Beranda blog

Sejarah Penanaman Padi di Kepri Abad 19 dan Awal Abad 20

0

Kepulauan Riau daerah pesisir yang makanan pokok masyarakatnya adalah beras. Sejak lama beras dikonsumsi masyarakatnya didatangkan dari luar. Sejak abad 19 beras didatangkan dari Siam, Jawa, dan Makassar. Meskipun ketergantungan pada pasokan beras dari luar, padi pernah ditanam disejumlah wilayah di Kepri. Padi pernah ditanam di Lingga, Bintan, dan Natuna.

Dalam laporan Aardrijkskundig Woordenboek der Nederlanden atau Kamus Geografis Belanda (1847) tulisan Abraham Jacob disebutkan Pertanian di Kepri hanya gambir dan lada. Beras, minyak, tembakau dan garam didatangkan dari Pulau Jawa dan Siam. Banyak kebutuhan lainnya didatangkan dari Malaka dan Singapura. Dalam tulisan ini akan dipaparkan sejarah penanaman tanaman padi abad 19 dan awal abad 20.

Sejarah Penanaman Padi di Kepri

Penanaman padi di Kepri tercatat dalam sejumlah literatur. Elisa Netscher dalam bukunya: Beschrijving van een gedeelte der residentie Riouw (1854) menguraikan tentang penanaman padi di Bintan.  Padi tumbuh dengan baik di Bintan. Padi dibudidayakan di tanah kering. Varietas padinya cukup baik namun hasil padi tidak bisa memenuhi kebutuhan penduduk Pulau Bintan zaman itu. Dalam catatan Netscher, selain padi juga ada penanaman tebu dalam jumlah kecil.

Penanaman padi di Bintan juga dicatat tulisan G van Overbeek de Meijer (1856) berjudul Geneeskundige Topographie Van Den Riouw Gasc Hen Archipel.  Padi di Bintan ditanam di tanah kering. Beras menjadi makanan pokok penduduk. Namun hasil padi ladang itu tidak mencukupi untuk konsumsi sendiri.

Penanaman padi di Lingga telah dilakukan di zaman Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah II (1875-1883).  Bibit padi didatangkan dari Jawa dan pekerjanya juga dari luar Lingga. Padi ditanam di daerah Sawah Indah (Daik Lingga). Hasil padi kurang mengembirakan. Usaha Sultan Sulaiman menggalakkan penanaman padi dan nantinya mendorong penanaman sagu dan usaha ekonomi lainnya dicatat dalam sejumlah sumber. Termasuk catatan Tengku Muhammad Saleh Damnah, Zuriat Sultan Mahmud Riayat Syah.

Padi juga ditanam di daerah Pulau Tujuh. Di daerah Natuna bagian utara tanaman padi dibuat di ladang. Hasil panennya tak bagus. Di Natuna bagian selatan hasil panen juga mengecewakan. penanaman padi juga dilakukan di Anambas. Panen tidak bagus karena terkendala cuaca dan juga hama wereng.

Koran De Locomotief terbitan 11 Agustus 1919 memberitakan tentang penanaman padi di Pulau Mensanak (Lingga) yang tumbuh dengan baik. Penanaman padi juga bagus di Sungai Durian daerah Tambelan yang masuk Afdeeling Tanjungpinang. Padi di Tambelan hasil panennya cukup bagus sekitar 800 gong padi dan penanaman padi dilanjutkan di sana.

Kelangkaan Beras

Ada catatan kasus kelangkaan beras di wilayah Kepri. Koran Bataviaasch Nieuwsblad tanggal 15 Maret 1918 memberitakan Kelangkaan Beras di Riau. Penduduk Riau mengirim surat permintaan yang mendesak adanya kasus kelangkaan beras di Kepulauan Natuna. Diharapkan beras bisa dikirim lewat Singapura. Ada kapal merek Calmoa yang melayari rute Singapura-Natuna yang segera berangkat.

Kelangkaan beras terjadi tahun 1919. Kasus ini diberitakan dalam surat kabar Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie tanggal 22 Desember 1919. Stok beras makin menipis karena terhentinya pasokan beras dari Pantai Barat Sumatra. Harga beras juga makin naik karena tinggal mengandalkan pasokan beras yang datang dari Singapura.  Beras dijual 85 sen per katti. Orang Tionghoa makan beras impor dari Singapura. Masyarakat Lingga dan Karimun tidak mengeluhkan kondisi kelangkaan beras karena adanya makanan penganti dari sagu.

Program Penanaman Padi

Sejarah masa lampau membuktikan tanaman padi bisa tumbuh di Kepulauan Riau. Jadi kalau hari ini pemerintah daerah membuka sawah baru dan menanam padi ini berarti mengulang sejarah masa lalu. Upaya ini perlu didukung karena Kepri tingkat ketergantungannya pada pasokan beras dari luar Kepri sangat tinggi.

 Lahan sawah dan produksi padi Provinsi Kepri masih minim. Hanya 1150 ton padi atau 655 ton beras tahun 2018.  Kebutuhan beras Kepri setahun 760 ribu ton.  Lingga, Anambas, Natuna, Bintan dan Karimun sangat potensial untuk pertanian padi. Keberadaan desa-desa transmigrasi jadi modal dalam pengembangan sawah. Di Natuna, Anambas, Karimun, Lingga termasuk Bintan ada sejumlah desa yang penduduknya dulunya transmigran dari Jawa. Adanya kecendrungan para transmigran terbiasa dengan budaya menanam padi. Kebiasaan ini bisa ditularkan ke penduduk lokal. **

Datanglah Murka Allah Taala

0

PADA 23 Oktober 1784 Belanda datang menyerbu pusat Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang di Hulu Riau, Sungai Carang, Tanjungpinang, pasca Perang Teluk Ketapang, Melaka. Perang Teluk Ketapang yang berakhir 18 Juni 1784 menyebabkan jatuhnya korban dari kedua belah pihak, termasuk Paduka Baginda Raja Haji Fisabilillah, sebagai kesatria yang gugur sebagai syuhada. Berasa kekuatan perang Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang jauh berkurang, Belanda kembali datang menyerang Tanjungpinang dengan misi penaklukan Kesultanan Melayu yang belum juga dapat mereka kuasai walaupun telah dilakukan pelbagai siasat dan cara.

Ternyata, prediksi Belanda salah besar. Sesampainya di Tanjungpinang mereka tak dibiarkan bertindak leluasa, tetapi disambut dengan perlawanan perang oleh pasukan Melayu yang dipimpin langsung oleh Seri Paduka Baginda Sultan Mahmud Riayat Syah (1761-1812) dan Paduka Baginda Raja Ali ibni Allahyarham Paduka Baginda Daeng Kamboja.

Kala itu Raja Ali telah dilantik oleh Sultan Mahmud menjadi Yang Dipertuan Muda V (1784-1806) menggantikan Allahyarham Raja Haji Fisabilillah, Yang Dipertuan Muda IV (1777-1784). 

Perang berkecamuk, tetapi tak berlangsung lama. Pasalnya, alih-alih Belanda minta berdamai atau mengajukan genjatan senjata. Dalam masa genjatan senjata itulah, Belanda mengirim utusan kepada Sultan Mahmud.

Intinya, mereka minta Sultan Mahmud mengusir Raja Ali dari Tanjungpinang. Tentulah permintaan Belanda itu ditolak keras oleh Baginda Sultan.

Entah mengapa, tetapi kuat dugaan sebagai strategi menghimpun kekuatan melawan Belanda, subuh hari berikutnya di tengah hujan lebat, Raja Ali meninggalkan pusat kerajaan di Tanjungpinang.

Baginda belayar menuju Sukadana, Kalimantan Barat, yang merupakan salah satu sekutu Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang. Kepergian Raja Ali itu disebut strategi karena pada Mei 1787 terjadi perang besar antara Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang dan Belanda yang menyebabkan Belanda mengalami kekalahan untuk sekian kalinya.

Dalam Perang Riau II itu kekuatannya memang berasal dari bantuan tentara dari Sulu, Filipina, dan Tempasuk, Kalimantan, yang terdiri atas 7.000 tentara dengan 90 kapal perang.

Sesampainya di Sukadana, apakah yang dilakukan oleh Paduka Raja Ali? Ternyata, Baginda membantu pemimpin negeri itu membangun kerajaannya. Setelah sekian lama, berkembanglah Negeri Sukadana, yang membuat bahagia pemimpin dan rakyatnya. Selanjutnya, Raja Ahmad Engku Haji Tua dan Raja Ali Haji rahimahullah mencatatnya dalam karya mereka Tuhfat al-Nafis, antara lain, sebagai berikut ini. 

“Alkisah maka tersebut perkataan Yang Dipertuan Muda Raja Ali di dalam negeri Sukadana. Maka ramailah negeri Sukadana itu, maka datanglah pula fitnah dunia yang menunjukkan dunia ini negeri yang tiada kekal dan nikmatnya yang tiada tentu, supaya mengambil ibarat orang yang mempunyai mata hati akan tiada harus mengasihi dunia ini, maka hendaklah mengasihi akan akhirat negeri yang kekal dan nikmatnya yang tiada berkeputusan.

Syahadan adalah sebab datang kegeruhan dunia atas Yang Dipertuan Muda Raja Ali, iaitu bersalah-salahan maksud dan faham antaranya dengan Sultan Pontianak dan Holanda, lebih-lebih maklumlah di dalam dunia ini tiada sunyi daripada tamak dan loba. Di dalam hal itu berdengki-dengkianlah antara nikmat yang lebih dan nikmat yang kurang. Maka itulah jadi pokok perbantahan,” (Ahmad & Haji dalam Matheson (Ed.), 1982, 231).

Setelah makmur Negeri Sukadana, seperti diungkapkan oleh Tuhfat al-Nafis, terjadilah selisih paham antara Seri Paduka Baginda Sultan Pontianak dengan Baginda Raja Ali. Pemecah belahnya siapa lagi, kalau bukan Belanda. Motifnya perbedaan pandangan tentang pembagian rezeki dunia.

Menurut Raja Ahmad dan Raja Ali Haji, kedua pemimpin itu lebih mengasihi (harta) dunia sehingga melupakan atau kurang memperhatikan manfaat dan nikmat akhirat. Dengan kata lain, menurut penulis dan intelektual hebat berdua beranak itu, seyogianya manusia, terutama pemimpin, harus lebih mencintai akhirat yang abadi dibandingkan dunia yang serbasementara. Artinya, dalam perhubungan dengan Allah, manusia seyogianya harus lebih mencintai akhirat.     

Kearifan dan amanat seyogianya manusia lebih mencintai akhirat dibandingkan dengan dunia juga terekam dalam Gurindam Dua Belas (Haji, 1847). Anjuran tentang karakter mulia itu tersurat pada Pasal yang Kedua Belas, bait 6-7.

Ingatkan dirinya mati
Itulah asal berbuat bakti

Akhirat itu terlalu nyata
Kepada hati yang tidak buta

Bait 6, Pasal yang Kedua Belas, Gurindam Dua Belas, di atas memberikan peringatan ini. Setiap manusia pasti mati. Oleh sebab itu, hendaklah manusia berbuat bakti di dunia ini sesuai dengan petunjuk dan perintah Ilahi. Bakti yang dibuat dalam wujud amalan dan atau perbuatan baik haruslah semata-mata karena Allah, bukan dengan motivasi yang lain seperti untuk memperoleh popularitas, pencitraan, dan atau penguasaan di kalangan manusia. Bakti yang semata-mata bermotivasi Ilahiyah itulah yang akan menjadi bekal bagi kehidupan di akhirat kelak. Dengan demikian, manusia seyogianya lebih mencintai akhirat yang kekal daripada dunia yang serbafana.

Pasal yang Kedua Belas, bait 7 pula, lebih menegaskan lagi bahwa kehidupan akhirat itu memang benar adanya atau sangat nyata bagi sesiapa saja yang hatinya terbuka dan mengimani Allah dan hari akhirat. Oleh sebab itu, segala perbuatan yang dilakukan di dunia ini harus dipertanggungjawabkan di akhirat. Dengan demikian, lebih mencintai akhirat daripada dunia merupakan karakter mulia dalam perhubungan manusia dengan Allah.

