BALAI penghadapan itu tiba-tiba berdelau disinari cahaya yang cemerlang. Peristiwa itu membuat bahagia semua orang. Jiwa yang tadinya resah tiba-tiba berubah menjadi tenang. Sinar yang menyeri balairung seri itulah sesungguhnya didambakan setiap orang, tak kira malam ataupun siang.  

Balai penghadapan yang bercahaya itu dapat ditemui di dalam Syair Abdul Muluk, bait 165, karya Raja Ali Haji rahimahullah (Haji, 1846). Inilah bait syair yang mampu menembus kalbu yang rawan.

Mustahidlah sudah alat kelengkapan
Anak raja-raja menjelampai tetampan
Sekaliannya itu tertib dan sopan
Bersinarlah rupanya balai penghadapan

Bait syair di atas mengunakan metafora: sopan-santun mampu menjadikan balai penghadapan bersinar atau indah berseri (lihat larik ke-3 dan ke-4). Begitulah nilai positif sopan-santun menurut tamadun Melayu. Sopan-santun dapat membuat kehidupan indah dan menawan. 

Sebaliknya pula, pikiran, perasaan, sifat, sikap, dan perangai tak senonoh akan menjejas delauan cahaya budi. Perilaku buruk yang, antara lain, digambarkan di dalam Pasal yang Keempat, bait 9, Gurindam Dua Belas (Haji, 1847) dapat meredupkan, bahkan mematikan, delauan cahaya di dalam Syair Abdul Muluk, bait 165. Keadaan berubah menjadi kelam-kabut karena penuh kotoran debu, lebih-lebih debu yang berasal dari sampah batiniah berupa cemaran perangai tak senonoh, yang bermotivasi syaitaniah.

Barang siapa perkataannya kotor
Mulutnya itu umpama ketor

Perkataan kotor merupakan penanda tiadanya sopan-santun. Analogi yang menyejajarkan perkataan kotor dengan ketor atau ‘tempat membuang air ludah’ (yang berbau busuk) menunjukkan ini. Betapa buruknya kualitas perkataan kotor. Di dalam bait Gurindam Dua Belas sengaja digunakan ungkapan pertentangan untuk memperjelas atau menekankan amanatnya. 

Dalam hal ini, berkata-kata dengan perkataan kotor tergolong tak sopan, kasar, dan biadab. Perilaku itu menjadi penanda bahwa pelakunya tak berbudi pekerti atau berkarakter buruk. Oleh sebab itu, perangai tersebut tergolong tercela dan terlarang dalam tamadun Melayu. Hal itu bermakna perilaku berkata-kata secara sopanlah yang didambakan setiap orang.

Melepaskan hati yang terbuku
Pengajaran kepada sekalian anakku
Mudah-mudahan betul tingkah dan laku
Perangai yang baik biar terpaku

Kutipan syair nasihat di dalam Tsamarat al-Muhimmah, bait 2 (Haji dalam Malik (Ed.), 2013) di atas secara tersirat juga mengagungkan sopan-santun. Anjuran memelihara kesantunan (perangai yang baik biar terpaku) sebagai penanda pribadi yang memiliki kehalusan budi dan atau karakter mulia sangat kuat kesannya di dalam bait syair tersebut. Dengan demikian, sopan-santun merupakan salah satu sifat dan perilaku mulia di dalam tamadun Melayu. Itulah sebabnya, karakter santun senantiasa diperikan secara positif, sedangkan perilaku tak senonoh, kasar, dan biadab pasti mendapat citra negatif.

Tokoh anak raja-raja di dalam Syair Abdul Muluk di atas digambarkan duduk tertib dan sopan di majelis yang berlangsung di dalam balai penghadapan memiliki rujukan dasar-pijakan, yakni ajaran agama Islam dan adat-istiadat Melayu. Dengan perkataan lain, sebagai orang Melayu-Islam anak raja-raja itu mengamalkan sifat dan perilaku sopan-santun karena merujuk ajaran Islam dan adat-istiadat Melayu. Jadi, sifat sopan-santun dinilai mengandungi kualitas kehalusan budi atau karakter mulia karena ajaran Islam memang menganjurkan manusia supaya mengamalkan sifat dan perilaku sopan-santun di dalam hidupnya.

“Dan, apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling darinya. Dan, mereka berkata, “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tak ingin bergaul dengan orang-orang yang jahil,” (Q.S. Al-Qashash, 55).

