Beranda blog

Keinsjafan Rakjat Indonesia Riouw (K.R.I.R)

0
Guru Muhammad Saleh: de geestelijke vader, bapak spiritual, perkumpulan K.R.I.R. adalah seorang guru Melayu, anak jati Kepulauan Riau asal Tambelan. Pernah menjadi wakil masyarakat Riouw (Kepulauan Riau) dalam Konferensi Malino di Sulawesi Selatan, pada 16 hingga 22 Juli 1946. (sumber foto: buku Malino Maakt Historie, koleksi: aswandi syahri)

(Proklamasi Kemerdekaan dan Reaksi Rakyat Kepulauan Riau  1946-1948)

Sejak akhir tahun 1945 hingga menjelang tahun 1950, terdapat lebih dari tujuh buah organisasi atau perkumpulan (vereniging) yang ditubuhkan di Tnjungpinang sempena mengobarkan gelora api revolusi dalam fase yang disebut zaman revolusi dan perang kemerdekaan dalam sejerah Indonesia.

Perkumpulan-perkumpuan tersebut bergerak secara “legal” dan “illegal” menurut ukuran pemerintah Belanda yang kembali berkuasa ketika itu. Mereka tampil mengikuti arus sejarah, untuk mendukung dan mempertahankan prokmalasi kemerdekaan yang telah dikumandangkan oleh Sukarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia di Jakarta pada tanggal 17 Agustus 1945.

Di Tanjungpinang, perkumpulan-perkumpulan pegerakan itu tampil sebagai bagian dari reaksi kolektif seluruh anak negeri yang  dijajah kembali oleh pemerintah kolonial Belenda setelah pemerintahan Bala Tentara  Jepang menyerah tanpa syarat. Demikianlah, di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, salah satu dari perkumpulan  pro-Republuk Proklamasi itu diberi nama Keinsjafan Rakjat Indonesia Riouw (disingkat, K.R.I.R) dengan logo berbettuk belah ketupa berhiaskan keris bersilang dan matahari memancar.

Menurut arsip nota rahasia (geheimnota) dinas reserse umum (Algemeene Recherse) Kejakasaan Agung (Procureur-Generaal) Hindia Belanda tahun 1947, bapak spiritual (de geestelijke vader) perkumpulan K.R.I.R adalah seorang guru Melayu, anak jati Kepulauan Riau, bernama Muhammad Saleh. Ia pernah menjadi wakil delegasi masyarakat Riouw (nama Kepulauan Riau tempo doeloe) dalam Konferensi Malino di Sulawesi Selatan, pada 16 hingga 22 Juli 1946. Sedangkan penggagas (initiatief-nemer) perkumpulan K.R.I.R ini adalah seorang Bumi Putera asli Kepuluaan Riau, yaitu mantan Amir Radja Mohamad yang kelak mewakili daerah bagian Kepulauan Riau dalam Konfrensi Meja Bunda (KMB) di kota De Haag, Negeri Belanda, pada bulan Desember 1949.

Oleh karena itu pula, latar belakang penubuhan K.R.I.R erat sekali hubungannya dengan perbahasan-perbahasan yang disampaikan oleh guru Muhammad Saleh dalam Konferensi Malino yang intinya adalah untuk menemukan formula baru bagi Kepulauan Riau yang berada dalam “bekas Negara Hindia Belanda yang hidup kembali” pasca pendudukan Bala Tentara Jepang. Salah satu formula baru itu adalah rencana pembentukan beberapa buah negara bagian dan beberapa buah daerah federasi dalam “pemerintahan kolonial Belanda yang baru”. Hasil-hasil Konferensi Malino tersebut menjadi bahan pikiran Mohamaad Saleh sekembalinya ke Tanjungpinang. Ia berfikir, sesuatu harus dilakukan dan dibuat untuk menentukan arah perjalanan rakyat Kepulauan Riau (Riouw), dan merebut peran politik dalam “tatanan dunia yang baru”.

Sebuah organisasi sebagai motor dan wadah tempat bergerak harus ditubuhkan. Maka lahirlah K.R.I.R di Tanjungpinang pada 10 November 1946. Walaupun bukan berbentuk partai, sangat jelas kemudian, perkumplan ini adalah sebuah perkumpulan politik yang bertujuan untuk melawan kembalinya pejajahan Belanda di Kepulauan Riau setelah Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan oleh Sukarno-Hatta pada 17 Agustus 1945. Pada awal penubuhannya, para penggagas perkumpulan ini melaporkkan kepada pemerintah Belanda di Tanjungpinang bahwasanya tujuan perkumpulan yang mereka tubuhkan itu adalah untuk memajukan dan membangun penduduk Kepulauan (Riouwer). Selain itu, juga bertujuan untuk menyiasati kemungkinan menghapuskan masalah sosial-ekonomi dikalangan rakyat Kepulauan Riau (Riouw Bevolking) ketika itu.

Namun demikian, semua yang dikemukan sebagai dasar dan tujuan penubahannya itu hanyalah kamuflase dan taktik belaka. Ada sesuatu yang lebih penting dan besar yang mereka sembunyikan. Sebab pada ketika itu, segala sesuatu yang “babau politik”, apa lagi yang dimotori oleh semangat anti-kolonial dan mendukung proklamasi kemederkaan yang baru saja dukumndangkan oleh Sukarno-Hatta pada 17 Agustus 1945, tidaklah dapat dilakukan scara terang-terangan.

K.R.I.R adalah salah satu dari tiga tipikal ‘perkumpulan politik’ di Tanjungpinang, yang muncul tak lama setelah Proklamasi Kemerdekaan dibacakan oleh Sukarno-Hatta pada 17 Agustus 1945. Ketika itu tatanan politik di daerah-daerah bekas Hindia-Belanda, seperti di Tanjungpinang, goyah dan “tak bertuan” setelah berakhirnya zaman pendudukan Jepang. Pada ketika itu, siapa saja yang tersadar dari “tidur lelapnya di alam penjajahan”, mempunyai kesempatan yang sama dalam merebut peluang kekuasaan secara politik.

Singkatnya, seperti terungkap dalam surat rahasia yang ditulis sendiri (geheim-eigenhandig) oleh Asistent Resident Residency van Riouw, J.B. van Schendel kepada Jaksa Agung Hindia Belanda di Batavia tanggal 19 Juli 1947, jelas terlihat perubahan perlahan-lahan tapi pasti (langzaam maar zeker) bahwa K.R.I.R telah mengarah kepada sebuah perkumpulan politik, meskipun moderat [deze Vereeniging geworden tot een politieke (zij het gematide)]. Semua aktifitas ‘politik’ K.R.I.R diselipkan diantara berbagai kegiatan sosial-ekonomi dan pendidikan yang dilakukan oleh angota-anggotanya.

Nota rahasia dinas reserse umum (dienst der Algemeene Recherce) Kejaksaaan Agung Hindia Belanda tahun 1947, menjelaskan, “…seperti halnya kelompok gerakan Sultan Riau (Sultanaatsbeweging) yang didukung oleh zuriat mantan Sultan Riau-Lingga yang terakhir (Sultan Abdulrahman Muazamsyah) yang bermastautin di Singapura, Karimun, dan Pulau Penyengat, para penggagas K.R.I.R [pada awalnya] bercita-cita membentuk pemerintahan sendiri…” dan lepas dari pemerintahan Belanda yang kembali berkuasa setelah Jepang menyerah kalah pada tahun 1945.

Namun demikan, kemudian semuanya berubah. Berbeda dari Bandan Kedaulatan Indonesia Riouw (BKIR) yang ditubuhkan oleh gabungan orang-orang bukan anak jati Riouw (niet-Riouwer) dan anak jati Riouw (Riouwer) yang dipimpin oleh Dr. Ijlas Datuk Batuah, maka para anggora K.R.I.R ingin membentuk pemerintahan anak watan Riouw (anak negeri) di Tanjungpinang yang dimpimpin oleh anak watan sendiri. Namun demikian, bedanya, para anggota K.R.I.R sepakat bahwa cita-cita itu akan diwujutkan tidak dengan keharusan menubuhkan kembali Kesultanan Riau-Lingga (een sultanaat moest emen echter niets hebben) seperti yang dikehendak kelompok Gerakan Kesultan Riau.

Karena haluannya yang moderat, maka dalam perjalanan sejarahnya, KRIR perlahan-lahan berkembang menjadi wadah bagi berbagai haluan ‘politik’, ‘etnik’, dan ‘provinsialis’ untuk mencapai satu tujuan yang sama. Tak lama setelah penubuhannya, tepatnya pada paruh kedua bulan November 1946, pengurus dan pendiri K.R.I.R.  telah memasukkan orang-orang Indoneia bukan anak watan Kepulauan Riau (geen Riouwers van origine), yang kebanyakannya adalah pegawai-pegawai yang berasal dari Sumatra (Tapanuli dan Minangkabau), Jawa, dan Manado,  atau mereka yang lahir di Kepulauan Riau, sebagai anggotanya: meskipun ada protes dari kelompok yang bermaksud memnghidupkan kembali kesultanan Riau-Lingga (sultanaatpartij).

Haluan yag baru itu tergambar pula dari komposisi pengurus teras (hoofdbestuur) K.R.I.R. Dalam sebuah pertemuan tertutup yang dilakukan oleh anggotan perkumpulan itu pada paruh pertama bulan Desember 1946, telah ditetapkan Mohammad Apan (seorang anak jati Pulau Penyengat yang menikah dengan seorang perempuan Minangkabau dan juga merangkap sebagai anggota organisasi Badan kebangsaan Indonesia Riau (BKIR) pimpinan Dr. Iljas Datuk Batuah) sebagai ketua (voorzitter) K.R.I.R yang baru, menggantikan posisi Radja Mohamad. Hal ini dilakukan karena arti penting Mohammad Apan sebagai seorang anggota kelompok BKIR yang punya akses terhadap pemimpin-pemimpin Republik hasil Proklamasi yang berada di Pulau Jawa dan Sumatra, yang berdiri belakangnya.

Sementara itu, Guru Mohammad Saleh tetap dipertahankan sebagai wakil ketua (vice-voorzitter). Sekretaris pertama adalah Moh. Amin, dan seorang commisarissen dijabat oleh Said Bakri al-Atas yang juga berasal dari kelompok Dr. Iljas Dt. Batuah. Selain itu, ada pula  seorang perempuan bernama Radja Chatijah yang berasal dari kelompok pedukung penubuhan kembali kesultanan Riau-Lingga dalam “wadah baru” pemerintahan Hindia Belnda.

Sayap Perempuan K.R.I.R.

Memasuki pertengahan tahun 1947, K.R.I.R melebarkan aktifitasnya dengan membetuk sebuah sayap organisasi perempuan yang diberi nama Perkumpulan Wanita-K.R.I.R pada 15 Oktober 1947, di Tanjungpinang.

Susunan pengurus pertamanya adalah sebagai berikut: Ketua I, Syarifah Fatemah Nur Djamalullael; Ketua II, Zaharah Mahmud; Ketua III, Nyonya Muchtar Husin; Sekretaris, Raja Hatijah (Radja Chatijah); dan Bendahara dijabat oleh Wan Nun.

Perkumpulan Wanita KRIR ini sejatinya adalah sebuah perkumplan politik pendukung Proklamasi 17 Agustus 1945. Uantuk mengelabui pemerintah Belanda,  aktifitasnya disamar-samarkan dengan melakukan kegiatan sosial-ekonomi. Pada mulanya, kegiatan utama sayap perempuan peekumpulan K.R.I.R ini adalah berupa kegiatan belajar menulis dan membaca sempena “Pemberantasan Boeta Hoereof”. Kegiatan soasial itu untuk pertama kalinya dilakukan di gedung sekolah lama Muhammadiyah yang terletak di Kamponeg Boekit  (atau di Jl. Sunaryo) Tanjungpinang,  pada 10 Juli 1947.

Kegitan belajar menulis dan membaca yang diikuti oleh 40 otrang siswa, yang 50% diantaranya berusia 30 tahun itu dipimpin oleh Ratna Samin, bekerjasam dengan Mohammad Apan, Radja Chatijah, Siahaan, dan Guru Mohammad Saleh. Selain di gedung sekolah lama yang lokasinya di kawasan  Kempoeng Bukit itu, kegiatan “Pemberantasan Boeta Hoereof”  tersebut dilakukan juga dengan cara mengunjungi kampung-kampung di sekitar Tanjungpinang. Mohd. Safri Wok dan istrinya Latifah umpamanya, bertanggung jawab untuk wilayah Kampung Teluk Keriting dan Kampung Skip; saudara Mukiyen, bertugas di Kampung Jawa sekitarnya; sedangkan  Rukini, istri mendiang Sunaryo, bertugas di Kampoeng Bukit sekitarnya.

Kegiatan pendidikan oleh organisasi perempuan KRIR terus berkembang. Pada 1 April 1948, Wanita-K.R.I.R meresmikan pembukaan sebuah sekolah dalam arti yang sesungguhnya di gedung sekolah Muhammadiyah, tempat pertamakali mereka menggelar kegiatan “Pemberantasan Boeta Hoerof” pada 10 Juli 1947.

Sekolah itu adalah sekolah Taman Kanak-Kanak Wanita-KRIR, dan sekaligus menjadi Sekolah Taman Taman Kanak-Kanak pertama di Kepulauan Riau. Sekolah bersejarah yang lahir dalam gemuruh gelora api revolusi kemerdekaan di Kepulauan Riau tersebut masih berdidiri dan berkhidmat hingga kini sebagai Sekolah Taman Kanak-Kanak Mawar di Tanjunpinang.***

Gelar Abang dan Yang di Kampung Mentok, Daik Lingga

0
Kampung Mentok di Daik Lingga. Foto : M Fadlillah

oleh:
M Fadlillah
(Pemerhati Budaya Lingga)

Di Kelurahan Daik, Kabupaten Lingga terdapat satu kampung tua terletak di sebelah kanan sungai Daik arah ke hulu, yang dinamakan Kampung Mentok. Menurut cerita rakyat, orang-orang Melayu Muntok pulau Bangka di zaman kerajaan telah berhijrah ke Daik dan membuka perkampungan ini. Karena kampung ini didirikan dan dihuni oleh orang-orang Melayu dari Muntok, oleh masyarakat sekitar disebut dengan nama kampung Mentok. Cerita rakyat yang masuk dalam tradisi lisan ini, mempunyai kadar sejarah yang tinggi karena sejak zaman kerajaan Lingga-Riau hingga sampai ke masa kini, Kampung Mentok masih dihuni oleh orang-orang yang bergelar Abang dan Yang, yang berasal-usul dari daerah Muntok pulau Bangka. Gelaran Abang dikhususkan untuk keturunan laki-laki dan Yang untuk perempuan.

Orang-orang yang bergelar Abang dan Yang, berpunca dari keturunan seorang lelaki Tionghoa yang tinggal di Siantan daerah Anambas. Lelaki Tionghua ini bernama Lim Tau Kian yang setelah masuk Islam berganti nama menjadi Ence Wan Abdul Hayat, dan menikah dengan seorang wanita anak dari Encik Wan Awang. Encik Wan Awang anak dari Datuk Laksamana Johor. Dari pernikahan ini mendapatkan tiga anak laki-laki yakni Wan Akub, Wan Sabar, dan Wan Sirin. Sebelumnya Ence Wan Abdul Hayat telah menikah dengan wanita Tionghua, dan mendapatkan tiga orang anak lelaki, yakni Abdul Jabar, Abdul Khalik, Zainal Abidin, Abdul Ghani dan Ismail. Anak perempuan Wan Abdul Jabar yang bernama Zamnah atau Yang Mariam, dan nama lainnya Encik Ayu, dinikahi oleh Sultan Palembang (Sari, 2015: 123)

Dalam Hikayat Siak dan Tuhfat al-Nafis, dikisahkan juga tentang pernikahan Sultan Palembang dengan Yang Mariam. Dikisahkan Sultan Palembang yang terpaksa keluar dari wilayah kerajaan karena kalah dalam perebutan tahta selanjutnya datang ke Riau bertemu Raja Johor dan seterusnya ke Siantan. Di Siantan, Sultan Palembang menikah dengan seorang anak perempuan keturunan Cina. Dalam Hikayat Siak dikisahkan “Maka perahu Sultan berlayarlah, lalu ke Siantan. Lalu Baginda Sultan Palembang berbinikan akan orang Dusun Sebanir, Cina masuk Islam, bapaknya naik haji. Lalu baginda Sultan Palembang nikahlah dengan anak haji (itu), bernama Yang Mariam.” (Hasyim, 1992:118).

Hikayat Siak menyebut Sultan Palembang yang menikah dengan Yang Mariam dengan nama Sultan Lema Abang, berbeda dengan Tuhfat al-Nafis yang menyebutnya dengan Sultan Lembayang. Mengenai peristiwa pernikahan dengan Yang Mariam, di dalam Tuhfat al-Nafis dikisahkan “Maka Sultan Lembayang pun keluar dari Johor berlayar. Maka singgahlah ia di Siantan, lalulah ia berbinikan seorang perempuan namanya Mariam, anak satu tuan Haji.” (Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kepulauan Riau dengan Yayasan Khazanah Melayu, 2002:42)
Sultan Lemah Abang atau Lembayang adalah Sultan Mahmud Badaruddin Jaya Wikrama. Setelah menikah dengan Yang Mariam, Sultan dengan para pengikutnya kembali ke Palembang dan berhasil menduduki tahta kerajaan. Keluarga Yang Mariam yang berada di Siantan berpindah ke Muntok pulau Bangka. Oleh Sultan, keluarga Yang Mariam yang laki-laki diberi gelar Abang dan yang wanita diberi gelar Yang. Gelar ini tidak boleh dipakai oleh orang lain, kecuali dari keturunan Wan Abdul Jabar. (Sari, 2015:125). Bukan saja sekedar berpindah ke Muntok, Wan Akub dan Wan Abdul Jabar mendapat jabatan dari Sultan. Mengenai hal ini, Zulkifli (2007:14), menjelaskan,

Ketika berkuasa, Sultan Mahmud Badaruddin Jayawikrama menunjuk Encek Wan Akup atau lebih dikenal di Bangka dengan sebutan Datok Rangga Setia Agama sebagai kepala pemerintahan dan kepala urusan penambangan biji timah yang berkedudukan di Muntok. Di samping itu, sultan mengangkat mertuanya, Encek Wan Abdul Jabbar yang lebih dikenal di Bangka dengan sebutan Datok Dalam Hakim atau Datok Temenggung Prabu Nata Manggala, sebagai penghulu agama Islam, atau hakim di Bangka.

Mengenai keturunan Yang dan Abang di Kampung Mentok Daik, dapat diketahui lewat satu manuskrip aksara Jawi yang berisikan silsilah keturunan Abang dan Yang di Lingga. Manuskrip ini tidak bertarikh, jika dilihat dari isi dan keadaannya, diduga kuat telah berusia lebih dari lima puluh tahun. Manuskrip ini mulanya dimiliki oleh ibu Yang Khamsiah pensiunan guru Sekolah Menengah Pertama di Daik. Agar bisa dirawat secara baik dan dipamerkan kepada masyarakat, manuskrip dihibahkan ke Museum Linggam Cahaya. Dalam manuskrip, silsilah keluarga Abang dan Yang di Kampung Mentok, zuriat dari seorang tokoh bernama Ustman Rangga Muntok.

Dalam silsilah ini dinyatakan, Ustman Rangga Muntok mempunyai seorang anak laki-laki bernama Abang Abdul Jalal. Selanjutnya Abang Abdul Jalal mempunyai seorang anak laki-laki bernama Abang Yusuf, yang menjabat sebagai Datuk Mata-mata di Lingga. Anak dari Datuk Mata-mata Abang Yusuf terdiri dari beberapa orang laki-laki dan perempuan. Satu dari anak laki-lakinya menjadi Syahbandar di Lingga. Datuk Syahbandar mempunyai tiga orang anak, dua laki-laki dan satu wanita. Salah satu anak laki-lakinya bernama Abang Umar. Keturunan Abang Umar terdiri dari satu laki-laki dan dua perempuan. Anak laki-laki yang bernama Abang Yahya menjabat sebagai Datuk Syahbandar Lingga.
Ustman Rangga Muntok yang dicatat dalam silsilah, ialah Wan Ustman cucu Ence Wan Abdul Hayat yang dilantik oleh Sultan Palembang sebagai Menteri Rangga, kepala Wilayah Bangka yang berkedudukan di Muntok. Wan Ustman menjadi kepala wilayah Bangka menggantikan ayahnya Wan Sirin yang meninggal dunia. Keturunan Wan Ustman Menteri Rangga ini memakai juga gelar Abang dan Yang, Di Lingga zuriatnya pernah mendapatkan kedudukan terhormat dan penting di lingkungan istana, yakni memegang jabatan Datuk mata-mata dan Syahbandar. Jabatan Syahbandar Lingga terakhir di masa kerajaan di duduki oleh Abang Yahya. Pada pada tahun 1884, Abang Yahya dilantik oleh Yang Dipertuan Muda Raja Muhammad Yusuf menjabat sebagai Datuk Syahbandar Lingga. Abang Yahya juga pernah menjabat berbagai jabatan lain. Di tahun 1894, dia dilantik oleh Sultan Abdurrahman Muazzam Syah, menjabat sebagai Ahli Musyawarah Lingga, membantu hakim untuk menimbang dan memutuskan berbagai perkara di dalam mahkamah.