“Akan tetapi, kamu memilih kehidupan duniawi, sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan kekal,” (Q.S. A’la, 16-17).

Betapa Allah memperingatkan bahwa manusia cenderung lebih mencintai kehidupan dunia walaupun dia sering membantahnya. Padahal, Dia telah menciptakan kehidupan akhirat yang jauh lebih baik dan abadi. Pada akhirnya, kesemuanya terpulanglah kepada manusia. Yang lebih memilih dunia dapatlah dia tipu-dayanya.

Sebaliknya pula, yang memilih akhirat akan diberikan-Nya laluan yang lapang menuju keridhaan-Nya.Syair nasihat dalam Tsamarat al-Muhimmah (Haji dalam Malik (Ed.), 2013), bait 41-42, juga mengingatkan manusia, lebih-lebih mereka yang dianugerahi amanah sebagai pemimpin di dunia yang fana ini. Amanah itu harus dijadikan modal untuk berbakti sebagai bekal kehidupan yang selesa (menyenangkan) di akhirat nanti.

Kehidupan rakyat janganlah lupa 
Fakir miskin hina dan papa
Jangan sekali tuan nan alpa
Akhirnya bala datang menerpa

Beberapa negeri terkena bala
Sebab perbuatan kepala-kepala
Karena perbuatan banyak yang cela
Datanglah murka Allah Taala

Sesiapa pun pemimpin yang berupaya sekuat dapat untuk membahagiakan mereka yang “kurang beruntung” dari segi materi di dunia ini, bermakna dia sedang mempersiapkan kehidupan akhirat yang dipastikan dalam jaminan Allah Taala. Bahkan, kepemimpinannya akan senantiasa dalam penjagaan-Nya. Sebaliknya pula, mereka yang lalai, semata-mata mementingkan kehendak dunianya sehingga lupa akan tanggung jawab kepada orang-orang yang dipimpinnya, dia akan diterkam pelbagai bala. Tak hanya dia yang menanggung akibatnya, tetapi juga negeri yang di bawah kepemimpinannya. Kejatuhan negeri yang dulu-dulu lebih karena itulah puncanya, kealpaan kepala-kepala.

Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuannya, Allah memberikan kekayaan dalam hatinya, mengumpulkan semua usahanya, dan dia akan dihampiri dunia walaupun dia enggan. Dan, barang siapa yang menjadikan dunia sebagai tujuannya, Allah menjadikan kefakiran di depan matanya, menceraiberaikan usahanya, dan tak diberikan dunia kepadanya, kecuali yang sudah ditakdirkan-Nya,” (H.R. At-Turmudzi).

Begitulah rahmat Allah kepada manusia. Sesiapa pun yang lebih mencintai akhirat, akan dianugerahi-Nya juga dunia yang memang diperlukan untuk mencapai matlamat mulia akhiratnya. Sebaliknya pula, sesiapa pun yang tujuan hidupnya semata-mata mengejar kesenangan dunia, bahkan harapannya itu tak akan pernah dirasakannya cukup walaupun orang lain melihatnya serbaada. 

Hendakkan contohnya? Sangat banyak di sekitar kita. Sesungguhnya, hanya karena rahmat Allah-lah manusia akan beroleh bahagia, sama ada di dunia ataupun di akhirat, yang sudah pasti bangat adanya.*** 

Datuk Kaya Mepar

0
Kompleks makam Datuk Kaya Mepar dan keluarganya di Pulau Mepar, Daik, Kabupaten Lingga. (foto: aswandi syahri)

Dalam Pemerintahan Kerajaan Riau-Lingga

Kepala Segala Rakyat

Sebelum kedatangan Sultan Mahmud Riayatsyah, seluruh Pulau Lingga dan pulau-pulau di sekitarnya, menurut C. Van Angelbeek.Korte Schet van Het Eiland Lingga en Deszelf Bewoners (Gambaran Singkat Pulau Lingga dan Penduduknya), berada dibawah mewenang seorang kepala atau pemimpin dengan gelar Orang Kaya atau Datuk Kaya. Hal ini terus berlanjut hingga pada zaman Sultan Mahmud Ri’ayatsyah dan sultan-sultan penggantinya.

Sebuah laporan lain yang berjudul Korte Geschiedenis Riouw en Lingga (Sejarah Singkat Riau dan Lingga) tahun 1846 yang disusun oleh A. L. Weddik, Komisaris Inspeksi untuk wilayah Borneo dan Lingga mencatat pula bahwa pada zaman pemerintahan Sultan Mahmud Muzafarsyah, ada pula seorag yang bergelar Orang Kaya Temenggung di Pulau Memar, seorang laki-laki bertubuh tinggi (Temenggung Jamaludin?) yang juga menjabat sebega kepala bagi semua rakyat Pulau Mepar dan rakyat di pulau-pulau lainnya di sekitar Pulau Lingga.

Seperti halnya Yang Dipertuan Muda Riau, Datuk Kaya Mepar dapat mengangkat kepala-kepala rakyat bagi sebuah puak atau kampung (seperti Batin, Jenang, Juru, dan sejenisnya) yang yang takluk dibawah pemerintahannya.

Menurut A.L. Weddik, Orang Kaya Temenggung, yang merupakan ayah Encik Montel ini memiliki banyak pengaruh. Setelah ia wafat, kedudukannya sebagai pemimpin yang berkedudukan di Pulau Mepar dilanjutkan oleh anak yang bergelar Orang Kaya Montel atau Orang Kaya Mepar.

Menurut Resident van Riouw, D.L. Baumgardt, sebagaimana dimuat dalam laporan kunjungannya ke Pulau Mepar yang berjudul Aantekeningan gehouden gedurende eene reis van Riouw naar de Eiland Lingga, Colombo, Mepar, Singkip en naar het Rijk van Indragiri (1850),Orang Kaya Montel di Pulau Mepar berkuasa seperti ayahnya. Ia bertanggung jawab atas semua rakyat yang berada dibawah takluk Sultan Lingga yang terdiri dari 4.500 orang Melayu, 200 orang Bugis, dan 300 orang Cina. Sedangkan di tempat tinggalnya di Pulau Mepar, terdapat 500 hingga 600 orang penduduk. Di Pulau Mepar, ia mempunyai sebuah rumah yang sangat bagus.

Datuk Kaya Montel

Keberadaan Kampung Ladi di Pulau Penyengat dan asal-usul nama kampung itu erat kaitannya dengan orang Soekoe Ladi (bagian dari orang suku laut yang sangat beragam puak dan kelompoknya) dan juga erat pula hubungannya dengan istana diraja di Pulau Penyengat.

Sejumlah catatan lama menyebutkan bahwa orang-orang Soekoe Ladi ini didatangkan khusus ke Pulau Penyengat oleh Orang Kaya Mepar atau Datuk Kaya Mepar dari Lingga sejak zaman Datuk Kaya Montel (yang wafat di Pulau Penyengat dan kemudian jenazahnya dibawah ke Pulau Mepar dan dimakamkan disana). Di Pulau Penyengat mereka dibuatkan kampung di kawasan yang dinamakan sesuai dengan dengan nama puak mereka: Kampung Ladi. Letaknya berhampiran kawasan balai adat sekarang. Mereka berada dibawah kendali Datuk Kaya Mepar.

Dalam kaitannya dengan Orang Kaya atau Datuk Kaya Mepar tersebut, hingga kini penduduk Pulau Penyengat masih mencatat adanya makam salah seorang Datuk Kaya Mepar atau Orang Kaya Mepar yang bernama Datuk Kaya Awang bin Montel. Seperti ayahnya, ia meninggal di Pulau Penyengat. Lokasi makamnya terletak pada sebuah kompleks makam tua yang berada persis di belakang Balai Adat Indera Perkasa, di Pulau Penyengat.

Dalam struktur masyarakat Kerajaan Riau-Lingga,Oerang Soeko Ladi atau Rakjat Soekoe Ladi ini digolongkan kedalam apa yang disebut oleh Muhammad Apan, dalam laporan penelitiannya yang berjudul Berita District van Bintan (1934), sebagai rakjat kaoem enam soekoe dan Sokoe Asing. Dalam kolompok ini termasuklah di dalamnya, OrangGalang, Orang Mantang, Orang Kelong-Mapor, Orang Buluh Pianan (Perih-Sebong Kecil-Tembeling), Orang Posek, Rakyat Soekoe Asing (Suku Tambus di Pelangke), dan Rakjat Soekoe Ai Jong di Selat Bintan.

Masing-masing kelompok rakjat enam soekoe dan soekoe asing ini dipimpin olehBatin dan Juru yang berada dibawah kendali seorang Datuk Indraguru di Pulau Penyengat. Menurut Muhammad Apan, setelah wafatnya Orang Kayar Meparyag bernama Awang, maka Oerang Soekoe Ladi atau Rakjat Soekoe Ladi di Pulau Penyengat berada dibawah kendali Datuk Indraguru terakhir pada fase-fase akhir Kerajaan Riau Lingga di Pulau Penyengat, yang ketika itu dijabat oleh Encik Taib.

Seperti telah disebutkan sebelumnya, keberadaan Kampung Ladi dan orang-orang Soekoe Ladi di Pulau Penyengat erat kaitanya dengan istana raja itu. Dan bukan kebetulan pula bila letak Kampung Ladi di Pulau Penyengat, baik kampung Ladi ‘yang pertama’ atau ‘yang kedua’, berhampiran dengan kompleks istana ‘awal’ di kawasan yang bernama Kota Rentang dan kompleks istana ‘terakhir’ (Istana Keraton) yang letaknya berhampiran KampungKampung Baharu. Sama seperti Kampung Ladi,  kedua kompleks istana itu terletak di belahan Selatan Pulau Penyengat.

Letak dua Kampung Ladi yang berhampiran dengan dua kompeks istana raja di Pulau Penyengat tersebut erat kaitannya dengan tugas dan fungsi orang Sokoe Ladi atau Rakjat SoekoeLadi dalam istana dan pemeritahan kerajaan pada masa lalu. Bersama OrangSoekoe Galang, Orang Gelam, Orang Sekanak, Orang Sugi, Orang Kelong, Orang Terong, Orang Moro, danOrang Tambus, merekalah yang bertanggung jawab sebagai pendayung perahu perang kerajaan dalam masa peperangan: mungkin ini adalah salah satu sebab mengapa pemukiman mereka berada di pinggir laut.

Dalam arsip-arsip Belanda dan kerjaan Riau-Lingga, disebutkan bahwa kaum laki-laki orang Soekoe Ladi juga mempunyai tugas mengurus dan membawa tompak kebesaran (cogan) kerajaan. Mereka juga yang mengurus persenjataan dan berkawal.

Selain itu, kaum laki-laki Oerang Soekoe Ladi juga bertanggung jawab terhadap persediaan kayu untuk keperluan pembanguan dan pemeliharaa bangunan istana raja, atau untuk keperluan kegiatan lain yang membutuhkan kayu cukup banyak: seperti ketika dilakukan pesta atau kenduri besar di istana.

Tugas dan fungsi orang Soekoe Ladi di istana tidak hanya diperankan oleh kaum laki-lakinya saja. Di stana raja, kaum perempuann OerangSoekoe Ladi juga harus bertugas menjadi penjaga sebuah bilik dimana tempat tidur diraja terletak.

Mereka juga bertugas menjaga halaman pelaminan ketika istiadat pernikahan diraja berlangsung. Mereka memegang alat-alat kebesaran diraja dalam perarakan kebesaran diraja, atau duduk dengan lilin di tangan dalam sebuah istiadat diraja di istana

Ahli al-Mahkamah

Selain mengurus dan menjadi kepala bagi seluruh rakjat yang berada dibawah takluk Sultan di Linga dan kawasaan sekitarnya, ternyata Datuk Kaya Mepar juga menjadi anggota Ahli al-Mahkamah Kerajaan di Daik-Lingga.

Sebagai ilustrasi, Datuk Kaya Awang bin Montel adalah anggota Ahli al-Mahkamah Kecil di Lingga setelah Sultan Abdulrahman mindahkan istana dan kedudukan Sultan ke Pulau Penyengat pada tahun 1900. Datuk Kaya Awang kerap terlibat dalam pengambilan putusan hukum dalam satu perdakwaan yang diputuskan oleh Mahkamah Kecil di Dau-Lingga.

