Beranda blog

Nafsu Jahat Hendaklah Dilawan

0

LAKSEMANA Megat Seri Rama baru saja menghadap Sultan Mahmud Syah II sekembalinya dari menunaikan baktinya di lautan, Agustus 1699. Beliau disambut di istana Sultan Johor-Riau di Kota Tinggi dengan upacara kebesaran. Pasalnya, laksemana yang gagah-perkasa itu telah berhasil mengalahkan perompak lanun, yang beberapa bulan terakhir mengganas di perairan Kesultanan Johor-Riau, terutama di kawasan Kepulauan Riau.

Karena perbuatan para lanun itu, kapal-kapal niaga dari pelbagai negeri tak berani memasuki wilayah Kesultanan Johor-Riau. Akibatnya, perniagaan kerajaan sangat terganggu dan merosot tajam. Bahkan, nelayan tempatan pun tak berani melaut. Wajarlah keberhasilan Megat Seri Rama mengalahkan lanun itu disambut dengan suka-cita oleh sultan, orang besar-besar kerajaan, dan rakyat sekalian. Laksemana dan pasukannya disambut layaknya menyambut para pahlawan yang kembali dari medan perang karena mereka memang memerangi para lanun.  

Ketika melaksanakan tugasnya di lautan, Laksemana Megat Seri Rama—dikenal juga dengan panggilan Laksemana Bentan, sesuai dengan nama tempat asalnya—meninggalkan istrinya, Dang Anum (Wan Anum). Dalam hal ini, Dang Anum dititipkan oleh suaminya di  bawah penjagaan sahabatnya, Tun Aman dan kakaknya Tun Khatijah. Kala ditinggalkan itu, istrinya sedang hamil tua, mengandung anak pertama mereka.

Ketika itu pusat Kesultanan Johor-Riau atau Johor-Pahang-Riau-Lingga belum berapa lama dipindahkan ke Kota Tinggi, Johor Lama (wilayah Kerajaan Johor, Malaysia,  sekarang). Oleh sebab itu, sultan dan para pembesar kerajaan bermastautin (bertempat tinggal) di Kota Tinggi, termasuk Laksemana Megat Seri Rama dan Dang Anum, istrinya. Sebelum itu, sejak 1678 kerajaan berpusat di Hulu Riau, Sungai Carang (wilayah Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, sekarang) setelah dipindahkan dari Batu Sawar, Johor Lama.

Pemindahan pusat kesultanan itu karena Batu Sawar di Johor Lama porak-poranda diserang oleh Kerajaan Jambi pada 1673 setelah lebih kurang 145 tahun Kesultanan Johor-Riau berdiri. Dengan demikian, pemindahan pusat kesultanan ke Hulu Riau pada 1678 bertepatan dengan 150 tahun berdirinya Kesultanan Johor-Riau. Hulu Riau di Sungai Carang mulai dibangun sebagai pusat Kesultanan Johor-Riau atau Riau-Johor atau Riau-Lingga-Johor-Pahang pada 1673 oleh Laksemana Tun Abdul Jamil berdasarkan titah Sultan Abdul Jalil Syah III.

Pada 1679, setahun setelah pusat pemerintahan di Hulu Riau, Tanjungpinang, Sultan Ibrahim Syah—raja yang berkuasa kala itu—memerintahkan Laksemana Tun Abdul Jamil menyerang Jambi untuk menghentikan permusuhan kerajaan itu. Laksemana hebat itu melaksanakan titah sultan, Kerajaan Jambi dapat dikalahkan dan mengaku takluk di bawah Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang.

Kembali kepada Laksemana Megat Seri Rama. Setelah acara penyambutan di istana, beliau pun kembali ke rumah untuk menemui istrinya tercinta dan tentu anak sulung mereka. Setelah ditinggalkan lebih dari dua bulan, seharusnya anaknya memang telah lahir. Dalam perjalanan menuju ke rumahnya hati Laksemana berbunga-bunga. Akan tetapi, apakah yang dijumpainya di rumahnya? Istrinya tak ada di rumah.

Betapa hancurnya hati Laksemana Bentan setelah mengetahui dari jirannya bahwa istrinya telah meninggal dunia. Hatinya yang hancur itu menjadi semakin hancur sehancur-hancurnya setelah diberi tahu bahwa istri dan anak sulungnya yang masih di dalam kandungan meninggal karena dibunuh oleh Sultan Mahmud Syah II. Dosa besar apakah yang dilakukan istrinya sehingga sultan tega membunuhnya dengan cara membelah perutnya? Apatah lagi, beliau sendiri bersama pasukannya sedang menyabung nyawa untuk menumpas para lanun yang mengacaukan keamanan dan perekonomian negara. Tidakkah kesemuanya itu menjadi pertimbangan sultan sebelum menjatuhkan sanksi hukuman mati kepada istrinya? Dendam Laksemana Megat Seri Rama kepada Sultan Mahmud dengan cepat mencapai kemuncaknya. “Raja alim raja disembah, raja zalim raja disanggah. Tunggulah pembalasan dari anak Bentan ini wahai raja yang tak berperi kemanusiaan!” 

 Semasa hamil, istri laksemana terkenal Kesultanan Johor-Riau itu mengidam hendak makan nangka, yang dipercayai sebagai bawaan kehamilannya. Malangnya, kala itu nangka sangat langka, tak berbuah. Tibalah suatu hari, penghulu kebun lewat di depan rumah Dang Anum membawa nangka masak untuk dipersembahkan kepada sultan. Melihat itu, Dang Anum semakin kecur dan tanpa segan meminta nangka itu barang seulas sahaja. Karena kasihan kepada istri laksemana, penghulu kebun memberikan seulas nangka milik raja itu kepada Dang Anum dengan pesan agar dirahasiakan. Pasalnya, kalau diketahui oleh sultan, pastilah baginda murka bangat karena pantang raja makan sisa orang lain.

Malang memang tak berbau. Walau telah dirahasiakan, Sultan Mahmud ternyata mengetahui juga bahwa nangkanya telah dicicipi oleh orang lain terlebih dahulu. Murka Baginda semakin meninggi ketika Tun Bija Ali, saingan Megat Seri Rama untuk memperebutkan Dang Anum dan jabatan di pemerintahan, menggunakan kesempatan itu untuk membalas dendamnya. Dihasutnya Sultan Mahmud bahwa Dang Anum bersama suaminya telah berencana jahat hendak mendurhaka kepada Baginda. Tun Bija Ali memang berupaya untuk membunuh Dang Anum agar rahasia kejinya hendak memperkosa istri Megat Seri Rama itu pada suatu malam ketika suaminya sedang bertugas di lautan tak terbongkar. Perbuatan bejat Tun Bija Ali itu dapat dielakkan oleh Dang Anum. Dia dapat melepaskan diri dari lelaki hidung belang yang telah beristri empat itu dengan melarikan diri dari rumahnya yang telah dimasuki pesaing suaminya pada malam buta.

Hari itu Jumat, Agustus 1699. Azan pertama memanggil orang untuk melaksanakan shalat Jumat baru saja berkumandang. Sultan Mahmud telah sampai di halaman masjid dengan dijulang (ditandu) oleh para hulubalang. Tiba-tiba secepat kilat Laksemana Megat Seri Rama menghadang di hadapan Baginda seraya dengan tangkas menikamkan kerisnya ke rusuk kiri Sultan yang sedang dijulang, tanpa didahului sepatah kata pun. Sultan Johor-Riau itu merintih kesakitan dan segera akan jatuh dari julangannya. Orang-orang melihat kejadian itu hanya terkejut dan terpana, termasuk para hulubalang pemikul tandu.

Ketika akan jatuh, Sultan Mahmud masih sempat mencabut keris yang terselip di pinggangnya. Dilemparkannya keris itu ke Megat Seri Rama dan mengenai jari kaki Laksemana. Menjelang nazaknya, Baginda bersumpah, “Tujuh keturunan Laksemana Megat Seri Rama jika menjejakkan kaki di Kota Tinggi akan muntah darah!” Setelah bersumpah itu, Baginda pun mangkat. Setelah kembali ke rahmatullah, Baginda biasa dipanggil dengan gelar Marhum Mangkat Dijulang.

Dalam pada itu, Laksemana pun mencabut keris yang menancap di jari kakinya. Begitu tercabut, beliau pun muntah darah dan meninggal dunia seketika itu juga di tangga masjid. Kesultanan Johor-Riau berduka-cita. Rakyat berkabung karena kehilangan pemimpin mereka.

Sultan Mahmud Syah II dimakamkan di Kampung Makam. Laksemana Megat Seri Rama pula dimakamkan di Kampung Kelantan, di samping makam istrinya, Dang Anum. Kesemua makam itu berada di Kota Tinggi di Sungai Johor, Kerajaan Negeri Johor Darul Ta’zim, Malaysia, sekarang.

Kemangkatan Sultan Mahmud Syah II hendak dimanfaatkan oleh seseorang yang menginginkan kerajaannya. Raja Ahmad Engku Haji Tua dan Raja Ali Haji rahimahullah menuturkan perkara itu di dalam Tuhfat al-Nafis.   

“Syahadan adapun Raja Kecik setelah mustaid kelengkapannya, maka ia pun menyuruh ke Kuala Johor, dan ke Singapura, akan seorang menterinya yang pandai memujuk dan menipu-nipu memasukkan kepada hati rakyat dengan perkataan mengatakan ini sebenar-benarnya anak Marhum Mangkat Dijulang. Sekarang ini adalah ia hendak ke Johor, hendak mengambil pesakanya menjadi raja. Maka barangsiapa rakyat yang tiada mau mengikut, nanti ditimpa daulat Marhum Mangkat Dijulang, tiada selamat sampai ke anak cucunya. Syahadan barangsiapa yang menyertai anak Marhum Mangkat Dijulang itu, mendapatlah kurnia daripada Raja Kecik dan Raja Kecik sudah sedia dengan beberapa kayu kain yang baik akan persalinan jenang batin itu, apalagi raja negara,” (Ahmad & Haji dalam Matheson (Ed.) 1982, 56—57).

Ternyata, dia adalah orang yang menyebut dirinya Raja Kecik, yang mengaku anak Marhum Mangkat Dijulang bersama istrinya Cik Pong. Padahal, Sultan Mahmud Syah II tak beristrikan manusia biasa. Baginda disebutkan beristrikan orang bunian dan memang tak tertarik kepada perempuan dari jenis manusia. Ketaklaziman Sultan Mahmud itu disebutkan oleh sumber lokal dan asing. Dengan demikian, orang yang mengaku sebagai anak Marhum Mangkat Dijulang itu, sesuai dengan Tuhfat al-Nafis, telah melakukan kebohongan atau tak berlaku jujur. Untuk mencapai matlamat itu, pelbagai upaya dilakukannya, termasuk mengintimidasi rakyat, padahal cara yang ditempuhnya itu salah. Kualitas jujur sangat mustahak dimiliki oleh setiap pemimpin. 

Kepada dirinya ia aniaya

Orang itu jangan engkau percaya

Orang yang tak jujur, sesuai dengan Gurindam Dua Belas (Haji 1847), Pasal yang Kedelapan, bait 2, di atas tergolong manusia yang aniaya terhadap dirinya. Pasalnya, sifat dan perilaku tak jujur akan merusaki diri sendiri. Oleh sebab itu, orang yang tak jujur tak boleh dijadikan pemimpin. Kepada dirinya saja dia aniaya, apatah lagi kepada orang lain, orang-orang yang dipimpinnya jika dia telanjur mendapatkan jabatan kepemimpinan dengan pelbagai cara yang diupayakannya sesuai dengan karenah dunia.

“Hai, orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui(nya),” (Q.S. Al-Anfaal, 27).

Perilaku tak jujur, jika dilakukan oleh pemimpin, merupakan perbuatan mengkhianati amanah yang dipercayakan oleh Allah kepadanya. Hal itu juga bermakna orang yang tak jujur tak memenuhi standar Allah untuk menjadi pemimpin.

Berhubung dengan sifat, sikap, dan perilaku jujur yang seyogianya dimiliki oleh pemimpin, Raja Ali Haji bertutur di dalam Tsamarat al-Muhimmah. Dalam hal ini, beliau menekankan mustahaknya orang yang amanah dan benar lidahnya (tak berbohong, jujur) jika hendak menjadi pemimpin yang baik, yang diridai oleh Allah.

“Bermula menjadikan wazir-wazir (menteri, HAM) atau kepala-kepala negeri, maka seyogianya hendaklah dipilih akan orang … yang amanah dan benar lidahnya (huruf miring oleh saya, HAM) …,” (Haji dalam Malik (Ed.) 2013, 46).

Ajaran itu dilanjutkan beliau dengan syair nasihat di dalam Tsamarat al-Muhimmah, bait 72 (Haji dalam Malik (Ed.) 2013). Nasihat itu seyogianya memang harus diikuti oleh para pemimpin jika hendak berjaya dalam kepemimpinannya.

Inilah nasihat ayahanda tuan

Kepada anakanda muda bangsawan

Nafsu yang jahat hendaklah lawan

Supaya anakanda jangan tertawan

            Tak jujur tergolong nafsu jahat yang tak berfaedah. Sesiapa pun yang tertipu oleh nafsu jahat, dalam arti dia tak berlaku jujur dalam kepemimpinannya, cepat atau lambat, kepemimpinannya akan menuai padah atau musibah. Kalau tak di dunia, di akhirat nanti pertanggungjawabannya tak dapat dibantah.

            Atas pemahaman itulah, dalam perjuangannya untuk merebut kembali negerinya yang terjajah, Duri (nama samaran sebagai laki-laki dari Siti Rafiah, istri Sultan Abdul Muluk) menempatkan standar kejujuran sebagai kualitas utama kepemimpinan. Dalam pengembaraannya dia tiba di Negeri Berham. Di tempat itu dia menyamar sebagai hulubalang.

Di Negeri Berham dia mendapat orang tua angkat yang sangat menyayanginya. Dia juga di negeri itu menemukan gejala rakyatnya terpecah atas dua golongan. Pertama, golongan yang berpihak kepada Bahsan, yang paling banyak pengikutnya. Kedua, golongan yang berpihak kepada Jamaluddin, yang semakin berkurang pengikutnya (lih. Syair Abdul Muluk, Haji 1846, bait 967—968).

Jikalau anakku hendak berjalan

Hendak mencari sahabat dan taulan

Pergilah ke sebelah kaum Bahsan

Senanglah Tuan mencari kehidupan

Duri tersenyum mendengarkan madah

Sambil berkata terlalu petah

Hamba tak mau kepada yang salah

Jamaluddin itu asalnya khalifah

            Orang tua angkatnya menyarankan Duri untuk berteman dengan kelompok Bahsan agar memperoleh kesenangan hidup. Akan tetapi, Duri (Siti Rafiah) menolak anjuran itu karena dia tahu duduk perkara sebenarnya. Bahsan itu paman Sultan Jamaluddin. Bahsan merebut tahta dari keponakannya sendiri dengan pelbagai cara, termasuk rasuah, menyogok rakyat, untuk memenuhi ambisinya menjadi Raja Negeri Berham. Karena mengetahui latar itu, Duri lebih memihak dan membantu Sultan Jamaluddin, pemimpin sah Negeri Berham. Pasalnya, Jamaluddin jujur, sedangkan Bahsan  penipu yang tak berbudi pekerti.

