SIAPAKAH yang tiada suka akan buah-buahan? Apatah lagi, jika menjadi obat bagi segala penyakit dalam kehidupan, pastilah buah-buahan itu sangat mustahak untuk melestarikan peradaban. Mentelah lagi, ini bukanlah buah-buahan dari kebun sebarangan.  

Raja Ali Haji rahimahullah (RAH, 1809-1873) membahas perihal buah-buahan peradaban itu di dalam karya beliau Tsamarat al-Muhimmah. Judul lengkapnya Tsamarat al-Muhimmah Dliyafat lil-Umara’ wal-Kubara’ lil- Ahli al-Mahkamat  atau Buah-Buahan yang Dicita-Citakan Jadi Jamuan bagi Raja-Raja dan Orang Besar-Besar yang Mempunyai Pekerjaan di dalam Tempat Berhukum. 

Buku ini dicetak oleh Percetakan Kesultanan di Daik-Lingga (Lingga Straits Printing Office) pada 1304 H. (=1887 M.). lsi karya ini merupakan uraian yang lebih luas dari Muqaddima Fi lntizam. Karya terdahulu RAH dalam bidang yang sama itu didedikasikan kepada Yang Dipertuan Muda Vlll Kesultanan Riau-Lingga, Raja Ali Marhum Kantor (1845-1857), saudara sepupu beliau.

RAH selesai menulis bukunya itu pada pukul 02.00 dini hari, Selasa, 10 Syakban 1275 H. (1859 M.) seperti yang ditulisnya pada akhir karyanya itu. Tentang matlamatnya menulis buku itu, beliau bertutur dengan takzim dan rendah hati.

“Inilah akhir barang yang dikurniakan Allah Ta’ala atasku pada menzahirkan sedikit tertib kerajaan dan rahasia pekerjaan ahl al-mahkamah atas pahamku yang singkat dan atas ilmuku yang kurang. Akan tetapi, daripada sangat hajatku hendak menzahirkan atas kaum kerabatku pada tempatku ini, maka aku perbuat juga alakadar pahamku yang kurang jikalau aku bukan ahli daripada demikian itu sekalian,” (Haji, 1858). Jelaslah bahwa karya ini didedikasikannya kepada para pemimpin, yang pada zamannya disebut raja, orang besar-besar, dan para pejabat pemerintahan.

Pada bagian mukadimah, sebagai ciri khasnya, RAH memulainya dengan keutamaan ilmu dan akal serta asal-usul keduanya itu. Selain penjelasan tentang peran ilmu dan akal untuk menaikkan derajat manusia umumnya, tanpa keduanya itu manusia tak ubahnya dengan hewan, bahkan, ada hewan lebih hebat daripada manusia, RAH menegaskan mustahaknya ilmu dan akal itu dituntut dan diamalkan. 

Tanpa diamalkan, sia-sialah ilmu, terutama kerja-kerja kepemimpinan harus menggunakan ilmu yang benar. Bakti kepemimpinan tak boleh menyimpang dari kebenaran ilmu yang dianugerahkan oleh Tuhan. 

“Syahdan maka nyatalah dilebihkan  Allah Ta’ala akan ahli ilmu itu dengan akal dan naqal, intaha,” (Haji, 1858), begitulah beliau menegaskannya. Dengan menekankan naqal, jelaslah bahwa RAH hendak meyakinkan para pemimpin agar jangan pernah melangkahi wahyu Allah dalam melaksanakan amanah yang dititipkan kepada mereka. 

Bab-bab utama berkembang semakin menarik. Kepala pemerintahan meliputi tiga makna sesuai dengan fungsi dan tugas yang diamanahkan kepadanya. Pertama, khalifah dengan kewajiban menegakkan agama berdasarkan Alquran, Sunnah Nabi, dan ijmak. Kedua, sultan dengan kewajiban melaksanakan hukum secara adil berdasarkan pedoman Allah dan Rasul-Nya. Ketiga, imam, yakni figur yang seyogianya berada paling depan dalam semua siatuasi dan menjadi ikutan semua orang di bawah pemerintahannya. Dalam hal ini, jika kesemuanya itu ditaati dan kalau tak tergolong kufur dan maksiat, perintah pemimpin tersebut sama dengan hukum yang harus ditaati.

Pemimpin seharusnya memiliki derajat yang tinggi asal memenuhi syarat. Dia berjuang membela kebenaran dan memerangi kejahatan. Bukan sebaliknya, bersuka ria dia di dalam kejahatan yang nyata dan membinasakan kebenaran. Yang disebut terakhir itu adalah pemimpin yang sewenang-wenang, berbuat sekehendak hati, mempermainkan hukum, bahkan mengaku diri sebagai bayangan Tuhan di muka bumi. RAH mengecam perilaku pemimpin seperti itu dan digolongkannya haram. Jelas dan tegas pembalasan dan azabnya di akhirat kelak.

