Wilayah Moro menurut peta 1895 koleksi Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda. Kota Moro yang terletak di Pulau Sugi Bawah belum tercantum dalam peta ini. Dalam peta ini hanya ada Pulau Moro Laoet, Moro Tengah, dan Moro Darat.

HINGGA awal tahun 1920-an, hamparan ribuan pulau bagaikan segantang lada di wilayah Kepulauan Riau yang masih merupaka terra incognita (daerah tak dikenal)
bagi sebagian penduduk Singapura, khususnya orang Inggris.

Ada di antara mereka yang menyebutnya unknown Islands (kepulauan tak dikenal), meski hanya berjarak 40 mil laut dari Singapura. Bagi orang-orang Inggris di Singapura, hamparan ribuan pulau di kawsan selatan Singapura itu bagaikan daerah yang penuh misteri. Oleh karena itu, sebuah perlayaran menjelajahi pulau-pulau di kawasan ini mejadi sebuah pengalaman yang luar biasa bagi mereka.

Pada tahun 1924, seorang bangsa Inggris berinisial G.L.P., dari Singapura, melakukan pelayaran ke kepulauan terra incognita itu dengan tujuan Kampung Moro yang berada di Pulau Sugi Bawah, yang terletak di antara Selat Sugi dan Selat Durian, dan kini berada dalam wilayah Kecamatan Moro, Kabupaten Karimun.

Dalam pelayaran itu, ia menemani sahabatnya, seorang misionaris dari American Mission di Singapura yang bermaksud mengunjungi sekelompok masyarakat Cina suku Henghwa penganut agama Kristen katolik yang bermukim di Moro.

Catatan yang ditulisnya selama pelayaran melintasi selat dan hamparan pulau-pulau terra incognita antara Belakang Padang, Sambu, Selat Sugi, dan pengalamannya selama satu hari dua malam di Moro bersama misionaris American Mission itu kemudian dituangkan dalam sebuah artikel berjudul A Voyage Through the Rhio Achipelago, dan dipublikasikan dalam surat kabar The Straits Times di Singapura pada 29 Agustus 1924.
Berikut ini adalah bagian-bagian menarik dari artikel itu yang diterjemahkan dan dikemas semula untuk pembaca Kutubkhanah. ***

Orang Melayu mengatakan pulau-pulau di Kepulauan Riau (Rhio Archipelago) banyak seperti segantang buah lada (as numerous as a gantang of paper berries), dan hal ini sulit untuk membantahnya. Untaian pulau-pulau di sebelah Selatan Singapura itu— biasanya disebut sebagai pulau-pulau milik Belanda—membentuk sisi utarakepulauan itu, yang membentang sepanjang lima pulau mil ke selatan, dan beberapa mil ke arah timur dan barat.

Kepulauan ini adalah sebuah terra incognita (daerah yang tidak dikenal)bagi orang Singapura, yang belum menyadari kemungkinan indahnya pemandangan pulau-pulau yang bertaburan di laut ini; dan laporan tantang sebuah perjalanan seorang misionaris dari Singapura dan saya ke Moro (sebuah pulau yang letaknya sekita 40 mil di Selatan Singapura), mungkin akan menjadi suatu yang menarik.

Kesulitan awal dalam perjalanan tersebut cukup besar. Hanya tiga buah kapal uap kecil melayari pulau-pulau ini, dan pihak Belanda mempunyai aturan ketika kapal-kapal uap itu membawa penumbang bangsa Eropa dari Singpura, maka mereka harus singgah di Pulau Sambu (Samboe) untuk pemeriksaan  paspor.

Ketika kapal kami berlabuh dekat Kongsi Haylam, salam pertama yang kami dengar ketika itu adalah pertanyaan penuh kebimbangan, “pergi mana, Tuan?”. Setelah mendengarkan beberapa penjelasan, kami kembali ke kapal bersama barang-barang yang mencakupi magic lantern, dua kasur untuk di tenda (camp beds), kelambu, dan perbekalan. Tak ada fasiltas hotel di Moro!

