Tombak berambu, tongkat, pedang, sundang, keris, ekor belangkas,dulang, dan pinggan, peninggalan zaman Temenggung Abdul Jamal di Pulau Bulang. FOTO: ASWANDI SYAHRI

PULAU BULANG yang kini berada dalam wilayah Kota Batam, pernah memainkan peranan yang peting dalam perjalan sejarah di Selat Melaka. Namun, peran dan arti pentingnya dalam sejarah, yang telah tercatat sejak 1526, seakan hilang dalam ‘arus besar’ sejarah Riau-Lingga-Johor-dan-Pahang. Tulisan ini bermaksud memperkenalkan secara ringkas, kedudukan dan arti penting Pulau Bulang dalam “arus sejarah” di Selat Melaka sejak tahun 1526, dan kaitannya dengan Temenggung Johor, di Pulau Bulang, sebelum pindah ke Singapura pada 1818.

Bulang

Setidaknya terdapat tiga toponim atau nama tempat dalam wilayah Kepulauan Riau-Lingga yang menggunakan kata Bulang. Dan dengan kadarnya masing-masing, ketiga tempat ini pernah menjadi bagian dan memainkan peranannya dalam perjalanan sejarah puak Temenggung dalam kerajaan Johor yang baru di Riau.

Ketiga nama tempat itu adalah: Pertama, sebuah tempat bernama Kampung Bulang yang terletak antara Tanjung Unggat dan Kampung Melayu (dalam wilayah kota Tanjungpinang sekarang). Sekitar tahun 1761, Kampung Bulang ini menjadi tempat kediaman Sultan Ahmad bersama puak Melayu yang antara lain terdiri dari Bendahara Tun Abbas, Temenggung Abdul Jamal beserta tiga anak laki-lakinya (Daeng Celak-Daeng Kecik- dan Engku Muda Raja Muhammad) yang ketika itu masih kecil.

Kedua, sebuah tempat yang juga bernama Kampung Bulang terletak di Pulau Penyengat. Dalam Tuhfat al-Nafis, Raja Ali Haji mencatat jejak Temenggung Abdulrahman di kampung ini menjelang ia ke Singapura membawa

Tengku Husin, sang calon Sultan Johor-Singapura, pada tahun 1819. Ketiga, adalah Pulau Bulang yang terletak di selat sempit di perairan sebelah Barat Pulau Batam.

Semua bahan sumber lisan dan sumber-sumber tertulis tentang asal usul-usul nama Bulang menunjuk kepada nama sebuah pulau yang berhampiran dengan pulau Batam. Dan sumber lisan atau cerita pusaka yang paling populer bekenaan dengan asal usul nama pulau Bulang, adalah berkaitan dengan kesalahan ucap @Lapsus Linguae lidah orang-orang Bugis ketika menyebutkan kata Bulan menjadi Bulang.

R.J. Wilkinson, dalam kamusnya menyebutkan bahwa toponim atau nama pulau Bulang berasal perkataan Bulang yang artinya antara lain adalah kain atau sapu tangan yang dililitkan dikepala; kain sarung yang dililitkan di pinggang; destar atau tengkolok yang dilekatkan di kepala seorang bangsawan. Selain menjadi nama pulau, perkataan Bulang ini juga digunakan untuk menyebutkan Batu Bulang, sejenis kristal dari Pulau Bulang yang digunakan sebagai bahan mentah untuk pembuatan berlian atau intan imitasi.

Sebelum Riau Dibuka

Sejumlah bahan sumber sejarah dalam bahasa Melayu dan catatan-catatan orang Eropa, menyebutkan bahwa Pulau Bulang pernah memainkan peranan yang cukup penting dalam perjalanan sejarah di kawasan Selat Melaka. Dalam Sejarah Melayu atau Sulalatus Salatin umpamanya, nama Pulau Bulang dicatat dalam kaitannya serangan-serangan Portugis terhadap pusat pertahanan Sultan Mahmud Syah Melaka yang menyingkir ke Pulau Bintan. Ketika itu, kawasan perkampungan orang-orang Melayu di Pulau ini pernah dibakar habis oleh sayap armada laut Portugis di bawah komando Don Sancho Enriquez yang berkekuatan 25 buah perahu, galley, dan fusta, sebelum menyerang pusat pertahanan Sultan Mahmud Syah Melaka yang bernama Kopak dan Kota Kara di pulau Bintan pada tahun 1526.