Rasulullah SAW bersabda, “Jauhilah dusta karena dusta akan membawamu kepada dosa dan dosa membawamu ke neraka. Biasakanlah berkata jujur karena jujur akan membawamu kepada kebajikan dan kebajikan membawamu ke surga,” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Hanya kejujuran yang akan mendatangkan berkah kepemimpinan. Sebaliknya, kebohongan akan mendatangkan malapetaka yang tiada berkesudahan. Oleh sebab itu, nafsu jahat ketakjujuran hendaklah dilawan. Marilah berpihak pada kejujuran. Pasalnya, pedoman dan perintah itu memang berasal dari Tuhan.***

Dapunta Hyang Sri Jayanasa (684 – 701 Masihi): Pembina Empayar Terawal Bangsa Melayu

0

Sebuah batu bersurat tulisan Pallava telah ditemui di kawasan Kedukan Bukit, Palembang oleh seorang Belanda bernama M. Batenburg pada tahun 1920. Secara ringkasnya, batu bersurat yang dikenali sebagai Prasasti Kedukan Bukit tersebut menceritakan mengenai seorang tokoh bernama Dapunta Hyang yang melaksanakan satu perjalanan suci (mangalap siddhayatra) dari sebuah tempat bernama Minanga Tamvan menuju ke Matajap diiringi oleh 200 orang pawang dan lebih kurang 20000 tentera. Prasasti Kedukan Bukit turut mencatatkan tahun peristiwa tersebut mula berlaku iatu pada tahun Saka 605 yang bersamaan dengan tahun 683 Masihi. Dua baris terakhir prasasti tersebut menceritakan bahawa Dapunta Hyang berjaya membina sebuah wanua Srivijaya yang gemilang (laghu mudita datang marwuat wanua Criwijaya jaya siddhayatra subhiksa).

Sebuah lagi prasasti ditemui di Talang Tuwo, juga di Palembang oleh Louis C. Westenenk pada tahun yang sama Prasasti Kedukan Bukit ditemui. Prasasti yang dikenali sebagai Prasasti Talang Tuwo tersebut mencatatkan tarikh “tahun Saka pada hari kedua bulan terang bulan Chaitra” yang bersamaan dengan tarikh 23 Mac 684 Masihi. Prasasti ini pula menceritakan mengenai seorang raja bernama Dapunta Hyang Sri Jayanasa yang membina taman bunga dan kebun buah-buahan yang indah dinamakan “Sriksetra” untuk kegunaan segala makhluk malah prasasti tersebut turut mendoakan kebahagiaan dan kebaikan kepada raja yang membina taman tersebut.

Dapunta Hyang Sri Jayanasa sehingga kini dianggap sebagai pengasas empayar Srivijaya yang bermula sejak akhir abad ke-7 Masihi. Sejarah hidup baginda masih tidak diketahui dengan jelas tetapi dasar-dasar pemerintahan baginda mungkin dapat difahami melalui dua jenis sumber. Sumber pertama ialah dari prasasti-prasasti berbahasa Melayu kuno dan bertarikh akhir abad ke-7 Masihi yang ditemui di kawasan selatan Sumatera. Selain Prasasti Kedukan Bukit dan Prasasti Talang Tuwo, terdapat juga Prasasti Telaga Batu (bertarikh 683 Masihi) dan Prasasti Kota Kapur (bertarikh 686 Masihi).

Kewujudan prasasti-prasasti tersebut bukan sahaja menunjukkan bukti kewujudan bahasa Melayu kuno sejak abad ke-7 Masihi, malah prasasti-prasasti tersebut dapat memberi gambaran mengenai sistem pentadbiran dan politik awal Srivijaya pada masa pemerintahan Dapunta Hyang Sri Jayanasa. Sumber kedua pula ialah catatan-catatan perjalanan seorang sami Buddha dari China bernama Yijing (I-Ching) yang pergi melanjutkan pelajaran dalam agama Buddha di Nalanda, timur laut India dengan menggunakan jalan laut melalui kawasan Asia Tenggara pada akhir abad ke-7 Masihi.


Patung Dapunta Hyang Sri Jayanasa, pengasas Empayar Melayu Srivijaya yang terdapat di Muzium Kebangsaan Indonesia. 


(Dikutip Dari : www.thepatriots.asia)

Perhimpunan Plakat – Riausche Plakkaten

0
Palakat atau dokumen peraturan doesoen (kebun) rumbia di Pulau Lingga yang dikeluarkan oleh Sultan Abdulrahman Muazamsyah pada tahun 1302 H (1884 M). Bagian dari edisi alih akasaraPerhumpunan Plakay yang dimuat dalam Adatrechtbundels tahun 1926.

19 Dokumen Hasil Kesepakatan Kerajaan Riau-Lingga dan Pemerintah Hindia Belanda (1860-1896)

Pada penghujung abad ke-19, kesadaran terhadap arti penting arsip sangat terasa di kerajaan Riau-Lingga. Dokumen-dokumen penting itu tidak hanya disimpan oleh Raja Khalid Hitam sebagai pengelola arsip yang juga menjabat sebagai Bentara Kiri kerajaan Riau-Lingga, tapi juga dikumpulkan dan dihimpunkan oleh oleh Raja Ali yang berpangkat Kelana ataucalon Yang Dipertuan Muda.

Publikasi Mathba’ah al-Riauwiyah

Kumpulan bahan arsip berupa salinan plakat atau pelekat perjanjian dan surat-surat keputusan Kerajaan Riau-Lingga yang telah dimusyawaratkan oleh kerajaaan Riau-Lingga dan pemerintah Hindia-Belanda antara tahun 1286 H (1869 M) hingga tahun 1307 H (1889 M) ini dihimpunkan dalam sebuah buku yang telah dicantumkan oleh Ian Proudfoot dalam daftar buku-buku Melayu cetakan lama, Early Malay Printed Books (1992: 411) dengan judul Perhimpunan Plakat.

Himpunan salinan arsip plakat dan surat-surat keputusan ini untuk pertama kalinya dipubikasikan menggunakan huruh Arab Melayu atau huruf Jawi di Pulau Penyengat oleh Mathba’ah al-Riauwiyah, sebuah percetakan milik Kerajaan Riau-Lingga, pada tahun 1317 Hijriah besamaan dengan 1897 Miladiah.

Dua puluh sembilan tahun kemudian, seluruh isi Perhimpunan Palakat ini untuk pertama kalinya dirumikan atau dialihaksarakan ke dalam huruf Latin, dan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah hukum adat, Adatrechbundels, pada bagian ‘khazanah’ Hukum Adat Melayu (Het Maleische Gebied) dengan judul Riouwsche Plakkaten (Plakat-Plakat dari Riau) oleh penerbit ‘s-Gavenhage, Martinus Nijhoff, tahun 1926.

Pada tahun 1996, alih-akasara Perhimpunan Plakat cetakan Ma’thba’ah al-Riauwiyah (1897) diselenggarakan pula oleh Hasan Junus, dan dipublikasikan dalam Artefak Seri Naskah Lama terbitan 2 September 1996 yang dikeluarkan oleh Pusat Pengkajian Bahasa dan Kebuadayaan Melayu Universitas Riau. Namun demikian, edisi alih akasara tahun 1996 itu tidak lengkap, karena hanya memuat 15 salinan Plakat atau dokumen, dari 19 salinan Palakat yang terdapat dalam edisi huruf Arab Melayu cetakan Mathba’ah al-Riauwiyah.

Dihimpun Raja Ali Kelana

Perhimpunan Plakat diselenggarakan, atau tepatnya (sebagaiman tertera pada halaman judul buku ini) dikumpulkan dan dihimpunkan oleh Raja Ali Kelana, saudara seayah sultan terakhir Kerajaan Riau-Lingga, Sultan Abdulramahman Mu’azamsyah (1885-1911): dalam sejarah kerajaan Riau-Lingga ia juga dikenal sebagai seorang tokoh cerdik cendekia dan pemimpin kelompok perlawanan terhadap kolonialisme Belanda di Kerajaan Riau-Lingga.

Pada masa Raja Ali Kelana mengumpulkan dan menghimpun dokumen-dokumen untuk Perhimpunan Plakat, pangkatnya dalam kerajaan Riau-Lingga, seperti tertera di belakang nama batang tubuhnya, adalah Kelana, yaknicalon pengganti Yang Dipertuan Muda Riau-Lingga. Ia menjalankan tugas ayahandanya yang ketika itu masih menjadi Yang Dipertuan Muda Riau X, Raja Muhammad Yusuf (1858-1899).

Semua salinan Plakat atau dokumen yang dikumpulkan dan dikumpulkan dan dihimpunkan oleh Raja Ali Kelana tidak hanya penting dalam konteks penyimpanan dan pendokumentasian arsip kerajaan Riau-Lingga pada masa itu, tapi juga besar artinya dalam mendukung kerja seorang Kelana seperti Raja Ali yang diberi tanggung jawab memeriksa dan mengawasi hal-ihwal pemerintahan dan perekonmian daerah takluk kerajaan Riau-Lingga.

Dalam khazanah kepustakaan Melayu Riau-Lingga, Perhimpunan Plakat dapatlah disandingkan dengan sebuah manuskrip berjudul Tsamarat al-Mathub Fi-Anuar-alqulub karya Raja Khalid Hitam: sebuah kitab yang mengadungi salinan arsip-arsip kerajaan Riau-Lingga yang lebih tua dan beragam

Rujukan Hukum Adat

Gambaran kandungan isi Perhimpunan Plakat yang telah dikumpulkan dan dihimpunkan oleh Raja Ali Kelana dijelaskan pula dalam sebuah ‘kolofon’ yang dicantumkan di bawah judulnya: “inilah segala perhimpunan plakat peraturan yang telah dimusyawaratkan diantara Kerajaan Riau-Lingga dengan Gubernemen Hindia-Nederland daripada tahun 1286 [1869 M] hingga kepada tahun 1307 [1889]”

Di dalamnya dihimpunkan 19 salinan dan alih aksara salinan arsip dan dokumen. Selain aturan, titah, dan pengumuman yang telah ditetapkan oleh Sultan dan Yang Dipertuan Muda Riau-Lingga, di dalamnya terdapat pula salinan dokumen perjanjian serta peraturan yang telah disepakati antara Kerajaan Riau-Lingga dengan Resident Riouw yang berkedudukan di Tanjungpinang.

Hampir sebagian besar salinan bahan arsip tersebut berkenaan dengan aturan seperti mengolah dan mengushakan hutan yang yang erat kaitannya dengan perekonomian, aturan berjual beli komoditi dagang yang penting seperti sagu dan agar-agar, aturan-aturan cukai, sewa menyewa tanah, yang erat kaitannya dengan roda perekonomian Riau-Lingga dan telah disepakati oleh pemerintah Hindia Belanda.

Namun demikian, isi lengkap Perhimpunan Pakat ini tidaklah seperti yang dinyatakan dalam kolofonnya yang menyebutkan bahwa salinan dokumen terawal yang dihimpunkan di dalamnya adalah berasal dari tahun 1286 H bersamaan dengan tahun 1869 M dan dokumen terakhirnya berasal dari tahun 1307 Hijriah yang bersmaan 1889 Miladiah. Karena sesungguhnya, kandungan isi Perhimpunan Palakat ini diwali dengan dokumen tentang izin orang-orang Cina membuka kebun lada hitam dan gambir di Pulau Tjemboel dan Pulau Boelang bertarikh 1277 H (1860 M). Isi salinan palakat atau dokumen tersebut (sebagaimana edisi alih asara dalam Adatrechtbundels tahun 1926) sebagai berikut:

Bahwa kita Radja Mohamad Joeseoef sri padoeka jang dipertoean Moeda didalam keradjaan Lingga dan Riau dengan segala daerah taaloeknja sekalian.

Maka Sekarang barang tahoe kiranja kamoe sekalian jang kita telah meidzinkan segala tjina yang telah pergi kepoelau Tjemboel dan ke Poelau Boelang akan memboeka ladang gambir dan lada hitam didalam tanah itoe, maka djanganlah siapa-siapa meboeat haroe biroe diatas orang tjina jang memboeat ladang didalam tanah ini, dan barang siapa memboeat haroe biroe diatas segala orang tjina ini nistjaja kita hoekoem dengan sepenoeh-penoeh hoekoeman adanja…”

 Keseluruhan ini Perhimpunan Palakat ini diakhiri dengan sebuah surat pemberitahuan tentang petaruran perniagaan sagu di daerah Teluk (Teloek) yang telah disepakati oleh Yamtuan Muda Riau dan Resident Riouw pada 4 Ramadan 1313 Hijriah bersamaan dengan 18 Februari 1896 Miladiah. Salinan palakat terakhir ini adalah sebegai berikut:

Bahwa kita sri padoeka jang dipertoean Moeda Riau dan Lingga serta daerah taaloeknja sekalian. Memberi tahoe: kepada segala mereka jang ada mempoenjai perniagaan sagoe didalam soengai Teloek sesoenggoehnja telah kita idzinkan membawak keloear sagoe-sagoenja dengan menoeroet aturan negeri. Sjahdan kemoedian darpada ini, barang siapa jang hendak masoek berniaga didalam soengai jang terseboet itoe hendaklah terlebih dahoeloe ia mengambil soerat idzin berniaga daripada keradjaan jang kita tentoekan didalam Lingga seoerang pegawai jang mengeloearkan soerat itu dengan tiada bajaran apa, soepaja kemoedian harinja djangan timboel perbatanhan anatara segala jang berniaga dengan raajat raajat kita jang ampoenja sagoe adanja.”

Perhimpunan Palakat adalah salah satu contoh bahan sumber primer untuk kajian-kajian aspek hukum dan pemerintahan kerajaan Riau-Lingga dalam lingkaran sebuah pemerintahan kolonial. Salinan dokumen-dokumen dalam Perhimpunan Palakat mampu memperlihatkan kedudukan dan legalitas Kerajaan Rau-Lingga dari sisi hukum, baik ‘hukum adat’ maupun ‘hukum kolonial’.           

Kerena itulah, bukan tanpa alasan bila Perhimpinan Palakat dicantumkan dalam Adatrechtbundels, sebuah jurnal ilmiah hukum adat, yang terkenal dan menjadi rujukan penting  para hakim, pakar hukum adat,  dan mahasiswa Rechtshoogeschool (Sekolah Tinggi Hukum) di Batavia pada masa lalu.***

Manuskrip Kapal Melayu Yang Mengasyikkan Di Barcelona

0

Gambar adalah ilustrasi dan dokumentasi tentang rekabentuk dan senibina kapal dari Alam Melayu oleh Rafael Monleón (1840-1900), dalam Historia De La Navigación, sumber dari Muzium Ketenteraan Sepanyol, Barcelona.

