Dompak dulunya sebuah kampung para perompak. Kini jadi pusat pemerintahan Provinsi Kepri. (foto:jawapos.com)

SEMALAM, Jumat, 24 September 2021, kita memperingati Hari Jadi ke-19 Provinsi Kepulauan Riau. Penetapan tanggal itu sebagai hari jadi provinsi ini bersempena dengan peristiwa disahkannya Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2002 (UU 25/2002) tentang Pembentukan Provinsi Kepulauan Riau. Ketika mengingat hari bahagia itu, sekejap rasanya hilang segala risau dan galau. 

Pengesahan UU 25/2002 itu tentulah dilakukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) pada tanggal dan bulan yang sama 19 tahun silam, tepatnya Selasa petang. Walau pemerintahannya baru diresmikan lebih kurang dua tahun kemudian, 1 Juli 2004, Undang-undang tentang pembentukan provinsi ini lebih dulu disahkan.

Setiap peringatan Hari Jadi Provinsi Kepulauan Riau, sama ada diundang atau tidak, kebetulan semalam saya diundang, kenangan yang paling indah yang terekam di minda dan dibenarkan oleh hati saya adalah ini. Ada dua peristiwa di tempat yang sama. 

Pertama, di dalam Ruang Rapat Paripurna DPR RI ketika Wakil Ketua DPR ketika itu, Tosari Widjaya, yang memimpin rapat mengetukkan palu tanda disetujuinya Kepulauan Riau menjadi provinsi. Sungguh peristiwa yang mengharukan kami yang memenuhi ruang itu mengingat begitu berliku-likunya perjuangan untuk membentuk provinsi ini. 

Tak ada kata dan kalimat yang tepat untuk melukiskan keharuan, kegembiraan, dan kebahagiaan itu, kecuali ditunjukkan dengan isak-tangis, pekik Allahu Akbar yang membahana, dan sujud syukur. 

Kedua, ketika kami memasuki Masjid Baitul Rahman di Kompleks Gedung DPR/MPR RI untuk melaksanakan shalat Magrib. Rutinitas beribadah shalat wajib itu, petang itu, kami mulakan dengan kembali melakukan sujud syukur sekali lagi. 

Mengetahui kebahagiaan itu, sebagian besar jamaah masjid menyalami kami dan mengucapkan tahniah. Hati siapakah yang tak berbunga-bunga? Itulah klimaks dari perjuangan bersama rakyat Kepulauan Riau yang paling membanggakan. Itulah hadiah yang paling berharga dari perjuangan serempak dan serentak. Ibarat kata pepatah, “langkah serentak, dayung serempak,” yang penuh rintangan dan hambatan sejak 15 Mei 1999, ketika ikrar suci itu dikumandangkan. 

Bahkan, lebih jauh lagi jika dihitung upaya-upaya yang pernah dilakukan oleh generasi terdahulu, tetapi terus saja gagal. Agaknya pula, itulah puncak dari kebersamaan dan kebahagiaan bersama, yang sangat sulit disanding dan dibandingkan dengan hari demi hari yang dilalui kemudian. Memang benar kata orang tua-tua, “Sekali air bah, sekali pantai berubah,” biasalah!

Pada setiap Peringatan Hari Jadi, saya selalu tenggelam dalam luapan emosional 19 tahun silam. Kalau tak semua, setidak-tidaknya sebagian dari kawan-kawan yang lain pun, saya yakin, diliputi perasaan yang sama. Takkan pernah ada acara Peringatan Hari Jadi di mana pun itu dilaksanakan seandainya perjuangan pembentukan Provinsi Kepulauan Riau yang dimulai 22 tahun silam itu gagal. Takkan ada wajah-wajah yang penuh ceria yang memenuhi ruang dan lapangan peringatan jika perjuangan itu tak membuahkan hasil. 

Bahkan, wajah-wajah yang ketika perjuangan yang dilancarkan dahulu sangat cemberut, masam, juga garang melawan malah kini terlihat jauh lebih bercahaya. Memandang tempat peringatan yang dihias meriah, saya jadi berpikir, mungkinkah hadirin boleh tersenyum merekah seandainya Provinsi Kepulauan Riau gagal diperjuangkan?

Fenomena orang-orang yang hadir dan tak hadir di dalam acara peringatan ulang tahun provinsi ini paling menarik perhatian. Di antara teman-teman seperjuangan, ada yang tak hadir di tempat itu. Beberapa di antara mereka memang lebih dulu berpulang ke Rahmatullah. Banyak pula yang mungkin undangannya tak sampai atau, bahkan, memang tak diundang karena jumlahnya sungguh sangat banyak. Jika kesemuanya dijemput, pastilah ruang acara penuh sesak, apatah lagi ketika kita masih berjuang melawan pandemi Covid-19.

