Beranda blog

Hati itu Kerajaan di Dalam Tubuh

0

DARI perkataan yang diucapkan seseorang anak manusia, dapat dinilai perangai atau perilakunya. Perkataan dan perbuatan (perilaku)-nya itu pada gilirannya paling jelas menyerlahkan hati budinya. Kehalusan bahasa (perkataan) akan mengesankan keadaban, sedangkan kekasarannya mencerminkan kebiadaban. Nyaris tak ada kebaikan dan keburukan diri yang dapat disembunyikan dari tutur kata. Jangankan Allah Yang Maha Mengetahui, manusia pun dapat mengesan segala rahasia kejahatan di sebalik tutur kata, begitu pun cahaya kejujuran, kebenaran, dan kebaikannya.

Budi yang halus lagi mulia mempersyaratkan terpeliharanya diri, baik zahiriah maupun  batiniah. Oleh sebab itu, manusia yang memiliki kehalusan budi akan merawat dan memelihara jasmaninya agar tetap sehat walafiat seperti halnya dia menjaga rohaninya supaya tak terjangkiti penyakit yang dapat merendahkan marwah dirinya sebagai makhluk yang paling mulia diciptakan Allah. Dengan demikian, harmonisasi antara kesehatan jasmani dan rohani menjadi penanda kehalusan budi manusia. Dengan perkataan lain, di dalam diri manusia yang sesungguhnya seyogianya terhimpun seri pantai sebagai ‘kebaikan zahiriah’ dan seri gunung sebagai ‘keelokan rohaniah’ yang berpadu mesra.     

Raja Ali Haji rahimahullah, melalui karya beliau, mengamanatkan manusia supaya pandai, bijak, dan arif dalam memelihara anggota tubuh yang umumnya kelihatan indah dipandang mata. Maksudnya, anggota tubuh, dari mata sampai ke kaki, harus dijaga dan dirawat agar terhindar dari perbuatan yang salah (menyimpang dari kebenaran) dan jelek (tak sesuai dengan kaidah keelokan).

Apabila terpelihara mata
Sedikitlah bercita-cita

Apabila terpelihara kuping
Khabar yang jahat tidaklah damping

Apabila terpelihara lidah
Nescaya dapat daripadanya faedah

Bersungguh-sungguh engkau memelihara tangan
Daripada segala berat dan ringan

Apabila perut terlalu penuh
Keluarlah fi’il yang tiada senonoh

Anggota tengah hendaklah ingat
Di situlah banyak orang hilang semangat

Hendaklah peliharakan kaki
Daripada berjalan membawa rugi

Pasal yang Ketiga, Gurindam Dua Belas, yang dinukilkan di atas menegaskan bahwa amat mustahak manusia memelihara unsur jasmaniahnya. Pasalnya, jika anggota tubuh itu tak dijaga dengan baik, manusia boleh terbabit kepada perbuatan yang keji. Dengan perkataan lain, unsur zahiriah itu berpotensi menjerumuskan manusia kepada perbuatan yang salah dan jelek jika tak dikawal dengan benar. Pemeliharaan unsur jasmaniah itu sama pentingnya dengan pemeliharaan unsur rohaniah. Jika zahiriah terpelihara, bersama dengan aspek batiniah/rohaniah, nescaya manusia akan mencapai taraf orang yang memiliki kehalusan budi, makhluk yang sungguh-sungguh mulia sebagai fitrahnya diciptakan oleh Allah.

“Dan, janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya, pendengaran, penglihatan, dan hati; kesemuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya,” (Q.S. Al-Isra’:36).

            Bait-bait Gurindam Dua Belas di atas sejalan dengan petunjuk dan peringatan Allah. Jelaslah bahwa apa-apa yang terhimpun di dalam Gurindam Dua Belas itu sesuai benar dengan pedoman ajaran Islam. Dengan mengikuti pedoman itulah, manusia akan memiliki kehalusan budi dan menjelma menjadi makhluk yang mulia di sisi Allah.

            Rasulullah SAW pun ada bersabda tentang budi pekerti yang berkaitan dengan pemeliharaan aspek jasmaniah manusia. Dalam hal ini, penjagaan jasmaniah menjadi bagian dari budi pekerti dan atau akhlak, yang pada gilirannya memungkinkan manusia memasuki surga Allah.

Dari Abu Hurairah r.a. beliau berkata bahwa Rasulullah SAW ditanya tentang apakah sebahagian besar amalan yang akan memasukkan umat manusia ke surga. Rasulullah SAW menjawab, “Bertakwa kepada Allah dan baiknya akhlak (budi pekerti).” Baginda Nabi ditanya pula tentang apakah sebahagian besar amalan umat manusia yang dapat memasukkan mereka ke neraka. Baginda Nabi menjawab, “Karena mulut dan kemaluan,” (H.R. Tirmidzi).

            Bersumberkan sabda Nabi Muhammad SAW di atas, nyata sekali bahwa anggota tubuh manusia—di dalam hadits tersebut dicontohkan mulut dan kemaluan—harus dijaga dengan benar. Jika tidak, itulah salah satu penyebab yang memungkinkan manusia masuk neraka di akhirat kelak. Manusia yang pandai menjaga anggota tubuhnya sehingga terhindar dari berbuat salah dan jelek tergolong makhluk Allah yang memiliki kualitas kehalusan budi. Pasalnya, dia telah menaati perintah Allah dan ajaran Rasulullah SAW. Tubuhnya telah terang-benderang disinari oleh cahaya seri pantai dan seri gunung. Subhanallah!

            Selain dari aspek jasmaniah, Gurindam Dua Belas juga mengingatkan manusia agar menjaga hati (qalbu) dengan segala sifat-sifat dan atau perangai bawaannya. Hati dapat membawa manusia kepada kebahagiaan sejati, tetapi jangan lupa, ianya juga boleh melencongkan atau membelokkan manusia ke lembah kenistaan yang tercela. Pasal yang Keempat, Gurindam Dua Belas, memerikan perihal hati itu.

Hati itu kerajaan di dalam tubuh
Jikalau zalim segala anggota pun roboh

Apabila dengki sudah bertanah
Datanglah daripadanya beberapa anak panah

Mengumpat dan memuji hendaklah fikir
Di situlah banyak orang tergelincir

Pekerjaan marah jangan dibela
Nanti hilang akal di kepala

Jika sedikit pun berbuat bohong
Bolehlah diumpamakan mulutnya pekung

Tanda orang yang amat celaka
Aib dirinya tiada ia sangka

Bakhil jangan diberi singgah
Itulah perompak yang amat gagah

Barang siapa yang sudah besar
Janganlah kelakuannya membuat kasar

Barang siapa perkataan kotor
Mulutnya itu umpama ketor

Di manakah salah diri
Jika tidak orang lain berperi

Pekerjaan takabur jangan direpih
Sebelum mati didapat juga sepih

Bait-bait Gurindam Dua Belas di atas mengingatkan manusia bahwa jika hati tak dirawat dengan baik, ianya boleh mendatangkan pelbagai penyakit rohaniah. Di antara penyakit-penyakit itu meliputi dengki, mengumpat, marah, bohong, bakhil (kikir, lokek, loba), kasar, perkataan kotor, dan takabur. Akibatnya, manusia yang menderita penyakit rohaniah itu akan mengalami kerendahan budi, turun derajatnya dari makhluk yang mulia menjadi sehina-hinanya dan sedina-dinanya. Pantainya gelap disertai gunungnya gulita. Akibatnya, ketika di laut dia mendatangkan malapetaka dan tatkala di darat dia pun berbuat angkara murka.

            Syair nasihat dalam Tsamarat al-Muhimmah (Haji dalam Malik (Ed.), 2013) juga memuat informasi tentang beberapa penyakit hati. Di antaranya terhimpun dalam bait-bait hikmah berikut ini.

Jika anakanda menjadi besar
Tutur dan kata janganlah kasar
Jangan seperti orang yang sasar
Banyaklah orang menaruh gusar
………………………………………
Pada berhukum jangan pemarah
Jangan perkataan keruh dan kerah
Khususan pula bicara darah
Janganlah zalim barang sezarah

Gambaran tentang penyakit rohaniah yang bersumber dari hati yang tak terawat dalam bait-bait syair di atas membuat manusia kehilangan perikemanusiaannya. Penyakit zalim, misalnya, jangan sampai berkembang subur walau hanya sezarah (sebesar atom) pun karena akan buruk padahnya bagi penderitanya (orang yang berperangai zalim itu). Begitulah dahsyatnya penyakit hati kalau telah menyerang manusia. Oleh sebab itu, supaya terpelihara kehalusan budi, manusia memang wajib menjaga hatinya dengan sebaik-baiknya seperti yang dianjurkan oleh syair di atas.

Allah SWT memang memberi peringatan kepada manusia supaya menjaga hati. Di antara firman-Nya terekam di dalam ayat ini.

 “Di antara manusia ada yang mengatakan, “Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian,” padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri mereka sendiri, sedangkan mereka tak sadar. Di dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih karena mereka berdusta,” (Q.S. Al-Baqarah:8—10).

Ayat-ayat di atas menegaskan bahwa hati manusia berpotensi tertular wabah penyakit jika tak dipelihara sesuai dengan petunjuk Allah. Penyakit rohaniah yang ditularkan oleh hati yang tak terawat secara baik menyebabkan manusia mendustakan kebenaran yang sesungguhnya nyata. Merekalah orang-orang yang mengalami kerendahan budi, tercabut sisi kemuliaan dari dirinya. Astaghfirullah!

Sebaliknya pula, manusia yang mampu merawat hatinya dengan baik bermakna qalbunya telah disinari oleh kecemerlangan seri pantai dan seri gunung akidah dan akhlak. Cahaya itulah yang paling setia menyertai dirinya di akhirat yang abadi kelak. Sinar Ilahi itu pulalah yang menuntunnya memasuki surga Allah dengan segak. Insya Allah!

Berawal dari mata, terus turun hingga ke kaki, sampai menusuk ke jantung-hati, manusia  seyogianya menjaganya sekuat dapat. Pasalnya, persebatian kebaikan jasmaniah dan keelokan rohaniah memudahkan jalan bagi manusia menuju akhirat. Jika tidak, sia-sialah segala-galanya, termasuk kehebatan dan kemuliaan dunia yang pernah didapat. Bukankah tipu-daya sememangnya dunia yang empunya sifat?

Pandai-pandailah menjaga diri dan merawat martabat karena kehidupan dunia hanyalah sesaat. Akan tetapi, anekaragam godaannya (harta, pangkat, jabatan, kebanggaan, dan sejenisnya) boleh membawa sesat. Sesat itulah yang membangun lebuhraya buntu menuju kebahagiaan surga,  termasuk bagi mereka yang selama hidupnya di dunia tak percaya akan adanya alam akhirat. Selamat menunaikan ibadah-ibadah Ramadhan dengan benar, baik, dan cermat. Semoga terhapus segala dosa yang pernah diperbuat!***

Pantun: Akar Puisi Liris Indonesia

0

Oleh : Hasan Aspahani

PANTUN kini bertahan sebagai pantun jenaka. Sekadar untuk lucu-lucuan, pembangun suasana gembira. Pantun kini setiap kali dilisankan, sebaris demi sebaris, disambut dengan seruan ‘cakep!’.

Padahal pantun jenaka hanyalah salah satu dari beberapa jenis pantun yang dibedakan berdasarkan tema. Ada pantun berkasih-kasihan, pantun perantauan, pantun nasihat, dan lain-lain, segala situasi dan kebutuhan yang mendorong orang untuk menggubah pantun.

Dengan bentuknya yang tetap, pantun memang seharusnya dengan lentur bisa dikembangkan ke dalam berbagai tema. Pantun politik, misalnya. Atau tema-tema lain. Penyair Rendra pernah menggubah pantun reformasi.

Amir Hamzah (dalam “Sastra Melayu Lama dan Raja-Rajanya”, 1942) menyebutkan pantun – bersama hikayat – sebagai produk dari sastra Melayu Lama zaman klasik dan pertengahan.

Hikayat adalah tuturan naratif, bisa dituliskan dalam bentuk tetap (syair) atau prosa dengan bentuk bebas. Temanya cenderung didaktis atau historis. Sastra sebagai sarana pendidikan (nasihat, adab, atur-cara raja-raja) dan pencatatan sejarah diadopsi dari tradisi sastra Arab, yang banyak dibawa oleh pedagang-ulama pada masa sastra Melayu Lama pada era klasik dan pertengahan. Zaman baru, kata Amir, menghasilkan roman dan sanjak. Ia belum memakai istilah ‘puisi’.

Pantun berkembang di tengah rakyat banyak. Tak ada penyakralan atas bentuk ini. Ia  sastra yang lahir dari masyarakat yang egaliter. Siapa saja boleh berpantun, siapa saja bebas menggubah pantun. Tapi sebagai seni ia tentu bisa memberi jalan penapis siapa yang punya bakat sebagai pemantun yang mahir, siapa yang hanya semenjana.

