Proses ekskvasi kepurbakalaan sisa-sisa perahu kuno di Sungai Jakar, Pulau Bintan, oleh arkeolog P.Y. Manguin dan tim peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Jakarta pada 21 Desember 1981 hingga 1 Desember 1982. Foto : Aswansdi Syahri

SITUS-SITUS sejarah Bintan di  sekitar kawasan Bukit Batu (Boekit Batoe), Kabupaten Bintan, yang dalam kepustakaan lama disebut Bintan Lama atau Oud Bintan, telah menjadi perhatian sejumlah kalangan setelah keberadaannya untuk pertama kali dilaporkan secara tertulis dalam sebuah jurnal ilmiah tentang ilmu alam Hindia Belanda oleh ahli botani Kebun Raya Bogor, Johanes Aliaas Teijsmann, pada tahun 1872.

Sebagai ilustrasi, laporan Teijsmann telah mengundang perhatian Yang Dipertuan Muda Riau Raja Muhammad Yusuf di Penyengat pada ketika itu. Raja Muhammad Yusuf kemudian menitahkan semuah tim untuk melakukan sebuah penyelidikan purbakala sempena mengetahui aspek kesejarahan kompleks makam yang dikeramatkan oleh pendudk Bukit Batu dan kawasan sekitarnya. Bahakan ada laporan bahwa tim Yang Dipertuan Muda Riau ini menemukan artefak porselin dan emas peninggalan zaman Hindu Budha di Pulau Bintan. Namun sayangnya, penyelidikan purbakala yang untuk pertamakalinya oleh orang Kepulauan Riau tersebut tak berlanjut.

Sebelas tahun setelah Teijsmaan melaporkannya pada 1883, J.G Schoot, seorang ambtenaar Belanda yang ketika itu menjabat sebagai controleur untuk wilayah Bintan, adalah orang Eropa kedua yang mengunjungi situs makam karamat Bukit Batu sempena perjalanan “ilmiahnya” ke kawasan Bintan Lama. Dalam penyelidikannya, ia berhasil mendapatkan informasi yang lebih lengkap tentang situs itu, dan pada tahun 1889 memublikasikannya temuannya dalam sebuah artikel yang diberi judul Bijdragen Tot de Kennis van Oud Bintan (Sumbangan Bagi Pengetahuan Tentang Bintan Lama).

Penyelidikan yang dilakukan oleh J.G. Schoot pada 1883 adalah usaha yang kedua setelah usaha pertama yang digagas yang Dipertuan Muda Riau Raja Muhammad Yusuf tak berlanjut. Sementara itu, setelah kemerdekaan, usaha serupa (dalam bentuk survey/ riset) juga pernah dilakukan oleh Tim IDAKEP Kabupaten Kepulauan Riau yang dipimpin M.A. Efendi, B.A pada bulan Juli 1968.

Di samping mengunjungi kompleks makam tua di Bukit Batu, dalam perjalanan ilmiah ke kawasan Bintan Lama pada tahun 1883, Schoot juga mengunjungi situs sejarah berhampiran dengan Bukit Batu, yang disebut Tebing Tinggi: sebuah tempat peleburan besi, yang menurut informasi penduduk setempat ada hubungnnya dengan orang Palembang yang datang ke Bintan bersama Sang Nila Utama.

Selaian itu, J.G. Schoot juga mengunjungi sisa wangkang atau perahu besar dengan pasak-pasak dari kayu sepang yang terdampar di Sungai Jakas, berhampiran kaki Gunung Bintan. Schoot adalah orang pertama yang melaporkan keberadaan situs perahu kuno tersebut.

Perahu di Sungai Jakas yang ditemukan oleh Schoot pada tahun 1883 itu baru menjadi berita besar 96 tahun kemudian, ketika surat kabar Straits Time di Singapura melansir berita tentang penemuan sejumlah keramik Cina pada sisa-sisa sebuah perahu kuno di sebuah sungai di Pulau Bintan pada bulan Mei 1979. Berita itulah yang telah mengundang perhatian arkeolog bawah air berkebangsaan Prancis, P.Y. Manguin dan Drs. Nurhadi dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (PUSLIT-ARKENAS) Jakarta serta tim yang dipimpin oleh kepala bidang

Permuseuman, Sejarah, dan Kepurbakalaan Kanwil Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Riau, M.A Effendi, untuk melakukan penelitian kepurbakalaan (arkeologi) di Pulau Bintan, terutama di Sungai Jakas, pada 21 Desember 1981 hingga 1 Desember 1981. Tim gabungan ini berhasil mengindentifisi jenis dan asal perahu kuno yang ditemukan di sungai tersebut.

Bagian-bagian selanjutnya dari tulisan ini adalah ihwal penemuan beberapa situs sejarah Bintan Lama oleh Controleur J.G. Schoot dan gambarannya pada tahun 1883. Diterjemhkan dari sebuah laporan yang berjudul  Bijdragen Tot de Kennis van Oud Bintan (Sumbagangan Bagi Pengetahuan tentang Bintan Lama) yang dimuat dalam Tijdscrift voor Indische Taal-, Land-en Vokenkunde tahun 1889.

Boekit Batoe

Hari berikutnya adalah mengunjugi sebagian Sungei Bintan dan menyempatkan melihat di sana-sini, serta mengunjungi berbagai makam tua.

