Sampul depan buku katalog Kitab-Kitab Hikayat, Syair, dan Surat Kabar berbahasa Melayu yang tersedia dan dijual di Kedai Buku H.M. Sirat di Singapura tahun 1920-an. FOTO: DOK. ASWANDI SYAHRI

Katalog Kedai Buku H. M. Sirat di Singapura Tahun 1920-an

SEPERTI telah ditunjukkan oleh William R. Roff dalam bukunya yang sangat terkenal, The Origins of Malay Nationalism (1967), revolusi media cetak dan dunia percetakan buku serta surat kabar di Singapura sejak abad ke-19 hingga dekade ketiga abad ke-20, sangat besar sumbangannya terhadap munculnya Nasionalisme Melayu dan gejolak intlektual Melayu di rantau ini.

Ian Proudfoot dalam sebuah esainya menyebutkan bahwa abad ke-19 hingga dekade ketiga abad ke-20 sebagai zaman yang “membimbangkan” dan sekalugus “merangsang” masyarakat Melayu dalam berbagai aspek kehdupan. Dalam zaman seperti inilah hidup Haji Muhammad Sirat, salah seorang sosok penting dalam sejarah penerbitan, percetakan, dan penjualan buku-buku berbahasa Melayu di Singpura pada akhir abad ke-19 hingga dekade ketiga abad ke-20.

Nama lengkapnya adalah Haji Muhammad Sirat bin Haji Muhammad Salih al-Rambani: jadi, al-Rambani di akhir namanya itu menunjukkan bahwa dia adalah orang Jawa yang

berasal dari Rembang di pantai utara Jawa. Dengan kata lain, Muhammad Sirat adalah imigran, atau bukan anak watan Singapura. Sama seperti tokoh-tokoh lainnya, yang juga rekan seprofesinya, seperti Haji Muhammad Said bin Haji Muhammad Arsyad dan Haji Muhammad Taib bin Haji Muhammad Zain yang berasal dari Semarang dan Pati.

Di bandar Singapura yang kosmopolit pada akhir abad ke-19, H. M. Sirat adalah salah seorang “imigran yang gelisah” secara intelektual. Kegelisahan itu disalurkannya dengan terjun ke dalam dunia penulisan, pencetakan buku, dan sekaligus mengendalikan penjualan buku-buku berbahasa Melayu di Singapura.

Pada tahun 1888 hingga sekitar tahun 1895 ia juga pernah pernah menjadi pengarang (redaktur) pada surat kabar Jawi Peranakan (salah satu surat kabar Melayu tertua di Alam Melayu) yang ketika itu terbit di Singapura dibawah penerbit barunya, Mohamed Salleh bin Muhammad Said Munsyi.

Karier Muhammad Sirat dalam dunia perjetakan perdagangan buku-buku berbahasa Melayu di Singapura telah dimulai sejak akhir abad ke-19, ketika ia menjadi salah seorang pengusaha percetakan buku yang masih menggunakan teknik cetak batu (litografi). Dalam sejarah penerbitan dan percetakan buku-buku berbahasa Melayu yang dicetak secara litografi ini, namanya dicatat sebagai salah seorang tokoh penting diantara 20 pemilik percetakan yang ada di Singapura dan Malaya antara tahun 1870 hingga 1905.

Selain sebagai pencetak dan sekaligus penerbit, Muhammad Sirat juga seorang penjual dan penyalur buku melalui kedai buku dengan merek dagang, Kedai Haji Muhammad Sirat. Mula-mula kedai buku terletak di Jalan Sultan, lantas kemudian berpindah ke Bussarah Street, di Singapura.

Melalui kedai buku tersebut, ia tidak hanya menjual buku-buku dan kitab yang dicetak dan diterbitkannya sendiri, tapi juga menjual dan menyalurkan buku-buku yang dicetak oleh pencetak lain di Singapura dan dari luar Singapura.

Kedai buku tersebut mempunyai jaringan penjualan yang luas, jauh hingga ke Negeri Asing (luar Singapura). Bahkan, pada tahun 1920-an, selain di Semenanjung, kedai buku tersebut juga panya perwakilan penjualan di wilayah Hindia Belanda (Indonesia), sepert di: Betawi (Jawa), Tebing Tinggi (Deli), Tanjungpura (Langkat), dan Siak Sri Indrapura.

Selain dalam sejumlah buku terbitannya yang kini masih tersimpan di sejumlah perpustakaan dan koleksi pribadi, jejak Muhammad Sirat dalam sejarah perbukuan Melayu di rantau ini juga dapat ditemukan juga dalam katalog (daftar atau buku yang memuat daftar judul buku) yang dicetak khusus untuk memperkenalkan dan mempromosikan khazanah buku berbahasa Melayu yang ada dalam stok kedai bukunya.

