Oleh : Rida K Liamsi * ) 

        Kesultanan  Melayu Riau ( 1722- 1912 ) yang ibukota terakhirnya di pulau Penyengat, di muara Sungai Carang, adalah kerajaan melayu Islam. Penerus kesultanan  Johor ( 1528-1721 ) . Tapi bahagian dari sejarah Indonesia. Dan berpusat di Kepulauan Riau, di wilayah strategis Selat Melaka, dan salah  satu jalur rempah Nusantara.  Meskipun  nasib kerajaan ini sangat tragis,  di  akhir kekuasaannya . 

         Sultan  terakhirnya Abdul Rahman Muazzam Syah II ( 1885-1912 ) telah dimakzulkan oleh Belanda. Dengan pemakzulan itu, maka kesultanan ini berakhir dan sekarang hanya dikenal sebagai Propinsi Kepulauan Riau.       

Sultan Riau-Lingga yang dipecat Belanda pada 11 Februari 1911, Sultan Abdulrahman Muazamsyah, berpose pada sebuah studio di Singapura, lengkap dengan pakaian kebesarannya pada tahun 1904. FOTO: KOLEKSI WARISAN KITLV SIMPANAN UB-LEIDEN

        Mengapa Sultan Abdul Rahman Muazzam Syah II (SARM) dimakzulkan oleh Belanda ? Apakah semata mata karena dia menolak menandatangani kontrak politik  1910 dengan Belanda, seperti yang ditulis Elisa Netscher , sejarawan Belanda dalam bukunya “ Belanda di Johor dan Siak 1602-1865 “ ? Atau ada faktor lain ? 

       Berdasarkan catatan sejarah yang ada, paling tidak ada 5 alasan lain , yang menjadi sebab perlawanan politik itu. Nasionalisme, Semangat Pan-islam atau othmanisme , aliansi bugis nusantara , pemberontakan budaya yang dipelopori oleh Rusdiyah Club  dan bangkitnya kembali feodalisme Melayu melalui doktrin Bukit Siguntang Kelima faktor ini, yang menjadi alasan  mengapa Belanda memutuskan segera memakzulkan SARM. Sedangkan penolakan penanda tanganan kontrak politik 1910  itu, ibarat retak menunggu belah.  

       Hakekat kelima faktor itu adalah : Belanda mencium adanya semangat nasionalisme yang berazaskan islam yang bangkit dari pulau kecil, Penyengat  Inderasakti , yang jadi pusat pemerintahan kerajaan Riau, yang dipelopori oleh Rusdiyah Club, sebuah perkumpulan para intelektual Islam yang ada di Riau. Dan bagi Belanda semangat ini  berbahaya kalau menyebar dan mempengaruhi wilayah jajahan Belanda yang lain . Karena itu  Belanda perlu mendatangkan seorang Snoug Hagronye , arsitek penaklukan Aceh, untuk meminta nasehat dan saran bagaimana menghadapi masalah ini. 

      Salah satu indikator perlawanan Abdul Rahman Muazzan Syah II itu, adalah keputusannya , tahun 1900, memindahkan ibukota kerajaan Riau dari Daik Lingga, ke pulau Penyengat Inderasakti, ke depan batang hidung kantor Residen  Belanda, di Tanjungpinang. 

       Tindakan itu dicurigai mengandung maksud tersembunyi dan bernuansa politis yang dapat mengancam keberadaan  penjajah Belanda. Paling tidak dengan kedudukan yang baru itu, SARM dapat memonitor dan memata-matai apa yang dilakukan Belanda , menemukan  kelemahan pertahanan Belanda yang sewaktu-waktu dapat dipakai sebagai strategi untuk menyerang Belanda, seperti yang pernah dilakukan Sultan Riau Mahmud Riayat Syah ( SMRS ) dengan bantuan para lanun Tempasuk tahun 1787  menyerang Belanda di Tanjungpinang atau pemberontakan Arong Bilawa tahun 1823, sebagai balas dendam atas tindakan semena-mena Belanda pada Engku Puteri Raja Hamidah. 

