PELBAGAI jenis dan cabang seni-budaya Melayu, khasnya seni budaya tradisional, mengandungi nilai-nilai budaya terala dan mengikuti ketentuan adat-istiadat Melayu. Oleh sebab itu, segala yang berhubung dengan adab, sopan-santun, dan budi pekerti sangat diperhatikan di dalam setiap jenis dan cabang seni-budaya yang telah ada sejak dahulu.  

Jenis dan cabang seni-budaya itu tetap kekal hingga setakat ini. Pasalnya, ianya mengandungi nilai-nilai yang dianggap baik lagi mulia sehingga digunakan sebagai pedoman berpikir, bersikap, dan berperilaku. Semua perkara itu berhubung erat dengan kecerdasan, kearifan, dan keyakinan bangsa Melayu dalam menjalani kehidupan di dunia ini.  

Banyak jenis dan cabang seni-budaya Melayu. Di dalamnya ada, antara lain,  dua jenis sastra yang tergolong istimewa. Keistimewaan yang terkandung di dalamnya menyerlahkan nilai-nilai budaya yang luhur lagi mulia. Yang pertama pantun namanya.

Pucuk pauh delima batu
Anak sembilang di telapak tangan
Walau jauh beribu batu
Hilang di mata di hati jangan

Pantun di atas sangat jelas menampilkan kecerdasan dan kearifan bangsa Melayu. Amanatnya tiada lain untuk menegaskan bahwa perhubungan silaturahim tak boleh putus walaupun manusia hidup di tempat yang berjauhan. Lebih daripada itu, pantun itu juga menyiratkan bahwa hidup berjauhan di antara orang yang saling mengasihi dan atau mencintai sesungguhnya menyakitkan karena sama-sama menanggung rindu, bahkan boleh jadi lebih dari sekadar merindu. 

Di situlah ditempatkan kecerdasan dalam menggunakan sampiran pantun tersebut. Pucuk pauh tinggi karena pohonnya memang tinggi, sedangkan pucuk pohon delima batu rendah. Sampiran ini digunakan untuk membayangkan orang yang hidup berjauhan di tempat tinggal berbeda. Sebagai akibatnya, mereka yang saling menyayangi itu akan menderita sakit, sakit apa pun, karena menanggung rindu serindu-rindunya. 

Perkara sakit menanggung rindu itu dibayangkan dengan sampiran anak sembilang di telapak tangan. Bukankah sembilang adalah ikan laut yang memiliki sengat yang luar biasa rasa bisanya? Bisa itu akan dirasakan oleh setiap orang yang terkena sengat ikan sembilang. Begitulah perumpamaan sakit menanggung rindu. 

Pantun “Pucuk Pauh” menunjukkan begitu luar biasanya pula kecerdasan orang Melayu, khasnya dalam memahami dan memaknai kehidupan ini. Ianya dikiaskan dengan fenomena alam dan lingkungannya. Dengan nyaris punahnya pohon pauh, masihkah orang Melayu berasa rindu kepada sanak-saudara dan bangsanya?

Kalau roboh Kota Melaka
Papan di Jawa kami dirikan
Kalau sungguh bagai dikata
Nyawa dan badan kami serahkan

Pembayang pantun di atas mengisyaratkan makna bahwa orang Melayu itu (1) pekerja keras (memiliki etos kerja yang baik) dan (2) tak pernah berputus asa. Perhatikanlah sampiran pantun “Kota Melaka” di atas. Jika Kota Melaka roboh, akan didirikan pula kota di Jawa. 

Isinya pula menampilkan amanat bahwa (1) orang Melayu suka berterus terang (apa yang dikata(kan) itu pulalah yang akan dikota(kan), ‘dilaksanakan’.) dan (2) bangsa Melayu rela berkorban apa saja, termasuk berkorban nyawa, demi bangsa dan negaranya (konsisten dan konsekuen) asal pemimpinnnya jujur (kalau sungguh bagai dikata). Di situlah letaknya nilai jati diri dan patriotisme pantun “Kota Melaka” tersebut.

Makan sirih berpinang tidak
Pinangnya ada di Melaka
Makan sirih mengeyang tidak
Sebab budi dengan bahasa

Pantun di atas menjelaskan lambang dan makna ragam hias yang bercorak (motif) Pucuk Rebung Duduk yaitu salah satu variasi dari corak Pucuk Rebung dalam Ragam Hias Melayu (untuk tenun, batik, sulam, hiasan dinding, dan sebagainya). Dengan pantun itu, orang akan mengetahui setiap lambang yang digunakan dalam ragam hias Melayu beserta maknanya (Malik, Effendy, Junus, & Thaher, 2003). Dalam hal ini, lambang yang digunakan itu kesemuanya bermakna baik dan mulia menurut orang Melayu. Oleh sebab itu, menempatkan ragam hias itu hendaknya serasi dengan patutnya.Pertama pantun, kedua syair, yang juga menampilkan nilai budaya dan adat-istiadat yang dijunjung tinggi. Berikut ini dua bait syair yang menyerlahkan di antara nilai budaya yang mustahak diperhatikan. Keduanya dipetik dari karya Raja Ali Haji rahimahullah, yakni Tsamarat al-Muhimmah (1858).

Inilah nasihat ayahanda tuan
Kepada anakanda muda bangsawan
Nafsu yang jahat hendaklah lawan
Supaya anakanda jangan tertawan

Nasihat yang terkandung dalam bait syair di atas ini. Orang muda-muda seyogianya senantiasa mengendalikan hawa-nafsu supaya tak terjerumus ke dalam perbuatan tercela. Jika tidak, sampai mati hidup merana.

Kehidupan rakyat janganlah lupa
Fakir miskin hina dan papa
Jangan sekali tuan nan alpa
Akhirnya bala datang menerpa

Syair di atas pula mengingatkan para pemimpin supaya memperhatikan kesejahteraan rakyat. Setiap pemimpin wajib menolong rakyat, terutama mereka yang kurang beruntung dalam hidupnya. Seseorang pemimpin memang dipilih dan diangkat untuk membangun negeri dan bangsanya, bukan sebaliknya. Pendek kata, semua nilai kebajikan yang diajarkan oleh budaya dan adat-istiadat Melayu dapat disampaikan dengan syair.

Bangsa yang mampu memahami dan menerapkan nilai-nilai terala budayanya dalam kehidupan inilah yang boleh dibanggakan. Kenyataan itu terekam di dalam pantun berikut ini.

Besar ulat di daun kayu
Anak Belanda main teropong
Besar daulat Raja Melayu
Kapal ditarik dengan jongkong

Bangsa yang besar adalah mereka yang menyadari akan kedaulatan dan marwah diri. Kedaulatan dan marwah itu harus dibela dengan sepenuh hati. Oleh sebab itu, apa pun tantangannya wajib dihadapi. Kalau tak sanggup, daripada hidup sekadar membebani, lebih baik memilih cara terhormat untuk mati. Itulah keyakinan orang Melayu sebagai bangsa bahari.***

Artikel SebelumRisalah ICMI Tanjungpinang
Artikel BerikutKarya Pengarang Riau-Lingga
Budayawan, Peraih Anugerah Buku Negara Malaysia 2020 ,Pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Maritim Raja Ali Haji Tanjungpinang pada masa jabatan 2007-2021, Anggota LAM Kepulauan Riau masa khidmat 2017-2022, Peraih Anugerah Jembia Emas tahun 2018, Ketua Umum PW MABMI Kepulauan Riau

Tinggalkan Balasan