Abang Yahya menjabat Syahbandar Lingga, sepanjang pemerintahan Sultan Abdurrahman Muazzam Syah. Tanggal 13 Maret 1911, Abang Yahya disetujui Residen Riau mundur dari jabatan Datuk Syahbandar Lingga. Pada hari itu juga Residen menetapkan Abang Yahya sebagai ahli musyarawah Kerajaan di pulau Penyengat. Pada 20 Maret 1911, Residen menetapkan Abang Yahya sebagai Amir Bintan dengan masa tugas yang dimulai 1 April 1911. Semasa hayatnya di Daik, Abang Yahya tinggal di Kampung Mentuk. Berdasarkan silsilah yang dicatat di dalam manuskrip, dia mempunyai enam orang anak, dua laki-laki dan empat wanita. Di masa kini, sebagian zuriatnya masih tinggal di Kampung Mentok dan kampung-kampung lainnya di Lingga. Diantaranya, Ibu Yang Khamsiah pemilik asal manuskrip termasuk zuriat Datuk Syahbandar Abang Yahya.

Sumber : kebudayaan.kemdikbud.go.id

Hendaklah Anakanda Mengaji Selalu

0

ARKIAN pada suatu hari Sultan Duri (nama samaran Siti Rafiah, istri Sultan Abdul Muluk), penguasa Kerajaan Barham, berkunjung ke istana Jamaluddin, mantan Sultan Barham. Setelah keduanya bertemu, Sultan Duri menyampaikan maksud kedatangannya.

            “Kakanda, maksud kedatangan adinda ini untuk meminta pertimbangan dan nasihat Kakanda,” kata Sultan Duri seraya memandang abang iparnya yang bijaksana itu.

            “Pertimbangan dan nasihat apakah gerangan yang Adinda perlukan?” tanya Jamaluddin agak heran.

            “Adinda bermaksud hendak membebaskan Kerajaan Barbari dari penjajahan Kerajaan Hindustan. Adinda hendak menyerang negeri penjajah itu. Hanya dengan cara itu Negeri Barbari, para pemimpinnya yang ditawan dan disiksa di dipenjara, serta rakyat sekaliannya dapat bebas dari tekanan Kerajaan Hindustan. Bagaimanakah bicara Kakanda?”

            “Kalau memang itu keputusan Adinda, tak mungkin Kakanda melarangnya,” jawab Jamaluddin walau hatinya agak khawatir, “niat Adinda Sultan sangat mulia hendak menolong kerajaan sahabat dan jiran kita. Kakanda pun bersedia membantu semampu-mampunya kakanda. Mungkin ini memang hidayah dari Allah kepada Adinda dan semoga inayah-Nya juga akan menyertai. Walaupun, kakanda sangat maklum Negeri Hindustan itu kerajaan besar, tak sedikit negeri takluknya, dan tentaranya banyak pula. Salangkan Kerajaan Barbari yang masyhur dapat dikalahkannya. Tetapi, mungkin memang Allah telah menakdirkan Adinda harus membebaskan Negeri Barbari dari pendudukan Kerajaan Hindustan. Marilah kita bersama-sama berdoa semoga niat baik dan perjuangan Adinda dikabulkan Allah,” panjang-lebar Jamaluddin memberikan pertimbangannya kepada adik iparnya yang perkasa dan sangat dibanggakannya itu.

            Selanjutnya, Raja Ali Haji rahimahullah meneruskan kisahnya di dalam Syair Abdul Muluk, bait 1.257.

Di dalam kata kakanda demikian
Apa-apa juga perintah Tuan
Kakanda menurut juga sekalian
Sekali-kali tidak kakanda bantahkan

Walaupun Kerajaan Hindustan adalah negeri besar, kuat, dan banyak negeri taklukannya, Jamaluddin tak menghalangi Sultan Duri untuk memeranginya. Padahal,  dia agak khawatir penerus tahta Kerajaan Barham dan adik iparnya itu akan mengalami kekalahan. Kesemuanya itu dia ikhlaskan karena motivasi Sultan Duri untuk membantu negeri dan rakyat yang tertindas oleh bangsa lain. Memang, hanya setakat itu saja yang diketahui oleh Jamaluddin sekeluarga tentang latar belakang adik iparnya itu.

             Dalam pada itu, Siti Rafiah (jati diri sebenarnya Sultan Duri, yang belum diketahui oleh Jamaluddin sekeluarga) berasa wajib memerangi Kerajaan Hindustan karena negerinya (Kerajaan Barbari) telah diserang secara biadab dan kemudian dijajah oleh Kerajaan Hindustan. Bersamaan dengan itu, suaminya (Sultan Abdul Muluk), para menteri, dan hulubalang yang masih hidup dipenjara disertai siksaan fisik setiap hari. Sejak melarikan diri dari istana Kerajaan Barbari, memang motivasi utama Siti Rafiah adalah memerdekakan kembali negerinya setelah dia berhasil menghimpun kekuatan di luar negeri. Sekarang dia berasa kekuatan yang dimilikinya telah memadai dan sudah saatnya sumpah setianya kepada negerinya ditunaikannya.

            Di atas semua pertimbangan duniawi itu, ajaran Allah-lah yang menjadi motivasi utamanya untuk menunaikan bakti. Dalam hal ini, dia wajib mengimplementasikan nilai-nilai ajaran agamanya sekaligus mengikuti petunjuk Allah.

            “Dan, perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas,”(Q.S. Al-Baqarah, 190).

            Siti Rafiah berasa berkewajiban menegakkan ajaran agamanya sesuai dengan firman Allah di atas. Bersamaan dengan itu, dia hanya mau menjadi pemimpin yang mengikuti petunjuk Allah. Memang, pemimpin kelas utama senantiasa mendasarkan darmabaktinya pada kesetiaan terhadap ajaran agamanya sekaligus menaati perintah Tuhannya.

            Sikap dan pilihan kepemimpinan yang diambil oleh Siti Rafiah, walaupun konsekuensinya mungkin saja dia syahid di medan juang, ternyata termaktub di dalam Tsamarat al-Muhimmah. Pedomannya seyogianya memang diterapkan oleh para pemimpin yang berkelas wira sejati.  

 “Bermula makna raja itu jika dikata raja itu dengan makna khalifah yaitu Khalifah Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam pada mendirikan Islam dan menghukumkan akan segala hamba Allah dengan hukuman Quran dan hadits dan ijma,” (Haji dalam Malik (Ed.), 2013).

            Seperti itulah sikap dan watak kepemimpinan yang dipilih oleh Sultan Duri. Dia sedikit pun tak rela jika kepemimpinannya menyimpang dari ajaran Al-Quran, hadits, dan ijma ulama. Pasalnya, dia yakin seyakin-yakinnya bahwa nilai-nilai itulah yang menjadi pedoman kebenaran kepemimpinan yang sebenarnya karena berasal dari Allah dan Rasul pilihan-Nya.

Siti Rafiah tak rela bangsanya dipimpin oleh pemimpin yang mabuk kuasa seperti Sultan Syihabuddin dari Negeri Hindustan. Watak, sikap, dan perilakunya yang menjajah negeri orang tak boleh dibiarkan. Syair nasihat di dalam Tsamarat al-Muhimmah, bait 67 (Haji dalam Malik (Ed.), 2013) menggambarkan watak pemimpin yang serakah dan mabuk kuasa itu.

Setengah yang kurang akal dan bahasa
Tingkah dan laku bagai raksasa
Syarak dan adat kurang periksa
Seperti harimau mengejar rusa

Di dalam Gurindam Dua Belas, Pasal yang Pertama, bait 1, pemimpin kelas rendah itu digolongkan sebagai pemimpin yang tiada boleh dibilangkan nama. Dengan kata lain, namanya tak mendapat tempat dalam senarai pemimpin yang patut dikenang karena ketauladanan kepemimpinan. Pasalnya, dia enggan dan memang sengaja melanggar ketentuan agama dalam penyelenggaraan pemerintahannya.

Barang siapa tiada mengenal agama
Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama

Padahal, bangsa-bangsa yang beradab dan bertamadun tinggi mendambakan pemimpinnya menerapkan nilai-nilai religius sebagai dasar utama kepemimpinan. Pemimpin seperti itu tergolong yang menolong agama Allah, yang pada gilirannya Allah pun akan menganugerahkan-Nya inayah sehingga negeri yang dipimpinnya terhindar dari malapetaka dan marabahaya.

“Wahai, orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, nescaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu,” (Q.S. Muhammad, 7).

Firman Allah di atas merupakan janji-Nya kepada orang-orang yang beriman. Tentu, diharapkan juga kepada para pemimpin. Bahkan, Allah menegaskan lagi jaminan-Nya jika para pemimpin bersedia menegakkan nilai-nilai ajaran agama-Nya dalam kepemimpinan.

“Dan, penuhilah janjimu kepada-Ku, nescaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu,” (Q.S. Al-Baqarah, 40).

Tak akan pernah ada negeri yang tertimpa bala jika pemimpin dan rakyatnya memenuhi janji mereka kepada Allah. Jika sebaliknya yang terjadi, bermakna tinggal menunggu giliran dan waktu untuk menerima padah (akibat yang buruk). Kesemuanya memang telah menjadi janji manusia kepada Allah sehingga Dia Yang Mahakuasa yang segala kekuasaan dan kekuatan sesungguhnya di dalam genggaman-Nya tinggal mengeksekusinya saja: baik atau buruk.

Dari Abu Darda’ r.a. beliau berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya, orang yang memahami ilmu (agama dan mengajarkannya kepada manusia) akan selalu dimohonkan (kepada Allah SWT) pengampunan (dosa-dosanya) oleh semua makhluk yang ada di langit dan di bumi, termasuk ikan-ikan di lautan,” (H.R. Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Hibban).

Kenyataan itulah yang sungguh-sungguh diyakini oleh Siti Rafiah walaupun dia perempuan yang terpaksa menyamar menjadi laki-laki, selama dalam pelarian. Dia berjuang berdasarkan nilai-nilai agung yang memang diajarkan oleh Allah, tempat dia memohon segala pertolongan. Dengan begitu, hatinya telah mantap dan tiada keraguan sedikit jua untuk menghadapi Kerajaan Hindustan.

Kesemuanya itu ditempatkannya sebagai kewajiban, yang tak sekadar untuk membela negerinya yang tertawan. Akan tetapi, lebih-lebih tugas itu menjadi tanggung jawab utamanya sebagai pemimpin kepada Tuhan. Niatnya telah terpasang sehingga tak perlu ragu walaupun jiwanya harus terkorban. Hidup hina menjadi bangsa jajahan harus dilawan dengan bersandarkan sepenuhnya kepada petunjuk dan inayah Tuhan.

Bagi Sultan Duri, dia tak rela menjadi pemimpin yang dibinasakan oleh Allah karena kesombongan diri. Dia sadar sesadar-sadarnya bahwa keberhasilannya menghimpun kekuatan untuk memerdekakan negerinya semata-mata karena ridha Ilahi. Dia tak hendak menjadi pemimpin yang mengundang bala seperti yang dinukilkan oleh Tsamarat al-Muhimmah berikut ini.

“Maka, dilakukan oleh Allah Taala adat hal mereka itu memerintahkan segala hamba Allah yang am, tiada hirau mereka itu akan raja-raja dan orang kaya-kaya dan orang yang gagah berani. Maka, barang siapa daripada raja atau orang kaya-kaya atau orang yang gagah berani mengerintangi dan melawan takabur atas segala anbia dan aulianya dan ulama al-amilin, maka datanglah murka Allah Taala atas mereka itu. Ada kalanya dengan tunai atau dengan bertangguh seperti kebanyakan hikayat yang dahulu-dahulu, beberapa kaum dibinasakan oleh Allah Taala….” (Haji dalam Malik (Ed.), 2013).

Itulah kualitas kepemimpinan Sultan Duri atau Siti Rafiah. Dia adalah tipe pemimpin yang secara ikhlas tunduk dan patuh terhadap perintah dan petunjuk Allah. Dengan begitu, dia berharap kepemimpinannya akan senantiasa beroleh berkah.

Para pemimpin kelas utama seperti Siti Rafiah memang sangat meyakini nilai-nilai kebenaran syair nasihat di dalam Tsamarat al-Muhimmah, bait 67 (Haji dalam Malik (Ed.), 2013). Nilai-nilai itu senantiasa dijadikannya sebagai suluh sehingga negerinya tak perlu hancur dan lagi luluh.

Hendaklah anakanda mengaji selalu
Dari yang lain lebihkan dulu
Had syarak jangan dilalu
Tidaklah anakanda beroleh malu

Bukankah Gurindam Dua Belas, Pasal yang Pertama, bait 3, juga telah menjamin akan kepemimpinan yang bersandarkan petunjuk Allah? Oleh sebab itu, jika itu menjadi pilihan nilai kepemimpinan, tak ada alasan untuk berhati gundah. Pasalnya, dia akan terhindar dari sikap dan perbuatan kepemimpinan yang mengundang padah.

Barang siapa mengenal Allah
Suruh dan tegahnya tiada ia menyalah

Bagi rakyat, pemimpin seperti itu memang sangat didambakan karena dia telah mewakafkan dirinya untuk menjadi penolong. Pada gilirannya, pemimpin berkelas utama seperti itulah yang harus disokong.

“Dan, orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya, Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana,” (Q.S. At-Taubah, 71).

            Memang istimewa pemimpin yang melaksanakan kepemimpinannya sejalan dengan penegakan nilai-nilai agama Allah. Dia terjamin karena tak pernah berani melawan petunjuk Allah. Lagi pula, jika matlamat kejayaan sejati yang hendak dicapai, cara satu-satunya yang harus dilakukan adalah taat-setia kepada Allah. Dari situlah mengalirnya segala berkah dan faedah.

Dari Abu Hurairah r.a. beliau berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang taat kepadaku berarti dia telah taat kepada Allah dan barang siapa yang durhaka terhadapku, maka dia telah durhaka terhadap Allah,” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Akhirnya, Siti Rafiah atau Sultan Duri—dengan strategi dan taktik yang luar biasa hebatnya—berjaya mengalahkan Kerajaan Hindustan, yang konon negeri besar dan kuat yang tak mungkin kalah. Dia mampu memerdekakan negerinya, membebaskan para pemimpin negerinya, dan membahagiakan rakyatnya karena dapat hidup di alam merdeka kembali seperti dahulu, sebelum kedatangan bangsa penjajah.

Banggakah perempuan jelita, yang bertahun-tahun memendam kesedihannya karena harus menyamarkan diri menjadi lelaki perkasa, itu dengan semua capaian gemilangnya yang telah teserlah? Matlamatnya telah tercapai melalui perjuangan yang tak mengenal lelah. Sebagai manusia, mungkin dia berbangga, atau lebih tepatnya berbahagia, atas segala hasil jerih payah. Akan tetapi, di atas kesemuanya itu dia semakin tunduk terhadap Allah. Begitulah anggunnya watak dan sikap kepemimpinan seorang Siti Rafiah.

Di bawah kepemimpinan terbilang seperti itulah setiap negeri akan beroleh berkah. Bukan pemimpin yang tampilan depannya terlihat elok tanpa sebarang noktah, tetapi di belakang ternyata berpaling tadah. Itulah pemimpin yang tak mampu mengaji pedoman Allah.***

Menyelamatkan Cagar Budaya di Kepri

0

Oleh : Fadlillah, Lingga

Daerah Provinsi Kepulauan Riau mempunyai berbagai peninggalan sejarah yang berasal dari masa lalu. Kabupaten/kota yang ada di Kepulauan Riau, mempunyai peninggalan sejarah yang perlu diberi perhatian dan selanjutnya terus dilestarikan. Terlebih lagi Provinsi Kepulauan Riau, kaya dengan warisan sejarah karena pernah menjadi pusat Kerajaan maritim besar di masa yang lalu, yakni Kerajaan Johor, Pahang, Riau dan Lingga, hingga ke Lingga Riau. Kota Tanjungpinang dimana tempat Riau berada yang dulunya pernah menjadi pusat kerajaan mempunyai berbagai peninggalan bersejarah. Begitu juga di pulau Lingga, yang dahulu tempat kedudukan Sultan mempunyai juga berbagai peninggalan sejarah yang masih bisa dilihat sampai ke hari ini. Belum lagi peninggalan sejarah di Kabupaten/Kota lainnya, seperti makam Raja Johor , Abdullah Mu’ayat Syah di pulau Tambelan, Kabupaten Bintan.

Di Kepulauan Riau, bukan saja terdapat peninggalan sejarah dari zaman Melayu Islam, tetapi peninggalan sejarah dari zaman Hindu-Budha pun dapat ditemukan, seperti di Kabupatan Karimun, mempunyai batu bertulis atau prasasti pasir panjang.  Prasasti pasir panjang peninggalan sejarah dari masa lampau zaman Hindu-Budha. Menurut Sindu Galba dkk (2001:198)  “Prasasti ini dipercaya berasal dari abad ke IX-X Masehi. Sementara itu ada juga yang berpendapat berasal dari abad ke xi dan XII.”

Peninggalan sejarah yang ada di Kepulauan Riau, bukan saja berasal dari warisan orang Melayu, tetapi terdapat juga warisan dari suku bangsa lain. Warisan bersejarah dari suku bangsa lain, contohnya Kelenteng di Jalan Mardeka Tanjungpinang. Berdasarkan buku Tanjungpinang dari Ingatan ke Kenyataan (2012:39), nama kelenteng ini, T’en Hou Kong, diperkirakan dibangun tahun 1857 oleh komunitas Cina, dari suku Hokkian yang menetap di Tanjungpinang. Peninggalan kolonial juga sampai ke hari ini masih bisa dilihat di Kepulauan Riau, seperti di Tanjungpinang yakni gedung daerah bekas kantor Residen Riau.

Peninggalan-peninggalan sejarah yang berada di Kepulauan Riau sebagian ada yang bernasib baik, dirawat dan diurus, Sebagian lagi bernasib kurang baik, tidak terawat, hanya segelintir orang yang kenal dan mengetahui. Peninggalan sejarah, ada yang berada dalam simpanan masyarakat, terletak dalam hutan atau semak belukar dan ditengah pemukiman masyarakat. Jika peninggalan sejarah yang terletak di dalam hutan atau semak belukar dan ditengah pemukiman masarakat tidak diberikan perhatian, tentu akan rawan terancam punah akibat faktor lingkungan sekitar, bahkan di jarah oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Benda-benda bersejarah yang berada dalam simpanan  masyarakat juga rawan terancam punah akibat tidakdirawat dan disimpan secara baik. Benda peninggalan sejarah bisa juga berpindah tangan karena dicuri atau dijual kepada penadah-penadah yang mencari untung dari bisnis barang antik.

Dalam sejarah suku bangsa Melayu pernah mengalami perusakan yang disengaja terhadap peninggalan sejarah. Peristiwa ini terjadi di Singapura di masa pemerintahan kolonial Inggeris. Batu bersurat Singapura di rusak oleh seorang pegawai Inggeris. Mengenai peristiwa ini, Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi dalam Hikayat Abdullah menceritakan.

“Hingga sampailah tinggal batu itu kepada zaman Tuan Bonham menjadi gabenor dalam tiga buah  negeri, iaitu Singapura, Pulau Pinang dan Melaka. Maka pada masa itu Tuan Coleman menjadi injinir di Singapura. Maka ialah telah memecahkan batu itu. Sayang! Maka pada sangkaku pekerjaan itu sekali-kali tiada patut. Barangkali oleh sebab bebalnya dan bodohnya memecahkan itu oleh sebab ia tiada boleh mengetahui itulah dipecahkannya.  Maka tiadalah ia berfikir barangkali ada lagi orang yang terlebih pandai daripadanya yang  boleh ia mengeluarkan rahsia-rahsia dari dalamnya, karena aku ada menengar khabar di negeri Inggeris orang yang pandai-pandai dengan hikmahnya dapat ia mengetahui perkara-perkara yang demikian itu dengan mudahnya baik daripada barang-barang bahasa atau bangsa, adanya. Seperti kata Melayu: Tak boleh dibaiki, jangan dipecahkan.”

Peristiwa yang dikisahkan dalam Hikayat Abdullah suatu pelajaran, bahwa ada peninggalan sejarah Melayu yang telah punah akibat sengaja di rusak oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Hal ini tentunya merugikan suku bangsa Melayu. Peninggalan sejarah mempunyai cerita sejarah yang bukan sekedar untuk bernostalgia, cerita hiburan di kedai kopi atau pun sekedar cerita pengantar tidur seorang anak agar cepat terlelap. Sejarah mempunyai guna dan berguna dalam kehidupan masyarakat. Menurut Kuntowijoyo (1995) Sejarah itu berguna secara intrinstik dan ekstrinsik. Guna sejarah secara intristik menurut Kuntowijoyo yakni sejarah sebagai ilmu, cara mengetahui masa lampau, pernyataan pendapat dan profesi. Guna sejarah secara Ekstrinsik pula, secara umum sejarah mempunyai fungsi pendidikan yaitu moral, penalaran, politik, kebijakan perubahan, masa depan, keindahan dan ilmu bantu. Selain pendidikan sejarah juga berfungsi sebagai latar belakang, rujukan dan bukti.