        Belanda beranggapan, kalau  saja SARM dapat mempersenjatai benteng Bukit Punggawa dan Bukit Kursi  di Penyengat dengan  meriam meriam besar dan moderen seperti meriam yang dipakai kerajaan  Turki Othmani ketika menaklukkan Konstantinopel,  maka dengan mudah benteng Belanda dan kantor Residen Belanda di Tanjungpinang akan dihancurkan.  

        Belanda mencium gelagat  munculnya gerakan Turkisme atau Pan-Islamisme ketika SARM setuju mengirim sejumlah pembesarnya dan kerabat kerajaan pergi dan belajar ke Turki dan Mesir , dua negeri yang merupakan  pusat kebangkitan Islam Internasional yang sangat  ditakuti. 

       Belanda mencium adanya gerakan “ Menturki “ kan Riau. Apalagi setelah ada informasi  bahwa Raja Ali Kelana (RAK) sepulangnya dari Mesir dan Saudi Arabia, telah ditunjuk sebagai Amir untuk Amirat kesultanan Turki Othmani  di Timur jauh, termasuk kawasan semenanjung dan Riau.  

       SARM dituduh mendukung penuh  berdirinya Rusdiyah Club ( RC )  sebagai pusat gerakan intelektual  dan pemikiran moderen  Riau dibawah pimpinan Raja Ali Kelana ( adik SARM lain ibu ) dan bahkan Tengku Usman , putera SARM yang  baru pulang belajar dari Al Azhar, Mesir telah  dijadikan Ketua RC . Pidato pengukuhan sebagai ketua RC itu sangat menakutkan Belanda karena sudah memasukkan sikap anti penjajahan dan nasionalisme Islam  yang dia bawa dari Mesir.   

Apalagi RC kemudian menjadi arsitek dari sikap pembangkangan ARM terhadap belanda dalam penolakan pembaharuan kontrak politik 1910. 

        SARM dan kelompok intekektual Riau, dituduh secara diam diam telah melakukan perlawanan  kultural dengan cara menentang pengibaran bendera belanda di istana dan dikapal dinasnya . Bendera Belanda telah dikibarkan lebih rendah   dari bendera kerajaan Riau. Peristiwa yang dikenal sebagai  peristiwa bendera ini, ujud dari Perlawanan senyap Riau dan telah memaksa Residen Belanda di Tanjungpinang mengirim laporan panjang kepada Gubernur Jenderal Belanda dan menyarankan agar Penguasa di Batavia , meminta nasehat dari Dr Snoug Hagronye , penasehat perang Belanda  ketika melawan Aceh.

          Dr Snouck Hurgronje menyarankan agar SARM segera diturunkan dari tahtanya dan RC dibubarkan. Tindak tanduk Raja Ali Kelana dan kelompoknya diawasi dan dibatasi .  Belanda menuduh SARM ingin menghidupkan kembali jabatan Yang Dipertuan Muda (YDM) yang  sudah dihapus Belanda, ketika YDM XI Raja Mohd Yusuf wafat tahun 1889.m

        Seharusnya yang menggantikan RM Yusuf Al Ahmadi sebagai YDM XII adalah anaknya, Raja Ali Kelana ( karena itu dia memakai gelar Kelana , calon Yang Dipertuan Muda). Tapi Belanda keberatan dan menolak RAK dan bahkan meminta SARM menghapus jabatan YDM. Cukup hanya Sultan saja sebagai Penguasa di kesultanan itu. 

        Belanda sangat takut pada tokoh RAK dan menilai sepak terjangnya berbahaya, apalagi setelah RAK dan tokoh lainnya mendirikan RC di Penyengat , dan dia dianggap  sebagai tokoh di belakang layar semua sikap pembangkangan SARM, yang sudah tampak sejak mulai dilantik menjadi Sultan. 

