Beranda blog

Kota Tanjungpinang Tahun 1939

0
aringan jalan dan tata-letak bangunan di Kota Tanjungpinang dalam fragmen peta tahun 1950-an koleksi Aswandi Syahri. (foto: dokumentasi aswandi syahri)

Tersebab bentangan geografisnya yang terdiri dari daratan dan lautan, Residentie van Riouw (nama Kepulauan Riau pada zaman Belanda), pernah dijuluki oleh seorang penulis sebagai Zeeland-nya Hindia Belanda (Riouw, het Indische Zeeland).

Julukan ini diberikannya karena, sama seperti Kepulauan Riau, Zeeland adalah sebuah provinsi paling barat di negeri Belanda yang wilayahnya juga terdiri dari laut (zee) dan daratan (land).

Oleh redaktur surat kabar berbahasa Belanda, Soerabaiasch-Handelsblad, yang terbit di Surabaya, penulis tak dikenal (anonymous) itu dicatat sebagai onzen correspondent (koresponden kami di Riau, Tanjungpinang). Ia berangkat dari Pulau Jawa menggunakan kapal “Java” milik K.P.M. (Koninklijke Paketvaart-Maatschappij, Perusahaan Perlayaran Kerajaan Belanda), dan tiba di Tanjungpinang yang ia sebuat sebagai “rumah masa depannya” (mijn toekomstige woonplaats) pada bulan Februari 1939.

Besar kemungkinan koresponden surat kabar Soerabaiasch-Handelsblad itu adalah orang Belanda yang pindah tugas ke Tanjungpinang. Kesan pertamanya tentang Kota Tanjungpinang yang bersih, indah, rapi, dengan kenyamanan yang modern pada tahun 1939, digambarkannya dalam sebuah reportase yang menarik untuk disimak.

Berikut ini kesan apa adanya dari seorang yang pertamakali datang ke Tanjungpinang dan berkeliling menjelajahi sudut-sudut menarik kota ini pada tahun 1939. Diterjemahkan dan dikemas semula dari sebuah reportase yang ditulis dalam bahasa Belanda, yang dimuat dalam surat kabar Soerabaiasch-Handelsblad edisi 13 Februari 1939. Selamat membaca!

Padangan Pertama

Di luar teluk, yang terhalang oleh Pulau Penyengat, “Java Baot” milik K.P.M. labuh jangkar. Perahu-perahu motor mengepulkan asapnya dan mendekat. Di kejauhan tampak kota rumah masa depan saya.

Saya telah membaca uraian tentang kota itu dalam buku “Wijsheid en Schoonheid uit Indië” (Kemolekan dan Kearifan dari Hindia Belanda) karya Henri Borel, sehingga saya tahu satu bagian dari kota tersebut dibangun di atas bukit: tempat di mana seseorang dapat melihat pemandangan yang indah ke teluk yang terhampar Pulau Penyengat.

Bukit itu terlihat jelas dari laut. Rumah-rumah modern dibangun di lereng-lerengnya, dan tersembunyi di antara pohon-pohon cemara. Bagian atas rumah-rumah itu ditutupi atap genteng merah yang besar. Selanjutnya adalah bangunan Fort Kroonprins (Benteng Putra Mahkota), di mana terdapat tangsi dan barak-barak militer di dalamnya.

Di kaki bukit itu terdapat sebuah jembatan, di mana di ujungnya dibanguan sebuah dermaga beratap. Sementara itu, di bagian dalam teluk orang akan bertemu dengan lalu lalang perahu motor yang mengesankan kehidupan. Sebuah kontras yang kentara dibandingkan dengan kebanyakan kota di Pulau Jawa.

Di kaki bukit ini terdapat juga bangunan rumah Resident Riouw dan daerah takluknya (Gedung Daerah), dengan sebuah taman yang besar, yang terawat dengan baik. Selain itu, di tempat ini ada juga sebuah bangunan bertingkat yang menarik perhatian, dengan rupa yang sangat bersih. Merupakan kantor keresidenan.

Di belakangnya, tepatnya disamping bukit itu berdiri pula sebuah bangunan Gereja Katolik Roma (Rooms Katholieke Kerk) yang modern dan bagus. Dari dermaga itu, pemandangan sekeliling luar biasa bagusnya.

Kesan Pertama

Adalah suatu yang mengejutkan. Taman-taman umum dan tanaman pagar di pinggir jalan, dan juga bagian-bagian kecil lainnya, memperihatkan kesan dirawat. Menambah kebersisihan kota kecil ini. Jalan utama di Kampung Cina yang berada di sebelah kiri kawasan rumah Resident Riouw juga bersih, dimana terletak bangunan agen K.P.M yang dibangun dengan gaya modern di sebelah bangunan Pesanggerahan.

Bangunan Pesanggerahan itu dilengkapi dengan kursi rotan ultra-modern (ultra-moderne rotanzitjes) yang terkesan menyenangkan. Hanya saja kekurangannya, ketika masuk ke kamar tidur, tempat tidur modernya berada dalam sebuah kamar penuh nyamu

Ini adalah kesan pertama saya tentang Tanjungpinang. Kemudian, pada hari itu juga sekali lagi saya menjajaki tempat tinggal baru saya itu.

Jalan raya di Kampung Cina adalah satu kesatuan yang harmonis; seluruh bangunan rumah bertingkat di kedua sisi jalan itu sama bentuknya, semua dilengkapi dengan serambi depan tempat orang berjalan kaki. Sejak zaman dulu kedua sisi jalan ini membentuk galeri pertokoan, seperti di Jalan Tunjungan di Surabaya, dan seperti yang dibanguan di tepi-tepi jalan di Singapura.

Kampung Pelantar

Di sepanjang bagian belakang jalan raya Kampung Cina ini, dan laut di pinggir teluknya adalah kampung Cina yang teletak diatas tiang-tiang. Melintang diantara lantai papan yang disebut plantars, dan tak henti-hentinya dilintasi oleh gadis-gadis Tionghoa yang jenaka dalam balutan baju piyama warna hijau, biru, dan merah jambu. Mereka berjalan dengan irama gemeletak terompah bakiak Singapura yang dipernis berwarna.

Perempuna-perempuan yang lebih tua kebanyakannya memakai baju hitam yang dikenal sebagai Baju Jawa. Tak seorang pun dari mereka berbahasa Melayu, semuanya berbahasa Tionghoa. Pada beberapa toko, orang-orang Tionghoa itu ada yang dapat berbahasa Belanda dengan benar, karena disini ada H.C.S. [Hollandsch Chinese School yang kemudian menjadi Holandsch Inlandsche School atau H.I.S, dan kini bangunan menjadi gedung Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah]

Bila tamat dari sekolah itu, dan ingin melanjutkan pelajarannya, selalu tergantung pada Pulau Jawa atau Medan, dimana anak-anak itu harus berangkat dengan K.P.M dan biayanya mahal.

Akibatnya, mereka masuk ke sekolah Tionghoa (Toan Poon School) dimana mereka dapat tambahan pelajaran bahasa Inggris, dan kemudian dapat melanjutkan sekolah ke Singapura dimana keluarga dan teman mereka tinggal. Tambang kapal yang termurah ke Singapura hanya 10 sen.

“Kampung Eropa”

Di bagian bukit Tanjungpinang, jaringan jalan melingkar-lingkar, tempat dimana sebagian besar rumah orang-orang Eropa berada. Kawasan khusus ini mempunyai pemandangan yang bagus dan dapat menjadi contoh perencanaan jalan yang menurut kaidah akal. Perencaan jalannya sekelas Kotrapraja (stadsgemeente) atau kawasan ibukota kabuten (Regentschapshoofdplaats) di pegunungan Pulau Jawa. Sementara itu, di sepanjang kawasan Heerenstraat (Jalan Teuku Umar) indah ditanami dengan pohon Pinang Raja (koningspalmen).