Pada 23 Jumadil Awal 1323 H (1905 M) umpamanya, Datuk Kaya Awang bin Montel terlibat dalam penyusunan hadil prmeriksaan dan menimbang perdakwaan seorang Cina bernama Go-Ping-Ki yang berniagadi Kampung Cina, Daik, dengan seorang Melayu bernama Amat bin Sulaiman yang juga tinggal di Kampung Cina, Daik.

Tugas pemerintahan dalam ini dijalankan oleh Datuk Kaya Awang bin Montel bersam-sama dengan Raja Abdulrahman bin Raja Abdulah yang menjabat sebagai Wakil Kerajaan (Wakil Sultan) di Lingga, Datuk Lasamana Muhammad Yusuf, dan Letnan Keling Abdulrahman bin Muhammad.***

Aisyah binti Sulaiman

1
Raja Aisyah Sulaiman.

PEREMPUAN hebat itu dikenal sebagai Aisyah Sulaiman. Nama lengkapnya Raja Aisyah binti Raja Sulaiman. Beliau adalah cucu Raja Ali Haji. Suaminya Raja Khalid ibni Raja Hasan, yang terkenal dengan nama Khalid Hitam.

Selain menjadi politisi handal Kesultanan Riau-Lingga, suami Aisyah Sulaiman juga penulis. Secara kerabat, Aisyah Sulaiman dan suaminya saudara sepupu. Dengan demikian, Aisyah Sulaiman merupakan keturunan dan hidup di lingkungan keluarga penulis. Sesuai dengan namanya, beliau jelaslah keturunan Diraja Kesultanan Riau-Lingga.

Tak diketahui tarikh pasti kelahiran Aisyah Sulaiman. Walaupun begitu, beliau diperkirakan lahir pada 1869/70 dan wafat pada 1924/25 pada usia lebih kurang 55 tahun.

Sebagai putri Diraja Melayu, Aisyah Sulaiman sangat akrab dengan kehidupan lingkungan istana Kesultanan Riau-Lingga. Di sanalah, tepatnya di tempat kedudukan Yang Dipertuan Muda Riau-Lingga, Pulau Penyengat Indera Sakti, beliau dilahirkan dan dibesarkan.

Akan tetapi, kehidupan di lingkungan istana, di tanah tumpah darahnya, itu tak dapat dinikmatinya sampai ke akhir hayatnya. Pasalnya, pada 1913 Kesultanan Riau-Lingga dimansuhkan oleh pemerintah kolonial Belanda. 

Karena tak sudi hidup di bawah pemerintahan penjajah Belanda, Aisyah Sulaiman dan keluarganya berhijrah ke Singapura. Tak lama bermastautin di Singapura, beliau harus berpindah lagi ke Johor karena menghindari orang-orang yang menaruh hati terhadapnya selepas suaminya tercinta meninggal di Jepang pada 11 Maret 1914 dalam suatu misi politik meminta bantuan Pemerintah Jepang untuk menghalau penjajah Belanda dari Kesultanan Riau-Lingga (Kepulauan Riau sekarang). Di Johorlah, kemudian, Aisyah Sulaiman bertempat tinggal sampai ke akhir hayatnya.

Dalam tradisi kepengarangan, Aisyah Sulaiman dapat digolongkan sebagai pelopor pengarang zaman peralihan atau transisi dari kesusastraan Melayu tradisional ke kesusastraan Melayu-Indonesia modern. Kenyataan itu ditinjau dari sudut masa  kepengarangan dan tema karyanya walaupun beliau masih menggunakan genre kesusastraan tradisional yaitu syair dan hikayat.

Dengan berdasarkan sudut pandang itu, pendapat yang selama ini menyebutkan bahwa Munsyi Abdullah bin Munsyi Abdul Kadir sebagai pelopor kesusastraan Melayu modern harus diperdebatkan. 

Pasalnya, Munsyi Abdullah hidup sampai pertengahan abad ke-19, sedangkan masa peralihan kesusatraan tradisional Melayu ke modern Melayu dimulai sejak pertengahan abad ke-19 sampai dengan perempat awal abad ke-20. Masa-masa itulah Aisyah Sulaiman sedang giat-giatnya berkarya, sedangkan Munsyi Abdullah telah wafat. Lagi pula, karya-karyanya telah mengungkapkan perubahan dalam masyarakat, dari masyarakat lama ke masyarakat baru Melayu dan perjuangan masyarakat, terutama kaum perempuan, merobohkan tembok-tembok kokoh tradisi yang diangggap tak sesuai lagi dengan perubahan zaman.

Dalam karirnya sebagai pengarang, Aisyah Sulaiman menghasilkan empat buah karya. Karya-karya tersebut (1) Hikayat Syamsul Anwar atau Hikayat Badrul Muin, yang diduga merupakan karya awal beliau; (2) Syair Khadamuddin, yang diterbitkan pada 1345 H./1926 M., yang ditulis setelah beliau pindah ke Singapura; (3) Hikayat Syarif al-Akhtar, yang diterbitkan setelah beliau wafat, pada 1929 M.; dan (4) Syair Seligi Tajam Bertimbal, yang dalam karyanya ini beliau menggunakan nama samaran Cik Wok Aminah.

Karya Hikayat Syamsul Anwar berkisah tentang Putri Badrul Muin. Putri ini sangat jelita dan kisah kecantikannya diketahui oleh banyak raja negeri lain sehingga mereka berdatangan untuk melamarnya. Putri Badrul Muin muak terhadap perilaku raja-raja yang mencoba untuk melamarnya itu, lalu pergi meninggalkan istana. Sang putri menyamar sebagai laki-laki yang bernama Afandi Hakim. Dalam pengembaraannya itu, dia bertemu dengan putra raja, Syamsul Anwar namanya.

Syamsul Anwar suka bangat berteman dengan Afandi Hakim dan sangat menghormati temannya itu sehingga selalu berusaha untuk mendampinginya. Sebaliknya, Afandi Hakim sangat benci terhadap Syamsul Anwar dan senantiasa berusaha untuk menjauhkan diri dari pemuda itu. Syamsul Anwar curiga terhadap tingkah laku Afandi Hakim sehingga dia mengintip untuk mengetahui jati diri “laki-laki” itu. Alhasil, samaran Putri Badrul Muin terbongkar, tetapi dia dapat menghilangkan diri dengan menggunakan batu gemala.

Syamsul Anwar akhirnya dipertemukan juga dengan Putri Badrul Muin. Dia melamar Sang Putri. Akan tetapi, bukan menerima pinangan Syamsul Anwar, malah Tuan Putri marah terhadap Menteri Tua dan Permaisuri yang mendukung lamaran putra raja itu. Tuan Putri berusaha menolak pinangan Syamsul Anwar karena dia ditabalkan menggantikan ayahandanya yang telah mangkat. Dia marah karena putusan diterimanya pinangan Syamsul Anwar tanpa meminta persetujuan dirinya. Bukankah dirinya berhak untuk menentukan nasibnya dalam pernikahan? Dia berasa dipaksa menikah dengan Syamsul Anwar. Orang-orang yang terlibat dalam “pemaksaan” pernikahannya ditantang habis-habisan oleh perempuan yang menganggap bahwa kaum laki-laki selalu mendatangkan kesusahan itu.

Kebencian Tuan Putri terhadap suaminya tak kunjung mereda. Dia terus saja mengelak berada di bilik peraduan (kamar tidur) berdua suaminya. Keadaan seperti itu terus berlangsung sampai tiga bulan lamanya.

Penentangan dan kebencian Putri Badrul Muin terhadap laki-laki menunjukkan sikap Aisyah Sulaiman untuk memperjuangkan emansipasi perempuan. Kelantangan tokoh-tokoh perempuan di dalam hikayat ketika berdebat dengan tokoh-tokoh laki-laki, yang justeru orang-orang penting kerajaan, juga menyerlahkan misi yang sama, kesetaraan perempuan dengan laki-laki. 

Pada masa hikayat ini ditulis, hal seperti itu masih sangat dipantangkan. Jelaslah  kepeloporan Aisyah Sulaiman dalam memperjuangkan dan atau menyuarakan hak-hak perempuan dalam hikayatnya ini. Beliau jauh melampau karya-karya sebelumnya, yang memang tak menampakkan nuansa perjuangan perempuan, kecuali karya kakeknya, Raja Ali Haji, Syair Abdul Muluk (1846)

Bahkan, Putri Badrul Muin jauh lebih maju dari Siti Nurbaya, yang selama ini disebut sebagai pelopor sastra modern Indonesia. Betapa tidak? Siti Nurbaya dan orang-orang di sekitarnya nyaris tak berdaya menghadapi kelicikan atau tepatnya kegigihan tokoh tua Datuk Maringgih dalam roman Siti Nurbaya. Tak ada penentangan yang berarti terhadap Datuk Maringgih, yang kecuali kaya, padahal hanyalah seorang tua bangka yang hodoh (buruk rupa) pula. 

Pemuda Syamsul Bahri, kekasih Siti Nurbaya, memang menentang Datuk Maringgih. Akan tetapi, itu pun harus melalui cara yang hina yaitu berkoalisi dengan musuh, yakni Belanda, hanya untuk membunuh pria tua yang merebut kekasih hatinya. Datuk Maringgih, bahkan, terkesan bercahaya bangat dalam roman ini—bukan Siti Nurbaya, Syamsul Bahri, atau orang muda-muda yang lain—karena kegigihan dan perjuangannya melawan Belanda.

Tak demikian halnya dengan Putri Badrul Muin. Dia sangat bertenaga, perkasa, dan bercahaya dalam Hikayat Syamsul Anwar. Para lelaki didebatnya habis-habisan dengan pelbagai gagasan keunggulan perempuan. Raja-raja yang melamarnya ditolaknya dan ditinggalkannya begitu saja karena dia memang tak berkenan. Dia tak dapat dibujuk dengan kekuasaan dan harta, yang padahal raja-raja yang melamarnya jauh lebih berkuasa dan berlimpah harta daripada hanya seorang Datuk Maringgih. 

Bahkan, Syamsul Anwar yang putra raja, perkasa, tampan, dan memang sangat mencintainya ditolaknya mentah-mentah walaupun akhirnya mereka berjodoh jua. Untuk sampai kepada perjodohan serasi itu, Syamsul Anwar dan para penyokongnya harus berjuang keras dan menampilkan kesabaran yang luar biasa karena harus berhadapan dengan perempuan muda yang jelita, tetapi bagaikan tembok baja. Baginya tak ada alasan untuk menempatkan perempuan di bawah laki-laki. Hakikatnya, perempuan dan laki-laki memiliki hak dan kewajiban yang sama.

Jelaslah bahwa Aisyah Sulaiman telah memperjuangkan harkat, martabat, dan marwah kaum perempuan melalui karya-karyanya pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Dengan Hikayat Syamsul Anwar, misalnya, dia telah berhasil menyuarakan semangat emansipasi, yang bahkan belum banyak terpikirkan oleh kaumnya kala itu. Semangat individualistik begitu teserlah di dalam hikayat ini sehingga mengantarkan Aisyah Sulaiman sebagai pelopor kesusastraan modern Indonesia. 

Aisyah Sulaiman, bahkan, dapat mengungguli karya-karya pengarang sesudahnya, termasuk pengarang laki-laki yang telanjur disebut pelopor sebelum ini. Dengan demikian, Raja Aisyah binti Raja Sulaiman telah berhasil menjadikan diri dan karya-karyanya sebagai ikon pejuang emansipasi. Tak hanya sampai di situ, Aisyah Sulaiman, bahkan, mengukuhkan dirinya sebagai pelopor kesusastraan modern Melayu-Indonesia yang patut diapresiasi.***   

Hang Nadim

0
Bila kau pernah berkunjung ke Kota Batam, Kepulauan Riau, Indonesia, kau pasti tahu nama bandaranya, yaitu Hang Nadim. Siapakah tokoh yang namanya diabadikan sebagai nama Bandar Udara (Bandara) Internasional dengan panjang landasan pacu 4,2 kilo meter itu?Bagaimana kiprah dan sepak terjang Laksemana Hang Nadim di negeri Melayu pada masa lalu?Jum simak kisah berikut.