Ada sementara kalangan kita yang suka mencemaskan dominasi perkembangan sajak liris di Indonesia. Tentu saja siapa saja boleh mencemaskan apa saja. Juga tak ada larangan bagi siapa saja untuk menulis bentuk sajak apa saja. Saya setuju untuk ikut cemas apabila sajak liris yang hadir hanya sebagai penyinambungan dan pengulangan, sama sekali tak memawa pembaharuan atau perubahan.

Kenapa sajak liris begitu populer? Saya kira karena ia dekat dengan pantun. Karena itu ia sebenarnya menyinambungkan sebagian dari tradisi pantun kita, dan pada bagian lain mengubah dan memperbaharuinya.

Pada awalnya sajak liris dibedakan dengan sajak naratif dan sajak dramatik. Apakah sajak liris itu? Saya memakai definisi sederhana ini: sajak yang mengekspresikan emosi atau perasaan personal seseorang. Ciri-cirinya? Kaya dengan bunyi dan rima, biasanya pendek, dan memberdayakan metrum (sebelum bentuk bebas menjadi lebih diminati).  

Sapardi Djoko Damono merumuskan: untuk menuliskan sajak liris yang baik, penyair harus cermat mengamati dan mencatat perasaan-perasaan sendiri dan peristiwa-peristiwa di alam sekitarnya (“Keremang-remangan Suatu Gaya”, 1999).  

Ketika Victor Hugo pada 1829 menerjemahkan sejumlah pantun Melayu ke dalam bahasa Prancis maka para penyair Eropa menerima itu sebagai bentuk lain dari sajak liris, dengan rima, musik, dan metrum yang memang serupa. Charles Baudelaire pun kemudian ikut menulis puisi liris dalam bentuk pantun.  

Seorang penggubah pantun memang bekerja seperti seorang penulis sajak liris. Keduanya, seperti kata Sapardi di atas, harus cermat merumuskan pikirannya dan perasaannya (untuk dituangkan sebagai isi), dan cermat mengamati alam (untuk dijadikan sampiran). Pantun ini mungkin bisa jadi contoh:

Riuh rendah di tepi teluk
Lihat orang duduk bertenun
Tengah malam ayam berkokok
Serasa tuan datang membangun


Yang disampaikan pada bagian isi pantun yang dikutip oleh Amir Hamzah dari khazanah pantun lama ini adalah rasa rindu yang sedemikian parah dari seseorang kepada seorang lain, sehingga ayam berkokok pun serasa sebagai suara sang kekasih yang membangunkan. Ada kiasan atau simile di sini. Ada kontras antara keriuhan di larik-larik sampiran dan kesunyian malam di baris isi. Bukankah dengan demikian pantun lama ini  –  abaikan anonimitasnya  –  sesungguhnya adalah sajak liris yang memenuhi ukuran sajak modern?

Dalam sejarah puisi Indonesia, sajak liris (dalam bentuk soneta, dan kemudian sajak-sajak bebas) seakan-akan datang sebagai sebuah pembaharuan, perlawanan terhadap sajak lama, termasuk pantun.  Saya kira ini perlu juga dikoreksi. Bukankah soneta dan pantun di Eropa sana sama-sama diakui sebagai varian bentuk dari sajak liris? Dengan memperbaiki cara pandang dan mendudukkan pantun dengan cara demikian, maka kita misalnya bisa memahami kenapa sajak liris menjadi sedemikian populernya di Indonesia ini, yaitu karena pantun memang lahir dari masyarakat dan bahasa Melayu, bahasa yang kemudian kita kembangkan bersama-sama menjadi bahasa Indonesia.

* Hasan Aspahani adalah penyair dan pengelola situs www.haripuisi.com.

Surat Peraturan Pelabuhan Bandar Negeri Riau Abad ke-18

0
Foto Kiri : Bagian awal manuskrip Cod. Or. 3199: Surat Peraturan Duli Yang Dipertuan Muda di Bandar Negeri Riau. Bijzondere Collectie Universiteit Bibliotheek, Leiden. Foto Kanan : Bagian akhir dan kolofon manuskrip Cod. Or. 3199: Surat Peraturan Duli Yang Dipertuan Muda di Bandar Negeri Riau. Bijzondere Collectie Universiteit Bibliotheek, Leiden. Foto: Aswandi Syahri

SETELAH dibuka oleh Laksamana Tun Abdul Jamil pada akhir abad ke-17, Bandar Negeri Riau di Pulau Bintan berkembang menjadi pelabuhan dagang yang ramai dan penting, serta menjadi bagian jaringan perdagangan maritim dunia. Bagaimana potensi ekonomi pelabuhan Negeri Riau di Pulau Bntan, yang juga menjadi ibu kota Kerajaan Johor-Riau-Pahang, dikelola pada masa lalu? Siapa yang mengelolanya? Lantas, apa saja yang harus dipenuhi oleh kapal-kapal yang menyinggahinya?

Kedudukan dan peranan penting yang dimainkan oleh pelabuhan Bandar Negeri Riau di Pulau Bintan ini terus berlanjut hingga menjelang dekade-dekade terakhir terakhir abad ke-18, yakni ketika negeri dan bandar Pelabuhan Riau ini menjadi tempat bersemayam Sultan dan Yang Dipertuan Muda Riau yang memerintah Kerajaan Johor-Pahang di Bandar Negeri Riau.

Namun, berbeda dengan masa-masa kejayaannya pada dua dekade terakhir akhir pada abad  ke-17 hingga menjelang dua dekade pertama abad ke-18, pelabuhan Negeri Riau setelah  masa-masa dua dekade pertama abad ke-18 tidak lagi dikendalikan oleh Laksamana yang terkenal itu. Ketika itu, Pelabuhan Negeri Riau memeasuki babak barunya, dan berada di bawah kendali Yang Dipertuan Muda Riau.

Gambaran tentang pelabuhan Bandar Negeri Riau ketika itu dikisahkan dengan jelas oleh Raja Ali Haji dan ayahnya dalam kitab sejarah mahakarya mereka, Tuhfat al-Nafis. Dan Tuhfat al-Nafis tidak sendiri dalam menyuguhkan bukti historis tentang eksistensi pelabuhan Negeri Riau di Pulau Bintan pada zaman itu. Cukup banyak bahan sumber tertulis yang dapat menjadi sandaran bukti, dan salah satu diantaranya adalah sebuah salinan manuskrip yang diberi judul Surat Peraturan Duli Yang Dipertuan Muda di Negeri Riau.

Sebagai salah satu manuskrip Riau-Lingga yang kini tersimpan dalam bagian Bijzondere Collectie Perpustakaan Universitas Leiden, di Negeri Belanda, Surat Peraturan Duli Yang Dipertuan Muda di Negeri Riau ini adalah sebuah manuskrip salinan yang dihimpun bersama tujuh salinan manuskrip lainnya dalam sebuah kumpulan salinan manuskrip Melayu dengan nomor katalogus Cod. Or. 3199.

Dalam katalog manuskrip yang disusun oleh Edwin P. Wieringa, Catalogue of Malay and Minangkabau Manuscrips In the Library of Leiden Uiniversity and Other Collections In Netherlands (volume two: 2007), kumpulan salinan manuskrip tersebut diberi judul Undang-Undang Melaka; Undang-undang laut; genealogies: sebuah judul yang ‘kurang tepat’ dan sekedar diupayakan untuk mengambarkan kandungan isinya.

Manuskrip yang berisikan “peraturan pelabuhan di Bandar Negeri Riau” ini sesungguhnya tak berjudul. Judul Surat Peraturan Duli Yang Dipertuan Muda di Negeri Riau tidak terdapat terdapat dalam teksnya, dan hanya terdapat dalam daftar isi kumpulan manuskrip tersebut yang, diperkirakan ditambahkan kemudian oleh filolog ahli manuskrip Melayu, H.N. van der Tuuk, yang kemudian mewariskannya kepada Perpustakaan Universitas Leiden.

Kolofon manuskrip Surat Peraturan Duli Yang Dipertuan Muda di Negeri Riau ini tidak mancantumkan tarikh penyalinan atau penulisannya. Didalamnya hanya dinyatakan bahwa manuskrip tersebut selesai dikerjakan di Tanjungpinang: “…tamat al-kalam bilkhair wa-al-salam kepada malam Isnin didalam Negeri Riau atas Kota Tanjungpinang, tam.

***

Surat Peraturan Duli Yang Dipertuan Muda di Negeri Riau adalah sebuah manuskrip Riau-Lingga yang menjelaskan sejumlah aturan yang berkenaan dengan bea kapal, perahu, selub, frigat, dan jung yang masuk berlabuh di pelabuhan Negeri Riau di Pulau Bintan pada abad 18.

Selain itu, didalamnya juga dijelaskan aturan tentang ayapan: yakni upah atau permakanan yang diberikan oleh raja kepada orang-orang yang menjalankan tugas kepelabuhanan, seperti, kepala dacing urusan timbang; kepala perahu, kepala satu; dan juru tulis, sebagaimana adat purbakala yang terpakai dalam undang-undang lama Negeri Johor dan Pahang.

Secara khusus, kandungan isi Surat Peraturan Duli Yang Dipertuan Muda di Negeri Riau sesungguhnya dikurniakan sebagai sebuah penjabaran tugas-tugas yang “disandarkan” dan menjadi pegangan kepada Encik Dampal (dal-mim-fa-lam) yang, tampaknya, bertanggung jawab terhadap hal-ihwal pelabuhan di Bandar Negeri Riau. Hal ini tertera sebagaimana dinyatakan pada bagian ‘pembuka’ Surat Peraturan Duli Yang Dipertuan Muda di Negeri Riau, yang menyatakan sebagai berikut:

Bahwa disandarkan [diamanahkan oleh] Duli Yang Dipertuan Muda [Riau] Bandar Negeri Riau itu kepada Encik Dampal. Maka dikurniakan [oleh] baginda ayapan seperti ‘adat purbakala, seperti [ter]pakai di dalam Undang-Undang Negeri Johor dan Pahang, yaitu kepala dacing, dan kepala perahu, dan kepala satu, dan antar-antaran itu disandarkan pula oleh baginda kepada juru tulis”.

Selain itu, juga dijelaskan apa saja yang menjadi hak para ‘petugas’ yang mengurus kapal-kapal yang masuk ke pelabuhan Bandar Negeri Riau, dan apa saja yang harus dibayar oleh pemilik kapal yang masuk ke pelabuhan Bandar Negri Riau berdasarkan jenis kapal dan kuantitas muatan yang dibawanya.

Semua aturan kepelabuhan ini tidak berlaku bagi kapal-kapal orang yang menjadi utusan raja negeri laian, orang patut-patut, orang yang mengantar hasil negeri, dan orang-orang yang membawa upeti untuk raja.

***

Oleh karena kandungan isi manuskrip Surat Peraturan Duli Yang Dipertuan Muda di Negeri Riau tidak terlalu panjang, maka dibawah ini disajikan salinan hasil  aksara kandungan isinya  dengan tambahan penjelasan dalam kurung sebagai berikut:

“Adapun ayapan juru tulis, labuh ba[n]tu kepala tiang.

Adapun tatkala raja kurniakan kepada seorang nakhoda disurat bebas pada suatu teluk rantau. Maka memberi nakhoda itu dua emas. Dan demikian lagi piutang di negeri lain, serta dikurniakan cap. Itupun dua emas. Dan surat orang merdeheka (merdeka), dan surat orang yang menyerahkan dirinya minta lepaskan, minta kelengkapan yang di laut itu seemas, dan disurat orang menebus seorang sekupang (kupang: satuan nilai mata uang).

Adapun makanan (upah, fee) juru tulis tatkala perahu besar masuk, dua puluh gantang. Sepuluh gantang labuh bantu. Kapal tiang muat sepuluh kuwin (kuintal, ukuran berat=100 Kg) itu anam kupang.

Adapun makanan mata-mata (pengawas) pada sebuah jung (nama jenis perahu) seemas. Dan kepada sebuah selub (nama jenis perahu Eropa. Dalam bahasa Belanda Sloep dan dalam bahasa Prancis, Chaloupe) dua emas. Kecil dari selub seemas. Kecil lagi dari itu dua kupang. Jika muat delapan kuwin, dan wangkang (nama jenis perahu, biasanya dari Cina) …., dan perigat (nama jenis kapal, Frigate) lima emas, dan kapal setengah tahil. Dan makanan mata-mata sama banyak dengan juru tulis, garam dua puluh gantang.

Adapun adat jung yang muat sepuluh kuwin, atau dua belas, atau tiga belas kuwin, maka kenalah antar-antaran kepada raja kira-kira pada sekuwin kurang sepaha daripada harga luar labuh bantu kapal tiang enam kupang. Demkian lagi, jung yang muat lima belas kuwin keatas, melainkan mana dinilai patut kepada Syahbandar daripada adat yang telah tersebut pada jung yang muat sepuluh kuwin itu.

Adapun antar2 ran perigat, yaitu tiga belas tahil cukai, enam ratus labuh batu, kapal tiang setahil. Demikian lagi ‘adat Johor.