Di antara yang hadir pula, ada juga yang pada masa perjuangan dulu berada pada dua kubu yang berseberangan. Kubu pertama, teman-teman yang mempertaruhkan segala-galanya untuk mewujudkan terbentuknya Provinsi Kepulauan Riau. Kami menyebutnya “Perjuangan Menjemput Marwah”. Itulah sebabnya, di kalangan para pejuang setiap 15 Mei saban tahun diperingati sebagai “Hari Marwah”. 

Kubu kedua, mereka yang berjuang juga, tetapi berupaya dengan segala helah dan daya untuk menggagalkan pembentukan Provinsi Kepulauan Riau. Kini kita bertembung, bahkan bersembang, di dalam satu ruang pada acara Peringatan Hari Jadi Provinsi Kepulauan Riau yang dulunya diperjuangkan untuk diwujudkan oleh satu pihak dan digagalkan oleh pihak lain. Alhamdulillah, kini keduanya menjadi pihak yang sama. “Langkah sepijak, kayuh serempak.” Itulah fenomena manusia, unik dan menarik.

Kebiasaan ini agak mengganggu sehingga saya berasa kurang selesa di tempat dan pada waktu yang seharusnya saya bahagia. Kebiasaan menerka-nerka. Barangkali, terkaan pertama saya, mereka yang dulunya menentang berasa cemas jika Provinsi Kepulauan Riau terbentuk karier politik dan birokrasi mereka akan hancur luluh. 

Mungkin juga yang kedua, mereka khawatir kemapanan sosial-ekonomi sebelum provinsi ini terbentuk akan menyusut dan menguap. Pasalnya, mereka khawatir tak ada tempat untuk berimprovisasi seperti di dalam lingkungan lamanya. Lingkungan yang mungkin telah terbukti banyak berbuat “bakti” bagi mereka dengan limpahan “karunia”.

Kalau memang pikiran itu yang bergelayut di minda dan hati mereka kala itu, kini Allah SWT telah menunjukkan bahwa jangan mendahului kuasa-Nya untuk hal-hal yang tak patut diketahui oleh manusia. Kini mereka malah mendapat hadiah, entah berupa ujian atau anugerah, dari hasil sebuah perjuangan dari pejuang-pejuang sejati yang tak pernah memikirkan kepentingan dirinya sendiri, baik dulu, kini, maupun nanti. Kawan-kawan yang dahulu mereka lawan habis-habisan, bahkan mungkin juga sampai kini. 

Hadiah apakah yang mereka dapatkan itu? Karier dan kelimpahan sosial-ekonomi yang jauh lebih tinggi dan lebih besar daripada yang sanggup mereka pikirkan sebelum ini. Bahkan, banyak di antara mereka yang full team (dalam hitungan “persahabatan” atau apa) masuk dalam barisan “pengisi kemerdekaan” pada pelbagai lini kehidupan yang disediakan oleh provinsi ini setakat ini. Padahal, pejuang sejatinya ada yang undangannya tak sampai, jangankan mendapatkan kemudahan hidup.

Terlepas dari semua fenomena yang kadang-kadang menggelihatikan itu, capaian matlamat  pembentukan Provinsi Kepulauan Riau harus digesa dan ditingkatkan terus. Kesejahteraan masyarakat secara merata yang tersimpul pada tiga pilar: peningkatan pendapatan keluarga, pemerolehan pendidikan yang lebih baik dan mudah, dan pelayanan kesehatan yang lebih selesa harus menjadi perhatian utama oleh sesiapa pun yang memimpin negeri ini. 

Saya percaya bahwa pasti akan ada hidayah, inayah, dan rahmat dari Allah bagi para pemimpin yang memperjuangkan matlamat mulia itu walau apa pun cabaran yang dihadapi. Sebaliknya pula, kealpaan yang satu akan menjemput kealpaan yang lain. Itu janji-Nya,  yang cepat atau lambat pasti terbukti, kita percaya atau tidak. Pasalnya, kesemuanya ini amanah rakyat yang disaksikan oleh Sang Khalik.

Jika sungguh diyakini, semangat seiya-sekata, seaib-semalu, dan senasib-sepenanggungan yang bersebati dalam perjuangan dahulu akan bangkit kembali. Keyakinan itu nescaya akan meniupkan roh yang lebih hebat dan suci jika diterapkan dalam pembangunan daerah ini. Selamat berhari jadi ke-19 negeriku, negeri kita, negeri bahari. Dirgahayu Provinsi Kepri!***          

Artikel SebelumPerahu Jelo Purbakala Ditemukan di Lingga
Artikel BerikutKapitan Oei Tiksing
Budayawan, Peraih Anugerah Buku Negara Malaysia 2020 ,Pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Maritim Raja Ali Haji Tanjungpinang pada masa jabatan 2007-2021, Anggota LAM Kepulauan Riau masa khidmat 2017-2022, Peraih Anugerah Jembia Emas tahun 2018, Ketua Umum PW MABMI Kepulauan Riau

Tinggalkan Balasan