Meskipun Tanjungpinang berpenduduk sekitar 7000 jiwa, kota ini mempunyai jaringan pipa air ledeng yang dikelola oleh sebuah lembaga khusus pengelola keuangan kota yang disebut stadsfonds.

Sebagai perbandingan, jumlah penduduk Kotapraja (Stadsgemeente) Pekalongan yang jumlah pendudknya sepuluh kali lebih besar masih menanti semua fasilitas itu.
Di Tanjungpinang ada jaringan telepon yang mulai masuk tahun 1939, ada douane (kantor Bea-Cukai), ada kuda, sapi, dan “warung makan berjalan” (“wandelende warongs”) dengan tahu, soto, dan makanan lezat lainnya.

Orang Melayu

Satu kesan pertama saya tentang orang Melayu. Sebagian besar berjalan dengan rapi, hampir seperti orang Sunda: celana putih kaku yang dikanji mengkilap, rapi, dengan sepatu dan kaus kaki, ditambah sehelai kemeja polo dengan lengan digulung. Persis seperti anak muda India di kota-kota di Pulau Jawa .

Golongan laki-laki Melayu yang terhormat selalu memiliki jam di pergelangan tangan kirinya, dan kebanyakan dari mereka berjalan dengan sekaleng rokok buatan Inggris di tangan kanannya. Semua dapat dibeli dengan mudah ”sebab tiada ada duty” (karena semuanya tidak kena pajak). Parfum juga disukai karena alasan yang sama.

Tidak ada gadis-gadis Tionghoa yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga (huisbedienden) di Tanjungpinang. Selalunya yang menjadi tukang cuci adalah orang Jawa dan Sunda. Di kota ini, seorang pembantu yang baik berharga bagaikan emas.***

Perjalanan Ilmiah Ke Pulau Batam dan Bulang Tahun 1905-1906

0
Selat Boelan (Bulang), Senimba Baai (Teluk Senimba) dan Pulau Bulang dalam peta Pulau Batam dan alur perlayaran di Selat Riau tahun 1909 (foto: dok. aswandi syahri)

SETELAH menjelajahi pulau-pulau di Laut Cina Selatan pada tahun 1900, Cecil Boden Kloss (zoologist berkebangsaan Inggris yang pakar tetang mamalia dan burung)  dua kali berkunjung ke Pulau Batam pada tahun 1905 dan 1906.

Sama seperti misinya ke pulau-pulau dalam Kepulauan Riau yang terhampar di kawasan Laut Cina Selatan, dua kali kunjungannya ke Pulau Batam itu adalah sempena perjalanan imiah sebagai seorang zoologist dan naturalist; tujuannnya adalah mengumpulkan spesimen fauna tempatan yang mungkin menarik bagi ilmu pengetahuan.

Mula-mula Boden Kloss mengunjungi kawasan Teluk Senimba di sekitar Tanjung Riau, yang terletak di bagian Timur Pulau Batam, pada bulan September 1905. Selanjutnya, pada bulan Maret 1906, ia menyusuri Selat Batu Hadji (Batu Aji) dengan tujuan ke Pulau Bulang.

Catatan dua kali perjalanan ilmiah ke Pulau Batam itu kemudian dipublikasikan dalam Journal of the Straith Branch of the Royal Asiatic Society, No. 50, September 1905, dengan judul “Some Visit to Batam Island ”. Berikut ini adalah sedutan yang diterjemahkan dari bagian-bagian laporan perjalanan itu.

***

Teluk Senimba

Meskipun Pulau Batam begitu dekat jaraknya dengan Singapura, dan seringkali dikunjungi oleh para pemburu babi, namun belum pernah diteroka oleh pakar tumbuhan dan hewan (naturalist), sehingga keringkasan berikut ini, yang bahannya berasal dari cacatan yang terkumpul selama dua kali kunjungkan singkat ke Pulau Batam untuk mengumpul spesimen fauna, mungkin menarik.

Pulau Batam berjarak 9 mil dari Sungapura, kira-kira 15 mil panjang dan 10 mil lebarnya. Sisi sebelah utara agak menjorok ke dalam, dan pada bagian lain dikelilingi rapat oleh pulau-pulau lain.

Terdapat perbukitan pada bagian tengahnya yang ditutupi hutan, di mana terdapat hamparan lapisan batu akik (quartz) yang luas dan membentuk butiran-butiran.

Kebanyakan dataran-dataran rendah Pulau Batam yang suatu saat pernah dibuka, adalah kawasan berpaya atau berpasir dan sangat tidak subur. Namun di hamparan tanah laterite merah tersebut tumbuh dengan subur tanaman nanas yang diusahakan oleh orang Bugis dan orang Cina yang bermukim di kawasan itu.

Sejumlah besar pohon karet muda (Dichopsis sp.) ditemukan di hutan-hutan, tempat sekelompok masyarakat Proto Melayu (Orang Darat), yang masih sangat sedikit dipengaruhi oleh anasir luar, mengembara.

Kunjungan pertama saya ke Pulau Batam dilakukan dalam bulam September 1905. Saya meninggalkan Singapura menggunakan sebuah perahu kecil yang cepat pada pukul 11 pagi, dan diterpa badai yang datang mendadak menjelang Pulau Sambu sebelum patang. Kemudian terus menghilir ke arah sebuah tebing pasir yang pasang rendah, namun tetap setinggi galah, dan lego jangkar di hujung Teluk Senimba pada pukul 5.30 petang.

Teluk tersebut sangat dangkal dan pada saat air surut dataran lumpur yang luas menghampar disekelilingnya. Saya mengumpulkan sejumlah kerang kecil yang menarik, dengan warna-warni yang cerah. Terdapat tujuh buah rumah di kampug di  Teluk Senimba itu, dan selanjutnya sejumlah bangunan lain terletak di sepanjang pantai.

Setelah mengemas barang bawaan dan turun ke darat keesokan paginya, kami menemukan sebuah kedai Cina yang telah ditinggalkan, di belakang kampung. Kedai ini kami buka paksa dan mengeluarkan semua sampah yang terdapat di dalamnya ke bagian samping.

Saya atur tempat tidur saya, meja dan kursi pada bagian tengah ruangan dimana pembantu saya menempatkan dapurnya dan tempat tidurnya. Terdapat sebuah sumur untuk air minum dan sebuah sumur untuk mandi yang letaknya agak jauh, sehingga membuat kami cukup senang.

Sekumpulan bukit yang ditumbuhi pohon kayu memanjang dari selatan ke bagian timur, ke arah tengah Pulau Batam. Sebuah sungai mengalir di ujung Teluk Senimba dan besimpangan sejauh satu mil pada sebuah kawasan tanjung yang panjang.

Ketika saya duduk sambil ngobrol dengan penduduk setempat di luar rumah pada waktu petang, kami melihat mata sekor buaya besar di atas air yang tenang, kira-kira 140 yards jauhnya. Saya diminta untuk menembaknya, namun jarak tembak senapang saya hanya 100 yards.

Mereka memaksa. Saya bidik  dengan tepat dan menembaknya dari kursi tempat saya duduk; setelah sedikit meronta dan marah, reptil itu pun menghilang. Penduduk setempat mengira binatang itu kena. Dan benar, tiga atau empat hari kemudian, kami menemukannya di Pohon Bakau.

Pada pukul 3 petang, saya keluar dengan sebilah parang dan menemukan jalan setapak yang mengarah ke atas perbukitan; membersihkannya dan menaruh 3 lusin perangkap. Ketika kembali, saya mendapatkan sepasang ‘tupai tanah, ( Tupaia ferruginea batamana sp. Nov.). Juga terjerat dan terlihat beberapa ekor babi kecil. Saya kuliti tupai itu, dan setelah santap malam menyusuri sepanjang pantai untuk berburu babi. Namun saya tak melihat seekor pun.

