santun, pantun memang warisan berharga, nilainya tiada pernah menurun: kesemuanya rahmat Allah yang tiada berhingga. Alhasil, sahamnya bagi pembentukan karakter anak bangsa tak mampu ditakar oleh sekadar nalar manusia.*** 

Tinggalkan Balasan