Barang-barang peninggalan bersejarah di Kepulauan Riau, bukan saja berada di darat tetapi juga di laut. Lautan Kepulauan Riau punya harta karun terpendam yang bernilai tinggi, berupa barang-barang bersejarah dari masa lampauyang berasal dari muatan kapaltenggelam. Tidak dipungkiri sejak zaman dahulu, lautan Kepulauan Riau merupakan jalur perdagangan internasional yang dilalui kapal-kapal dari timur dan barat untuk menuju berbagai tempat di Nusantara. Dilihat dari kondisi geografis Kepulauan Riau, tentunya muatan kapal tenggelam sangat rawan di jarah oleh pencuri dari dalam mau pun luar negeri.

Para pencuri barang antik yang mencari untung dari perdagangan ilegal, tidak segan-segan menjarah barang-barang muatan kapal tenggelam yang berada dilautan. Selanjutnya, hasil jarahan di jual ke penadah-penadah yang kemungkinan akan dijual kembali ke luar negeri. Merujuk, Fitra Arda Sambas (2015) antara tahun 2014-2015, terdapat sembilan pencurian barang muatan kapal tenggelam di wilayah Kepulauan Riau. Sampai ke hari ini barang-barang muatan kapal tenggelam yang bersejarah, masih rawan pencurian dan kemungkinan para pencuri itu tengah beraksi menyelam ke dasar laut untuk menjarah.

Dalam urusan peninggalan sejarah ada peraturan perundang-undangan yang melindungi. Undang-undang yang bisa memberikan payung hukum dan melindungi benda-benda bersejarah. Sebelumnya ada Undang-undang Nomor 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya, selanjutnya tidak berlaku lagi sejak ditetapkan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya. Semua peraturan perundang-undangan yang merupakan peraturan pelaksana dari Undang-undang Nomor 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya.

Benda Cagar Budaya sesuai pasal 1, ayat 1, Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya yakni “Cagar Budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan agama dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan.”

Benda-benda peninggalan sejarah, yang dapat ditetapkan sebagai cagar budaya perlu mempunyai kriteria tertentu. Dalam pasal 5, Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya, berbunyi, Benda, Bangunan, atau Struktur dapat diusulkan sebagai Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, atau Struktur Cagar Budaya apabila memenuhi kriteria:

a. berusia 50 (lima puluh) tahun atau lebih;
b. mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 (lima puluh) tahun;
c. memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/ataukebudayaan; dan
d. memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa.

Berhubungan dengan Situs Cagar Budaya, pada pasal 9 berbunyi, Lokasi dapat ditetapkan sebagai Situs Cagar Budaya apa bila:

a. mengandung Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, dan/atau Struktur Cagar Budaya; dan
b. menyimpan informasi kegiatan manusia pada masa lalu.

Mengenai kawasan cagar budaya, pasal 10 berbunyi, Satuan ruang geografis dapat ditetapkan sebagai kawasan Cagar Budaya apabila:

a. mengandung 2 (dua) Situs Cagar Budaya atau lebih yang letaknya berdekatan;
b. berupa lanskap budaya hasil bentukan manusia berusia paling sedikit 50 (lima puluh) tahun;
c. memiliki pola yang memperlihatkan fungsi ruang pada masa lalu berusia paling sedikit 50 (lima puluh) tahun;
d. memperlihatkan pengaruh manusia masa lalu pada proses pemanfaatan ruang berskala luas;
e. memperlihatkan bukti pembentukan lanskap budaya; dan
f. memiliki lapisan tanah terbenam yang mengandung bukti kegiatan manusia dan endapan fosil.

Benda-benda peninggalan sejarah yang tidak memenuhi kriteria sebagai cagar budaya bisa diusulkan sebagai cagar budaya, jika atas dasar penelitian memiliki arti khusus bagi masyarakat atau bangsa Indonesia. Hal ini diatur dalam pasal 11 yang berbunyi:

“Benda, bangunan, struktur, lokasi, atau satuan ruang geografis yang atas dasar penelitian memiliki arti khusus bagi masyarakat atau bangsa Indonesia, tetapi tidak memenuhi kriteria cagar budaya sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 sampai pasal 10 dapat diusulkan sebagai cagar budaya”

Dalam Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya, pemerintahdaerah Provinsi dan Kabupaten/kota diberikan berbagai kewenangan untuk mengurusi cagar budaya ditingkat daerah. Untuk memudahkan pemerintah daerah melaksanakanpenyelenggaran urusan cagar budaya, pemerintahan daerah provinsi dan kabupaten/kota diberikan hak menetapkan peraturan daerah tentang pelestarian dan pengelolaan cagar budaya. Dengan dibentuknya peraturan daerah tentang cagar budaya, diharapkan mampu mengatasi berbagai persoalan cagar budaya yang tentunya berhubungan juga dengan pelestarian berbagai peninggalan sejarah.

Untuk melestarikan dan mengelola cagar budaya di daerah, di tahun 2015 yang lalu, pemerintahan daerah Provinsi Kepulauan Riau menetapkan Peraturan Daerah Provinsi Kepulauan Riau Nomor 7 Tahun 2015 Tentang Pelestarian dan Pengelolaan Cagar Budaya. Jika dilihat dari pasal 3, peraturan daerah, tujuan dari pelestarian dan pengeloaan sebagai berikut:

a. melestarikan warisan budaya daerah dan warisan umat manusia;
b. mempertahankan kearifan lokal;
c. meningkatkan harkat dan martabat bangsa melalui cagar budaya;
d. memperkuat kepribadian bangsa;
e. meningkatkan kesejahteraan rakyat; dan
f. mempromosikan warisan budaya daerah dan masyarakat.

Dengan adanya peraturan daerah tentang pelestarian dan pengelolaan cagar budaya, berbagai peninggalan sejarah yang masuk dalam kriteria cagar budaya dapat diperhatikan instansiterkait di Provinsi Kepulauan Riau. Pihak anggota Dewan Perwakilan Daerah Provinsi juga perlu memberikan perhatian sesuai dengan kewenangan. Masyarakat juga perlu berperan penting dalam implementasi peraturan daerah. Para sejarawan, pencinta sejarah, ormas, dan lain-lain sebagai bagian dari masyarakat  yang peduli terhadap peninggalan sejarah perlu berperan dalam upaya pelestarian dan pengelolaan cagar budaya.

Di dalam peraturan daerah telah diatur tentang berbagai hal yang berhubungan dengan peran serta masyarakat dalam pelestarian dan pengelolaan cagar budaya. Peran serta masyarakat yang dimuat dalam perda pasal 137, yakni masyarakat berperan serta dalam pelestarian dan pengelolaan cagar budaya. Peran serta dalam bidang pelestarian meliputi :

a. membantu upaya pelindungan. pengembangan, dan pemanfaatan cagar budaya;
b. memberikan bantuan pendanaan yang sah dan tidak mengikat bagi pelestarian cagar budaya;
c. melakukan pengamanan sementara cagar budaya dalam keadaan darurat juga kondisi tertentu,
d. melakukan advokasi, publikasi, serta sosialisasi upaya pelestarian cagar budaya bersama pemerintah daerah dan/atau pemerintah kabupaten/kota;
e. memberikan masukan dalam penetapan batas situs dan kawasan cagar budaya kepada pemerintah daerah;
f. melaporkan kepada instansi yang berwenang di bidang cagar budaya apabila terjadi indikasi kemusnahan, kerusakan dan kehilangan cagar budaya;
g. melaporkan temuan objek yang diduga cagar budaya kepada instansi yang berwenang di bidang cagar budaya;
h. mendaftarkan objek yang diduga cagar budaya; dan
i. melakukan pengawasan pelestarian cagar budaya

Untuk peran serta masyarakat dalam bidang pengelolaan cagar budaya meliputi:

a. memberikan sumbangan pemikiran dalam penyusunan rencana induk pelestarian cagar budaya
b. melakukan pengawasan pelaksanaan pengelolaan cagar budaya;
c. melaporkan pelaksanaan pengelolaan cagar budaya yang tidak sesuai dengan dokumen pelestarian kepada instansi yang bertanggung jawab di bidang cagar budaya;
d. mempromosikan cagar budaya;
e. melakukan sosialisasi dan publikasi upaya pengelolaan cagar budaya; dan
f. dapat menjadi bagian dari unsur tim ahli cagar budaya bersama pemerintah daerah dan/atau pemerintah kabupaten/kota.

Untuk memunculkan peran serta masyarakat, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, perlu mengadakan sosialisasi peraturan daerah terutama di wilayah-wilayahyang terdapat benda-benda peninggalan sejarah. Masyarakat yang telah memahami tentang cagar budaya dan peraturan perundang-undangan tentang cagar budaya, perlu bertindak aktif. Masyarakat lewat pihak yang peduli tidak bisa tinggal diam terhadap berbagai peninggalan sejarah yang terbiar. Perlu melakukan tindakan-tindakan yang berhubungan dengan pelestarian dan pengelolaan bersama denganinstansi pemerintah daerah yang terkait. Jika tidak, mungkin satu persatu peninggalan sejarah di Kepulauan Riau, akan punah ranah.

Mengungkap Naskah Pulau Penyengat

0

Oleh : Bastian Zulyeno
Staf Pengajar Prodi Arab FIB-UI

Pulau Penyengat adalah salah satu destinasi wisata bagi Provinsi Kepulauan Riau.Setiap Sabtu-Ahad, kecuali bulan Ramadan, Penduduk Tanjung Pinang dan sekitarnya, berziarah ke makam Raja Ali Haji (1808-1873), Raja Haji Fisabilillah (1725-1784), dan bebebrapa makam lainnya. Para peneliti dan mahasiswa dari Malaysia, Singapura, Brunei, dan Pattani, rutin pula dalam setiap semester mengadadakan kunjungan wisata edukasi kesana.

Raja Ali Haji dan Raja Haji Fisabilillah, keduanya diangkat pahlawan nasional. Jika Raja Haji Fisabilillah lantaran perlawanannya menentang pasukan Belanda dalam perang Teluk Ketapang, Raja Ali Haji ditempatkan sebagai salah seorang pujangga besar Melayu. Abdul Hadi WM menyebutnya sebagai Bapak Bahasa. Ia dianggap sebagai pelopor [penulisan sejarah lewat mahakarya Tufat Al-Nafis, Orang pribumi pertama yang menyusun kamus monolingual, menawarkan kelas kata dalam tata Bahasa melayu, dan berhasil memperkenalkan model puisi (baru( yang bukan pantun, bukan pula bidal. Ia menyebutnya gurindam. Karyanya Gurindam Dua Belas, sampai kini terus menjadi bahan kajian para peneliti dalam dan luar negeri. Naskah aslinya masih terawat dengan baik di Perpustakaan Nasional.

Jika ditelusuri lebih jauh situasi gerakan literasi pada masa itu, kita akan sampai pada bukti autentik berupa naskah-naskah yang dihasilkan para penulis Melayu. penemuan itu didukung oleh adanya bangunan bersejarah peninggalan masa lalu yang kini tinggal puing-puingnya belaka. Pada 1894, misalnya, di Pulau Penyengat berdiri percetakan dan penerbitan pertama milik pribumi, yaitu Mathba’at al Riawiyah dan Mathbaat al Ahmadiah.

Adanya percetakan dan penerbitan itu mendorong berlahirannya para penulis produktif dari kalangan elite istana. Pulau Penyengat menjadi pusat keilmuan dan aktivitas intelektual dunia Melayu. Puncaknya terjadi lewat gerakan literasi kaum intelektual yang terhimpun dalam “Rusydiah Klab”, Sebuah institusi cerdik-cerdikia independen yang syarat penerima keanggotaannya harus sudah pernah menghasilkan buku. Menurut beberapa sumber, yang tercatat menjadi anggota institusi ini, antara lain Raja ALi HAji, syekh Al-Hadi (Melayu), dan Haji Hasan Mustapa (Sunda). Al-Hadi kemudian mendirikan majalah al-Iman di Singapura dan menjadi perintis penulisan novel Modern di Semenanjung Melayu. Sementara itu, Hasan Mustapa kembali ke tataran Pasundan mengembangkan kariernya sebagai penulis dan penerjemah Sunda.

Menurut beberapa katalogus, diantaranya Juynbell (1899), van Ronkel (1909 dan 1921), Amir Sutaarga (1972), Ricklefs dan Voorhoeve (1977), dan UU Hamidy (1985), naskah-naskah dari Pulau Penyengat ini tersebar di mancanegara, diantaranya Indonesia, Belanda, Inggris, dan India. Di Indonesia sendiri, selain di Perpustakaan Nasional, naskah-naskah Pulau Penyengat masih tersimpan dan dirawat oleh keturunan kerajaan Riau-Lingga, sampai kini masih setia menjaga dan memelihara naskah-naskah Pulau Penyengat.

Dari kediaman Raja Malik inilah kami memulai penelusuran naskah-naskah tersebut. Rumah panggung yang berdiri di atas bibir pelantar dermaga Pulau Penyengat, Raja Malik menyimpan rapi dalam kotak plastik ratusan koleksi naskah kuno. Raja Malik yang juga ketua Yayasan Indera Sakti, menuturkan, selama ini naskah-naskah ini tersimpan di kantor Yayasan Indera Sakti Pulau Penyengat, tetapi karena saat ini bangunan yayasan sedang direnovasi, untuk sementara koleksi naskah diamankan dirumahnya.

Kondisi Bangunan kantor yayasan tempat menyimpan koleksi naskah itu memang memprihatikan. Kontras dengan nilai-nilai kekayaan sejarah yang melekat pada keberadaan naskah-naskah itu sebagai bukti tajamnya pena para cendikiawan Melayu. Guru besar linguistik, Harimurti Kridalaksana dalam bukunya Bustanulkatibin dan Kitab Pengetahuan Bahasa : Sumbangan Raja Ali Haji dalam Ilmu bahasa Melayu (1983) menyebutkan, kitab Bustanul Katibin memuat penjelasan Raja Ali Haji mengenai pembagian kelas kata, yang bersumber pada pembagian kelas kata bahasa Arab.

Seperti Kasidah Burdah, Raja Ali Haji juga menulis naskah Syair Sinar Gemala Mestika aLam. Isinya berupa pujian kepada Nabi Muhammad saw. Dalam Khazanah sastra Melayu klasik, puja-puji dan doa pengangungan kepada Nabi Muhammad saw, lazimnya ditulis dalam bentuk hikayat. Raja Ali Haji justru menulisnya dalam bentuk syair. Sejauh pengamatan, boleh jadi Syair Sinar Gemala Mestika Alam merupakan syair satu-satunya yang berisi tentang pujian kepada Nabi Muhammad. Penulis Gurindam Dua Belas ini adalah salah satu model cendikiawan Melayu, dimana cendikiawan biasanya juga penyair. Tipologi cendikiawan seperti ini juga yang kerap menghiasi zaman keemasan Islam jadi parameter keilmuan, sebut saja Ibnu Sina (980-1037) yang setengah dari karyanya dalam bentuk puisi dan Umar Khayyam (1048-1131) Astronom dan matematikawan juga meninggalkan karya dalam bentuk syair “Rubaiyyat Khayyam”.

Sebuah naskah berjudul Perjalanan Istinthaq setebal 36 halaman berisi tentang astronomi. Ada semacam kajian ilmu falak disertai gambar dan simbol-simbol. Yang menarik dari naskah itu selain deskripsi tentang astronomi yang mengisyaratkan pemahaman yang baik penulisannya atas dunia perbintangan dan ilmu falak, juga dalam setiap pasalnya, diawali dahulu dengan semacam keterangan yang disusun dalam bentuk syair berirama.

Ada juga naskah tentang perobatan herbal Melayu, rajah, syair madah, pelipur lara, surat wasiat, adab dan hukum Islam, doa dan firasat, silsilah raja, ilmu bumi, sejarah, pengetahuan bahasa, dan ramalan. Terdapat juga beberapa hikayat dan Persia yang diterjemahkan dan dinarasikan ke dalam versi Melayu. Sebagian besar naskah itu ditulis dalam bentuk syair. Sebutlah diantaranya, Hikayat Syahinsyah, Hikayat Pahlawan Farhad, dan Hikayat Ali Syaar.

Diantara sejumlah naskah yang berisi tentang berbagai ilmu pengetahuan, terselip satu naskah berjudul Kitab Perhimpunan Gunawan. Naskah ini ditulis Raja Hakim, generasi kedua setelah Raja Ali Haji, seorang hakim kerajaan yang sangat disegani karena ketawaduan dan pengetahuannya yang mumpuni dalam ilmu agama. Lalu, apa isi naskah Kitab Perhimpunan Gunawan itu? Naskah itu berisi sejumlah gambar yang menjelskan secara cukup terperinci tentang gambar-gambar itu.

Ternyata isi naskah itu semacam Kamasutra versi Melayu. Jika mencermati karya para peneliti sastra melayu, seperti Braginsky, Liaw Yock Fang, Teuku Iskandar, Amin Sweeney, dan entah siapa lagi, yang tidak ada satu pun yang menyinggung Kamasutra, maka boleh jadi, naskah ini satu-satunya Kamasutra versi Melayu.

Melihat bukti akan kejayaan intelektual Melayu masa lalu, dapat dipahami jika Raja Ali Haji dalam pembukaan Kitab Bustanul Katibin (1857) menulis sebait syair berbahasa Persia yang terjemahannya bermakna : Berkata pena aku adalah raja dunia/Yang menggunakanku kan kubawa keberintungan/ Bila dia sial maka aku bukan darinya tapi menjadi bernilai dan kubawa kepada keberuntungan MAksudnya : sesial-sialnya orang yang menulis (dan membaca) buku, ia tetaplah akan beroleh keberuntungan.

Pulau Penyengat dengan segala kekayaan naskah dan sejarah masa lalunya, mestinya menjadi situs kebanggaan nasional. Oleh karena itu, patut dipertimbangkan usaha melakukan pemugaran bangunan-bangunan bersejarah disana.

Sumber : Harian Republika edisi Minggu, 29 Juli 2019

Tapak Pabrik Sagu Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah II (1857-1883)

0

Tapak Pabrik Sagu Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah II (1857-1883)

Jl. Istana Robat Kelurahan Daik, Lingga

Refleksi Makna Nilai Idul Qurban masa Kejayaan Sultan Abdul Rahman Syah (1812-1832)

1
Lokasi Makam Sultan Abdul Rahman Syah (1812 – 1832).

Penulis : Zaid, ST
Pranata Humas Kementerian Agama Kabupaten Lingga

Sultan Abdul Rahman Syah (1812-1832) dianggap Sultan Lingga yang paling perhatian pada bidang agama. Beliau sangat alim dan taat beribadah. Semasa kepemimpinan beliau, semangat dan semarak kehidupan beragama di Kerajaan Lingga berlangsung dengan baik.

Menurut keterangan Tuan Lazuardy Bin Oesman, seorang ahli cagar budaya asal Kabupaten Lingga menyebutkan kalau Sultan Abdul Rahman Syah (1812-1832) merupakan Sultan yang sangat perhatian di bidang agama. Sehingga beliau sangat disegani dan dihormati oleh rakyatnya.

Adapun salah satu yang menjadi perhatian beliau semasa kepemimpinannya adalah semarak riuh rendah ketika akan menyambut Idul Adha atau Idul Qurban. Sultan sangat detail dalam pelaksanaan Qurban, yakni mulai anjuran berqurban kepada para saudagar dan kerabat istana, pemilihan hewan, lokasi penyembelihan, tata cara penyembelihan hingga pendistribusian. Sultan ingin seluruh rakyatnya bisa merasakan riuh rendah berqurban.

Menurut sumber lisan menyebutkan bahwa hewan qurban, yakni lembu dan kambing. Awalnya lembu dan kambing ini di datangkan dari luar Lingga. Di masa itu, jarang orang beternak lembu. Namun, seiring berjalannya waktu, atas perintah Sultan lembu dan kambing diternak dan dikembangbiakkan oleh rakyat. Makanya, ada muncul sebutan Padang Lembu, Tenaga Lembu di Daik.

Paling menarik pada bagian ini adalah terkait lokasi penyembelihan. Sultan menganjurkan di tanah lapang. Selain di tanah lapang, mungkin juga di tanah lapang sekitar istana. Ada sumber menyebutkan pemotongan dilaksanakan di alun-alun Kota Parit tempat istana semasa Ayahndanya, yaitu Lapangan Hang Tuah sekarang. Atau ada juga yang menyebutkan di Istana Dalam berlokasi di Pangkalan Kenanga.

