Gurindam Dua Belas.

SAYA tiba-tiba terbayang akan peristiwa itu. Selasa, 23 Rajab 1263 Hijriah atau 6 Juli 1847 Masehi, tepatnya hari itu. Pulau Penyengat Indera Sakti nan mungil menjadi saksi telah diselesaikannya sebuah antologi puisi baru Melayu.

Karya itu tergolong jenis baru karena belum pernah ada dalam bentuk tertulis selama ini. Jika pun ada, karya sejenis sangat jarang ditemukan dari pelbagai jenis puisi yang tersebar luas di nusantara dan Dunia Melayu seperti pantun dan syair.

Pulau Penyengat, yang mulai 1806 menjadi pusat teraju Yang Dipertuan Muda Kesultanan Riau-Lingga, sejak 1820 memang telah menjadi tapak baru pengembangan tradisi intelektual Melayu. Ianya menggantikan kedudukan Kesultanan Melaka dan Riau-Lingga-Johor-Pahang. Tradisi itu dimulai oleh intelektual Bilal Abu yang menulis karya perdananya, diikuti oleh cendekiawan Raja Ahmad Engku Haji Tua dan sejumlah penulis lain, laki-laki dan perempuan, kalangan bangsawan dan rakyat cendekiawan.  

Antologi puisi baru itu merupakan karya kedua Raja Ali Haji ibni Raja Ahmad Engku Haji Tua (1808-1873). Setahun sebelumnya, beliau telah menerbitkan karya sulung syair naratif yang monumental, yakni Syair Abdul Muluk (1846).

Karya terbaru itu adalah Gurindam Dua Belas (GDB), yang berisi dua belas pasal. Setiap pasalnya berkaitan dengan sebuah tema utama yang diperinci atas bait-bait. Sejak itu terkenallah jenis puisi gurindam dalam sastra tulis Melayu. Dengan demikian, Raja Ali Haji merupakan pelopor penulisan puisi jenis gurindam di nusantara. 

Bersamaan dengan itu masyhur pulalah nama penulisnya. Bahkan, walaupun beliau telah menulis sekurang-kurangnya 20 puluh karya dan umumnya karya-karya  itu merupakan perintis di bidangnya, masyarakat lebih mengingat GDB. Apatah lagi, karya itu menjadi materi wajib dalam Pelajaran Bahasa dan Sastra Melayu/Indonesia dari jenjang pendidikan terendah sampai menengah di Indonesia sejak zaman Hindia-Belanda sampai sekarang. 

Tulisan beliau sesudah itu meliputi pelbagai bidang. Ada karya bahasa, sejarah, agama, sastra, politik, hukum, pemerintahan, dan sebagainya. Kalau disanding dan dibandingkan, maka akan terlihat rangkaian benang merah yang mempersatukan semua karya itu. Menariknya, GDB menjadi semacam induk atau rujukan utama semua karya penulis prolifik ini.

Maksudnya, topik-topik yang dibahas dalam karya-karya berikutnya, inti pokoknya telah ada di dalam GDB. Topik pemerintahan yang baik dalam Pasal yang Kedua Belas GDB, misalnya, dikupas lengkap dalam karya bidang hukum dan politik, Muqaddima Fi Intizam (1857) dan Tsamarat al-Muhimmah (1858).

Lalu, apakah gurindam itu sesungguhnya? Raja Ali Haji menyajikan takrifnya di dalam karya beliau tersebut.

“Adalah beza antara gurindam dengan syair itu aku nyatakan pula. Bermula arti syair Melayu itu perkataan yang bersajak yang serupa dua berpasang pada akhirnya dan tiada berkehendak pada sempurna perkataan pada satu-satu pasangannya bersalahan dengan gurindam. Adapun gurindam itu yaitu perkataan yang bersajak juga pada akhir pasangannya, tetapi sempurna perkataanya dengan satu pasangannya sahaja, jadilah seperti sajak yang pertama itu syarat dan sajak yang kedua itu jadi seperti jawab,” (Haji, 1847).

Berdasarkan definisi itu, dapatlah diketahui bahwa gurindam adalah jenis puisi Melayu yang terdiri atas dua baris sebait yang bersajak /a-a/. Larik pertama menyatakan sebab, sedangkan larik kedua menyatakan akibat. 

Antologi Gurindam Dua Belas diterbitkan dalam teks Arab-Melayu sekaligus diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda oleh E. Netscher. “De twaalf spreukgedichten, Een Maleisch gedicht door Radja Ali Hadji van Riouw, uitgegeven envan de vertaling en aanteekeningen voorzien door E. Netscher”. Dimuat dalam Tijdshrift van het Bataviaasch Genootschap ll (1854,11-32). Tulisan itu sangat menarik karena Netscher juga menyertakan pengantar Raja Ali Haji yang memerikan dasar penciptaan GDB. Sejak itu, terkenal pulalah karya ini di kalangan peminat dan pemerhati sastra internasional.

