BAHASA Melayu telah memainkan peran istimewanya sebagai bahasa perhubungan luas di nusantara sejak lama. Bahasa seperti itulah disebut lingua franca. Akan tetapi, bahasa perhubungan luas tak cukup signifikan untuk menjadi bahasa bermutu di mana saja. Pasalnya, tata bahasanya belum tentu sempurna. 

Untuk memenuhi syarat bermutu, suatu bahasa harus dibakukan sehingga layak digunakan dalam pendidikan, administrasi pemerintahan, diplomasi, dan sebagainya. Oleh sebab itu, bahasa Melayu yang telah berpengaruh luas itu mesti dikembangkan dan dibina sehingga mencapai kualitas baku. Dalam perjuangan mewujudkan bahasa Melayu baku itulah, jasa Raja Ali Haji rahimahullah (RAH) tak boleh dilupakan.

Dengan perjuangannya dalam pembakuan bahasa, RAH telah menempatkan bahasa Melayu menjadi begitu istimewa. Beliau menulis dua buku penting di bidang bahasa: Bustan al-Katibin (1850), yakni buku ejaan dan tata bahasa, dan Kitab Pengetahuan Bahasa (1858), yakni kamus bahasa Melayu. Kedua buku itu merupakan yang pertama ditulis oleh penulis nusantara. Perjuangan beliau diikuti oleh Haji Ibrahim, Raja Ali Kelana, dan Abu Muhammad Adnan (Raja Abdullah). Mereka adalah pembesar sekaligus penulis Kesultanan Riau-Lingga. Bahasa Melayu baku yang dikembangkan itu digunakan pula dalam pelbagai karya sastra dan ilmu-pengetahuan. Alhasil, semakin menjadi-jadilah keistimewaan dan keterkenalannya.

Semangat mengembangkan dan membina bahasa Melayu di Kesultanan Riau-Lingga sedari awal memang digesa, dipicu, dan dipacu oleh Raja Ali Haji. Di dalam mukadimah Bustan al-Katibin (1850), beliau menegaskan perhubungan antara kemahiran berbahasa, ilmu yang tinggi, dan adab-pekerti yang mulia.

RAH berpandangan sangat penting kedudukan bahasa bagi manusia. Dengan pengetahuan dan kemahiran berbahasa, manusia mampu mencapai taraf sebagai makhluk beradab, berakal-budi yang baik, dan berilmu tinggi serta bermanfaat. Dengan keyakinan itu, beliau memacu dan memicu semangat berkarya dalam bidang kepengarangan. Amanat itu ditujukan beliau kepada generasi penerusnya. Di dalam mukadimah Bustan al-Katibin beliau memerikan keyakinan ini.

“Segala pekerjaan pedang itu boleh diperbuat dengan kalam, adapun pekerjaan kalam itu tiada boleh diperbuat oleh pedang… Dan, berapa ribu dan laksa pedang yang sudah terhunus, maka dengan segores kalam jadi tersarung.”

RAH sangat yakin akan kekuatan kalam yang berteraskan bahasa dalam membangun persatuan dan keutuhan bangsa. Kalam sebagai simbol bahasa dan ilmu-pengetahuan mampu mengalahkan kekuatan senjata (pedang). Dengan cara itulah, persatuan dan kekuatan bangsanya harus dibangkitkan. 

Beliau yakin bangsanya mampu bangkit dan sanggup mengalahkan kekuatan politik dan militer kolonial Belanda yang menjajah negerinya. Melalui strategi mempersatukan bangsa dengan bahasa itulah beliau berjuang untuk menyelamatkan bangsa dan negerinya.  

Sudah saatnya bangsa nusantara yang terjajah mengambil kembali hak kemerdekaannya. Oleh sebab itu, upaya pengembangan ilmu pengetahuan tak boleh dilambatkan lagi. Berdasarkan pemahaman itu, RAH juga mengobarkan semangat mencipta melalui syair Parsi yang dikutipnya dalam karyanya di atas, “Berkata kalam, aku ini raja (yang) memerintah akan dunia. Barang siapa yang mengambil akan daku dengan tangannya, tidak dapat tiada aku sampaikan juga (dia) kepada kerajaan(nya).” 

Selain pelbagai ilmu yang menjadi minatnya, RAH menaruh perhatian khusus kepada bidang bahasa. Dalam hal ini, beliau berpandangan bahwa jatuh-bangunnya sesebuah bangsa sangat ditentukan oleh bahasanya. Bukankah bahasa itulah yang menampilkan budi dan atau kecerdasan manusia? Apatah lagi, dalam pengamatan beliau, masa itu bahasa Melayu mulai terancam. Sudah banyak orang menggunakan bahasa Melayu yang tak lagi  sesuai dengan kaidahnya. Oleh sebab itu, bahasa Melayu harus diselamatkan. Dengan begitu, bangsa nusantara yang menggunakan bahasa Melayu, baik sebagai bahasa pertama maupun bahasa kedua, akan terselamatkan pula.