Lang-Lang Laut

Hang Nadim berpangkat Laksemana dan diberi tugas sebagai pengawal perairan Melayu dari para pengacau dan perompak serta penjajah Portugis dengan gelar Lang-Lang Laut atau Peronda Laut. Dalam mengemban tugas itu Laksemana Hang Nadim dibantu seorang timbalan atau wakil bernama Sri Bija Diraja.Keduanya bermarkas di Bintan.Perahu Hang Nadim disebut Raja Ali Haji dalam Tuhfat al Nafisbernama Dendang yang panjangnya tiga belas depa, bermeriam dua sehaluan, sunting rentakanya sepuluh sebelah, dan tahan turutnya dua. Sedangkan perahu Sri Bija Diraja disebut Raja Ali Haji juga dalam Tuhfat al Nafis bernama Jurung yang panjangnya sebelas depa, dua juga meriam sehaluan, sunting delapan sebelah, dan tahan turutnya dua.

Sebagaimana diungkai Hikayat Hang Tuah, Hang Nadim adalah putra Hang Jebat dari istrinya Dang Wangi atau Dang Inangsih. Disebutkan Sejarah Melayu, ketika ayahandanya Hang Jebat dibunuh Hang Tuah, Hang Nadim sedang dalam kandungan ibundanya. Setelah lahir Hang Nadim dijadikan anak angkat oleh Hang Tuah. Kelak dewasa, Hang Nadim dinikahkan dengan putri Hang Tuah bernama Tun Emas Jiwa. Kelak, Laksemana Hang Tuah digantikan sebagai Laksemana oleh Khojah Hassan.Tak lama menjabat sebagai Laksemana, Khojah Hassan dipecat lantaran dituduh menfitnah Bendahara Tun Mutahir.Jabatan Laksemanakemudian dijabat Hang Nadim.

Merebut Kota Melaka

Pada tahun 1513, untuk merebut Kota Melaka yang sudah dikuasai Portugis, dari Bintan Sultan Mahmud melepas keberangkatan pasukan dengan armanda 34 buah perahu beserta laskar perang yang gagah perkasa yang dipimpin Laksemana Hang Nadim. Upaya merebut Kota Melaka itu juga melibatkan pasukan Pati Unus dari Pulau Jawa dan Palembang dengan membawa perahu perang 100 buah dan laskar 10.000 orang.

Terjadilah perang dahsyat dan lama yang memakan korban tidak sedikit dari kedua belah pihak. Akhirnya pasukan Portugis yang dipimpin Laksemana Perez de Andrade berhasil memukul mundur pasukan gabungan Melayu, Jawa, dan Palembang itu. Benteng A Famosa yang dibangun Portugis di puncak bukit Kota Melaka terlalu sulit untuk ditembus pasukan Hang Nadim dan Pati Unus yang lebih mahir bertempur di laut. Sementara itu tembakan-tembakan meriam dari puncak Benteng A Famosa tak dapat dielakkan kapal-kapal Melayu, Jawa, dan Palembang sehingga sulit untuk mendaratkan pasukan di pantai Melaka. Merebut Kota Melaka menemui kegagalan.

Beberapa tahun kemudian, Sultan Mahmud kembali mengirim armada perangnya ke Melaka dengan Paduka Tuan sebagai Panglima Perang, Hang Nadim sebagai Laksemana Armada Laut, dan Nara Singa sebagai Panglima Angkatan Darat. Untuk mengepung Kota Melaka, Armada Laut Hang Nadim berlayar langsung ke Melaka sedangkan Angkatan Darat Nara Singa turun di Pagoh dan Muar. Sebagian pasukan Nara Singa bertahan di Pagoh dan Muar serta sebagiannya lagi berjalan kaki menuju Melaka. Armada Hang Nadim dan pasukan Nara Singa pun mengepung Kota Melaka. Terjadilah pertempuran seru.

Setelah bersusah-payah akhirnya pasukan Hang Nadim berhasil naik ke darat dan memanjat tembok Benteng A. Famosa. Pasukan Portugis menyambutpara pemanjat itu dengan gelindingan balok-balok kayu, kucuran batu-batu panas, dan lemparan granat. Banyak laskar Melayu yang mati. Namun dengan semangat pantang menyerah laskar yang lain menggantikan memanjat tanpa gentar. Demikian berulang-ulang. Akhirnya Benteng A. Famosa dapat diisolasi.Menurut perhitungan Panglima Perang Paduka Tuan, untuk merebut Benteng A. Famosa diperlukan pasukan tambahan. Paduka Tuan kemudian mengirim utusan ke Bintan meminta Sultan Mahmud mengirim pasukan tambahan.

Sementara itu pasukan darat yang dipimpin Nara Singa bertempur habis-habisan dengan pasukan Portugis di Muar dan Pagoh. Pasukan Portugis yang dipimpin Duarte de Mello berhasil dipukul mundur pasukan Nara Singa di Pagoh. Namun, dengan caramengendap-endap melalui rawa-rawa di belakang benteng Muar, pasukan Portugis berhasil menikam dari belakang pasukan Nara Singa. Serangan yang tak disangka-sangka itu menewaskan tidak kurang dari 300 laskar Melayu.

Mendengar kabar Benteng A. Famosa sudah dapat diisolasi oleh pasukan Hang Nadim, pasukan darat Nara Singa yang tersisa di Muar pun bergerak menuju Kota Melaka. Sedangkan pasukan Nara Singa yang masih solid tetap bertahan di Pagoh. Pasukan Portugis di dalam Benteng A. Famosa mulaikehabisan amunisi.Bahkan penghuninya sedang dalam keadaankrisis pangan.Namun, berdasarkan perhitungan Paduka Tuan, Hang Nadim, dan Nara Singa,agar dapat merebut Benteng A. Famosa, serangan baru dapat dilakukan apabila pasukan tambahan sudah bergabung.

Tengah menunggu pasukan tambahan dari Bintan, armada bantuan Portugis lebih duluan datang dari Pegu, pangkalan militer Portugis di Birma (Myanmar kini) yang membawa amunisidan bahan makanan. Dalam waktu yang hampir bersamaan, pasukan Portugis di bawah komando Garcia de Sa menyerang benteng pasukan Nara Singa di Pagoh. Pasukan Melayu pun kocar-kacir. Merebut Kota Melaka kembali gagal.   

 Serangan-serangan atas Kota Malaka yang dipimpin Laksemana Hang Nadim terus dilakukan pada tahun-tahun berikutnya, namun selalu gagal, terutama karena faktor persenjataan yang dimiliki Portugis lebih canggih untuk ukuran di masa itu serta faktor kokohnya Benteng A Famosa. Tapi Sultan Mahmud tak pernah putus asa. Kepada Laksemana Hang Nadim beliau perintahkan untuk menghadang dan merampas setiap kapal yang menuju ke pelabuhan Melaka.Portugis gusar karena Pelabuhan Melaka tidak lebih ramai semenjak mereka kuasai karena kapal-kapal dagang merasa takut mendekati pelabuhan Melaka.Pada 1523 Portugis mencoba menyerang pusat pemerintahan Sultan Mahmud di Kota Kara tetapi dapat ditangkis pasukan Hang Nadim.

Mengawal Kota Kara, Bengkalis, dan Bulang

Pada 23 Oktober 1526pasukan Portugis menyerang Bengkalis dengan armada 20 buah kapal lengkap dengan persenjataan dan tentara di bawah pimpinan Don Sanchez Enriquez. Namun dalam perjalanan pasukan Portugis dihadang pasukan Hang Nadim.Terjadilah pertempuran laut dahsyat yang memakan korban di kedua belah pihak. Tetapi sebagian armada Portugis dapat berkelit dan berlayar ke Bengkalis lalu membombardir pelabuhannya yang disandari kapal-kapal sekutu Sultan Mahmud yang selama ini selalu merompak kapal-kapal dagang sekutu Portugis di Selat Melaka. Setelah berhasil membumi-hanguskan pelabuhan Bengkalis, pasukan Portugis kemudian berlayar ke Bulang (dalam kawasan Kota Batam kini) dan membakar pulau yang merupakan salah satu benteng pertahanan pasukan Sultan Mahmud tersebut.

Sultan Mahmud amat gusar. Seluruh pasukannya dipanggil untuk berkumpul di Kota Kara. Kemudian juga dimintanya pasukan bantuan dari Pahang.Sedangkan Portugis mendatangkan pasukan bantuan dari Goa. Kekuatan armada Portugis yang tetap di bawah komando Don Sanchez Enriquez itu seramai 25 buah kapal lengkap dengan persenjataan tercanggih di zaman itu serta tentara berkebangsaan Eropa 550 orang dan orang Melayu 600 orang.

Serangan pasukan Portugis atas Kota Kara diladeni pasukan Sultan Mahmud tanpa mengenal kata gentar. Pertempuran yang bermula dari laut di bawah komando Hang Nadim itu terus merembet sampai ke pantai. Pasukan Portugis terdesak lalu naik ke darat. Pertempuran sengit pun berpindah ke darat. Pasukan darat yang dipimpin Sang Setia dan Temenggung Sri Udana pun berjibaku dengan pasukan Portugis yang sebagian besar merupakan orang Melayu juga. Sesama Melayu pun saling bunuh untuk membela tuan masing-masing! Akhirnya pasukan darat Sultan Mahmud terdesak. Setelah berperang yang menjatuhkan banyak korban di kedua belah pihak, pasukan Don Sanchez akhirnya berhasil merebut Kota Kara. Dua orang dekat Sultan, Sang Setia dan Temenggung Sri Udana, bahkan tewas dalam pertempuran itu.

Sultan Mahmud, penguasa terakhir Kerajaan Melaka itu, beserta keluarga dan orang-orang dekatnya yang masih hidup, berhasil menyelamatkan diri ke dalam hutan.Tun Nara, pembantu utama Sultan, masih sempat menyelamatkan pusaka kerajaan turun-temurun dan sebagian kecil harta benda berharga lainnyaseperti emas dan perak, sebelum istana dibakar Portugis. Sultan dan keluarga beserta rombongan berhasil diselamatkan sampai ke Kampar dibantu Suku Pedalaman atau Orang Sakai sebagai pembawa beban, bahkan dengan rela bersedia memikul anggota rombongan, terutama kaum perempuan, yang tidak sanggup lagi berjalan dengan cara menggulungnya di dalam tikar.

Di Kampar Sultan menata penadbiran serta membina sebuah negeri yang diberi nama Pekantua dan dijadikan pusat pemerintahan.Dari Pekantua Sultan tetap mengendalikan perjuangan dengan memerintahkan para pelaut Melayu merompak kapal-kapal dagang sekutu Portugis di Selat Melaka yang dipimpin Laksemana Hang Nadim.

Sultan Mahmud Syah I mangkat di Pekantua, Kampar, pada tahun 1528 dengan gelar posthumous atau gelar kemangkatan Sultan Mahmud Mangkat di Kampar atau Sultan Mahmud Mangkat di Pekantua.Beliau digantikan putranya Sultan Alauddin Riayat Syah II.

Selepas mengabdi sebagai Laksemana di bawah perintah Sultan Mahmud Syah I sampai 1528, Laksemana Hang Nadim menjunjung perintah Sultan Alauddin Riayat Syah II yang mendirikan kerajaan Johor pada 1529. Jabatan Laksemana terus disandang Hang Nadim di Kerajaan Johor pada masa pemerintahan Sultan Muzaffar Syah II (1564-1570), Sultan Abdul Jalil Syah I (1570-1571), dan Sultan Abdul Jalil Syah II (1571-1597).  Hang Nadim mangkat di Pulau Bintan dan dimakamkan di sana.***

Samson Rambah Pasir, peminat sejarah yang sudah menyunting beberapa buku, di antaranya Kitab Sejarah Melayu versi milenial setebal 621 halaman yang ditulis Ahmad Dahlan, PhD yang diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta tahun 2014. Juga buku sejarah bertajuk Nong Isa, Tapak Awal Pemerintahan di Batam yang ditulis Ahmad Dahlan, PhD, Aswansdi Syahri, dan Edi Sutrisno yang diterbitkan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batam tahun 2014. Selain itu juga menyelia penulisan dan penerbitan buku sejarah tokoh penting dalam Kerajaan Johor-Riau-Lingga-Pahang, yaitu Raja Ali Kelana dan Pondasi Historis Industri di Pulau Batam (2006) dan Temenggung Abdul Jamal  dan Sejarah Temenggung Riau-Johor di Pulau Bulang 1722-1824 (2007) yang ditulis Aswandi Syahri dan diterbitkan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batam.Novelnya bertajuk Sri Batam didaulat sebagai Juara Pertama dalam sayembara yang dilaksanakan Pusat Perbukuan, Depdikbud, tahun 2000 dan diterbitkan Yayasan Pusaka Riau.