Adapun antar2 ran kapal itu enam belas tahil, dan cukai seribu labuh batu. Kepala tiang dua tahil (tahil: ukuran berat setara dengan 37,8 gram).

Adapun ‘adat antar2 ran wangkang dari Cina tiga belas tahil, dan cukai dua ratus labuh batu, kepala tiang setahil. Dan makanan juru tulis beserta dengan mata-mata dinamai pantakan kepada baluk (nama sejenis kapal) yang muat tiga kuwin atau lima kuin yaitu dua kupang. Pada sebuah yang kurang daripada lima kuwin, sekupang.

Adapun yang tiada kena ‘adat (hukum, peraturan, sangsi) pertama-tama [adalah] utusan, kedua orang patutan, ketiga orang mengantar hasil, keempat orang membawa upti (upeti), kelima orang mengantar rampai…”***

Prata dan Sejarahnya

0
Bermula dari Selatan India

Yang Tidak Kalah Penting dari kesuksesan prata ‘menjajah’ lidah orang Melayu hari ini adalah proses akulturasi”

Kendati banyak kedai prata di Tanjungpinang, tidak ada yang mengalahkan kedai Pagi Sore yang ada di kawasan Jalan Merdeka. Kedai prata ini merupakan tertua dan sudah berlangsung selama dua generasi. Dibuka kali pertama sejak 1951 dan masih digemari sampai hari ini.

“Dulu waktu aku masih kecil, sering diajak makan do situ dengan bapak aku,” kata sejarawan Kepri, Aswandi Syahri, kemarin.

Tanjungpinang Pos hendak menggali kisah kedai prata yang sudah bertahan lebih dari separuh abad ini, Yasin yang merupakan generasi kedua, sedang tidak berada di tempat. Informasi yang diterima, laki-laki keturunan India ini sedang menjalankan ibadah Umroh di Tanah Suci.

India? Ya. Prata memang berasal dari India. Tepatnya dari sebuah daerah bernama Kelara, di selatan India. Dari berbagai referensi, disebutkan bahwasanya prata yang bermula dari kata paratha dalam bahasa India berarti lapisan adonan matang.

Aswandi menjelaskan, kedai Pagi Sore dengan amat mudah diterima masyarakat sejak 1951 lantaran menjawab kerisauan banyak orang tentang menu sarapan di kedai kopi di kawasan pasar. Dahulu, memang sudah banyak berdiri kedai kopi di sana. Hanya saja, tidak semua menjajakan pilihan sarapan. Kalau pun ada, dikelola oleh kaum non-muslim, yang tentu saja membuat ragu para muslim penikmat kopi yang menyukai kongkow di kawasan Jalan Merdeka itu.

“Pak Kamu, bapak si Yasin ini yang memulai. Ia Bermula dari Selatan India menyajikan prata dan aneka ragam masakan Melayu di sana. Sehingga cukup banyak orang Melayu yang lantas menyukainya sampai sekarang,” tutur Aswandi.

Perjalanan prata dari selatan India sampai ke Tanjungpinang, sambung sejarawan kita ini, lebih disebabkan lantaran proses migrasi penduduk sebagaimana yang lazim di daerah lain. Orang-orang Kerala bermigrasi di sebagian kawasan semenanjung ini. Banyak di Malaysia, Singapura, dan tentu di Tanjungpinang. Kaum perantau datang tidak hanya dengan membawa badan belaka, tapi juga adat dan budaya leluhurnya. Satu di antaranya tentu saja citarasa masakannya.

“Prata itulah yangkemudian dikembangkan oleh orang-orang Kerala ini untuk bertahan hidup dirantauan. Ditilik dari bahan dasarnya, sudah pasti prata itu memang bukan penganan asli orang Melayu,” ujar Aswandi.

Yang tidak kalah penting dari kesuksesan prata ‘menjajah’ lidah orang Melayu hari ini adalah proses akulturasi. Aswandi menyebutkan, pembauran kebudayaan ini yang membuat prata bisa diterima dan bahkan disebut-sebut sebagai penganan wajib ketika berkunjung ke Tanjungpinang.

Walau memang prata juga ada di Singapura, Malaysia, dan Tanjungpinang, masing-masing prata punya ciri khas yang membedakan. Aswandi sendiri sudah mencicip prata di tiga negara ini. Menurutnya, tidak ada yang lebih pas di lidah kecuali prata di Tanjungpinang. Apa sebab? Kuah karinya. Sebab itu, tidak diragukan lagi, citarasa kuah kari dalam sehidang prata amat memegang peranan penting.

Jikalau di Singapura dan Malaysia, kuah prata cenderung kental dan kaya akan rempah-rempah. Hal ini rupanya kurang pas di lidah masyarakat Tanjungpinang. Di sinilah, kata Aswandi, kelihaian Pak Kamu, pendiri kedai prata Pagi Sore terlihat.

“Kuahnya dibuat dengan standar khas Indonesia. Akulturasi yang sukses dan membuat prata begitu mudah diterima di lidah kita,” ujar Aswandi. Tak ayal, bagi kebanyakan orang Tanjungpinang yang sudah lama merantau, akan selalu merindukan prata. Dimana pun memang ada prata, tapi tidak pernah ada yang melebih khas kuah kari prata ala Tanjungpinang melalui sentuhan akulturasi langsung antara India dan Melayu.

“Selain mie lendir, prata akan jadi sesuatu yang dirindukan oleh banyak orang Tanjungpinang di rantauan,” pungkas sejarawan berkacamata ini.

Pulau Penyengat Dalam Catatan Syekh Muhammad Thahir (1893-1904)

0
Profil Syekh Muhammad Thahir Jalaluddin al-Falaki al-Azhari al-Minangkabau sekitar tahun 1906. (foto: aswandisyahri)

Pada bulan Mei 1939, sepotong berita singkat dalam majalah Peringatan yang terbit di Pulau Penyengat, Tanjungpinang, mengelu-elukan kedatangan seorang ulama jang masjhordan sekaligus ahli ilmu falak jebolan Universitas al-Azhar Cairo sebagai def (tamu kehormatan) Radja Haji Ahmad, imam Masjid Jamik Pulau Penjengat.

Siapakah orang alim jang massjhor itu? Namanya adalah Syekh Muhammad Thahi rJalaluddin: seorang anak Minangkabau dari Nagari Koto Tuo, Ampek Angkek (sebuah kampung dekat Bukittinggi) yang ketika itu telah bermastautin di tanah Semenanjung.

Dalam berita singkat yang berjudul “Ahli Falakiah Jang Masjhor Telah Tiba di Penjengat” tersebut, kepala pengarang (redaktur) majalah Peringatan menyapanya dengan sanjungan (sebagaimana ejaan yang lazim digunakan ketika itu) Toean Sjech Thahir Jalaloeddin Falaki al-Azhari bersempena nama almater dan bidang ilmu falak (astronomi) yang menjadi keahliannya.

Kedatangan Syekh Muhammad Thahir ke Pulau Penyengat ketika itu, tidakdi sia-siakan oleh Goeroe-Goeroe (Sekolah) Agama di Pulau Penyengat. Sebelum toean Al-Allamah itu bertolak ke Singapura menggunakan kapal uap “Tandjongpinang” pada 11 Mei 1939, beliau telah diminta untuk mengajarkan “Ilmoe Miqat”, yakni ilmu untuk menghisab (menghitung secara astronomis) masuknya waktu sembahyang: suatu cabang ilmu astronomi yang ketika itu “hampir-hampir hilang di moeka boemi” karena rumitnya kandungan isi kitab-kitab Ilmu Miqat yang ada.

Kutub khanah minggu ini tidaklah bermaksud mengulas aktivitas Syekh Muhammad Thahir dalam kenjungan singkatnya ke Penyengat sebagaimana dilansir oleh majalah Peringatan edisi bulan Mei 1939. Beberapa alinea di atas hanya sekadar pembuka laluan untuk mengingat kembali hubungan rapat Syekh Muhammad Thahir dengan penduduk Pulau Penyengat dan pengaruhnya di Kepulauan Riau pada masa lalu. 

Hubungan dan pengaruh itu telah berlangsung lama. Ianya telah dimulai jauh sebelum majalah al-Imam, yang dikelolanya di Singapura bersama Haji Abbas bin Muhammad Taha sejak tahun1906 hingga 1908, hadir di Pulau Penyengat dan Kepulauan Riau-Lingga melalui Raja Ali kelana dan perwakilannya yang dipimpin oleh Khalid Hitam.

Hubungan Syekh Muhammad Tahir dengan Kepulauan Riau (khususnya dengan kaum cerdik-cendekia di Pulau Penyengat) paling tidak telah tercipta sejak akhir abad kesembilan belas. Hingga kini, jejak sejarahnya masih terekam dalam baris-baris tulisan jawi yang tersurat dalam lembaran-lembaran manuskrip tua menggunakan kertas Eropa yang dijahit menjadi buku.

Sekitar tujuh tahun tahun yang lalu, saya menemukan manuskrip berharga tersebut dalam koleksi besar arsip dan bahan-bahan lainnya milik Syekh Muhammad Tahir yang terdapat dalam simpanan Arkib Negara Malaysia di Kuala Lumpur. Manuskrip tersebut sesungguhnya tak berjudul. Namun, untuk kemudahan inventarisasi, pihak Arkip Negara Malaysia membubuhkan judul “Catatan Perlayaran Syek Thahir”.

Pembacaan yang cermat atas manuskrip tersebut, menyimpulkan bahwa manuskrip tulisan tangan itu sesungguhnya adalah sebuah catatan harian (diary) Syekh Muhammad Thahir. Catatan hari itu tidak hanya mengabadikan ihwal perlayaranya melintasi benua dan lautan antara Timur Tengah dan Negeri-Negeri di sekitar Selat Melaka saja, tapi juga mencatat berbagai peristiwa penting di ngeri-negeri yang dikunjunginya.

Setakatini, Arkib Negara Malaysia menyimpan lebih kurang enam buah manuskrip catatan harian Syekh Muhammad Thahir (ditulis dalam bahasa Melayu dan Arab) dan menjadi bagian dari koleksi besar arsip Syekh Muhammad Thahir yang diperoleh dari anaknya (Hamdan SyekhThahir) pada tahun 2006. Hampir seluruh isi catatan harian tersebut berisikan bahan-bahan sumber yang sangat penting bagi menyingkap aspek-aspek dalam sejarah Kerajaan Riau-Lingga yang berlum pernah dijamah oleh para sejarawan dan pakar-pakar persuratan Melayu.

***

Catatan hal ikhwal di Pulau Penyengat tahun 1898 dalam catatan harian Syekh Muhammad Thahir koleksi Arkib Negera Malaysia. (foto: aswandi syahri)

Hal ihwal di Pulau Penyengat pada dekade terakhir abad ke-19 hingga awal-awal abad yang lalu antara lain tercatat dalam salah satu manuskrip catatan harian Syekh Muhammad Thahir yang merekam aktifitasnya dan peristiwa yang dialamainya dalam rentang waktu antara tahun 1869 hingga 1923.

Bagian awal catatan harian ini dimulai dengan biografi singkat dirinya yang berisikan catatan ringkas tentang tarikh ia dilahirkan, serta asal-usul orang tua dan keluarganya:

Adalah Syeikh Muhamad Thahir adalah anak Syeikh Muhamad yang masyhur dengan gelar Tuan Syeikh Cangking, tempat gembala orang pada perkara yang bersangkutan dengan agama Islam, bin Tuanku Syeik Jalal-al-dinDiperanakan dia oleh (xxx, tidak ternaca) di Kota Tua [Koto Tuo] Ampat Angkat, oleh ibunya Gundam (xxx) Tuanku nan (xxx) Tuanku (xxx) Ampat Angkat, Syekh Tuanku Baginda (xxx) Tanjung Medan. Pada jam pukul 4.45 petang hari Selasa, 4 haribulan Ramadhan 1286 Hijrah berbetulan 7 haribulanDesembar 1869 Masehi…”

Dalam catatan hariannya ini dinyatakannya bahwa ia menjejakkan kaki untuk pertama kali di Pulau Penyengat, setelah singga ke Bengkalis, Pakanbaru, dan balik ke Singapura lalu ke Riau (Pulau Penyengat), pada 22 Zulhijah 1310 bersamaan dengan 7 Juli 1893.

Sejak saat itu ia selalu berulang-alik antara Pulau Penyengat, Singapura, Pulau Pinang, Johor, Sumatera Timur, dan Sumatera Tengah, tanpa pernah pulang ke kampung halamannya di Sumatera Barat. Mulai tarikh itu pula ia berhubungan rapat dengan cendekia kerajaan Riau-Lingga di Pulau Penyengat seperti Raja Muhammad Thahir, Raja Ali Kelana, Khalid Hitam, dan Said Abdulkadir.