       Apalagi RAK kemudian diangkat SARM sebagai Ketua Dewan Kerajaan Riau, yang sangat menentukan arah pemerintahan kerajaan Riau. Meskipun Dewan Kerajaan itu adalah lembaga bentukan Belanda sesuai dengan kontrak politik 1905, tapi kebijakan  yang dijalankan  RAK dan anggota Dewan itu tidak seperti yang diharapkan Belanda. 

     SARM dikatakan sedang membangun aliansi  dengan kekuatan Bugis Perantau di Indonesia yang juga sedang membangkitkan kembali semangat anti belanda sebagai balas dendam atas kekalahan mereka dalam Perang Makassar. Tahun 1606.

        SARM adalah sultan kerajaan Melayu yang berdarah Bugis. Dia cicit buyut dari Daeng Celak, YDM II . Karena itulah, ketika  akan memakzulkan SARM, Belanda mengirimkan angkatan perang yang besar ke Penyengat Inderasakti , karena  mendapat kabar ada kekuatan perantau Bugis yang sedang menuju Riau atas permintaan SARM untuk menghadapi Belanda .         

        Belanda segera menduduki istana dan gedung RC,meskipun SARM sedang pergi ke Lingga. Dan pemakzulan itupun dilakukan di gedung RC sebagai simbol Belanda sudah menaklukkan Riau dan membungkam para pembangkang tersebut. 

       Belanda tampaknya masih trauma dengan perlawanan orang-orang Melayu dan  Bugis, dan belum bisa melupakan aib ketika mereka kalah dalam perang Riau, 1782-1784, dimana kekalahan itu menurut pakar sejarah mereka sangat memalukan. 

       Gerakan melayu bugis baru ini, atau gerakan  perantau bugis ini adalah gerakan para tubaji , gerakan intelektual keturunan  melayu bugis sebagaimana dikatakan oleh pakar sejarah melayu bugis, Dr Mukhlis PaEni. Orang-orang yang mewarisi kecerdasan orang Melayu, heroisme orang Bugis , dan kearifan orang Bajau / orang Laut 

       Keputusan  memakzulkan SARM adalah juga tindakan Belanda mencari pembenaran politik untuk melanggar dan meniadakan semua kontrak politik sebelumnya, agar mereka bisa menguasai Riau secara penuh. Dan menggunakan perjanjian politik 1784 dan 1818 sebagai dasar untuk menguasai Riau karena di dalam kedua perjanjian itu dikatakan bahwa Riau adalah negeri vazal ( pinjaman ) . Bila penguasa Riau melawan , maka hak pinjaman itu akan dicabut, dan Sultannya dimakzulkan. 

       Tahun 1857 dengan alasan membangkang, Sultan Riau waktu itu Sultan Mahmud Muzaffar Syah ( SMMS ) , datuk ARMS juga dimakzulkan. Berdasarkan laporan Residen-nya yang ada di Riau, Belanda menyimpulkan kesultanan Riau sedang menjadi salah satu pusat gerakan nasionalisme anti Belanda, dan mencurigai Inggris dan Jepang ada dibelakang gerakan ini. Karena berbagai pertemuan rahasia tokoh melayu Riau dengan tokoh melayu lainnya dilakukan di Singapura. 

        SARM juga dituding sedang membangun aliansi kemelayuan dengan kerajaan Melayu Islam lainya di semenanjung tanah Melayu , terutama dengan Terengganu, benteng negeri melayu yg tak dapat ditaklukkan oleh Belanda, dan Inggeris.  SARM dan Melayu Terengganu yang menjalankan gaya politik yang islami tapi ortodoks itu merupakan kekuatan yg sangat berbahaya. 

