Fragmen sebagian wilayah Kota Tanjungpinang sebagai ibukota Residentie van Riouw dalam peta tahun 1940-an.

PERANG DUNIA II telah memasuki bulan keenam sejak invasi Jerman ke Polandia pada 1 September 1939 yang kemudian dikuti pernyataan perang oleh Prancis dan Inggris dua hari kemudian.

Sementara itu di Asia, perang Jepang-Rusia semakin membuat peperangan yang pecah di Eropa tersebut melebar menjadi “perang global” yang melibatkan banyak negara dan daerah jajahannya. Apalagi setelah Jepang tampil menjadi pemimpin poros medan Perang Pasifik dalam rangkaian perang besar itu. Sepintas kilas, seperti itulah situasi dunia di belahan Eropa dan Asia-Pasifik pada awal Perang Dunia II (1939-1940).

Penduduk Tanjungpinang ketika itu baru saja memasuki tahun 1940, dan semuanya masih berjalan seperti biasa. “Pada awal tahoen [1940] ini beloem ada peroebahan jang berlakoe atas penghidoepan sehari-sehari,” tulis Hasyim Ali, seorang penduduk Tanjungpinang yang berkerja di Kantoor Boschwezen Residentie van Rioew di Tandjoeng Pinang (setelah merdeka menjadi Kantor Pemamangkuan Hutan), dalam catatan hariannya.

Kerajaan Belanda yang saat itu menguasai Hindia Belanda, termasuk Tanjungpinang, masih bersikap netral Mereka belum terlibat sama sekali dalam perang besar itu. Namun meskipun demikian situasinya, pemerintah Hindia Belanda di Tanjugpinang mulai melatih penduduk setempat agar siap sedia dalam menghadapi bahaya serangan udara.

Serangkaian pengumuman dibuat untuk mengantisipasi bahaya serangan udara, mengingat letak Tanjungpinang yang berhampiran dengan pusat pemerintahan Inggris di Singapura, dan berada dalam wilayah medan perang Pasifik yang dikuasai Jepang.

Untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk bila serang udara itu terjadi, pemerintah Hindia Belanda di Tanjungpinang telah menyiapkan kawasan pengungsian dan tempat-tempat persembunyian alamiah yang dipertimbangkan aman. Khusus untuk penduduk yang bermukim di pusat Kota Tanjungpinang, pemerintah Belanda telah menyiapkan kawasan persembunyian di Kampung Pantjur (di sekitar Jl. Ir. H. Juanda atau Jl. Pancur sekarang). Kampung Pantjur ini dipilih karena disana terdapat hutan yang lebat dengan rimbunan pohon kayu yang besar-besar, dan sumber air bersiah yang berlimpah.

Sebaliknya, bagi penduduk yang bermukim di kawasan loear kota Tanjungpinang, seperti di Kampung Djawa yang wilayah ketika itu mencakupi hingga kawasan Jl. Sumatra dan berbatasan dengan Kampung Kolam sekarang, tidak perlu mengungsi ke tempat persembunyian di Kampung Pantjur: menurut catatan harian Hasyim Ali, penduduk yang ada di kampung itu “tjoekoep dengan keloear roemah dan bersemboeni dibawah pohon jg rimboen, soepaja tak kelihatan dari oedara. Loebang bersemboenyi tak ada diperintahkan memboewatnya soenggoehpoen api peperangan di Eropah bertambah berkoebar dengan tertjampoernja beberapa negeri2 ketjil kedalam kantjah seperti Denemarken [Denmark] dan Noorwegen [Norwegia], akan tetapi ianja beloem terasa benar oleh pendoedoek disini.”

Perang di daratan Eropa semakin melebar, dan melibatkan negara-negara kecil seperti Norwegia serta Denmark. Meskipun demikian di Tanjungpinang masih tetap aman-aman saja. Surat-surat kabar berbahasa Melayu dan Belanda yang sampai ke Tanjungpinang masih bebas dan netral memberitakan perkembangan perang besar di daratan Eropa.

Namun bagaimanapun, situasinya mulai berubah sejak tanggal 10 Mei 1940. Ketika itu, Kerajaan Belanda yang netral diserbu oleh tentara Nazi Jerman. Serangan pasukan panzer Jerman ini telah memaksa Kerajaan Belanda terlibat dalam perang besar yang melanda Eropa dan Asia-Pasifik.