Di Pulau Penyengat, Syekh Muhammad Thahir telah memperkenalkan metode falakiahnya kepada cendekia istana Riau-Lingga sejak tahun 1898. Dalam baris-baris catatan hariannya ia menuliskan tentang hal itu sebagai berikut:

“Dan pada 15 Syafar [15 Syafar 1316 – 4 Juli 1898] pergi ke Riau Pulau Penyengat, berjumpa Syeik Muhamad Nur dan ditahan oleh Raja Muhamad Thahir Hakim bin al-marhum (xxx) a-rusydiah? (xxx) kerana hendak mengaji al-fala’ al-hisab sampai bulan Rabi’ul-Akhir pergi ke Singapura. Lalu belayar dengan kapal, lalu Pulau Siantan Anambas bersama2 dengan Syeikh Muhamad Nur bin Ismail al-Khalidi dan Haji Khali-al-din kena penyakit beri2. Maka balik ke Singapura dengan tongkang kelapa kering (xxx) Syakban tahun 1316 (xxx)…”

Selama di PulauPenyengat, Syekh Muhammad Thahir juga turutmembantuanak-anakkeluargadiraja Riau-Linggamelanjutkanpendidikantinggike Timur Tengah (Mesir) pada awalabad yang lalu. Dalamcatatanhariannyaiamencatatikhwalperjalanannyaketikamengatarputra Sultan Lingga-Riau dan sasudara-saudaranyakeMesir pada tahun 1904:

“Pada 14 bulan Rajab 1322 (xxx) 1904 berlayardengankapal(xxx)LuwisbersamadenganSyeikh ‘Abdulrahman….Lalu…memeriksaperbekalansekolah. Dalam 15 harilalubelayar(xxx),mengambil Raja Hasan, dan Tengku Adam bin Raja Haji ‘Ali dan Tengku ‘Usman bin Sultan ‘Ab-al-Rahman Lingga dan dibawakeMesir pada bulanSya’ban, dimasukkanke Madrasah al-Khadiri Dalilah al-Said Zain”

Dari catatan harian ini, terlihat bahwa Syekh Muhammad Thahir juga terlibat (tanpa “tercium” para perisik Belanda, sehingga tak tercatat dalam sebarang arsip Belanda sezaman) dalam ‘perlawanan-perlawan halus’ cendekia kerajaan Riau-Lingga terhadap politik kolonialisme Belanda antara tahun 1902 hingga menjelang tahun 1911.

Oleh karena itu, bukanlah suatu yang mengherankan bila dalam himpunan arsip pribadinya yang kini tersimpan di Arkib Negara Malaysia juga terdapat salah satu salinan resmi Kontrak Politik tahun 1905 yang ditandatangani oleh Resident Riouw dan Sultan Riau-Lingga (Sultan Abdurahman Mu’azam syah syah); Sebuah kontrak politik yang menjadi salah satu pemicu ‘perlawanan-perlawanan’ dari para cendekia yang berhimpun dalam Perdirian Roesidijah (Club) Riouw Pulau Penyengat.***

Patriotisme Raja Ali Haji

0

DI KESULTANAN Riau-Lingga, pasca Perjanjian London (Traktat London, 1824), pengembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan telah digesa lebih giat oleh pihak kerajaan. Bersamaan dengan itu, tampillah tokoh-tokoh intelektual yang mengembangkan tamadun Melayu. Di antara tokoh itu adalah Raja Ali Haji rahimahullah ibni Raja Ahmad ibni Raja Haji Fisabilillah (Yang  Dipertuan Muda IV Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang).

             Raja Ali Haji rahimahullah (1808—1873) merupakan tokoh yang paling masyhur di antara intelektual Kesultanan Riau-Lingga pada abad ke-19. Beliau menulis dua buku dalam bidang bahasa (Melayu)yaitu Bustan al-Katibin (1850), yakni buku mengenai ejaan dan tata bahasa dan Kitab Pengetahuan Bahasa (1858), yakni kamus bahasa Melayu. Kedua-dua buku itu merupakan buku pertama dalam bidangnya, baik dalam bidang tata bahasa maupun kamus, yang ditulis oleh penulis Melayu. Selain itu, beliau juga menulis karya-karya dalam bidang ilmu agama Islam, sastra, filsafat, ilmu hukum-politik-pemerintahan, dan sejarah (Malik, 2015). Dalam karirnya sebagai penulis, beliau sekurang-kurangnya telah menghasilkan dua puluh karya.

Memang, di Kesultanan Riau-Lingga sejak pertengahan ke-19 sampai awal abad ke-20 kreativitas ilmu-pengetahuan dan budaya mengalir deras. Di kawasan yang sekarang merupakan wilayah Provinsi Kepulauan Riau itu aktivitas dan kreativitas intelektual, yang menjadi ciri khas tamadun Melayu semenjak zaman Sriwijaya, tumbuh merecup kembali. Tak berlebihanlah apabila dikatakan bahwa pada abad itu Kesultanan Riau-Lingga menjadi pusat tamadun Melayu-Islam, pasca-Kesultanan Melaka (Malik, 2013).

Bilal Abu, Raja Ahmad Engku Haji Tua (ayahanda Raja Ali Haji), dan Daeng Woh merupakan perintis tradisi kepengarangan di Kesultanan Riau-Lingga. Selain karya-karya  mereka, masih ada dua karya awal lagi yang belum diketahui pengarangnya yaitu Syair Menyambut Sultan Bentan (tanpa tahun) dan Syair Hari Kiamat, yang ditulis oleh penyair Arab yang telah lama bermastautin di Pulau Penyengat Indera Sakti, tempat yang menjadi pusat pengembangan tamadun Melayu-Islam pada abad ke-19 sampai dengan awal abad ke-20.

Di tempat kedudukan Yang Dipertuan Muda (pemimpin tinggi kedua setelah sultan) Riau-Lingga sejak 1805 dan sekaligus tempat kedudukan Sultan (Yang Dipertuan Besar) Riau-Lingga sejak 1900—1911 itu, kreativitas intelektual dan kultural memang berkembang pesat. Generasi penerus Raja Ali Haji, bahkan, mendirikan pula perkumpulan cendekiawan yang mereka namakan Rusydiah Kelab pada 1880. Rusydiyah Kelab merupakan perkumpulan cendekiawan Riau-Lingga, tempat mereka membahas pelbagai perkara yang berkaitan dengan ilmu-pengetahuan, pentadbiran negeri, dan perjuangan bangsa. Organisasi intelektual ini telah ditubuhkan jauh sebelum berdirinya organisasi serupa di Indonesia, yakni Budi Utomo yang didirikan di Yogyakarta pada 20 Mei 1908 oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo (1852—1917).

            Dari senarai karya para penulis Riau-Lingga, dapat diketahui bahwa pada masa itu telah dilakukan pengembangan dan pembinaan bahasa Melayu secara intensif. Karya-karya linguistik mereka meliputi tata bahasa,  ejaan, dan perkamusan(Raja Ali Haji), etimologi (Haji Ibrahim), morfologidansemantik (Raja Ali Kelana), dan pelajaran bahasa (Abu Muhammad Adnan atau nama aslinya Raja Abdullah ibni Raja Hasan). Oleh sebab itu, karya-karya mereka menjadi lebih istimewa, terutama Raja Ali Haji dan Haji Ibrahim, dibandingkan dengan karya Munsyi Abdullah bin Munsyi Abdul Kadir yang berkarya di Singapura dalam kurun yang lebih kurang sama karena beliau tak menghasilkan karya dalam bidang bahasa. Jelaslah bahwa pada masa itu telah dilakukan upaya pembakuan atau standardisasi bahasa Melayu. Dalam hal ini, Raja Ali Haji merupakan orang pertama yang melakukan pengembangan dan pembinaan bahasa secara modern di nusantara ini, jauh sebelum adanya lembaga seperti Badan Pengembangan Bahasa dan Perpustakaan di Indonesia, Dewan Bahasa dan Pustaka di Malaysia, serta lembaga sejenis di Singapura dan Brunei Darussalam.

Diperkaya oleh karya dalam bidang kesusastraan yang bermutu tinggi dan karya-karya pelbagai bidang ilmu lainnya, bahasa Melayu baku (Melayu Tinggi) Riau-Lingga itu menjadi yang paling terkemuka di antara dialek Melayu yang lain di nusantara ini sehingga menjadi rujukan bahasa Melayu. Kesemuanya itu berkat perjuangan luar biasa yang dilakukan oleh Raja Ali Haji.

Jiwa patriotisme terlihat jelas dalam diri Raja Ali Haji. Kenyataan itu tercermin dari karya-karya beliau.

Karya sulung beliau Syair Abdul Muluk (1846) merupakan puisi naratif yang berkisah tentang perjuangan melawan penjajah. Dalam hal ini, Kerajaan Barbari yang makmur dan sejahtera dijajah oleh Kerajaan Hindustan. Dengan perjuangan yang terus-menerus dan tak kenal menyerah oleh pemimpin dan rakyatnya, akhirnya Kerajaan Barbari merdeka kembali. Pemimpin perjuangan kemerdekaan itu, justeru perempuan, yakni Siti Rafiah, istri Sultan Abdul Muluk, pemimpin Kerajaan Barbari. Dalam karya ini Raja Ali Haji menempatkan perempuan dalam posisi yang sungguh luar biasa dalam perjuangan membela bangsa dan negara.

Ketika menulis tentang kemenangan Sultan Mahmud Riayat Syah dalam peperangan melawan Belanda di perairan Tanjungpinang dalam Perang Riau II (berakhir 13 Mei 1787) dalam Tuhfat al-Nafis (1866), beliau bersama ayanandanya berkomentar dengan nada yang sangat keras dan bersemangat. “Seekor Holanda pun tiada lagi tinggal dalam Negeri Riau,” (Ahmad & Haji dalam Matheson (Ed.), 1982). Kenyataan itu menunjukkan bahwa Raja Ali Haji sangat menentang penjajahan.

Sikap yang sama juga ditunjukkan secara tersirat melalui syair nasihat, bait 40, dalam karya beliau Tsamarat al-Muhimmah (Haji dalam Mahdini, 1999; Malik (Ed.), 2013).

Ayuhai segala raja menteri
Serta pegawai kanan dan kiri
Hendaklah jaga ingatkan negeri
Perampok penyamun perompak pencuri

Yang dimaksudkan oleh Raja Ali Haji tentang baris terakhir bait syair di atas tentulah penjajah. Walaupun begitu, tentu perbuatan khianat itu pun dapat dilakukan oleh orang-orang yang mengaku sebangsa dan senegara juga.

Berdasarkan sikapnya itu, Raja Ali Haji—sesuai dengan kemampuan dan kepakaran yang dimilikinya—berjuang melawan penjajah dengan cara yang berbeda. Dalam hal ini, beliau menggunakan jalan bahasa dan ilmu pengetahuan. Dengan pengembangan ilmu pengetahuan, diharapkannya bangsanya menjadi cerdas sehingga tak mudah teperdaya oleh siasat musuh, Belanda atau Inggris atau bangsa mana pun yang berpotensi menjadi penjajah. Selanjutnya, dengan jalan bahasa diharapkannya bangsanya dapat dipersatukan dalam perjuangan melawan penjajah dengan menggunakan bahasa yang sama. Ternyata, sejarah mencatat bahwa strategi berbasis intelektual yang digunakan oleh Raja Ali Haji itu sangat efektif dalam menghalau penjajah dari tanah air Indonesia.

             Semangat mengembangkan dan membina bahasa Melayu di Kesultanan Riau-Lingga digesa, dipicu, dan dipacu oleh Raja Ali Haji. Di dalam mukadimah karya tata bahasanya, Bustan al-Katibin (1850), beliau menegaskan perhubungan antara kemahiran berbahasa, ilmu yang tinggi, dan adab-pekerti yang mulia.

“Bermula kehendak ilmu perkataan pada jalan berkata-kata karena adab dan sopan itu daripada tutur kata juga asalnya, kemudian baharulah pada kelakuan. Bermula apabila berkehendak kepada menuturkan ilmu atau berkata-kata yang beradab dan sopan, tidak dapat tiada mengetahui ilmu yang dua itu yaitu ilmu wa al-kalam (ilmu dan pertuturan). Adapun kelebihan ilmu wa al-kalam amat besar …. Ini sangat zahir pada orang yang ahli nazar (peneliti, HAM.).”

            Jelaslah bahwa Raja Ali Haji memandang begitu pentingnya kedudukan bahasa bagi manusia. Dengan kemahiran berbahasa, manusia mampu mencapai taraf sebagai orang yang beradab, berakal-budi yang baik, dan berilmu yang tinggi lagi bermanfaat.

Dengan keyakinan itu, Raja Ali Haji memacu dan memicu semangat berkarya dalam bidang kepengarangan. Tentulah amanat itu ditujukan beliau kepada generasi penerusnya. Didalam mukadimah Bustan al-Katibin beliau juga memerikan pelajaran berikut ini.

“Segala pekerjaan pedang itu boleh diperbuat dengan kalam, adapun pekerjaan kalam itu tiada boleh diperbuat oleh pedang… Dan, berapa ribu dan laksa pedang yang sudah terhunus, maka dengan segores kalam jadi tersarung.