Perpustakaan Negara Malaysia semasa 2017 telah mengesan sehingga lebih 20,000 manuskrip di seluruh dunia dan hanya 4,884 naskah asal dalam simpanan.

15,000 manuskrip lama Melayu masih bertebaran di luar negara. Semua manuskrip ini berkisar tentang pelbagai disiplin ilmu; sejarah, kesusasteraan, persenjataan, ilmu masakan, undang-undang dan adat, perubatan tradisional, kitab agama, petua dan azimat, kitab-kitab ramalan, ilmu hutan dan alam haiwan dan sebagainya.

Umum mengetahui di Eropah, British Museum dan British Library menyimpan banyak manuskrip dari Alam Melayu, malah Universiti Leiden di Belanda juga memiliki arkib yang penuh dengan manuskrip-manuskrip lama ini.

Bahkan di seluruh Eropah, terutamanya di negara-negara bekas penjajah Alam Melayu seperti Portugis dan Sepanyol juga kedapatan tinggalan warisan, mungkin juga manuskrip penting yang boleh menceritakan lebih lanjut tentang keberdaan ketamadunan di Alam Melayu.

Semasa ke Rio pada 2014, sempat melawat Muzium Kebangsaan Brazil malah sempat juga membelek-belek tinggalan sejarah penjajahan Portugis di Brazil dan di seluruh dunia, termasuk bahan pameran yang boleh dijejak sejarah dan pengkisahannya tentang ‘Malaca Portuguesa’ atau Portuguese Malacca. (Melaka jajahan Portugis).

Malangnya, muzium di Rio de Jeneiro itu kini telah 90% terbakar sekitar tahun lepas. Turut musnah dalam kebakaran besar tersebut termasuklah bahan pameran tertutup dan yang dikatakan belum pernah dipertontonkan.

Ini termasuklah bahan atau mungkin rampasan ‘Portuguese Conquistador’ ini dari jajahan mereka ketika Portugis pernah menjadi kuasa besar dunia sekitar kurun ke-15 hingga kurun ke-17.

Aku pasti, ada bahan, manuskrip atau rampasan perang dari Melaka turut musnah di dalam kebakaran tersebut. Lebih menyedihkan kerana tidak ramai dari kita melihatnya jauh sekali berkesempatan membuat sebarang kajian ke atasnya.

Sudahlah dirampas dan direnggut haknya dari kita, ia musnah pula dalam targedi.

Jika begini teliti sekali lukisan dan catatan kolonial dan penjajah tentang salah satu keistimewaan Melayu iaitu pembinaan kapal dan ilmu kelautan, siapa tahu manuskrip apa yang masih menjerit-jerit meminta untuk dikaji tentang sejarah Melayu di tanahnya sendiri dan di seluruh dunia

(Dikutip dari: www.thepatriots.asia)

Relalah Beta Hilang di Medan Perang

0

SULTAN Abdul Muluk, dengan kudanya yang berlari gesit dan kencang, meluru ke medan perang seraya menebas musuhnya dengan pedangnya. Pemimpin Kerajaan Barbari yang muda usia itu langsung memimpin tentaranya melawan tentara Kerajaan Hindustan yang datang menyerang tanpa diundang. Setiap musuh yang berhadapan dengannya tewas seketika terkena tebasan pedangnya yang bergerak cepat tanpa dapat diantisipasi oleh pihak musuh.

Abdul Muluk memang mahir menggunakan pedang. Dia telah diajarkan kemahiran itu sejak kecil oleh ayahandanya dan para pembantunya: para menteri, panglima perang, dan hulubalang terbilang. Karena diserang musuh secara tergempar, dia berperang bagai orang dirasuki syaitan tanpa sedikit pun berasa gentar. Pemimpin yang kesehariannya tersenyum lembut itu, kini tampil garang di medan perang.

Para menteri dan hulubalang yang terlibat perang dalam waktu yang tak terlalu lama berubah menjadi mayat-mayat yang bergelimpangan. Medan perang itu layaknya ladang pembantaian yang mempersaksikan korban tentara dan rakyat yang terbujur kaku sehingga membuat pilu dan ngeri hati sesiapa pun yang memandang. Dari Kerajaan Barbari tak hanya menteri, panglima perang, dan hulubalang; tetapi rakyat pun ikut berperang. Mereka tak rela negerinya dirampas untuk kemudian dijajah orang, Kerajaan Hindustan yang menyerbu tanpa didahului oleh maklumat perang.  

            Strategi dan taktik perang Sultan Syihabuddin, penguasa Kerajaan Hindustan, memang berhasil membuat pertahanan Kerajaan Barbari kocar-kacir. Walau tak lazim dan dikecam biadab lagi tergolong kejahatan perang, serangan tergempar (dadakan) pasukan Kerajaan Hindustan yang dipimpin langsung oleh Sultan Syihabuddin membuat Kerajaan Barbari tak akan terlalu lama dapat bertahan.

Walaupun begitu, kenekatan Sultan Abdul Muluk dalam mempertahankan negerinya serta kepiawaiannya memimpin tentara dan pasukan rakyatnya menyebabkan Sultan Hindustan berasa bimbang. Dia harus menggunakan taktik lain untuk menundukkan pemimpin muda yang gagah perkasa itu. Kemenangan perang dan selanjutnya penguasaan terhadap negara kaya itu begitu menggoda syahwat Sultan Hindustan sehingga dia berasa tak kuasa untuk menanti berlama-lama lagi. Kinilah saatnya semua hasrat dan nafsu duniawinya harus dipuaskan ketika negeri yang telah lama direncanakannya untuk dikuasai itu sedang berada di bawah tekanannya.

Sultan Abdul Muluk adalah tembok kokoh terakhir yang harus segera diranapkan (diratakan dengan tanah). Pasalnya, selagi sultan muda itu belum tewas, dia memiliki kewibawaan dan kemampuan yang luar biasa untuk memotivasi tentara dan rakyatnya untuk mempertahankan tanah air mereka. Walaupun separuh dari tentara dan rakyat negeri mereka  telah dibantai oleh pasukan Kerajaan Hindustan, kenyataan itu tak membuat tentara dan rakyat Kerajaan Barbari lemah maya. Bahkan, semakin membara semangat juang mereka.

Pemacu semangatnya tiada lain pemimpin mereka yang karismatik masih ada bersama mereka. “Selagi hayat di kandung badan, tak secebis pun bagian dari negeri kami boleh dikuasai oleh bangsa dan negeri lain!” Begitulah tekat baja tentara dan rakyat Negeri Barbari, negeri yang dipimpin oleh pemimpin sejati yang bijak bestari, yang cinta dan baktinya kepada negeri tiada berbelah bagi. Cinta sejati yang tak dapat diganti dengan umpan materi.

Kisah yang panjang harus segera diringkaskan. Putus sudah pertimbangan Sultan Hindustan. Maka, dikirimnyalah adiknya, Kamaruddin, untuk membujuk lalu menangkap Sultan Abdul Muluk. Titah abangnya itu dilaksanakan oleh Kamaruddin. Dengan segera dia memacu kudanya menuju ke medan perang. Ketika berhadapan dengan Sultan Abdul Muluk, dia pun berupaya membujuk (lihat Syair Abdul Muluk  karya Raja Ali Haji rahimahullah (1846), bait 769).  

Terlalu belas kakanda memandang

Adinda tinggal seorang-orang

Tiada lagi menteri hulubalang

Baik mengikut apa kata orang

Mempankah bujukan setengah mengancam yang dilakukan oleh Kamaruddin agar Sultan Abdul Muluk menyerahkan diri kepada abangnya, Sultan Syihabuddin? Jawabnya disediakan dalam Syair Abdul Muluk (Haji 1846), bait 770.

Tersenyum menjawab baginda sultan

Janganlah kamu banyak perkataan

Daripada menyembah Raja Hindustan

Relalah beta hilang di medan

            Tentulah jawaban Sultan Abdul Muluk itu tak membuat bahagia Kamaruddin, adik Syihabuddin, bangsa Hindi yang berahikan Negeri Barbari. Dengan mantap pemimpin Negeri Barbari itu membalas bujukan dan gertakan penceroboh negerinya. Daripada bertuankan pemimpin bangsa lain, dia lebih rela gugur di medan perang (Relalah beta hilang di medan) demi mempertahankan tanah air dan bangsanya. Sikap yang ditunjukkan oleh sultan muda itu telah menyerlahkan marwahnya sebagai pemimpin terbilang. Dia tak rela marwah dirinya sebagai pemimpin negeri dan marwah bangsanya tergadai di bawah kendali dan tekanan bangsa lain.

            Akibat penolakan menyerahkan diri oleh Sultan Abdul Muluk itu, perang pun bergolaklah kembali di antara kedua belah pihak, yang bermotivasi berbeda itu. Pihak perusuh hendak menyegerakan penguasaannya kepada bangsa lain seraya mendapatkan keuntungan materinya, sedangkan pemilik sah negeri berupaya mempertahankan hak dan marwah mereka sebagai bangsa berdaulat agar tak tergadai kepada bangsa lain. Bahkan, Sultan Hindustan,  yang nyaris tak sanggup lagi mengendalikan  gelora syahwatnya yang semakin menggebu-gebu, mengutus seorang lagi adiknya, Syamsuddin, untuk membantu Kamaruddin dan tentaranya menaklukkan Sultan Abdul Muluk.

Terpaan syahwat Sultan Syihabuddin, dalam kelanjutan kisahnya, memang sampai pada titik didihnya yang harfiah karena dia rupanya berahikan Siti Rahmah, istri Sultan Abdul Muluk. Agaknya, syahwat kekuasaan memang cenderung dikonkretkan pada keinginan yang semodel dengan itu sehingga melupakan nilai-nilai kemanusiaan, apatah lagi ketuhanan. Kalaupun kedua-dua jenis nilai yang disebut terakhir itu ditampilkan juga, ianya sekadar digunakan sebagai pembungkus tipis atau kulit ari di permukaan untuk menyamarkan sisi dan isi keanimalan yang menjadi intinya yang sejati. Bagaimanakah kelanjutan kisahnya? Akan sampai juga kita pada episode yang semakin seru itu suatu ketika nanti.

            Sambil menanti, dapatlah dikatakan bahwa mempertahankan marwah memang menjadi sifat, sikap, dan perilaku terpuji pemimpin terbilang. Tanggung jawab itu disadari benar oleh Sultan Abdul Muluk sehingga dia rela syahid di medan perang demi keyakinannya itu. Tanpa marwah, pemimpin akan dengan sangat mudah diombang-ambingkan, dihela, dan atau diarahkan oleh pihak lain, terutama orang-orang yang tak bertanggung jawab. Para orang yang dimaksudkan itu akan membawa sang pemimpin kepada kepentingan mereka sendiri-sendiri dan atau kelompok, bukan kepentingan bangsa dan negara. Keadaan akan menjadi lebih parah lagi jika sang pemimpin pun bermotivasi sama dengan para pihak yang menggiring dan atau mengarahkannya ke jalan yang tak elok itu. Dalam hal ini, si penggiring dan yang dihela dipersatukan oleh tujuan yang sama.    

“Bermula menjadikan wazir-wazir (menteri, HAM) atau kepala-kepala negeri, maka seyogianya hendaklah dipilih akan orang yang ahli memegang jabatan yaitu Islam dan mukallaf dan laki-laki dan merdeka yang mempunyai ijtihad dan tadbir yang baik, yang amanah dan benar lidahnya dan mempunyai marwah dan beradab dan bersopan dan berilmu dengan ilmu muhtaj kepadanya,” (Haji dalam Malik (Ed.) 2013, 46).

Di antara sekian persyaratan yang seyogianya dimiliki oleh pemimpin, di dalam kutipan Tsamarat al-Muhimmah pada perenggan di atas, Raja Ali Haji menekankan mustahaknya pemimpin memiliki marwah. Pemimpin yang menjunjung marwah bermakna dia telah berjaya menjemput tuah. Artinya, kepemimpinannya dibanggakan orang dan setiap orang akan berasa bahagia berada di bawah kepemimpinannya. Dia, bahkan, menjadi idola sekaligus ikon kejayaan negeri yang dipimpinnya. Perkara itu ditegaskan lagi dengan syair nasihat dalam karya yang sama (Haji dalam Malik (Ed.) 2013), bait 23.

Hendaklah anakanda jagakan nama

Mendirikan hak dengan seksama

Pekerjaan bid’ah jangan diterima

Walaupun kecil seperti hama

            Pemimpin bermarwah bermakna juga dia telah menjaga nama baiknya. Segala kebijakan dan tindakan kepemimpinannya didasarkan pada pertimbangan kebenaran secara seksama. Dia tak akan terbawa kepada keputusan kepemimpinan yang tak bercontoh pada kebaikan, yang dibuat-buat untuk memenuhi syahwat kekuasaan semata-mata, bukan yang bernilai kebijaksanaan yang mengandungi hikmah. Gejala “penyakit kekuasaan” seperti itu tak boleh dibiarkan tumbuh subur karena ibarat hama, ia akan menghisap, memamah, bahkan memepak pemimpin dan kepemimpinannya, sama ada cepat ataupun lambat. Pemimpin yang bermarwah tak akan membiarkan jenis-jenis hama seperti itu merasuki dirinya.

Hendak jadi kepala

Buang perangai yang cela

Kearifan yang tersimpul dalam Gurindam Dua Belas (Haji 1847), Pasal yang Kesebelas, bait 2, di atas senantiasa menjadi pegangan pemimpin yang bermarwah. Begitu dia diserahi amanah dan tanggung jawab kepemimpinan, dijaganya dirinya sekuat dapat agar terhindar dari perilaku tercela. Dia sadar sesadar-sadarnya bahwa sebagai pemimpin, sifat, sikap, dan perilakunya senantiasa diamati oleh orang banyak, bahkan mungkin ditiru. Tak sanggup dia memberikan contoh yang tak disukai oleh masyarakat yang beradab. Dengan perilakunya, tak hanya dengan kata-kata yang dapat menipu, dijadikannya dirinya sebagai tauladan pejuang-moral terdepan untuk kebaikan dan keselamatan diri dan orang-orang yang dipimpinnya. Dia pemimpin bermarwah sehingga dalam bersikap dan bertingkah laku tak boleh berbuat salah. Bukankah pemimpin manusia juga? Iya, tetapi manusia istimewa yang diberi amanah dan tanggung jawab sebagai pemimpin, bahkan mungkin bukan hanya oleh manusia, melainkan juga oleh Allah. Atau, sekurang-kurangnya doanya untuk dijadikan pemimpin diijabah oleh Allah walaupun untuk kasus yang disebut terakhir itu ujian kepemimpinan yang akan dihadapinya akan lebih berat.