Setelah sepekan menjelajahi kawasan perbukitan di sekitar Teluk Senimba di Pulau Batam, pada tanggal 23 September 1905, saya menyewa sebuah sampan besar yang tiris berpendayung pendek, dan berkayuh ke Pulau Sambu. Dari Pulau ini, saya naik sebuah kapal penumpang, dan kembali ke Singapura.

Pulau Bulang

Kunjungan saya yang kedua kalinya ke Pulau Batam dikarenakan keinginan untuk mengumpulkan [fauna dan flora] di puncak perbukitan Pulang Bulang.

Saya meninggalkan Singapura pada 18 Maret 1906. Pada kesempatan ini, saya menggunakan sebuah prau [perahu] Melayu yang tidak dapat berlayar sebagaimana layaknya sebuah cutter [sejenis kapal layar Eropa], dan kami harus sedikit berkayuh, terutama ketika berada diantara tide-rips di belakang Pulau Sambu.

Namun bagaimanapun, pada pukul tujuh kami dapat mencapai Pulau Boyan, tempat dimana seorang Controleur [pejabat pemerintah kolonial Belanda setinggkat Camat] yang ditempatkan, dan lego jangkar pada arus yang kuat, di Selat Batu Hadji, untuk bermalam.

Saya mendapatkan bahwasanya Tuan Controleur, orang yang baru saja diangkat, tidak dapat memberikan sebarang informasi tentang Pulau Bulang. Namun ia dengan ramah memberikan saya bantuan seorang polisi selama  perjalanan, yang saya tolak karena tidak berguna dan menyulitkan saja.

Arus air laut yang kuat yang menghadang kami, meski tidak ada angin sepanjang pagi itu, sehingga kami melewati waktu dengan mengisi balang air dari sebuah sumur di Pulau Bulang: karena tidak ada air tawar di Pulau Boyan.

Pada sebelahnya petangnya, ketika arus air laut berkurang, kami berlayar kembali hingga malam tiba, dan mencapai sebuah kapung dimana saya berharap dapat naik ke darat untuk beristirahat.

Pada pagi berikutnya ketika berjalan puncak perbukitan Pulau Bulang, saya mendapatkan jalan kesitu melewati rawa-rawa. Sehingga kami memutuskan untuk berlayar kembali mencari sebuat tempat untuk berhenti, akan tetapi hutan kedua sisi selat itu telah lama dibersihkan dan tidak mungkin digunakan sebagai daerah untuk mengumpulkan fauna dan flora.

Karena saya tidak diperlengkapi dengan sebarang perlengkapan untuk membuat tempat berteduh, akhirnya diputuskan untuk berlabuh di Teluk Senimba sekali lagi–terutama sekali karena saya ingin menembak babi yang berjanggut. Tidak diragukan, banyak tempat-tempat yang memuaskan di bagian dalamnya, namun untuk pergi ke tempat itu harus siap-siap untuk berkemah.

Setelah meninggalkan selat tempat berteduh, kami kembali kepada saat-saat yang sibuk menghapapi angin haluan yang kencang; prau, tidak dapat berjalan dalam cuaca yang buruk dan kami harus bertahan setiap saat. Namun ketika kami mencapai Teluk Senimba, adalah  satu yang menarik untuk menyinggahi sebuah kampong.

Air laut pasang surut. Dan begitu kami sampai, ada sekor babi pada sebuah kubangan lumpur, sehingga menyebabkan saya berdayung kencang ke arahnya dengan senapang. Namun demikian babi lari menghilang diantara rimbunan pohon bakau. Saya berada di belakang kemudi selama delapan jam tanpa sepatah kata dan tersiksa karena sinaran mentari.

Kedai tempat tinggal saya sebelumya telah dirobohkan. Namun orang Cina lainnya telah membangun sebuah kedai baru yang juga gagal dipergunakan, sehingga kami memutuskan untuk mengambil tempat kosong itu sebagai tempat tinggal seperti sebelumnya.

Pada tanggal 22 Maret itu, kami berkeliling di kawasan sekitarnya pada siang hari namun hanya melihat “krah’ [kera]; memintas dan menurun ke arah sebuah jalan kecil pada bagian sisi sepanjang dasar sebuah jurang yang kering, dengan harapan menemukan hutan. Namun yang ditemukan hanyalah sebidang tanah yang dipenuhi semak belukar.

Saya menghabiskan petang hari itu di lumpur smbil mengumpulkan batu karang, dan bunga karang dalam berbagai warna dan bentuk. Para perempuan Kampong menangumpulkan kerangan-kerangan dalam berbagai cara; mereka menyibak lumpur untuk membuat lubang pada tempat dimana kerang-kerangan hidup dan kemudian mendorong dengan agak kuat.

Saya memperoleh tiga belas spesies mamalia selama dua kali kunjungan ke Pulau Batam. Dengan kata lain, mamalia di Pulau Batam sesungguhnya telah habis (exhausted): untuk itu jika hal tersebut benar-benar terjadi, untuk memastikan laporan tentang adanya Presbytes, M. nemestrina, Paradoxurus, Sciuropterus dan Ratufa (sejenis tupai raksasa)  adalah hal yang menarik.

Namun untuk mendapatkan semua ini, barangkali perlu berkemah di tengah-tengah Pulau Batam, di mana hutan yang baik mungkin masih ada.***

“Perdamaian Kuala Bulang” 3 September 1803

0
Ilustrasi karya Deddy Junizar dalam komik Engku Puteri Raja Hamidah: menggambarkan perahu Engku Busu di Kuala Bulang (Batam), tempat berlangsungnya perdamaian Raja Ali ibni Daeng Kemboja dan Engku Muda Raja Muhammad pada 3 September 1803. (foto: aswandi syahri)

Peristiwa ‘berbahagi permakanan’ diantara pihak Yang Dipertuan Besar dan pihak Yang Dipertuan Muda dalam sejarah Kerejaan Riau-Lingga, yang ditandai dengan penetapan Negeri Riau jadi milik Raja Hamidah adik-beradik dan Negeri Lingga menjadi bahagian…Tengku Abdulrahman oleh Sultan Mahmud Ri’ayatsyah pada 1803, tidaklah dapat dilakukan semudah membalik telapak tangan.

Ada serangkaian peristiwa politik penting mendahuluinya, yang kemudian dikunci dengan sebuah perdamaian di atas perahu Engku Busu yang berlabuh di Kuala Bulang, berhampiran Pulau Batam: sebuah peristiwa yang ‘samar-samar’ diungkapkan oleh Raja Ali Haji dalam Tuhfat al-Nafis.

***

Baik manuskrip Melayu maupun kepustakaan Belanda dan Inggris, sama-sama mencatat bagaimana kerasnya sikap Engku Muda Raja Muhammad ibni Temenggung Abdul Jamal menjelang perdamaian antara  puak Bugis dan Melayu dapat diwujudkan pada 1803: butuh waktu tiga tahun, dan melibatkan banyak pihak, termasuk Sultan Mahmud Ri’ayatsyah di Lingga.

Bagaimanapun juga, Engku Muda Raja Muhammad tetap duduk dalam martabat Temenggung yang tidak menggunakan gelarnya, dan tetap menyebut dirinya Engku Muda. Dengan kata lain, proses menuju perdamaian tersebut tidaklah sesederhana seperti penjelasan  Raja Ali Haji dalam Tuhfat al-Nafis.

Oleh karena siasah Raja Ibrahim Yang Dipertuan Selangor tidak membawa hasil, maka menjelang akhir tahun 1801, Sultan Mahmud Ri’ayatsyah mengutus Datuk Bendahara Abdul Majid ke Pulau Bulang sebagai penengah, sekaligus sebagai wakilnya dalam upaya mendamaikan dan menyelesaikan “perselisihan politik” antara Engku Muda dan Raja Ali ibni Daeng Kemboja. Namun, upaya Datuk Bendahara Pahang itu gagal. Ia melaporkan situasi yang dihadapinya di Pulau Bulang kepada Sultan Mahmud Ri’ayatsyah di Daik-Lingga.