Para pemimpin seyogianya berilmu, barakal budi, bermarwah, adil, berijtihad baik, tekun beramal, di samping  memiliki pancaindera yang baik. Para pemimpin negeri haruslah berbuat kebajikan yang terbilang: benar dan patut menurut agama, bangsa, dan negara. Begitu pula menurut penilaian orang-orang yang mempunyai mata hati atau mereka yang berakal. Jika kedapatan fasik, banyak aduan orang, zalim, khianat, belot, tak bermarwah, dan sejenisnya, pemimpin itu patutlah diragukan baktinya, yang akan datang juga azabnya dari Tuhan.

Berhubung dengan pembangunan negeri, lima hal utama yang wajib diperhatikan. Pembangunan tak boleh bertentangan dengan syarak (hukum), itu yang pertama dan utama. Kedua, tak boleh mendatangkan mudarat terhadap tubuh dan jiwa manusia. Ketiga, jangan memusnahkan harta-benda rakyat. Keempat, tak boleh menyebabkan rakyat mendapat aib dan malu. Kelima, tak menjatuhkan nama pemimpin itu sendiri.

Karya ini juga memberikan pedoman tentang pembinaan moral bagi penyelenggara negara. Dalam hal ini, penyelenggara negara wajib memelihara ruh (jiwa), badan (jasad), dan nama. Jiwa harus dijaga supaya tak terdedah kepada virus penyakit batin. Penyakit zahir pun memengaruhi batin. Obat bagi penyakit batin lebih rumit daripada penyakit zahir (badan). Kedua jenis penyakit itu, lebih-lebih penyakit batin, dapat menyebabkan pemimpin menjadi tercela.

Penyelenggara negara harus menjaga nama jangan sampai menimbulkan kesan buruk. Cacat-celanya menjadi sebutan orang setiap hari. Punca kesemuanya itu adalah sifat yang jahat, sama ada secara terang-terangan ataupun tersembunyi. Itulah kejahatan hati yang paling berbahaya jika melanda para pemimpin dan penyelenggara negara. “Sejahat-jahat nama kepada raja-raja dan kepada orang besar-besar itu, yakni nama zalim dan nama bodoh dan nama lalai, nama penakut,” (Haji, 1858).

Tujuan bernegara adalah mewujudkan keamanan, kesejahteraan, dan kemakmuran. Kesemuanya itu dapat diraih jika perhubungan antara penyelenggara negara dan rakyat dengan Tuhan berjalan serasi dan selaras sesuai dengan petunjuk Tuhan. Pemimpin yang berilmu dan berakal tak pernah berani melangkahi dan atau menyelewengkan agama dalam kepemimpinannya. 

Pemimpin seyogianya terus berupaya menjaga perilaku dan moral rakyat agar tetap baik. Tentu, dengan tauladan yang baik pula dari sang pemimpin. Sebaliknya, jika pemimpin terbiasa dengan saling fitnah, dengki, khianat, hasad, lalai, serakah, menjauh dari nilai-nilai agama, dan sebagainya, rakyat mendapat contoh yang buruk dan keji. Dalam keadaan demikian, negara tinggal menanti saat-saat kehancuran.

“Seyogianya hendaklah raja-raja dan segala orang besar-besar menjauhkan penyakit najis berdengki-dengki itu karena banyaklah dan zahirlah di dalam suatu negeri akan ahlinya [pemimpin dan rakyatnya, HAM] banyak berdengki-dengkian, alamat negeri itu akan binasa jua akhirnya. Apa lagi orang besarnya berdengki-dengkian makin segeralah binasanya…. Bermula raja yang adil itu bersungguh-sungguh ia pada mencarikan muslihat melepaskan daripada jalan yang membawa kepada kebinasaan ini adanya, intaha,” (Haji, 1858).

Begitulah cara RAH memerikan penyakit dengki. Mahadahsyat penyakit dengki itu rupanya. Virusnya, jika dibiarkan mewabah, dapat meruntuhkan sebuah negara yang pada mulanya dibangun untuk mencapai tujuan bersama berasaskan keadilan untuk semua. Jika para pemimpin dan penyelenggara negara terjangkit penyakit jiwa itu, mereka tak hanya melalaikan nilai-nilai agama yang agung, tetapi juga bagaikan menandatangani kontrak kesediaan menerima balasan azab-pasti yang telah dijanjikan Tuhan di alam baka. Terang lagi bersuluhlah segala adanya. Ternyata, Tsamarat al-Muhimmah merupakan buah-buahan segar khas, manis, lezat, dan mujarab bangat untuk jamuan para pemimpin dan penyelenggara negara. Oleh sebab itu, semoga para pemimpin tak pernah jemu menikmati dan memanfaatkan khasiatnya. Ianya dijamin mustajab (manjur) sebagai penolak virus berbahaya yang menggelincirkan ijtihad dalam penyelenggaraan negara, intaha.***

Artikel SebelumKarena Diri Berpaling Tadah
Artikel BerikutTragedi Otak-Otak
Budayawan, Peraih Anugerah Buku Negara Malaysia 2020 ,Pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Maritim Raja Ali Haji Tanjungpinang pada masa jabatan 2007-2021, Anggota LAM Kepulauan Riau masa khidmat 2017-2022, Peraih Anugerah Jembia Emas tahun 2018, Ketua Umum PW MABMI Kepulauan Riau

Tinggalkan Balasan