IBU-BAPAK menjadi penanggung jawab utama dalam mendidik anak-anak mereka. Jika baik pendidikan yang diperoleh anak di dalam keluarga, akan mudahlah anak-anak menyesuaikan diri di lingkungan pendidikan formal selanjutnya dan masyarakat sekelilingnya. Oleh sebab itu, GDB Pasal yang Kesepuluh, bait 3, meneruskan amanatnya.

Dengan anak janganlah lalai
Supaya boleh naik ke tengah balai

Ungkapan naik ke tengah balai adalah kiasan yang mengacu kepada ‘kehormatan, derajat yang mulia, dan atau marwah diri’. Hanya anak yang terdidik dengan baiklah yang dapat meningkatkan harkat dan martabat, kehormatan, dan marwah. Bagi siapakah semua predikat terhormat itu? Sudah tentulah bagi ibu-bapak (orang tua), bagi keluarga, dan terutama bagi si anak itu sendiri. Orang tua yang memerhatikan, bertanggung jawab, atau tak lalai terhadap anaknyalah yang boleh berasa bahagia dengan sesungguhnya. Sebagai ibu-bapak, mereka pun boleh dibilangkan nama, orang tua yang yang jati diri dan karakternya tiada bercacat-cela.

Bukan tanpa pedoman tanggung jawab orang tua terhadap anak-anak itu. Di antaranya terdapat di dalam firman Allah berikut ini.

“Dan, Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya. Demikian pula Yaqub. (Ibrahim berkata), “Hai, anak-anakku! Sesungguhnya, Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati, kecuali dalam memeluk agama Islam,” (Q.S. Al-Baqarah, 132).

Pelajaran utama inilah yang dapat kita petik dari ayat di atas. Orang tua wajib mendidik anak-anaknya sesuai dengan ajaran agamanya. Bagi umat Islam, misalnya, tentulah ajaran dan pedoman nilai dalam agama Islam. Intinya, pendidikan anak-anak merupakan tanggung jawab orang tuanya. Dengan demikian, apa pun cabarannya orang tua harus melaksanakan perintah Allah tersebut.

Ada orang beristri seorang saja. Namun, ada juga laki-laki yang beristri lebih dari satu orang. Suatu masa dahulu, istri kedua dan seterusnya disebut gundik oleh orang Melayu. Jelas berbeda dengan  pengertian gundik yang dipahami orang sekarang. Juga, suatu masa dahulu orang biasa saja menyebut kata kemaluan. Pasalnya, pada masa itu kata itu berarti ‘rasa malu’. Sekarang maknanya juga telah berubah. Kedua kata itu perlu diberi penjelasan berkaitan dengan GDB Pasal yang Kesepuluh, bait 4. Dalam makna bahasa klasik Melayulah kedua kata itu harus dipahami. Inilah bait GDB yang berkaitan dengan hal itu. 

Dengan istri dan gundik janganlah alpa, 
Supaya kemaluan jangan menerpa

Bait gurindam di atas jelas-jelas mengingatkan para suami agar menjaga istri(-istri)-nya dengan baik sesuai dengan ajaran agama. Jika istri(-istri) tak dijaga dengan selayaknya, perempuan atau perempuan-perempuan yang disayangi lagi dicintai itu boleh mendatangkan malu bagi suaminya, bahkan aib bagi seluruh keluarga. Suami yang pandai menjaga istrinyalah yang boleh menikmati kebahagiaan bersuami-istri atau berumah tangga dan dia boleh dibilangkan nama. Terjulanglah jati diri, karakter, dan marwahnya.

“Hai, orang-orang mukmin! Sesungguhnya, di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka, berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tak memarahi serta mengampuni (mereka), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” (Q.S. At-Taghaabun, 14).

Dengan ayat di atas, Allah mengingatkan para suami dan ayah bahwa istri dan anak berpotensi menjerumuskan suami atau ayahnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tak dibenarkan agama. Oleh sebab itu, menjadi tanggung jawab suami dan atau ayah-lah untuk mendidik dan menjaga istri dan anak(-anak)-nya dengan sebaik-baiknya, sepatut-patutnya, dan sebenar-benarnya sesuai dengan pedoman Allah.