Menanggapi kegagalan misi Datuk Bendahara Abdul Majid ini, Sultan Mahmud mengirim sepucuk surat kepada Engku Muda pada tanggal 30 Desember 1801, dengan maksud mengundangnya untuk datang datang  ke Lingga bersama Bendahara, sempena membicarakan penyelesaian perselisihan dengan Raja Ali ibni Daeng Kemboja.

Engku Muda menolak undangan tersebut. Menurut Eliza Netscher dalam bukunya yang berjudul De Nederkanders In Johor en Siak (1870), Engku Muda menyatakan keengganannya datang ke Lingga melalui sepucuk surat jawaban bertarikh 30 Desember 1801,; “…hij bang was voor de tweede maal met suiker gevangen te worden, eenmaal op zulk eene wijze  de proef op Riouw verleden jaar ondergaan hebbende” [ “…ia takut ditangkap kedua kalinya dengan umpan gula, karena ia pernah diperlakukan seperti itu di Riau pada tahun yang lalu”].

 Bahkan dalam suratnya itu, Engku Muda menuntut  10.000 Spanyol sebagai ganti ats kerugian yang dideritanya di Negeri Riau. Apabila tuntutan tersebut dipenuhi,  barulah ia akan datang ke Lingga. Surat penolakan dan sekaligus tuntutan tersebut dibubuhinya dengan tanda tangan: “Engku Muda, Raja Bulang dan Bintan, mantan Sultan Riau” [Ongkoe Moeda, Radja van Bulang en Bintang, gewezen Sultan van Riouw].

Karena menghadapi kebuntuan dan perlawaan keras dari pihak Engku Muda Raja Muhammad, Bendahara Abdul Majid bertolak ke Lingga untuk bicarakan langsung dengan Sultan Mahmud Ri’ayatsyah pada bulan Februari 1801. Hasilnya, Sultan Mahmud mengusahakan beberapa poin kompromi  untuk mendamaikan Raja Ali ibni Daeng Kemboja dan Engku Karaeng Talibak disatu pihak dengan Engku Muda Raja Muhammad di pihak lain.

 Pertama, Raja Ali diberi kuasa memerintrah Negeri Riau selama hidupnya, namun kekuasaan tersebut tak dapat diwariskan. Kedua, Engku Karaeng Talibak ditetapkan sebagai orang kedua yang mengurus orang-orang Cina, Melayu, Bugis, dan para pedagang yang kemudian dilaporkan kepada Raja Ali. Keduanya menjadi penggawa atas nama Sultan Mahmud Ri’ayatsyah. Dalam hal ini jabatan yang disandang oleh Engku Karaeng Talibak pun tidak dapat diwariskan.

Lalu apa yang ditetapkan oleh Sultan Mahmud untuk Engku Muda Raja Muhammad?  Bahan sumber yang digunakan Eliza Netscher (1870) tak menyebutkan apa-apa. Akan tetapi sebuah bahan sumber Melayu yang bejudul Hikayat Kerajaan  menjelaskan bahwa Engku Muda Raja Muhammad ditetap menjadi seoang Temenggung yang memerintah Riau dan Johor. Winstedt (1932) memperkirakan, persyaratan yang sama juga ditetapkan pada jabatan Engku Muda sebagai Temenggung yang berkedudukan di Pulau Bulang.

***

Namun bagaimanapun, sekali lagi langkah yang diambil Sultan Mahmud Ri’ayatsyah dan Bendahara Pahang tidak membawa hasil. Bahkan ketika keputusan tersebut disampaikan kepada Raja Ali ibni Daeng Kemboja dan Engku Muda Raja Muhammad pada bulan Maret tahun 1802, keduanya tidak puas.

Ada desas-desus bahwa Raja Ali ibni Daeng Keboja akan minta bantuan pihak asing (Inggris); dan setidaknya Engku Karaeng Talibak telah berangkat dengan kapal Inggris ke Melaka untuk mencari dukungan Inggris yang mungkin dapat memulihkan  kekuasaan orang-orang Bugis di Riau setelah mendengar keputusan yang diambil Sultan Mahmud Ri’ayatsyah dan Bendahara Pahang.

Sebaliknya, Engku Muda Raja Muhammad menolak jabatan Temenggung karena ia menghendaki kedudukan  Yang Dipertuan Muda Riau, yang sejak zaman Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah (1722) berada di tangan  puak Bugis.

Hikayat Kerajaan yang digunakan Winstedt, mencatat bagaimana kerasnya reaksi Engku Muda Raja Muhammad, sebagaimana tergambar dalam sebuah dialog antara Engku Muda Raja Muhammad dengan keponakannya, Daeng Abdulrahman (kelak menjadi Temenggung Abdulrahman). Bakan ia menyebut-nyebut hak dan asal-usulnya yang setaraf dengan Sultan Mahmud Ri’ayatsyah.

Menurut Winstedt, isi dialog itu sebagai berikut: “Jika beta tak dapat menjadi Raja Muda, beta tak hendak sesebuah gelar. Namun kesemua pulau besar dan pulau-pulau kecil dan tanah Johor adalah dibawah beta dan tentu Pahang adalah milik (ayah-ku) Datuk Bndahara Abdu’l-Majid:…Seharusnya kita memilek [pemilik] negeri sebab kita se-pusaka dengan Sultan. Mengapa ia melakukan sesukanya. Seperti  dirinya, kita juga adalah keturunan dari S.(Sultan) Abdu’l-Jalil (Marhum-Kuala Pahang) dan adat mentahbiskan kita memerintah negeri dan bagaimana ia dapat menghalangi kita? Meskipun beta tak dinobatkan siapakah yang akan menolak kekuasaan beta?”

***

Akhirnya, Sultan Mahmud Ri’ayatsyah sendiri yang datang ke Pulau Bulang untuk mendamaikan Engku Muda Raja Muhammad dan Raja Ali ibni Daeng Kemboja. Namun demikian, ketika mengetahui bagaimana kerasnya sikap dan  prinsip yang dipegang oleh Engku Muda, Sultan Johor itu merasa dihadapkan pada sebuah “tembok yang kokoh”. Apalagi mengingat garis keturunan Engku Muda yang kuat dari pihak ayah maupun bundanya.

Namun bagaimanapun, sikap keras Engku Muda luluh juga ketika Sultan Mahmud Ri’ayatsyah sendiri yang memintanya agar berdamai dengan Raja Ali ibni Daeng Keboja. Bahkan Sultan Johor itu juga merestui anak sulunya yang bernama Tengku Husin atau Tengku Long dinikahkan dengan anak perempuan Engku Muda yang bernama Encik Puan Bulang. Dua hal ini memperlihatkan posisi tawar dan kedudukan Engku Muda Raja Muhammad yang tinggi di mata Sultan Mahmud Ri’ayatsyah dalam perselisihan politik antara puak Melayu dan Bugis di istana Kereaan Johor ketika itu. Senada dengan ini,  sejarawan R.O. Winsted (1932) mengataka, “…mestilah ia [Engku Muda Raja Muhammad]  mempunyai kedudukan yang tinggi dikedua pihaknya karena Sultan Mahmud menyerahkan kepadanya anak sulungnynya yang bernama Raja Hussain untuk dikhitankan dan dinikahkan, apalagi ketika itu Raja Hussain [Tengku Long] dianggap sebagai waris penggantinya”.

Setelah Raja Ali ibni Daeng Kemboja dari Riau tiba di Pulau  Bulang dengan iring-iringan empat puluh buah sampan pukat Cina yang berisikan panglima-panglima Bugis, maka berdamailah Raja Ali ibni Daeng Kemboja dengan Engku Muda Raja Muhammad di atas perahu Engku Busu yang berlabuh di Kuala Bulang.