Penentu Kemenangan Raja Haji Melawan VOC pada 6 Januari 1784

0
Hamparan Pulau Paku (Pakoe) dan kawsan Teluk Keriting (perkamppungan di Teluk Keriting) di Tanjungpinang dalam peta alur perlayaran dan labuh jangkar di kawsaan Tanjungpinang dan sekitarnya tahun 1849. (foto: dokumentasi aswandi syahri)

Kubu Teluk Keriting

WALAU Perang Riau Haji berakhir dengan kekalahan dan kemangkatan Raja Haji di Teluk Ketapang Melaka pada 18 Juni 1784, namun titik puncak terpenting dari peperangan terbesar di Nusantara sepanjang abad ke-18 itu terjadi di Tanjungpinang pada 6 Januari 1784: ditandai dengan meledaknya kapal bendera VOC, Malakka’s Welvaaren.

Sepanjang perjalanan sejarah peperangan yang embrionya telah bermula sejak 1782 itu, terdapat banyak sekali titik-titik penting di Tanjungpinang yang terkait rapat dengan peristiwa tersebut. Salah satu titik penting itu adalah Teluk Keriting, atau Kampung Teluk Keriting yang letaknya berdepan-depan dengan Pulau Paku atau eiland Venus menurut peta-peta klasik Belanda .

Dalam sebuah disertasi berbahasa Belanda yang dipertahankan oleh sejarawan Reinout Vos di Universitas Utrecht, yang kemudian  diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Inggris dengan judul Gentle Janus, merchant prince The VOC and the tightrope of diplomacy in Malay worls, 1740-1800 oleh Koninklijk Instituut voor Taal-. Land-en Volkenkunde (1993),  dijelaskan dengan panjang lebar ihwal Perang Riau itu.

Sejauh ini, Reinout Vos adalah satu-satunya sejarawan yang telah merekonstruksi secara lengkap sejarah perang Raja Haji itu dengan menggunakan bahan sumber primer dari kedua belah pihak yang berperang. Ia berhasil mengungkap sebab musabab peperangan yang ternyata sangat kompleks itu, dan menganalisa dampaknya terhadap pentas politik-ekonomi di Selat Melaka untuk jangka waktu yang panjang.

Namun demikian, tampaknya Reinout Vos, lupa mengungkap peran penting yang dimainkan oleh sebuah tempat bernama Teluk Keriting, yang terletak di sebelah Tenggara benteng Raja Haji yang berada di ketinggian puncak Bukit Tanjungpinang (di kawasan komplek rumah sakit Angkatan Laut, di Tanjungpinang, saat ini).

Dalam salah satu bab disertasinya yang diberi judul The 1783-1784 War (Vos, 1993: 147-163), yang khusus membahas peperangan di perairan Tanjungpinang dan Teluk Ketapang, Melaka, Reinout Vos membuat rekonstruksi sejarah peristiwa 6 Januari 1784 itu.

Menurut Reinout Vos, “Pada 6 Januari 1784, setelalu melalui sebuah persiapan yang matang dan panjang, pasukan VOC akhirnya mara ke hadapan dengan sebuah operasi pendaratan di kaki bukit Tanjungpinang, dalam upaya menembus bagian belakang benteng utama Raja Haji yang terletak di puncak dan lerengnya yang menghadap ke laut.

 Di pagi buta itu, kapal-kapal perang VOC berhanyut bersama pasang naik air laut di alur pelayaran sebelah Selatan (alur antara pulau Penyengat dan Tanjung Buntung) yang mengarah ke Tanjungpinang.”

Aslinya, Reinout Vos menulis sebagai berikut: “On 6 Janury 1784, after lengthy preparations, the VOC troop finally went ahead with the landing operation at Riau. In the early hours of the morning, the warships allowed themselves to float with the rising tide in the southern channel towards Riau.”

Apa yang terjadi setelah itu? Sebuah pertempuran laut yang sengit (fierce battle) antara pasukan VOC dan pasukan Raja Haji terjadi. Namun, ketika sinar mentari menyerlah di ufuk timur, perahu-perahu balur pasukan laut Raja Haji diperintahkan mundur.

Kapal-kapal VOC mengira semua itu pertanda awal kemenangan, dan kapal-kapal terus mara mendekati Teluk Riau sehinggalah kandas pada tebing-tebing batu (stone banks) di laut berhampiran Pulau Paku, menjelang menghampiri Bukit Tanjungpinang, yang dibangun khusus oleh pasukan Raja Haji sebagai bagian dari strategi perang dan pertahanan.

Dalam laporan penyelidikan tentang sebab-sebab kekalahan VOC di Tanjungpinang pada 6 Januari 1784 yang dilakukan oleh Hoynck van Papendrecht disebutkan,  kapal-kapal perang VOC yang lain mampu melepaskan diri dari tebing-tebing batu, perangkap yang dibuat Raja Haji dan pasukannya.

Namun demikian, malang tak dapat dielak oleh kapal komando atau kapal bendera (flagship) Malakka’s Welvaaren yang dipimpin oleh Kommissaris Arnoldus Lemker yang penuh dengan pasukan, senjata meriam, serta obat bedil (mesiu). Kapal terbaik dan terbesar dalam ekspedisi di medan perang di laut Tanjungpinang itu tetap terjepit tak dapat melepaskan diri dari tebing-tebing batu yang dibuat oleh pasukan Raja Haji.

Situasi ketika itu semakin memburuk bersamaan dengan pasang surutnya air laut. Sementara itu, pasukan Raja Haji memanfaatkan kesempatan yang mahapenting itu dengan membuka tembakan demi tembakan ke arah Malakka’s Welvaaren yang malang, dari benteng pertahanan mereka di Bukit Tanjungpinang.

Menurut Reinout Vos: dikarenakan panic, Kommissaris Lemker, Komandan Malakka’s Welvaaren, mengirim sebuah detasemen untuk mendarat di Tanjungpinang menggunakan sebuah sekoci melalui bukit Tanjungpinang dalam rangka membungkam benteng-benteng yang ada di bukit itu, dari belakang..

Namun yang terjadi sebaliknya. Belum sempat anggota detasemen tanpa sepatu boot militer (bootless) itu berhasil mendarat, sesuatu yang tak diduga sebelumnya telah terjadi: sebuah tong mesiu (the powder keg) yang terdapat di atas geladak Malakka’s Welvaaren terkena tembakan sebua peluru, yang diikuti dengan ledakan bak detuman halilintar yang paling dahsyat. Akibatnya,  Malakka’s Welvaaren pecah berkeping-keping.

Peristiwa yang terjadi pada 6 Januari 1784 itu menyebabkan penyerangan VOC terhadap Riau (Tanjungpinang) dan keseluruhan ekspedisi militer VOC itu berakhir dengan memalukan: “Het was beschamend”, ungkap sorang sejarawan besar Belanda, H. J. de Graaf, dalam bukunya yang sangat terkenal, Geschiedenis van Indonesie (Sejarah Indonesia: Bandung, 1949).

Namun persoalannya adalah, peluru dari meriam di benteng mana yang mempermalukan VOC-Belanda pada peristiwa 6 Januari 1784 itu? Reinout Vos tak menjelaskan hal ini. Begitu juga setumpuk arsip-arsip Belanda dan lembaran-lembalaran laporan penyelidikan oleh Hoynck van Papendrecht atas peristiwa kekalahan VOC dalam perang laut di Tanjungpinang itu.

Lantans, benteng mana satu dari sekian banyak benteng Raja Haji yang telah menyebabkan hancurnya kapal komando Malakka’s Welvaaren pada 6 Januari 1784? Jawaban atas pertanyan itu dinyatakan Raja Ali Haji dalam karyanya yang berjudul Tuhfat al-Nafis. Penjelasan Raja Ali Haji tentang hal ini masuk akal, apalagi bila kaidah kritik sumber dalam penyelidikan sejarah modern diterapkan ke atasnya. Mengapa? Karena Raja Ali Haji mendapatkan bahan informasi untuk menjelaskan peristiwa itu dari pelaku dan sekaligus saksi mata atas peristiwa itu. Antara lain ia mencatat kesaksian orang-orang seperti Encik Sumpok, Syahbandar Bopeng, dan Encik Kaluk, yang semuanya terlibat dalam peristiwa itu.

Seperti telah dinukilkan oleh Raja Ali Haji dalam Tuhfat al-Nafis, kunci yang membuat VOC-Belanda dipermalukan pada 6 Januari 1784 itu berada pada sebuah kubu atau benteng  di Teluk Keriting.

Dalam peristiwa itu, kubu Teluk Keriting pada mulanya nyaris tewas karena kehabisan mesiu atau ubat bedil. Adalah Syahbandar Bopeng dan Encik Kaluk yang berhasil menyelamatkan satu tong mesiu dari beberapa tong yang dikirim ke benteng Teluk Keriting, setelah sampan mereka karam dihantam meriam kapal VOC.

Dengan memanfaatkan satu tong mesiu itulah peluru dari meriam kubu Teluk Keriting berhasil meluluh-lantakkan kapal bendera Malakka’s Welvaaren pada 6 Januari 1784. Itulah puncak kemenangan Raja Haji yang telah mempermalukan Belanda, kata sejarawan H.J. de Graaf.

Oleh karena itulah, sudah sepatutnya penduduk Kampung Teluk Keriting pada masa kini berbangga hati. Mengapa? Karena kawasan Kampung Teluk Keriting punya andil yang besar dalam peristiwa 6 Januari 1784 yang kini telah dijadikan sebagai momentum historis hari jadi Tanjungpinang, dan diperingati setiap tahunnya. Namun sayangnya kebanggan itu belum tampak pada setiap peringatan hari jadi Tanjungpinang. Mungkin hal ini disebabkan karena ketidaktahuan.

Titik lokasi kubu bersejarah itu harus dicari! Pemerintah Kota Tanjungpinang juga harus memikirkan untuk membuat mercu tanda pada salah titik di Kampung Teluk Keriting. Apalagi ketika bagian dari kawasan kampung bersejarah itu turut dilintasi oleh proyek Gurindam 12 yang menelan miliaran Rupiah. Hal ini penting sempena mengenang peran penting sebuah kubu Raja Haji Fisabilillah di kampung Teluk Keriting dalam peristiwa 6 Januari 1784***

Di Negeri Akhirat Boleh Selamat

0

KISAH ini tentang nasib, tetapi juga kesetiaan, permaisuri Kerajaan Barbari. Siti Rahmah, nama permaisuri itu, tak rela memuaskan nafsu Raja Hindustan yang tak mampu menahan birahi.

Syihabuddin, Raja Hindustan itu, memang telah berniat jika dia dan pasukannya dapat menaklukkan Kerajaan Barbari, Siti Rahmah yang jelita akan direbutnya dari suaminya, Sultan Abdul Muluk, Raja Negeri Barbari.

Karena menolak ajakan, bujukan, bahkan paksaan dengan siksaan Syihabuddin, Siti Rahmah dimasukkan ke bui. Sesampainya sang permaisuri di dalam penjara, peristiwa apakah yang terjadi?

Eloklah disimak kisahnya yang dituturkan oleh Raja Ali Haji rahimahullah dalam Syair Abdul Muluk, antara lain, pada bait 861-862 (Haji, 1846). Kisah nestapa dialami oleh orang berdua. Meskipun begitu, mereka tak tertakluk kepada penceroboh yang membawa angkara murka.     