 Sebenarnyalah bahwa setiap pemimpin seyogianya menjadi tauladan bukanlah mutiara kata bijak dan takzim yang berasal dari perenungan tertinggi manusia yang tercerdas. Hikmah dan pedoman itu berasal dari Allah Yang Maha Penuntun. Dalam hal ini, Allah menunjukkan tokoh utama pemimpin bermarwah yang patut ditauladani oleh semua umat manusia, apatah lagi pemimpin.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah,” (Q.S. Al-Ahzab:21).

Pemimpin yang dimaksudkan oleh Allah itu tak lain tak bukan Baginda Rasulullah SAW. Sesiapa pun pemimpin yang berjaya mengikuti perilaku kepemimpinan Rasulullah dijanjikan oleh Allah akan diberi rahmat. Bahkan, tak hanya di dunia yang fana saja dia akan selamat, tetapi dia pun dijamin akan terbebas dari siksaan pada hari kiamat. Pasalnya, dalam praktik kepemimpinannya dia senantiasa mengikuti petunjuk Allah secara hikmat. 

Suatu hari berdatang sembah Baginda Yang Dipertuan Muda III Riau, Daeng Kamboja, kepada Duli Yang Mulia Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah I. Kabar yang dibawa Baginda sungguh mengejutkan jagat Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang.

“Ampun, Tuanku! Yang patik ini keluarlah, diberi tidak diberi, patik keluar. Derhaka celaka patik tidak. Bukannya perbuatan patik dan bukannya perbuatan tuanku, tiada dapat patik bertahan lagi, seumpama karung sudah penuh tiada muat lagi. Jikalau patik bertahan sehari dua lagi, tentulah jadi rugi atas diri tuanku. Apalah nama patik? Selama-lama ini paduka kekanda-kekanda membaikkan Riau ini tiba-tiba masa patik ini merosakkan pula. Adapun patik semua anak Bugis di mana-mana diam, apabila ada titah perintah ke bawah duli memanggil patik menyuruh bekerja, insya Allah taala patik kerjakan. Akan tetapi(,) pada waktu ini bercerai dahulu antara tuanku dengan patik semua anak Bugis, sebab jangan rosak hati sanak saudara tuanku, kerana patik ini selagi orang suka patik tunggu(,) pada ketika orang benci patik keluar dahulu yang derhaka celaka merosakkan nama dan sumpah setia. Tiadalah harus patik menghilangkan nama orang tua-tua patik!” (Ahmad & Haji dalam Matheson (Ed.) 1982, 135).

Nukilan Tuhfat al-Nafis di atas menunjukkan bahwa Baginda Yang Dipertuan Muda III Riau-Lingga Daeng Kamboja menyadari benar marwahnya dan para pendahulunya sebagai pemimpin sehingga Baginda berasa wajib untuk menjaganya. Baginda tak rela namanya tercemar hanya karena perbuatan fitnah yang keji dari segelintir orang. Daripada marwah yang dijaganya selama ini tergadai, lebih baik Baginda berundur diri agar nama tak tercemar. Begitulah memang para pemimpin pilihan menjaga nama baik mereka sehingga tak ada sebarang pihak pun yang mampu mencemarkannya.

Rasulullah SAW bersabda kepada Ka’ab bin Ujrah, “Mudah-mudahan, Allah melindungimu dari para pemimpin yang bodoh (dungu).” Ka’ab bin Ujrah bertanya, “Apakah yang dimaksudkan dengan pemimpin yang dungu, Wahai Rasulullah?” Baginda Rasul SAW menjawab, “Mereka adalah para pemimpin yang hidup sepeninggalanku. Mereka tak pernah berpedoman pada petunjukku, mereka tak mengikuti sunnahku. Barang siapa yang membenarkan kedustaan mereka atau mendukung kezaliman mereka, maka orang itu tak termasuk golonganku karena aku bukanlah orang seperti itu. … Wahai Ka’ab bin Ujrah, manusia terpecah menjadi dua golongan. Pertama, orang yang membeli dirinya (menguasai dirinya), dia itulah yang memerdekakan dirinya. Kedua, golongan yang menjual dirinya, dia itulah yang membinasakan dirinya sendiri,” (H.R. Ahmad bin Hambal).

Pemimpin yang tak bermarwah adalah orang dungu dan pendusta, tetapi zalimnya disamarkan dengan madah. Dia, bahkan, tak mampu membeli dirinya walau sebenarnya perkara itu mudah. Dia, malah, menjual dirinya dengan harga yang murah. Sebaliknya, pemimpin yang bermarwah sanggup membeli dirinya sehingga tak sesiapa pun mampu membuat dirinya berpaling tadah. Dialah pemimpin yang senantiasa mendapat rahmat, hidayah, dan inayah Allah.***  

Hang Tuah

0
f-ilustrasi pertikaian Laksamana Hang Tuah dengan Laksamana Hang Jebat.

oleh : Goenawan Mohammad

Pahlawan tak pernah mati. Pahlawan tak dibiarkan mati. Tiap kali seorang yang luar biasa dimakamkan, ia dipanggil lagi, digosok kembali, dan berubah, berkali-kali berubah. Mungkin ia tak perlu punya raut muka yang asli.

Juga Hang Tuah.

Syahdan, pahlawan yang hidup dalam kenangan kolektif di Malaysia dan Indonesia ini akhirnya pergi ke hutan menjadi darwis. Itu disebut dalam Hikayat Hang Tuah. Tapi disebut pula laksamana ini hidup abadi. Ia jadi orang suci dan raja bagi seluruh penghuni hutan di Semenanjung Malaka.

Mungkin itu tanda bahwa hikayat ini, yang disusun kembali oleh Kassim Ahmad dan terbit di Kuala Lumpur dengan tebal 550 halaman, tak tertutup ujungnya. ‘Hikayat Hang Tuah tak punya akhir’, tulis Henk Maier dalam satu telaahnya yang diterbitkan dalam Bijdragen tot de Taal-, Land-, en Volkenkunde. Seperti tampak dalam perkaitan Sejarah Melayu dengan Hikayat Hang Tuah, kata Maier, karya-karya Melayu lama tak pernah selesai; fragmen-fragmennya selalu dapat direntang terus dalam pelbagai kombinasi baru.

Maka Hang Tuah akan selalu ada di antara kita. Pada 1932, Amir Hamzah menulis sebuah sajak yang memanggil tokoh ini ke dalam perang laut kesultanan Melaka melawan armada Portugis — perang yang dalam buku sejarah dicatat April 1511, ketika Alfonso de Albuquerque mendatangi kerajaan itu dengan 18 kapal dan 1500 bala tentara.

Sajak Amir Hamzah dengan plastis menghidupkan suasana tegang, bising dan sengit pertempuran menghadapi ‘armada Peringgi’ itu. Puisi ini bergerak dengan ritme tertib yang cepat — tiap bait terdiri dari dua kalimat, tiap kalimat pertama 10 suku kata – dengan rima seperti barisan yang rampak bergerak, dengan bunyi kata yang silih berganti, hiruk konsonan dan asonansi:

Amuk-beramuk buru-memburu
Tusuk-menusuk luru-meluru

Lela rentaka berputar-putar
Cahaya senjata bersinar-sinar

Tapi kemudian berubah. Dua baris terakhir sebuah antiklimaks — dengan rima yang mulai mendatar. Dan digambarkanlah tembakan meriam yang menentukan dari kapal Albuquerque. Maka….

Peluru terbang menuju bahtera
Laksamana dijulang ke dalam segara… 

Sajak itu berhenti di sini. Saya tak tahu apakah ini sebuah karya yang selesai. Akhir itu ambigu. Tewaskah Hang Tuah? Atau hilang?

Amir Hamzah bukan orang yang pas untuk membuat sebuah narasi yang lengkap dan transparan. Ia seorang penyair lirik, bukan epik. Tapi mungkin juga ia ingin membiarkan kisahnya tak tertutup sebagaimana hikayat aslinya. Ia menggemakan kembali kata-kata dari perkapalan lama dan alat perang zaman lalu (‘galyas’, ‘putsa’, ‘lela’, ‘seligi’), mungkin agar terasa kembali sifat setengah-dongeng setengah-tambo Hikayat Hang Tuah.

Dan dengan demikian sajaknya membawa kembali pesan klasik kisah ini, yang tersurat dalam pembuka hikayat itu: kesetiaan.

Sajak Amir Hamzah bercerita, ketika pertempuran berkecamuk, Hang Tuah dalam keadaan sakit. Tapi Sultan memanggilnya. Ia pun bangkit dan menghambur ke dalam perang.

Ia tak akan menolak titah.

Tapi pentingkah kesetiaan? Untuk apa? Saya hanya menduga, bagi Amir Hamzah — yang mempersembahkan kumpulan sajaknya untuk ‘Paduka Indonesia-Raya’ di masa awal kebangkitan nasional — kesetiaan Hang Tuah adalah kesetiaan seorang patriot: kepada patria, tanah air. Bukan kepada seorang raja.

Di sebuah masa lain, kesetiaan kepada raja tak dapat dipisahkan dari kesetiaan kepada stabilitas. Di masa lain lagi, ia bagian dari sebuah identitas yang terancam.

Cerita Taufik Ikram Jamil, Sandiwara Hang Tuah, membawa kita ke sekelompok nelayan miskin Riau zaman ini. Mereka baru saja mementaskan lakon Hang Tuah. Yang menarik dari cerita ini ialah daya pukau hikayat itu pada para aktor kampung itu, dan sebaliknya: mereka, orang-orang jelata yang imajinatif, menciptakan kembali hikayat dengan seluruh hidup mereka — memanggil Hang Tuah yang setia dan Hang Jebat yang memberontak. Dan Jali, pemegang peran Hang Tuah, dalam keadaan seperti kesurupan arwah pahlawan itu, menjelaskan: kesetiaannya tak salah. Ia, Hang Tuah, ‘bertuan kepada sesuatu lembaga pemerintah yang sah’. Selaras dengan itu Sulaiman, pemegang peran Jebat, menyatakan sesalnya membunuh Sultan. Ia membuat anak cucu ‘kehilangan tempat dan waktu’.

Ada kehilangan di hati orang-orang itu, kehilangan kebanggaan, kehilangan lindungan sejarah, kehilangan stabilitas ke-Melayu-an. Waktu, seperti selamanya, mencairkan semuanya. Rajab, pelakon Sultan Mahmud, menyadari ini: ‘Kita sudah bertemu di sini, di sejarah yang lain’.

Di sejarah yang lain, Sultan, patria, perkauman, kekuasaan, kemurnian budaya, identitas — semua itu tetap membayangi pikiran kita. Tapi mungkin akhirnya diperlukan sebuah jarak.

Saya kira tokoh Hang Tuah dalam sajak Muhammad Haji Salleh menemukan berkah dalam jarak itu. Dalam Sajak-Sajak Sejarah Melayu penyair Malaysia ini kita berjumpa Hang Tuah yang dibawa menyingkir dari amarah Sultan. Ia difitnah berzina dengan seorang kekasih baginda. Tapi di persembunyiannya, ia merasa Tuhan memberikan ‘keheningan’ kepada akalnya. Ia juga dijauhkan dari hasrat ‘kembali ke kusut istana dan kata-kata di belakang tabir’.

Dan ia pun merdeka:

sekarang,
aku boleh belayar
di tanjung-tanjung fikiran dan perasaanku

Zaman berubah lagi. Hang Tuah datang kembali, tapi tak merasa ditaklukkan dan menaklukkan dunia. Ia bertaut dengan semai nangka, perdu mangga, jambu jatuh, angin gunung dan warna langit: hal-hal yang tak muluk, tak kekal tapi indah. Ia memberi mereka makna. Kita tak ingin ia mati.

(Dikutip dari : www.jalantelawi.com)

Penggulingan Kuasa Paduka Raja Tun Abdul Jamil – Laksamana Melayu Yang Kalahkan Portugis

0

Sambil menikmati cuaca sejuk yang melanda kebanyakan tempat di Malaysia ini dan mendengar lagu “Sayang Laksamana Mati Dibunuh” nyanyian TokTi bersama Teh O Panas, terasa amat menyamankan. Alunan merdu TokTi memberi aku ilham dan semangat untuk berkongsi kepada semua kisah penggulingan seorang Laksamana agung Kerajaan Johor suatu ketika dahulu. Aku akan berkongsi hasil pembacaan beberapa buah buku terutamanya Kerajaan Johor 1641-1728 hasil tulisan Leonard Y. Andaya. Walaupun buku ini sudah dibeli lama, akan tetapi aku mengambil masa yang agak lama untuk membaca dari bab ke bab bagi memahami dengan jelas setiap apa yang diceritakan. Tambahan pula, masa aku yang sangat padat sebagai seorang pelajar tentera.

Leonard Y. Andaya adalah satu nama yang tidak asing lagi dalam dunia sejarah tanah air malahan Asia Tenggara. Beliau merupakan seorang professor Sejarah Asia Tenggara kini di Universiti of Hawai dan berumahtangga juga dengan seorang Sejarawan iaitu Barbara Watson Andaya juga bekerja di universiti yang sama. Buku tulisan Andaya antara yang menerangkan lebih jelas kronologi penggulingan kuasa terhadap Paduka Raja Tun Abdul Jamil. Menurut beliau, satu-satunya teks Melayu yang menghuraikan penceritaan penggulingan Paduka Raja Tun Abdul Jamil adalah Peringatan Sejarah Negeri Johor.

PENDAHULUAN

Tun Abdul Jamil ibni Tun Muhammad merupakan pembesar berpangkat Laksamana yang paling terkenal, berpengaruh serta berkuasa sekali dalam Sejarah Kesultanan Johor walau bukan berpangkat Bendahara. Tun Abdul Jamil mulai menonjol apabila mengepalai bala tentera menyerang Kota Melaka pada 1640-1641 dengan pakatan bersama Belanda semasa pemerintahan Sultan Abdul Jalil III. Pada 1641, Kota Melaka akhirnya dapat ditawan. Pada tahun 1641 adalah sangat penting dalam perkembangan sejarah Johor kerana bermula tahun ini Portugis dan Acheh tidak lagi mengganggu Kerajaan Johor (Acheh menjadi lemah selepas kemangkatan Sultan Iskandar Thani  dan balunya Sultanah Tajul Alam Safiatuddin menaiki takhta).

Johor telah muncul sebagai sebuah kuasa di Kepulauan Melayu dan sempadannya mulai jelas merangkumi Sungai Penagi (Linggi), Sungai Kampar, Sungai Siak, Unggaran, Bengkalis, Bulang, Lingga, sekitar Kepulauan Karimun, Singapura, Muar dan Batu Pahat (Rio Formosa). Tun Abdul Jamil juga adalah panglima yang bertanggungjawab dalam Perang Johor – Jambi yang berlaku sekitar 1666 hingga 1679 (turut memainkan peranan penting adalah menantunya Raja Bajau). Pada 1679, Sultan Ibrahim Shah ibni Raja Bajau (1677-1685) telah menitahkan beliau menyerang Jambi dengan dibantu seorang bangsawan Bugis bernama Daeng Mengika/Mangika.

