Duduk dari kiri ke kanan, Sutan Mohamada Salim, kepala Jaksa Tanjungpinang; Oei Tiang Tjai, Kapitan Masyarakat Cina Tanjungpinang dengan pakaian kebesarannnya; Tan Tjang Siang, Letnan masyarakat Cina di Senggarang, The Kim Boen, Letnan masyakat Cina di Pulau Buluh. Berfoto besama pemuka masyarakat Tanjungpinang di depan kantor Kepala Polisi Tanjungpinang (Schout), Tuan J. Schrijver, pada akhir tahun 1890-an. FOTO: KOLEKSI ASWANDI SYAHRI

Kapitan Masyarakat Cina Hok-kien di Tanjungpinang (1843-1854)

DALAM sejarah kapitan masyarakat Cina di Tanjungpinang, atau Kapitein der Chinezen te Riouw menurut bahan-bahan sumber sejarah berbahasa Belanda pada pertengahan abad 19, maka Kapitan Oei Tiksing adalah yang paling terkenal.

Ketenaran Oei Tiksing tidak hanya karena pesta “pernikahan mewahnya” diabadikan dalam sebuah syair yang ditulis di Kampung Bulang, Pulau Penyengat, Syair Perkawinan Kapitan Tiksing atau Syair Kawin Tan Tik Cu, tapi juga karena kematiannya yang tragis telah menjadi “kepala berita” dalam surat-surat kabar yang terbit di Jawa, Singapura, dan Negeri Belanda pada pertengahan tahun 1850-an.

Oei Tiksing lahir di Tanjungpinang sekitar tahun 1816. Ayahnya adalah Kapitan Oei Ban Hook yang menggantikan posisi Kapitan Tan-Hoo sebagai pemimpin masyarakat Cina Hok-kien (Emoeijer) dan Canton (Kantonner) atau Tiochiu: dua komunitas besar masyarakat Cina Tanjungpinang, Riouw, pada abad 19.

Setelah ayahnya wafat pada tahun 1843, kepemimpinan dalam dua kelompok besar masyarakat Cina di Tanjungpinang dipecah menjadi dua, dan dipimpin oleh dua orang Kapitan: atau kembali kepada situasi sebelum tahun 1828. Oei Tiksing yang ketika itu berusia 27 tahun, diangkat menjadi Kapitan menggantikan ayahnya, dan memimpin masyakat Cina Hok-kien (Emoeijer) yang bermukim di Kampung Cina Hok-kien di pusat kota lama Tanjungpinang.

Sedangkan untuk kelompok masyarakat Cina Canton atau Tiochiu (Kantonner) yang bermukim di Kampong Kwanton di Pulau Senggarang, dipimpin dipimpin oleh seorang Kapitan bernama Tan-Tjiehoed: seorang pedagang dan toke kebun gambir yang kaya raya.

Seperti ayahnya dan Kapitan Tan- Tjiehoed di Kampong Kwanton, Pulau Senggarang, Tiksing juga seorang saudagar dan pengusaha kebun gambir yang dekat dengan pemerintah Belanda di Tanjungpinang. Namun bedanya, ia sangat akrab dan punya hubungan baik dengan keluarga diraja Riau-Lingga, terutama dengan Engku Puteri Raja Hamidah di Pulau Penyengat.

Pesta Cara Melayu

Dalam Syair Perkawinan Kapitan Tiksing, kedekatan hubungannya dengan Engku Puteri Raja Hamidah (yang dalam syair itu disebut Tengku Puteri) jelas dinyatakan dalam bait-bait syair yang menggambarkan kemeriahannya pesta perkawinannya di Tanjungpinang yang juga dihadiri oleh pemilik Pulau penyengat itu. Bahkan pesta pernikahannya juga digelar dengan cara Melayu oleh Engku Puteri di Pulau  Penyengat.

Semua ini dimungkinkan karena Engku Puteri adalah bunda angkat Kapitan Oei Tiksing (hal ini jelas disebutkan dalam bait-bait Syair Perkawinan Kapitan Tiksing). Bahkan Kapitan Oei Ban-Hook dan istrinya memberitahukan secara resmi rencana pernikahan Tiksing kepada pembesar negeri ketika itu. Termasuk kepada Engku Puteri bonda angkatnya. Coba simak beberapa bait Syair Perkawinan Kapitan Tiksing di berikit ini:

Ada kepada suatu hari

Kapitan duduk laki isteri

Dibalai cermin berkaca puri

Dihadap sahibnya kanan dan kiri

Dengan isterinya ia berbicara

Baiklah kita mengawinkan putera

Kita kerjakan dengan segera

Supaya jangan lagi bermara

Sangatlah inginnya rasanya hati

Kerja anakda hendak dilihati

Sementara hidup belum mati

Kita kerjakan berpusu hati

Yuyi Tausim seraya berkata

Apatah lagi bicara kita

Sekalian ‘alat lengkap semata

Berilah tahu supaya nyata

Sembahkan kepada Tengku Puteri

Serta Yang Dipertuan empunya negeri

Kepada tuan besar Residen bestari

Sebarang perintah kita diri

Kapitan mendengar kata isterinya

Terlalu suka rasa hatinya

Sangatlah benar barang katanya

Karena Engku Puteri bonda angkatnya

Di mata sejumlah orang Eropa, dan utamanya dikalangan pembesar Belanda di Tanjungpinang, Tiksing adalah seorang yang ramah. Ia mampu berkomunikasi dalam Belanda dengan cukup baik, dan kerap membantu bila para Holanda itu kesulitan uang.