Hancur hati Siti bangsawan
Melihat hal paduka sultan
Beberapa belenggu rantai di badan
Azab tak dapat lagi dikatakan

Abdul Muluk melihat adinda
Tubuhnya yang permai sangat berbeza
Anguslah hati di dalam dada
Rebah pingsan sultan muda

Penjara mempertemukan kedua orang suami-istri yang telah ditawan. Dalam pertemuan itu, tahulah Siti Rahmah bahwa suaminya tak hanya dikurung, tetapi juga disiksa dengan pelbagai jenis siksaan, dari pukulan sampai dibelenggu dengan rantai, tak ubahnya perlakuan terhadap hewan. Hancurlah hati Siti Rahmah menyaksikan azab dan derita yang dialami oleh suaminya tercinta. 

Syihabuddin pula sengaja memperlihatkan keadaan Abdul Muluk yang tersiksa kepada istrinya dengan satu tujuan. Harapannya agar permaisuri setia itu memohon keringanan hukuman bagi suaminya dengan imbalan Rahmah Jelita bersedia memuaskan nafsu birahinya yang telah mencapai titik ledak sejajar dengan hewan.

Akan tetapi, semua siasat jahat Raja Hindustan tetap tak mempan bagi Rahmah Yang Dipertuan.  

Sebelum dipenjara, Siti Rahmah juga lebih dahulu disiksa dengan pelbagai siksaan yang berat oleh Raja Hindustan. Oleh sebab itu, tampilan dirinya membuat suaminya semakin sedih dan pilu.

Semakin remuk hati Sultan Abdul Muluk begitu mengetahui istrinya diperlakukan secara tak manusiawi oleh Syihabuddin yang serakah. Akan tetapi, dia tak dapat berbuat apa-apa karena dibelenggu di penjara.

Kedua suami-isteri itu diperlakukan demikian karena mereka ditawan setelah kalah berperang. Siti Rahmah sebetulnya dapat terhindar dari kurungan dan siksaan seandainya dia bersedia melayani nafsu birahi Raja Hindustan. Bahkan, jika menyerahkan diri, dia akan dijadikan istri oleh Syihabuddin. Rupanya, Raja Hindustan memang telah lama jatuh hati kepada Siti Rahmah, sejak negeri mereka masih menjalin persahabatan. 

Kala itu dia tak berani menyatakan hasratnya karena Siti Rahmah telah menjadi istri Abdul Muluk, penguasa negeri yang bersahabat dengan negerinya. Setelah dia berhasil mengalahkan Negeri Barbari, barulah hasratnya itu akan dilampiaskan.

Malangnya, kesetiaan dan kecintaan Rahmah terhadap suaminya telah menggagalkan semua angan-manis-ngeri Syihabuddin yang terpendam. Bagi Rahmah, dia rela mati daripada memuaskan nafsu birahi Raja Hindustan.

Jadilah kedua suami istri itu orang tahanan, bahkan setiap hari mereka didera dengan pelbagai jenis pukulan. Walau harus menderita, keduanya tetap bersabar. Bagi mereka, semua siksaan yang diterima merupakan cobaan Allah untuk menguji keyakinan dan iman mereka kepada-Nya. Mereka yakin, jika mereka mampu bersabar meskipun harus mati karenanya, di akhirat mereka akan selamat karena rahmat Tuhan. Mengapakan kedua suami-istri itu sampai pada simpulan keimanan yang sungguh mengagumkan?

“Mereka itulah orang yang dibalas dengan martabat yang tinggi (di surga) karena kesabaran mereka dan mereka (akan) disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya,” (Q.S. Al-Furqan, 75).

Jaminan Allah itulah yang mendasari keimanan Abdul Muluk dan Siti Rahmah. Dengan keyakinan yang kokoh itu, tiada sebarang siksaan Syihabuddin dapat membuat mereka berpaling tadah. Jangankan sekadar disiksa, bahkan kalau dibunuh pun keimanan mereka tak akan goyah. Bersabar menghadapi ujian-Nya merupakan karakter terpuji lagi mulia dalam perhubungan manusia dengan Allah.

Suami-istri pemimpin Negeri Barbari itu mendasarkan keyakinan mereka kepada ketauladanan. Siapakah yang mereka pedomani dalam hal kesabaran ketika menghadapi ujian Tuhan? Karya Syair Sinar Gemala Mestika Alam, antara lain bait 77-78, mengisahkan tokoh yang menjadi anutan orang-orang yang bersabar karena keimanan (Haji dalam Malik & Junus 2000, 130).

Apabila dizahirkan olehnya Nabi
Agama Islam yang terpuji
Mendustakan kaumnya ahlil-makki
Menyakiti dengan sumpah dan maki

Tiada diindahkan Nabi Muhammad
Bersungguh-sungguh juga mengajar ummat
Melepaskan daripada kafir zhalalat
Di negeri akhirat boleh selamat

Tokoh yang mereka tauladani tak lain tak bukan adalah Rasulullah SAW. Walau dicaci-maki oleh kaumnya di Mekah karena menyiarkan agama Allah,  Rasulullah tetap tak berganjak.

Rasulullah terus melaksanakan amanah yang dititipkan Allah kepada Baginda. Tantangan dari kaumnya sangat keras dan bertubi-tubi, tetapi tak seinci pun Baginda mundur demi menjayakan perintah Allah. Baginda bersabar karena taat kepada Allah dan sayang kepada umatnya. Matlamat Baginda tiada lain agar umat manusia selamat di akhirat kelak.

Dari Ibnu Umar r.a. beliau berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Orang mukmin, yang bergaul dengan manusia dan dia bersabar atas perlakuan buruk mereka, itu lebih besar pahalanya dari pada orang mukmin yang tak bergaul dengan manusia dan dia tak bersabar atas perlakukan buruk mereka,” (H.R. Ahmad, Bukhari, dan Ibnu Majah). 

Sikap yang diambil oleh Abdul Muluk dan Siti Rahmah ternyata memang sulit diatasi oleh manusia kelas rendah seperti Syihabuddin. Betapa tidak? Yang dicontohi oleh kedua suami istri dari Negeri Barbari itu adalah tokoh tauladan, manusia suci, yang bahkan dalam melaksanakan perintah Allah, Baginda pun harus menghadapi ujian kesabaran. Matlamat untuk menyelamatkan manusia lebih Baginda utamakan walau harus menghadapi pelbagai cabaran. Memang itulah sesungguhya ajaran Tuhan.

Dalam pada itu, Syihabuddin dari Negeri Hindustan hanyalah sekadar pelayan syaitan. Untuk memuaskan nafsu berkuasa dan birahi, dia rela memutuskan hubungan persahabatan. Segala perbuatannya itu memang menjadi hidangan terlezat bagi iblis yang dipertuan. Sehebat-hebatnya pengikut iblis dan atau syaitan, suatu ketika dia akan bertemu lawan. Nantikan saja, ada Siti Rafiah yang akan melakukan tindak balasan.

Sabar yang menjadi pilihan Siti Rahmah dan Abdul Muluk tak terbantahkan sebagai karakter yang membawa berkat. Dengan bersabar, martabat mereka sebagai manusia jadi terangkat. Jaminan itu bukan berasal dari makhluk yang lidahnya pandai bersilat, melainkan langsung dari Allah, Sang Pemilik Dunia dan Akhirat. Berbahagialah pasangan setia Muluk dan Rahmah, karena sampai di negeri akhirat pun, mereka dipastikan selamat.***

Jepang Menduduki Batam dan Pulau Sambu 19 Februari 1942

0

Perang Dunia II juga berdampak pada wilayah Batam dan sekitarnya. Tanggal 8 Februari 1942, Jenderal Tomoyuki Yamashita langsung memimpin menyerang tentara Sekutu di Singapura. Meski bala tentara lebih sedikit, dengan strategi penyerangan yang jitu dan cepat,  Sekutu dibawah pimpinan Letnan Jenderal Arthur Ernest Percival dibuat tak berkutik. Sepekan kemudian, 15 Februari 1952, tentara Sekutu di Singapura menyerah pada Jepang.

Usai menguasai Singapura, Jepang bergerak cepat untuk menguasai wilayah semenanjung lainnya. Lokasi pertama yang diincar dan diduduki adalah Pulau Batam dan Pulau Sambu, yang wilayahnya tidak jauh dari Singapura. Peristiwa pendudukan Jepang di Batam dan Pulau Sambu diberitakan sejumlah surat kabar tanggal 20 Februari 1942 atau keesokan harinya.

Surat kabar  Het volk, terbitan  20 Februari 1942 memberitakan peristiwa ini dihalaman utama dengan judul: Jepang Menduduki Batam. Dalam koran ini ditulis pasukan Jepang tanpa perlawanan dan tanpa kehilangan diri menduduki Pulau Batam dan Pulau Sambu yang berada di selatan Singapura. Pasukan Jepang mengambilalih 15  tangki minyak di Batam dan 20 tangki minyak di Pulau Sambu. Saat pasukan Jepang datang, kedua daerah itu dalam lautan api. Kobaran api dimana-mana. Pasukan Inggris melakukan bumi hangus sebelum meninggalkan daerah itu. Keberhasilan menduduki Batam, terjadi empat hari setelah berhasil mengalahkan Sekutu di Singapura.

Koran lainnya Haarlem’s Dagbalad tanggal 20 Februari juga memberitakan peristiwa penyerangan Jepang ke Batam ini di halaman utamanya. Mengutip kantor berita Jepang, Domei, diberitakan setelah pendudukan Singapura berakhir, pasukan Jepang tanpa pertumpahan darah menduduki Pulau Batam dan Sambu di Kepulauan Riau.  Di Batam, Jepang berhasil menguasai 15 tangki minyak atau 1200 barel, dan 1500 butir peluru artileri. Sementara di Pulau Sambu, dikuasai 20 Tangki minyak. Pengelolaan minyak di kedua pulau itu dilakukan perusahaan bernama BPM dan Standar Oil. 

Sebelum menduduki Batam dan Pulau Sambu, wilayah pertama di Kepri yang dikuasai Jepang adalah Tarempa (Pulau Tujuh). Tiga skuadron pesawat Jepang menyerang Tarempa 14 Desember 1941. Tarempa di Pulau Siantan sangat penting artinya karena letaknya strategis bagi pertahanan Belanda, karena itu pemerintah Belanda menempatkan stasiun radio yang dikepalai oleh orang Belanda sendiri di sana. Untuk mcnguasai daratan Riau (Sumatra) maka pulau ini haruslah terlebih dahulu direbut.  Tarempa yang terletak di District Siantan di Laut Cina Selatan itu dihujani dengan bom disertai tembakan-tembakan gencar yang mengakibatkan banyaknya orang yang terbunuh . Serangan itu diulang kembali ‘pada tanggal 19 Desember 1941 yang diikuti oleh pendaratan pasukan Angkatan Laut Jepang pada tanggal 25 Januari 1942. Ketika Jepang menyerang Tarempa, staf pemerintahan Belanda di sana melarikan diri. Mereka berkumpul di Pekanbaru dan Siak. (Marleily,1983:85).

Usai menguasai Batam, Jepang tanggal 21 Februari 1942 menduduki Tanjungpinang. Kedatangan pasukan Jepang ke sana telah mendapat bantuan dari beberapa tokoh Cina di sana antara lain ialah Cia Sun Haw, Oei Cap Tek dan Cei Pit Sip. Fakta ini cukup menarik karena kedatangan Jepang justru tak mendapat penolakan  dari masyarakat. Kedatangan Jepang di daerah ini disambut dengan hangat olch penduduk . Penduduk sungguh kagum melihat keberhasilan Jepang mengusir Belanda. Orang-orang Belanda yang sangat mereka takuti dan hormati selama ini ternyata tidak mampu mengadakan perlawanan sama sekali terhadap Jepang. Keadaan demikian melunturkan anggapan rakyat selama ini terhadap Belanda yang dianggap  bangsa yang tak terkalahkan. Ternyata Belanda tidak berbeda dengan mereka yang juga mengenal rasa takut. Peristiwa itu besar artinya bagi pemupukan rasa percaya diri sendiri yang memperkuat kesadaran kebangsaan.