Maka, hasil kejayaan Perang Johor – Jambi inilah beliau dianugerahkan gelaran Paduka Raja oleh Sultan Ibrahim. Tambahan pula, anak perempuan Tun Abdul Jamil telah dikawinkan dengan Sultan Ibrahim Shah. Ini adalah puncak kejayaan dan kekuasaan Laksamana Paduka Raja Tun Abdul Jamil dalam politik Johor.

Kuasanya melebihi Bendahara Tun Habib Abdul Majid ketika itu. Paduka Raja Tun Abdul Jamil juga telah melantik anak-anaknya memegang jawatan penting dalam pentadbiran Johor seperti Laksamana (menggantikan tempat ayahnya), Temenggung (Temenggung sebelum itu telah dibunuh di hadapan Sultan Ibrahim oleh Paduka Raja kerana telah pergi ke Siam tanpa pengetahuan Paduka Raja walhal itu perintah Sultan Ibrahim, sekitar 1678), Seri Bija Diraja, Seri Amar Diraja dan Seri Perdana Menteri. Beliau juga telah meminggirkan peranan pembesar lain dan juga Sultan Ibrahim sendiri. Ini telah menyebabkan semakin hari semakin benci pembesar lain terhadap beliau. Malah, tindakan Paduka Raja membawa Sultan Ibrahim Shah serta kerabat untuk berpindah dari Tanah Besar Johor ke Riau seolah-olah meminggirkan dan tidak mahu diganggu oleh puak Bendahara di Johor.

TANDA-TANDA PENENTANGAN

Perasaan rasa tidak puas hati sudah lama meluap-luap dalam diri Bendahara dan juga kalangan Orang Kaya namun tiada siapa yang berani bersuara. Kuasa Bendahara ibarat hanya simbolik sahaja. Setelah sekian lama tidak terlibat dalam diplomasi mana-mana kuasa, pada Mac 1683 Belanda telah dikejutkan dengan sepucuk surat daripada Bendahara Tun Habib Abdul Majid. Dalam surat itu menyatakan bahawa Bendahara memohon kebenaran Belanda menghantar Penggawa Laut ke Rembau bagi mengusir pegawai yang memberontak dan digantikan dengan pegawai yang baru. Ini adalah satu petunjuk bahawa pihak Bendahara untuk mengambil kembali hak mereka yang dirampas Laksamana.

Hasrat Sultan Ibrahim mahu berpindah semula ke Tanah Besar Johor membuatkan Paduka Raja Tun Abdul Jamil meraskan kedudukannya dan kuasanya semakin goyah. Sultan Ibrahim mulai rasa syakwasangka, rasa diperalatkan dan kurang perkenan segala aktiviti beliau.  Sultan Ibrahim Shah mangkat pada 16 Febuari 1685 (sesetengah riwayat menyatakan baginda diracun oleh isteri baginda iaitu puteri Paduka Raja Tun Abdul Jamil dan ianya sudah dirancang).

Dengan kemangkatan Sultan Ibrahim, kedudukan Paduka Raja bertambah normal semula dan pemerintahan Johor dijalankan seperti biasa  kerana Paduka Raja masih mempunyai segala-gala kuasa bawah beliau. Anakanda Sultan Ibrahim Shah, Raja Mahmud diangkat menjadi Sultan Johor – Pahang dengan gelaran Sultan Mahmud Shah II akan tetapi disebabkan usia baginda masih kecil kira-kira 10 tahun, maka pemerintahan diserahkan kepada bonda baginda. Tambahan pula, balu Sultan Ibrahim yang memangku peranan Sulatan Mahmud itu adalah anakanda Paduka Raja walaupun Sultan Mahmud Shah bukannya cucunya daripada anakandanya.  Hakikatnya, orang yang paling berkuasa adalah Paduka Raja Tun Abdul Jamil. Ini lebih menggembirakan beliau kerana beliau dapat memerintah dengan bebas tanpa tentangan dan Sultan Mahmud yang masih kecil hanya menurut sahaja.

PENGGULINGAN TUN ABDUL JAMIL OLEH BENDAHARA TUN HABIB ABDUL MAJID

Kerajaan Johor yang berpusat di Riau semakin hari semakin maju perdaganganya. Johor seolah-olah menguasai hampir keseluruhan laluan perdagangan Selat Melaka di bawah pemerintahan Paduka Raja Tun Abdul Jamil. Banyak negeri di pantai timur Sumatera mahu menyertai lingkungan pengaruh Johor  bagi menjamin peluang ekonomi yang lebih menguntungkan. Dalam satu surat daripada Gabenor Thomas Slicher di Melaka ke Betawi (Jakarta kini) bertarikh 10 Mei 1687 berbunyi :

“Paduka Raja tidak meninggalkan apa satu pun dalam dasarnya untuk menjatuhkan ekonomi syarikat atau mengecilkan hak dan peluang Melaka. Jumlah kapal yang belayar ke Riau begitu banyak hingga sungainya boleh dikatakan tidak dapat dilalui lagi. Kain, beras dan barang keperluan lain ada dijual disana dengan harga yang lebih tinggi daripada yang ditawarkan di Melaka.”

Belanda di Melaka memang sudah lama tidak senang duduk dengan kejayaan Paduka Raja Tun Abdul Jamil ini. Tidak hairanlah, apabila mangkatnya Sultan Ibrahim telah menggusarkan pihak Belanda di Melaka. Paduka Raja bukanlah tokoh yang mudah diperkotak-katikkan dalam berdiplomasi dan setiap perjanjian dilakukan dengannya perlu akur dengan syaratnya yang memberi banyak kelebihan kepada Johor. Namun, dalam kalangan pembesar, Belanda lebih cenderung bekerjasama dengan Paduka Raja kerana boleh mendatangkan keuntungan dari segi ekonomi.

Namun, hidup ini umpama roda. Setiap diatas akan jatuh jua ketanah. Dendam dan rasa tidak puas hati pembesar Johor yang tidak diendahkan Paduka Raja tidak dapat ditahan lagi. Pada pembacaan saya, L.Y Andaya menyatakan beberapa versi daripada beberapa catatan surat dan laporan dalam kajian beliau.

Berdasarkan laporan Encik Tunang kepada dalam Draf Dagh Melaka bertarikh 30 Jun 1688 menyatakan pada 1688 dalam satu peristiwa yang tidak dapat dijelaskan apa sebab berlaku, berlaku satu perkelahian antara Bendahara dan Paduka Raja di suatu majlis. Dalam majlis itu, Paduka Raja telah bertemu Bendahara dan Orang Kaya. Mereka telah memutuskan untuk menghantar Sultan Mahmud dan Bendahara ke Pahang tetapi Orang Laut tidak mahu menyertai kerana susah untuk hidup disana. Paduka Raja pula mencadangkan  yang Sultan, Bendahara dan pembesar pergi ke Pahang dahulu manakala Orang Laut kekal di Riau bersama Paduka Raja.

Ini dibantah sama sekali Bendahara. Bendahara memberikan alasan tiada perahu untuk melaksanakan misi itu dan Paduka Raja setuju memberinya 2 lancang untuk melaksanakan misi ini akan tetapi Paduka Raja telah memungkirinya. Bendahara meganggap ini adalah alamat yang tidak baik (Paduka Raja mahu membunuhnya) tetapi dinafikan Paduka Raja. (Terdapat maksud tersirat dan permainan licik disini.  Orang Laut adalah penyokong peribadi pemerintah dan Orang Laut dari segi jumlah dan ketenteraan merupakan satu faktor penting dalam kerajaan. Sebenarnya, Paduka Raja seboleh-boleh tidak mahu melepaskan sumber kekuatan beliau iaitu Orang Laut kepada Bendahara dan mahu kekal bersama beliau di Riau. Justeru, bermacam-macam janji diberi kepada Bendahara supaya pergi tanpa Orang Laut).

Suasana politik Johor semakin gawat. Api kemarahan dan dendam terhadap Paduka Raja semakin membara. Pada suatu malam selepas peristiwa itu, Sultan Mahmud dan bonda tirinya telah lari ke rumah Bendahara. Tetapi, selepas itu Sultan Mahmud Shah II kekal dengan Bendahara manakala bonda tirinya balik semula kepada Paduka Raja. Ini menjadi persoalaan kepada saya : – Mengapa pergi ke rumah Bendahara?? Adakah anak Paduka Raja pun turut serta dalam penggulingan ini??

Jadi, apabila Sultan Mahmud sudah berada dalam genggaman Bendahara Tun Habib Abdul Majid, maka ianya memberi kelebihan besar kepada Bendahara. Hal ini kerana, Sultan itu adalah sumber kekuatan dan  ketaatan. Sesiapa yang rapat dan bersama Sultan, maka diri dia yang paling berkuasa.  Maka, Bendahara pun memerintahkan orang ramai meniupkan nafiri dan memalu gendang bagi mengumumkan kepada orang ramai bahawa Sultan Mahmud Shah II sedang berada bersama Bendahara.

Paduka Raja Tun Abdul Jamil telah berada di laut bersama kapal-kapalnya. Akan tetapi seperti saya nyatakan tadi, Sultan itu kekuasaanya besar hinggakan telah mempengaruhi beberapa kapal pengikut Paduka Raja untuk berpatah balik. Bendahara telah mengeluarkan perintah untuk mengepung Paduka Raja dan membunuh Paduka Raja, sanak-saudara dan semua yang bersama beliau. Lihat, begitu dasyat sekali perasaan geram Bendahara terhadap Paduka Raja Tun Abdul Jamil.

Dalam pembacaan saya bab seterusnya lebih jelas sedikit kronologi penggulingan ini. Baiklah, pada 20 Jun 1688, surat daripada Bendahara Tun Habib Abdul Majid telah diutuskan kepada wakilnya di Rio Formosa (Sungai Batu Pahat/ Batu Pahat), Orang-orang Kaya dan Penghulu di Muar dan surat itu menyatakan bahawa mereka perlu ke Riau kerana Paduka Raja mahu menentang Bendahara. Dalam surat itu juga dinyatakan bahawa bagaimana Sultan Mahmud, bonda tiri Sultan Mahmud (anak Paduka Raja) dan Seri Amar Wangsa telah pergi ke rumah Bendahara. Lantas, ini menyebabkan pergaduhan antara pengikut Paduka Raja dan Bendahara. Paduka Raja berasa takut apabila Sultan Mahmud sudah berada dalam genggaman Bendahara.

Lalu, Paduka Raja pun telah kelam-kabut meninggalkan Riau tanpa membawa anak perempuan beliau iaitu bonda tiri Sultan Mahmud dan anak lelaki beliau Seri Bija Diraja yang ketika itu masih dirumah Bendahara. Anaknya yang bergelar Laksamana pula mengambil keputusan tidak mencampuri konflik ini manakala anaknya yang bergelar Seri Perdana Menteri berundur ke Siak apabila permohonan bantuannya dengan Syahbandar di Johor di Bengkalis tidak berjaya.  Pada 26 Jun 1688, Bendahara telah menghantar surat kepada Tun Pikrama Muar untuk menghimpunkan orang-orangnya untuk pergi ke Johor (Kota Tinggi) bukan ke Riau.

Malah, Bendahara juga telah memerintahkan untuk mereka memburu dan menagkap Paduka Raja Tun Abdul Jamil samada hidup atau mati. Selain itu, jawatan-jawatan penting kerajaan yang sebelum ini disandang oleh kaum keluar Paduka Raja telah dilucutkan dan diganti oleh orang lain seperti Sri Pikrama Raja telah bergelar Laksamana.

Manakala dalam satu surat bertarikh 2 Julai 1688 yang diberikan Bendahara Tun Habib Abdul Majid kepada Belanda di Melaka mengenai penggulingan  Paduka Raja Tun Abdul Jamil itu :

Setelah Paduka Raja mempersiapkan satu angkatan yang terdiri daripada dua puluh buah lancing bertiang dua, dua puluh perahu kecil dan masing-masing mempunyai satu tiang layer, enam puluh banting dan enam puluh tiga buah perahu, beliau telah mengumumkan membawa pemerintah itu ke suatu tempat lain. Paduka Raja juga memanggil saya dan memberitahu saya bahawa isteri saya, keluarga saya, dan beberapa orang kaya hendaklah membuat persiapan bersama pemerintah itu. Beliau menceritakan kepada saya bahawa Gabenor dan Syahbandar Melaka telah meminta sepuluh buah kapal dan 120 pencalang dari Betawi untuk digunakan dalam satu siri serangan keatas Riau. Paduka Raja berhasrat untuk menyerang dahulu, jadi beliau mahu menghantar pemerintah, kesemua isteri baginda ke tempat lain.

Setelah meninggalkan beliau, saya memanggil beberapa Orang kaya dan membincangkan apa yang dikatakan oleh Paduka Raja. Kami bersependapat Belanda tidak mempunyai niat menyerang Riau kerana Riau dianggap tidak lebih daripada sebuah ‘Taman’. Belanda tidak mempedulikan tempat-tempat penting yang lain seperti Bantam dan Makassar apatah lagi Riau. Juga didedahkan bahawa Paduka Raja merancang untuk membunuh Orang Kaya yang berikut kerana penentangan terhadap Paduka Raja : Tun Pikrama, Seri Amae Wangsa, Seri Agar Diraja, Raja Mahkota  dan beberapa pegawai lain. Untuk menggagalkan rancangan Paduka Raja itu, kami memutuskan untuk membawa pemerintah ke rumah Seri Pikrama Raja ketika Paduka Raja sedang bermesyuarat bersama anak-anak lelaki beliau. Apabila Paduka Raja mendengar berita pemerintah sudah berada bersama Bendahara, beliau dan pengikutnya telah lari ke perahu dan perkelahian telah berlaku. Orang Laut telah mendapat isyarat menyatakan bahawa pemerintah sedang berada bersama Bendahara, jadi mereka pun datang  dengan seluruh angkatan mereka dan memihak kepada Dato Bendahara. Yang demikian, Paduka Raja, anak isteri dan saudara-mara beliau semuanya berjumlah kira-kira tiga puluh orang telah melarikan diri dengan empat buah Lancang membawa emas, permata dan perak. Di Pulau Bayan mereka disertai  pula oleh Laksaman, anak lelaki Paduka Raja.

Saya berjaya mengepung mereka dan menawan dua buah lancing mereka, dan mereka melarikan diri dengan hanya tiga buah lancing yang membawa Paduka Raja dan anak-anak lelaki beliau, iaitu Laksamana, Temenggung, Sri Nara Diraja, Sri Perdana Menteri, Sri Bija Diraja dan Sri Amar Diraja. Yang mengejar mereka itu ialah dua puluh buah lancing bertiang dua, tiga belas buah lancing bertiang satu dan empat puluh buah banting dan beberapa buah perahu.”

