OLEH MU’JIZAH
Peneliti Puslitbang Lektur Kemenag

KEPULAUAN RIAU sebagai daerah terdepan pada saat  ini menjadi zona merah covid-19. Penambahan korban covid saat ini memang dapat dimaklumi karena masyarakat di wilayah ini mobilisasinya sangat tinggi. Kepualauan Riau sejak berabad lalu menjadi daerah perdagangan karena berdekatan dengan Singapura dan Malaysia. Pada masa lalu, wilayah ini juga pernah mendapat serangan wabah yang terekam dalam dokumen, seperti manuskrip. Untuk merefleksikan pengobatan wabah penyakit yang pada masa lalu, penelusuran manuskrip obatobatan menjadi sangat penting dan berarti.

Di dalam manuskrip itu terekam pengetahuan tradisional (indigenous knowledge) dan kearifan lokal (local wisdom) dalam mengobati penyakit wabah. Seperti demam kura (tifus) dan kepialu (malaria) serta batuk darah. Penyakit-penyakit ini ditangani melalui pengobatan yang tradisinya terekam dalam manuskrip. Tradisi pengobatan  inidibantuoleh tabib, dukun atau bomoh (Melayu), dan sanro (Bugis) serta sinse. Di samping pengobatan praktik penolak bala dari penyakit juga tampakmasih hidup dalam beberapa tradisi lisannya.

Tradisi pengobatan yang terekam dalam manuskrip dapat ditelusri dalam beberapa koleksi manuskrip, baik manuskrip yang disimpan di Lembaga atau perorangan. Program Endangred Archive Project pernah merekam beberapa manuskrip yang dilakukan pada tahun 2008 dan 2018. Dalam arsip tersebut ditemukan puluhan naskah, di antaranya Ilmu orang Kampung atau Obat dan Kitab Azimat (koleksi Aswandi Syahri), Tajul Muluk (Khairullah, Lazuardi, Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah), dan Kitab Jimat Tangkal Obat (Khaiirullah), Ramuan Obat (Raja Muh. Amin).

Naskah obat-obatan paling banyak berada dalam koleksi Raja Syu’ib yang memiliki sekitar sepuluh naskah. Naskah-naskah itu adalah Ramuan Obat, Ramuan Obat Berbagai Penyakit, Resep Obat, Azimat atauTangkal, Perihal Tolak Bala, Resep Obat-Obatan, Doa dan Obat-obatan, Doa Obat Batuk Darah, Kitab Hikmat, Doa, dan Azimat, serta Obat dan Azimat. Sementara di Museum Linggam Cahaya terdapat Wafak Mandi Safar. Ada juga Catatan Doa dan Obat yang berada dalam koleski Said Hodri. Naskah obat-obatan juga ditemukan dalam koleksi Raja Hamzah

(kini Raja Malik), yakni Rumah Obat PulauPenyengat, Ilmu Firasat orang Melayu, Kitab Wafak dan Obat Obatan, Asal IlmuTabib dan Ilmu Firasat dan Raksi.

Bukan hanya di Kepulauan Riau naskah obat-obatan ditemukan. Di Kampar ditemukan juga beberapa naskah obat-obatan. Perpustakaan Nasional sebagai Lembaga yang koleksinya ribuan juga menyimpan naskah obat-obatan, seperti Kitab Tibb yang berasal dari koleksi Von De Wall. Tokoh ini adalah pejabat Hindia-Belanda yang pada akhir abad ke-19 bertugas di Riau. Dalam tugasnya itulah dia banyak mengumpulkan naskah, baik naskah yang ada di masyarakat maupun menyalinnya untuk kepentingan penyusunan kamusnya. Tokoh yang sama dan lama bertugas di Riau adalah Klinkert. Kedua tokoh ini adalah penyusun kamus Melayu yang dijadikan rujukan bagi para peneliti naskah Melayu.

Bagi peneliti, keberadaan manuskrimanuskrip seperti ladang yang siap dipanen, caranya dengan membaca isinya. Dalam membaca manuskrip kuno ini diperlukan keahlian khusus yang didalami filologi, sebuah ilmu yang mendalami teks. Dalam filologi, naskah sebagai saksi atau dokumen sejarah masa lalu harus digarap dengan pertanggungjawaban ilmiah sehingga hasil garapannya dapat digunakan dalam disiplin ilmu lain, seperti farmasi dan kedokteran.

Dalam manuskrip itu ditemukan kosakata dan istilah khas yang sudah jarang digunakan yang dimasukkan sebagai kata arkais. Kata-kata dan istilah yang berkaitan dengan istilah dan nama tumbuhan yang sudah tidak ada dan tidak dikenal lagi.