Kalam yang berteraskan budilah yang mampu membuat beribu-ribu dan berlaksa-laksa pedang yang telah terhunus jadi tersarung. Memang, ketika minda manusia sudah tercerahkan, dengan apa pun bentuk pengabdian hanya demi Sang Khalik, kehadiran pedang tak lagi diperlukan. Hal itu mengingatkan kita akan wahyu pertama Allah SWT kepada rasul pilihan-Nya Muhammad SAW.

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajari (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajari manusia tentang apa yang tak diketahuinya,” (Q.S. Al-Alaq:1—5).

      Begitu jelas terlihat bahwa Raja Ali Haji sangat yakin akan kekuatan kalam dalam membangun tamadun. Kalam sebagai simbol ilmu pengetahuan itu mampu mengalahkan kekuatan senjata (pedang). Dengan cara itulah tamadun Melayu-Islam harus dipelihara, dilestari, dan dikembangkan. Dengan pengembangan ilmu pengetahuan nescaya tamadun Melayu-Islam akan bangkit dan akan mampu mengalahkan kekuatan politik dan militer kolonial Belanda yang telah mulai menanamkan kukunya di Bumi Melayu kala itu. Melalui strategi itulah beliau berjuang untuk menyelamatkan bangsanya. 

Sudah saatnya Dunia Melayu Dunia Islam harus bangkit kembali. Oleh sebab itu, pekerjaan pengembangan ilmu pengetahuan tak boleh dilengah-lengahkan lagi. Berdasarkan pemahaman itu, Raja Ali Haji juga mengobarkan semangat mencipta melalui syair Parsi yang dikutipnya dalam karyanya yang disebutkan di atas, “Berkata kalam, aku ini raja (yang) memerintah akan dunia. Barang siapa yang mengambil akan daku dengan tangannya, tidak dapat tiada aku sampaikan juga (dia) kepada kerajaan(nya),” (Haji dalam Malik, 2015).

Apabila ilmu pengetahuan dapat dikembangkan, tamadun Melayu-Islam akan berjaya kembali. Tak heranlah pekerjaan menulis atau mengarang sangat dimuliakan di lingkungan istana Kesultanan Riau-Lingga. Para pembesar istana berasa hidupnya belumlah lengkap walau telah menjabat suatu jabatan tinggi sebelum mereka menghasilkan karya tulis, apa pun bidang ilmu yang menjadi minat mereka, terutama ilmu agama, bahasa, sastra, hukum, dan filsafat untuk mencerahkan budi manusia.Begitulah profesi mengarang menjadi sangat mulia dan diidam-idamkan oleh setiap orang kala itu. Kepengarangan jadinya bagaikan tali arus yang terus bergerak, walaupun kadang-kadang begitu deras dan pada saat yang lain agak tenang, untuk mengantarkan sesuatu capaian tamadun yang cemerlang, gemilang, dan terbilang.

Selain pelbagai ilmu yang menjadi minatnya, Raja Ali Haji menaruh perhatian khusus kepada bidang bahasa. Dalam hal ini, beliau berpandangan bahwa jatuh-bangunnya sesebuah bangsa sangat ditentukan oleh bahasanya. Bukankah bahasa itulah yang menampilkan budi manusia? Lagi pula, dalam pengamatan beliau, pada masa itu bahasa Melayu telah mulai terancam. Sudah banyak orang menggunakan bahasa Melayu yang tak lagi  sesuai dengan kaidah bahasa Melayu. Oleh sebab itu, bahasa Melayu harus diselamatkan dan dengan begitu bangsa Melayu akan terselamatkan selamat pula.

“. . . Maka setengah ada pula daripadanya mereka itu pergi ke sana ke mari mengambil upahan dan gaji kepada segala negeri yang besar-besar dan kepada orang yang besar-besar menjadi jurutulis Melayu konon, padahal belum lagi ia sempurna pengetahuannya. Terkadang dapatlah marah dan murka daripada sekalian raja-raja itu dan terkadang jikalau raja-raja yang bukan bahasa dirinya tiadalah diselidiknya amat-amat pekerjaan itu daripada sebab dia sudah harap akan jurutulisnya kerana jurutulis itu sudah mengaku sempurna ilmunya itu, menjadi diberikannyalah barang yang hendak diperbuat itu, sungguhnya pun diberinya akan teladan. Jika dengan bahasa yang lain hendak dipindahkannya dengan bahasa Melayu, terkadang menjadi berat dengan yang demikian itu pada bunyinya dan jika tiada dengan berbaik-baik periksanya nazar dan fikirnya pada tempat itulah datang cederanya pada kemudian harinya,” (Haji, 1850).

Raja Ali Haji sangat khawatir akan kecenderungan penggunaan bahasa Melayu yang menyimpang dari kaidah yang sebenarnya oleh sebagian orang pada masa itu. Apabila keadaan yang tak disiplin dalam menggunakan bahasa itu dibiarkan, bahasa Melayu akan binasa. Oleh sebab itu, beliau berupaya dengan bersungguh-sungguh untuk menyelamatkan bahasa Melayu. Dalam hal membina bahasa itu, beliau memiliki keyakinan sebagaimana diungkapkannya di dalam karya Gurindam Dua Belas, Pasal yang Kelima, bait 1 (Haji, 1847).

Jika hendak mengenal orang berbangsa
Lihat kepada budi dan bahasa

Dari itu, Raja Ali Haji berkeyakinan bahwa budi dan bahasalah yang dapat menyelamatkan bangsa, termasuk bangsa Melayu. Oleh sebab itu, bahasa Melayu harus dipelihara, dilestari, dibina, dan dikembangkan. Melalui jalan itu pulalah beliau berjuang untuk menyelamatkan bangsanya.

Keyakinan akan mustahaknya budi yang seyogianya terkandung di dalam bahasa menyebabkan Raja Ali Haji berasa perlu menjelaskan konsep budi di dalam sebuah syair yang ditempatkan beliau sebagai penjelasan lema (entri) budi di dalam karya beliau Kitab Pengetahun Bahasa (Haji dalam Yunus (Ed.), 1986/1987).Berdasarkan syair itu, dapat diperikan tanda-tanda orang berbudi: (1) menauladani  sifat dan perilaku para anbia dan aulia, (2) akan senantiasa berbahagia, (3) rendah hati, (4) suka memberi, (5) bertingkah laku ugahari (mulia), (6) bertutur kata lemah-lembut dan manis, (7) tak menyakiti hati orang lain, (8) tak melakukan perbuatan tercela, (9) dapat memimpin semua orang dengan baik, (10) berpikiran cerdas, (11) tak menyukai kekejaman, (12) tak suka merendahkan orang kecil, dan (13) tak suka mengejek dan atau memperolok-olok orang lain.

Konsep budi yang dijelaskan oleh Raja Ali Haji memang mengarah kepada ajaran Islam. Dalam pandangan beliau, budi merupakan maujud rohaniah yang berasal dari hati. Unsur rohaniah itulah yang harus dijaga supaya ianya dapat mengendalikan semua fungsi jiwa dan unsur zahiriah manusia.

Atas dasar itu pulalah, Raja Ali Haji menekankan pentingnya tertib bertutur dan berbahasa. Pasalnya, bahasa menjadi dasar pembinaan ilmu dan adab-pekerti. Oleh sebab itu, setiap orang harus memahiri bahasa secara benar dan baik, terutama harus dikaitkan pembelajaran bahasa dengan matlamat untuk mencapai makrifat mengenali Allah, mengagungkan-Nya, dan mensyukuri nikmat dan rahmat ilmu dan akal yang dianugerahkan-Nya sehingga manusia menjadi makhluk yang lebih mulia dibandingkan dengan makhluk yang lain.

            Pentingnya persebatian bahasa dan budi ditegaskan lagi oleh Raja Ali Haji melalui syair nasihat bait 21 dan 67 dalam karya beliau Tsamarat al-Muhimmah (1858). Berikut ini dinukilkan kedua bait syair tersebut (Haji dalam Mahdini, 1999; Malik, 2013).

Tutur yang manis anakanda tuturkan
Perangai yang lembut anakanda lakukan
Hati yang sabar anakanda tetapkan
Kemaluan orang anakanda pikirkan
………………………………………….
Setengah yang kurang akal dan bahasa
Tingkah dan laku bagai raksasa
Syara’ dan adat kurang periksa
Seperti harimau mengejar rusa

Raja Ali Haji hendak menegaskan, melalui syairnya di atas, bahwa keutamaan manusia terletak pada budi bahasanya. Dengan kata lain, bahasa yang digunakan oleh manusia seyogianya  mengandungi, menyuratkan, dan atau menyiratkan kehalusan budi penuturnya. Tanpa itu, manusia dapat berperilaku laksana hewan. Kenyataan itu mengingatkan kita akan kearifan yang dipegang teguh oleh orang Melayun sejak zaman berzaman.

Dengan bahasanya, manusia memiliki kebudayaan sehingga terus dapat memperbaiki dan memperbaharui kehidupan hingga sampai ke puncak tertinggi tamadunnya. Dalam hal ini, Raja Ali Haji berpandangan sangat maju dan modern, yang bahkan melampaui ilmuwan yang menyebut dirinya modern sekalipun (Malik, 2015). Oleh sebab itu, banyak ilmuwan modern yang salah dalam memahami filsafat dan ilmu bahasa yang dikembangkan oleh Raja Ali Haji

Dalam pengkajian bahasa Raja Ali Haji memberikan penekanan utama pada pembentukan (pembinaan) konsep tentang sistem ontologi (wujud), kosmologi (alam), dan epistemologi (ilmu) Melayu-Islam. Hal itu berarti, menurut beliau, pengkajian, pembelajaran, dan penggunaan bahasa Melayu seharusnya menjadi sarana dan wahana yang membawa manusia ke arah pengenalan, pengertian, pemahaman, pengucapan, pengungkapan, penyampaian, pemujaan, pemujian, dan pengakuan terhadap Allah, yang pada gilirannya membawa manusia kepada keadilan, kebahagiaan, dan keberuntungan di dunia dan di akhirat (Musa, 2005).

Berdasarkan uraian di atas, konsep kehalusan budi yang diyakini oleh Raja Ali Haji memang merujuk kepada ajaran Islam. Dalam hal ini, mengkaji, mempelajari, dan menggunakan bahasa untuk memuji kebesaran Allah dengan segala konsekuensi ikutannya: keimanan, ketakwaan, adab, sopan-santun, dan ketinggian budi pekerti merupakan tanggung jawab setiap manusia kepada Allah. Dengan demikian, dapatlah dipastikan bahwa Raja Ali Haji mengembangkan dan membina bahasa Melayu dengan niat yang tulus dan suci untuk mempertahankan kemurniannya, baik struktur maupun nilainya, sehingga tak mudah terpengaruh oleh budaya bahasa bangsa lain. Tentulah pengaruh yang paling dikhawatirkan kala itu adalah pengaruh negatif bahasa penjajah yang mulai menunjukkan gejala ke arah itu, yakni bahasa Belanda.

Filsafat dan pandangan jagat Raja Ali Haji dalam perjuangan dan pembinaan bahasa Melayu itu menjadi acuan para cendekiawan Kesultanan Riau-Lingga dalam berkarya. Oleh sebab itu, di dalam karya-karya para penulis sesudahnya pun konsistensi pemikiran, perilaku, dan hasil karya mereka masih terlihat jelas perhubungannya dengan dasar yang telah digariskan dan diwariskan oleh tokoh utama pejuang bahasa Melayu yang juga bahasa Indonesia itu (Malik, 2019).

            Bahasa Melayu yang dibina dan dikembangkan pada masa Imperium Melayu sejak abad ke-14 sampai dengan abad ke-19 itu disebut bahasa Melayu klasik. Ciri utamanya ialah begitu melekat dan bersebatinya bahasa Melayu itu dengan Islam. Oleh sebab itu, tamadun yang dinaunginya terkenal dengan sebutan tamadun Melayu-Islam. Dari tamadun itulah bangsa Melayu mewarisi tulisan Jawi atau tulisan Arab-Melayu. Pada masa Kesultanan Riau-Lingga, karena kreativitas penulisnya, bahasa Melayu telah menunjukkan ciri transisi dari bahasa Melayu klasik ke bahasa Melayu modern dan tetap mempertahankan fungsinya sebagai bahasa komunikasi utama di nusantara.

Di antara tokoh yang menegaskan pentingnya bahasa Melayu dalam perlawanan terhadap penjajah adalah Bung Hatta. Pernyataan itu dipertegas lagi pada 29 April 2000 oleh Presiden ke-4 Republik Indonesia, K.H. Abdurrahman Wahid. Dalam pidato beliau, Gus Dur menegaskan pengakuan Pemerintah Republik Indonesia akan jasa pahlawan Raja Ali Haji dalam mempersatukan bangsa dan menciptakan bahasa nasional. “Tanpa jasa beliau itu (Raja Ali Haji, HAM) kita belum tentu menjadi bangsa yang kokoh seperti sekarang ini,” kata beliau (Malik, 2019).

