Main Jengket (atas) dan Main Porok (bawah), dua contoh ragam permainan anak-anak yang dikenal dalam khazanah permainan tradisional Melayu di Provinsi Kepulauan Riau. FOTO: ASWANDI SYAHRI

DIKARENAKAN pencapaianpencapaiannya dalam peradaban, para pemikir dan filsuf besar dunia menakrifkan manusia sebagai homo sapiens (mahluk bijak) yang mengacu kepada kemampuan intelegensianya. Ada juga yang menyebutnya sebagai homo faber (mahluk pekerja) dan homo economicus (mahluk ekonomi) dikarenakan aspek ketrampilan dan kecerdikan dalam mempertahankan hidup. Bahkan ada pula yang menyebutnya sebagai homo homini lupus, dengan menekankan pada kadar agresivitas manusia secara ekonomi.

Di lain pihak, sejarawan dan filsuf Belanda, Johan Huizinga (1872-1945), mengatakan bahwa manusia adalah mahluk yang menciptakan peradaban yang muncul dan berkembang melalui berbagai bentuk permainan dalam kebudayaan manusia. Oleh karena itu, ia menyebut manusia sebagai mahluk yang bermain: homo ludens.

Pokok pikiran Huizinga tentang sifat manusia dan kebudayaan yang universal ini dituangkan dalam sebuah bukunya yang sangat terkenal, Homo Ludens Proeve eener Bepaling van het spelement der Cultuur (1938), yang  telah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia, Homo Ludens Fungsi dan Hakekat Permainan dalam Budaya (LP3ES 1990). Menurut Huizinga, “bermain dan permainan dalam kebudayaan manusia sama pentingnya dengan berpikir dan bekerja.” Dengan kata lain, permainan dan bermain adalah elemen yang universal dalam setiap kebudayaan, dimana saja.

Dalam bentuknya yang paling sederhana, elemen permainan dan bermain dengan kedalaman filosifis yang kompleks dalam kebudayaan Melayu, menurut Huizinga, antara lain tedapat dalam sosok pantun. Sama halnya seperti sosok puisi haiku dalam kebudayaan Jepang. Hubungan antara sampiran atau pembayang dengan isi atau jawaban dalam serangkap pantun

Melayu, memperlihatkan ciri-ciri suatu permainan soal jawan yang cerdas dan tangkas.

Dalam bentuknya yang lebih kompleks, elemen bermain dan permainan yang simbolis dan realis dalam kebudauaan  Melayu, yang benar-benar dimainkan secara nyata dalam batas-batas dan ruang waktu tertentu oleh orang Melayu sebagai mahluk homo ludens itu, terdapat dalam berbagai bentuk permainan tradisional, yang juga populer disebut sebagai permainan rakyat.

Dengan kata lain, berbagai bentuk dan ragam permainan tradisional yang dikenal di Alam Melayu tak dapat dilepas dari kodrat manusia sebagai homo ludens: mahluk berbudaya yang yang bermain di pentas alam yang maha luas ini.

Sebagai sebuah fenomena kebubudayaan, permainan tradisional Melayu yang beragam corak dan rupanya itu mengandungi elemen-elemen dasar yang dapat menciptakan dan menopang kebudayaan itu sendiri. Ada elemen dan fungsi-fungsi dasar yang sangat penting dalam berbagai ragam permainan tradisional yang dikenal di Alam Melayu.

Menurut Huizinga, kandungan elemen-elemen dasar kebudayaan yang tekandung dalam berbagai bentuk aktifitas manusia sebagai sebuah permainan inilah yang kemudian ‘mengendap’ sebagai kebudayaan. Sekali dimainkan, ia akan tetap berada dalam ingatan manusia yang memainkannya sebagai sebuah ciptaaan, kekayaan rohani yang diwariskan, dan setiap saat dapat diulang kembali.

Selain mengandungi unsur-unsur yang dapat dijadikan identitas atau penanda jati diri suatu kelompok jika dimainkan, berbagai corak permainan tradisional itu juga mengandungi elemen-elemen dasar yang dapat merangsang para pemainnya untuk mencapai sesuatu yang baik bagi individu atau kelompoknya.