Perubahan siatuasi di Eropa itu telah berdampak terhadap situasi di daerah jajahan Belanda di Hindia Belanda, termasuk di Tanjungpinang. Pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan oendangoendang oentoek berdjaga-djaga, semacam undang-undang darurat perang atau staat van beleg. Di Tanjungpinang ketika itu, semua orang Belanda, baik yang berpangkat tinggi maupun yang berpangkat rendah, mulai dikenakan kewajiban memikul senjata (militia plicht)

Angin peperangan” Dunia II yang akhirnya sampai juga ke Tanjungpinang telah berdampak pula terhadap kehidupan sehari-hari penduduknya. Harga barang-barang naik 5 hingga hingga 10 persen dari harga sebelumnya: terutama harga bahan makanan yang didatangkan dari Eropa seperti bahan makanan dalam kaleng, susu, daging, dan lain sebagainya.

Menurut catatan Hasyim Ali, pemerintah Hindia Belanda di Tanjungpinang mengontrol dengan sangat keras, “mendjaga soepaja kaoem saudagar djangan sewenang-wenang menaikkan harga barang-barang makanan.” Bila ada yang melanggar, akan dihukum dan barang dagangannya dirampas.

Untuk menghadapi masa-masa selanjutnya yang belum jelas ujungnya itu, pemerintah HIndia Belanda juga  mengeluarkan “oendang-oendang soepadja ra’jat menjimpan persediaan makanan oentoek 2 ‘a 3 boelan, teroetama beras. Dan ra’jat haroes bertjotjok [tanam]”, tulis Hasyim Ali.

Selain itu, dan yang sangat luar biasa, sejak negeri Belanda terlibat dalam peperangan dan menghadapi invasi Jerman, maka di seluruh penduduk di Hindia Belanda, termasuk di Tanjungpinang, diwajibkan mengumpulkan oeang derma untuk membantu kesulitan yang dihadapi penduduk Negeri Belanda. Hasyim Ali mencatat, “Berdjoeta-djoeta roepiah telah dikoempoelkan serta telah dikirim kepada S.B.M.R. [Sri Baginda Maha Ratu] Wilhelmina. [Penduduk] Kota Tgpinang toeroet djoega berderma dgn beriboe-riboe roepiah”.

Kendati demikian, hingga akhir tahun 1940 keadaan dan penghidupan penduduk Tanjungpinang masih amanaman saja. Dalam catatan hariannya, Hasyim Ali menukilkannya sebegai berikut, “…Boleh dikatakan hingga ke achir tahoen 1940 ini, tidak ada peroebahan jg berlakoe atas penghidoepan anak negeri disini. Perekonomian anak negeri tiada terganggoe karenanja, harga makanan dan pakaian tiada beroebah sebagai dalam tahoen j.l. (1939). Keadaan penghidoepan ra’jat berdjalan dengan aman dan tentram.

Surat kabar dari berbahasa Belanda dan Melayu yang beredar di Tanjungpinang masih netral. Masih bebas memberitakan ikhwal perang yang pecah di Eropa ketika itu. Begitu juga dengan perkumpulan-perkumpulan dan organisasi masyarakat masih bebas mengadakan rapat-rapat dan kegiatan organisasinya. “…Soewara soerat kabar Belanda dan Melajoe masih bebas membitjarakan hal kedoedoekan peperangan dengan pendirian sama tengah, artinya neutral. Karena Negeri Belanda haroes pandai memegang tali teradjoe pemerintahannja. Beloem ada dolakoekan tindakan jg menjempitkan terhadap persjarikatan2. Masih bebas seperti biasa melakoekan permoesjawaratan masing2 menoeroet pendiriannja…” Kendati demikian, “…Pengiriman soerat telah moelai dicensuur di Postkantoor dalam tahoen [1940] ini…” ***

Artikel SebelumKarya Pengarang Riau-Lingga
Artikel BerikutPulau Penyengat dalam Jagaan Militer
Aswandi Syahri, lahir di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, pada 29 Januari 1970. Alumni ilmu sejarah pada Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra (kini, Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Andalas. Pernah menjadi jurnalis, dan kini masih menjabat sebagai sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Provinsi Kepulauan Riau. Menulis sejarah sejak di bangku SMA, dan telah menghasilkan sejumlah buku tentang sejarah dan kebudayaan Melayu di Kepulauan Riau

Tinggalkan Balasan