pemandangan Sungai Carang yang penuh legenda-f-dok.Noesaja

Bahasa Melayu telah lama dikenal dan memainkan peran istimewanya sebagai bahasa perhubungan luas di nusantara. Bahkan, kala itu bahasa Melayu telah diakui menjadi bahasa internasional.

Faktor yang paling menentukan adalah kewibawaannya sebagai bahasa diplomasi utama dan satu-satunya yang digunakan oleh kerajaan-kerajaan tradisional nusantara. Para raja dan rakyat nusantara pada masa lampau sangat setia dan hanya menggunakan bahasa Melayu. Perhubungan diplomatik dan bisnis, baik dengan sesama pemimpin nusantara maupun pemerintah asing, kesemuanya menggunakan bahasa Melayu. Mereka menolak menggunakan bahasa asing dalam semua urusan itu.

Puncak pertama kejayaan bahasa Melayu di nusantara terjadi sejak abad VII  (633 M.) sampai dengan abad XIV (1397 M.), yakni masa keemasan Kerajaan Sriwijaya. Dari catatan Yi Jing (I Tsing), diketahui bahwa bahasa Kunlun digunakan secara luas sebagai bahasa resmi kerajaan, bahasa agama, bahasa sains, bahasa perdagangan, dan bahasa dalam komunikasi sehari-hari di seluruh wilayah Kerajaan Sriwijaya dan daerah takluknya. Bahasa Kunlun telah dipelajari dan dikuasai oleh para pendeta agama Budha Dinasti Tang.

Bahasa Kunlun merupakan bahasa resmi Kerajaan Sriwijaya dengan seluruh daerah takluknya yang meliputi seluruh Asia Tenggara. Pada masa itu bahasa Kunlun telah menjadi bahasa internasional. Bahasa Kunlun tiada lain adalah bahasa Melayu Kuno.

   Pada masa Sriwijaya bahasa Melayu telah bertembung dengan bahasa Sansekerta yang dibawa oleh kebudayaan India. Bangsa India menyebut bahasa Melayu sebagai Dwipantara sejak abad pertama masehi.  Pada masa ini bahasa Melayu telah berkembang menjadi bahasa sains. Hal itu disebabkan oleh Kerajaan Sriwijaya telah mendirikan perguruan tinggi agama Budha. Tinggalan bahasa Melayu tinggi tersebar di prasasti yang terdapat di Indonesia sekarang.

   Antara abad ke-12 hingga abad ke-14 berdiri pula Kerajaan Melayu di Selat Melaka. Kerajaan Melayu tua itu bernama Kerajaan Bintan-Temasik, yang wilayah kekuasaannya meliputi Kepulauan Riau dan Semenanjung Tanah Melayu, termasuk Singapura. Sesudah masa Bintan-Temasik inilah termasyhur pula Kesultanan Melaka sejak abad ke-14.

   Awal abad ke-15 Kesultanan Melaka sudah menjadi pusat perdagangan dunia di sebelah timur yang maju pesat. Para saudagar yang datang ke Melaka berasal dari Persia, Gujarat, dan Pasai. Sambil berniaga mereka menyebarkan agama Islam di seluruh wilayah kekuasaan Melaka.

Tak hanya itu, mereka pun menyebarkan bahasa Melayu karena penduduk tempatan yang mereka kunjungi tak memahami dan tak mau menggunakan bahasa para peniaga itu. Mereka harus menggunakan bahasa Melayu. Bersamaan dengan masa keemasan Melaka ini, dimulailah tamadun Melayu-Islam. Bahasa Melayu pun mendapat pengaruh bahasa Arab dan bangsa-bangsa pedagang itu (Arab, Persia, dan lain-lain) yang menjadikannya sebagai bahasa kedua mereka.

   Menurut Ensiklopedia Bahasa Utama Dunia (1998, 56), ulama Gujarat seperti Nuruddin al-Raniri berkarya dan berdakwah dengan menggunakan bahasa Melayu. Begitu pula Francis Xavier yang menyampaikan summon dalam bahasa Melayu ketika beliau berada di Kepulauan Maluku. Masuknya Islam ke Dunia Melayu semakin meningkatkan peran bahasa Melayu sebagai bahasa internasional dalam Dunia Islam dan menjadi bahasa kedua terbesar setelah bahasa Arab.

   Pada masa kejayaan Melaka bahasa Melayu juga menjadi bahasa resmi kerajaan, bahasa perdagangan, bahasa sains, di samping bahasa perhubungan sehari-hari rakyat. Surat-surat raja-raja Melaka yang ditujukan kepada para pemimpin negeri atau negara lain menggunakan bahasa Melayu. Oleh itu, bahasa Melayu zaman Melaka juga digunakan di peringkatantarbangsa. Zaman keemasan Melaka merupakan puncak kedua kejayaan bahasa Melayu.

Puncak ketiga bahasa Melayu terjadi pada era Kesultanan Riau-Johor. Pada masa ini teraju kepemimpinan Melayu dilanjutkan oleh putra Sultan Mahmud Syah I Melaka yang bergelar Sultan Ala’uddin Riayat Syah II. Beliau mendirikan negara Melayu baru yang pemerintahannya berpusat di Johor sejak 1528.