Adakah lagi makhluk yang memungkinkan manusia berbahagia atau sengsara? Jawabnya, ada dan dia adalah kawan. Pasalnya, kawanlah orang terdekat kita setelah anggota keluarga. Bahkan, kawan yang baik budi dan berkarakter mulia boleh berperan lebih daripada keluarga. Sebaliknya pula, kawan yang tak setia dan lebih-lebih kawan yang tak diperlakukan secara adil, dapat membuat kita menderita. Berhubung dengan itu, GDB Pasal yang Kesepuluh, bait 5 (terakhir), juga menitipkan pesan.

Dengan kawan hendaklah adil 
Supaya tangannya jadi kapil

Yang dimaksudkan dengan tangannya jadi kapil adalah sanggup memegang amanah. Kawan yang diperlakukan secara adil akan memegang kepercayaan yang kita berikan. Pada gilirannya, dia akan dapat dijadikan wakil yang terpercaya. Dia akan menjaga diri kita di mana dan bila-bila masa saja agar kita terhindar dari hal-hal yang jahat, yang menyesatkan, dan atau yang membahayakan. Kawan seperti itulah yang dapat disebut sahabat sejati. Dia adalah sosok di luar keluarga, yang tak jarang berperan lebih baik dibandingkan keluarga atau sekurang-kurangnya laksana keluarga.

Pandai memilih kawan dan dapat berlaku adil terhadapnya memungkinkan manusia hidup bahagia. Pasalnya, kawan seperti itulah yang setia menemani kita dalam suka dan duka. Oleh sebab itu, orang yang pandai berkawan lagi teliti memilih teman tergolong manusia yang boleh dibilangkan nama. Dialah orang yang jati diri, karakter, dan martabatnya akan senantiasa terpelihara.

Kesemuanya itu berkaiatan dengan ajaran tentang nilai keadilan dan amanah yang harus dijunjung tinggi oleh setiap manusia. Itu pun jika manusia memang berhasrat untuk hidup berbahagia di dunia dan di akhirat. Kesemuanya termaktub dalam ajaran Allah.

“Allah tak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tak memerangimu karena agama dan tak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya, Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil,” (Q.S. Al-Mumtahanah, 8).

“Dan, orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. Dan, orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus, mereka kekal di dalamnya,” (Q.S. Al-Mukminuun, 8-11).

GDB Pasal yang Kesepuluh mengajarkan manusia tentang hikmah ini. Alangkah indahnya kehidupan manusia yang bermandikan cahaya kebahagiaan, lebih-lebih, berbahagia di dunia yang fana dan berlanjut di akhirat yang baka. Seyogianya, kebahagiaan itu diperoleh dari perhubungan dengan orang-orang terdekat dalam hidup ini, baik kerabat maupun sahabat. Kebahagiaan sejati itulah seyogianya menjadi idaman dan diperjuangkan oleh setiap manusia.

Manusia yang mampu mewujudkan kebahagiaan sejati pastilah dapat menjalani kehidupan ini dengan sempurna. Oleh sebab itu, tak heranlah jika namanya akan senantiasa terbilang, jati diri, karakter, dan marwahnya pun terjulang tanpa cacat dan cela. Dalam kehidupan ini, ajaran Allah dijadikannya sebagai pedoman utama. Dari dan bersama keluarga, dia membangun jalan bebas hambatan untuk pulang kembali ke surga.***   

Artikel SebelumKeluarga, Jalan Kembali ke Surga (I)
Artikel BerikutDatuk Kaya dan Industri Kapal di Pulau Tambelan Tahun 1900
Budayawan, Peraih Anugerah Buku Negara Malaysia 2020 ,Pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Maritim Raja Ali Haji Tanjungpinang pada masa jabatan 2007-2021, Anggota LAM Kepulauan Riau masa khidmat 2017-2022, Peraih Anugerah Jembia Emas tahun 2018, Ketua Umum PW MABMI Kepulauan Riau

Tinggalkan Balasan