aerial shot of sand dunes
Photo by Pixabay on Pexels.com

ENTOL naik, lalu masuk ke rumah dengan mengendap-endap. Tak lama di dalam rumah, dia keluar lagi dari pintu belakang, melalui dapur, terus ke belakang rumah menuju perigi untuk mandi. Sekujur badan dan pakaiannya berkubang, berselekeh, terkena tanah dan pasir. Sejak pulang dari sekolah dia pergi bermain bersama kawan-kawan sebayanya. Bakda magrib, baru dia pulang.

Keadaan di perigi sangat gelap ketika dia mandi. Bagi Entol mandi di kegelapan malam tak pernah menyulitkannya. Semua orang sekampungnya terbiasa dengan keadaan itu. Tak heranlah matanya bagaikan mata musang yang dapat melihat jelas di kegelapan malam.

Sekejap saja dia mandi, sekadar bersiram, membasuh badan dan kepala ala kadarnya. Bersabun pun dia tidak. Dia naik ke rumah terus ke biliknya untuk bersalin pakaian. Dia keluar lagi menuju dapur dan bersila menghadapi hidangan yang tersedia. Dengan takzim Entol membuka tudung saji. Alangkah terkejutnya dia.

Ibu dan bapaknya yang telah selesai salat Magrib memandang tingkah laku anak laki-laki mereka itu tanpa berkata sepatah pun. Ekor mata mereka saja yang mengikuti segala gerak-geri Entol.

 “Mak, tak ada makanankah? Entol lapar betullah Mak?” dia bertanya kepada ibunya karena di bawah tudung saji tak ada makanan. Biasanya sesusah-susahnya hidup mereka, walau tak ada nasi, sagu atau ubi dan lauk-pauk sekadarnya pasti ada.

“Apa? Makan? Tahu lapar juga kau ya!” sergah ibunya. “Kan engkau membawa pasir di badan dan pakaian yang engkau pakai tadi? Sudah Emak cakap, kalau hendak bermain, selesai salat Ashar baru bermain dan harus balik sebelum Magrib. Anak seumur engkau memang harus bermain, tetapi harus ada peraturan. Sudah sembilan tahun umur engkau, Entol, tak salat pula. Ashar tinggal, Magrib pun luput. Isya nanti pasti tak salat juga, sudah mengantuk karena penat. Belajar di rumah tak pernah Emak nampak lagi akhir-akhir ini.”

“Tak menunaikan salat, sudah besar nanti hendak jadi apa? Jadi pengikut iblis, punggawa setan ya? Itukah cita-cita tertinggimu, Entol? Ini semua salah bapak dia,” ibu Si Entol mengarahkan pandangannya ke arah bapak Si Entol sekejap, lalu melanjutkan, “terlalu memanjakan anak, inilah akibatnya. Tak ada makanan malam ini. Kalau hendak makan, engkau makan pasir di bajumu saja!” ibunya bingkas berdiri lalu masuk ke bilik.

Bapaknya juga mengikuti ibunya masuk ke bilik tidur. Lelaki yang mulai menua itu tak sepatah pun berkata-kata. Dia hanya memandang anak laki-lakinya itu dengan pandangan tajam menghunjam sejurus saja terus berbalik ke  arah bilik, lalu masuk menyusul istrinya. Jantungnya berdegup kencang karena menahan amarah yang amat sangat.

Waktu berjalan begitu cepat. Si Entol pun teruslah membesar. Bukan hanya badannya yang besar, dia pun telah menjadi orang besar. Rumahnya juga besar dengan bilik yang juga besar-besar. Ruang makannya pun besar, tak seperti rumah orang tuanya dulu yang ruang makannya menyatu dengan dapur dan dibatasi sedikit saja dengan ruang tengah.

Itu baru rumah besar yang dibangun di kampungnya. Rumahnya di tempat lain jauh lebih besar. Dia sengaja membeli rumah besar-besar di tempat-tempat lain yang tempatnya juga besar-besar karena tahu kampungnya kian mengecil. Suatu hari kelak tak ada lagi tempat yang layak dihuni, apatah lagi bagi orang besar seperti dirinya.

Kebesarannya dilengkapi dengan beberapa mobil yang juga besar-besar. Duitnya semuanya duit besar. Sesekali dia bersedekah duit kecil-kecil kepada orang-orang kecil agar kebesarannya terawat. Strategi merawat kebesarannya itu dilakukannya dengan menjual slogan “Tolacil” yaitu akronim dari “Tuan Besar Entol Pembela Orang Kecil”. Di kalangan masyarakat sekampungnya slogan itu sudah sangat dikenal. Tak heranlah ada orang kecil yang menyapanya dengan panggilan Tuan Tolacil.

Kadang kala ada juga masyarakat kampung yang kecewa terhadapnya. Penyebabnya pastilah mereka tak mendapatkan duit kecil dari Tuan Tolacil. Kalau sudah begitu, akronim Tolacil pun dipelesetkan artinya menjadi Si Tolol Berotak Kecil. Tentulah mereka tak berani mengatakan pelesetan itu secara terus terang di hadapan Tuan Entol. Pasalnya, kalau Tuan Besar itu tahu nyawalah taruhannya bagi si pengeritik, siapa pun orangnya. Tak sesiapa pun boleh mengeritik Tuan Besar Entol. Itu hukum yang berlaku dalam kehidupan besarnya kini. Kalau tak percaya, cobalah. Nescaya, nyawa akan melayang!