Sultan Johor-Riau itu berkali-kali berusaha untuk merebut kembali Melaka. Malangnya, upaya itu tak berjaya. Setelah sekian lama di Johor, pusat pemerintahan Kesultanan Riau-Johor dipindahkan ke Hulu Riau, Tanjungpinang, Kepulauan Riau pada 1678 oleh Sultan Ibrahim Syah.

Sebelum itu Hulu Riau (Tanjungpinang, sekarang) telah dibangun oleh Laksemana Tun Abdul Jamil sebagai pusat pemerintahan menggantikan Batu Sawar, Johor Lama. Sejak itu, berkembanglah Kesultanan Riau-Johor atau Riau-Lingga-Johor-Pahang di Kepulauan Riau.

   Di Johor dilakukan pengembangan dan pembinaan bahasa dan kesusastraan untuk menggantikan khazanah Melaka yang telah musnah. Di samping itu, diterbitkan pula karya-karya baru. Di antara karya tradisi Johor itu yang terkenal Sejarah Melayu (Sulalatu’s Salatin ‘Peraturan Segala Raja’)  tulisan Tun Muhammad Seri Lanang yang bergelar Bendahara Paduka Raja.

Karya yang masyhur itu mulai ditulis di Johor pada 1535 dan selesai pada 1021 H. bersamaan dengan 13 Mei 1612 di Lingga, Kepulauan Riau, sekarang. Bahasa yang digunakan dalam tradisi Johor ini biasa disebut bahasa Melayu Riau-Johor atau bahasa Melayu Johor-Riau.

Pada era Johor-Riau ini bahasa Melayu semakin meningkat pengaruh dan perannya di nusantara. Antonio Galvâo, Gubernur Portugis di Maluku (1536-1539) menulis bahwa bahasa Melayu Riau-Johor itu telah tersebar luas di Maluku dan masyarakat di sana sangat suka menggunakannya. Kemasyhuran bahasa Melayu telah menyamai Bahasa Latin di Eropa.

Misi Belanda di bawah pimpinan William Valentijn berkunjung ke Tanjungpinang pada 2 Mei 1687. Mereka mendapati kawasan itu telah menjadi bandar perdagangan yang sangat maju dan ramai. Manusia dari pelbagai penjuru dunia berdatangan dan mereka terkagum-kagum akan kepiawaian orang Melayu Kepulauan Riau dalam bidang perniagaan dan pengelolaan sektor maritim umumnya.

Pada 1778 perdagangan di Kesultanan Riau-Johor bertambah maju. Negerinya makmur dan rakyat sejahtera, yang diikuti oleh kehidupan beragama (Islam) yang berkembang pesat. Kala itu pemerintahan dipimpin oleh Sultan Mahmud Riayat Syah (1761-1812) sebagai Yang Dipertuan Besar Riau-Lingga-Johor-Pahang dan Raja Haji (1777-1784) sebagai Yang Dipertuan Muda Riau IV.

Menurut Francois Valentijn, pada abad ke-18 bahasa Melayu di bawah Kesultanan Riau-Johor telah mengalami kemajuan pesat dan telah menyamai bahasa-bahasa Eropa. Berikut ini penuturannya (Karim 2003, 14; Hassim, Rozali, & Ahmad 2010, 4; Malik, 2014).

“Bahasa mereka, bahasa Melayu, tak hanya dituturkan di daerah pinggir laut, tetapi juga digunakan di seluruh Kepulauan Melayu dan di semua negeri Timur, sebagai suatu bahasa yang dipahami di mana-mana pun oleh setiap orang, tak ubahnya seperti bahasa Perancis atau Latin di Eropa, atau sebagai bahasa lingua franca di Italia dan Levant. Sungguh luas persebaran bahasa Melayu itu sehingga kalau kita memahaminya tak mungkin kita kehilangan jejak, karena bahasa itu tak hanya dipahami di Persia, bahkan lebih jauh dari negeri itu, dan di sebelah timurnya sehingga Kepulauan Filipina.”

Pada 17 Maret 1824, melalui Perjanjian London, Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang dibelah dua oleh Belanda dan Inggris. Kawasan Riau-Lingga berada di bawah Belanda, sedangkan Johor dan Pahang di bawah pengawasan Inggris.

Singapura lebih dulu terpisah ketika Thomas Stanford Raffles mengangkat Tengku Husin ibni Sultan Mahmud Riayat Syah, kakanda Sultan Riau-Lingga, sebagai Sultan Singapura, Januari 1819. Padahal, sebelum itu Singapura dan Johor berada dalam satu wilayah pemerintahan ketemenggungan di bawah Kesultanan Riau-Johor. (Bersambung)

Artikel SebelumPerjuangan Memartabatkan Bahasa Melayu
Artikel BerikutTuah dan Marwah Bahasa Melayu (2)
Budayawan, Peraih Anugerah Buku Negara Malaysia 2020 ,Pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Maritim Raja Ali Haji Tanjungpinang pada masa jabatan 2007-2021, Anggota LAM Kepulauan Riau masa khidmat 2017-2022, Peraih Anugerah Jembia Emas tahun 2018, Ketua Umum PW MABMI Kepulauan Riau

Tinggalkan Balasan