DALAM tradisi intelektual dan kepengarangan di Kesultanan Riau-Lingga abad ke-19 cenderung terdapat anggapan yang tak sesuai dengan fakta. Kecendekiawanan dan kepengarangan di Kesultanan Melayu itu, konon,  dimonopoli oleh keluarga Diraja. Haji Ibrahim, bahkan sebelumnya sezaman dengan Raja Ahmad Engku Haji Tua (ayahnda Raja Ali Haji, RAH) telah ada Bilal Abu, membuktikan bahwa anggapan itu tiada benarnya. Bahkan, penulis-penulis sezaman dan di bawah RAH pun banyak dari kalangan rakyat biasa.

Terjulangnya pantun sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia oleh UNESCO pada Desember 2020 lalu, tak terlepas dari jasa Haji Ibrahim. Beliaulah penulis pertama di dunia ini yang memelopori pantun menjadi tradisi tulis, yang sebelumnya hanya dikenal sebagai susastra lisan. Beliau menulis buku antologi pantun Perhimpunan Pantun-Pantun Melayu, 1877. Upaya beliau kemudian diikuti oleh penulis-penulis seterusnya sampai sekarang. Alhasil, pantun tetap lestari sampai setakat ini sehingga dapat kita usulkan menjadi Warisan Budaya Takbenda Dunia ke UNESCO.

Sebelum itu, memang ada juga pantun diselipkan di dalam Sulalat as-Salatin (Sejarah Melayu) dan Hikayat Hang Tuah, misalnya. Akan tetapi, pantun dalam kedua karya terdahulu itu hanya berfungsi sebagai pelengkap, bukan menjadi inti cerita atau isi buku secara keseluruhan. Karya Haji Ibrahim berbeda dari karya-karya sebelumnya: seluruh bukunya berisi pantun. Beliau  pelopor alihwacana pantun: dari lisan ke tulisan. 

Padi segenggam habis lecuh
 Tidak boleh ditumbuk lagi
 Kehendak Allah juga yang sungguh
 Tidak boleh sekehendak hati

Pantun ini dari karya Haji Ibrahim yang disebutkan di atas. Bukan sebarang pantun, pantun yang sampiran dan isinya berkaitan maknanya. Itulah pantun sesungguhnya, yang dengan kualitas seperti itu disebut pantun mulia.

Encik Ibrahim, sapaan kepadanya sebelum menunaikan ibadah haji, adalah putra Datuk Syahbandar Abdullah. Beliau adalah rakyat biasa yang bekerja sebagai pegawai kerajaan. Pada 1830-an beliau naik haji dalam usia yang masih sangat muda. Sejak itu, beliau akrab disapa Haji Ibrahim. Karena kemahirannya dalam menulis, beliau kemudian diangkat menjadi jurutulis pribadi Yang Dipertuan Muda (YDM)  Kesultanan Riau-Lingga. 

Dari jabatannya itu beliau mendapat gelar kehormatan Datuk Kaya Muda. Gelar itu diberikan kepada orang yang berpangkat dan bermartabat tinggi atau merupakan penghormatan kepada tokoh yang sangat berjasa kepada kerajaan. Dengan gelar itulah, beliau masyhur dikenal dengan nama Haji Ibrahim Datuk Kaya Muda Riau.

Menurut E. Netscher (“Beschrijving van een gedeelde der residentie Riouw”, Tijdschrift voor Indische Taal-, Land-, en Volkenkunde II, 1894, 158), Haji Ibrahim merupakan pribumi paling cerdas, tekun, berwawasan luas, berbudi, rajin, dan kreatif. Itulah sebabnya, beliau diberi kepercayaan menjadi sekretaris tiga orang Yang Dipertuan Muda Kesultanan Riau-Lingga berturut-turut pada 1850-an: Raja Abdul Rahman (YDM VII), Raja Ali (YDM VIII), dan Raja Haji Abdullah (YDM IX).

Belum dapat dipastikan tarikh lahir dan wafat beliau. Walaupun begitu, dari sumber lisan diketahui beliau lahir di Tanjungpinang, wafat dan dimakamkan di Pulau Penyengat. Dari tarikh karya-karyanya dapat dipastikan bahwa beliau hidup semasa dengan dan menjadi sahabat-karib RAH.

Haji Ibrahim, dalam karirnya sebagai penulis, biasa bekerja sama dengan RAH. Pada akhir 1855 Haji Ibrahim, RAH, dan H. von de Wall bekerja sama menyusun kamus dwibahasa Melayu-Belanda dan Belanda-Melayu. Selanjutnya, pada 1867 mereka (bersama Abdullah, putra Haji Ibrahim,) menyalin dan menyunting naskah Hikayat Kurais dan Hikayat Golam.