Pemerintahan Jepang di Kepulauan Riau berada di bawah kekuasaan Angkatan Laut Jepang di Syonanto (Singapura). Wakil Syonanto Kabitai (Datuk Bandar Singapura) di Riau ialah Residen. Pada awal masa pendudukan Jepang jabatan Residen Kepulauan Riau dipegang oleh seorang Jepang yang telah tua, bekas Corps elite tentara Kwan Tung bernama G.Yogi. Daerah Elaerahdaerah Districthoofd seperti Tanjungpinang, Tanjung Balai Karimun, Dabo Singkep dan Tarempa dikepalai oleh To Co. Sedangkan bekas onderdistricthoofd (Son) dikepalai oleh Sonco. **

Fase Akhir Gerakan Kesultanan Riau 1946-1950

0
Bagian akhir dari sepucuk surat tanggal 1 Juli 1950 lengkap dengan stempel Persatuan Melaju Riouw Sedjati (P.MR.S.) di Singapura yang dikirim oleh T. Hamzah bin Achmad (Setia Usaha P.M.R.S. di Singapura) kepada Jang Mulia Paduka Tuan Besar Ir. Sukarno President Republik Indonesia Serikat yang bersemayam di Istana-Gabier, di Jakarta. (dokumentasi aswandi syahri)

(Bahagian Kedua)

Sejak sekitar pertengahan 1946,  kelompok Gerakan Kesultanan Riau (yang disebut sebagai Sultanaat Riouw Beweging dalam arsip-arsip Belanda tentang gerakan politik ini)  dan beberapa perwakilan “lawan politiknya” yang dimpim Dr. Iljas Datuk Batuah memindahkan aktifitas politik mereka ke Tanjungpinang, menyusul adanya “respons baik” dari pemerintah Belanda yang kembali berkuasa. Di Tanjungpinang, kedua kelompok ini  membuat organisasi politik baru. Tulisan ini, adalah bahagian akhir tulisan minggu yang lalu. Masih dalam tema yang sama, tulisan ini akan memaparkan fase akhir Gerakan Kesultanan Riau yang mempunyai misi menghidupkan kembali pemerintahan Kerejaan Riau-Lingga yang telah dihapuskan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1913.

Bergerak di Tanjungpinang

Permohonan untuk mendapatkan hak berpemerintahan sendiri (zelfbestuur) dalam bentuk menghidupkan kembali lembaga Sultan dan Kerajaan Riau-Lingga ternyata dijawab oleh pemerintah Belanda dengan rencana pemembentukan dewan pemerintahan sipil yang bernama Riouw Raad (Dewan Riau) di Tanjungpinang.

Menaggapi rencana pembentukan Riouw Raad ini, sejumlah anggota penting Persatuan Melayu Riau Sejati (PMRS) pencetus Gerakan Kesultanan Riau yang pada mulanya berbasis di Singapura, akhirnya pindah  ke Tanjungpinang sempena merebut pengaruh politik dalam Riouw Raad  yang akan dibentuk itu.

Setelah bergerak di Tanjungpinang, kelompok ini kemudian mengaktifkan kembali organisasi Djawatan Kuasa Pengurus Rakjat Riau (JKPRR), dengan tokoh-tokoh: Raja Haji Abddullah Oesman sebagai ketua; Wakil ketua Tengku Ahmad Atan; Encik Jafar Haji Uda sebagai sekretaris; dan anggota-anggota yang berasal dari perwakilan daerah Pulau Tujuh, Karimun, Lingga, dan Singkep. Secara eksplisit, organisasi ini semakin mempertegas tujuannya untuk berjuang “mengembalikan kedaulatan raja-raja Riau.”

Dalam disertasinya yang berjudul, The Indonesian Revolution and Singapore Connection 1945-1949,  sejarawan Yong Mun Cheong mencatat bahwa JKPRR didukung oleh sekelompok pedagang-pedagang Cina lainnya yang juga punya andil dalam membantu  perjuangan mereka untuk mengembalikan kerajaan Riau-Lingga. Kelompok ini dipimpin oleh salah seorang pemilik usaha tambang timah di Singkep bernama Koh Peng Kuan yang berasal daerah Geylang, Singapura. Bersama-sama dengan pengurus JKPRR, Koh Peng Kuan pernah menggelar sebuah pertemuan di Singapura pada 10 Agustus 1946, dalam rangka mendukung gerakan itu.

Kepada Kong Peng Kuan, Raja Haji Abdullah Oesman menjanjikan akan menunjuknya sebagai kontraktor tunggal bagi sejumlah proyek pembangunan di Riau-Lingga bila kerajaan itu berhasil dipulihkan.

Selain itu, ia juga dijanjikan akan mendapatkan monopoli dalam usaha penambangan timah di Pulau Singkep. Sebagai kompensasi terhadap janji-janji itu, Koh Peng Kuan kemudian dilaporkan telah menyumbang uang sebanyak $16.000,- hingga $20.000,- pada bulan Februari 1946, dan menjadi tanda dukungannya terhadap Gerakan Kesultanan Riau.

Kompromi Politik

Di Tanjungpinang, gerakan “restorasi” Kesultanan Riau-Lingga yang dikumandangkan oleh JKPRR mendapat pelawanan dari kelompok Republieken pimpinan Dr. Iljas Datuk Batuah yang juga menarik-pulang anggota perwakilannya di Singapura ke Tanjungpinang.

Kelompok Dr. Iljas, yang dalam arsip-arsip Belanda disebut sebagai niet-Riouwers (bukan orang Riau asli, yang terdiri dari gabungan etnis Minangkabau, Jawa, Batak, Palembang, keturunan India, Arab, Menado dll) kemudian membentuk sebuah organisasi perjuangan yang bernama Badan Kedaulatan  Indonesia Riau (Raja?) di Tanjungpinang,  yang disingkat BKIR, pada tanggal 8 Oktober 1945.

Organisasi ini bertujuan untuk memperjuangkan masuknya daerah utama bekas kerajaan Riau-Lingga atau seluruh wilayah Kepulauan Riau, yang ketika itu masih dikuasai Belanda, ke dalam struktur pemerintahan Negara Republik Indonesia yang baru diproklamasikan, dan membentuk pemerintahan baru yang melibatkan penduduk tempatan  orang Riau asli (Riouwer) dibawah pemerintahan Soekarno-Hatta.

Dalam pertarungan politik ini, apa yang dituntut oleh BKIR dan sejumlah ‘organisasi bawah tanah’ onderbouw-nya, dijawab oleh Resident Riouw dengan pemberian otonomi (zelfbestuur) melalui pembentukan Dewan Riouw Sementara, dan tetap berada dibawah pemerintahan Hindia Belanda. Peresmian Pembentukan Riouw Raad Sementara ini dilakukan pada 4 Agustus 1947 di Tanjugpinang.

Pembentukan Riouw Raad Sementara sekaligus menjadi jawaban bagi tuntutan Persatuan Melayu Riau Sejati (PMRS) yang mendukung Gerakan Kesultanan Riau. Tokoh utama PMRS seperti Raja Haji Abdullah Oesman, Encik Jafar Haji Uda, dan Tengku Ahmad Atan @ Tengkoe Achmad bin Tenkoe Atan juga diangkat menjadi anggota Riouw Raad bersama tokoh-tokoh ‘lawan politik’ mereka dari BKIR. Begitu juga dengan perwakilan tokoh Tionghoa di Tanjungpinang, Pulau Tujuh, dan tokoh-tokoh Melayu dari Lingga, serta Kontroleur Belanda di Tanjungpinang, berdasarkan besluit Gubenur Jenderal Hindia Belanda No. 9, tanggal 12 Juli 1947.

Demikianlah, dalam pertelagahan politik, kompromi adalah jalan keluar yang terbaik. Raison d’etre (pembenaran atau justifikasi) makna persatuan yang ‘subjektif’ sebagai motor penggerak Persatuan Melaju Riau Sedjati juga sirna bersama munculnya Raison d’etre makna persatuan yang baru dalam sebuah wadah majelis perwakilan rakyat bernama Riouw Raad (Dewan Riau) untuk bersama-sama merintis sebuah pemerintahan yang baru di Kepulauan pasca proklamasi 17 Agutus 1954.

Misi Ke Jakarta

Bagaimana akhir kisah perjuangan Gerakan Kesultanan Riau dalam menghidupkan kembali Kerajaan Riau-Lingga? Apakah mereka berhenti setelah Riouw Raad terbentuk? Tulisan singkat ini hanya memaparkan secara ringkas bagian kecil dari sebuah peristiwa besar dalam “Gerakan Sultan Riau” yang kompleks.

Masih diperlukan sebuah kajian sejarah yang mendalam, dengan memanfaatkan bahan sumber arsip sezaman. Sangat banyak bahan arsip dan laporan sezaman, baik yang bersal dari pihak Belanda maupun lokal, serta bahan lain yang dapat membantu. Dalam simpanan saya, tedapat ratusan lembar salinan bahan arsip yang dihimpun dari Nationaal Archief  Belanda di Den Haag dan Arsip Nasional Republik Indoensia di Jakarta, yang sangat kaya dengan informasi dan data otentik tentang persoalan ini.

Namun yang jelas, gema perjuangan “gerakan ini” masih terus terdengar setelah Kepulauan Riau sebagai bekas wilayah utama kerajaan Riau-Lingga diberi hak “otonom” dalam bentuk zelfbestuur dibawah kendali Riouw Raad bikinan Belanda yang diresmian pada 4 Agustus 1947 di Tanjungpinang. Bahkan mereka masih bergerak ketika Kepulauan Riau telah menjadi sebuah Kabupaten bagian dari Negara Republik Indonesia setelah penyerahan kedaulatan pada bulan Desember 1950.

Satu hal yang pasti, hingga bulan September 1950, kepercayaan terhadap keberhasilan Gerakan Kesultanan Riau ini  masih kuat. Paling tidak, dikalangan zuriat dan keluarga Sultan Riau terakhir dan pendukungnya di Singapura.

Beberapa ilustrasi dapat saya kemukakan dalam kesempatan ini. Dari Singapura, seorang bernama T. Hamzah  bin Achmad yang menyebut dirinya sebegai Vice-Presiident dari Setia UsahaPersatuan Melaju Riouw Sedjati” (P.M.R.S) pernah melayangkan sepupucuk surat kepada President Republik Indonesia Serikat, Paduka Tuan Besar Ir. Sukarno, yang bersemayam di Istana-Gambier di Jakarta pada 1 Juli 1950, menyusul surat yang dikirimkan dari Singapura pada 9 Januari 1950. Isinya masih sama. ‘Restorasi’ Kesultanan Riau-Lingga dan mengusulkan Tengku Ibrahin bin Tengku Omar sebagai calon Sultan Riau yang baru.

Setahun kemudian, tepatnya 31 Agustus 1950, masih dari Singapura, sepucuk surat registered-Air-Mail dengan perihal serupa dilayang oleh Ketua Setia Usaha PMRS bernama Capt. Ismail bin Ahmad. Isinya penuh pengharapan kepada Presiden Soekarno dan dengan pertolongan Bupati Riouw (Kepulauan Riau). Bagian penting surat itu ditulis sebagai berikut: “…berharaplah kami orang Ra’jat Riouw dari Luar dan Dalam Negeri semuanya bertjinta [bercita-cita?] akan menerima Radjanya kembali dengan seberapa segera dengan dikorniakan oleh Negara R.I. jang adil dan berdaulat itu,…”

Bagaimana hasil ‘diplomasi’ dan misi ke Jakarta ini? Satu hal yang pasti, pada 10 Desember 1950, setelah selama dua bulan mengunjungi Jakarta dalam rangka sebuah negosiasi ‘memujuk’ pemerintah Republik Indonesia sempena “menghidupkan kembali” Kerajaan Riau-Lingga, Tengku Ibrahim bin Omar memberikan sebuah “isyarat yang menggembirakan” sesaat setelah ia mendarat di Kallang Airport Singapura. Oleh karena itu, ia disambut dengan gegap gempita oleh pendukungnya.