Hal ini menunjukkan bahwa Sultan ingin seluruh rakyat ingin membaur bersama-sama. Selain itu juga, kalau kita lihat apa yang dilaksanakan Sultan saat itu adalah sebuah keputusan yang sangat cerdik. Mengapa pemotongan tidak dilaksanakan di masjid atau seputaran masjid?, Karena pertimbangan sisa kotoran dan darah hewan qurban yang akan membusuk jika tidak dibersihkan dengan sempurna. Apalagi jika musim panas sehingga bisa mengganggu penciuman jamaah ketika melaksanakan sholat lima waktu. Jika petugas kebersihan masjid/surau tidak sigap dan hanya membersihkan sisa darah dan kotoran ala kadarnya, maka dipastikan selama 3 (bulan) bau tidak enak akan menggangu penciuman bagi jamaah yang sholat di masjid/surau tersebut.

Selain itu, jika pemotongan dilaksanakan di lingkungan masjid dan hewan yang dipotong lebih dari 1 (satu) ekor dipastikan waktu pembersihan, pengulitan dan pembagian daging akan sangat panjang. Dipastikan ketika masuk waktu sholat masih ada yang bekerja. Tentunya kondisi ini tidak enak dipandang dan memberikan contoh yang kurang baik. Memang sebaiknya di lapangan, sehingga ketika masuk waktu sholat, jamaah yang ada di masjid tidak terusik dan terganggu.

Lalu bagaimana dengan tatacara penyembelihan? Sultan yang menunjuk dan menentukan. Pastinya bukan orang sembarangan. Tentunya, Sultan memilih orang alim (berilmu) pilihan beliau untuk mengeksekusi hewan sembelihan. Seorang penyembelih harus sudah memiliki pengetahuan yang cukup soal bagaimana menyembelih tanpa ada rasa membunuh.

Menyembelih dan membunuh adalah dua kondisi yang sangat jauh berbeda. Mulai dari pemilihan pisau qurban, teknik menumbangkan, hingga penyembelihan tentu harus dikuasai oleh seorang penyembelih. Hewan Qurban pun mati dengan tanpa siksaan. Karena yang dilakukan adalah dalam rangka ibadah kepada Sang Khaliq. Jadi, pisau qurban harus benar-benar tajam sehingga tidak menyiksa kondisi hewan qurban.

Usai pemotongan, yang terkadang sering disepelekan adalah adab dalam menyiang dan menguliti hewan qurban. Sultan tidak mau sembarangan artinya para pembantu penyembelih harus punya adab dalam bekerja. Mereka harus menutup aurat karena semua proses masih dalam satu rangkaian ibadah. Bukan soal cepat atau lambat selesai penyembelihan dan penyiangan hewan qurban tapi lebih kepada adab dalam beribadah.

Setelah seluruh daging qurban terkumpul, tentunya dibagikan sesuai dengan ketentuan syariat, yaitu dibagi 3 bagian. Sepertiga untuk yang berqurban, sepertiga untuk dihadiahkan dan sepertiga lagi untuk dimasak dan dimakan bersama.

Di zaman dulu, wadah yang digunakan mendistibusikan daging adalah menggunakan daun yang lebar atau piring dari tanah. Tidak ada yang menggunakan kantong plastik seperti saat ini. Selain belum ada kantong plastic saat itu tapi juga kurang baik bagi kesehatan pengkonsumsi. Dulu daging langsung habis dibagikan pada hari pelaksanaan qurban, yaitu 10, 11,12,13 Zulhijjah. Kenapa demikian? Karena di zaman itu belum ada teknologi pengawet berupa pendingin dan pengalengan. Adapun solusi saat itu adalah dengan cara merebus daging hingga matang agar tidak busuk untuk dibagikan kepada sanak famili yang agak jauh.

Hal ini menunjukkan kalau Sultan di masa itu, bukanlah orang biasa-biasa saja dan hidup tanpa ilmu. Justru di masa itu, Sultan memiliki hubungan yang kuat dengan ulama sebagai penasehat atau guru agama yang selalu membersamai beliau. Tunjuk ajar dari tuan guru tentu menjadi pedoman dan panduan dalam menjalankan kehidupan. Apapun yang beliau anjurkan kepada rakyatnya, barang tentu sudah dikonsultasikan dengan ulama kerajaan, khususnya yang berkaitan dengan tradisi dan budaya. Ulama di saat itu merupakan orang yang tidak punya kepentingan apapun kecuali sebagai bentuk pengabdian kepada Sultan dan beribadah kepada Allah SWT.

Momen Idul Qurban 1440 H, mari segenap masyarakat yang tergolong mampu mengeluarkan hartanya untuk ikut andil dan berbagi terhadap sesama. Wabil khusus para Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang memiliki penghasilan tetap setiap bulan. Hal ini perlu adanya himbauan ataupun anjuran dari pimpinan, mulai dari Presiden, Gubernur, Bupati/Walikota, Camat, Lurah, RT/RW untuk bersama-sama mengajak PNS, pengusaha atau warganya yang mampu untuk menyemarakkan Idul Qurban dengan melaksanakan penyembelihan hewan qurban di mulai dari lingkungan kantor hingga desa-desa dan sudut kampung.

Membaca dari ulasan di atas, memang dianjurkan agar pelaksanaan penyembelihan tidak di lingkungan masjid/surau. Hal ini tentunya untuk menjaga kebersihan tempat ibadah dari najis dan kotoran. Boleh saja di sekitaran masjid/surau tapi harus dipastikan betul-betul pasca pemotongan tidak ada sedikit pun najis atau kotoran yang tertinggal maupun berbekas. Efeknya sangat buruk sekali bagi penciuman jamaah, jika sisa kotoran tidak dibersihkan ataupun ditanam.

Cari dan tunjuklah penyembelih yang berpengalaman dan berilmu. Ingat juga, para pembantu yang ikut menguliti hewan qurban harus menutup aurat. Pembagian daging qurban harus sesuai dengan ketentuan syariat dan tidak istilah kepala hewan yang sudah dipotong menjadi milik penyembelih sebagai upah potong.

Mari kita tiru semangat Sultan Abdul Rahman Syah (1812-1832) dalam pelaksanaan Idul Qurban. Sehingga syiarnya sampai ke seluruh penjuru Negeri. Kita kirimkan Al Fatihah untuk almarhum yang dimakamkan di Bukit Cengkih Daik Lingga.

Kitab Nūr al-Salāh Karya Tengku Muhammad Saleh (1901-1966): Internalisasi “Salat” Perspektif Tradisi Melayu

0

Oleh : Muhammad Tarobin
Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta

Pendahuluan

Kajian tentang ulama dan karyanya di Provinsi Kepulauan Riau (selanjutnya ditulis Kepri) masih terbatas. Terutama untuk kriteria ulama yang memiliki pondok pesantren, dayah, atau surau. Kebanyakan ulama di wilayah ini berada di lingkaran istana atau elit sosial1, baik dalam istana Yang Dipertuan Muda (YDM; setara Perdana Menteri) di Pulau Penyengat maupun istana Yang Dipertuan Besar (Sultan Riau-Lingga) di Pulau Lingga. Dalam dua wilayah ini, kajian tentang para ulama di Pulau Penyengat relatif lebih banyak daripada di Pulau Lingga dan sekitarnya.Studi tentang ulama sebagian besar berhubungan dengan tarekat yang tumbuh dan berkembang di Nusantara. Sebagai misal, Martin van Bruinessen menyebut Kepri dalam kajian tentang tarekat Naqsyabandiyah. Ia menyebutkan bahwa salah satu tarekat yang berkembang di Kepri adalah Naqsyabandiyah. Tarekat ini masuk ke Kepri saat Syekh Ismâ’îl al-Khâlidî al-Minangkabawî (W. 1859 M) diundang oleh Raja Ali (YDM VIII: 1844-1857) ke Pulau Penyengat.

Raja Ali, dan penggantinya Raja Abdullah (YDM IX: 1857-1858) beserta para bangsawan istana kemudian menjadi murid-murid Syekh Ismâ›îl2. Sedangkan Abdullah menyebutkan bahwa tarekat ini semula tumbuh di Simabur, Batu Sangkar, kemudian menyebar ke Kepri (Pulau Penyengat) melalui sambutan yang meriah dari Sultan Muhammad Yusuf dan Raja Ali Engku Kelana. Menurut Abdullah, Sultan Muhammad Yusuf al-Ahmadi belajar pula kepada Syekh Muhammad Shâlih al-Zawawî, guru tarekat Naqsyabandiyah yang lain. Nampaknya Abdullah salah mengidentifikasi Raja Muhammad Yusuf al-Ahmadi yang merupakan seorang “Yang Dipertuan Muda” (Perdana Menteri) sebagai sultan.

Bertentangan dengan pendapat Abdullah di atas, Hadi berpendapat bahwa Syekh Ismā’īl tidak kembali ke kampung halamannya di Simabur untuk berkarir dalam kapasitasnya sebagai tokoh tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah. Dia lebih memilih Singapura dan Pulau Penyengat untuk menetap dan sekaligus mengajarkan dan mengembangkan ajaran tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah, sebelum akhirnya memutuskan kembali lagi ke tanah suci dan menghabiskan sisa hidup di Mekah. Salah satu penyebab Syekh Ismâ’îl kembali ke tanah suci untuk kedua kali adalah rasa kecewa kepada Raja Muhammad Yusuf (YDM X: 1883- 1899) setelah dibaiat pula menjadi pengikut sekaligus khalifah tarekat Naqsyabandiyah Muzhariyah di Madinah oleh Muhammad Shâlih al- Zawawî. Menurut Hadi, tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah masuk ke Singapura dan Kepri pada awal abad XIX. Hal ini berdasarkan kajian yang telah ia lakukan terhadap naskah al-Manhal al-‘adhb li dhikr al-qalb karya Syekh Ismâ’îl al-Khâlidî al-Minangkabawî.

Salah satu tokoh “ulama” Kepri yang mendapat perhatian adalah Raja Ali Haji (selanjutnya ditulis RAH). Mahdini misalnya, sejak tahun 1997 telah menulis dan/atau menerbitkan setidaknya empat “laporan” penelitian dan satu artikel berisi kajian terhadap kitab Tsamarât al-Muhimmah Dhiyafat li al-Umarâ’i wa al-Kubarâ’i li ahl al- Mahkamah (selanjutnya ditulis: Tsamarât al-Muhimmah/TsM) karya RAH. Dalam karyanya, Raja dan Kerajaan dalam Kebudayaan Melayu, ia menyunting teks TsM (Cod. No. DLXIV/W. 18) koleksi Perpusnas RI dan membandingkannya dengan versi cetak terbitan tahun 1886. Mahdini menggunakan pendekatan intertekstual untuk menganalisis hubungan antara teks TsM dengan teks-teks Melayu yang telah ada sebelumnya yakni Tâj al-Salathîn, Sejarah Melayu, dan Bustân al-Salathîn. Hasil kajian tersebut menyebut bahwa RAH tidak lagi menggunakan konsep “konvensi” raja dalam tradisi Melayu sebagai wakil Tuhan atau khalifah kaum muslimin dan bayangan Allah di muka bumi (khalîfah almu’minîn zhill Allâh fî al-ardh) dan semacamnya. Selain khawatir terhadap kemusyrikan, RAH juga khawatir bahwa kekuasaan yang dilegitimasikan dengan cara demikian akan berlaku tiran. Sementara itu, ide-ide politik modern seperti nasionalisme, egalitarianisme, dan demokrasi juga tidak digunakan, karena dikhawatirkan mendatangkan ancaman terhadap kesultanan Melayu. TsM menurut Mahdini, lebih berorientasi syariah, sehingga dalam teks ini raja disinonimkan dengan “khalifah, imam dan sultan”.

Sementara itu, “ulama-pengarang” di lingkungan istana Pulau Penyengat menurut Hamidy dapat dibagi dalam beberapa generasi. Generasi pertama, adalah angkatan Raja Haji Ahmad atau dikenal Engku Haji Tua (L. 1773). Ia mengarang paling tidak tiga karangan, yakni: Syair Perang Johor, Syair Engku Putri, dan Syair Raksi. Juga ada Tuan Bilal Abu (Syair Siti Zawiyah, 1831), dan Encik Kamariah dari Lingga.

Generasi kedua, adalah para pengarang yang sebaya dengan Raja Ali Haji (1808-1873 M). RAH menurut Hamidy setidaknya menulis 10 karangan. Para pengarang lainnya pada generasi ini adalah: R.H. Daud (2 karangan), Raja Zaleha (2 karangan), Raja Ali (YDM VIII: 1 karangan), R.H. Abdullah (YDM IX: 3 karangan).

Generasi ketiga, ialah para pengarang yang sebaya dengan Raja Muhammad Yusuf al-Ahmadi (YDM X: 1858-1899 M). Para pengarang pada angkatan ketiga ini adalah: Raja Abdul Mutalib (2 karangan), Raja Haji Hasan (1 karangan), dan Raja Haji Muhammad Tahir (1 karangan).

Generasi keempat, merupakan generasi pengarang Riau yang tergabung dalam Rusydiyah Klab. Perkumpulan Rusydiyah Klab didirikan pada tahun 1885.9 Era ini disebut merupakan puncak kemajuan pengarang naskah Jawi di Riau. Kemajuan ini tidak lepas dari dukungan Raja Muhammad Yusuf al-Ahmadi (YDM X) melalui pembangunan perpustakaan dan percetakan. Pelopor penulis dari Rusydiyah Klab adalah Raja Ali Kelana (± 5 karangan). Sedangkan rekan seangkatan dia adalah:

1.Raja Khalid Hitam (1 karangan).
2.Raja Aisyah Sulaiman (istri Khalid Hitam, 3 karangan).
3.Raja Abdullah, alias Abu Muhammad Adnan (6 karangan).
4.Raja Haji Umar (1 karangan).
5.Raja Haji Ahmad Tabib (6 karangan).
6.Raja Haji Muhammad Said (3 karangan).
7.Raja Haji Muhammad Yunus Ahmad (3 karangan).

Selain para penulis yang berasal dari kalangan istana, juga terdapat penulis dari kalangan rakyat biasa, seperti: Hadijah Terung, Salamah binti Ambar, dan Badriah Muhammad Taher.

Selain Pulau Penyengat, daerah lain yang merupakan pusat kebudayaan Melayu di Kepri adalah Pulau Lingga. Satu-satunya ulama asal Lingga yang mengajar di Masjidil Haram, Mekah, ialah Syekh Ahmad Yunus Lingga. Ulama ini disebut lama bermukim di Mekah dan diduga kuat meninggal dan dimakamkan di Mekah. Namun sejauh ini belum diketahui kapan ia dilahirkan dan wafat. Peran Syekh Ahmad Yunus dapat diketahui dari penuturan salah seorang muridnya yang dijumpai oleh Abdullah pada tahun 1979 di Mekah yakni Abdur Rahman bin Syekh Yahya Raman al-Fathani. Ketokohan Syekh Ahmad Yunus juga diakui secara tertulis oleh murid-muridnya yang kemudian menjadi ulama besar seperti Syekh Zainuddin bin ‘Utsman Sarawak dan Qadhi Abu Bakar bin Hasan Johor.

Produktivitas Syekh Ahmad Yunus diketahui dari empat buah karyanya sebagaimana disebut oleh Abdullah. Sebagian besar karya tersebut merupakan kitab terjemahan. Keempat karya tersebut ialah: pertama, Daqâ’iq al-Akhbâr fī Dzikr al-Jannah wa al-Nâr. Karya ini merupakan terjemahan Melayu dari kitab berbahasa Arab Daqâ’iq al- Akhbâr fî Dzikr ahl al-Jannah wa al-Nâr. Kitab ini menceritakan kejadian alam gaib terutama tentang surga dan neraka. Terjemahan kitab ini diselesaikan pada hari Selasa, 20 Muharram 1312 H (24 Juli 1894 M) di Mekah. Hingga sekarang terdapat berbagai edisi cetakan kitab ini. Cetakan pertama diketahui diterbitkan oleh Mathba’ah al-Miriyah al- Kâ’inah, Makkah, pada Jumadilakhir 1312 H (1894 M). Kedua, Al-Tsimâr al-Ladzîdzah ‘alâ al-Riyâdh al-Badî›ah. Judul terjemahan kitab ini oleh Syekh Ahmad Yunus adalah “Segala Buah Kayu yang Sedap-Sedap atas Segala Kebun yang Indah-Indah.” Isi utamanya ialah fikih ibadah menurut Mazhab Syafi’i, namun dimulai dengan pembicaraan akidah. Sementara pada bagian akhir berisi pembahasan tentang sumpah dan nazar, ziarah Rasulullah Saw. dan zikrullah. Kitab tersebut diselesaikan pada 21 Safar 1312 H (24 Agustus 1894 M). Cetakan pertama dan kedua tidak diketahui, sedangkan cetakan ketiga oleh Mathba’ah al-Miriyah al-Kâ’inah, Mekah, pada 1322 H (1904/05 M).

Ketiga, Nasîhah Ahl al-Wafâ’ ilâ Washîyat al-Mushthafâ. Isi kitab ini merupakan penjelasan atas beberapa Hadis wasiat Nabi Muhammad Saw. kepada sahabat, sepupu, sekaligus menantunya, ‘Ali bin Abî Thâlib Kaw. yang berisi ilmu dan hikmah. Disebutkan bahwa siapa yang memelihara wasiat-wasiat tersebut maka akan memperoleh kemuliaan di dunia dan akhirat. Menurut Abdullah dan Tehrani kitab ini diselesaikan di Mekah pada hari Sabtu, 11 Syawal 1312 H ( 6 April 1895 M). Keempat, Hadîqah al-Rayhân fî Bayâni Qisshah Sayyidinâ Sulaymân. Kitab ini berisi kisah Nabi Sulaiman As., diselesaikan pada 24 Jumadilawwal 1313 H (12 November 1895 M) di Mekah. Cetakan pertama tidak diketahui, sedangkan cetakan kedua oleh Mathba›ah al-Miriyah al-Kainah, Mekah, pada bulan Muharram 1324 H (Februari/Maret 1906 M).

Keempat kitab tersebut diselesaikan oleh Syaikh Ahmad Yûnus Lingga hanya dalam tempo kurang dari dua tahun, yakni dalam rentang waktu Muharram 1312 H-Jumadil awwal 1313 H (Juli 1894 – November 1895 M). Hal ini membuktikan bahwa Syaikh Ahmad Yûnus Lingga merupakan ulama yang sangat produktif. Jika tidak banyak diketahui karya-karyanya selain keempat kitab tersebut, maka jawabannya dapat diketahui dari pernyataan muridnya sebagaimana disebut oleh Abdullah yakni bahwa Syekh Ahmad Yunus dikenal sebagai “Qus bahasa Melayu” yang berarti orang cerdik, memegang ilmu dan adab, serta cermat. Berkat kecermatannya ia dikenal sebagai pentashih kitab-kitab Melayu/Jawi. Hal ini yang membuat namanya kurang banyak dikenal karena tidak banyak kitab Jawi yang mencantumkan nama pentashihnya.

Berbeda dengan Syekh Ahmad Yunus, ulama Lingga yang aktifitas intelektualnya dilakukan di Masjidil Haram. Terdapat tokoh ulama Lingga yang aktifitas intelektualnya sebagian besar dilakukan di Pulau Lingga, dia adalah Tengku Muhammad Saleh (selanjutnya ditulis TMS). Selain menulis berbagai macam ilustrasi dan silsilah keagamaan, ia juga menulis beberapa karya, diantaranya yang telah dicetak ialah: Tafsîr al-Fâtihah dan Nûr al-Shalâh. Kitab yang terakhir disebut merupakan kitab yang membahas tuntunan salat baik secara teosofis maupun fikih. Menurut catatan Syahri dkk. TMS juga merupakan sejarawan yang menulis Keringkasan Sejarah Melayu dan Jadwal Silsilahnya (1930). Berbeda dengan kebanyakan sejarawan yang menulis menurut perspektif Pulau Penyengat, ia menulis dalam perspektif Lingga.

Kajian terhadap karya dan perjuangan TMS penting dilakukan karena beberapa hal, pertama: TMS memenuhi kualifikasi sebagai tokoh perjuangan, baik sebagai tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia maupun tokoh pejuang agama. Sebagai pejuang, ia pernah ditangkap oleh Belanda dan hendak dibawa ke Batavia karena dianggap sebagai matamata Jepang. Saat itu, ia berhasil melarikan diri dan kemudian menjadi buronan Belanda selama beberapa bulan, bahkan ia pernah melarikan diri ke Singapura. Sebagai pejuang agama, ia pernah menjadi ketua Mahkamah Syariah di Kepulauan Lingga dan Singkep. Selain sebagai tokoh agama di masyarakat, ia juga penyalin naskah-naskah keagamaan masa lalu yang menjadi penghubung antara masa-masa kerajaan Melayu di Nusantara -sebelum dan sesudah datangnya kolonialisme- dengan era kemerdekaan Indonesia.

Kedua, ada beberapa karyanya, khususnya dalam bidang keagamaan yang masih hidup dan digunakan hingga kini, salah satunya adalah kitab Nûr al-Shalâh. Kitab ini, hingga saat ini masih digunakan di masyarakat Pulau Lingga. Menurut penuturan Tengku Husein (salah seorang anak dari TMS), kitab ini menjadi bahan kajian bulanan yang diasuh oleh Ketua Majelis Ulama Kabupaten Lingga di Masjid “bersejarah” Sultan Lingga.