Ketika dimainkan, baik secara berkelompok atau perorangan, sebuah permainan tradisional, antara lain, punya kemampuan untuk memotivasi para pemainnya untuk menjadi yang terbaik. Karena, bagaimanapun, diantara cirri khas yang menonjol dalam permainan tradisional Melayu adalah suatu perlombaan memperebutkan sesuatu, atau suatu pertunjukan tentang sesuatu yang mengedepankan skill atau keahlian orang yang memainkannya.

Terdapat tiga penanda yang dapat dipakai untuk mengatakan bahwa permainan dalam pengertian yang sesungguhnya, sebagai sebuah aktivitas homo ludens dalam kebudayaan Melayu. Pertama, terdapat sifat kebebasan yang universal di dalamnya; Kedua, permainan bukanlah kehidupan itu sendiri atau “yang sesungguhnya”.

Adapun penanda ketiga, dan yang paling positif, sebuah permainan itu dimainkan dalam batas ruang dan waktu tertentu. Sebuah permaian dimulai dan berakhir dalam satu ruang dan waktu tertentu. Ia dimainkan sampai selesai. Selama permainan berlangsung ada gerak, langkah bolak-balik, selingan, giliran, jalinan cerita, dan penguraian. Sangat kompleks.

Sekali dimainkan, ia akan tetap berada dalam ingatan sebagai suatu ciptaan atau kekayaan akal budi. Diwariskan sebagai bagian dari kebudayaan yang setiap saat dapat diulangi dengan segera, meskipun telah melalui rentang perjalanan waktu yang cukup panjang. Sifat yang “dapat diulangi” atau bahkan “direproduksi” ini merupakan sifat yang paling hakiki dalam apa saja bentuk permainan dalam dalam kebudayaan manusia.

Dengan demikian, tidaklah berlebihan jika mengatakan bahwasanya bermain dan permainan tradisional Melayu dalam konteks kebudayaan bukan hal yang tak serius, atau dunia remehtemeh anak-anak belaka. Kenyataan ini telah ditunjukkan oleh elite-elite dan kaum cerdik cendekia Kerajaan Riau-Lingga, yang tergabung dalam lid perkumpulan Rusydiah Club di Pulau Penyengat, ketika mereka menggelar keramaian “Taman Pengiburan” yang penuh dengan aneka permainan tradisional atau permainan rakyat sempena memeriahkan perayaan Idul Fitri di halaman Gedung Rusydiah Club-Riouw di Pulau Penyengat pada 1 Syawal 1313 Hijriah yang jatuh pada hari Selasa 17 Maret 1896 Miladiah.

Apakah masih patut dikatakan hal yang tak serius dan bagian dari dunia remeh-temeh anak-anak ketika orangorang sekelas Tengku Abdullah (Tengku Besar Kerajaan Riau-Lingga), Raja Ali Kelana (Calon Yang Dipertuan Muda Kerejaan Riau-Lingga), dan Raja Khalid Hitam (Bentara Kiri Kerajaan Riau-Lingga) mengeorganisir aneka permaian, mulai dari Berlumba berlari serta mengambil dan memeluk niur (buah kelapa) hingga Berlumba berlari bertinggung, dan Bersemnyi Tekup Mata, yang sangat kental ‘nuansa’ dunia anak-anaknya dalam “Taman Penghiburan” itu?

Oleh karena itu, tak salah kiranya bila berbagai bentuk dan corak ragam permainan tradisional Melayu terus dimainkan dan dilestarikan. Karena permainan tradisional Melayu atau permainan rakyat adalah salah satu elemen penting dalam kebudayaan Melayu yang, oleh orang Jerman, disebut sebagai warisan budaya zeitlos.

Yakni warisan budaya yang mampu bertahan, abadi, dalam melintasi perubahan zaman: karena permainan tradisional adalah salah puncak dari segala pecapaian dalam kebudayaan manusia, termasuk kebudayaan Melayu.***

Artikel SebelumWawasan Kebangsaan dalam Kearifan Lokal Melayu
Artikel BerikutPepy Terima Anugerah Jembia
Aswandi Syahri, lahir di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, pada 29 Januari 1970. Alumni ilmu sejarah pada Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra (kini, Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Andalas. Pernah menjadi jurnalis, dan kini masih menjabat sebagai sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Provinsi Kepulauan Riau. Menulis sejarah sejak di bangku SMA, dan telah menghasilkan sejumlah buku tentang sejarah dan kebudayaan Melayu di Kepulauan Riau

Tinggalkan Balasan