Baiklah, berdasarkan laporan diatas lebih mudah difahami dan boleh saya rumuskan :

  • Paduka Raja Tun Abdul Jamil mengatakan bahawa Belanda mahu menyerang Riau, justeru itu Paduka Raja bersiap-siap kelengkapan perang.
  • Paduka Raja mahu menyerang dahulu Belanda sebelum Belanda menyerang Riau.
  • Bagi menyelamatkan pemerintah (Sultan Mahmud Shah II), anak dan isterinya, beliau mahu menghantar mereka ke tempat lain.
  • Satu persiapan (lancang, perahu dan lain-lain) untuk menhantar rombongan itu.
  • Perkara itu disampaikan oleh Paduka Raja kepada Bendahara.
  • Setelah Bendahara pulang, beliau telah berbincang bersama pembesar yang sekutu dengannya.
  • Bendahara mengganggap ini adalah satu taktik Paduka Raja mahu melarikan diri apabila sedar ramai sudah mahu menentangnya. Mana mungkin Belanda mahu menyerang Riau ketika itu Riau di puncak kegemilangan perdagangannya dan senag-senang mahu memusnahkannya dengan peperangan.
  • Bendahara pun bertindak pantas dengan mengambil Sultan Mahmud secara senyap-senyap (ikutkan terancang mana mungkin tiada sesiapa mengawal Sultan Mahmud ketika itu) ketika Paduka Raja sedang mesyuarat bersama anak-anaknya.
  • Perkara ini disedari Paduka Raja.
  • Paduka Raja tahu kedudukannya dalam bahaya kerana dengan adanya Sultan ditangan Bendahara sudah menghilangkan pengaruh dan kuasanya. Sultan dianggap berkuasa, pelindung dan simbol ketaatan.
  • Jadi, Paduka Raja pun melarikan diri bersama-sama kaum keluarga beliau.
  • Orang Laut telah memihak kepada Bendahara apabila mengetahui Sultan Mahmud sudah berada bersama Bendahara.
  • Pasukan Bendahara berjaya mengepung Paduka Raja di laut (angkatan Paduka Raja hanya 3 buah buah lancing sahaja yang membawa Paduka Raja dan anak-anak lelaki beliau)
  • 1 buah lancang yang dinaiki anak perempuannya (Bonda Tiri Sultan) tidak dinyatakan.

FASA AKHIR PENGGULINGAN

Berikut merupakan laporan kematian Paduka Raja yang dilaporkan Encik Khatib dalam Draf- Dagh Melaka pada 5 Ogos 1688 saya meringkaskan fasa akhir penggulingan ini yang akhirnya menyebabkan kematian Paduka Raja Tun Abdul Jamil.

Dalam misi kejar – mengejar antara pasukan Bendahara Seri Maharaja Tun Habib Abdul Majid dan Paduka Raja Tun Abdul Jamil, akhirnya Bendahara telah berjaya memintas Paduka Raja bederkatan pantai Terengganu (Pulau Rakit). Telah berlaku pertempuran yang dasyat antara kedua-dua pasukan. Dalam pertempuran itu, dua orang anak lelaki Paduka Raja berjaya melarikan diri ke Pahang (Laksamana dan Temenggung). Paduka Raja tetap berjuang habis-habisan sesuai dengan sifatnya sebagai panglima perang yang termasyur. Ketika kehabisan peluru, inilah kejadian yang sangat terkenal mengenai beliau hingga hari ini iaitu Paduka Raja telah menggunakan duit Rial Sepanyol (duit perak Sepanyol yang digunakan kurun- 17) yang ada didalam lancangnya sebagai peluru Meriam (ada kata senapang). Cara begini berhasil untuknya bertahan beberapa hari sebelum akhirnya terpaksa mendarat di pantai dan mencari perlindungan di dalam hutan. Pasukan Bendahara telah ke hutan dan memburunya. 10 hari kemudian barulah Paduka Raja dapat ditawan.

Bendahara telah memerintahkan seorang hamba yang cacat untuk menikam Paduka Raja dengan keris. Begitu juga nasib menimpa anak lelaki beliau iaitu Seri Bija Diraja. Manakala, ada pendapat anak lelaki beliau yang bernama Encik Tahil telah ditikam ketika belayar di laut di Pahang dan mayatnya dibuang di laut juga. Manakala, nasib anak perempuannya iaitu bonda tiri Sultan adalah diharamkan mendarat hingga diperintahkan .Menurut beberapa sumber, anak perempuan Paduka Raja itu dan saudara perempuan lain telah ditenggelamkan di laut.

Mesti ada yang tertanya-tanya mengapa perlu hamba yang cacat untuk menikam tubuh panglima perang agung ini??. Apa yang dapat saya fahami, tindakan Bendahara ini adalah untuk menyindir Paduka Raja dan menjatuhkan martabat beliau. Hal ini kerana, ini boleh dianggap balasan kepada Paduka Raja yang telah menjatuhkan martabat dan merampas kuasa-kuasa para pembesar lain senasa pentadbirannya dan memberi segala jawatan penting kepada anak-anak beliau walaupun ada yang tidak berkelayakan. Tindakan beliau yang “keji” ini difikirkan wajar dirinya dihukum bunuh oleh hamba yang cacat.

KESIMPULAN

Walaupun telah dinyatakan serba sedikit perkongsian hasil pembacaan saya dalam beberapa buah buku terutamanya karya L.Y Andaya Kerajaan Johor 1641-1728 yang banyak menerangkan lebih jelas tentang penggulingan kuasa Paduka Raja Tun Abdul Jamil, bukanlah untuk memburuk-burukkan tokoh ini keseluruhannya. Akan tetapi, untuk menjadi bacaan kepada umum dan diambil pengajaran daripadanya. Ketokohan Paduka Raja Tun Abdul Jambil dalam politik Johor malah di rantau ini sekitar abad ke – 17 adalah tidak dapat dinafikan.

Beliau telah menjadikan  Johor sebuah kuasa yang amat disegani dan juga menjadikan Johor sebagai bandar pelabuhan yang sangat maju hingga menarik pelbagai pedagang untuk berdagang di Johor. Beliau juga sangat bijak dan tidak mudah diperkotak-katikkan oleh kuasa luar seperti Belanda di Melaka. Langkahnya yang amat berhati-hati dalam menjalinkan diplomasi dan perjanjian dengan kuasa luar agar Johor tidak mengalami kerugian. Paduka Raja mahukan setiap perundingan membawa keuntungan kepada Johor.

Kejayaan mengalahkan Jambi pada 1679, Sultan Ibrahim menganugerahkan gelaran Paduka Raja kepada beliau dan ini menjadikan beliau di puncak kekuasaan dan pengaruhnya begitu meluas. Kemangkatan Sultan Ibrahim telah memberi Paduka Raja berkuasa penuh dalam politik Johor kerana Sultan Mahmud yang masih kecil itu. Akan tetapi, “terlajak perahu boleh undur, terlajak kata dan perbuatan binasa badan”, akibat sikap mendongak ke langit dan mengetepikan peranan dan keistimewaan tradisional pembesar-pembesar terutama Bendahara telah meluapkan rasa benci yang tidak dapat ditahan. Pengakhirannya, seorang panglima perang agung dan artikek pembangunan perdagangan termasyur abad ke – 17 ini  tewas dalam keadaan menyedihkan.

Akhir kalam, walau apa jua yang dilakukan, Paduka Raja Tun Abdul Jamil adalah tokoh agung dalam ketenteraan dan pembangunan ekonomi dan diplomasi yang susah untuk dicari ganti di Alam Melayu. Namanya memang layak untuk diabadikan dalam salah sebuah asset Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM) iaitu KD Laksamana Tun Abdul Jamil. “Buang Yang Keroh, Ambil Yang Jernih”. Sejarah itu dipelajari untuk diambil pengajaran dan tauladan masa akan datang.

SUMBER RUJUKAN :

  • Kerajaan Johor 1641-1728 Pembangunan Ekonomi dan Politik, Leonard Y. Andaya (Utama) :-
    – L.Y Andaya banyak merujuk kepada Peringatan Sejarah Negeri Johor. Peringatan Sejarah Negri Johor mewakili tradisi orang Melayu Johor. Kitab itu terhasil pada pertengahan kurun ke-18. Pengarangnya belum diketahui, dan bentuknya terdiridaripada kumpulan beberapa dokumen dan kisah yang mempersembahkan kegiatan danriwayat hidup Sultan Suleiman Badr al-Alam Shah (1699 – 1760). Naskah – naskah masih ada tersimpan di Universiti Leiden, Belanda dan Perpustakaan Lembaga Kebudayaan Indonesia, Jakarta (Rujukan artikel Islamization dalam teks-teks sejarah Johor Riau Tatiana Denisova)
    – Surat dan dokumen seperti dalam catatan Andaya.
    – Hikayat Negeri Johor disunting R.O Winstead
  • Sejarah Politik Pahang 1880-1935, Aruna Gopinath
  • Sejarah Pergolakan dan Pergelutan Bendahara Johor Pahang 1613-1863, Suzana Othman
  • History of Johor, R.O Winstead
  • Sejarah Johor, Buyong Adil
  • Sejarah Pahang, Buyong Adil
  • Sejarah Johor Kaitannya Dengan Negeri Melayu, Shaharom Hussein
  • Politik Dan Pentadbiran Era Kesultanan Johor Sehingga Abad Ke-18. Jabatan Sejarah Universiti Malaya, Mardiana Nordin.
  • Johor Dahulu dan Sekarang, Abdullah Zakaria Ghazali & Zainal Abidin Borhan
    (Kesultanan Johor, 1528-1885 Abdullah Zakaria Ghazali)

(Dikutip dari : www.thepatriots.asia)

Kejatuhan Empayar Melayu 1511: Benarkah Melaka Kalah Kerana Tidak Menggunakan Senjata Api?

0
Istinggar Melayu Abad ke-19. Gambar ehsan Peter's Mandarin Mansion

15 Ogos 1511 atau juga 24 Ogos 1511 (perbezaan sumber menyatakan tarikh yang berbeza) adalah detik yang sangat memilukan bagi umat Melayu. Hari ini, tewasnya sebuah empayar kebangaan umat Melayu keseluruhannya. Masih terngiang-ngiang di telinga saya, beberapa orang rakan malah guru yang mengejek dan mencemuh dengan kata-kata.

[Rujuk Research on the Early Malay Doctors 1900-1957 Malaya and Singapore dan juga The Voices of Macao StonesThe Nanjing Massacre Witnessed by American and British Nationals untuk tarikh 15 Ogos 1511] 

[Untuk tarikh 24 Ogos 1511, boleh rujuk Dictionary of Battles and Sieges: F-O, The Cambridge World History, Volume 3 dan The Portuguese in Malay Land oleh Geraldo Affonso Muzzi] 

“Alah…apalah hebat sangat pada Melaka, Portugis serang tak sampai seminggu terus kalah teruk, lari lintang pukang”

“Melaka kalah dengan mudah kerana teknologi persenjataan yang sangat lemah, bayangkanlah orang kita berperang hanya guna keris, sumpit dan tombak, padahal Portugis guna meriam dan senapang, mana tak kalahnya..”

“Orang Melaka semua kolot sebab tak pernah tengok Meriam lalu lari lintang pukang.”

Kalaulah mereka tahu hakikat yang sebenar, kalaulah.

Sebenarnya apakah yang berlaku dalam peristiwa 1511 ini dan bagaimanakah gambaran sebenar detik-detik Melaka mempertahankan dirinya dari diperkosa Portugis?

Hakikat yang sebenarnya ramai tidak tahu adalah Melaka sudah mencapai kedudukan politik yang unggul sementara perdagangannya juga terus berkembang, dan pelabuhannya menggamit pelbagai bangsa datang singgah dari segenap pelusuk dunia. Imej bandar terapung seperti Venice dan Genoa serta pasar dan rumah yang tidak berputusan hingga Muar bukanlah satu khayalan atau cakap-cakap kosong sahaja.

Walaupun memang wujud kepincangan dalam pemerintahan, pergeseran, perebutan dan pelbagai lagi konflik dalaman yang sering kita dengar namun ianya belum cukup parah untuk menjatuhkan Melaka jika dibandingkan dengan serangan Portugis. Tambahan lagi oleh sebab begitu makmurnya Melaka maka banyaklah kaum-kaum ‘asing’ yang mula dengki, hasad dan cemburu akan kekayaan Melaka. Pembelotan kaum-kaum asing ini juga ibarat gunting dalam lipatan yang memudahkan lagi kemaraan Portugis.

Sesungguhnya tidak semua persoalan tentang kejatuhan Melaka dapat kita rungkaikan disini. Namun memadai rasanya untuk kita membuka perbincangan dalam hal kesungguhan dan semangat juang Melaka bagi mempertahankan maruah dan kedaulatannya daripada dinodai oleh Portugis.

Sebelum itu yang paling penting ialah pandangan kita bahawa Melaka ketinggalan dari segi teknologi meriam, senapang atau istinggar dan peluru serta lain-lain senjata api perlu diubah dan dibuang sejauh mungkin. Seperti yang saya pernah sebut dahulu angkatan Portugis dicatatkan membawa pulang ribuan pucuk meriam dan senapang yang dirampas dari Melaka. Teknologi pembuatan dan penggunaannya juga adalah standing dengan teknologi barat.

John Crawfurd memetik catatan De Burros dalam bukunya, A Descriptive Dictionary of the Indian Islands and Adjacent Countries, bahawa ketika Portugis menawan Melaka dahulu, mereka berjaya merampas antara 3000 hingga 8000 senjata api daripada Melaka, dan De Burros sendiri mengatakan bahawa Portugis sendiri tidak mampu untuk menghasilkan senjata api sebanyak itu. Bahkan catatan De Burrous menjelaskan lagi kepada kita bahawa Portugis menjumpai sebuah meriam Melayu Melaka yang jauh lebih besar daripada meriam yang dipunyai oleh Portugis dan meriam itu telah dihantar ke India.

Catatan yang lain pula, seperti yang dinukilkan oleh Godinho Eredia dalam buku Asia Portugueza, karya Manuel de Faria Y Souza dalam E. Koek, Portuguese History of Malacca, sewaktu kedatangan Portugis di Melaka, jumlah meriam yang dipunyai kerajaan tersebut adalah sangat banyak. Tiga ribu pucuk meriam besar telah dijumpai dalam kota Melaka, 5000 pucuk lagi telah sempat dibawa lari oleh tentera Melaka apabila kota itu tumbang.

Albuquerque menyatakan bahawa terdapat 2000 pucuk meriam yang diperbuat daripada tembaga dan yang lain diperbuat daripada besi di Melaka. Faria y Souza mengatakan bahawa sebahagian besar daripada 8000 pucuk senjata api atau meriam yang dipunyai kerajaan Melaka adalah berasal dari Pahang. Ini bermakna Pahang merupakan sebuah negeri penghasil senjata api yang berkualiti dan banyak pada zaman itu.