Tulisan ini merupakan hasil penelitian yang difokuskan terhadap isi kitab Nûr al-Shalâh tersebut. Rumusan masalah yang hendak dijawab melalui tulisan ini ialah “bagaimana upaya internalisasi salat yang dilakukan oleh TMS dalam kitab Nûr al-Shalâh?” Adapun tujuan tulisan ini adalah mengeksplorasi upaya atau strategi TMS dalam melakukan internalisasi salat di masyarakat Pulau Lingga dan sekitarnya. Sumber utama tulisan ini adalah kitab Nûr al-Shalâh yang ditulis oleh TMS pada 1373 H/1954 M. Untuk melakukan analisis data-data tertulis digunakan pendekatan intertekstual. Pendekatan ini menyebutkan bahwa penulis dalam menghasilkan karyanya dipengaruhi oleh karya-karya yang telah ada sebelumnya. Oleh karena itu, bahan-bahan penting yang akan dikaji dalam studi ini berupa naskah-naskah tertulis, baik naskah tulisan tangan (manuskrip) maupun teks-teks yang sudah tercetak, baik merupakan karya TMS maupun guru-guru, murid-murid, dan karyakarya ulama sebelum dan/atau sesudahnya.

Kerangka Teoritis

1.Memaknai Internalisasi dan Tradisi

Secara etimologis internalisasi berasal dari kata intern atau internal yang berarti bagian dalam atau di dalam. Sedangkan internalisasi sendiri berarti penghayatan. Sementara menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) internalisasi memiliki dua makna, pertama: penghayatan, seperti dicontohkan dengan kalimat: “Proses internalisasi falsafah negara secara mendalam, berlangsung lewat penyuluhan, penataran, dsb..” Kedua, bermakna penghayatan terhadap suatu ajaran, doktrin atau nilai sehingga merupakan keyakinan dan kesadaran akan kebenaran doktrin atau nilai yang diwujudkan dalam sikap dan perilaku. Sedangkan menurut Asmani internalisasi adalah penyatuan ke dalam pikiran atau kepribadian, pembuatan nilai-nilai, patokan-patokan ide atau praktekpraktek dari orang-orang lain menjadi bagian dari diri sendiri.

Menurut pernyataan terakhir sebagaimana disebut Asmani, maka internalisasi pada hakikatnya adalah sebuah “proses menanamkan sesuatu”. Sedangkan frasa “internalisasi salat” dimaksudkan bahwa penanaman salat itu tidak hanya mencakup “nilai-nilai ibadah salat” melainkan juga mencakup semangat “ber-salat”.

Proses internalisasi menurut Firmansyah20 dapat terlaksana secara maksimal ketika melibatkan beberapa unsur: pertama, ada lembaga (institusi), misalnya: lembaga studi Islam, majelis taklim dan sebagainya. Kedua, ada “figur” personal yang diteladani, misalnya pengajar di sekolah, kyai/ustadz di pesantren, masyarakat, dsb. Ketiga, ada materi, kurikulum, dan media lain yang digunakan.

Kata perspektif menurut KBBI offline bermakna “cara melukiskan suatu benda” pada permukaan yang mendatar sebagaimana yang terlihat oleh mata dengan tiga dimensinya (panjang, lebar, dan tingginya)”. Perspektif juga bermakna “sudut pandang atau pandangan.” Sedangkan kata tradisi yang diletakkan setelah kata perspektif menunjukkan orientasi ke masa lalu. Kata tradisi berasal dari bahasa Inggris tradition, kata ini berasal dari bahasa Latin “traditio”. Kata traditio sendiri merupakan kata benda yang berasal dari kata kerja tradere yang berarti “to transmit, to give up atau to give over” (mengirimkan, menghentikan atau menyerahkan). Sedangkan kata Latin traditio (Inggris: tradition) menurut David Gross21 bermakna proses transmisi sesuatu (“the process by which something is transmitted”). Sedangkan materi yang ditransmisikan disebut traditum. Maka menurut definisi-definisi di atas, terdapat tiga hal dalam tradisi, yakni: pertama, sesuatu yang bermakna atau bernilai; kedua, sesuatu itu diberikan oleh seseorang atau generasi kepada orang atau generasi lain atas dasar kepercayaan; dan ketiga, terdapat orang yang menerima pemberian itu dan merasa berkewajiban untuk menjaganya dari kerusakan sebagai peninggalan dari si pemberi.

Dengan demikian internalisasi salat dalam tulisan ini dapat dimaknai sebagai proses penanaman nilai-nilai dan semangat ibadah salat dengan menggunakan sudut pandang tradisi Melayu. Kata tradisi di sini dimaknai sebagai suatu kecenderungan terhadap nilai-nilai positif yang berasal dari masa lalu. Sedangkan Melayu, merujuk pada suatu masyarakat yang mewarisi tradisi dan kebudayaan Melaka.

2.Kajian Terdahulu

Salah satu ciri khas yang membedakan iklim “keulamaan” di Kerajaan Riau-Lingga adalah tidak ada batasan yang tegas antara kebangsawanan (umara), keulamaan (ulama), dan kecendekiawanan (intelektual). Hal ini merupakan ciri khas keislaman di alam Melayu yang kuat sehingga Melayu identik dengan Islam. Oleh karena itu tidak mengherankan bahwa iklim keulamaan di wilayah Kerajaan Riau-Lingga juga dipelopori para bangsawan dari istana.

Para pengkaji tradisi intelektual di Kepri (baca: Pulau Penyengat dan sekitarnya) umumnya sepakat bahwa tokoh yang dianggap sebagai peletak tradisi intelektual dan kepengarangan di Kepri adalah Raja Haji Ahmad ibnu Raja Haji Fisabilillah. Sebagai “sastrawan” Raja Haji Ahmad (w. 1879 M) merupakan tokoh intelektual pertama dari Kerajaan Riau-Lingga yang menghasilkan karya tulis. Selain mengarang paling tidak tiga karangan, yakni: Syair Perang Johor, Syair Engku Putri, dan Syair Raksi. Ia juga disebut merupakan penulis Tuhfah al-Nafs versi pendek. Sebagai tokoh religius Raja Haji Ahmad dan keluarganya merupakan tokoh yang pertama kali menunaikan haji pada tahun 1827 M.

Dari sekian banyak tokoh intelektual, sastrawan atau bahkan ulama yang berasal dari iklim intelektual di Pulau Penyengat, nyaris tidak ada yang melebihi ketokohan Raja Ali Haji (1808-1873 M). RAH merupakan anak dari Raja Haji Ahmad. Saking terkenalnya RAH sehingga menutupi populeritas tokoh-tokoh lainnya. RAH paling tidak telah menulis 10 karangan. Jika dikelompokkan sesuai “bidang keilmuan” maka kelompok karya-karyanya itu adalah: pertama; di bidang kesusastraan, karangannya adalah: Bustan al-Katibin (1850-1851); Kitab Pengetahuan Bahasa (1858-belum selesai), “Syair Sultan Abdul Muluk” (1846). Kedua, bidang kenegaraan yakni: Muqaddimah fî Intizhâm (1857, cetakan pertama tahun 1887/1304 H); Tsamarât al-Muhimmah (1857, cetakan pertama tahun 1886). Ketiga, bidang sejarah, karangannya ialah: Silsilah Melayu dan Bugis dan Sekalian Raja-Rajanya (1865-1866 M), Tuhfah al-Nafs (1865 M). Keempat: bidang keagamaan, karangannya ialah: Gurindam Dua Belas (1263 H/1847 M), Syair Hukum Nikah/Syair Suluh Pegawai/Syair Hukum Faraid (1283 H/1866 M), Syair Siti Sianah/Syair Jauhar al-Maknunah (1866 M), dan Syair Sinar Gemala Mestika Alam (Nyanyian Angsa) (1893 M).

Diantara 10-an lebih karya RAH yang paling dikenal adalah Gurindam Dua Belas. Selain karena terdapat dalam buku-buku pelajaran kesusastraan Indonesia, juga sarat dengan pesan-pesan moral yang disampaikan dengan bahasa yang kuat dan terpilih. Oleh karena itu, Gurindam Dua Belas layak ditempatkan sebagai karya agung sastra Melayu.

Para pengkaji menyimpulkan bahwa Gurindam Dua Belas mengandung pesan keimanan dan ketakwaan yang mendalam. Isinya penuh dengan pesan untuk menjaga hubungan dengan Sang Khalik (habl min Allâh) dan hubungan sesama manusia (habl min al-nâs). Bahkan menurut Dahlan jika seseorang sudah mengamalkan isi Gurindam Dua Belas, maka ia disebut telah mengamalkan sebagian besar inti ajaran al-Quran dan Hadis Nabi Muhammad Saw.. Merujuk segala aspek dari Gurindam Dua Belas –dan karya-karya lainnya- maka tak ada keraguan sedikitpun untuk menyebut RAH sebagai ulama yang prolifik.

Melalui kajian atas beberapa karya RAH, khususnya Tuhfah al-Nafs, Tsamarât al-Muhimmah, dan Kitab Pengetahuan Bahasa, menurut Junus, RAH sangat dipengaruhi oleh tasawuf al-Ghazâlî (W. 1111 M).27 Bahkan RAH sendiri menurut Hassan menganjurkan kepada pembaca Kitab Pengetahuan Bahasa agar membaca karya-karya al-Ghazâlî.28 Hal ini diperkuat pula oleh pendapat Putten sebagaimana disebut oleh Hassan bahwa entri-entri yang ada dalam Kitab Pengetahuan Bahasa sebagian besar adalah entri kata yang mendefinisikan dan menjelaskan tentang perbuatan baik dan aturan etika sesuai dengan tuntutan agama dan adat istiadat.

Sementara itu kajian-kajian terhadap Tuhfah al-Nafs menempatkan RAH di titik kulminasi sebagai tokoh historiografi Melayu terpenting setelah Tun Sri Lanang, penyusun teks Sejarah Melayu. Tuhfah al-Nafs mulai dikenal sejak diterbitkan oleh sejarawan Inggris R. O. Winsted pada tahun 1932. Puncaknya adalah disertasi Virginia Matheson terhadap Tuhfah al-Nafs pada tahun 1973. Disertasi Matheson dan tulisan-tulisan dia berikutnya, selain menempatkan Raja Ali Haji sebagai sejarawan terpenting di gerbang abad XX juga mengukuhkan Matheson sebagai tokoh paling otoritatif dalam mengulas Tuhfat al-Nafs.

Jika Tuhfat al-Nafs menempatkan RAH sebagai sejarawan Melayu terulung pada paroh kedua abad XIX. Maka Tsamarât al-Muhimmah (selanjutnya ditulis TsM) menempatkan RAH sebagai salah seorang pemikir kenegaraan Melayu terpenting. RAH melalui TsM berusaha melakukan apa yang disebut oleh Junus sebagai demitologisasi raja-raja. Maka melalui TsM, RAH menolak konvensi umum dalam tradisi Melayu sebelumnya yang memahami raja sebagai khalifah Allah, bayangan Allah di alam semesta, dan bayangan Allah di muka bumi (khalîfah Allâh, zhill Allāh fī al-›alam, zhill Allāh fī al-ardh) yang keabsahan kedudukannya karena hubungan khusus dengan kekuatan adikodrati.

Penolakan RAH terhadap konvensi tradisi Melayu yang menempatkan raja sebagai khalīfah Allāh, zhill Allâh fî al-›âlam, zhill Allâh fî al-ardh menurut kajian Mahdini32 disebabkan oleh dua hal, pertama: RAH hidup di tengah-tengah kancah campur tangan Asing (Belanda dan Inggris) dan dalam suasana perpecahan atau konflik berkepanjangan pasca Melaka. Kedua, sebagai ulama dan penasihat hukum bagi kerajaan Riau-Lingga ia berusaha mendekatkan masyarakat Muslim di Riau- Lingga abad XIX agar lebih akrab dengan syariat Islam (syariah oriented). Sementara itu, penolakannya terhadap ide-ide politik modern seperti nasionalisme, egalitarianisme, dan demokrasi menurut Mahdini ialah karena dipandang akan mengancam eksistensi Kerajaan Melayu.

Berdasarkan beberapa kajian sebagaimana disebut di atas, menurut Mastuki HS dan M. Ishom El-Saha setidaknya ada celah perspektif yang belum digunakan yakni menjadikan karya-karya RAH sebagai bahan kajian tentang sejarah intelektual Islam Melayu khususnya abad XIX. Hal ini dapat dilakukan dengan menjadikan kitab-kitab tersebut sebagai sumber data untuk mengamati adanya transmisi ilmu pengetahuan dari tradisi Islam klasik ke tradisi intelektual Melayu abad XIX. Untuk wilayah lain, hal ini, misalnya telah dilakukan dengan baik oleh Azra untuk jaringan Nusantara abad XVII dan XVIII, Deliar Noer (gerakan pembaharuan tahun 1900-1942), dan Erawadi (Aceh abad XVIII dan XIX).

Posisi tulisan ini dimaksudkan untuk mengisi celah kajian tentang sejarah sosial intelektual di ranah Melayu tersebut. Namun, tokoh dan teks yang penulis pilih (Tengku Muhammad Saleh, Nûr al-Shalâh) tidak berasal dari tradisi Yang Dipertuan Muda (YDM) di Pulau Penyengat melainkan dari tradisi Yang Dipertuan Besar (YDB) di Pulau Lingga. Alasannya, sebagaimana telah penulis kemukakan pada bagian pendahuluan, yakni bahwa kajian-kajian terhadap karya-karya ulama Kepri, khususnya yang berasal dari Pulau Lingga dan sekitarnya masih sangat langka. Hal ini disebabkan karena secara geografis wilayah Pulau Lingga dan Singkep terletak cukup jauh dari pusat pemerintahan di Tanjung Pinang, Pulau Penyengat dan sekitarnya.

Tengku Muhammad Saleh: Biografi dan Karya-Karyanya

Tengku Muhammad Saleh (selanjutnya disingkat TMS) merupakan anak dari Tengku Abu Bakar (w. 2 Oktober 1929) dengan Tengku Aluwiah. Menurut penuturan Tengku Husein (anak TMS), Tengku Abu Bakar sebetulnya memiliki 11 atau 12 anak, namun anak yang hidup sampai dewasa dan memiliki keturunan hanya 6 orang. Enam anak tersebut adalah TMS, Tengku Hafsah, Tengku Ainun, Tengku Fitri, Tengku Ahmad, dan Tengku Kalsum.

Tengku Muhammad Saleh dilahirkan pada akhir malam Jumat, 5 Syawal 1318 H atau bertepatan dengan 25 Januari 1901 M di Kota Damnah, Daik, Lingga. Masa kecilnya tidak banyak diketahui. Setelah berumur 7 tahun, ia diambil oleh Sultan “Raja” Abd al-Rahmân Mu’azzham Syah II (berkuasa: 1885-1911 M), Sultan Kerajaan Riau-Lingga terakhir, untuk tinggal di istananya di Pulau Penyengat. TMS dijadikan kawan sejawat bagi cucunya, Tengku Mahmud, putera dari Tengku Umar (Tengku Besar Riau).

Masa-masa pendidikan TMS ditempuh dengan berpindah-pindah tempat. Dua tahun setelah tinggal di Pulau Penyengat (± umur 9 tahun), ia disekolahkan oleh Sultan Abdurrahman II di Sekolah Arabiyah yang didirikan oleh Sultan. Namun hanya setahun ia berhenti sekolah karena guru Sekolah Arabiyah tersebut mengalami gangguan jiwa. Berikut ini penulis ringkaskan riwayat pendidikan dan aktifitas TMS:

Riwayat pendidikan dan aktifitas TMS

Usia Tanggal / Tahun Aktifitas/ pendidikan
25-01-1901TMS dilahirkan di Damiah Daik, Lingga
± 7 tahun1908Tinggal di istana Sultan Abdurrahman
Mu’azzamsyah II di pulau penyengat
(2 tahun sebelum sekolah
± 9 tahun1910Belajar di Sekolah Arabiyah di Pulau
Penyengat (1 tahun)
±10 tahun1911Belajar di Sekolah Kepribumian/
Sekolah Kelas II (1 Tahun)
03-02-1911Sultan Abdurrahman Mu’azzamsyah
II dimakzulkan oleh Belanda, Sultan
pindah ke Singapura. TMS pindah ke
Daik
±11 tahun1911-1913Pindah dan melanjutkan sekolah Kelas
II di Daik, Lingga ( ± 2 tahun)
±13 tahun1913Pindah ke Mandah, Indragiri Hilir
(sekarang). Tebgku Abu Bakar menjadi
Districtshoofd van Gaeong-Mandah
(setingkat camat). (TMS tinggal di
Mandah ± 1 Bulan dan tidak sekolah).
±13 tahun1913/1914Pindah ke Johor Bahru, bersama Tengku
Mahmud, masuk sekolah Inggris
( ± 6 bulan)
28-07-1914Terjadi perang dunia I, melibatkan
Jerman vs Inggris
±13-15tahun1914-1916Pulang ke Daik, Lingga, hingga tamat
sekolah kelas II tahun 1916
±15-20 tahun1916-1920Belajar ilmu agama kepada Imam
KAmpung tentang : Akidah Islam,
Iman, serta syarat rukun, sah, dan batal,
yang fardu ain dalam perkara
mengerjakan ibadah
±20 tahun1920Dikirim oleh ayahnya agar magang di
kantor kontrolir Tanjungpinang, tapi
TMS tidak berminat bekerja di kantor
pemerintah, sehingga ia kembali lagi
ke Daik, Lingga.
±22 tahun1923Membuat kebun Getah para (kebun
karet) di Daik. Lingga.
02-10-1929Tengku Abu Bakar Wafat
±34-37 tahun1935-1938Pergi ke Sapat (Indragiri) dan menikah
disana dengan saudara sepupu.
±37 tahun1938Membuat kebun kelapa di kuala Daik,
Lingga.
19-12-1941TMS ditangkap oleh Belanda karena
dianggap sebagai mata-mata untuk
Jepang, selama 7 hari di penjara di
Pulau Singkep. Namun berhasil
meloloskan diri ketika hendak dibawa
ke Betawi (Jakarta)
±41-44 tahun15-02-1942Singapura dan sekitarnya dikuasai oleh
Jepang, demikian juga Sumatera.
1942–1945Menjadi Hakim Mahkamah Syariah
pada masa pendudukan Jepang, kantor
Mahkamah ada di Pulau Singkep.
±44-65 tahun1945-1966Setelah kemerdekaan tetap tinggal di
Daik, Lingga, hingga wafat pada 10
Oktober 1966.

Pendidikan formal TMS hanya ditempuh di Sekolah Rakyat (SR) yakni Sekolah Kelas Dua (Tweede Inlandsche School) yang bisa ditempuh selama 3 tahun. Namun karena TMS berpindah-pindah maka diduga kuat sekolah ini ditempuh lebih dari tiga tahun. Setelah lulus dari sekolah rakyat, barulah TMS diarahkan oleh orang tuanya untuk belajar dasardasar ilmu agama kepada Imam Kampung yang ada di Daik. Sementara menurut penuturan Tengku Husein, TMS juga belajar agama ke Patani, Sapat, dan Gaung Anak Serka (sebuah kecamatan di Kabupaten Indragiri Hilir).37 Pernyataan Tengku Husein tentang “Sapat dan Gaung Anak Serka” tersebut nampaknya sesuai dengan riwayat singkat yang dibuat oleh TMS. TMS setidaknya pernah dua kali tinggal di daerah Indragiri, yakni: pertama, selama ± 1 bulan pada sekitar tahun 1913 ketika ayahnya. menjadi Districtshoofd di Gaoeng-Mandah. Kedua, sekitar 3 tahun tinggal di Sapat pada tahun 1935-1938. Pada saat ini TMS menikah, kemungkinan dengan istri pertama, kemudian dilanjutkan dengan istri kedua, karena istri pertama wafat.

Gaung Anak Serka dan Sapat merupakan dua daerah yang berada di Kabupaten Indragiri Hilir, di daerah ini dikenal seorang tokoh ulama yang cukup berpengaruh yakni Syekh Abdurrahman Shiddiq al-Banjari. Syekh Abdurrahman Shiddiq dilahirkan pada tahun 1284 H (1867 M) di Kampung Dalam Pagar, Martapura, Kalimantan Selatan. Nama lengkapnya Syekh Abdurrahman Shiddiq bin Muhammad ‘Afif bin Muhammad bin Jamaluddin al-Banjari.38 Sepulang dari belajar di Makkah dan Madinah, Syekh Abdurrahman sempat menetap di Mentok (Bangka) dan melakukan beberapa kali perjalanan sebelum akhirnya menetap di Sapat (sebuah desa di Kecamatan Kuala Indragiri, Kab. Indragiri Hilir) setelah tahun 1907. Pada tahun 1919 Syekh Abdurrahman resmi menjadi mufti Kerajaan Indragiri Hilir sampai beliau meninggal pada tanggal 10 Maret 1939.