Sebuah salinan manuskrip Melayu yang berjudul Sejarah Raja-Raja Riau, salah satu bahan sumber yang digunakan oleh Raja Ali Haji dalam penulisan Tuhfat al-Nafis, menyebutkan bahwa “Pedamaian Kuala Bulang” [istilah ini adalah dari saya] terjadi pada 16 Jumadil Awal 1218 hijriyah yang bersamaan dengan 3 September 1803.

Perdamaian Kuala Bulang” ini adalah penanda berakhirnya “perselisihan politik” antara puak Bugis yang dipimpin oleh Raja Ali ibni Daeng Kemboja dan Engku Karaeng Talibak dengan pihak Melayu di bawah Engku Muda Raja Muhammad yang menggelar dirinya “Raja Bulang dan Bintan, mantan Sultan Riau.” 

Dalam salinan manuskrip Sejarah Raja-Raja Riau yang kini tersimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia di Jakarta, peristiwa “Perdamaian Kuala Bulang” tersebut dicatat sebagai  berikut:

Hijrat al-Nabi Salallah-‘Alaihi Wassalam sanah 1218 tahun kepada tahun dal akhir, kepada enam belas hari bulan Jumadil Awal hari Isnin waktu Zohor, dewasa itulah Yang Dipertuan Muda Raja Ali berdamai dengan Engku Muda dengan titah Duli Yang Dipertuan Besar di perahu Engku Busu di Kuala Bulang. Setelah sudah berjumpa Yang Dipertuan Muda dengan Engku Muda di hadapan Engku Busu maka Yang Dipertuan Muda dan Engku Muda dan Engku Busu pun beramai2 dengan Bugis dan Melayu mengadap kebawah Duli Yang Dipertuan Besar [Sultan Mahmud Ri’ayatsyah] yang maha mulia serta Yang Dipertuan Muda bersumpah.

Maka di dalam sumpahnya, sekali-kali tiada patik berniat khianat pada kebawah Duli Tuanku serta dengan saudara patik sekalian. Jikalau ada patik berniat khianat pada kebawah Duli Tuanku serta saudara patik sekalian, dikutuki Allah dan Rasulnya atas patik. Tiada selamat dunia akhirat hingga sampailah kepada anak cucu patik sekalian. Maka titah Duli Yang Dipertuan Besar pun demikian juga. Sekali-kali tiada kita berniat khianat akan Raja Muda adanya. Jikalau khianat Bugis kepada Melayu dibinasakan Allah dan Rasulnya.”***

Rusydiah Kelab dan Al-Imam

0
Sebahagian Anggota Rusydiah Club, Dokumentasi : Aswandi Syahri

INI bukan kelab sebarang kelab. Rusydiah Kelab namanya, suatu kelab pemimpin Melayu terbilang. Mereka terdiri atas para pemikir, penulis, politisi, dan pengusaha cerdas, berpengetahuan luas, dan berani. Kelompok cendekiawan Kesultanan Riau-Lingga itu, oleh Hasan Junus dalam Karena Emas di Bunga Lautan (2002) digelar sebagai kelompok penekan (pressure group). 

Demi kebenaran dan kemajuan negara yang signifikan, melalui tulisan-tulisan dan orasi mereka, Rusydiah Kelab tak segan mengeritik pemerintah, apakah sultan (Sultan Abdul Rahman al-Muazam Syah II) ataupun Pemerintah Hindia-Belanda. Mereka tak pernah ragu atau takut karena yang diperjuangkan adalah kebenaran dan demi kebaikan negara dan bangsa. 

Rusydiah Kelab berdiri pada 1885. Di antara tokoh pendirinya adalah pengusaha, politisi, pejabat pemerintah, juga penulis handal, Raja Ali Kelana ibni Yang Dipertuan Muda X Kesultanan Riau-Lingga Raja Muhammad Yusuf Al-Ahmadi. Dengan jabatan Kelana, beliau adalah calon Yang Dipertuan Muda berikutnya. 

Raja Ali Kelana tak sudi bertuankan Belanda setelah sultan dimakzulkan Belanda pada 1911. Beliau memilih berhijrah ke Johor. Di sana beliau diangkat oleh Sultan Johor menjadi Penasihat Politik dan Ketua Urusan Agama Islam Kerajaan Negeri Johor, suatu jabatan yang jauh lebih mulia daripada menjadi “penguasa boneka” Penjajah Belanda (kalau beliau mau) di tanah tumpah darahnya sendiri. Namun, beliau terus berjuang untuk membebaskan tanah airnya dari cengkeraman penjajah walaupun akhirnya gagal. 

Saudara seayah Sultan Abdul Rahman itu adalah pemilik perusahaan batubata Batam Brickworks di Batam, pengusaha banyak rumah sewa di Singapura, dan pemilik perkebunan yang sangat luas di Batam dan Bintan. Yang paling menarik dari misi bisnis para pemimpin Kesultanan Riau-Lingga kala itu adalah ini. Kesemuanya dilakukan agar sanak-saudara tak ada yang susah hidupnya dan terbentuk persatuan yang kokoh di kalangan bangsa Melayu (Junus, 2002). Bagi Raja Ali Kelana, begitu beliau menjatuhkan “talak” kepada Pemerintah Hindia-Belanda, semua harta-benda dunia miliknya di Kepulauan Riau ditinggalkannya.

Tokoh-tokoh lain Rusydiah Kelab adalah Khalid Hitam, Sayid Sekh Al-Hadi Wan Anom, dan Syekh Jalaluddin Tahir Al-Azhari Al-Falaki. Sayid Sekh Al-Hadi adalah anak angkat Raja Ali Kelana dan pengelola perusahaan batubata milik ayah angkatnya. Beliau pernah belajar di Mesir dan berguru dengan Muhammad Abduh di Kairo. Kemudian beliau menjadi tokoh pemikir besar di Malaysia. Sejak 1904 Rusydiah Kelab dipimpin oleh Tengku Besar Umar ibni Sultan Abdul Rahman Syah II, yang dipanggil pulang dari belajar di Hoofdenschool Bandung karena khawatir pengaruh negatif lingkungan Belanda. Beliau dididik langsung oleh pamannya Raja Ali Kelana dan Khalid Hitam untuk menjadi calon sultan. 

Rusydiah Kelab juga mendirikan badan penerbit. Selain menerbitkan karya kalangan sendiri dan para penulis dunia, mereka juga mengelola majalah Al-Imam. Penyandang dana utamanya siapa lagi kalau bukan Sang Karismatik Raja Ali Kelana. Penanggung jawab redaksinya adalah Syekh Jalaluddin Tahir Al-Azhari Al-Falaki.

Ada baiknya ditelusuri dua perkara yang pernah disorot Al-Imam tentang pemimpin. Pertama, perihal teori lama Melayu yang menyatakan bahwa raja adalah zhilullahi fil ardh atau bayang-bayang Allah di bumi. Berhubung dengan itu, Al-Imam mengulasnya sebagai berikut.

“Doktrin ini walau bagaimanapun memerlukan sumbangan dan kualiti tertentu yaitu pengetahuan, kebijaksanaan, kebenaran, kesengajaan, kelakuan yang baik, bersimpati kepada yang lemah, sayang akan rakyatnya, cekap dalam pentadbiran dan politik, memahami sejarah raja-raja masa silam. Ini ialah karena dunia ini dari satu segi adalah warisan kerajaan-kerajaan mereka, lalu usaha-usaha mereka menjadi kenangan kerajaan-kerajaan yang selanjutnya,”  (Al-Imam, Vol. 2, No. 8, 4 Februari 1908, hlm. 24).

Jelaslah bahwa Al-Imam tak menolak bahwa raja atau pemimpin merupakan bayang-bayang Allah di muka bumi. Akan tetapi, penguasa yang ideal itu harus memenuhi persyaratan tertentu. Di antara syarat itu seperti yang diperikan di atas. Hanya kalau mampu memenuhi syarat itulah seseorang baru boleh dijadikan pemimpin dan dapat pula menyandang bayang-bayang Tuhan di bumi.  