Selembar katalog (seukuran halaman halaman surat kabar) yang dikeluarkan oleh kedai bukunya pada akhir abad ke-19, pernah diperkenalkan oleh Ian Proudfoot melalui sebuah esai berjudul A Nineenth-Century Malay Bookseller’s Catalogue, dan dimuat dalam jurnal Kekal Abadi, nomor 6, edisi 4 Desember 1987.

Selain itu, sebuah katalog lain yang dicetak untuk kedai buku Haji Muhammad Sirat oleh Mathba’ah al-Ahmadiah pada tahun 1920-an, atau ketika ketika percetakan yang dikelola keluarga diraja Riau-Lingga itu telah berpindah dari Minto Road ke Jalan Sultan, Singapura.

Katalog ini ditemukan dalam sebuah koleksi perseorangan di Daik-Lingga. Berbeda dari katalog yang telah diperkenal oleh Proufoot, katalog ini dicetak dalam format buku, dan judulnya menggunakan bahasa Melayu dan bahasa Inggris.

Dalam bahasa Melayu yang ditulis menggunakan huruf jawi, judul lengkap katalog tersebut adalah Daftar Harga Buku, Kitab-kitab, Hikayat-Hikayat, dan Syair-Syair, serta Surat-Surat Khabar dan Sebagainya Daripada Bahasa Arab, Melayu dan Jawa Cap Mekah, Mesir, Istambul, Bombai, Betawi, Singapura Dan lain-lainnya, dengan keterangan tambahan, Yang Sedia Dijual di Kedai Haji Muhammad Sirat Nombor 43 Basrah Stret Singapura. Sedangkan dalam bahasa Inggris, yang ditulis menggunakan huruf rumi (latin), judulnya adalah: Catalogue Of Arabic Malay & Javanese Books, dengan keterangan tambahan, Sold by H.M. Sirat No. 43 Bussorah Street Singapore.

Bagi sejarah perbukuan di Alam Melayu, informasi yang terkandung katalog ini sangat penting. Banyak informasi yang dapat disauk dari dalamnya. Katalog ini sesungghnya lebih sekedar daftar judul buku yang lengkap dengar harga jualnya, karena di dalamnya tidak hanya terdapat judul buku dan kitab Melayu yang dicetak di Singapura, tapi juga buku dan kitab dalam bahasa Arab dan Melayu yang berasal dari Turki, Bombai, Mekah, Batavia, dan Rusia, yang secara historis dapat menggambarkan dari mana aliran pemikiran dan arus intelektual yang masuk ke alam Melayu melalui buku-buku yang disebarluaskan oleh kedai buku Haji Muhammad Sirat pada zamannya.

Buku katalog setebal 60 halaman ini berisisikan ratusan judul buku dalam bahasa Arab dan Melayu. Judul-judul buku dan kitab yang lengkap dengan harga jualnya itu dipilah-pilah kedalam beberapa kelompok.

Pengelompok judul-judul kitab dan buku dalam katalog ini diawali dengan kelompok kita-kitab Qur’an al-Syarif yang dicetak di Rusia, yang kemudian dilajutkan dengan kelompok, Qur’an al-Syarif cetakan Bombai, berbagai mukadam, juz-amma, dan surah yasin. Kitab-kitab ilmu Nahu, Sharof, Fikih, kitab-kitab ilmu Mantik dan Hikmah, serta kitab-kitab Adab seperti Adab al-dunya wal-aldin al-Imam al-Mawardi, dan kitab-kitab berbahasa Melayu lainnya yang dicetak di Bombai.

Selain itu, ada juga kitab yang khusus dipakai untuk bahan pelajaran di sekolah, kitab syair, sejarah, dan hikayat yang dulis oleh penulispenulis Riau-Lingga sepert: Silsilah Raja Bugis Riau oleh Raja Ali Haji dan Syair Pintu Hantu oleh Raja Haji Muhammad Thahir.

Melalui katalog ini pula kita mendapatkan informasi bahwa karyakarya penulis Riau-Lingga seperti: Cakap2 Rampai2 Bahasa Melayu Johor karya Haji Ibrahim; Panduan Kanak-Kanak kayra Raja Haji Muhammad Sa’id bin Raja Muhammad Thahir Riau; Bustan al-Katibin Peraturan Mengaragng dan Nahunya karya Raja Ali Haji; Kumpulan Ringkas berbetulan Lekas (beberapa nasehat dan pelajaran) karya Raja Ali Kelana, adalah buku dan kitab yang digolongkan dan dipergunakan sebagai Kitab pelajaran Sekolah.***

Artikel SebelumKapitan Oei Tiksing
Artikel BerikutTanjungpinang pada Awal Perang Dunia II (1939-1940)
Aswandi Syahri, lahir di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, pada 29 Januari 1970. Alumni ilmu sejarah pada Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra (kini, Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Andalas. Pernah menjadi jurnalis, dan kini masih menjabat sebagai sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Provinsi Kepulauan Riau. Menulis sejarah sejak di bangku SMA, dan telah menghasilkan sejumlah buku tentang sejarah dan kebudayaan Melayu di Kepulauan Riau

Tinggalkan Balasan