Data pada tabel I di atas, menyebut bahwa TMS pernah tinggal di Sapat pada tahun 1935-1938, maka ada kemungkinan kuat bahwa TMS pernah bertemu atau belajar secara langsung dengan Syekh Abdurrahman Shiddiq di Sapat. Meski demikian dalam kitab Nûr al-Shalâh, tidak disebut sekali pun nama Abdurrahman Shiddiq. Demikian juga dalam naskah-naskah eks koleksi TMS tidak terdapat naskah yang ditulis oleh Abdurrahman Shiddiq. Sebaliknya, terdapat satu salinan naskah fikih yang disusun oleh Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari yakni Kitâb Majmû’ yang ditulis di Banjar pada 30 Muharram 1233 H (10 Desember 1817 M). Kolofon kitab tersebut menyebut bahwa naskah tersebut disalin di Malaka pada 25 Zulhijjah 1263 H (4 Desember 1847 M).

Selama hidupnya, menurut Tengku Husein TMS menikah empat kali, namun hanya istri keempat yang melahirkan banyak keturunan dan masih ada hingga sekarang. Istri pertama dan kedua berasal dari Mandah (Tengku Husein menyebut “Mande”), yakni: Jariyah dan Bontol (bukan nama sebenarnya). Istri pertama dan kedua ini adalah kakakberadik. TMS menikah dengan istri kedua, yang merupakan adik dari istri pertama, karena istri pertama meninggal dunia.

TMS menikah dengan istri keempat, Rafeah binti Muhammad Nur pada tahun 1951. Saat itu TMS berumur 50 tahun dan Tengku Rafeah berumur 18 tahun. Dari pernikahan ini, TMS dikaruniai 7 anak, yakni: Tengku Husein (L. 1952), Tengku Hasna (L. 1953), Tengku Saodah (L. 1955), Tengku Salme (L. 1957), Tengku Salman (wafat 3 tahun), Tengku Salim (1960-1997), dan Tengku Hasiah (L. 1964).

TMS termasuk ulama yang cukup produktif dalam menulis. Karyakaryanya berupa ringkasan pelajaran untuk disampaikan kepada muridmuridnya, maupun untuk dicetak. Ada beberapa karya beliau yang sudah dicetak diantaranya adalah Kitab Nûr al-Shalâh dan Risālah Tajwîd al-Fâtihah. Risâlah Tajwîd al-Fâtihah diselesaikan melalui tulis tangan pada 3 Sya’ban 1371 H (28 April 1952 M). Hal ini berarti Risâlah Tajwîd al- Fâtihah selesai dan dicetak dua tahun sebelum Kitab Nûr al-Shalâh.

TMS juga menyalin beberapa naskah karangan para ulama terdahulu. Beberapa contoh salinan naskah, ringkasan, atau naskah yang disusun oleh TMS di bidang fikih adalah: Risalah Pada Menyatakan Hakikat Orang Sembahyang, Masalah Dua Puluh Dua Puasa, Mukhtasar Fatwa Mahkamah Riau-Lingga, Buku Nukil Pelajaran Agama, dan Kitab al-Faraid. Ada dua Kitab al-Faraid yang mencantumkan nama TMS sebagai pengarang, salah satu diantaranya mencantumkan tanggal penyusunan, yakni pada 2 Muharram 1363 H (29 Desember 1943 M) dan 30 Rabiulawwal 1365 H (4 Maret 1946 M).

Sementara itu versi tulisan tangan dari Kitab Nûr al-Shalâh diselesaikan pada tahun 1373 H (1954 M) dan dicetak oleh Al-Ahmadiyah Press, Singapura pada tahun yang sama. Versi tulisan tangan tersebut terdiri dari 45 halaman, sedangkan versi cetaknya terdiri dari 93 halaman isi dan beberapa halaman fihrasah (daftar isi) di bagian belakang.

Fihrasah ini terdiri atas 97 poin isi buku, tidak terlebih dulu dibagi dalam beberapa “bab” kemudian masing-masing bab dibagi dalam beberapa “sub bab”, juga tidak dibagi menjadi beberapa “pasal” dan “sub pasal”. Demikian pula “judul” yang tertulis dalam 97 poin tersebut bukan tertulis sebagai “judul” dalam halaman yang tersebut di dalamnya. Misalnya poin nomor 2, 3, dan 4 tertulis judul dalam fihrasah adalah “Khutbah kitab, Asal sembahyang, dan Arti sembahyang pada lughat”, ketiganya terletak di halaman 4. Ternyata “judul” poin tersebut tidak ditemukan pada halaman 4. Tiga poin tersebut ditemukan sebagai “isi pembahasan” di halaman 4, tidak tertulis sebagai judul bab atau sub bab pada halaman 4.

Diantara 97 poin tersebut ada beberapa poin yang tertulis dengan judul “Pasal ….. dst”, namun pada halaman yang ada, hanya tertulis “Pasal”, tidak tertulis “isi pasal” secara lengkap sesuai fihrasah-nya, kecuali “pasal” paling awal pada halaman 9. Beberapa pasal tersebut adalah: poin nomor 18 “Pasal niat dan Hadisnya” (halaman 9), poin nomor 32 “Pasal waktu kita tidur” (halaman 28), poin nomor 42 “Pasal istihdhâr dan muqâranah (halaman 33), poin nomor 65 “Pasal mewajibkan sembahyang” (halaman 51), poin nomor 91 “Pasal hukum berjamaah” (halaman 85), dan poin nomor 97 “Pasal pada menyatakan aurat” (halaman 91). Sementara itu pada halaman 9 tertulis judul “Pasal pada menyatakan segala syarat-syarat daripada rukun sembahyang”. Judul pasal ini berbeda dengan yang tertera dalam fihrasah yakni “Pasal niat dan Hadisnya”. Mengingat mulai halaman 9-28 membicarakan 13 rukun sembahyang, maka judul poin yang tepat adalah “Pasal rukun sembahyang”. Adapun jika judul poin tersebut dimaksudkan untuk menyebut isi pada halaman 9 maka cukup ditulis “Niat dan hadisnya.” Sebaliknya, ada dua “pasal” yang dalam fihrasah tidak disebut sebagai pasal, yakni tentang: “Sunnah-sunnah dalam sembahyang” (halaman 63-71) dan “Makna zahir dan batin sembahyang” (halaman 72-78).

Merujuk pada isinya, kitab Nûr al-Shalâh setidaknya berisi sebelas pokok bahasan: pertama, khutbah kitab: makna sembahyang (halaman 4-9). Kedua, rukun sembahyang (halaman 9-28). Ketiga, makna dan tahapan niat (halaman 28-33). Keempat, istihdhâr dan muqâranah (halaman 33-43). Kelima, makna gerakan dan bacaan dalam sembahyang (halaman 44-51). Keenam, hal yang mewajibkan sembahyang, syarat sah sembahyang, hal yang membatalkan sembahyang, hal yang makruh dalam sembahyang, dan uzur dalam sembahyang (halaman 51-63). Ketujuh, sunnah sembahyang dan sujud sahwi (halaman 63-72). Kedelapan, makna lahir dan batin sembahyang (halaman 72-78). Kesembilan, bacaan sembahyang dan artinya dalam bahasa Melayu (halaman 78-84). Kesepuluh, sembahyang berjamaah (halaman 85-91). Kesebelas, aurat pada saat sembahyang (91-93).

Nûr al-Shalâh : Perpaduan Tradisi Fikih Arab Klasik dan Melayu

Sebelum melangkah pada pembahasan berikutnya, penulis telah mengumpulkan sejumlah nama tokoh dan nama kitab yang disebut oleh TMS dalam Nûr al-Shalâh. Diantara tokoh-tokoh tersebut ada yang disebut sebagai objek narasi oleh TMS, namun ada juga yang merupakan sumber referensi penting. Dalam beberapa referensi yang disebut, TMS hampir selalu menyebutkan sumber pustaka yang dia gunakan, lengkap dengan penerbit, pasal, dan nomor halaman. Berikut ini beberapa nama tokoh dan nama sejumlah kitab yang telah penulis kumpulkan:

Nama-Nama Tokoh dalam Kitab Nûr al-Shalâh

NoNama Tokoh Halaman
1Fudhayl ibn ‘Iyâd (w. 187/802/3 M)9
2Syâfi’i (w. 204/819 M)8, 70, 91
3Imâm al-Haramayn / Imâm Haramayn/ ‘Abd
al-Mâlik (b. ‘Abdullāh) al-Juwaynî (w. 478 H
(1085 M).
40, 41
4Imâm Ghazâlî (w. 505 H/1111 M)31, 40
5Imam Nawâwî (w. 676/1277 M)6, 40, 60, 88, 92
6Ibnu al-Raf’ah (w. 710/1310 M)40
7Syaikh al-Subkî (w. 771 H (1370 M)40
8Syaikh Hamzah/Hamzah Fanshurî
(w. 1527 M)
49, 87
9Shihâb al-Dîn al-Barlisî (w. 957 H (1550 M)36
10Ibnu Hajar (al-Haytamî) (Tuhfah)
(w. 974/1567M)
33, 35, 40
11Khathîb Sharbînî
(w. 977/1570 M).
40
12Imâm Ramlî (Muhammad al-Ramlî
(w.1004/1596 M).
35
13Syams al-Dîn al-Sumațrâ’î (w. 1630 M)87
14Syaikh Qalyûbî (w. 1069 H/1659 M)36
15Nûruddîn (al-Rânirî) Aceh (w. 1658 M)36
16Syaikh Adhrâ’i87
17Dawûd Fathânî (w. 1265/1847 M)45, 63
18Muhammad Isma’îl Dawûd Fatânî
w.1333/1915 M)
58
19Muhammad Idrîs “al-Marbawi”
(l. 1896-w.1989)
51
20Habib ‘Uthmân Betawi (l. 1822-w. 1914)85
21‘Abd al-Hâdî Kâmil (w. ?)72
22Hajar al-Aswad49
23Jâbir44
24Mu’âdh44
25Abu Bakar45
26Jibril45
27Malaikat45
28Iblis45
29Adam 45
30Ibrohim 46
31Nabi Yunus46
32Nabi Isa46
33Sayyidina ‘Umar8, 9
34‘Ubâdah bin al-Sâmit14
35Nabi Allah Musa46
36Imam Malikī59, 70
37Imam Ahmad60
38Sayyidatina Fāțimah62
39Shaykhayn63
40‘Abdullâh ibn Mas’ûd22
41Ibn ‘Abbâs 2020
42Abî Hurayrah 18, 19, 20, 86
43Bukhârî18, 20, 21
44Tirmidhî88

Nama-Nama Kitab dalam Kitab Nūr al-Șalāh

No Nama Kitap Halaman“Pengarang”
1Tuhfah (Tuhfah al-Muhtâj fī
Sharh al-Minhâj)
33, 35, 40Ibnu Hajar al-Haytamî
(w. 974/1567 M)
2Nihâyah (Nihâyah al-Muhtâj
Sharh al-Minhâj)
35Muhammad al-Ramlî
(w. 1004/1596 M).
3Shirâth al-mustaqîm36Nûruddîn al-Rânirî (w.
1658 M)
4Kashf al-Kirâm36Muhamad Zayn b.
Faqih Jalal al-Dîn al-
Asyi (1170/1/1757/8 M)
5Bughyah63Dâwud Fathânî (w.
1265/1847 M)
6Jam’ al-fawâ’id45, 47Dâwud Fathânî (w.
1265/1847 M)
7Furû’ al-Masâ’il48Dâwud Fathânî (w.
1265/1847 M)
8Bahr al-Wâfī (wa Nahr alȘāfī)58Muhammad Fathânî
(w. 1333/1915 M).
9Jawhar al-Mawhûb45‘Alî ibn ‘Abd al-Rahmân
al-Kelantani (w. 1913 ).
10‘Anâshir al-Insân li al-
Muttaqîn
47..?
11Maw’izhah li al-nâs47Anonim
12Hidâyah al-Sâ’il58..?
13Nûr al-Islâm (Majalah/ Buletin)51Universitas Al-Azhar,
Mesir (1930-1934)
14Tafsir Nûr al-Ihsân48H. Muhammad Said
bin Umar (w. 1932 M).
15Agama Islam50Al-Imam Printing
Company Limited
16Perbendaharaan Ilmu51Mohamed Idris al-
Marbawi (1896-1989)
17Tafsîr Marbawî50Mohamed Idris al-
Marbawi (1896-1989)
18Bahr al-Mâdhî (li Sharh
Mukhtashar Shahîh al-
Tirmidhî)
63Mohamed Idris al-
Marbawi (1896-1989)
19Muhimmât (al-Nafâ’is)58Kumpulan Fatwa Mufti
Makkah (1310 H/1892
M).
20Rahasia Sembahyang72‘Abd al-Hâdî Kâmil (w.
..?)
21Jam’ al-fawâ’id83Habib ‘Uthmân Betawi
(l. 1822-w. 1914)

Berdasarkan daftar tokoh dan kitab yang disebut dalam Nûr al-Shalâh di atas dapat disebut bahwa kitab ini menggunakan sumber-sumber otoritatif dalam fikih ibadah. Ada beberapa kitab rujukan dalam tradisi fikih mazhab Syafii di Timur Tengah yang disebut oleh TMS. Pertama, adalah kitab Tuhfah. Judul lengkap kitab ini adalah Tuhfah al-Muhtâj fî Sharh al-Minhâj karya Ibnu Hajar al-Haytamî (w. 974/1567 M). Kedua, kitab fikih yang disebut adalah kitab Nihâyah. Judul lengkap kitab ini adalah Nihâyah al-Muhtâj Sharh al-Minhâj karya Muhammad al-Ramlî (w.1004/1596 M).

Dua kitab yang disebut di atas merupakan dua diantara empat kitab pokok yang digunakan pula sebagai rujukan oleh Dâwûd bin ‘Abdullâh al-Fathânî (w. 1265/1847 M) ketika menyusun kitab Bughyah al-Thullâb li Murîd Ma›rifah al-Ahkâm bi al-Shawâb.41 Bughyah al-Thullâb itu sendiri, juga nanti disebut oleh TMS sebagai referensi kitab dalam bahasa Melayu. Ada dua kitab lain yang tidak disebut oleh TMS, yakni Minhâj al- Thâlibîn karya al-Nawâwî dan Fath al-wahhâb karya Zakariya al-Anshârî. Meskipun Minhâj al-Thâlibîn tidak disebut oleh TMS, namun beberapa kali ia menyebut pengarangnya, yakni Imam Nawâwî.

Selain kitab-kitab dalam bahasa Arab, TMS juga menyebut beberapa kitab referensi untuk fikih ibadah dalam bahasa Melayu. ‹Abdullah dan Bruinessen43 menyebut setidaknya ada lima kitab fikih ibadah yang paling populer dalam tradisi Melayu yakni: Shirâth al-Mustaqîm karya Nûr al-Dîn al-Rânirâ (w. 1658 M), Sabîl al-Muhtadîn karya Muhammad Arsyad al-Banjari (w. 1227/1812 M), Bughyah al-Thullâb karya Dâwûd bin ‘Abdullâh al-Fathânî, Fath al-Mubîn karya Muhammad Shalih al- Rawa/al-Rawi dan Bahr al-Wâfī wa al-Nahr al-Shâfī karya Muhammad bin Ismâ›îl Daudi al-Fathânî. Tiga diantara lima kitab itu disebut oleh TMS dalam Nûr al-Shalâh kecuali Sabîl al-Muhtadîn dan Fath al-Mubîn. Hal ini menunjukkan bahwa TMS juga mengetahui sumber-sumber referensi fikih ibadah dalam tradisi Melayu.

Shirâth al-Mustaqîm merupakan kitab fikih pertama yang disusun dalam bahasa Melayu. Menurut keterangan TMS kitab ini disusun pada tahun 1044/1634 M.44 Menurut Azra dan Bruinessen45, kitab ini merupakan kitab fikih yang paling populer di dunia Melayu-Indonesia. Bahkan menjadi bacaan favorit kalangan ulama di Jawa pada pertengahan abad ke-19.

Bughyah al-Thullâb terdiri atas dua jilid, masing-masing berisi 244 dan 236 halaman. Kitab ini telah dicetak berulang kali di Makkah, Istanbul, Kairo, dan berbagai tempat di Nusantara. Isinya menjelaskan secara rinci berbagai kewajiban keagamaan kaum Muslimin. Furû› al-Masâ’il juga telah dicetak ulang beberapa kali di Makkah (1257/1841) dan Kairo (t.t).. Seperti Bughyah al-Thullâb, kitab ini pun terdiri atas dua jilid, masingmasing 275 dan 394 halaman.

Salah satu perbedaan penting dalam tradisi penulisan kitab di pesantren di Jawa (termasuk Madura dan Sunda) dengan pesantren di daerah Melayu (Sumatera, Malaysia, dan Kalimantan) ialah bahwa di Jawa penekanan diberikan pada kitab Arab klasik, yang terkadang diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa. Sementara di daerah Melayu, biasanya berupa karya-karya orisinal karangan Ulama Melayu. Baru pada abad XX kitab-kitab Melayu ini secara berangsur-angsur digantikan dengan kitab-kitab klasik berbahasa Arab.

Salah satu tujuan penulisan kitab dengan bahasa Melayu ialah agar kaum Muslim Melayu Indonesia dapat memahami ajaran-ajaran syariat. Para ulama menyadari bahwa sebagian besar masyarakat tidak bisa memahami dengan baik teks-teks berbahasa Arab. Oleh karena itu, teks-teks keagamaan perlu disusun dalam bahasa Melayu agar masyarakat umum dapat memahami ajaran agama dengan baik. Hal
tersebut sebagaimana ditegaskan oleh Dawud al-Fatânî bahwa seorang fakih yang baik akan dapat mempertahankan dirinya secara lebih baik melawan “kejahatan” dibanding seribu orang Muslim yang menjalankan kewajiban agama tanpa disertai pengetahuan yang memadai.

Selain berfungsi sebagai media dalam memahami ajaran-ajaran agama. Bahasa Melayu juga berfungsi sebagai alat untuk mempertahankan dan melestarikan nilai-nilai luhur budaya Melayu. Hal ini misalnya disadari dengan sangat baik oleh Raja Ali Haji. Lahirnya Kitab Pengetahuan Bahasa, misalnya, menurut Andaya dan Matheson merupakan bukti dari keinginan Raja Ali Haji untuk membantu rakyatnya yang ingin hidup saleh dan bersikap sesuai dengan tradisi Melayu.

Teosofi “Salat”

TMS terlihat berusaha semaksimal mungkin agar makna ibadah salat dapat difahami dan diresapi oleh setiap individu Muslim. Hal ini terlihat dari usaha-usaha yang dilakukannya. Selain menyusun kitab Nûr al- Shalâh dengan bahasa Melayu, ia juga menerjemahkan semua bacaan-bacaan salat dari niat sampai salam ke dalam bahasa Melayu setiap kata dan/atau frasa dengan tetap mencantumkan teks Arabnya.

Tidak hanya itu, TMS juga memberikan legitimasi tafsir teosofis dan filosofis terhadap setiap gerakan-gerakan dalam salat dan bacaannya, termasuk jumlah rakaatnya. Ia mengambil referensi dari berbagai sumber untuk menjelaskan makna-makna gerakan dan bacaan dalam salat. Misalnya tentang mengapa dalam salat ada gerak berdiri, rukuk, dan sujud, mengapa ada dua kali sujud, dan mengapa salat itu ada lima waktu dengan jumlah rakaat tertentu.

Sembahyang -istilah yang lebih banyak digunakan oleh TMS daripada salat- menurut TMS adalah himpunan dari ibadah yang dilakukan oleh para malaikat dan nabi-nabi terdahulu. Hal ini sesuai dengan apa yang terdapat dalam doktrin Islam bahwa salat merupakan satu-satunya ibadah yang perintahnya diterima langsung oleh Rasulullah Saw. dalam peristiwa Mikraj. Maka salat merupakan ibadah istimewa dimana setiap Muslim yang telah melaksanakan salat dengan khusyuk berarti ia telah melaksanakan ibadah sebagaimana ibadah yang dilakukan oleh para malaikat dan nabi-nabi terdahulu.

Guna menjelaskan bahwa salat merupakan ibadah yang dilakukan oleh para malaikat, TMS menyebut pernyataan yang disampaikan oleh Syekh Dawud Fathânî (w. 1265/1847 M) sebagaimana terdapat dalam kitab Jamʻ al-Fawâ’id. Diriwayatkan oleh Jâbir dan Muʻâdh Ra. bahwa saat Rasulullah Mikraj ke langit ketujuh, ia melihat para malaikat yang patuh beribadah sesuai perintah Allah Swt.. Di langit dunia (pertama), Nabi Saw. melihat para malaikat yang berdiri selama-lamanya dengan menyebut zikrullah. Di langit kedua, Nabi Saw. melihat para malaikat yang rukuk selama-lamanya. Di langit ketiga, Nabi Saw. melihat para malaikat yang sujud kepada Allah tanpa mengangkat kepalanya, kecuali ketika Nabi Saw. memberi salam kepada mereka, maka mereka mengangkat kepalanya menjawab salam Rasulullah, kemudian mereka sujud kembali hingga hari kiamat. Di langit keempat, Nabi Saw. melihat para malaikat yang mengucap tasyahud. Di langit kelima, Nabi Saw. melihat para malaikat yang mengucap kalimat tasbih dan berzikir. Di langit keenam, Nabi Saw melihat para malaikat yang melantunkan kalimat takbir. Dan di langit ketujuh, Nabi Saw melihat para malaikat yang senantiasa mengucap salam dengan berkata: “yâ salâm, yâ salâm.”