Akhirnya, Pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan gelar Bapak Bahasa Indonesia dan Pahlawan Nasional Republik Indonesia kepada Raja Ali Haji, tokoh utama perjuangan bahasa Melayu. Anugerah itu diberikan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 089/TK/Tahun 2004, 6 November 2004. Plakat Pahlawan Nasional diserahkan oleh Presiden ke-6 Republik Indonesia, Jenderal (Purn) Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, di Istana Negara, Jakarta, 11 November 2004.

Dengan perjuangan berbasis intelektual, Raja Ali Haji telah menunaikan baktinya kepada bangsa dan negara secara luar biasa. Beliau telah berjaya memanfaatkan kalam yang dianugerahkan oleh Allah berkat keyakinan yang tiada berbelah bagi.***

Syair Wafat nya Raja Ali Yang Dipertuan Muda Riau VIII di Pulau Penyengat (25 Juni 1857)

0
1. Halaman 13 dan halam 14 manuskrip ML 159 (Syair Wafat nya Raja Ali Yang Dipertuan Muda Riau VIII) koleksi Perpustakaan Nasional, Jakarta, dengan kolofon yang berisikan tarikh dan tempat penyalinannya. (foto: aswandi Syahri)

Pada awalnya, manuskrip syair simpanan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) ini adalah bagian dari koleksi besar manuskrip Melayu milik Museum Bataviaasch Genootscap van Kunsten en Wetenschappen: sebuah lembaga ilmiah yang fokus dalam bidang ilmu pengetahuan dan seni, yang didirikan di Batavia tahun 1778.

Sejak tahun 1845, lembaga yang diterajui oleh pakar sejarah dan kebuyaan Nusantara pada zamannya itu, mulai mengumpulkan dan menyalin beragam khazanah manuskrip dari seluruh Nusantra, yang kemudian berkembang menjadi koleksi besar perpustakaan museumnya: tak terkecuali manuskrip-manuskrip Melayu dari Kepulauan Riau-Lingga.

Pada tahun 1909, pakar filologi Melayu, Dr. Ph. S. van Ronkel, menghimpun dan mendeskripsikan semua manuskrip Melayu koleksi museum tertua di Indonesia ini dalam sebuah buku katalog yang sangat terkenal, Catalogus der Maleische Handschriften Het Museum van Het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Katalogus Manuskrip Melayu Koleksi Museum Lembaga Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Batavia).

Dalam katalog tertersebut, manuskrip syair ini diberi  nomor katalog Bat. Get. 159, dengan urutan dalam koleksi menggunakan angka Romawi CDLXVIH:oleh van Ronkel manuskrip tanpa judul ini diberi judul Sj’air Soeltan Mahmóed.

Beberapa halaman manuskripyang  berisikan 14 muka surat dengan dimensi 21 x 15 Cm ini rusak karena dan berlobang karena tinta hitam yang digunakan untuk menulis mengandungi kadar logam yang tinggi.

Tahun 1972, ketika museum peninggalan Belanda beserta koleksinya ini menjadi Museum Pusat dan berada dibawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Dep. P & K), nomor katalog manuskrip-manuskrip Melayu itu ditata ulang dalam sebuah katalogus baru, Katalogus Koleksi Naskah Melayu Museum Pusat Dep-P & K. Oleh Amir Sutaarga dkk yang ditunjuk menata ulang katalog koleksi manuskrip Melayu eks museum peninggalan Belanda itu, manuskrip syair ini diberi nomor katalog baru: ML (Melayu) 159. Namun demikian, judulnya masih sama seperti judul yang diberikan oleh van Ronkel, dengan perubahan ejaan:  Sya’ir Sultan Mahmud.

Judul manuskrip dan nomor baru yang diberikan oleh Amir Sutaarga dkk itu kemudian dipergunakan pula oleh Dr. Tim Behren dkk ketika menyunting dan menyusun ‘katalog mutakhir’ manuskrip Melayu koleksi Perpustakaan Nasional republik Indonesia (PNRI), Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara Jilid 4 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yang terbit tahun 1998. Penyusunan katalog mutakhir ini dilakukan menyusul penyerahan seluruh koleksi manuskrip peninggalan Belanda koleksi Museum Pusat yang kemudian menjadi Museum Nasional itu kepada Perpustakaan Nasional Republik Indonesia(Perpusnas) pada tahun 1989.

Bukan Syair Sultan Mahmud!

Seperti telah dikemukakan sebelumnya,Manukrip syair yang terdiri dari 13 baris per halaman ini sesungguhnya tak mempunyai judul. Adalah Dr. Ph. S. van Ronkel yang memberinya judul Sj’air Soeltan Mahmóed, ketika menyusun sebuah katalogg sangat terkenal itu pada tahun 1909.

Deskripsi manuskrip-manuskrip Melayu oleh van Ronkel dalam katalog yang masih menggunakan bahasa Belanda itu sangat terkenal. Bahkan judul yang ia berikan dan deskripsinya tentangmanuskrip Melayu ML 159 ‘diwarisi’ pula dalam katalog Amir Sutaarga dkk (1972: 242), dan katalog Dr. Tim Behren dkk (1998: 283)..

Dalam deskripsinya tentang manuskrip ML 159, van Ronkel (1909: 348) mencatat sebagai berikut:

 “Dit gedicht handelt over het sterven van den radja moeda Mahmóed, de kennisgeving daarvan aan den resident Walbeehm, wiens tranen vloejen als de zee, de begrafenis en den algemeenen rouw” [Syair ini adalah tentang kematian Raja Moeda Mahmoed dan tentang pemberitahuan kepada Resident Walbeehm, yang air matanya jatuh berlinang-linang bagaikan laut, tentang pemakamannya dan perkabunguan rakyat jelata].

Oleh Amir Sutaarga dkk (1972: 242), deskripsi van Ronkel itu diterjemahkan dan dimasuk dan dalam ke dalam katalognya sebagai berikut: “Menceritakan keadaan ketika raja muda Mahmud meninggal dunia hingga upacara pemakamannya yang dikunjungi oleh masarakat luas.”

 ‘Tak ada gading yang tak retak’, kata pepatah. Aneh juga, tampaknya,  pakar sekelas van Ronkel tak cermat dalam membaca isi naskah ini. Atau munkin ia tak membaca seluruh isi manuskrip itu sebelum membuat deskripsinya? Malangnya, deskripsi van Ronkel itu  ‘diamni bulat-bulat’ oleh Amir Sutaarga dan Tim Behren, tanpa memeriksa ulang manuskrip aslinya ketika mencantumkan naskah ini dalam katalog baru dan mutakhir yang mereka susun.

Manuskrip ML 159 adalah sebuah manuskrip hasil salinan. Baik van Ronkel maupun mereka yang ‘mengutip’ katalognya kemudian, tampaknya juga salah dalam membaca angka tahun manuskrip ini disalin dengan menyebutkan 2 Zalqaidah 1285 bersaman dengan 9 April 1864. Mengapa? Karena, yang benar, seperti tercantum dalm kolofon manuskrip yang ditulis menggunakan huruf jawi atau huruf Arab Melayu ini, tarikh betulnya adalah, “…duwa[h]hari bulan Zulqa’idah sannah 1280, sembilan hari bulan April 1864”.

Dalam kolofonnya juga disebutkan bahwa manuskrip yang menjadi rujukan dalam penyalinan manuskrip syair ini adalah sebuah salinan manuskrip yang lebih tua, yang “termaktub salinannya”  di Pulau Penyengat pada 10 Zuhijah 1273 H bersamaan dengan 1 Agustus 1857.

Latar cerita dalam syair ini adalah Pulau Penyengat, tempat kedudukan Yamtuan Muda Kerajaan Riau-Lingga menjalankan pemerintahan Sultan yang bersemayam di Daik-Lingga pada abad ke-19. Dalam sejarahnya, tidak pernah dikenal Yamtuan Muda Riau-Lingga yang bernama radja moeda Mahmóed memerintah di Pulau Penyengat. Sebaliknya, Mahmoed adalah nama dua orang Sultan Kerajaan Riau-Lingga yang bersemayam di Daik-Lingga.

Selain itu, hasil pembacaan ulang naskah ini teah menegaskan bahwa  tak tepat bila manuskrip syair koleksi Perpusnasdengan nomor katalogus ML 159 diberi judul Syair Sultan Mamud!

Syair Mangkatnya Raja Ali

Manuskrip Syair ML 159 koleksi Perpusnan ini mengisahkan peristiwa kemangkatan dan prosesi pemakaman Yang Dipertuan Muda Riau VIII, Raja Ali ibni Raja Abdulrahman Yang Dipertuan Muda Riau VII (memerintah antara 1844 hingga 1857), yang gelar kebesarannya setelah mangkat adalah Marhum Kantor: Raja Ali Marhum Kantor yang situs kompleks istananya sangat terkenal di Pulau Penyengat.

Ia kemudian digantikan oleh saudaranya yang bernama Raja Haji Abdullah atau Engku Haji Muda sebagai Yang Dipertuan Muda Riau IX. Raja Haji Abdullah tidak lama menjadi Yang Yang Dipertuan Muda Riau, karena ia mangkat pada 10 September 1858.    

Ketika Raja Ali Marhum Kantor mangkat dan kemudian digantikan oleh Raja Haji Abdullah, yang menjadi Sultan atau Yamtuan Besar di Lingga adalah Sultan Mahmud Muzafarsyah (1841-1857). Adapun yang menjabat sebagai Resident Riouwdan berkedudukan di Tanjungpinang ketika itu adalah T.J. Willer (1853-1858), bukan Walbeehm, atau lengkapnya J.H. Walbeehm, sebegaimana disebutkan dalam deskripsi van Ronkel:semua nama tokoh sejarah ini terdapat dalam bait-bait syair ML 159.

Narasi syair ML 159 diawali dengan deskripsi singkat tentang  sosok Raja Ali Yang Dipertuan Muda Riau yang disebut juga Sultan (Sultan ‘Ala’udin Syah ibni Upu). Karena demikianlah kenyataan dalam adat-istiadat istana Riau Lingga sejak zaman persetian Marhum Sungai Bahaharu (Daeng Marewah) dengan Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah pada tahun 1722: Semua Yang Diertuan Muda Riau mempunyai gelar kebesaran Sultan Alauddinsyah ibni Upu. Namun gelar ini jarang dipakai.

Deskripsi singkat sosok Raja Ali Marhum Kantor dalam syair ini dapat disanding-bandingkan dengan deskripsi Raja Ali Haji tentang sosok yang sama pada masa-masa pemerintahannya yang gemilang, dalam Tuhfat al-Nafis. Tentang sifat waraknya, dan banyak mengundang alim ulama untuk datang mengajar di Pulau Penyengat. Tentang hal ini, dalam bair-bait syair ML 159, dinukilkan sebagai berikut:

Bismillah itu permulaan kalam
Dengan nama Allah khlik-al-Alam
Dikarangkan oleh seorang Islam
Kisahnya Sultan Wazir al-Alam

Selama Baginda di atas tahta
Alim bestari jangan dikata
Ilmu makrifat dipandang nyata
Kepada Allah Tuhan semata

Bagindaclah raja wazir berilmu
Mengerjakan ibadah sedikit tak jemu
Sentiasa Mufti dijamu
Di negeri yang jauh datang bertamu

Setelah bait-bait  pembukan yang menggambarkan sosok Raja Ali Marhum Kantor dan kemulian-kemuliannya, narasi syair ini beralih kepada cerita menjelang dan ketika kemangkatan Yang Dipertuan Muda tersebut. Selanjutnya, seluruh narasi syair ini diakhiri dengan laporan pandangan mata tentang prosesi pemakamannya. Sementara itu, nama Sultan Mahmud [Muzafarsyah] yang memerintah ketika itu, dan kemudian dirujuk oleh van Ronkel menjadi judul syair ini, hanya disebutkan sekali dalam bait ke-7, pada muka surat  1 dan 2.

Narasi tentang mangkatnya Raja Ali Yang Dipertuan Muda Riau dalam syair ML 159 ini diawali denga geringnya sri paduka baginda, meskipun telah diobat oleh dokter Olanda (Belanda) yang didatangkan dari Tanjungpinang.

Setelah memberi wasiat kepada saudaranya tentang siapa yang harus menggantikannya, tentang hutang-hutangnya yang harus dilunaskan, tentang bagaimana ia harus dimakamkan, Raja Ali Yang Dipertuan Muda Riau VIII atau Raja Ali Marhum Kantor mangkat pada malam Ahad, tanggal  3 Zulqaidah bersaman dengan 25 Juni1857.

Setelah itu, Raja Haji Abdullah,yang ketika berpangkat Kelanacalon pengganti Yang Dipertuan Muda Riau, mengurus jenazahnya serta menyuruh Raja Hasan ibni Raja Haji pergi menyampaikan berita duka itu kepada Resident Riouw, T.J. Willer, (pengganti J.H. Walbeehm) di Tanjungpinang.

Baiklah pergi segera adinda
Ke Tanjungpinang kepada Olanda
Dapatkan Residen Olandayangada
Katakan hilang sudah baginda.