P.J. Idenburg, seorang perwira kesehatan Angkatan Laut Belanda yang pernah bermastautin di Tanjungpinang untuk bebera waktu, pernah pula mengunjunginya pada awal tahun 1850-an. Idenburg mencatat kesannya tentang Oei Tiksing dalam catatan hariannya yang kemudian diterbitkan dengan judul Dagboek van een reis naar Oost-Indie van december 1852 – 1 April 1856 (Catatan harian sebuah perjalanan ke Hindia-Timur bulan Desember 1852 – 1 April 1856): “…Ia [Tiksing] seorang yang ramah dan salah satu dari sedikit orang Cina [di Tanjungpinang] yang dapat berbicara dalam bahasa Belanda agak baik…” (“…Hij was een aardig mensch en een van de weinige chineezen die vrij goed Hollandsch sprak…”).”

Di Tanjungpinang, Tik Sing tinggal pada dua rumah besar di pinggir laut, di sekitar kawasan Pelantar I, di Tanjungpinang sekarang. Akses jalan menuju kediamannya melalui sebuah lorong yang kemudian dikenal sebagai Lorong Kapitan dan kini menjadi Lorong Merdeka. Hingga kini, di sekitar bekas Lorong Kapitan itu masih tersisa beberapa bangunan bekas milik keluarga Kapitan Oei Tik Sing. Kabarnya, dulu bangunan itu pernah menjadi penjara khusus yang berada dibawah kendali sang Kapitan.

Dibunuh

Bertolak belakang dengan kisah pesta pernikahannya yang mewah-meriah seperti diabadikan dalam bait-bait “syair jurnalistik” berjudul Syair Perkawinan Kapitan Tiksing karya seorang penduduk Pulau Penyengat, maka akhir kisah hidupnya adalah sebuah tragedi yang puncanya adalah sebuah persaingan bisnis.

Semuanya bermula pada malam naas tanggal 27 April 1854. Ketika itu, sekitar 30 atau 40 orang bersenjata menyerang kediamannya melalui laut menggunakan sejumlah perahu. Beberapa hari kemudian berita tentang peristiwa yang menggemparkan penduduk Tanjungpinang ketika itu, tersebar melalui surat kabar yang terbit di Singapura dan Pulau Jawa.

Bahkan empat bulan kemudian, pada bulan Juli, peristiwa yang terjadi di Tanjungpinang itu masih menjadi berita yang hangat dan dipublikasikan pada sejumlah surat kabar yang terbit di Negeri Belanda.

Surat kabar Algemeen Handelsblad yang terbit di Amsterdam pada 14 Juli1854 misalnya, menuliskan ungkapan

penyesalan berkenaan dengan peristiwa yang menimpa pemimpin masyarakat Cina yang paling dihormati diTanjungpinang ketika itu. Sebuah laporan seorang saksi mata peristiwa pembunuhan itu, dimuat pula dalam surat kabar Dagblad van Zuidholland en ‘Sgravenhage edisi 15 Juli 1858.

Pada malam naas tanggal 27 April itu, Kapitan Oei Tiksing dan pembantunya sempat melakukan perlawanan. Namun bagaimana pun, akhirnya ia dan beberapa orang pembantu perempuannya terbunuh.

Sebagai tersangka utama dalam peristiwa berdarah itu adalah Kapitan Tan-Tjiehoed yang kemudian dijatuhi hukuman diasingkan ke Manado pada tahun 1862.

Setelah peristiwa terbunuhnya Kapitan Oei Tiksing ini, masyarakat Cina Tanjungpinang kembali dipimpin oleh seorang Kapitan yang dibantu oleh empat orang Letnan.

Sejak saat itu pula semua Kapitan Cina Tanjungpinang pengganti Kapitan Oei Tiksing sebagian besarnya adalah mereka yang berasal dari marga Oei. Begitu juga dengan Kapitan Oei Pit Ship, kapitan terakhir bangsa Cina di Tanjungpinang yang menyandang jabatan itu hingga tahun 1950.***

Artikel SebelumPerahu Jelo Purbakala Ditemukan di Lingga
Artikel BerikutKarya Pengarang Riau-Lingga
Aswandi Syahri, lahir di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, pada 29 Januari 1970. Alumni ilmu sejarah pada Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra (kini, Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Andalas. Pernah menjadi jurnalis, dan kini masih menjabat sebagai sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Provinsi Kepulauan Riau. Menulis sejarah sejak di bangku SMA, dan telah menghasilkan sejumlah buku tentang sejarah dan kebudayaan Melayu di Kepulauan Riau

Tinggalkan Balasan