Dengan firman-Nya di atas, Allah mewajibkan manusia untuk menghindarkan diri dari mendengar perkataan yang tak bermanfaat (tentulah termasuklah perkataan yang tak sopan, kotor, biadab, dan atau tak terpuji). Allah juga mencegah manusia bergaul dengan orang-orang yang jahil, yang sudah tentu pula berperangai tak senonoh. Dengan demikian, Allah memang memerintahkan manusia agar bersifat dan berlaku sopan-santun di dalam hidup ini. Bersamaan dengan itu, sifat dan perilaku tak sopan harus dihindari.

Sopan-santun dalam bersifat, bersikap, berkata-kata, dan berperangai ternyata memang merupakan satu di antara kualitas karakter yang terdapat di dalam ajaran agama Islam. Nilai agamanya itulah yang digunakan oleh Raja Ali Haji di dalam karya-karya beliau di atas untuk menyampaikan gagasan dan amanat tentang sifat dan perilaku yang mulia itu. 

Tak hanya itu. Sopan-santun sebagai satu di antara kualitas penanda kehalusan budi itu mesti sedia ada atau melekat dalam diri seseorang manusia. Tokoh Anakku di dalam syair nasihat Tsamarat al-Muhimmah, misalnya, sangat diharapkan memiliki sifat sopan-santun. Dengan begitu, dia diyakini akan menjadi manusia yang berkarakter mulia.

Kualitas itu merupakan unsur dalaman sehingga tak terlihat. Hanya orang yang memilikinya sajalah yang mengetahui akan keberadaannya, dan tentu juga Tuhan Yang Maha Mengetahui. Sifat dan atau perilaku sopan-santun tokoh anak raja-raja di dalam Syair Abdul Muluk di atas, umpamanya,  hanya merekalah yang mengetahuinya sebelum diceritakan kepada orang lain atau ditunjukkan di dalam tindakan dan perbuatan nyata mereka. Dengan perkataan lain, orang lain tak akan mengetahuinya jika tak  ditampilkan dalam bentuk perkataan dan atau perbuatan orang yang bersangkutan, dan atau diceritakan oleh orang lain (dalam syair di atas diceritakan oleh Raja Ali Haji). 

Kualitas kehalusan budi dalam bentuk sopan-santun dalam diri anak raja-raja di balai penghadapan di atas merupakan sifat dan atau sikap yang memang ada di dalam diri mereka. Itulah sebabnya, mereka dapat mempraktikkannya ketika duduk di balai penghadapan. Tepat, patut, selesa, tiada canggung sedikit jua. 

Penggambaran perangai atau tingkah laku para tokoh itu dapat diamati dan atau perkataannya dapat didengar oleh orang lain. Akibatnya, kehalusan budi dan atau karakter itu mewujud dalam bentuk perangai, perbuatan, kelakuan, perilaku, dan atau perkataan yang dapat dikesan, diamati, dan atau didengar oleh orang lain. Atas dasar kesan dari pengamatan dan atau pendengaran itulah, manusia yang memiliki standar kualitas karakter dengan acuan yang sama dapat menilai seseorang manusia berbudi atau tidak.  

Anak raja-raja di dalam Syair Abdul Muluk di atas terkesan sangat santun karena mereka menunjukkan perilaku itu di dalam majelis (di balai penghadapan). Perbuatan mulia (sopan-santun) anak raja-raja itu menjadi penanda yang menunjukkan kehalusan budi yang mereka miliki, sesuai dengan norma yang mereka rujuk.

Rujukan para tokoh yang digambarkan di dalam karya-karya di atas adalah nilai di dalam ajaran agama dan budaya mereka. Begitulah karya-karya religius hadir untuk mencerahkan manusia dengan cahaya Ilahiah. Alhasil, jadilah sopan-santun itu bersinar cemerlang, melenyapkan segala ragu dan bimbang. 

Karakter itu akan menerangi segenap pikiran dan hati yang terbuka terhadap kebenaran Ilahiah. Akibatnya, sesiapa pun yang menerimanya pasti memperoleh berkah. Sebaliknya pula, menolaknya bermakna mengundang padah sehingga jiwa senantiasa dirundung gundah, tak sudah-sudah. Di atas kesemuanya itu, ianya menjadi begitu indah jika sanggup dibawa sampai ke  Balai Penghadapan Allah.*** 

Tinggalkan Balasan