Raja Hasan mendengarkan kata
Bangkit berdiri dengan serta
Berjalan menuju ke luar kota
Sambil menyapu airnya mata

Kesokan harinya (26 Juni 1857) berhimpunlah seluruh orang-orang besar istana Riau-Lingga di Pulaua Penyengat, sanak-saudara Raja Ali Yamtuan Muda Riau VIII, dan penduduk Pulau Penyengat di istana Raja Ali yang terletak di kaki Bukit Kursi, tepat di belakang Masjid Jamik Pulau Penyengat. Pada hari itu juga Resident Riouw dan pembesar Belanda datang dari Tanjungpinang, lengkap dengan pakaian kebesarannya untuk menghadiri pemakaman Raja Ali Yang Dipertuan Muda Riau VIII.

Setelah dimandikan, dikafankan, dan disembahyangkah, jenazahnya diletakkkan di atas sebuah ranjang tembaga berkelambu. Dan sesuai wasiat kepada saudaranya, Raja Haji Abdullah Engku Haji Muda, Raja Ali  Yang Dipertuan Muda Riau VIII tidak diusung seperti jenazah Yang Dipertuan Muda Riau sebelumnya.

Namun demikian prosesi pemakaman Raja Ali tetap megah seperti pemakaman raja-raja besar mangkat, meskipun tanpan iringan gederang tambur yang ditabuh serdadu-serdadu Belanda. Jenazahnya dimakamkan di kota batu kompleks makam Yang Diperyuan Muda Riau, tempat ayahanda, Yang Dipertuan Muda Riau Raja Jakfar  dan bundanya dimakamkan di Kampung Kota Berentang, Pulau Penyengat.

Residen Walbeem adalah serta
Mengiringkan jenazah Duli Mahkota
Meriam dipasang xxx gempita
Gemuruhlah tangisan didalam kota

Ada seketika berjalan itu
Sampailah kemakam berkota batu
Itulah perkuburan paduka ratu
Ayah dan bunda ada disitu                            

Sekali lagi, peristiwa kemangkatan Raja Ali Marhum Kantor atau Raja Ali Yang Dipertuan Muda Riau VIII dan semua prosesi pemakamannya sebagaimana dinukilkan dalam syair ML 159 ini dapat disbanding-bandingan dengan catatan Raja Ali Haji tentang peristiwa yang sama, yang dinukilkannya dengan detil dan panjang lebar dalam kitab sejerah berjudul Tuhfat al-Nafis.

Oleh karena itu lah, tak tepat kiranya bila syair ML 159 ini diberi judul judul Syair Sultan Mamudsebegaimana dinyatakan dalam katalogus yang disusun olen Dr. Ph. S. van Ronkel tahun 1909!***

Mi Lendir Aneka Ria, Tanjungpinag Berusia Lebih dari Stengah Abad

0

Mi lendir tentu bukan hal yang baru bagi masyarakat Tanjungpinang. Konon, kuliner ini sudah dijajakan lebih dari setengah abad lalu. Uniknya, mi yang disiram dengan kuah kental menyerupai lendir, yang dihidangkan dengan telur rebus, taburan seledri dan bawang goreng ini hanya ada di Tanjungpinang. Dan justru lebih banyak dijual oleh orang Jawa.

Sumardi, satu dari sekian banyak penjual mi lendir di Tanjungpinang, menuturkan dirinya sudah menjual olahan mi ini sejak tahun 1968. “Di kedai kopi Setya sudah 41 tahun, di Aneka Ria baru 4 tahun,” terang kakek asal Klaten ini. Sumardi terpaksa pindah karena pemilik kedai Setya meninggal dan anaknya berencana menjual rukonya. “Bahkan sampai punya buyut,” kata Sumardi berkelakar.

Sembari tangannya yang terus mencelupka taoge dan mi kuning, laki-laki yang akrab disapa Pakde ini mengatakan tiap harinya bisa menghabiskan 30-40 kilogram mi kuning. “Kalau Minggu, bisa 60 atau 70 kilo,” tambah Pakde yang ketika berjualan juga dibantu oleh istri dan anak bungsunya.

Warijah, istri Sumardi, menjelaskan kental yang terdapat di kuah mi lendir itu diperoleh dari tepung terigu dan gula merah. “Dicampur kacang juga,” tambahnya. Dalam sehari, Warijah dan suaminya biasa membawa empat periuk besar berisikan kuah kental tersebut. “Pas Minggu dan hari libur bawanya 9 periuk,” terang perempuan yang biasa dipanggil Bude oleh pelanggannya.

Saking khasnya, ada saja pembeli yang membeli kuah kental racikan Sumardi dan istrinya. Menurutnya, karena tidak sembarang orang bisa membuat kuah kental tersebut. Dibutuhkan keahlian khusus untuk meracik kombinasi kuah yang terdiri dari tepung terigu, gula merah, dan kacang tanah itu. “Untuk itu, kita pasang setengah harga saja,” terang Warijah.

Sembari duduk di depan gerobak jualannya, Warijah menceritakan awal mula dirinya dan suaminya berjualan mi lendir. “Dulu paman saya yang jualan. Suami saya disuruhnya menggantikan,” kisah ibu enam anak ini. Sumardi turut pula menambahkan, dirinya terlebih dahulu dirinya menjajakan kue keliling. “Setelah itu, saya jualan mi lendir keliling di Jalan Merdeka,” tambahnya.

Menurut cerita Sumardi, dulunya tidak ada yang berjualan mi lendir seperti saat ini, dengan menumpang di kedai kopi seperti dirinya. “Dulu ya harus keliling, sambil mukul piring,” terang Kakek 14 cucu ini sambil memeragakan caranya berjualan dulu. Saat ini, Sumardi dan istrinya berjualan di depan kedai Aneka Ria dengan uang sewa Rp 20 ribu perharinya.

Pria yang sempat menggunakan uang KR, mata uang khusus Kepulauan Riau, menceritakan dulunya yang berjualan mi lendir ini adalah orang-orang India. “Mereka berhenti, jadilah orang Jawa yang meneruskannya sampai sekarang,” kata Sumardi.

Sebagai orang Jawa asli yang sudah lama di Tanjungpinang, Warijah mengakui dirinya juga tidak pernah mendapati mi lendir di Klaten, kampung halamannya. “Kalau jual di Jawa, orang pada jijik,” ucapnya tertawa. Warijah mulai berjualan mi lendir bersama suaminya sejak pukul 6 pagi sampai pukul 1 siang. “Tapi sebelum jam satu, biasanya sudah habis,” ujar Warijah.

Saban pagi di Jalan Bintan, mi lendir menjadi pilihan sarapan berbagai kalangan dan etnis. Terlihat dari ragam pembeli yang terus datang silih berganti.

Kosa Kata Bahasa Melayu

0

Menurut Kamus Dewan Edisi Keempat, “kosa kata” ditakrifkan sebagai “keseluruhan kata dalam sesuatu bahasa”. Bahasa Melayu adalah bahasa Malayik di bawah cabang Austronesia yang dituturkan oleh 250 hingga 300 juta orang di Malaysia, Brunei, Indonesia, Singapura dan Thailand. Bahasa Melayu mempunyai dua bahasa piawai iaitu Bahasa Malaysia dan Bahasa Indonesia. Bahasa Malaysia ataupun Bahasa Melayu digunakan di Malaysia, Singapura dan Brunei manakala Bahasa Indonesia digunakan di Indonesia.

Kedua-dua bahasa piawai tersebut mempunyai rujukan kamus masing-masing. Bahasa Malaysia menggunakan “Kamus Dewan” manakala Bahasa Indonesia menggunakan “Kamus Besar Bahasa Indonesia”. Kamus edisi terkini iaitu “Kamus Dewan Edisi Keempat” terbitan tahun 2005 mempunyai 34 578 perkataan manakala “Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kelima” terbitan tahun 2016 mempunyai 127 036 perkataan. Artikel ini membincangkan tentang kosa kata yang terdapat dalam bahasa ini.

Kosa kata dalam Bahasa Melayu terdiri daripada “perkataan jati”. Kosa kata tersebut merupakan yang terbanyak dalam kedua-dua kamus tersebut dengan sebanyak 25 636 dan 118 092 perkataan masing-masing. Kamus Dewan Edisi Keempat terdiri daripada 74.14% perkataan jati manakala Kamus Besar Bahasa Indonesia terdiri daripada 92.96% perkataan jati. Contoh perkataan jati dalam bahasa ini adalah anak, ikan, makan, mata, lima dan sebagainya.

Kosa kata dalam Bahasa Melayu terdiri daripada Bahasa Arab. Kosa kata tersebut merupakan yang kedua terbanyak dalam kedua-dua kamus tersebut dengan 2 758 perkataan. Perkataan yang berasal daripada bahasa tersebut terdiri daripada 7.97% dalam Kamus Dewan Edisi Keempat manakala 2.17% dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Contoh perkataan yang berasal daripada bahasa berkenaan adalah Ahad, Akrab,  Allah, Kitab dan sebagainya.

Kosa kata dalam Bahasa Melayu terdiri daripada Bahasa Belanda. Kosa kata tersebut merupakan yang ketiga terbanyak dalam kedua-dua kamus tersebut dengan 1 764 perkataan. Perkataan yang berasal daripada bahasa tersebut terdiri daripada 5.10% dalam Kamus Dewan Edisi Keempat manakala 1.39% dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Contoh perkataan yang berasal daripada bahasa berkenaan adalah Agensi, Akauntan, -sasi (Organisasi), Akustik dan sebagainya.

Kosa kata dalam Bahasa Melayu terdiri daripada Bahasa Cina. Kosa kata tersebut merupakan yang keempat terbanyak dalam kedua-dua kamus tersebut dengan 1 093 perkataan. Perkataan yang berasal daripada bahasa tersebut terdiri daripada 3.16% dalam Kamus Dewan Edisi Keempat manakala 0.86% dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Contoh perkataan yang berasal daripada bahasa berkenaan adalah Teh, Toko, Banci, Kailan dan sebagainya.

Kosa kata dalam Bahasa Melayu terdiri daripada Bahasa Inggeris. Kosa kata tersebut merupakan yang kelima terbanyak dalam kedua-dua kamus tersebut dengan 1 028 perkataan. Perkataan yang berasal daripada bahasa tersebut terdiri daripada 2.97% dalam Kamus Dewan Edisi Keempat manakala 0.81% dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Contoh perkataan yang berasal daripada bahasa berkenaan adalah Krismas, Aloi, Aroma, Drakula, Forum dan sebagainya.

Kosa kata dalam Bahasa Melayu terdiri daripada Bahasa Sanskrit. Kosa kata tersebut merupakan yang keenam terbanyak dalam kedua-dua kamus tersebut dengan 830 perkataan. Perkataan yang berasal daripada bahasa tersebut terdiri daripada 2.40% dalam Kamus Dewan Edisi Keempat manakala 0.65% dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Contoh perkataan yang berasal daripada bahasa berkenaan adalah Pancasila, Pancaindera, Acara, Agama dan sebagainya.

Kosa kata dalam Bahasa Melayu terdiri daripada Bahasa Parsi. Kosa kata tersebut merupakan yang ketujuh terbanyak dalam kedua-dua kamus tersebut dengan 331 perkataan. Perkataan yang berasal daripada bahasa tersebut terdiri daripada 0.96% dalam Kamus Dewan Edisi Keempat manakala 0.26% dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Contoh perkataan yang berasal daripada bahasa berkenaan adalah Peringgi, Acar, Anggur, Badam dan sebagainya.

Kosa kata dalam Bahasa Melayu terdiri daripada Bahasa Portugis. Kosa kata tersebut merupakan yang kelapan terbanyak dalam kedua-dua kamus tersebut dengan 311 perkataan. Perkataan yang berasal daripada bahasa tersebut terdiri daripada 0.90% dalam Kamus Dewan Edisi Keempat manakala 0.24% dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Contoh perkataan yang berasal daripada bahasa berkenaan adalah Bangku, Bendera, Boneka, Minggu dan sebagainya.

Kosa kata dalam Bahasa Melayu terdiri daripada Bahasa Tamil. Kosa kata tersebut merupakan yang kesembilan terbanyak dalam kedua-dua kamus tersebut dengan 147 perkataan. Perkataan yang berasal daripada bahasa tersebut terdiri daripada 0.43% dalam Kamus Dewan Edisi Keempat manakala 0.12% dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Contoh perkataan yang berasal daripada bahasa berkenaan adalah Apam, Badai, Cukai, Dendam dan sebagainya.

Kosa kata dalam Bahasa Melayu terdiri daripada lain-lain bahasa. Kosa kata tersebut merupakan yang kesepuluh terbanyak dalam kedua-dua kamus tersebut dengan 681 hingga 685 perkataan. Perkataan yang berasal daripada bahasa tersebut terdiri daripada 1.97% dalam Kamus Dewan Edisi Keempat manakala 0.54% dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Contoh perkataan yang berasal daripada bahasa berkenaan adalah Kudeta (Perancis), Mitos (Yunani), Yahwe (Hebrew), Banduan (Hindi), Haiku (Jepun), Akapela (Itali), Alumni (Latin) dan sebagainya.