RAH sangat khawatir akan kecenderungan penggunaan bahasa Melayu yang menyimpang dari kaidah yang sebenarnya oleh sebagian orang pada masa itu. Apabila keadaan tak tertib berbahasa itu dibiarkan, bahasa Melayu akan binasa. Oleh sebab itu, beliau berupaya secara  bersungguh-sungguh untuk menyelamatkan bahasa Melayu. Dalam hal membina bahasa itu, beliau memiliki keyakinan seperti diungkapkannya dalam Gurindam Dua Belas, Pasal yang Kelima, bait 1.

Jika hendak mengenal orang berbangsa
Lihat kepada budi dan bahasa

Dari itu, beliau berkeyakinan bahwa budi (kecerdasan) dan bahasalah yang dapat menyelamatkan bangsa. Oleh sebab itu, bahasa Melayu harus dipelihara dan dirawat dengan sebaik-baiknya. Dengan bahasa yang terpelihara, manusia memiliki peradaban yang tinggi sehingga terus dapat memperbaiki dan memperbaharui kehidupan hingga sampai ke puncak tertinggi tamadunnya. Dalam hal ini, RAH berpandangan sangat maju dan modern.

Dalam pengkajian bahasa beliau memberikan penekanan utama pada pembentukan konsep tentang sistem ontologi (wujud), kosmologi (alam), dan epistemologi (ilmu) Melayu. Hal itu berarti, menurut RAH, pengkajian, pembelajaran, dan penggunaan bahasa Melayu seharusnya menjadi sarana dan wahana yang membawa manusia ke arah pengenalan, pengertian, pemahaman, pengucapan, pengungkapan, penyampaian, pemujaan, pemujian, dan pengakuan terhadap Tuhan. Pada gilirannya, keyakinan itu mengantarkan manusia kepada keadilan, kebahagiaan, dan keselamatan di dunia dan di akhirat. 

Dari konsep dan pemikiran yang mendasarinya, dapatlah dipastikan bahwa RAH mengembangkan dan membina bahasa Melayu dengan niat yang tulus dan suci untuk mempertahankan kemurniannya sehingga tak mudah terpengaruh oleh bahasa lain. Tentulah pengaruh yang paling dikhawatirkan kala itu adalah bahasa penjajah yang mulai menunjukkan gejala ke arah itu, yakni bahasa Belanda.   

Filsafat dan pandangan jagat beliau dalam perjuangan dan pembinaan bahasa Melayu menjadi acuan para cendekiawan Kesultanan Riau-Lingga dalam berkarya. Oleh sebab itu, di dalam karya para penulis sesudahnya pun konsistensi pemikiran, perilaku, dan hasil karya mereka masih terlihat jelas benang merahnya dengan asas yang telah digariskan dan diwariskan oleh tokoh utama pejuang bahasa itu. 

Dengan memperhatikan kemajuan bahasa Melayu yang dikembangkan dan dibina oleh RAH, tak ada jalan lain bagi Pemerintah Kolonial Belanda dalam menentukan bahasa pengantar pendidikan. Hal itu ditegaskan pada Pasal 28 Peraturan untuk Pendidikan Dasar Pribumi yang mulai ditetapkan pada 1872. 

“Untuk pendidikan dalam bahasa rakyat, dipakai bahasa yang paling murni ucapannya dan yang paling berkembang di tempat-tempat itu … bahasa Melayu akan diajarkan menurut aturan dan ejaan bahasa Melayu murni yang dipergunakan di Kepulauan Riau dan bahasa-bahasa selebihnya akan ditentukan kemudian,” (KG 25-5-1872, Stb. No. 99, dalam Brouwer 1899, Lampiran I). 

Van Ophuijsen (1910) menyebutkan bahwa di antara anekalogat bahasa Melayu, yang diutamakan orang ialah yang dituturkan di Kepulauan Riau-Lingga (khususnya di Pulau Penyengat dan di Daik, Pulau Lingga). Maka, jadilah kebijakan Belanda menetapkan bahasa pengantar pendidikan pribumi ibarat senjata makan tuan. Di atas itu, kecerdasan dan kepiawaian pembina bahasa itulah yang paling mengagumkan.

 “Pada permulaan abad ke-20 ini bahasa Indonesia  belum dikenal. Yang dikenal sebagai lingua franca ialah bahasa Melayu Riau. Orang Belanda menyebutnya Riouw Maleisch. Ada yang menyebutkan berasal (dari) logat sebuah pulau kecil yang bernama Pulau Penyengat dalam lingkungan Pulau Riau,” demikian Bung Hatta dalam tulisan beliau di Pelangi (1979).

RAH dengan perkasanya telah membuktikan keyakinannya. Melalui perjuangan bahasa, beliau telah mempersatukan bangsanya. Bermodalkan persatuan sejati itulah bangsanya berjaya memperjuangkan hak mereka. Selamat memperingati Ulang Tahun ke-76 Republik Indonesia. Merdeka! 

Tinggalkan Balasan