Salah satu persoalan “teosofis” yang juga dibahas oleh TMS adalah mengapa sujud ada dua kali dalam satu rakaat. Ketika menjelaskan masalah ini, TMS merujuk dua peristiwa sebagai jawaban: pertama, sebagaimana dalam penjelasan tentang gerakan salat di atas, yakni bahwa para malaikat yang sedang sujud di langit ketiga, sempat mengangkat kepala karena menjawab salam Rasulullah Saw., dengan demikian para malaikat tersebut melakukan sujud dua kali. Kedua, TMS menyebut riwayat dari kitab Jawhar al-Mawhûb bahwa sujud dua kali merujuk pada peristiwa ketika malaikat sujud kepada Adam, mereka mendapati iblis menentang perintah Allah karena tidak mau sujud kepada Adam. Maka malaikat melakukan sujud untuk yang kedua kali sebagai ungkapan syukur bahwa mereka tidak termasuk hamba yang menentang perintah Allah.

Persoalan lain yang mendapat penjelasan cukup luas oleh TMS ialah tentang jumlah rakaat dalam salat dan waktunya. Sembahyang Subuh menurut TMS, pertama kali dilakukan oleh Nabi Adam As. sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Allah Swt.. Saat ia turun ke dunia, dan berada dalam “kegelapan”, ia dihinggapi ketakutan yang luar biasa. Kemudian tiba-tiba terbit fajar, maka ia bersyukur dengan melaksanakan salat dua rakaat. Syukur yang pertama karena bebas dari kegelapan. Kedua, syukur karena terbitnya mentari pagi. Hal ini sebagaimana terlihat dalam kutipan berikut ini:

“Maka pertama-tama orang yang sembahyang fardu subuh itu Nabi Adam ‘alayhim al-salâm tatkala keluar ia daripada surga dan melihat ia akan zhulmah. Dan takut ia akan sebagai takut yang sangat maka tatkala subuh dan pecah fajar sembahyang ia dua rakaat. Yang pertama syukur bagi kelepasan ia daripada kelam dan keduanya syukur sebab kembali siang hari.”

Sedangkan salat Zuhur, ibadah ini menurut TMS, pertama kali dilakukan oleh Nabi Ibrahim As. Saat ia diperintah oleh Allah Swt. untuk menyembelih putra terkasihnya, Ismail As., Ibrahim As. pun hendak menepati janjinya menyembelih putranya. Allah Swt. mengetahui niat tulus dan keikhlasan Ibrahim As. Untuk menyembelih putranya. Maka Allah mengganti dengan domba sebagai penebusnya. Perintah tersebut menurut TMS terjadi saat gelincir matahari. Karena anugerah tersebut maka Ibrahim As. pun melaksanakan sembahyang empat rakaat sebagai ungkapan syukur: pertama, syukur bagi penebusan Ismail As.. Kedua, syukur untuk membukakan dukacita anak. Ketiga, syukur untuk mengharapkan keridaan Allah Swt.. Keempat, syukur karena tebusan yang amat besar.

Orang yang pertama melaksanakan salat Asar menurut TMS adalah Nabi Yunus As. ketika diselamatkan oleh Allah dari perut ikan. Nabi Yunus As. ketika itu telah mengalami empat kegelapan: Pertama, kelam zhulmah kesalahan. Kedua, kelam dalam air lautan. Ketiga, kelam malam. Keempat, kelam perut ikan. Keluarnya terjadi pada waktu asar. Maka Nabi Yunus As. sembahyang empat rakaat, sebagai ungkapan syukur kepada Allah karena bebas dari empat kegelapan tersebut.

Ibadah salat Magrib pertama kali dilakukan oleh Nabi Isa As. tatkala diselamatkan oleh Allah dari kaumnya. Hal itu terjadi ketika matahari terbenam. Maka ia sembahyang tiga rakaat sebagai ungkapan syukur. Pertama, dengan menafikan ketuhanan bagi selain Allah Ta’âlâ. Kedua, menafikan tuhmah bagi ibunya. Ketiga, mengakui Ketuhanan hanya bagi Allah. Oleh karena itu, dua rakaat yang awal itu terhubung, sedangkan rakaat yang ketiga tersendiri.

Salat Isya pertama kali dilaksanakan oleh Nabi Musa As. sebagaimana terlihat dalam kutipan berikut:

“Dan pertama-tama orang yang sembahyang Isya itu Nabi Allah Musa
‘alayhi al-salâm. Ketika sesat jalan, ketika keluar ia daripada Madyan dan adalah padanya itu di dalam dukacita istrinya, dan dukacita Harun saudaranya, dan dukacita seterunya, Fir’aun, dan dukacita beberapa anaknya. Maka dilepaskan Allah Ta›âlá daripada demikian itu sekaliannya dengan janjian yang sebenar, dan adalah demikian waktu Isya yang akhir. Maka sembahyang ia empat rakaat syukur akan Allah Ta›âlá daripada segala dukacita yang empat itu.”

Penjelasan-penjelasan teosofis di atas, menurut TMS terdapat dalam berbagai kitab, seperti: Jam’ al-Fawâ’id, ’Anâshir al-Insân li al-Muttaqîn, Maw’izhah li al-Nâs, dan Jawhar al-Mawhûb.

Kitab Jam’ al-Fawâ’id menurut Abdullah selesai ditulis pada tahun 1239 H (1823/24 M) dan telah beberapa kali dicetak di Mesir dan Makkah. Jam’al-Fawâ’id merupakan kitab tasawuf akhlaki, isinya membahas kelebihankelebihan suatu amal dan akhlak; berbeda dengan kitab Manhal al-Shâfī, karangan Dâwud al-Fathânî yang berisi ulasan tasawuf falsafi seputar teologi, ontologi dan kosmologi.57 Kitab Jam’ al-Fawâ’id dirancang untuk mengimbangi kitab-kitab yang disusun para ulama fikih. Kitab ini juga dilengkapi dengan cerita-cerita kesufian, dan kelebihan bulan-bulan tertentu, misalnya bulan Rajab. Pada keistimewaan bulan Rajab tersebut terdapat kisah Isra Mikraj Nabi Saw.. Diduga kuat pada kisah Isra Mikraj inilah terdapat riwayat tentang salat para nabi di atas.

Selain memberikan penjelasan teosofis dan filosofis tentang salat tersebut, TMS juga menyebut bahwa penafsiran atau kesahihan peristiwa-peristiwa tersebut masih terdapat khilafiah. Ia menyarankan kepada pembaca untuk merujuk pada kitab ‘Anâshir al-Insân li al- Muttaqîn dan kitab Maw’izhah li al-Nâs untuk memperoleh pemahaman lebih lanjut. Namun penulis belum memperoleh informasi memadai tentang kitab-kitab tersebut. Setidaknya ada tiga kitab yang disebut oleh TMS, yang hingga tulisan ini dimuat penulis belum berhasil menemukan pengarangnya, yaitu kitab: ‘Anâshir al-Insân li al-Muttaqîn, Maw’izhah li al-Nâs, dan Hidâyah al-Sâ’il.

Sesuai tabel di atas, terlihat bahwa sebagian besar referensi yang digunakan oleh TMS berasal dari para ulama Melayu Patani dan Malaysia. Maka patut diduga bahwa ketiga kitab tersebut merupakan karya ulama Melayu. Maw’izhah li al-Nâs misalnya, menurut Mohd. Nor bin Ngah terdapat dalam scalia (hamisy) kitab Miftâh al-Jannah.58 Kitab Miftâh al-Jannah merupakan kompilasi empat teks, yakni: Ushûluddîn; Ushûluttahqîq pada Ushluddîn; Maw’izhah li al-Nâs; dan Kitab Tajwîd. Namun penulis kitab Maw’izhah li al-Nâs tidak mau menuliskan namanya karena takut sombong.

Sementara itu, hanya ada dua sumber dari “Timur Tengah” yang menyebut kisah tentang para nabi terdahulu yang melaksanakan salat sesuai dengan narasi di atas yakni kitab Rûh al-Bayân fî Tafsîr al-Qurân karya Syekh Ismâ’îl Haqqî al-Barûsawî (w. 1127 H/1715 M atau 1137 H/1725 M) dan Hilyah al-Nâjî ’alá al-Sharh al-Halabî karya Syekh Musthafâ Güzelhisari (al-Kawz Lihishârî) (w. 1215 H/1800 M). Al-Barûsawî menyebut riwayat-riwayat tentang rakaat-rakaat salat tersebut ketika menafsirkan al-Qur›an Surah al-Isrâ ayat 1.59 Namun al-Barûsawî tidak menyebut sumber periwayatan kisah salat para nabi tersebut. Sementara itu dalam Hilyah al-Nâjî, Güzelhisari60 menyebut bahwa kisah tentang para nabi yang mula-mula melaksanakan salat tersebut ia kutip dari kitab Mi’râj al-Dirâyah Syarh al-Hidâyah karya Qawâm al-Dîn al-Kâkî (Muhammad bin Muhammad al-Sanjârî/w. 749/1348 M).

Hilyah al-Nâjî merupakan hâsyiyah atas Mukhtashâr Ghunyah al- Mutamallî fî Syarh Munyah al-Mushallî. Kitab yang disebut belakangan merupakan versi ringkas dari Ghunyah al-Mutamallī fî Syarh Munyah al- Mushallî karangan Ibrâhîm bin Muhammad bin Ibrâhîm al-Halabî (w. 956/1549 M). Kedua karya al-Halabî tersebut merupakan penjelasan atas karya Muhammad bin Muhammad bin ‘Alî al-Kâshgharî (w. 705/1305 M) yakni Munyah al-Mushallî wa Ghunyah al-Mubtadî. Selain tafsir Rûh al- Bayân, yang bukan merupakan kitab fikih, kitab-kitab tersebut berada pada jaringan ulama-ulama fikih Mazhab Hanafi yang hidup pada pertengahan abad XIII (meninggal awal abad XIV) sampai akhir abad XVIII. Hal ini membuktikan bahwa para ulama Nusantara tidak fanatik terhadap mazhab tertentu. Adakalanya dalam bidang fikih mereka menggunakan Mazhab Syafii tetapi dalam aspek pemikiran lainnya, mereka mengikuti pendapat mazhab lain yang dianggap lebih sesuai.

Jika kita perhatikan, narasi tentang salat yang dilakukan oleh para nabi terdahulu, maka terdapat satu nilai budaya dan agama dalam tradisi Melayu yang sangat ditekankan yakni ungkapan terima kasih atau syukur. Menurut narasi-narasi tersebut salat merupakan bentuk rasa sukur seorang hamba kepada Allah atas limpahan rahmat dan karunianya. Hal yang juga menarik adalah bahwa ungkapan syukur tersebut merupakan hasil dari asosiasi antara sejumlah nikmat, ampunan dan keselamatan yang diterima dengan jumlah rakaat dalam salat.

Sumber : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta

MANUSKRIP AL-QUR’AN DI PULAU LINGGA

0

Oleh : MUSTOPA

Selain di Pulau Penyengat, manuskrip Al-Qur’an juga terdapat di Pulau Lingga. Di pulau ini jumlah manuskrip Al-Qur’an terbilang cukup banyak, terutama jika dibandingkan yang terdapat di Pulau Penyengat. Posisi geografis yang cukup jauh dari pusat kota dan pemerintahan Kepulauan Riau, membuat lalu lintas kunjungan ke Pulau Lingga tidak sebanyak ke Pulau Penyengat, sehingga hal-hal yang berkaitan dengan pulau ini, seperti sejarah kesultanan, bekas reruntuhan bangunan, masjid, benda-benda peninggalan kesultanan lainnya, hingga manuskrip Al-Qur’annya, kurang dikenal luas oleh masyarakat sebagaimana Pulau Penyengat.

Manuskip Al-Qur’an yang terdapat di pulau ini sebagian besar disimpan di Museum Linggam Cahaya, yang berada dalam naungan Dinas Parawisata Pulau Lingga. Manuskrip-manuskrip ini pada mulanya disimpan oleh masyarakat setempat, hingga kemudian diserahkan kepada Museum Linggam Cahaya, di bawah Dinas Parawisata, untuk dijaga dan dipelihara. Jumlah manuskrip Al-Qur’an yang terdata seluruhnya berjumlah sepuluh buah, satu mushaf terdapat di masyarakat, Ibu maharani, dan sisanya disimpan di Museum Linggam Cahaya. Dari sembilan mushaf yang ada, hanya empat buah saja yang dipajang pada etalase pameran ruang musem karena kondisi yang masih cukup baik, dan selebihnya disimpan di lemari-lamari khusus penyimpanan manuskrip. Dari sembilan manuskrip yang dimiliki museum, ada dua mushaf yang nyaris tidak dibuka lagi lembar halamannya karena sudah menyatu, lengket dengan tinta sehingga sulit dibuka satu persatu.

Sebagian besar mushaf di pulau ini menggunakan kertas Eropa, dan hanya satu yang menggunakan kertas dluwang. Dari sisi teks, mushaf ini seluruhnya menggunakan rasm imlai dengan pengecualian pada lafa-lafaz tertentu seperti as-shalahaz-zakah, dan lain sebagainya. Qiraah yang digunakan adalah qirah Hafs ‘an ‘Asim.

Mushaf 1

Mushaf ini merupakan koleksi Museum Linggam Cahaya, Dinas Parawisata Pulau Lingga. Mushaf dengan kode 196 ini awalnya merupakan koleksi masyarakat setempat yang kemudian diserahkan kepada pegawai museum untuk dijaga dan dipelihara. Keadaan manuskrip ini sudah tidak utuh lagi, tidak ada kulit, dan juga halaman depan belakang. Setiap halaman mushaf ini terdiri dari 15 baris, dan memiliki ukuran 25 x 20 cm, tebal 2,3 cm, dan ukuran bidang teks 17 x 13 cm. Kertas yang digunakan adalah kertas Eropa, sementara tinta yang dipakai berwarna hitam untuk tulisan teks, dan merah untuk penandaan penandaan ayat, awal juz dan awal surah.

Mushaf 2

Manuskrip ini ditulis pada masa pemerintahan Sultan Abdurrahman Muazzam Syah yang berkuasa pada rentang 1883 – 1911. Sebelum dimiliki musem, mushaf ini awalnya adalah milik Bapak Sabaruddin, Kampung Bugis, Daik. Keadan manuskrip ini sudah tidak utuh, bahkan jika dibandingkan dengan mushaf yang pertama. Tidak ada kulit depan dan belakang, halaman awal maupun akhir, sisi-sisi halamannya bahkan sudah termakan sehingga bentuknya sudah tidak simetris lagi. Ukuran muhaf ini adalah 29 x 19 cm, tebal 4 cm, dengan ukuran bidang teks 20 x 12 cm. Tinta yang digunakan adalah hitam, merah dan kuning; hitam untuk teks utama, merah untuk penandaan ayat dan awal surah serta untuk garis pinggir pembatas bidang teks; tinta kuning digunakan untuk pembatas bidang teks yang dipadukan dengan tinta hitam, serta digunakan untuk ilmuminasi pada setiap penandaan nisf, rubu dan sumun. Berbeda dengan yang pertama, mushaf dengan kode 185 menggunakan rasm imlai, namun penggunaan tulisan Usmani nya lebih banyak, dan tidak terbatas pada lafaz-lafaz tertentu seperti shalat, dan lainnya. Qiraah yang digunakan adalah Hafs ‘an ‘Asim. Tanda tajwid juga sudah dipakai pada mushaf ini, seperti penandaan untuk mad wajib dan jaiz.

Mushaf 3

Muhaf dengan kode 220 ini pada mulanya dimiliki oleh Zulkifli dari Kampung Salak Daik dan diperoleh musem dengan cara dibeli. Patut disayangkan, karena mushaf ini sangat bagus, terutama dari ilmunasi berbentuk floral yang digunakan, juga kombinasi warna merah, hitam kuning keemasan dan hijau beberapa bagiannya. Warna merah, selain digunakan untuk ilumninasi, juga digunakan untuk menulis setiap lafaz Allah yang menggunakan khat naskhi seperti halnya mushaf-mushaf modern. Mushaf ini sesungguhnya masih cukup lengkap dilihat dari ketebalan halamannya, namun karena tinta yang digunakan ‘terlalu kuat’ sehingga kertas yang digunakan termakan terutama pada bagian pinggir pembatas bidang teks, sehingga berpotensi hancur ketika dibuka per halaman. Kertas yang digunakan adalah kertas Eropa dengan ukuran 38 x 25 cm, tebal 7 cm, dengan ukuran bidang teks 26 cm x 15 cm. Mushaf ini terdiri dari 15 baris. Berbeda dengan mushaf sebelumnya, mushaf kuno ini, di bagian akhir mencantumkan doa khatmul Qur’an, dan doa-doa lainnya, sehingga terlihat cukup lengkap.

Mushaf 4

Di antara mushaf koleksi Musem Linggam lainnya, mushaf ini yang cukup istimewa, karena mushaf ini memiliki catatan kolopon pada bagian akhir mushaf yang memuat keterangan tentang identitas penulis dan tahun penyalinan. Kolofon pada mushaf menerangkan bahwa penulis mushaf ini adalah H. Abdul Karim bin ‘Abbas bin ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah. Tarikh penulisannya hari Jumat, 13 Jumadil Awal 1249 H, (27 September 1833). Mushaf ini dipamerkan bersama dengan tiga mushaf lainnya karena memiliki keterangan yang cukup lengkap. Ukuran mushaf 33 x 20 cm, tebal 7 cm, dengan bidang teks 22 x 12 cm. Tidak jauh berbeda dengan mushaf sebelumnya, tinta yang digunakan adalah hitam dan merah dengan penggunaan sebagaimana mushaf lainnya. Tulisan Al-Quran kuno ini menggunakan rasm imlai sementara qiraat yang dipakai adalah qiraat Hafs ‘an ‘Asim, dan jumlah barisnya adalah 15. Mushaf ini sudah menggunakan sejumlah tanda baca, tajwid, dan waqaf. Sama dengan mushaf sebelumnya, lafaz Allah sudah menggunakan fathah berdiri sebagaimana digunakan pada mushaf standar Indonesia.

Mushaf 5

Tidak berbeda dengan yang lain, mushaf ini terdiri dari 15 baris setiap halaman, menggunakan tinta warna merah, hitam, dan kuning. Hitam digunakan utuk teks utama, merah dipakai untuk pananda awal surah dan pembatas bidang teks yang dikombinasi warna hitam, sementara kuning digunakan untuk penandaan ayat. Ukuran mushaf 33 x 21 cm, tebal 6 cm dengan ukuran bidang teks 23 x 13 cm. Rasm yang digunakan adalah rasm imlai dengan pengecualian beberapa lafaz seperti shalat, zakat dan lainnya. Tulisan mushaf kuno ini juga sudah menggunakan penanda mad wajib dan jaiz. Penandaan lain seperti rubu’ sumundan ruku’ tidak ada. Yang ada hanya nisf dan penandaan juz.

Sumber : lajnah.kemenag.go.id

BENTENG TANAH DI PULAU LINGGA

0

Repelita Wahyu Oetomo
Balai Arkeologi Medan

Kerajaan Lingga telah dikenal sebagai salah satu kerajaan Melayu pada abad ke-16. Pada masa itu kerajaan-kerajaan di Semenanjung Malaka disibukkan dengan dominasi Portugis di jalur perdagangan tersebut. Beberapa kali terjadi perlawanan dari kerajaan pribumi, walaupun akhirnya dapat dipatahkan. Keberadaan Portugis berakhir seiring dengan kedatangan Belanda. Namun hal ini tidak menjadikan keadaan lebih baik, ditambah lagi dengan datangnya Inggris. Perebutan pengaruh antara Belanda dan Inggris terhadap Selat Malaka turut memperkeruh keadaan sehingga mengakibatkan pecahnya kerajaan-kerajaan Melayu. Tidak banyak yang dapat dilakukan kerajaan-kerajan Melayu dalam penentuan kebijakan ekonomi perdagangan pada masa itu akibat politik adu domba yang diterapkan oleh Belanda. Hal inilah yang perlahan-lahan menggerogoti perekonomian kerajaan sehingga akhirnya mengakibatkan keruntuhannya.

Tingginya tingkat konflik di Selat Malaka, mengakibatkan kerajaan-kerajaan harus melengkapi keberadaanya dengan berbagai sistem pertahanan. Sistem pertahanan keamanan yang diterapkan oleh Kerajaan Lingga diantaranya adalah membangun pos-pos pertahanan, yang sampai saat ini masih dapat kita jumpai yaitu berupa tanggul-tanggul tanah yang dilengkapi dengan beberapa meriam untuk menjaga akses masuk ke kerajaan. Tanggul-tanggul tanah itu diantaranya adalah di Pulau Mepar, Bukit Cening, Kuala Daik dan tanggul tanah yang terdapat di Pabean.