Sebagai lawan dari sifat terpuji itu, Al-Imam juga menyoroti sifat yang tak boleh ada pada seseorang raja, pemimpin, atau penguasa. “Jika raja jahil dan berkelakuan jahat, tiada cita-cita, tamak dan mengingini hak orang lain, berpikiran sempit, bodoh, mempunyai motif jahat, tidak jujur, maka tidak ragu-ragu sikap sedemikian itu akan menyebabkan keruntuhan negaranya ke dalam jurang yang merugikan akibat penyimpangan daripada jalan yang benar,” (Al-Imam, Vol. 2, No. 12, 12 Juli 1907, hlm. 26—27).

Orang yang bermotif jahat hanya berupaya menumpuk kekayaan, menekan pihak lain, dan sebagainya, dan tak jujur. Manusia seperti itu tak patut dan tak layak dijadikan pemimpin. Penyebabnya tiada lain adalah kalau dia menjadi pemimpin, dia akan membawa negara dan bangsanya ke jalan yang tak benar sehingga negara atau negeri akan runtuh. 

Para pengasuh Majalah Al-Imam jelas berkiblat kepada pemikiran senior mereka Raja Ali Haji rahimahullah (RAH) dalam Muqaddima fi Intizam dan Tsamarat al-Muhimmah. Di dalam kedua karyanya itu RAH mengulas panjang-lebar tentang kualitas pemimpin yang akan mendapat pertolongan Allah.

Kepala pemerintahan, menurut Tsamarat al-Muhimmah, mengandung tiga makna sesuai dengan fungsi dan tugas yang diamanahkan kepadanya. Pertama, terkandung makna ‘khalifah’ dengan kewajiban menaati ajaran agama. Kedua, tersimpul makna ‘sultan’ dengan kewajiban menegakkan hukum yang adil berdasarkan pedoman Tuhan dan rasul-Nya. Ketiga, dia juga ‘imam’ yang seyogianya berada paling depan dalam semua situasi dan menjadi ikutan semua orang di bawah pemerintahannya. Dalam hal ini, jika tak tergolong kufur dan maksiat, perintahnya tergolong hukum yang harus ditaati.

Pemimpin seyogianya memang memiliki derajat atau marwah yang tinggi asal memenuhi syaratnya. Syaratnya apa? Dia berjuang membela kebenaran dan memerangi kejahatan (kebatilan) apa pun bentuknya. Dengan tegas RAH mengecam perilaku kepemimpinan yang menyimpang dari kebenaran, tergolong haram, yang tegas pembalasan dan azabnya di akhirat kelak.

Pemimpin seyogianya berilmu, barakal budi, bermarwah, adil, berijtihad baik, tekun beramal, dan pancaindera yang baik. Dia seyogianya berbuat kebajikan terbilang: benar, indah, dan patut menurut agama, bangsa, dan negara. Begitu pula menurut penilaian orang-orang yang mempunyai mata-hati dan waras. Jika kedapatan fasik, banyak aduan orang, zalim, khianat, belot, tak bermarwah, serta menyusahkan dan meresahkan, pemimpin itu patutlah diragukan baktinya, akan diazab oleh Tuhan.

Dalam kaitannya dengan pembangunan negara, menurut RAH, ada lima hal utama yang perlu diperhatikan. Pertama, pembangunan tak boleh bertentangan dengan hukum. Kedua, tak boleh mendatangkan mudarat bagi rakyat, baik raga maupun jiwanya. Ketiga, pembangunan tak boleh memusnahkan harta-benda rakyat. Keempat, pembangunan tak boleh mempermalukan rakyat. Kelima, pembangunan seyogianya tak mencacatkan nama para pemimpin itu sendiri.

RAH juga memberikan pedoman tentang pembinaan moral bagi penyelenggara negara. Pemimpin wajib memelihara ruh (nyawa), badan (jasad), dan nama. Ruh harus dijaga agar tak terdedah penyakit batin. Obat penyakit batin lebih rumit daripada penyakit tubuh. Penyakit, terutama penyakit batin, akan mencela dan mencelakakan pemimpin.

Terutama, Al-Imam menegaskan mustahaknya pemimpin memahami sejarah raja-raja masa silam. Pasalnya, negeri ini warisan mereka. Karena perjuangan merekalah kerajaan-kerajaan selanjutnya berdiri, apa pun bentuk dan nama “kerajaan” itu kemudian, mungkin republik. Jika kearifan dan ketakziman itu diabaikan, cepat atau lambat, “penguasa lalai” itu akan kena tulah (kuwalat). Dan, padahnya telah banyak terbukti sangat buruk, pedih, menyedihkan, lagi memalukan.*** 

Abu Nawas dan Misi Rahasia

0

AKHIRNYA, berita itu viral juga. Pihak istana awalnya menutup rapat maklumat tentang menghilangnya Abu Nawas dari Bagdad. Desas-desus di luar tentu saja ada, tetapi hanya itu ke itu saja dan dari orang itu ke itu juga. Tak ada sesuatu apa pun yang tembus ke pokok persoalannya. Konon kabarnya, itu pun memang disengaja supaya segala yang benar-benar itu tak mengemuka. Kesemuanya itu bernama arena.

Tibalah ketikanya. Misi yang mulanya rahasia dibuka ke publik. Berita bahwa hari ini Abu Nawas menyampaikan laporan pertanggungjawabannya kepada Sultan Harun al-Rasyid dimuat di semua media, dari media arus utama sampai ke media sosial.

 “Pasal itulah,” titah Sultan, “Beta berharap engkau melaksanakan misi ini untuk menolong saudara-saudara kita. Tak ada batas negeri bagi persaudaraan sejati, sepanjang kita tak melanggar kedaulatan mereka.”

Abu Nawas tak kuasa mengelak walau awalnya dia agak enggan. Dilaksanakannyalah titah Sang Raja. Hari ini dia telah kembali dan langsung menghadap Baginda di Istana Bagdad.

“Beta mau mengetahui pengalamanmu melacak kasusnya. Sampaikanlah selengkap mungkin duduk perkara yang sebenarnya. Betulkah engkau telah menunaikan titah Beta sebab hanya dua minggu telah selesai? Kabarnya di kalangan mereka sendiri sampai kini tak selesai-selesai juga, bahkan cenderung semakin gaduh dan kacau-bilau,” Sultan menatap tajam Abu Nawas.

“Oh, inilah pekerjaan yang paling sukar dan pelik sepanjang karir hamba, Tuanku. Kalau reputasi hamba seperti dulu pun, kepala hamba mungkin pecah tujuh kecaian dan pinggang hamba bengkok tujuh patahan. Tokoh-tokoh mereka saban hari bertengkar tentang pelbagai masalah, tetapi ya dari itu ke itu juga. Tak satu pun menyelesaikan masalah pokok. Satu-dua yang kecil-kecil adalah diselesaikan. Sekadar menghibur orang-orang yang lalu. Masalah utamanya tak kunjung tuntas. Simpulan sementara hamba, pertengkaran itu semacam job&jab baru mereka,” jawab Abu Nawas sambil mengerutkan dahi dan mengerlingi Sultan dengan jelingan khas untuk melihat reaksi penguasa Irak itu.

“Engkau belum mampu meyakinkan Beta,” Sang Raja menyela. “Bagaimanapun silalah sampaikan laporan lengkapmu.”

“Semua berkas hukum yang umumnya tak jelas itu sudah hamba periksa, Tuanku. Setelah hamba tilik, betul bangat, sama sekali tak selesai dan aneh dipandang dari sudut hukum yang berlaku di mana pun. Sayang dan malangnya, ada saksinya yang telah wafat, ada yang tak mau bersaksi karena 1001 alasan, ada bukti yang hilang dan tertukar dengan sendirinya tanpa dipertukargantikan, ada alat bukti yang datang sendiri, dan pelbagai ragam aneh lagi,” Abu Nawas memerikan temuannya.