Pada dasarnya nenek moyang orang Melayu sangat peduli pada kesehatan.Dalam Ilmu Tabib dipaparkan empat unsur dalam tubuh manusia yang harus seimbang, yakni api yang bersifat panas dan adanya di empedu. Air yang sifatnya basah adanya pada paru-paru. Tanah sifatnya kering dan letaknya di limpa. Angin sifatnya sejuk dan adanya di hati. Jika terjadi keempat unsure tersebut tidakseimbang, terjadilah penyakit dalam tubuh.

Jika penyakit sudah melekat dalam tubuh, obat-obat yang digunakan berasal dari alam, yakni tumbuhan(herbal medicine) dan hewan(animal medicine). Di samping itu, terdapat juga kepercayaan adanya alam gaib. Kepercayaan ini menghasilkan pengobatan dengan jampi, rajah, dan mantra.

Obat yang berasal dari tumbuhtumbuhan sebagian besar berasal dari rempah, seperti pala, cengkih, lada, jintan dan banyak jenis rempah lainnya. Misalnya dalam Kitab Tibb dinyatakan bahwa penyakit kepialu atau demam tifus masa inkubasi 13 hari. Pada masa ini pesakit tidak boleh bertemu dengan orang lain. Disebutkan dalam manuskrip “Jika perempuan mengidap penyakit ini janganlah bertempuh badan dengan lelaki”. Penyakit ini ada tiga jenis. Salah satunya tubuh demam selama tiga hari tiga malam, keluar keringat, dahi dan tangannya dingin, tenggorokan kering. Salah satu contoh obat kepialu dinyatakan “Bab obat kepialu yang diperahkan pada hidung: ambil pucuk bayamlangit 3 helai, halia tigahiris, lada 3 butir, dan daun sirih yang tua sehelai. Giling semuanya itu, kemudian dibubuhkan pada perca putih dan perahkan ke dalam kedua lubang hidungnya. InsyaAllah afiat.” Pada bagian lain dinyatakan “Bab obat kepialu yang diperahkan kepada kedua mata dan hidung: ambil bunga lengkuas 3 kuntum, ladasulah 3 biji, dan cabai sedikit. Semuanya itu digiling kemudian bubuh ke dalam perca putih,  perahkan pada kedua mata dan hidungnya. Jikalau dimakan pun baik”.

Contoh lainnya penyakit demam kura nama lokal penyakit malaria. Dalam Kitab Tibb ditemukan beberapa obat demam kura yang menggunakan rempah. Seperti kapulaga, cengkeh, bawang, helia (jahe), lada. Salah satunya “Bab obat demam kura: ambil daun keduduk segenggam erat, daun gandarusa segenggam erat, bawang putih seulas, dan lada 7 butir. Sekalian itu pipis lumat-lumat, airnya cuka, beri minum sebanyak dua ruas jari selama tiga hari. Ampasnya ditempelkan betulbetul pada tempat kura itu. Insya Allah afiat”. Obat lainnya dinyatakan “Bab obat demam kura… akan obatnya ambil akar susun kelapa berat 3 timbang, lempuyang berat dua timbang, lengkuas berat setimbang, bawang putih berat setimbang, ladasulah berat setimbang, kapur batu berat setimbang, dan cabai berat setimbang. Maka sekaliannya itu digiling lumat-lumat dengan air limau nipis. Maka rebus dengan air tiga bahagi, beri tinggal sebahagi, hingga hendak menghancurkan obat yang digiling itu sekadar dapat diminum jua.

Selain obat-obatan tersebut, beberapa penyakit dapat diobati dengan ramuan yang disertai rajah yang sebagian besar tidak dapat dibaca karena tulisan berupa tanda-tanda huruf atau gambar yang dipercaya memiliki keampuhan dalam pengobatan penyakit. Kepercayaan pada kekuatan rajah menjadi sebuah tradisi dalam pengobatan tradisional. Ketika masyarakat menganut agama Islam mantra tidak digunakan lagi dan diganti dengan kalimat yang berkaitan dengan doa atau petikan ayat Qur’an.

Kedua penyakit yang disebutkan tersebut hanya dua contoh penyakit, dan di dalam manuskrip tersebut banyak ditemukan penyakit-penyakit lain. Bahkan, penyakit yang biasa diderita wanita, baik dalam menjaga kesehatan maupun obat jika penyakit menyerang.

Idealnya pengetahuan ini digali secara menyeluruh dan ditindaklanjuti sebagai obat yang berbasis pada pengetahuan lokal. Pendalaman etnofarmakologi dengan uji laboratorium dapat mengangkat obat-obat tradisional ini menjadi obat kekinian yang dapat dimanfaatkan dengan aman oleh masyarakat modern.***

Tinggalkan Balasan