Kota Kerajaan Lingga berpusat di Daik, yang saat ini merupakan ibukota Kecamatan Lingga, termasuk dalam wilayah Kabupaten Kepulauan Riau, Propinsi Riau. Secara astronomis Kelurahan Daik-Lingga terletak antara 00 13’ — 00 14’ LS dan 1040 36’ — 1040 41 BT (Rencana Kota Daik, 1991). Sampai saat ini tinggalan arkeologis di bekas Kerajaan Lingga cukup lengkap, diantaranya adalah beberapa bangunan monumental, seperti; mesjid, makam, bekas istana, benteng-benteng pertahanan, dan tinggalan artefaktual lainnya. Dalam tulisan ini akan dibahas mengenai beberapa bangunan tanah yang merupakan pos-pos pertahanan sebagai bagian dari suatu sistem pertahanan di Kerajaan Lingga.

Peta situasi Pulau Lingga, Kec. Lingga, Kab. Kepulauan Riau

1. Benteng Tanah Bukit Cening         

Benteng tanah ini berjarak sekitar 3 km sebelah selatan ibukota Kecamatan Lingga, tepatnya di Kampung Seranggo, Kelurahan Daik. Pada jarak satu kilometer terakhir menuju benteng, merupakan jalan setapak yang hanya dapat dicapai dengan jalan kaki. Benteng ini dibangun di atas bukit, menghadap ke tenggara, dengan pintu masuk berada di sebelah utara. Bagian selatan benteng ini adalah tebing yang menghadap ke Selat Kolombok, sebelah utara tampak Gunung Daik dan Sepincan, baratdaya tampak Pulau Mepar, sedangkan sebelah barat-baratlaut merupakan daratan dan lokasi istana Sultan Lingga. Benteng ini merupakan bangunan tanah yang dibangun dengan meninggikan dan mengeraskan tanah, menyerupai tanggul, berdenah persegi empat, berukuran 32 m X 30 m, tebal sekitar 4 meter dengan ketinggian mencapai 1 – 1,5 m. Disebelah kiri, kanan dan depan benteng ini terdapat parit yang sebagian telah tertutup tanah. Melalui benteng ini pandangan bebas mengawasi daerah sekelilingnya.

Di dalam benteng ini terdapat sebanyak 19 buah meriam yang diletakkan berjajar di sisi selatan. Meriam-meriam di benteng ini dapat diklasifikasikan sebagai meriam berukuran sedang dan besar, dengan ukuran panjang antara 2 — 2,80 meter. Lubang laras berdiameter 8 — 12 cm. Pada meriam-meriam tersebut terdapat pertulisan yang terletak di bagian pangkal atau pada pengaitnya, sebagian dalam keadaan aus. Angka-angka tahun yang terdapat pada meriam itu adalah 1783 dan 1797, sedangkan tanda-tanda lain meliputi huruf P. HB. X. O. F. dan VOC.

2. Benteng Tanah Kuala Daik

Terletak di tepi muara Sungai Daik, sekitar 2 km dari Kampung Cina. Untuk mencapai lokasi ini dapat ditempuh dengan menggunakan sampan. Masyarakat menyebut tempat ini sebagai Tanjung Meriam, karena menurut informasi, di tempat tersebut dulu banyak ditemukan meriam. Sisa bangunan yang ada saat ini hanyalah susunan batu yang menjorok ke laut. Keletakan benteng ini sangat strategis, yaitu berada di pintu masuk ke pusat kota yang dapat dilalui dengan menggunakan kapal. Kerusakan benteng tersebut kemungkinan akibat gerusan air laut yang semakin tinggi pada saat pasang, akibat pengendapan Lumpur pada muara Sungai Daik.

3. Benteng Tanah di Pabean

Benteng tanah ini terletak di pusat Kota Kecamatan Lingga, di sebelah utara Kantor Kecamatan Lingga dan tidak jauh dari arah aliran Sungai Daik. Kondisinya saat ini tidak beraturan, hampir rata dengan tanah akibat aktivitas penduduk disekitarnya. Lebar bangunan tanah saat ini mencapai 4 – 6 meter, dengan tinggi tidak lebih dari 1 meter. Berdasarkan sisa bangunan yang ada, benteng tersebut memanjang dari arah timur–barat. Bagian tengah benteng terputus, karena tepat pada bangunan ini digunakan sebagai pintu masuk ke halaman rumah penduduk. Menurut masyarakat, tempat ini merupakan Pabean pada masa lalu, tepatnya berada disekitar belokan aliran Sungai Daik. Pengamatan di lapangan menunjukkan di tempat tersebut permukaan tanahnya lebih rendah dan kondisinya berair. Di sekitarnya banyak ditemukan meriam yang saat ini diletakkan di alun-alun. Dua buah meriam yang terdapat di depan Mess Kecamatan memiliki keistimewaan, berbahan tembaga, berukuran panjang 3,35 m. Di bagian atas terdapat hiasan dan pertulisan / 8 / – O.

4. Benteng Tanah di Pulau Mepar    

Secara administratif Pulau Mepar termasuk dalam wilayah Desa Mepar, Kecamatan Lingga, berjarak sekitar 1 km dari Tanjung Butun. Untuk mencapai pulau ini ditempuh dengan menggunakan sampan dengan waktu tempuh sekitar 15 menit. Pulau tersebut saat ini dimanfaatkan masyarakat sebagai pemukiman dengan pusat aktivitasnya di sekitar dermaga. Di Pulau ini terdapat 5 buah bangunan tanah dan beberapa buah meriam yang saat ini terletak di sekitar perkampungan penduduk.

Tiga buah bangunan benteng terletak di selatan pulau, satu di sebelah barat, dan sisanya berada di utara (lihat gambar). Benteng I terletak di atas bukit, sebelah tenggara pulau. Benteng tersebut dibangun dari tanah yang dikeraskan, terlihat dari susunan tanah dan kerikil. Benteng tanah ini berukuran 25 m X 23 m, tebal dinding antara 2,5 – 3 meter dan tinggi antara 1 – 1,5 meter. Benteng ini dikelilingi oleh parit yang cukup dalam, di bagian pintu masuknya terdapat saluran yang kemungkinan digunakan untuk mengeluarkan air dari dalam benteng. Benteng I menghadap ke baratlaut, di sudut timurlaut dan utara terdapat kelebihan tanah (tonjolan) berukuran 2 – 3 meter, menyerupai bastion. Benteng terletak di tempat lebih tinggi, sehingga memudahkan pengawasan daerah sekitarnya. Melalui benteng I ini dapat diawasi Pulau Lingga yang berada di sebelah utaranya, dan Pulau Kolombok di sebelah selatan.

Benteng II dalam kondisi rusak, berdenah persegi empat, berjarak sekitar 5 meter dari garis pantai dan berada pada ketinggian 3 meter diatas permukaan laut. Benteng seluas sekitar 300 m2 ini, terletak di sebelah selatan pulau. Melalui benteng ini tampak Pulau Kolombok yang berada di sebelah selatannya.
Benteng III terletak di Kampung Hulu, berjarak sekitar 200 meter di sebelah baratdaya benteng II. Bangunan ini berjarak sekitar 20 meter dari garis pantai, dengan ketinggian sekitar 6 meter diatas permukaan laut. Bangunan ini berbentuk segitiga dengan luas sekitar 150 m2. Benteng IV terletak di kampung yang sama dengan benteng III, dengan jarak sekitar 200 meter dari benteng III. Benteng ini berbentuk persegi empat berukuran luas sekitar 300 m2, sedangkan benteng V terletak di kampung yang sama, berjarak sekitar 200 meter dari benteng IV, berbentuk persegi empat. Kondisi benteng-benteng tersebut saat ini rusak dan dipenuhi dengan tanaman liar.        
                                                                                                                                                                                        
5. Sistem Pertahanan di Kerajaan Lingga

Berdasarkan sumber-sumber tertulis Cina abad ke-15, disebut Pulau Lingga adalah karena gugusan gunung-gunung tampak menyerupai gigi naga (dragon teeth). Munculnya kata Ling kemungkinan berawal saat perantau Cina menginjakkan kakinya di Daik, mereka melihat gunung Daik yang bentuknya menyerupai gigi naga. Kemungkinan kedua adalah berhubungan dengan nama Kerajaan Kalingga yang berada di pantai timur India. Adapun kemungkinan ketiga adalah berkaitan dengan puncak Gunung Daik yang menyerupai phallus (alat kelamin laki-laki), yang dalam agama Hindu merupakan simbol Dewa Siwa (Groeneveldt, 1960).

Pulau Lingga terletak pada jalur perdagangan yang ramai. Dibandingkan dengan pulau-pulau lain keberadaan Pulau Lingga lebih menonjol, karena dari jarak yang cukup jauh tampak Gunung Daik. Hal ini memudahkan bagi para pedagang antar pulau yang menggunakannya sebagai sarana navigasi untuk mencapai pusat kota kerajaan. Pelaut menggunakan Gunung Daik sebagai orientasi, karena tepat pada titik 00 jarum kompas, akan dijumpai Muara sungai yang lurus dengan gunung Daik. Dengan mengikuti arah aliran Sungai Daik maka sampailah ke pusat kota Kerajaan Lingga. 

Bentuk dan ukuran benteng tanah di Kerajaan Lingga tidak sebesar atau seluas bangunan benteng yang banyak kita jumpai. Benteng tanah ini lebih tepat disebut sebagai pos-pos pertahanan. Pertahanan keamanan lebih banyak didukung oleh pos-pos, yang merupakan bagian dari suatu sistem pertahanan keamanan pada waktu itu. Pos-pos keamanan ini dirancang untuk saling dukung-mendukung menjaga akses masuk ke pusat kota kerajaan. Kapal-kapal yang akan mencapai Pulau Lingga umumnya berlayar melalui sebelah barat pulau, karena merupakan jalur perdagangan yang ramai, sehingga menjadikan jalur tersebut aman dari perompak. Penyebab lainnya adalah karena jarak pencapaianya lebih dekat dengan ombak tidak seganas Laut China Selatan.

Benteng IV dan III merupakan lapis pertama pertahanan bagi kapal yang menuju ke pusat Kerajaan Lingga melalui Tanjung Butun. Disusul kemudian oleh pertahanan benteng V dan benteng I. Sedangkan bagi kapal yang memilih mengelilingi Pulau Mepar, Benteng III merupakan lapis pertama pertahanan, disusul benteng ke II dan benteng I. Tampaknya Benteng I dan III memiliki peran yang cukup penting mengingat fungsi benteng ini menjaga beberapa sisi pulau. Benteng III didesain berbentuk segitiga untuk menjaga sisi barat dan selatan, sedangkan benteng I berfungsi untuk menjaga 3 sisi yaitu sebelah utara, selatan dan timur Pulau. Keletakan benteng tersebut pada tempat yang tinggi menjadikan benteng I mampu mengawasi beberapa sudut, sehingga tumpuan pertahanan keamanan benteng Pulau Mepar terletak pada benteng I. Melalui benteng I tembakan dapat diarahkan ke Tanjung Butun atau ke Selat Kolombok (lihat peta). Tonjolan tanah di sisi utara dan timur yang menyerupai bastion kemungkinan berfungsi untuk meletakkan meriam khusus, berukuran lebih besar (?). Sudut-sudut tersebut dilengkapi meriam yang diarahkan ke Tanjung Butun atau ke arah kapal yang melintas Selat Kolombok.

Fungsi pertahanan benteng I didukung juga dengan benteng Bukit Cening, yaitu mengantisipasi kapal-kapal yang lolos dari Benteng Pulau Mepar untuk mendekati Kuala Daik. Meriam-meriam yang saat ini terdapat di Bukit Cening menurut informasi ditemukan juga di areal antara Bukit Cening dan Kuala Daik. Apabila kapal telah sampai didepan pintu masuk (Kuala Daik) maka pertahanan dilakukan oleh pos-pos di Kuala Daik. Dan apabila berhasil lolos pertahanan/penyerangan dilakukan dengan meriam-meriam yang ada di sepanjang tepi Sungai Daik. Menurut informasi beberapa meriam yang saat ini terdapat di kantor polisi dan lain-lain diangkat dari pinggiran Sungai Daik. Bahkan beberapa meriam sampai saat ini masih ada yang belum terangkat dari dasar sungai.

Pertahanan terakhir kemungkinan adalah benteng tanah yang terdapat di Pabean. Beberapa meriam yang saat ini berada di sekitar alun-alun menurut informasi ditemukan di sekitar Pabean. Bahkan beberapa buah meriam saat dilakukan penelitian tergeletak di halaman depan rumah penduduk. Meriam-meriam tersebut saat ini diletakkan di sekitar alun-alun, menghadap jalan. Dua buah meriam yang berada di depan Mess Pemda, apabila ditilik dari bentuk, ukuran, dan bahan bakunya tampaknya sangat spesifik. Pada masa Kesultanan Riau Lingga kedua meriam itu selain untuk mendukung pertahanan juga digunakan untuk hal-hal bersifat khusus, misalnya sebagai tanda penobatan raja, upacara penyambutan tamu kehormatan, atau untuk upacara pemakaman raja. Lombard menyatakan bahwa meriam-meriam seperti itu pada masanya dianggap sebagai jimat jenis baru, terutama untuk menampakkan kewibawaan raja (Lombard,2000: 209–212).
   
6. Benteng Tanah Lingga: Sistem Pertahanan Belanda

Sejarah mencatat bahwa kekuasaan para sultan pada akhirnya berada di bawah dominasi Belanda. Perdagangan yang menjadi tulang punggung perekonomian kerajaan dan hasil-hasil perdagangan yang dilakukan daerah-daerah pada akhirnya harus dijual pada Belanda dengan harga yang telah ditentukan, terutama barang-barang yang bernilai tinggi di pasaran dunia. Para sultan dipaksa menandatangani perjanjian-perjanjian yang memberatkan. Setiap pergantian sultan merupakan suatu kesempatan baru bagi Belanda untuk mengadakan dan memperbaharui perjanjian dengan ikatan-ikatan yang lebih berat. Hal inilah yang mengakibatkan beberapa sultan membangkang.

Tampaknya sistem pertahanan keamanan yang terdapat di Kerajaan Lingga merupakan suatu sistem pertahanan semu. Pertahanan keamanan hanya dipakai oleh kerajaan apabila kedatangan “musuh”, yaitu perompak yang mengganggu perdagangan Belanda, karena pada hakekatnya saat itu sesama Bangsa Melayu merasa memiliki beban yang sama, yaitu mematahkan dominasi Belanda atas jalur-jalur perdagangan di Selat Malaka. Salah satu contoh adalah sikap mendua pasukan dari Kerajaan Lingga yang diperintahkan menyerang Reteh. Pasukan Kesultanan Riau-Lingga yang tergabung dengan pasukan Belanda melakukan penyerangan ke Reteh tidak dengan sepenuh hati, sehingga Belanda terpaksa meminta tambahan pasukan untuk mengganti posisi orang-orang Melayu tersebut (Abrus,1998: 57).

Penempatan benteng-benteng pertahanan di beberapa kerajaan pada masa itu sedikit banyak untuk kepentingan Belanda. Peralatan perang yang didatangkan dari Belanda merupakan salah satu petunjuk bahwa pembelian persenjataan untuk pertahanan keamanan dengan sepengetahuan dan dikontrol oleh Belanda. Sedangkan salah satu bentuk pengawasan terhadap penggunaannya dilakukan dengan menempatkan sepasukan kecil di Pulau tersebut.

Pada masa pemerintahan Sultan Said Mudoyatsyah harus membayar mahal kemenangannya berperang dengan Raja Muda Jumahat yang dibantu Belanda dengan menanda tangani kontrak politik yang dikenal dengan Traktaat Van Vrede en Vriendshap salah satu isinya adalah mengakui hak Pemerintah Hindia Belanda untuk mendirikan benteng-benteng di Indragiri guna melindungi pelayaran, perdagangan, dan pencegahan perampokan laut (Abrus, 1998:36–54). 
Berdasarkan beberapa hal, seperti tersebut di atas, penempatan bangunan-bangunan pertahanan merupakan sebuah sistem pertahanan yang digunakan Belanda untuk membatasi gerak seorang penguasa (sultan). Bangunan pertahanan digunakan untuk mengurung sultan di dalam kota kerajaannya. Penggunaan meriam ataupun peralatan-peralatan perang diawasi oleh Belanda. Salah satu isi perjanjian yang ditanda tangani oleh Sultan Mahmud Muzafar Syah tanggal 10 Juni 1837 adalah: Belanda akan menempatkan suatu pasukan kecil di Lingga (Abrus,1998:54). Pengaturan seperti itu adalah untuk kepentingan keamanan pemerintahan Belanda. Wujud dominasi ini diketahui dari beberapa keputusan Belanda untuk mencopot beberapa sultan yang dianggap membangkang.

7. Masa Pembangunan Benteng Pertahanan Kerajaan Lingga

Menilik bentuk, bahan, dan pola hias meriam yang terdapat di benteng Bukit Cening dengan yang ada di Pulau Mepar menunjukkan bahwa meriam-meriam yang terdapat di Pulau Lingga memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan yang terdapat di Pulau Mepar. Meriam yang terdapat di Lingga menggunakan bahan yang lebih baik dan memiliki tanda-tanda khusus yang menunjukan bahwa meriam tersebut didatangkan dari Belanda, diketahui dari beberapa pertulisan seperti VOC, HB, X, O dan lain-lain. Sebaliknya pada meriam yang terdapat di Pulau Mepar berbahan kurang baik dan tidak terdapat pertulisan ataupun tanda-tanda lain. Kualitas bahan yang kurang baik mengakibatkan salah satu meriam yang terdapat di Pulau Mepar pecah pada bagian ujungnya akibat panas karena terlalu sering digunakan. Bila dibandingkan dengan yang terdapat di Bukit Cening, meriam di Pulau Mepar lebih kasar, kemungkinan meriam tersebut buatan lokal atau didatangkan dari daerah yang belum maju teknologi pembuatannya.

Menilik angka tahun yang terdapat pada meriam yang terdapat di Bukit Cening kemungkinan meriam itu lebih tua dibandingkan dengan yang ada di Mepar. Pertulisan angka tahun 1783 dan 1797 sejaman dengan pindahnya pusat kota Kerajaan Melayu-Riau ke Lingga. Sedangkan informasi mengenai keberadaan meriam di Pulau Mepar adalah saat diangkutnya perlengkapan perang Kesultanan Melayu dari Pulau Mepar ke Reteh pada tahun 1858, diantara peralatan perang itu adalah meriam-meriam (Abrus,1998:56). Mungkin pada waktu itu meriam-meriam tersebut dalam kondisi baru, sekitar 40–70 tahun lebih baru dibandingkan meriam-meriam VOC.  

Apabila dilihat dari kondisi, bahan maupun pola hias meriam yang terdapat di Bukit Cening, Pabean, serta beberapa yang ditemukan tercecer di Pulau Lingga sebagian besar memiliki persamaan. Dengan demikian kemungkinan masa pembangunan benteng Bukit Cening, Pabean, dan Kuala Daik sejaman. Sedangkan apabila dibandingkan dengan meriam yang terdapat di Pulau Mepar, kemungkinan masa pembangunannya lebih belakangan, tidak berselang jauh dengan penggunaan meriamnya pada saat pertama digunakan.    

8. Kesimpulan

Kerajaan Riau-Lingga merupakan sebuah kerajaan yang dilengkapi dengan sistem pertahanan keamanan, untuk menjaga akses masuk ke kerajaan. Sistem pertahanan keamanan tersebut bertumpu pada keberadaan pos-pos pertahanan yang berupa bangunan-bangunan tanah yang terdapat di Mepar, Bukit Cening, Kuala Daik, dan yang terdapat di Pabean. Benteng-benteng tersebut tersusun secara sistematis sesuai dengan arah perjalanan sebuah kapal untuk mencapai pusat kota kerajaan. Tetapi kuatnya dominasi Belanda atas para sultan mengindikasikan lain. Benteng-benteng tersebut oleh Belanda digunakan untuk “mengurung “ para sultan agar tetap berada di kerajaannya. Penempatan sepasukan kecil tentara Belanda merupakan salah satu bukti bahwa penggunaan benteng-benteng pertahanan berada dibawah pengawasan dan digunakan sepenuhnya untuk kepentingan Belanda.  

Berdasarkan analisis bahan, didukung dengan data sejarah meriam yang terdapat di Pulau Lingga dan dibandingkan dengan yang terdapat di Pulau Mepar terdapat indikasi bahwa meriam-meriam di Pulau Lingga memiliki persamaan. Meriam-meriam tersebut kemungkinan berasal dari Belanda, sedangkan yang terdapat di Mepar kemungkinan buatan lokal atau daerah yang memiliki teknik pembuatan kurang maju. 

Sumber : balarmedan.wordpress.com

Baharu