Menurut Eredia lagi, semua meriam-meriam itu dihasilkan dengan amat baik dan tidak dapat ditandingi walaupun dengan meriam buatan Portugis. Daripada catatan Eredia ini, dapat disimpulkan bahawa teknologi senjata api yang dimiliki oleh bangsa Melayu Melaka pada waktu tersebut adalah sama tarafnya dengan teknologi persenjataan orang Eropah, malahan mungkin lebih baik.

Seorang berbangsa Itali yang terlibat di dalam penyerangan terhadap Melaka pada tahun 1511 menyatakan bahawa terdapatnya penggunaan pelbagai jenis senjata api berat yang telah menyebabkan kehilangan nyawa yang agak ramai di pihak portugis. Menurut beliau, walaupun akhirnya tentera Melayu Melaka kalah, namun mereka digambarkan mempunyai semangat keperwiraan yang tinggi, sangat terlatih dalam ilmu peperangan dan mempunyai simpanan senjata yang bermutu serta pelbagai.

Thomas John Newbold, seorang pegawai British di Melaka pernah mencatatkan di dalam Political and Statistical Account of the British Settlements in The Straits Of Malacca, Volume 2bahawa kilang-kilang yang menghasilkan senjata api seperti meriam-meriam milik bangsa Melayu sudah lama bertapak bukan sahaja di Semenanjung Tanah Melayu, bahkan di sekitar Kepulauan Melayu. Terengganu menjadi hub penghasilan senjata api di Semenanjung, manakala Gerisik merupakan hub untuk Pulau Jawa, dan hub untuk Sumatera pula ialah Minangkabau.

Bahkan Newbold turut mengulas mengenai pemandangan biasa yang dilihatnya ketika berada di Tanah Melayu pada abad ke-18 yang dipercayai Newbold sudah lama budaya itu itu bertapak di Tanah Melayu. Katanya, tidaklah sesuatu yang menghairankan andai dapat melihat pendekar Melayu yang lengkap bertanjak dan berbusana Melayu bersama keris dan senjata api Melayu seperti Istingar.

Kita lihat pula tulisan R. J. Wilkinson, “The Capture of Malacca, A.D. 1511”. Beliau menyebut mengenai beberapa perkataan sepert “Malay gun-fire” dan “heavy fire” merujuk kepada bala askar Melaka ketika itu ketika menceritakan mengenai kejatuhan Melaka yang boleh dijadikan dalil bahawa orang Melayu kita ketika itu sudah memiliki senjata api.

Diceritakan bahawa ketika askar Portugis cuba memasuki muara Sungai Melaka yang cetek dan berlumpur itu, mereka telah dihujani oleh divisyen askar Melaka yang menggunakan senjata api dan menghujani askar Portugis dengan senjata api

Walaupun dalam naskah Sulalatus Salatin ada ditulis yang serangan meriam Portugis menggemparkan orang Melaka bagai bertih digoreng, namun petikan tersebut harus ditafsir sebagai penyedap cerita untuk khalayak pembaca atau pendengar. Jambatan Melaka yang kita lihat dalam lukisan seperti di muzium atau dalam buku-buku teks sejarah yang sering digambarkan dengan penuh daif dan uzur juga perlu kita buang jauh-jauh.

Catatan Portugis sendiri mendapati jambatan tersebut terbina dengan sangat kukuh, malah rekod-rekod China beberapa dekad sebelum serangan Portugis melaporkan bahawa ada lebih kurang 20 buah kedai di atas jambatan tersebut. Saya menggambarkan jambatan ini seperti jambatan London Bridge yang pada zaman pertengahan penuh dengan kedai-kedai. Pihak Portugis juga mengalami kesukaran dan mengambil masa untuk merobohkan jambatan tersebut atas maklumat risikan dari Ruy de Aroujo.

Di dalam buku teks sekolah juga kita diberitahu atau digambarkan pertempuran berlaku di daratan kota Melaka sahaja, namun dari catatan Portugis didapati pertempuran sebenarnya telah bermula sejak di laut lagi. Sebelum pihak Portugis berjaya mendarat, mereka dilaporkan telah diserang tentera Melaka di perairan yang mengakibatkan kehilangan 100 nyawa di pihak Portugis.

Pihak Melaka menggunakan perahu atau lancara yang diisi dengan minyak dan bahan pembakar kayu serta dihalakan ke kapal-kapal Portugis. Taktik ‘Fire Ship’ ini sering digunakan di Eropah juga seperti dalam perang Inggeris dengan Sepanyol pada zaman ratu Elizabeth.

Selain itu tembakan meriam dari Melaka menghala ke kapal-kapal Portugis juga turut mendatangkan kecelakaan. Oleh itu pendapat yang mengatakan meriam Melaka tidak boleh menembak jauh juga harus dibuang kelaut.

Melaka juga melaksanakan strategi menggertak dan tindakan perang psikologi untuk menakutkan pihak lawan dengan mengeluarkan sejumlah perahu perang, lancara, tongkang, sampan dan sebagainya yang lengkap bersenjata untuk menunjukkan kekuatannya kepada Portugis. Walaupun begitu kekuatan sebenar Melaka yakni armada jong perang yang diketuai laksamana pada waktu itu tiada di perairan.

Maklumat daripada catatan Giovani Da Empoli mengesahkan bahawa tentera Melaka telah menggunakan lancara serta perahu berapi untuk memusnahkan kapal Portugis. Di kawasan pantai pula pertahanan dikukuhkan dengan pancangan kayu dan besi-besi tajam atau kawat beracun serta meriam-meriam pelbagai jenis besar dan kecil beserta dengan peti-peti berisi serbuk peluru.

Sebenarnya saudara sekalian perang Melaka bukan berlaku dalam jangka masa yang singkat. Pada masa ketibaan Portugis pada 28 Jun 1511 pertempuran tidak terus terjadi sebaliknya kedua-dua belah pihak menggunakan taktik tunggu dan lihat, masing-masing menunggu siapa yang akan menyerang dahulu.

Hal ini diselangi dengan sesi perundingan dan diplomasi yang tidak kemana. Pihak Portugis mahu tawanan Portugis termasuk Ruy de Aroujo dibebaskan. Selang tiga minggu dari itu keadaan mula semakin tegang. Beberapa siri pertempuran kecil berlaku di laut dan dikawasan penginapan para pedagang berdekatan pantai.

Portugis menyerang empat kapal Jawa dan sebuah kapal Sumatera. Kemudian kapal-kapal saudagar Gujarat di pelabuhan juga dibakar termasuk rumah penduduk di pantai. Walaupun Sultan kemudiannya membebaskan tawanan, namun perang tetap tidak dapat dielakkan lagi.

Pihak Portugis sebenarnya sangat tahu akan kelemahan Melaka. Hal ini kerana mereka telah mempunyai perancangan yang jitu. Mereka mempunyai kelebihan dari segi risikan atau maklumat yang diberi oleh Ruy de Aroujo dan orang-orang dalaman Melaka sendiri seperti Utimutiraja, seorang perempuan Parsi dan Nainachittu. Melaka mempunyai musuh di setiap penjuru malah didalam kelambunya sendiri. Namun demikian Portugis tidak pernah memperkecilkan kemampuan pertahanan Melaka.

Albuquerque sendiri pernah menyebut bahawa

“Kita tidak akan dapat menawan melaka dengan hanya dua batang pedang yang berkarat!”

Di waktu subuh sebelum serangan habis-habisan dilancarkan, Albuquerque memberi ucapan bahawa Melaka harus ditundukkan supaya aliran rempah tidak akan sampai ke Makkah dan Kaherah dan sinar Islam disini akan padam! Ungkapan beliau ini jelas menunjukkan niat sebenar mereka.

Barisan ketenteraan Portugis sebenarnya lebih ramai dari yang kita ketahui. Namun kita sering mendengar jumlah tentera Portugis hanyalah 1200 orang termasuk 600 tentera upahan Malabari dan kapalnya lebih kurang 19 buah.

Maklumat daripada catatan Giovanni menunjukkan bahawa sewaktu tiba di Pedir, jumlah kapal termasuk yang ditawan di perjalanan mencecah angka 25 buah. Di Pasai, lapan buah kapal dari Cambay lagi menjadi mangsa tawanan atau dirosakkan. Dengan demikian kita menganggarkan lebih kurang 27 buah kapal telah tiba di perairan Melaka.

Malahan terdapat beberapa buah kapal lagi di Melaka yang ditawan dan tawanannya dijadikan barisan sokongan dalam serangan keatas Melaka. Giovanni turut melaporkan bahawa dalam serangan pada 25 Julai 1511 terdapat 1500 orang tentera Portugis yang terlibat, dengan pasukan bantuan daripada orang Cina sebanyak 400 orang dan bantuan dari seorang putera Sumatera (Raja Kampar menantu Sultan Mahmud sendiri) juga lebih kurang 400 orang.

Ini semua belum termasuk tentera bantuan dari orang Pegu, Siam, malah orang-orang Keling dibawah Nainachittu dan tentera upahan Jawa yang sengaja berperang dengan tidak bersungguh-sungguh setelah ketua mereka Utimutiraja disogok Portugis.

Pertempuran berlaku dengan sengit di beberapa lokasi seperti di Jambatan, bukit Melaka, Bandar pelabuhan, Istana dan Masjid sultan. Pertahanan Melaka turut diperkuatkan oleh ribuan tentera Jawa yang pada permulaan ogos dibayar tiga bulan gaji terkehadapan disamping barisan pejuang Turki dan Khorusones atau Parsi sejumlah 3000 orang.

Seperti yang saya telah sebutkan tadi, walaupun tentera Jawa ini telah dibayar gaji awal untuk tiga bulan, mereka tetap belot dan tidak bersungguh-sungguh mempertahankan Melaka kerana penghulu mereka Utimutiraja telah membuat pakatan dengan Alfonso de Albuquerque dan memberitahu anak-anak buahnya agar ‘tidak perlu bersusah payah menggadaikan nyawa sendiri untuk mempertahankan harta benda orang lain’.

Persoalannya adakah kekuatan Melaka yang sebenar telah digunakan sepenuhnya? Sebenarnya kekuatan Melaka yang sebenar adalah terletak pada armada lautnya. Namun demikian armada laut Melaka yang terdiri daripada jong-jong yang besar tidak berada di perairan Melaka pada ketika itu.

Sebelum mulanya serangan yang penghabisan oleh Portugis, Sultan sengaja melambat-lambatkan pelepasan tawanan dan cuba berdiplomasi kerana menunggu armada lautnya bersama Laksamana. Namun tindakan Sultan yang sengaja melengah-lengahkan masa tersebut diketahui Portugis yang menyebabkan serangan total dilakukan sebelum sempat armada itu sampai.

Hal ini disebabkan pihak Portugis sangat takut dengan risikan yang diberikan oleh Ruy de Aroujo yang mengatakan bahawa Sultan Melaka mempunyai satu armada laut yang sangat kuat yang diketuai oleh seseorang yang bernama ‘Laksamana’ yang dapat membakar hangus seluruh armada Portugis jika mereka lambat bertindak.

Terdapat catatan dari Portugis yang menyebut bahawa sewaktu Melaka diserang, Laksamana bersama armada Melaka sedang mengadakan rondaan di kawasan perairan jajahan takluk Melaka, mungkin sekitar Riau-Lingga. Ini kerana dalam catatan tersebut diberitahu bahawa Raja Lingga bersama Laksamana telah berpatah balik apabila mengetahui bahawa Melaka sudah jatuh ke tangan Portugis dan Sultan Mahmud Shah dan keluarganya berundur ke Bentayan di Muar.

Pada pendapat saya Raja Lingga dan Laksamana tahu bahawa kejatuhan Melaka bukanlah bermakna kejatuhan empayar Melaka kerana adat Melayu itu 10 negeri boleh dicari, selagi ada raja berdaulat. Jadi jika raja berundur maka pembesar dan raja-raja taklukannya tidak akan membuat keputusan sendiri untuk terus menyerang Melaka, sebaliknya berundur bersama Sultan untuk mengatur strategi baru.

Sultan Mahmud Shah juga dikatakan bertitah, adat kita raja Melayu, negeri alah raja mati, yang melambangkan bahawa perjuangan Melaka sebenarnya belum tamat selagi baginda dan waris-warisnya belum mati.

Apa yang dapat saya simpulkan disini ialah kekalahan Melaka kepada Portugis bukanlah satu kekalahan yang mudah seperti yang sering disebut-sebut. Bukan disebabkan teknologi persenjataan yang lemah dan bukan kerana kejakunan tentera Melaka terhadap tembakan meriam tentera Portugis. Barisan pertahanan Melaka telah berjuang berhabis-habisan baik dari segi diplomasi, pertanahan, taktik dan strategi pertempuran.

Pihak Portugis sendiri mengakui bahawa pejuang-pejuang Melayu Melaka adalah gagah perkasa dan terlatih dalam ilmu peperangan serta dilengkapi dengan pelbagai jenis senjata berpotensi. Namun begitu kita tidak boleh pandang rendah pada kekuatan Portugis. Orang Portugis mempunyai pengalaman tempur dan kepungan laut yang sama hebatnya dengan bangsa Melayu.

Sebelum mereka menyerang Melaka banyak kota pelabuhan lain seperti di India dan Teluk Parsi yang berjaya mereka tawan, malah mereka pernah bertempur dengan armada Turki Uthmaniah yang terkenal hebat itu.

Kekalahan Melaka adalah sebab kurangnya kesepaduan dan kesepakatan diantara ‘Anakvanua’, dan sikap terlalu memberi kepercayaan kepada ‘anak dagang’ atau bangsa ‘asing’.

Bak kata pepatah ‘apalah diharap pada dagang, bertukar musim berlalulah ia’.

Sikap terlalu bertoleransi yang ditunjukkan oleh orang Melayu sejak zaman berzaman ini akhirnya memakan diri sendiri apabila golongan-golongan ‘dagang’ ini mula menunjukkan belang mereka dan menikam dari belakang!

Baik dagang Kalingga, dagang Ming, dagang Burma, maupun dagang Kampar dan Mojo yang serumpun sebangsa, semuanya menjadi duri dalam daging. Harapkan pegar,pegar pula makan padi.

Peristiwa ini seharusnya menjadi pengajaran kepada anak-anak vanua pada hari ini, dan bukannya kisah Melaka kalah berperang kerana menggunakan keris dan sumpit semata-mata yang ternyata tidak benar.

Sekian, wallah hu a’lam.