Kali ini Sultan Harun al-Rasyid termenung. Di dalam hati Baginda bergumam, “Begitu parahkah?” lalu Baginda melanjutkan, “Mungkin engkau mengarang sahaja, Abu. Beta belum terlalu percaya. Di manakah semua berkas itu?” 

Abu Nawas menjawab bahwa semua berkas dibawanya, tetapi tak ke istana Sang Raja. Dengan pertimbangan tertentu, diamankannya di suatu tempat yang sangat rahasia.

“Lalu di mana, Abu? Engkau jangan membuat Beta naik darah. Engkau pendapkan atau mungkin engkau hilangkan. Mana tahu dengan siasat berkonspirasi dengan pihak tertentu, engkau musnahkan agaknya.”

“Hamba tersinggung dengan ucapan terakhir Tuanku itu. Seburuk-buruknya hamba, apatah lagi hamba bukan laki-laki yang buruk rupa, bukan karakter Abu Nawas seperti itu. Manusia sejagat raya tahu kualitas dan karakter sejati hamba. Seyogianya, sebagai pemimpin berpengalaman, Tuanku maklum akan reputasi hamba,”  durja Abu Nawas merona kemerahan. Dia pura-pura merajuk.

“Maafkan kelancangan Beta, tetapi di manakah Abu?” lembut pertanyaan Sultan yang membuat Abu Nawas berasa geli, tetapi di hati saja. Tak sampai hati dia menzahirkannya di luar hati. Khawatir dia Sang Raja berkecil hati. 

“Kena kau,” katanya di dalam hati, “Abu Nawas dilawan!” lalu dia melanjutkan menjawab pertanyaan Sultan.

“Hamba amankan di tempat teraman, Tuanku. Di gerbang akhirat. Hemat hamba, perkara-perkara itu hanya dapat diselesaikan di alam akhirat. Di sana semua bukti, saksi, hakim, jaksa, panitera, pakar, masyarakat, dan lain-lain—hendak atau enggan—akan rela berkolaborasi untuk pengadilan dan keadilan yang sesungguhnya. Untuk kasus rumit seperti ini, dan nyaris satu-satunya di dunia yang fana ini, hanya Pengadilan Akhirat yang mampu menyelesaikannya, Tuanku. Menjelang masuk ke alam akhirat nanti, akan hamba ambil dan hamba serahkan secara suka cita kepada Tuanku. Bersamaan dengan itu, kita akan mengambil “mahkota cahaya” yang sejak lama Tuanku dambakan.”

Sultan tersipu malu mendengar mahkota cahaya yang disebutkan Abu Nawas. Baginda sangat ingin memilikinya. “Sabit di akal Beta, Abu.  Lalu, mengapakah engkau mengerjakan pekerjaan yang tak Beta titahkan? Itu boleh menimbulkan aib karena di luar kearifan dan kebijaksanaan Beta.” Sang Raja membusungkan dada ketika menyebut kata “kearifan” dan “kebijaksanaan”.

“Bukan bermaksud mendurhaka, Tuanku. Daripada hamba ditugasi dua kali di tempat yang sama, lebih baik hamba selesaikan sekali jalan. Sekali saja, bahkan, hamba berasa jera. Sekarang sedang musim pandemi Covid-19. Di sana ada sistem penanggulangan serbacanggih: “Sambil menyelam minum air”. Banyak dana yang mesti dihemat, katanya. Apatah lagi, mereka memerlukan daya dan dana yang tak terperi untuk rekonstruksi fisik pascabencana, rekonstruksi sosial, mengejar pertumbuhan ekonomi, pengembangan infrastruktur, dan sebagainya agar negeri mereka serba bercahaya, berdelau, Tuanku.” 

“Paslah kalau begitu, Abu. Tak sia-sia dan tak salah Beta mengutusmu,” puji Sultan. Baginda berasa puas sepuas-puasnya.

“Kali ini salah, Tuanku,” Abu Nawas memotong pantas, “dan itulah alasan kedua hamba agak enggan menunaikan misi ini. Salangkan negeri kita diporak-porandakan Amerika Serikat dan sekutunya—dulu sampai sekarang—Tuanku, para menteri, seluruh rakyat Irak, bahkan hamba, tak mampu berbuat apa-apa. Perpustakaan, museum, dan situs arkeologi kita menjadi sasaran utama gempuran mereka agar tiada lagi yang dapat kita banggakan sebagai bangsa.” 

“Hamba pun harus dilenyapkan dari memori para penerus karena dianggap berbahaya jika bangkit. Begitu pula Palestina, Lebanon, Libya, dan yang senasib dengan kita terus diupayakan untuk dihancurleburkan dan diintimidasi dengan pelbagai helah. Anak-anak, kaum wanita, orang tua-tua, bangunan, hewan ternak kesemuanya dimusnahkan, sumber daya alam kita dijarah habis, bahkan keyakinan kita dikikis, agar kita tak mampu bangkit. Kalau dulu, takkan hamba biarkan tragedi memilukan dan memalukan ini terjadi,” Abu Nawas nampak sangat serius. Balairung seri Istana Bagdad hening.

“Lalu, mengapa engkau tak bertindak? Adakah karena belum Beta perintahkan?” bergetar suara Sultan Harun al-Rasyid karena geram berbaur pilu.

“Untuk itu, hamba tak memerlukan perintah Tuanku. Akan tetapi, kita memang tak boleh. Sadarkah Tuanku?” 

“Astaghfirullah!” terperanjat Sultan Harun al-Rasyid. 

“Kita tak boleh lagi mencampuri kesemuanya ini. Tugas kita telah lama selesai. Upaya hebat Tuanku pun terbilang setengah mukjizat. Cuma, sedikit saja harapan hamba. Semoga suatu hari kelak, ada generasi penerus yang sanggup membangkitkan hamba kembali ke dunia,” Abu Nawas merenung dan matanya berkaca-kaca. 

“Sadarkah Tuanku? Kita sekarang berada di alam barzah!” 

Abu Nawas menutup laporannya dengan wajah muram semuram-muramnya seraya memberi hormat. Namun, karena tergesa-gesa, dia salah mengatur sembah. Sambil menghadap gerbang ke luar, dia membungkuk sehingga Sultan dipunggunginya. Ada benda aneh pula yang menempel di kedudukan celananya.

“Apakah yang menempel di kedudukan seluarmu, Abu?” tanya Sultan agak kesal. Para menteri pun mulai berani memamerkan kebolehan utama mereka, terkekeh-kekeh.

“Pelitup negeri jiran, Tuanku!” jawab Abu Nawas tanpa menoleh dan langsung pergi menuju singgasana peristirahatannya.***

Garuda Indonesia dan Sejarah Penerbangan Kepulauan Riau di Tanjungpinang (1929-1955)

0
Wakil Presiden Mohammad Hatta sesaat setelah mendarat di area pelabuhan Tanjungpinang pada 23 April 1954. Di latar belakang tampak pesawat amfibi-Catalina milik Garuda Indonesia yang membawanya dari Jakarta.

Maskapai penerbangan Garuda Indonesia adalah bagian yang tak terlepaska dari sejarah transportasi udara di Tanjungpinang dan Kepulauan Riau setelah Indonesia merdeka. Oleh karena itu, sejarah berulang kembali, histoire se repete kata orang Prancis, apabila maskapai penerbangan nasional itu kembali membuka jalur penerbangan Jakarta – Tanjungpinag dan sebaliknya pada  3 Juli 2013. Mengapa?

Setelah ditelusuri, ternyata jauh sebelumnya, maskapai penerbangan nasional yang lahir sebagai bagian dari perjuangan rakyat Indonesia dalam mempertahan proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 itu, telah pernah hadir di Tanjungpinang sejak awal tahun 1950-an dan bertahan hingga awal 1980-an.