Memang selalu juga Entol tak memberikan duit kecil kepada masyarakat kecil yang konon hendak dibelanya. Keenakan diberi, rupanya banyak pula warga masyarakat itu yang terus-menerus meminta kepadanya. “Jika terus begini, gunung pun akan runtuh,” kutuk Entol kepada para peminta kecilnya.

Kalau berbicara pun sekarang, dia suka bercakap besar. Tak ada lagi kamus kecil yang melekat dalam diri seorang Entol. Yang kecil telah lama ditinggalkannya sebagai masa lalu yang tak hendak dikenangnya lagi. Hari ini dan ke depan adalah yang besar-besar. Hanya dengan sikap seperti itulah seseorang boleh menjadi besar, pikirnya. Oleh sebab itu, dia terus memburu kebesaran, apa pun caranya pasti ditempuhnya, tanpa mempertimbangkan risiko bagi dirinya, apatah lagi bagi orang lain. “Apa peduliku kepada orang lain!” itu tekad yang ditanamkannya ke dalam dirinya.

Rupanya ada rahasia besar di sebalik membesarnya Entol begitu pesat. Kesemuanya berkaitan dengan pasir. Dahulu walau disuruh makan pasir oleh ibunya karena orang tuanya itu marah kepadanya, dia tak pernah berani memakannya.

“Mana mungkin pasir dimakan,” pikirnya kala masih kecil. Kemudian, dia berubah pikiran. “Baik kucoba makan pasir seperti yang dianjurkan oleh Emak,” dia membatin, “mana tahu dengan makan pasir, aku boleh membesar dengan cepat. Soalnya, selalu minum susu Cap Nona yang menjadi kebiasaanku pun tak membuatku membesar secara fantastis.”

Betul, dia makan pasir: sekali, dua, terus berkali-kali, sampailah dia ketagihan. Sejak itu, dia tak pilih-pilih: pasir darat, pasir sungai, pasir laut, pasir gunung dihembatnya semua. Pokoknya pasir. Rupanya lagi, makan pasir terasa lezat dan nikmat bangat.

Hebatnya pula, kala hendak makan pasir dibayangkannya menikmati makanan yang lezat di restoran besar. Tiba-tiba, dia sudah berada di restoran besar dan menikmati makanan yang lezat pula, persis yang ada dalam pikirannya.  Jika dia membayangkan makan besar di restoran besar suatu negeri besar, dia pun tiba-tiba telah berada di negeri besar itu sambil menghadapi hidangan besar di restoran besar yang dibayangkannya. Bahkan, rumah besar, mobil besar, tanah besar, dan duit besar yang dibayangkannya kesemuanya terwujud.

Ajaib sungguh makan pasir. Makin besar pasir yang dimakan, akan makin besar pula keajaiban yang ditimbulkannya. Sungguh luar biasa! 

Setelah jadi orang besar, Entol menjadi aset nasional. Kawan-kawannya pun kesemuanya orang besar-besar yang bermain di peringkat nasional dan internasional. Kalau dulu kawan-kawannya hanyalah Bujang, Atan, Borol, Dara, Bangkup, Comel, yang budak-budak sekampungnya saja. Kini kawan-kawan semasa kecilnya itu tak menjadi kawannya lagi, tak selevel dengan dialah konon, malah menjadi musuhnya, kecuali Borol dan Bangkup yang kini mendapat status baru menjadi kaki-tangannya.

Kawan-kawan barunya kini ada Jacko, Buncock, Bowjung, Ackey, Cowkown, Carrey, dan masih banyak lagi, yang dulu pun orang kecil juga, tetapi kini kian membesar pula. Mereka membentuk organisasi: Pemakan Pasir Internasional Club. Untuk membesarkan kelab, mereka berbagi ladang pasir, berbagi wilayah permakanan, justeru di kampung Si Entol, bukan di kampung kawan-kawan barunya.

Tentulah jaringan mereka tak hanya di dalam negeri. Di Negeri Seberang banyak pula anggotanya. Kalau berkunjung ke Negeri Seberang, Entol disambut selayaknya menyambut Tuan Besar, ditempatkan di hotel besar, naik mobil besar, dan makan besar di restoran besar. Pasalnya, geng mereka di sana berasa berutang budi kepada Entol. Mereka menjadi makin besar karena makan pasir besar.

Anehnya lagi, tinja mereka yang meresap ke tanah menyebabkan Negeri Seberang bertambah besar berpuluh kali lipat, jauh lebih luas daripada kampung Si Entol. Itulah sebabnya, mereka mendapat untung besar. (BERSAMBUNG)

Artikel SebelumCahaya Malam Tujuh Likur
Artikel BerikutKerasukan Pasir (2)
Budayawan, Peraih Anugerah Buku Negara Malaysia 2020 ,Pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Maritim Raja Ali Haji Tanjungpinang pada masa jabatan 2007-2021, Anggota LAM Kepulauan Riau masa khidmat 2017-2022, Peraih Anugerah Jembia Emas tahun 2018, Ketua Umum PW MABMI Kepulauan Riau

Tinggalkan Balasan