Apatah lagi, ketika Netscher menerbitkan tulisannya, Raja Ali Haji telah pula menerbitkan karya linguistik sulungnya, Bustan al-Katibin (Haji, 1850). Karya itu merupakan buku linguistik pertama yang ditulis oleh penulis nusantara, yang berisi tentang peraturan ejaan dan tata-bahasa bahasa Melayu. Bersamaan dengan itu, Bustan al-Katibin digunakan sebagai pedoman bahasa Melayu baku yang diajarkan di sekolah-sekolah pribumi yang mulai didirikan Pemerintah Hindia-Belanda pada 1849.

 Terjemahan GDB ke dalam bahasa Inggris, antara lain Pasal yang Kedua Belas, pernah dikerjakan oleh S. Jaafar Husin. Hasilnya dimuat dalam Ketika Kata Ketika WarnaIn Words in Colours, yang diterbitkan oleh Yayasan Ananda, Jakarta, 1995.

Puisi gurindam karya Raja Ali Haji itu sangat luas dikenal, terutama karena ianya senantiasa ada di dalam buku-buku pelajaran kesusatraan Indonesia. Tak kurang dari S.T. Alisyahbana dalam bukunya Puisi Lama menyertakan karya ini. Demikian juga dengan penulis-penulis buku pelajaran kesusastraan seperti Madong Lubis, Sabaruddin Ahmad, Zubir Usman, dan lain-lain. 

Begitulah selanjutnya, GDB senantiasa menjadi bahan kajian para sarjana, baik Timur maupun Barat. Hasilnya dituangkan dalam tulisan ilmiah, semi-ilmiah, bahkan tulisan populer di media massa. Para pengkaji tak hanya meninjaunya dari sudut ilmu bahasa dan sastra, tetapi juga dari pelbagai disiplin ilmu sosial-budaya. Oleh sebab itu, semakin terkenallah karya Raja Ali Haji rahimahullah itu dari dahulu sampai sekarang. 

Para pembacanya tak hanya dapat menikmati keindahan bahasa yang sungguh memikat. Mereka pun pasti akan memperoleh faedah ilmu dan tunjuk-ajar khas Melayu yang menambat sukma. Tentu bagi orang yang sanggup mencernanya dengan hati dan pikiran terbuka. “Hati itu kerajaan di dalam tubuh, jikalau zalim segala anggota pun roboh.” Aduhai!

Dari karya itu diperoleh empat pedoman utama kehidupan: keyakinan ketuhanan, peribadatan, budi pekerti, dan perhubungan dengan sesama manusia. Sebagai susastra, ianya tak sekadar indah, tetapi juga bermanfaat bagi manusia karena memberikan tuntunan tentang pelbagai perkara yang berkaitan dengan kehidupan dari dunia sampai ke akhirat.

Kandungan nilai budi pekerti yang ditawarkannya, jika diterapkan kepada manusia semenjak kanak-kanak (usia dini), memungkinkannya tumbuh dan membesar menjadi makhluk yang berkarakter unggul. Mereka pasti menjadi insan yang tangguh dan cemerlang, yang sememangnya didambakan oleh setiap orang. 

Karena muatannya sejalan dengan ajaran Allah, ada yang mengibaratkan GDB laksana khutbah yang sastrawi. Karya ini benar-benar memenuhi mutu seri pantai dan seri gunung, yang diidealkan dalam susastra Melayu. Inilah karya yang sadu perdana dan bernilai tujuh laksana. Karya kelas utama yang bernilai mutu tujuh bintang. 

GDB telah memanfaatkan potensi bahasa Melayu yang fleksibel melalui daya kreatif penulisnya yang memang terbilang. Pada gilirannya, ia telah menempatkan bahasa Melayu sekaligus karya itu di singgasana terhormat lagi terjulang. Karya serupa itu memang susah dilupakan orang.

Itulah karya agung warisan penyair ulung yang terus dibaca dan dikaji orang. Tak hanya dahulu, semakin menjadi-jadi gejalanya hingga sekarang.***  

Artikel SebelumTuah dan Marwah Bahasa Melayu (2)
Artikel BerikutGhairah Dunia Dalam Gurindam Melayu Baru
Budayawan, Peraih Anugerah Buku Negara Malaysia 2020 ,Pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Maritim Raja Ali Haji Tanjungpinang pada masa jabatan 2007-2021, Anggota LAM Kepulauan Riau masa khidmat 2017-2022, Peraih Anugerah Jembia Emas tahun 2018, Ketua Umum PW MABMI Kepulauan Riau

Tinggalkan Balasan