Sebagai pengarang ulung, tentulah Haji Ibrahim menghasilkan karya sendiri. Dari yang dapat ditelusuri karya-karya beliau: (1) Syair Raja Damsyik (1864), (2) Syair Sidi Ibrahim bin Khasib (1865), (3) Cakap-Cakap Rampai-Rampai Bahasa Melayu Johor Jilid I (Percetakan Gubernemen, Batavia, 1868), (4) Ceritera Pak Belalang (1870), (5) Lebai Malang, (6) Cakap-Cakap Rampai-Rampai Bahasa Melayu Johor Jilid II (Percetakan Gubernemen, Batavia, 1872), dan (7) Perhimpunan Pantun-Pantun Melayu (W. Bruining, Batavia, 1877).

Syair Raja Damsyik adalah karya puisi naratif yang digubah dari karya prosa naratif Hikayat Raja Damsyik. Dari tangan Haji Ibrahim tak semata-mata perubahan genre itu yang teserlah. Berkaitan dengan itu, buku Dermaga Sastra Indonesia (Komodo Books, Jakarta, 2010) memerikan kisah fantastik berlatar Timur Tengah yang jauh itu seperti dibawa turun ke bumi. Damsyik (Damaskus), Baghdad, Yaman, Mesir, dan Kufah terkesan bukan lagi sebutan yang membawa kita ke tempat-tempat yang tak terperikan, tetapi seperti sudah berada di halaman rumah tempat bermain imajinasi-imajinasi orang Melayu. Kedekatan jarak nampaknya berhubungan erat dengan posisi yang dipilih pengarang dalam teksnya. 

Bila pengarang nyata (real author) dalam teks Hikayat Damsyik menyembunyikan diri di kejauhan, Syair Raja Damsyik (Haji Ibrahim) sebaliknya:  “lalu-lalang” dalam kisahan, “mengganggu” pengarang tersirat (implied author), bahkan tokoh-tokohnya. Inilah contoh terbaik puitika “reproduksi kreatif ” pengarang Melayu, yang mempraktikkan takrif mengarang sebagai prinsip menyadur, ubah-suai teks dan cara-cara pembentangannya ke dalam realitas harapan-harapan pembaca atau pendengar yang dibayangkannya. Arus kepengarangan yang seperti itu memang tergugat oleh kecenderungan baru pengaryaan di Pulau Penyengat abad ke-19, yang umumnya lebih banyak bersuara tentang realitas lingkungan semasa (representasi kritis).

Karya Cakap-Cakap Rampai-Rampai Bahasa Melayu Johor kembali menunjukkan kepiawaian beliau. Karya itu, bahkan, membedakannya dengan penulis mana pun yang sezaman dengannya. Kali ini beliau menggunakan genre yang tak pernah dibuat orang: menggunakan bahasa percakapan sehari-hari masyarakat, sekarang dikenal dalam penulisan naskah drama. Suatu  percobaan berani untuk ukuran masa itu, ternyata berhasil. Kreativitas beliau dipuji oleh RAH. Dalam suratnya kepada von de Wall (8 September 1867), RAH menegaskan bahwa semua yang diperikan oleh Haji Ibrahim  itu benar. Dengan demikian, karyanya itu mengukuhkan Haji Ibrahim sebagai pelopor penulisan teks drama Melayu dan Indonesia.

Dua karyanya yang lain, Ceritera Pak Belalang dan Lebai Malang, memang sangat dikenal dalam susastra lisan Melayu. Haji Ibrahim menghimpunnya dan mengangkatnya menjadi karya tulis. Cerita pendek-pendek yang biasa terdengar dalam kehidupan keseharian orang Melayu digubahnya sedemikian rupa sehingga menjadi karya tulis yang memikat. Dengan  kreativitas itu, siapakah yang berani membantah bahwa Haji Ibrahimlah pelopor penulisan cerpen Melayu dan Indonesia? 

Selain sebagai penulis, Haji Ibrahim juga berkhidmat sebagai diplomat dan politisi. Beliau selalu mendamaikan perseteruan antara pihak kerajaan dan pemerintah Hindia-Belanda yang cenderung berseteru. Walaupun begitu, oleh pihak kolonial, beliau tetap dianggap sebagai duri di dalam daging bagi kepentingan penjajah.

Hanya karena kepiawaiannya bermain politiklah yang membuatnya dapat bertahan. Barangkali penjajah itu lupa bahwa bagi pejuang sejati seperti Haji Ibrahim telah tersemat kokoh di dalam dadanya sikap yang tak tergantikan. “Takkan pernah kugadai atau kujual negeri dan bangsaku demi kepentingan kalian!” Karakter itu hanya melekat pada kesatria pilihan. Padahal, umpan kemewahan duniawi berjujai ditawarkan.***  

Tinggalkan Balasan