~ASJ dan HE~

(Dikutip dari : www.thepatriots.asia)

Kitab Kumpulan Ringkas – Berbetulan Lekas (Cermin Bagi Penguasa Yang Dikemas Secara Sastrawi)

0
Foto Kiri: Reproduksi digital sampul Kitab Kumpulan Ringkas-Berbetulan Lekas koleksi National Librarary of Singapore. Foto Kanan: Contoh halaman Ringkasan Yang Pertama dalam Kitab Kumpulan Ringkas-Berbetulan Lekas karya Raja Ali Kelana koleksi National Librarary of Singapore. (foto: aswandi syahri)

Dalam sejarah Kepulauan Riau, nama Raja Ali Kelana berkelindan dengan dengan Pulau Batam dan Kerajaan Riau-Lingga. Beliau lah yang “tapak historis” industri di Pulau Batam melalui pabrik batu bata Batam Brickworks dan Kelana Kerajaan Riau-Lingga yang gigih menentang kolonialisme Belanda.

            Lebih dari itu, Raja Ali Kelana sesungguhnya adalah seorang intelektual melalui beberapa karyanya dalam bidang bahasa, hukum, dan pemerintahan. Kitab Kumpulan Ringkas-Berbetulan Lekas adalah salah satu mutiara intelektual yang diwariskannya.

***

Karya Raja Ali Kelana

Judul lengkap kitab ini terkesan puitis: Inilah Kitab Yang Bernama Kumpulan Ringkas-Berbetulan Lekas Pada Orang Yang Pantas Dengan Pikiran Yang Lantas (Selanjutnya disebut Kitab Kumpulan Ringkas-Berbetulan Lekas).

    Nama batang tubuh penulisnya adalah Raja Ali. Jabatannya dalam pemerintahan Kerajaan Riau-Lingga adalah Kelana (calon Yang Dipertuan Muda)  yang menjalankan kerja-kerja ayahandanya, Raja Muhammad Yusuf, yang ketika itu menjadi Yang Dipertuan Muda Riau X. Namun demikian, Raja Ali bekas Kelana ini tak pernah menyandang jabatan Yang Dipertuan Muda Riau karena ia  megundurkan diri dari jabatan Kelana sebelum ayahandanya wafat pada tahun 1899 dan jabatan Yang Diertuan Muda Riau itu dihapuskan oleh Sultan Abdulrahman Muazamsyah setelah pendantanganan Kontrak Politik dengan Belanda tahun 1905..

Karena jabatan Kelana yang disandangnya itu, dalam sejarahnya, ia lebih dikenal sebagai Raja Ali Kelana. Akan tetapi, ia juga populer dengan beberapa nama alias seperti: Raja Ali bin Muhammad Yusuf, Raja Ali Ahmadi,  Raja Ali Bukit (sempena tempat ia bermastautin di Bukit Bahjah, Pulau Penyengat).

Setelah hijrah dari Pulau Penyengat ke Johor menyusul pemakzulan Sultan Riau-Lingga pada tahun 1911, orang Johor dan Singapuran menyapanya dengan  nama Raja Ali Riau dan Engku Ali Riau. Sebaliknya, karena telah menetap dan kemudian wafat di Johor pada tahun 1927 penduduk Pulau  Penyengat dan kawasan sekitarnya mengenalnya sebagai Engku Ali Johor.

Permintaan Raja Khalid Hitam

Kitab Kumpulan Ringkas-Berbertulan Lekas adalah sebuah karya yang istimewa. Di dalamnya terdapat silsilah raja-raja Riau-Lingga dengan dihiasi berbagai nasehat serta panduan pemerintahan untuk raja-raja yang memerintah.

Walaupun karya ini banyak memaparkan silsilah raja-raja Riau-Lingga, menurut Jelani Harun (2002) corak penulisannya memenuhi syarat untuk disebut karya ketatanegaraan, karena pengarangnya cenderung memasukkan unsur-unsur panduan pemerintahan dan cerita nasihat untuk raja-raja.

            Seperti dinyatakan oleh Raja Ali Klana, Kitab Kumpulan Ringkas-Berbetulan Lekas ini ditutulis atas permintaan Raja Khalid Hitam, yang ketika itu menjabat Bendata Kiri Kerajaan Riau-Lingga: “…Maka diperbuat kumpulan ini atas jalan yang ringkas supaya dapat mengetahui lekas, ialah dengan permintaan saudra yang ‘ijabanah ‘Ali Mukhtam Paduka Khalid Hitam”.

Tarikh kitab ini mulai dikarang tidak dinyatakan. Namun yang pasti, Kitab Kumpulan Ringkas-Berbetulan Lekas iniditulis pada masa pemerintahan Sultan Abdul Rhaman Muazamsyah (1885-1911) yang juga adalah saudara se-ayah Raja Ali Kelana. Tentang hal ini, Raja Ali Klana menjelaskannya sebagai berikut: “ Dan Sultan Abdul Rahman Mu’azamsyah kerajaan Lingga-Riau yang ada masa memperbuat kumpulan ini. Keturunan pihak ayahnya daripada Daeng Celak yang telah tersebut dan berputrakan Raja Haji, dan berputrakan Raja Ja’afar, dan beputerakan Raja Ali, dan berputerakan Raja Muhammad Yusuf, dan berputerakan Raja Abdul Rahman ( sultan yang ada sekarang ).”

Kitab Kumpulan Ringkas dicetak oleh Mathba’ah al-Imam di Singapura, pada tarikh 1328 AH bersamaan dengan 1910 CE. Ian Proudfoof dalam Early Malay Printed Books (1992) mencatat 3 eksemplaar buku ini dapat ditemukan dalam simpanan:  National Library of Singapore dengan No. Katalog MR 297.6 ALI (Q11.4/29) atau microform NL 7925;  Perpustakaan SOAS London dengan No. Katalog  L.IBA800 430093; dan Perpustakaan University Malaya Malaysia Katalog No. BL167 A1Abbmt.

Cermin Bagi Penguasa

Isi Kitab Kumpulan Ringkas-Berbetulan Lekas terdiri dari dua puluh tiga Ringkasan yang dibagi kedalam seratus enam puluh buah bagian yang disebut  Penceraian. Dalam setiap Ringkasan, Raja Ali Kelana menulis tema tertentu yang kemudian diuraikan pada beberapa bagian lebih kecil dalam Penceraian.

Pada bagian awal setiap Ringkasan, Raja Ali Kelana membuat penjelasn ringkas tentang isi Ringkasan yang disandingkannya dengan pembanding-pembanding secara puitis. Hal ini menarik, karena ianya memperlihatkan kemampuan Raja Ali Kelana menyampaikan pikiran-pikirannya tentang manusia pemerintahan ‘secara sastrawi’.

Secara ringkas, struktur Kitab Kumpulan Ringkas-Berbetulan Lekas dapat dibagi dalam lima bagian uraian. Bagian pertama, meliputi ringkasan yang pertama hingga ringkasan yang kesembilan, berisikan persoalan sifat dan budi pekerti manusia. Pada bagian ini Raja Ali Kelana menekankan sifat yang seharusnya menjadi pengangan hidup manusia. Diantaranya adalah sifat setia, berilmu, berakal, benar, dan jujur.

Kesempurnaan sifat manusia ini, menurut Raja Ali Kelana dapat diibaratkan sebagai kesempurnaan sebuah kerajaan (pemerintahan): “Bermula adalah kerajaan itu dapat dibandingkan dengan seorang manusia yang akil baliq, merdeheka, sejahtera, daripada penyakit yang memberi mudarat pada tubuhnya, dan ini lah jua (yang) dinamakan ilmu safra”.

            Bahkan, lebih jauh, Raja Ali Kelana telah membuat perlambang yang unik tentang fungsi-fungsi anggota tubuh manusia yang dianalogikannya sebagai sebuah struktur pemerintah kerajaan Riau-Lingga sebagai berikut: Hati = 1 raja; Anak Kepala = 1 Istana; Ilmu = 1 Bentara Kanan; Akal = 1 Bentara Kiri; Mata, telinga, hidung, mulut = 4 Menteri Dalam; Dua tangan kaki = 4 Menteri Luar; Anak-anak jari = 20 segala Amir; Ruasan-ruasan jari = 48 Juru, Batin, Penghulu, Ketua; Tulang, urat, kulit, daging = rakyat, saksi, balatentara lainnya.

Bagian kedua, dari kitab ini memaparkan sejarah ringkas dan salsilah raja-raja Melayu dan Bugis di Kerejaan Riau-Lingga. Bagian ini dicantumkan pada ringkasan yang kesepuluh hingga ringkasan yang keempat belas. Dalam bagian ini, Raja Ali Kelana mencatat dengan ringkas kait-kelindan sejarah Raja Bugis dan Raja Melayu di  Kerajaan Riau-Lingga, yang diawali dengan Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah ( 1722 – 1760 ) hingga Yang Dipertuan Muda Raja Muhammad Yusuf al-Ahmadi, yang mangkat pada tahun 1899.

Masa pemerinthan setiap sultan dicatat lengkap dengan tarikh ringkas  kemangkatan masing-masingnya. Dalam bagian ini, Raja Ali Kelana juga mencatatkan secara ringkas asal-usul dan susur galur antara raja Bugis  dan Melayu.

Bagian yang ketiga, berisikan perhimpunan beberapa buah hikayat yang kaya dengan nasehat, yang dicantumkan dalam ringkasan yang kelima belas hingga keduapuluh tujuh. Pada bagian ini, Raja Ali Kelana menulis sejumlah cerita tentang raja yang adil, menteri yang bijaksana, yang terkenal dalam sejarah dunia Islam  dan Alam Melayu. Upamanya, ia menukilkan kisah Anusyirwarman (Nursyirwan yang Adil) dan Iskandar Zulkarnain, serta petikan kata-kata bijak Aristotles, Iskandar Zulkarnain, dan Buzur Jamhur. Dalam konteks kesusastaraan, cerita tauladan seperti ini adalah bahagian yang sangat penting dalam karya ini, dan perlu diberi perhatian khusus apabila ada yang tertarik untuk meneliti lebih jau kaitan antara unsur cerita nasehat dengan masalah pemerintahan Negara dalam tata pemerintahan kerajaan-kerajaan Melayu di masa silam..

Cerita-cerita nasehat tersebut dikemas dan dimaksukkan oleh Raja Ali Kelana kedalam Kitab Kumpulan Ringkas-Berbetulan Lekas ini sempena memberi teladan kepada raja-raja Riau-Lingga  dengan maksud agar sebuah pemerintahan yang baik menurut  tradisi adab pemerintahan raja-raja Islam dapar berjalan sebegaimana mestinya.

Sementara itu, bagian keempat Kitab Kumpulan Ringkas-Berbetulan Lekas membicarakan dua tema kecil tentang adab dalam berkata-kata dan menjaga kesehatan anggota tubuh. Pembahasan tentang hal ini tercakup dalam ringkasan yang kedua puluh lapan hingga ringkasan yang kedua puluh sembilan. Pada bagian ini, Raja Ali Kelana menasehati raja yang memerintah dan pemimpin negara agar selalu menjaga adab dalam bertutur kata.

Seorang Raja atau pemimpin harus selalu berkata benar, berilmu, mengakui kesalahan, tidak mengabaikan orang lain, bersopan santun, bersikap lemah lembut, dan mengelakkan perdebatan yang sia-sia. Menurut Raja Ali Kelna, semua ini penting bagi seorang raja: mereka harus selalu memelihara tutur kata, tidak menghina, dan tidak bersikap kasar terhadap rakyatnya.

Pada bagian yang menguraikan masalah memelihara kesehatan badan, Raja Ali Kelana menekankan pentingnya menjaga makanan, minuman dan pakaian. Beliau juga menasehati raja yang memerintah agar selalu  berpuasa, dan menjaga waktu tidur.

Aspek kesehatan badan ini sangat penting bagi raja-raja, dalam menjalankan pemerintahan sebuah negara. Isi Kitab Kumpulan Ringkas diakhiri dengan bagian kelima yang berisikan dua buah syair nasihat yang dikemas dalam ringkasan yang ketiga puluh dan ringkasan yang ketiga puluh satu.

Seperti lazimnya karya-karya klasik tentang ketatanegaraan Melayu,  Kitab Kumpulan Ringkas-Berbetulan Lekas juga menekankan idealisme keadilan raja-raja. Oleh karena itulah, terdapat banyak kutipan yang menghimbau agar raja-raja Melayu melaksanakan pemerintahan dengan adil, dan menjauhkan sifat zalim.

Melalui kitab ini, Raja Ali Kelana sebenarnya ingin mengatakan bahwa Raja yang adil akan membawa negara kepada kemakmuran; sebaliknya raja yang zalim akan membawa negara kepada kehancuran: karena itu pula Kitab Kumpulan Ringkas-Berbetulan Lekas karya Raja Ali Kelana ini dijulukinya juga sebagai Miror for the Ruller atau  cermin bagi penguasa.***

5 Koleksi Antik Muzeum

0

Muzeum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah sudah direnovasi. Kini tampilannya lebih elegan dengan cat putih terang di bangunan utama bagian depan. Sebelumnya, muzeum ini mengalami kerusakan parah dengan robohnya atap di beberapa ruangan. sehingga sejumlah koleksi mesti diungsikan.

setelah perbaikan selesai, koleksi-koleksi kembali dipamerkan. Muzeum ini dibuka untuk umum dari pagi ke petang pada hari kerja. Di sana, ada sejumlah koleksi antik yang rasa-rasanya boleh dikatakan tidak bisa didapati di Muzeum lain di Indonesia. Berikut ini, lima koleksi antik Muzeum SSBA yang bisa dilihat lebih dekat di sana

1.Caping

Alat ini merupakan pelindung genitalia perempuan Melayu kuna. Digunakan oleh istri ketika suami sedang pergi ke medan perang. Hanya perempuan bangsawan yang boleh memakainya. Caping yang tersimpan di Muzeum SSBA terbuat dari perak.

2. Dispenser Manchester

Usia keramik pencurah air berdiameter 9,5 inci ini sekirar 189 tahun. Berbahan dasr keramik victoria produksi Slack & Brown-low, perusahaan perabotan ternama di Manchester, Inggris

3. Alat Isap Candu

Sejarah mencatat candu, opium, madat, atau tengkoh pernah menjadi komoditi legal di Keresidenan Riau dan daerah taklukannya. Dimuzeum SSBA ada lima alat isapnya. Diyakini sebagai yang jamak digunakan masyarakat Tanjungpinang pada akhir abad ke-18

4. Cogan (Replika)

Semua tahu, cogan yang dipamerkan di Museum SSBA adalah replika. Sebab yang asli tersimpan di Muzeum Nasional di Jakarta. Kendati replika, sedikit yang tahu bahwa dalam pembuatannya digunakan pengukuran dan detil yang sama persis dengan aslinya.

5. Uang Petik

Dikatakan uang petik karena dalam produksinya, dirangkai dan dibuhul menyerupai pohon. Sedangkan koin-koinnya menyerupai dedaunannya yang bertambat di tiap tangkainya. Uang ini pernah digunakan sebagai alat tukar dah pada masa penjajahan Belanda.

Baharu