Khalid Kasim (jongkok di sebelah kiri) ketika bereperan sebagai Awang pengasuh bersama Mak Ungu (berdiri di sebelah kanan) yang berperan sebegai Pak Yong dalam sebuah pemetasan teater Makyong pada malam hari di halaman rumah Said Husin Al-Atas di Jl. Rumah Sakit No. 7, Tanjungpinang pada tahun 1975. FOTO: DOK. KOLEKSI ASWANDI SYAHRI

In Memoriam: Maestro Teater Mak Yong dari Mantang Arang

Pagiitu, Selasa (11/9/2012) di sebuah kedai  kopi. Satu pesan singkat (SMS) masuk ke telepon genggam (HP) sahabat saya Teja al-Habd. Berberapa saat kemudian ia menzahirkan apa yang termaktub dalam pesan singkat itu kepada kami yang duduk semeja dengannya: “Pak Khalid berpulang pukul 7.30 pagi ini, di Pulau Mantang. Inna-lillahi-wainna-ilaihirajiun”.

Perjumpaan saya dengan almarhum Pak Khalid bermula ketika ia tampil memerankan tokoh Awang Pengasuh dalam sebuah pemetasan teater Mak Yong Mantang Arang di halaman rumah almarhum Said Husin al-Attas di Jl. Rumah Sakit, Tanjungpinang, beberapa hari mejelang mereka berangkat sempena penampilan untuk pertamakalinya di Jakarta pada tahun 1975.

Sejenak ingatan saya melayang jauh. Mengingat-ingat kembali pementasan itu, dan beberapa kali pertemuan serta wawancara dengan Pak Khalid sekitar sepuluh tahun sebelum ia berpulang: ketika saya mengumpulkan bahan-bahan sumber untuk penulisan buku, Mak Yong: Teater Tradisional Kabupaten Kepulauan Riau pada tahun 2005.

***

Muhammad Khalid Kasim, yang akrab saya sapa Pak Khalid, lahir di desa Mantang Kayu Arang (Pulau Mantang, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau) pada 3 Mei 1932. Ia adalah salah seorang maestro atau empu yang mempunyai peran penting dalam setiap pementasan Teater Mak Yong Mantang Arang melalui tokoh Awang Peran atau Awang Pengasuh yang fasih dilakonkannya.

Pak Khalid mulai terlibat dalam pentas teater tradisional Mak Yong (di) Mantang Arang sejak sebelum zaman Jepang, ketika usianya 7 tahun. Beliau satu kelompok dengan seorang maestro lainnya yang telah lebih dahulu berpulang: almarhum Mak Ungu dan almarhum Tengku Muhammad Atan Rahman. Mula-mula beliau memainkan ‘peran kecil’ saja, sebagai pumukul alat musik gong.

Teater Mak Yong Mantang Arang dan ‘peran besar’ tokoh Awang Pengasuh atau Awang Peran yang kemudian dimainkan oleh Pak Khalid adalah sesuatu yang ‘ditemukan kembali’ untuk pertama kalinya oleh budayawan Tanjunginang, al-marhum Said Husin al- Attas pada tahun 1965. Semua bermula tatkala Said Husin menggelar pementasan kelompok teater Mak Yong Mantang Arang bersempena memeriahkan pesta pernikahan putrinya yang bernana Syarifah Aisyah dengan Abdul Razak bin Abu Bakar Ali di halaman rumahnya di Jl. Rumah Sakit No. 7 Tanjungpinang pada tahun 1965.

Usaha yang dirintis oleh Said Husin itu telah berhasil memperkenalkan kembali teater Mak Yong Mantang Arang dan sekaligus memperkenalkan Pak Khalid sebagai tokoh seni teater tradisional Melayu yang pada ketika itu telah “dianggap punah”. Bahkan Said Husin berhasil menampilkannya di pentas nasional.

Sepuluh tahun kemudian, tepatnya 1975, di bawah asuhan Said Husin al-Attas, untuk pertamakalinya Pak Khalid dan teater tradisional Melayu yang dianggap “arkhais” ini tampil di Taman Ismail Marzuki di Jakarta. Selanjutnya, pada tahun 1977, Pak Khalid dan beberapa orang pemain teater Mak Yong Mantang Arang yang telah sepuh, sempat pula mencuri perhatian Presiden Suharto ketika tampil di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Jakarta.

Sebagai bentuk apresiasinya, Presiden Suharto menganugerahkan pingat emas dan tabanas sebesar dua juta rupiah kepada pemain teater Mak Yong tersebut, yang diserahkan melalui Gubernur, Riau Arifin Achmad, di Gedung Daerah. Tanjungpinang. Dua kali penampilan di Jakarta itulah yang kemudian membuka mata para pakar seni pertunjukan tradisi, di Universitas Indonesia (UI) dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), tentang keberadaan sebuah kelompok teater tradisional yang hanya dikenal satu-satunya di Indonesia kala itu. Kemudian barulah muncul berbagai program penyelamatan, revitalisasi, dan berbagai bentuk program lainnya seperti yang dilakukan oleh Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) hingga kini.

Pada zamannya, gerak-gerik dan tingkah polah Awang Peran atau Awang Pengasuh yang diperankan Pak Khalid dalam setiap pementasan teater Mak Yong, selalu mengundang decak kagum dan tentu saja gelak tawa setiap orang yang menyaksikannya. Namun kini semuanya telah menjadi ingatan dan catatan sejarah seni peran Melayu di Provinsi  Kepulauan Riau.

Memasuki pertengahan tahun 1980-an, peranan Pak Khalid tak hanya sebatas berperan sebagai salah satu tokoh dalam pementasan ceritan teater Mak Yong. Beliau juga terlibat langsung dalam melestarikan dan mengembangkan teater Mak Yong. Oleh karena itu dalam tahun 1987, ia membentuk pula sebuah kelompok teater Mak Yong di Kampung Mantang Arang yang ia beri nama “Sabda Puri” (Sanggar Amanah Budaya Kepulauan Riau).

Di sisa usianya, Pak Kahlid pernah pula terlibat langsung dalam meluahkan pengetahuan dan kepandaiannya dalam membawakan cerita-cerita dalam teater Mak Yong kepada sejumlah anak-anak muda Kepulauan Riau yang ketika itu bersekolah di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) di Tanjungpinang tahun tahun 1990-an. “Agar Mak Yong tak punah,” ungkap Pak Khalid pada suatu ketika.***

Tinggalkan Balasan