Kesimpulannya, itu adalah kosa kata yang terdapat dalam Bahasa Melayu. Pembaca perlu diingatkan, tiada kiraan rasmi dalam peratusan kosa kata dalam bahasa ini. Kiraan penulis dalam artikel ini adalah sekadar memberi gambaran kasar tentang berapa banyak perkataan yang terdapat dalam bahasa ini. Sesuatu bahasa mungkin lebih banyak ataupun sebaliknya bergantung kepada pemilihan kata yang dipilih oleh kedua-dua pihak.

RUJUKAN:

Loan-Words In Indonesian and Malay. Retrieved April 4, 2019 from http://sealang.net/lwim/

Dunia Kata – Sinopsis Kamus. Retrieved April 4, 2019 from http://ekamus.dbp.gov.my/SinopsisKamus.aspx?type=KDE4

Indonesian language, alphabet and pronunciation. Retrieved April 4, 2019 from https://www.omniglot.com/writing/indonesian.htm

Malay language, alphabet and pronunciation. Retrieved April 4, 2019 from https://www.omniglot.com/writing/malay.htm

Uli, Kozok (10 March 2012). “How many people speak Indonesian”. University of Hawaii at Manoa. Retrieved 20 October 2012

Carian Umum Dewan Bahasa Dan Pustaka. Retrieved April 4, 2019 from http://prpm.dbp.gov.my/Cari1?keyword=Kosa+kata

Dikutup dari : www.thepatriots.asia

TANJUNGPINANG NEGERI MAK YONG MUDA

0

(Cerita Awang Pengasuh)

Oleh : Al Mukhlis
Pegiat Seni Tradisi

Syahdan, disinilah tempat Awang berkabar bilang perihal suatu negeri. Sebelum kiranya cerita ini Awang mulakan, Awang mesti bersenang angin bersenang ombak di teratak Awang terlebih dahulu. Tempat duduk diamnya Awang berpikir tenang. Tempat merenung mencari ilham akan perkara dalam tulisan. Memang, walau teratak Awang ni rebai sana rebai sini, pelantar kayu jongkat- jongket, tiadalah buruk di mata, melainkan surga bagi Awang.

Baiklah, disini Awang mulakan dengan seni kata pantun sebagai permulaan:

Seni Tradisi panjang umurnya
Tiada pincang tiada tenggelam
Makyong Muda itulah kisahnya
Di Tanjungpinang tempat semayam

Hatta, cerita ini Awang beri tajuk “Tanjungpinang Negeri Makyong Muda”.Bermula kabar tersiar di kota Gurindam Negeri Pantun, dimana disinilah Negerinya Mak Yong Muda bersemayam. Kabar hal ihwal akan di adakannya Acara FESTIVAL MAK YONG 2019 di hotel Sunrice City/hotel Bali itu, sampailah di telinga penghuni negeri amat bertuah ini. Tegak kepala Wak Penghulu Pekan sahabat baik Awang itu. Terperangah melihat berita di Instagramnya. Wak yang asik main gawai selesai berkebun di kediamannya langsung melenting berdiri, Wak berdecak kagum melihat ada berita negerinya sedang kedatangan tamu dari penjuru negeri Mak Yong lainnya. Tanpa berpikir panjang Wak Penghulu Pekan langsung menelpon sahabat baiknya Awang Pengasuh. Wak berkabar bilang pada Awang pengasuh dan meminta diajak ngopi di tempat biasa. Hmm, inilah tebiat Wak, sudah dia yang perlu, dia pula yang minta di ajak ngopi.

Ketika Wak sudah berjumpa dengan Awang pengasuh di kedai kopi Jalan Merdeka, Wak langsung menunjukkan informasi yang baru ia dapatkan di Instagramnya;

WAK PENGHULU PEKAN : Oyalah Awang. Ku dah lama tidak melihat batang hidungmu ya Awang. Kenapa berjerawat ya Awang?

AWANG PENGASUH: Oyalah Wak. Cantik pulak bahasa Wak jumpa Awang ni. Kata nak bekabar bilang perihal mustahak, inikan kita pulak di katanya. Wak nak Awang balek atau tunak disini Wak?

WAK PENGHULU PEKAN: Aii Wang! Takkanlah nak marah pepagi buta ni ya Awang. Wak ni bukan mengata, gurau sedikit pun tak boleh.

AWANG PENGASUH: Awang tengah banyak masalah ni Wak. Jangan pancing Awang wak.

WAK PENGHULU PEKAN : Masalah apa ni Wang? Masalah apa?

AWANG PENGASUH: Ayam awang hilang raib entah kemana Wak. Petang semalam masih terdengarlah riuh kokoknya Wak, lah subuh ni tadi senyap Wak, apa tak risau hati Awang ni Wak. Dialah satu-satunya kawan Awang bermain kejar-kejaran ya Wak. Sedih benar hati ini ya Wak.

WAK PENGHULU PEKAN : Hmm…Wang. Kalau Wak tengok, ayam tu ada Wang. Dia hanya lupa arah balik kandangnya Wang. Tengoklah petang nanti Wang. Balik Wak rasa.

AWANG PENGASUH: Hailah kalau Wak lah cakap begini, barulah tenang hati Awang. Wak ni memang ahlinya ahli ya Wak. Ha, berkabarlah Wak!

WAK PENGHULU PEKAN : Cuba tengok Instagram Wak ni Wang. Bukan main melenting Wak terkejut melihat pengkabaran itu ya Wang. Balai yang amat tunak dalam mengkaji dan menjaga budaya tradisi di negeri kita ini menaja acara besar FESTIVAL MAK YONG 2019 ya Wang. Kalau Wak tak datang berkabar bilang, mana boleh Awang tahu sama ku. Awang kan tak punya Gawai canggih macam Wak ni. Ha, macam mana menurut Awang dengan pengkabaran dari Wak ni?

AWANG PENGASUH: Amboii… Ini memang mustahak ni Wak. Nampaknya berita kedatangan mereka ini belum diketahui oleh Cek Wang Wak. Awang mesti berjumpa dengan Cek Wang Wak, mustahak benar ni Wak.

WAK PENGHULU PEKAN: Oyalah Wang, sekejap Wak habiskan kopi ni dulu ya Wang. Sayang pulak kalau tak dihabiskan. Nanti dikata mubazir dan tak menghargai rejekimu ya Wang.

AWANG PENGASUH: Pandai betul Wak ni berkelah ya Wak. Ha deraslah Wak. Awang nak berkabar bilang dengan Cek Wang di Ledang balai.

WAK PENGHULU PEKAN: Bila jam Wang?

AWANG PENGASUH: Ini jam juga Wak. Lekaslah!

Setibanya di Ledang Balai Cek Wang, Awang dan Wak Penghulu Pekan menyusun sembah menghadap.

AWANG PENGASUH: Awang datang menghadap Cek Wang.

WAK PENGHULU PEKAN : Wak pun datang sama Cek Wang.

Dengan tidak mengabaikan kedatangan tamu pentingnya itu, Cek Wang melempar senyum manis seolah sudah tahu apa yang ingin dikabarkan.

CEK WANG: Oyahlah Awang, oyalah Wak, hajat mana berita mana Awang dan Wak datang menghadap di Ledang Balai sepagi ini?

AWANG PENGASUH: Oyalah Cek Wang. Awang minta ampun sekiranya menggangu sepagi ini Cek Wang. Tapi, ada hal mustahak yang membawa Awang datang kemari Cek Wang.

CEK WANG: Berkabarlah lah Wang…Berkabarlah.

AWANG PENGASUH: Cek Wang. Perihal mustahak ini bermula dikabarkan oleh Wak Penghulu Pekan. Wak telpon Awang minta berjumpa di kedai kopi semasa tadi. Wak tunjuklah Wak punya Instagram Cek Wang. Tiadakah Cek Wang sudah tahu perihal ini Cek Wang?

CEK WANG: Teruskan pengkabaranmu itu ya Wang. Saya ingin dengar…teruskan.

AWANG PENGASUH: Ku… Begini Cek Wang. Sudah dua hari ini negeri kita kedatangan tamu Mak yong dari penjuru negeri Cek Wang. Mulai dari Mak yong dari negeri Mantang, Bintan, Keke, Batam, dan Negeri Kelantan yang amat jauh itu Cek Wang.

CEK WANG: Inikah pengkabaranmu ya Awang?

AWANG PENGASUH: Ku… Perihal inilah yang membawa awang bertemu Cek Wang. Kalau tak mustahak sangat tak ingin Awang merejuk keluar Cek Wang. Bagus lagi Awang membuta.

Mendengar pengkabaran dari Awang Pengasuh selaku orang kepercayaan kerajaan yang di kepalai oleh Cek Wang, tiba-tiba langit mendung bak menyelimuti wajah Cek Wang . Suasana berubah tegang. Cek Wang tampak menyimpan sesuatu yang teramat rahasia. Seolah benarlah jawaban senyumnya saat pertama kali menyambut kedatangan Awang dan Wak. Ternyata kabar Festival Mak yong sudah lebih dulu sampai ketelinga Cek Wang.

CEK WANG: Baiklah pada waktu ketika ini saya hendak berkabar bilang padamu ya Awang. Padamu juga ya Wak. Saya mengira segala apa pengkabaran di negeri kita Tanjungpinang beberapa hari ini, hanyalah angin lalu yang tak penting ya Awang. Biarlah orang yang memiliki jabatan itu tak sudi mengundang Makyong Muda Tuan Habieb kita ini Awang. Hidung tak mancung, tiadakan pipi tersurung-surung. Tapi… Pandai main di negeri kita, namun lupa mengetuk pintu ya Awang. Paling tidak, tuan-tuan yang berjabatan di Balai amat berhormat itu sudilah berpelawa kepada kita ya Awang. Ini sedikit pun tidak. Konon paham akan nilai tradisi. Tau kata-kata “Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung”. Tapi, lupa diri agaknya Awang. Anak di depan mata dibiar-biarkan. Sedangkan anak yang jauh di mata di agung-agungkan. Entahlah Wang!

AWANG PENGASUH: Cek Wang… Tega benar mereka yang berjabatan itu pada negeri kita ini Cek Wang. Mesti orang-orang Mak Yong dari penjuru negeri akan bertanya Cek Wang. Kenapa negeri Tanjungpinang ini tiada Mak yong? Padahal kurang apalagi geliat kita menjaga seni tradisi ini Cek Wang. Tujuh tahun geliat kita menjaga dan merawat keaslian kesenian tradisi Mak Yong ini. Awang rasa tiada kurangnya segala bentuk tradisi Mak Yong yang Cek Wang bina ini.Pun katanya Cek Wang, sependengaran Awang acara ini satu permintaan dari Mat Saleh negeri seberang. Konon dialah empunya hajat segala kejadian Festival Mak yong ini Cek Wang.

CEK WANG: Awang ya Awang. Awang oiii. Ooo Awang. Tiadakah Awang melihat wajah saya bergembira ya Awang. Marilah Awang kita bersenang angin bersenang ombak sama bernyanyi ya Awang. Marilah Awang.

AWANG PENGASUH: Sedikit tak ingin Cek Wang. Kalau pikir geramnya Awang, Awang nak tuju segala orang-orang yang berjabatan tinggi itu.

CEK WANG: Oyalahmu Awang… Tiada baik memutuskan segala hal dengan kepala panas ya Awang. Nanti orang tertawa melihat kita. Dikatanya kita mengemis pula ya Awang.

AWANG PENGASUH: Tapi Cek Wang?

CEK WANG: Kemari Awang, kemari. Saya ingin berpesan padamu berdua ya Awang. Pertama; Acara ini sungguh hebat Awang. Terlepas persiapan yang sedikit tiada matang itu, mereka sudah ingin melestarikan Mak Yong ya Awang. Kedua ya Awang; Seni tradisi Mak Yong ini mesti terus melahirkan regenerasi ya Awang. Biarlah yang muda-muda dilibatkan ya Awang. Tentu senang dihati mereka dan tentu cinta kepada mereka akan Seni Tradisi ini ya Awang. Banyak nilai edukasi dalam kesenian Mak Yong ini ya Awang. Mungkin mereka tiada tahu hal sebenar. Yang terakhir ya Awang. Ini yang paling penting. Saya selaku Cek Wang dan Awang Pengasuh yang Tua menitah perintahkan padamu ya Awang. Segera sampaikan jemputan kepada seluruh keluarga besar kita Mak Yong Muda Ledang Balai Tuan Habieb yang berjumlah lebih kurang lima puluh orang itu , untuk memakai baju sama putih dan berkumpul di Tanah lapang hotel bali ya Awang. Malam ini kita bantu meriahkan acara mereka. Biar mereka lupa mengetuk pintu ya Awang, tapi tetamu dari penjuru negeri Mak Yong mesti gembira kita sambut. Mesti suka kita lihat. Segera kabarkan ya Awang!

Mendengar titah perintah Cek Wang yang amat dermawan itu, Awang dan Wak menyusun sembah. Meminta ijin berundur diri dari hadapan.

Tiadakan belati dipadu besi
Asal ciptanya di kota Malaya
Tiadakan mati kesenian tradisi
Mak Yong Muda terus berkarya

Baharu