Ketika ditanya oleh reporter surat kabar The Straits Times, cucu mantan Sultan Riau-Lingga yang terakhir itu memberikan jawaban yang meyakinkan. Ia mengatakan bahwa, “…his talks [in Jakarta] were ‘secret’”. Ada sebuah pembicaraan yang sifatnya rahasaia di Jakarta. Ia mengharapkan Presiden Soekarno mengunjungi Rhio (Tanjungpinang) dengang segera (…but [he] added that the Indonesian President, Dr. Soekarno, is expected to visit Rhio “very soon”).

Pada 11 September 1950, Presiden Soekarno memang datang bertandang ke Tanjungpinang. Dan Kepulauan Riau ketika itu telah bergabung kedalam Republik Indonesia sebagai hasil dari Konfrensi Meja Bundar (KMB). Namun, Presiden Soekarno datang untuk misi yang lain. Sebuah kunjungan ‘propaganda’ untuk menjelaskan masalah Irian Barat, dan ‘meredam’ dampak aksi-aksi ‘gerakan revolusoner’ yang mulai memanas di Sumatera, di tengah revolusi Indonesia yang belum selesai.***

Bagian 1 : https://jantungmelayu.com/2020/08/fase-akhir-gerakan-kesultanan-riau-1946-1950/

Berbakti di Dunia, Berbudi ke Akhirat

0
Gurindam Dua Belas.

SEMENJAK dunia tercipta, entah telah berapa negeri-negara yang pernah berdiri, tak terbilang jumlahnya. Seiring dengan perjalanan waktu, manusia menyaksikan jatuh-bangun dan berdiri-runtuhnya negeri-negara, yang umumnya sangat bergantung kepada rakyatnya dan lebih-lebih kepiawaian penyelenggaranya.

Negeri-negara yang dipimpin oleh pemimpin yang berkualitas akan berjaya. Sebaliknya pula, negeri- negara yang pemimpinnya kurang atau tak bermutu akan jatuh, bahkan lenyap seiring dengan peredaran masa.

Berdasarkan fakta itu, pemimpin negeri-negara serta seluruh penyelenggaranya haruslah orang yang memenuhi syarat mutu utama: bersifat, bersikap, dan berperilaku terpuji lagi mulia. Barulah kemudian menyusul syarat-syarat lainnya. 

Dalam karya beliau Gurindam Dua Belas (GDB, 1847), Raja Ali Haji rahimahullah (RAH) bertutur tentang peri kehidupan berbangsa dan bernegara. Perkara yang mustahak itu ditempatkan pada Pasal yang Kedua Belas.

Keseluruhan pasal penutup GDB itu memerikan perihal akhlak dan muamalah, yakni perhubungan manusia dengan manusia. Utamanya tentulah berkaitan dengan pemimpin negara dan atau negeri serta seluruh penyelenggaranya. Semua mereka itu sesungguhnya adalah orang-orang yang diamanahkan menjaga kebaikan dunia untuk sasaran akhirnya manfaat akhirat.

Ini bait 1, “Raja mufakat dengan menteri, seperti kebun berpagar duri.” Bait pertama dimulai dengan sentuhan piawai sedemikian rupa. Apa tanda penyelenggaraan negara atau kepemimpinan negeri yang baik? Pada mulanya, pemimpin negeri-negara itu (apa pun namanya untuk setiap pergantian pemerintahan sesuai dengan semangat zamannya, dalam GDB disebut raja) dan para bawahannya (apa jugalah sebutannya, GDB menyebutnya menteri) senantiasa seiya-sekata, seaib-semalu,  dan senasib-sepenanggungan, mufakat, sesuai dengan peraturan yang berlaku. Artinya, tentu mufakat baik, bukan mufakat jahat.

Matlamatnya tiada lain agar penyelenggaraan negara dan atau pentadbiran negeri dapat berlangsung dengan baik sehingga mendatangkan kemakmuran bagi negeri-negara dan kesejahteraan bagi rakyat.

Alhasil, negeri-negara terkawal dengan baik, tak sesiapa penceroboh pun berani menyusupinya, apatah lagi memorakporandakannya. Pasalnya, negeri-negara telah “seperti kebun berpagar duri.”

Perhubungan antara pemimpin dan bawahannya bagai kulit dengan isi, begitu sanggam, begitu serasi, begitu sebati, begitu mesra, dan saling menjaga. Bukan sebaliknya, di antara mereka berlumba-lumba untuk bantah-membantah, bantai-membantai, atau malu-memalukan untuk kepentingan pragmatis sesaat dan terkesan kampungan dilihat dari perspektif kepemimpinan yang bertamadun. Para pemimpin yang memiliki semangat tim yang terpaduserasilah yang terjulang namanya. 

Bait 2 pula bertutur, “Betul hati kepada raja, tanda jadi sebarang kerja.” Itulah kunci kedua dalam penyelenggaraan negeri-negara. Bawahan dan rakyat tak berprasangka buruk kepada pemimpin.

Tentulah syaratnya sang pemimpin pun harus mampu menunjukkan kinerja kepemimpinan yang baik, bersih, dan unggul sesuai dengan peraturan yang berlaku, yakni undang-undang dan peraturan lainnya. Konsekuensinya, sang pemimpin tak boleh berpaling tadah dari garis kepemimpinan yang benar, dia tak boleh, sengaja atau tidak, berbuat salah.

Dalam keadaan sang pemimpin berada pada jalan yang benar dan lurus, para bawahan serta rakyat berprasangka baik terhadapnya, karena memang tak ada alasan yang membenarkan sesiapa pun untuk mencurigainya, semua program kerja yang telah direncanakan akan dapat dilaksanakan dengan baik, “tanda jadi sebarang kerja.” Alhasil, pentadbiran negeri-negara dapat berlangsung secara aman, damai, dan selesa. Pada gilirannya, semua matlamat yang hendak dituju tak terlalu sukar untuk diraih. Bawahan dan rakyat dengan kualitas seperti itulah yang piawai menjaga negeri-negaranya.

Kualitas sekaligus ujian utama kepemimpinan ialah mampu berlaku adil. Pemimpin, sesuai dengan kapasitasnya, berhak atas keadilan. Bawahan juga memiliki hak yang sama.

Tanpa harus dibedakan, rakyat pun harus diperlakukan secara adil. Pemimpin yang mampu berlaku adil sama ada pada dirinya, bawahannya, dan rakyatnya berarti dia berkualitas dan lulus ujian kepemimpinan. GDB Pasal XII, Bait 3, mengingatkan, “Hukum adil atas rakyat, tanda raja beroleh inayat.”

Pemimpin yang adil akan diterangi cahaya Ilahi dalam kepemimpinannya. Seberat apa pun masalah yang dihadapinya, akan dapat dihadapi dan diatasinya dengan baik. Dia tak akan gopoh jika menghadapi persoalan. Karena apa? Dia senantiasa mendapatkan pertolongan (inayat) Allah. Akhirnya, dia akan keluar sebagai pemenang dengan pertolongan: bukan dari sebarang orang atau makhluk, melainkan dari Tuhan Yang Maha Penolong. 

Dia memperoleh kenikmatan kepemimpinan yang tiada bertara. Dari keningnya memancar cahaya kewibawaan yang membuat semua orang menaruh hormat kepadanya, tanpa dipaksakan dengan pencitraan atau berpura-pura. Dialah pemimpin yang tak seorang manusia pun kuasa menolaknya, bahkan iblis pun ngeri bersua dengannya. Dialah pemimpin sejati, pemimpin yang adil, yang namanya akan harum selama-lamanya.

Lalu, GDB Pasal XII dilanjutkan dengan Bait 4, “Kasihkan orang berilmu, tanda rahmat atas dirimu.” Bagaimanakah kita memahami bait ini? 

Pertama, pemimpin itu sendiri seyogianya dicari dari kalangan orang yang berilmu. Hanya orang yang berilmu yang benar dan baiklah yang berpotensi menjadi pemimpin yang baik. Tugas kepemimpinan memang memerlukan pemecahan dan pencerahan yang mesti didasari oleh ilmu tertentu dengan kadar tertentu. Ketika kepemimpinan diserahkan kepada orang yang bukan ahli, negeri pun senantiasa diliputi suasana ngeri. Siapakah yang salah sehingga orang dengan kualitas rendah boleh menjadi pemimpin negeri-negara?

Kedua, pemimpin pun seyogianya menyayangi orang yang berilmu. Dia tak segan-segan meminta bantuan, berkonsultasi, dan bertukar pikiran dengan orang yang berilmu dalam menyelesaikan masalah dalam kepemimpinannya.

Dia, bahkan, akan berupaya meningkatkan kuantitas dan kualitas orang yang berilmu di wilayah kekuasaannya. Kesemuanya dilakukannya sebab dia tahu bahwa dengan begitulah kepemimpinannya akan mendapat rahmat dari Allah. Bukankah hanya kepemimpinan yang dirahmati Allah yang akan berjaya? Dialah pemimpin yang semua orang menaruh hormat kepadanya.

Pemimpin yang cerdas komprehensif, yang mampu mengimplementasikan kecerdasannya untuk mewujudkan kepemimpinan yang benar, patutlah dihormati. Segala anugerah kepandaian yang dimilikinya digunakannya untuk memajukan negeri dan menyejahterakan rakyat.

Tak ada alasan, bahkan dapat digolongkan berdosa, untuk menolak pemimpin dengan kualitas baik lagi hebat itu. “Hormat akan orang yang pandai, tanda mengenal kasa dan cindai,” demikian GDB Pasal XII, bait 5, berperi tentang orang yang pandai atau cerdas mengimplementasikan kepemimpinan.

Sebaliknya pula, pemimpin pun haruslah hormat kepada para cendekiawan. Tak boleh terjadi, justeru, cerdik-pandai dimusuhi karena khawatir akan menjadi pesaing dalam kepemimpinannya. Pemimpin yang cerdas akan menjadikan para cendekiawan sebagai mitra dalam kepemimpinannya.

Dengan begitu, matlamat kesejahteraan dan kebahagiaan dapat diraih dengan relatif mudah dan tak berlama-lama. Pemimpin seperti itu mampu membedakan yang buruk dengan yang baik, dia “mengenal kasa (kain kasar lagi murah) dan cindai (sutera halus yang sudah pasti mahal)”. Jadilah dia pemimpin kelas atas sehingga tiada orang yang pernah berani berbuat culas.

Selanjutnya, “Ingatkan dirinya mati, itulah asal berbuat bakti.” GDB Pasal XII, bait 6, ini mengingatkan para pemimpin bahwa apa pun bakti yang dilakukan di dunia ini, tak hanya berguna semasa hidup di dunia, tetapi lebih-lebih, itulah yang akan menjadi bekal yang dibawa mati.

Pasalnya, belum pernah terjadi dalam sejarah manusia bahwa ada pemimpin yang tak mati-mati. Oleh sebab itu, bakti luhur kepemimpinan mestilah dijadikan bekal berharga untuk kehidupan sesudah mati. Kalau hal itu disadari dan diyakini, tak ada alasan untuk menodai misi suci kepemimpinan. 

GDB diakhiri dengan Pasal XII, bait 7, “Akhirat itu terlalu nyata, kepada hati yang tidak buta.” Nampakya, tugas utama kepemimpinan adalah merawat hati agar ianya tak telanjur buta. Dalam hal ini, hati sendiri, hati orang-orang sekitar, dan tentu hati rakyat sekaliannya. Bukankah semua perbuatan di dunia harus dipertanggungjawabkan di akhirat, lebih-lebih amanah kepemimpinan di dunia, bagi mereka yang percaya? 

Seyogianya, kepemimpinan merupakan upaya membangun singgasana mulia di akhirat melalui bakti-suci di dunia. Pasalnya, di akhirat yang namanya pembangunan tak lagi dikenal karena kesemuanya telah tersedia. Kalau tak surga, dapat dipastikan neraka, yang sangat setia menanti para penghuninya. Jangan pernah terpikirkan, “Ah, itu dusta!” Selamat Tahun Baru 1442 Hijriah disertai doa dan harapan akan rahmat dari Allah Azza wa Jalla.***

Baharu

Hak Cipta Terpelihara. Silakan Bagikan melalui tautan artikel