Tentang beberapa makam tersebut, yaitu yang terletak di Boekit Batoe, telah dilaporkan oleh Tuan Teijsmann dalam laporan perjalanan sempena penyelidikan botaninya di Riau-Lingga. Nisan-nisan makam yang dilihatnya terletak di Boekit Batoe, kira-kia terdiri dari lima makam perempuan (raja perempuan, vorstinen) dan seorang laki-laki. Batu-batu nisan makam perempuan lebih tipis dibanding lebar, jadi, datar. Sementara pada makam yang laki-laki melebar dari atas ke bawah berbentuk pilar segi enam, dengan ujung semacam mahkota.

Makam ini adalah tempat peristirahatan terakhir Tok Telani, seorang yang berasal dari Terengganau (Terengganu), yang menurut beberapa orang adalah seorang cucu laki-laki Demang Lebar Daoen. Tok (datoek=datoe?) ini diserang dan dibunuh oleh Raja Pahang zaman dahulu, ketiga anaknya kemudian melarikan diri ke Melaka. Sementara itu, sebagian jasad para pengkikut Tok Telani dibawa ke Bintan dan ditempatkan di komplek makam diraja (vorstelijke begraafplaats) di Boekit Batoe.

Salah satu dari makam perempuan yang ada di kompleks makam itu mestilah makam Raja Perempuan (vorstin) Wan Sri Binai, namun yang mana satu, tidak dapat ditentukan. Kemungkinan batu-batu nisan dengan tulisan ayat-ayat al-qur’an (koranspreuk) diletakkan di makam itu pada masa yang lebih kemudian.

Kebanyakan dari batu-batu nisan ini diperbaharui sebagai bentuk penghormatan; begitu juga penempatannya berbeda dengan apa yang diyakini ulama Islam disini.

Yang Dipertuan Muda Riau (Raja Muhammad Yusuf) mengatakan kepada saya, ia bermaksud untuk memastikan bahwa semua makam di Boekit Batoe itu berasal dari masa lalu (situs bersejarah). Itulah sebabnya ia tak keberatan rencana kaji gali atau ekskavasi terhadap kramat itu (openining dier kramat’s). Meskipun penduduknya sekarang beragama Islam, namun mereka masih terkait rapat dengan makam raja-raja perempuan leluhur mereka ini. Maka Yang Mulia Yamtuan Muda Raja Muhammad Yusuf terpaksa menghentikan penyelidikan purbakala di kompleks makam ini.

Tëbing Tinggi

Boekit Batoe di Soengei Bintan meminjam namanya dari hamparan batubatu yang mengandungi bijih besi (ijzererts bevattende) di perbukitan di lokasi makam itu. Pada zaman dahulu, bijih tersebut digali, kemudian diangkut ke arah hulu, ke tempat yang bernama Tëbing Tinggi. Tempat ia dilebur dan diolah. Sejarah nama Tëbing Tinggi ada hubungannya dengan kedatangan iring-iringan orang Palembang di Bintan (de Palembangsche intocht in Bintan).

Para pandai besi Palembang menetap disana dan mungkin telah menamai kampung itu berdasarkan nama tempat asal mereka. Awalnya mungkin ada yang bergumam, meskipun berada di negeri asing, namun masih seakan-akan di rumah kampung sediri, dan yang lainnya mengatakan tempat tersebut ada beberapa kemiripan, dan ada yang mengira tampak seperti berada di tebing sungai yang tinggi.

Menurut informasi Orang Bintan, di Tëbing Tinggi terletak makam seorang yang disebut Datoe Toke. Apa keistimewaan datoe ini pada zaman dahulu, tak dapat saya mencari jawabannya.

Soengei Djakas

Dekat muara sebuah sungai kecil bernama Soengei Krong terdapat dermaga yang dipergunakan oleh Yamtuan Muda Riau bila ia mengujungi daerah ini. Di sini juga tinggal beberapa orang bangsa Said, yang melakukan  pengawasan terhadap penduduk yang dihukum oleh Yang Dipertuan Muda Riau.

Dekat Soengei Krong inilah bermula pantai berhutan. Rumah-rumah penduduk terletak jauh di Soegei Bintan, di kaki Gunung Bintan, dan tersebar di sana. Pada bagian bawah gunung tersebut ditanami pohon buah-buahan dari segala jenis.

Di Soengei Djakas, agak sedkit ke arah laut dan cukup dekat dengan kaki Gunung Bintan, ditemukan sejumlah sisa sebuah perahu, dengan pasak besar dari kayu sapan (sepang: Caesalpinia sappan L) yang masih utuh. Bentuk pasak kayunya, yang kondisinya masih utuh menunjukkan, seperti yang diceritakan penduduk, ukuran perahu tersebut pastilah cukup besar.

Oleh karena itu penduduk setempat tak mengerti bagaimana perahu tersebut terdampar jauh ke kawasan hutan dan dan jauh dari laut. Dan karena tidak ada yang tahu kapan perahu dengan kayu sapan (sepang) itu dibuat, maka penduduk setempat mengaitkannya dengan sisa sebuah wangkang seorang Cina bernama Tok Sekoedai, yang kapalnya terdampar di Gunung Bintan, meskipun di tempat ini tak ada troemboe (hampara batu karang keras dibawah laut).***

Artikel SebelumNovel “Hamidah”-sebuah Mesin Waktu
Artikel BerikutSARM, Tokoh Sejarah yang dilupakan
Aswandi Syahri, lahir di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, pada 29 Januari 1970. Alumni ilmu sejarah pada Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra (kini, Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Andalas. Pernah menjadi jurnalis, dan kini masih menjabat sebagai sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Provinsi Kepulauan Riau. Menulis sejarah sejak di bangku SMA, dan telah menghasilkan sejumlah buku tentang sejarah dan kebudayaan Melayu di Kepulauan Riau

Tinggalkan Balasan