Chinchew Cina

Kami tetap tak berganjak di jembatan sehingga kapten tiba: seorang Melayu yang sopan dan mendengarkan penjelasan kami, namun pesimis terhadap peluang kami mencapai Moro. Adalah jelas bahwa ia punya kartu  truf, dan dalam beberap menit “kartu” itu tiba. Itulah chinchew (nakhoda) bangsa Cina, dan sekaligus jelas bahwa chinchew itu punya alasan untuk menyatakan keberatan membawa kami sebagai penumpang.

Lalu kami mengatakan telah bertemu Konsul Belanda di Singapura dan  tawkey yang punya kapal uap, namun tetap tidak juga memuaskannya. Jika kami tetap di atas kapal uap itu, katanya, maka mereka harus pergi ke Pulau Sambu, dan itu artinya membutuhkan kayu bakar yang luar biasa banyak. Lagi pula, masih ada kapal lain yang pergi ke Moro, dan mengapa kami tidak pindah ke sana saja?

Selama tiga perempat jam chinchew itu meracau kepada kami. Ia seorangyang keras kepala dan pembohong. Ia

meminta tiga puluh dollar lebih biaya untuk pergi ke Pulau Sambu, dan kapal tidak akan sampai di Moro sehinggalah pukul satu dini hari. Jika tak mau, ada kapal lain yang akan membawa kami ke Moro! Dan berbagai alasan lainnya.

Hamparan Pulau-pulau

Setelah meninggalkan Pulau Sambu di belakang, kapal kami mulai menyelusup di antara pulau-pulau, dan selama lima jam tanpa henti kami melintasi rangkaian pulau-pulau, besar dan kecil yang diseliputi hutan, atau sekedar beberapa pohon kelapa dan bakau. Jalur yang dilalui, sebagaimana terlihat di peta, adalah sangat menarik. Kami seperti mengembara di labirin, dan cara sang kapten memilih jalan di antara pula-pulau itu adalah prestasi luar biasa yang patut jadi ingatan.

Pada saat tertentu kapal tampak seperti menerabas rangkaian pohon bakau yang tak putus-putus. Lalu kemudi diputar, dan kapal kami berada di sebuah selat yang dalam dan begitu sempit, sehingga seseorang dapat melontarkan batu ke tanah kering di sisi lainnya.

Kadang-kadang kami melintasi laut yang membentang, namun tetap selalu ada pulau di sekitar kami, dan sekali lagi  hamparan pulau-pulau di kejauhan, sehingga pemandangan baru dan indah terbuka di setiap “tanjung’’ yang kami kitari.

Di pulau-pulau yang besar biasanya ada sebuah kampung nelayan. Semua bagaikan lukisan yang dibingkai dalam sebuah latar pohon-pohon kelapa dan pantai berpasir yang berkilauan. Sampan-sampan akan keluar menghampiri kapal kami, menjemput penumpang- penumpang yang berasal dari kampung setempat, dan sarat dengan barang-barang yang dibeli dari Singpura. Kami juga meninggalkan kotak berisi es di kampung itu, karena banyak ikan untuk pasar Singapura berasal dari pulau tersebut.

Ada “perang-tarif” yang sedang berlangsung di antara tiga kapal yang hilir mudik dari Singapura ke kepulauan ini, dan tarifnya telah dipotong secara drastis. Bahkan, oleh pemilik dua kapal kapal uap, tarif kapal ke Moro—yang berjarak empat puluh mil dari Singapura—hanya dibandrol 30 cents saja! Jelas, kapal-kapal uap itu merugi, dan para penghuni kampung di kepulauan itu berlaba.

Sebelumnya, ketika tarif kapal ke Singapura seharga 2 dollar, perjalanan hanya berlangsung sekali-sekala. Dengan adanya penurunan tarif kapal hingga 30 cents, maka perjalanan pulang balik ke Singapaura hampir berlangsung setiap ujung minggu, dan ini belum pernah terjadi sebelumnya. Terdapat beberapa perkebunan di Kepulauan ini, dan yang terjauh letaknya adalah sebuah perkebunan milik orang Jepang yang berada beberapa mil di Selatan Moro. Ibu kota daerah Kepulauan ini adalah Tanjungpinang, namun semua aktivitas perdagangan dilakukan dengan Singapura.