Sebuah laporan Portugis juga mencatat, bahwa kawasan pulau Bulang telah terkenal sebagai pelabuhan dagang sejak 35 tahun sebelum Laksamana Tun Abdul Abdul Jamil dari Johor diperintahkan oleh Sultan Ibrahim membuka sebuah negeri di pulau Bintan yang kemudian dikenal sebagai bandar dagang bernama Riau pada tahun 1673.

Resende, orang Portugis yang menulis laporan itu, mencatat ada pelabuhan dagang yang penting berhampiran dengan Selat Singapura: pelabuhan itu disebut sebagai Bulla atau Bulang, dan terletak dekat Pulau Batam. Menutut Resende, pelabuhan ini ramai dengan penduduk Melayu dan seringkali dibanjiri oleh sejumlah pedagang dari seluruh rumpun masyarakat dari wilayah Selatan pelabuhan itu. Dua ratus tahun kemudian, perairan di sekitar Teluk Bulang juga tampil memainkan peranan yang sama, seperti pada zaman Resende melaporkan situasi pulau ini pada tahun 1673. Pada tahun 1843 umpamanya, Horsburg menulis, “Teluk Boolang, di Pulau Battam, atau Pulo Battam, terletak kira-kira 13 atau 14 miles sebelah tenggara Singapura, menyediakan tempat berlabuh yang aman, dan akhir-akhir ini sering dikunjungi kapalkapal Amerika; di sini mereka memperoleh barang muatan, dan berdagang dengan Singapura, dalam rangka menghindari biaya tambahan bila langsung pergi ke Singapura, karena Teluk Bulang berada di luar batas wilayah kekuasaan Inggris”.

Wilayah Perentah Temenggung

Pada zaman pemerintahan Sultan Riau-Johor-Pahang yang pertama, Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah (1722-1760), Pulau Bulang juga masih menjadi kawasan yang penting dan menjadi tempat perlindungan alamiah yang strategis menjelang menyingkir ke kawasan tertentu bila terjadi krisis politik di Riau, yang ketika itu ibu kota Kerajaan Johor yang baru.

Sekitar tahun 1724, umpamanya, Sultan Sulaiman pernah berada di Pulau Bulang sebelum menyingkir ke Kampar setelah terjadi perselisihan dengan pembesarpembesar Bugis. Menurut Eliza Netscher, hal ini dimungkinkan karena terdapat sebuah benteng kokoh, yang disebut Kota Karang di Pulau Bulang.

Dalam perjalanan sejarahnya, Pulau Bulang kemudian menjadi kurnia Sultan Sulaiman kepada keluarga Temenggung sejak 1722. Dan sejak itu pula ianya telah menjadi “markas besar’ keluarga Temenggung, cabang kecil dinasti Bendahara yang memerintah wilayah Riau-Lingga-Johor-dan-Pahang. Menurut Carl Trocki (1979), selama lebih dari empat generasi, yang dimulai dengan Tun Abbas, Temnggung Tun Abdul Jamal, Engku Muda Raja Muhammad, Pulau Bulang telah menjadi basis penting bagi keluarga Temenggung. Kedudukan ini terus berlangsung hingga pada masa-masa menjelang Temenggung Abdulrahman pindah ke Singapura pada tahun 1818.

Kedudukan pulau Bulang dalam sejarah Temenggung di Johor-Riau- Lingga-dan Pahang, barangkali dapatlah disamakan dengan kedudukan dan arti penting pulau Penyengat dalam sejarah keluarga Yang Dipertuan Muda Riau, jika perbandingan ini harus dibuat.

Lebih-lebih setelah terjadi pembagian wilayah “kuasa” antara Yang Dipertuan Muda dan Yang Dipertuan Besar Riau-Johor-Lingga-dan Pahang pada tahun 1803. Ketika itu, keluarga Temenggung di Pulau Bulang perlahan-lahan telah tumbuh menjadi sebuah “penguasa baru” selain Yang Dipertuan Muda dan Sultan dalam struktur poltik kerajaan Riau-Lingga-Johor-dan-Pahang. Pulau Bulang adalah pangkalan wilayah ‘perentah’ Temenggung Johor yang penting sebelum Traktat London 1824.***

Artikel SebelumPepy Terima Anugerah Jembia
Artikel BerikutKapan-Kapan
Aswandi Syahri, lahir di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, pada 29 Januari 1970. Alumni ilmu sejarah pada Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra (kini, Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Andalas. Pernah menjadi jurnalis, dan kini masih menjabat sebagai sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Provinsi Kepulauan Riau. Menulis sejarah sejak di bangku SMA, dan telah menghasilkan sejumlah buku tentang sejarah dan kebudayaan Melayu di Kepulauan Riau

Tinggalkan Balasan