       SARM dikatakan sedang meneruskan semangat pembangkangan datuknya, Sultan Mahmud Muzaffar Syah ( SMMS ), yang bercita cita membangun kembali imperium Melayu yang berpusat di Riau, dan menegakkan kembali doktrin Sumpah Setia Bukit Siguntang ( 1292), sebagai kekuatan pemersatu yang telah terbukti meujudkan imperium melayu selama hampir 8 abad ( 1190 – 1946 ) 

        SARM yang dimakzul 1911, telah menyingkir ke Terengganu dan kemudian  ke Singapura, dan meneruskan perlawanan. Dia dibantu adiknya RAK dan sepupunya Raja  Khalid Hiram ( RKH) dan anaknya Tengku Besar Usman dan Tengku Umar. RAK sempat pergi ke Turki, RKH ke Jepang mencari dukungan dunia islam dan Asia Raya, tapi gagal. 

        SARM wafat tahun 1937 di Singapura, setelah berjuang dengan berbagai cara untuk merebut kembali tahta dan kerajaannya , termasuk mengusulkan cucunya sebagai Sultan Riau. Tapi Belanda terus menolak, sampai akhirnya SARM wafat di Singapura. 

       Tokoh pembangkang ini kemudian hampir dilupakan sejarah, terutama sejarah nasional Indonesia, meskipun dia memerintah cukup lama , sekitar 27 tahun, dan telah dimasukkan Belanda  sebagai salah satu musuh besar dan berbahaya  ketika itu di Hindia Belanda, meskipun SARM tidak  melawan dengan senapang. 

       Kegagalah SARM merebut kembali tahta kesultanan Riau dari tangan Belanda, menyebabkan Penyengat lnderasakti menjadi sebuah tempat yang kehilangan pengaruh dan fungsi pemerintahannya. Dan hanya menjadi sebuah tempat yang dicatat sebagai bekas pusat kesultanan , dengan status sebuah  kelurahan, di kecamatan Tanjungpinang Bestari. 

         Penyengat Inderasakti kini cuma jadi sebuah objek wisata , meskipun dahulunya sebuah pulau  yang bersejarah . Dari sinilah bahasa Melayu telah dibina dan dikembangkan menjadi bahasa Melayu tinggi, dan kemudian menjadi cikal  bakal bahasa kebangsaan Indonesia. Dari pulau yang luasnya hanya 2 km persegi inilah lahir ratusan buku dan manuskrip yang merupakan  warisan sejarah  yang tak terbilang nilainya . Karya-karya yang besar yang melintasi zaman , seperti  Gurindam XII, karya Raja AlI Haji. Dari pulau ini lahir dua pahlawan nasional yaitu Raja Haji Fisabilillah dan Raja Ali Haji pahlawan bahasa. Masih ada sejumlah tokoh lain yang juga sangat besar pengaruh dan jasanya, serta perlawanannya menentang Penjajah Belanda, selain SARM Seperti Engku Puteri Raja Hamidah ,  Raja Ali Kelana, dan lainnya. 

     “ Kita memang dikalahkan oleh kata-kata . Oleh perjanjian  dan kontrak politik. Dan Belanda memang sengaja menciptakan kondisi perlawanan dan penolakan oleh penguasa kerajaan kerajaan yang ada di Indonesia yang ketika itu ada dalam cengkeram Belanda, supaya mereka punya alasan pembenaran untuk mencaplok dan memakzulkan para Sultan ketika itu , tanpa perlu menembakkan sebutir peluru “ kata sahabat saya Sejarawan Mukhlis PaEni, mengomentari kertas kerja saya itu. 

     Hemmm ya karena semua pemimpin Melayu itu punya doktrin hidup yang sama  jika menghadapi penindasan dan sikap melecehkan harkat dan martabat orang Melayu: “ Biar mati tegak, daripada hidup berlutut “ kata saya, meskipun  itu dalam strategi politik, selalu merugikan. “ Biar bengkok jangan sampai patah “ begitu kira kira tafsir bebas dari kata kata bijak Machiavelli dalam  buku politiknya yang terkenal itu. 

2021.

Artikel SebelumGhairah Dunia Dalam Gurindam Melayu Baru
Artikel BerikutGurindam Dua Belas, Akulturasi, Dan Persebatian Melayu Bugis

Tinggalkan Balasan