Tiba di Moro

Pada pukul 5 petang kami mencapai Moro, sebuah kampung nelayan yang besar, dengan hampir dua ratus buah perahu nelayan bersusun di pantai. Di Moro tak pernah terlihat orang putih (white man), kecuali pada kesempatan-kesempatan langka ketika mendapat kunjungan pejabat Belanda yang berpangkalan di Pulau Karimun. Karena itu kedatangan kami sudah tentu menyita perhatian yang besar dari penduduknya yang terdiri dari orang Melayu dan Cina.

Kami bertemu dengan seorang pendeta (preacher) bangsa Cina setempat dan anaknya—seorang anak muda cemerlang yang sedang libur dari sekolahnya di Singapura—yang mengantarkannya ke tempat tinggal kami: sebuah ruangan yang besar, besih, dan menyenangkan, namun terdedah ke jalan di kampung itu. Kami menjadi pusat perhatian sejak tida di Moro. Pintu dan jendela tanpa henti dijejali oleh kerumunan orang yang penuh rasa ingin tahu. Di kala petang kami menerima banyak tamu yang berbincang-bincang dengan misionaris kawan saya itu—orang yang fasih berbahasa Melayu dan bahasa Cina dialek Hokien.

Salah seorang yang pertama tiba adalah seorang Melayu yang tinggal di Pulau Brani, yang jelas sangat senang untuk bertemu dengan dua orang tamu yang datang dari daerah jajahan Inggris di Singapura: dua anak muda yang berasal dari Victoria Bridge School, Singapura.

Mengunjungi Raja

Kami melakukan kunjungan kehormatan kepada raja setempat (local rajah); seorang lelaki tua yang menerima kami

dengan berkacamata dan memakai baju piyama bergaris (striped pyjamas).

Ia memeriksa selembar “surat” Belanda yang mengizinkan misionaris untuk melakukan kerja-kerjanya diMoro, dan menyetujuinya. Sebelumnya, ketika kawan saya itu mengunjungi sejumlah tempat selalu mendapat perlawanan keras dari sang raja, sehingga kemudian ia menggunakansurat ini sebagai senjatanya.

Rumah raja itu, adalah satu-satuny hunian yang terbaik di Moro. Berdiri dalam sebuah kumpulan besar rumah dan terdiri dari banglo kayu kecil. Dilengkapi dengan perabot bergaya  Eropa dalam batas tertentu, dan penutup lampu rumahnya cukup artistik.

Misionaris America (American Mission) di Singapura mengkoordinir pendeta setempat (local preacher) yang ada di Moro, karena di sana ada sebuah komunitas nelayan Henghwa, yakni sekelompok masyarakat Cina suku Henghwa, yang bersal dari daerah Putian, berada di bawah pengaruh agama Kristen Katolik di Cina sebelum mereka bermigrasi ke Moro.

Selama kunjungan kami, dua kali ceramah di bawah temaram lentera diselenggarakan. Misionaris kawan saya itu berceramah dalam bahasa Melayu dan pendeta Cina setempat dalam bahasa Cina dialek Hengwha. Sebuah tontonan hebat yang menarik, dan ramai penduduk setempat hadir. Kami menghabiskan waktu selama satu hari dan dua malam di Moro, dan semua itu menjadi akhir pekan yang sangat luar biasa.***

Artikel SebelumKepeloporan Haji Ibrahim
Artikel BerikutMenelusuri Manuskrip Wabah di Kepulauan Riau
Aswandi Syahri, lahir di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, pada 29 Januari 1970. Alumni ilmu sejarah pada Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra (kini, Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Andalas. Pernah menjadi jurnalis, dan kini masih menjabat sebagai sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Provinsi Kepulauan Riau. Menulis sejarah sejak di bangku SMA, dan telah menghasilkan sejumlah buku tentang sejarah dan kebudayaan Melayu di Kepulauan Riau

Tinggalkan Balasan