Mula-mula, armada Garuda Indonesia hadir di Tanjungpinang sebagai kelanjutan jaringan penerbangan dari Tanjungpinang ke Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan sebaliknya yang telah dimulai oleh pemerintah kolonial Belanda melalui KLM (Koninklijke Luchtvaart Maatschappij N.V.), yakni maskapai penerbangan milik Kerajaan Belanda dan aktifitas penerbangan yang dioperasikan oleh bagian penerbangan Angkatan Laut Kerajaan Belanda sejak tahun 1929.

Ketika itu, satu-satunya  lapangan terbang di Kepulauan Riau hanya terdapat di Dabo-Singkep milik perusahaan tambang timah Singkep, Singkep Tin Maatschappij. Oleh karena Tanjungpinang ketika itu belum mempunyaai lapangan terbang, maka KLM menggunakan pesawat-pesawat amfibi jenis Dornier Wall-booten dan Catalina yang dapat mendarat dan tinggal landas di air: landasan pacu dan tempat pendaratannya memanfaatkan perairan antara Tanjungpinang dan Pulau Penyengat.

Setelah pengakuan kedaulatan, jalur penerbangan amfibi ke Tanjungpinang yang dirintis oleh KLM ini dilanjutkan oleh maskapai penerbangan Garuda Indonesia dengan menggunakan pesawat amfibi jenis Catalina. Namun demikian, pada 19 Juli 1954 jalur penerbangan amfibi-Catalina ke Tanjungpinang yang dipertahankan oleh Garuda Indonesia akhirnya dihentikan setelah melakukan sebuah penerbangan bersejarah dengan membawa rombongan Proklamator, Wakil Presiden Mohammad Hatta, yang melakukan kunjungan kerja ke Tanjungpinang, Pulau Penyengat, dan Pulau Midai di kawasan Pulau Tujuh, pada bulan April 1954.

Data Infografis : Aswandi Syahri ; Desain : Adi Pranadipa

Penutupan jalur penerbangan amfibi Garuda Indonesia itu, bukanlah akhir dari sejarah dunia penerbangan dan transportasi udara di Tanjungpinang. Sekitar enam bulan setelah bulan Juli 1954, armada Garuda Indonesia kembali hadir di Tanjungpnang dengan layanan yang baru. Tidak lagi menggunakan pesawat amfibi yang mendarat di laut, akan tetapi telah menggunakan pesawat konvensional yang mendarat di sebuah lapangan terbang yang baru dibuka pula.

Kehadiran armada Garuda Indonesia untuk keduakalinya di Tanjungpinang pada bulan Februari 1955 ini sangat penting dan bersejarah, karena sejak saat itu jaringan transpotasi undara di Tanjungpinang terus berlanjut hingga ke hari ini.

Peristiwa bersejarah itu, bersamaan dengan peresmian pembukaan Lapangan Terbang Bintan (Vliegveld Bintan) yang kini bernama Bandara Internasional Raja Haji Fisabilillah oleh Menteri Perhubungan (Minister van Verbindingen) dr. Andnan Kapau Gani (A.K. Gani) dan Resident Riau Z.A. Komala Pontas pada 2 Februari 1955.

Tepat dua hari kemudian (4 Februari 1955), pesawat garuda pertama medarat di lapangan terbang baru Tanjungpinang. Jenisnya bukan lagi amfibi-Catalina, akan tetapi pesawat berbaling-baling ganda jenias De Havilland Heron Aircraft buatan Inggris. Setelah itu secara berturut-turut ditukar dengan pesawat DC 3-Dakota pada tahun 1970-an, dan Foker 27 Twin Otter pada awal 1980-an.

Peresmian pembukaan bandar udara baru di Tanjungpinang ini adalah adalah bagian dari pembanguan jaringan transportasi udara dalam program pemerintahan Presiden Sukarno. Dalam peristiwa bersejarah ini, antara lain hadir Menteri Pekerjaan Umum (Openbare Werken) Mohamad Hasan, Sekjen Menteri Perhubungan Ir. Satoto, Direktur Perhubungan Udara (Directeur van de Burgerluchtvaart) Ir. Sugoto, Bupati Kepulauan Riau, pejabat di Kabupaten Kepulauan Riau ketika itu, dan sudah tentu President-Directeur Garuda Indonesia Airways (G.I.A.) yang juga dijabat oleh Ir. Sutoto.

Lapangan terbang baru tersebut dibangun di lokasi pembangan lapangan terbang militer yang telah dirintis oleh pemerintah Pendudukan Jepang di Tanjungpinang sejak tahun 1942. Proyek pemerintah pendudukan Jepang ini lama terbengkalai dan ditinggalkan setelah Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu pada tahun 1945.

Setelah penyerahan kedaulatan, Pemerintah Republik Indonesia melanjutkan ‘proyek’ itu. Penyelidikan kelayakannya mulai dilakukan pada tahun 1952, dan pembukaan lahan dilakukan mulai tahun 1953. Sedangkan pekerjaan pembangunanya dilakukan oleh Biro Karpi berdasarkan kontrak kerja dengan Kementrian Pekerjaan Umum dan Energi (Miniterie van Openbare Werken en Enegie) PADA bulan Juli 1954, dan selesai pada 4 Oktober 1954.

Dengan landasan pacu sepanjang 1.100 meter dan lebar 30 meter, pembangunan lapangan terbang ini mengahabiskan biaya sebesar $ 600.000,- Straith Dollar (dollar Malaya). $ 50.000,- untuk pembukaan lahan, $ 500.000 pembangunan lapangan terbang, dan $ 50.000,- untuk konstruksi bangunan pendukung.

Dalam pidato peresmiannya, Mentri Perhubungan A.K. Gani, juga menyampaikan bahwa lapangan terbang itu akan segera ditambah panjangnya menjadi 1.200 meter dan menambah  area parkir pesawat seluas 100 meter untuk mencukupi standart International Civil Aviation Organisation (I.C.A.O), dengan biaya sebesar $ 2.000.000,-

Ketika Garuda Indinesia membuka kembali jalur penerbangan ke Tanjungpinang pada 3 Juli 2013, maka sesungguhnya itu adalah peristiwa yang ketigakalinya dalam sejarah penerbangan di Tanjungpinang pasca kemerdekaan. Seperti kata orang  Prancis, histoire se repete, sejarah itu telah berulang kembali dalam ruang dan waktu yang lain.***

Persebatian dan Marwah

0

PERSEBATIAN merupakan satu di antara kearifan lokal yang dipandang mustahak oleh orang Melayu. “Apa tanda Melayu berjaya, musyawarah dan mufakat pedoman bekerja. Apa tanda Melayu sejati, pantang bercerai hidup bersebati.” Begitu kearifan terala dicuaikan, nescaya malapetaka segera menerpa. 

Secara internalnya, kecuaian yang dimaksud karena tak berupaya membaca tanda-tanda zaman dan atau tak peduli terhadap petuah para pendahulu. Secara eksternalnya, upaya sistematis yang disengaja oleh anasir luar, dulu penjajah, karena mereka menyadari bahwa persebatian Melayu akan menjadi ancaman bagi kekuasaan mereka. Sayatan penjajah terbukti  sukar bangat disembuhkan. Kisah pilu itu pernah terekam dalam sejarah bangsa kita.     

Kisah ini menjadi contoh nyatanya. Tragedinya menimpa dua orang putra Sultan Mahmud Riayat Syah (1761-1812): Tengku Husin dan Tengku Abdul Rahman. Takdirnya, Tengku Abdul Rahman, bukan Tengku Husin kakandanya, yang diangkat menjadi Sultan atau Yang Dipertuan Besar Kesultanan Lingga-Riau-Johor-Pahang. Baginda menjadi sultan menggantikan ayahndanya yang mangkat di pusat kerajaan, Daik, Lingga, pada 12 Januari 1812.

Padahal, putra sulung Sultan Mahmud adalah Tengku Husin. Oleh sebab itu, beliau dikenal dengan sapaan Tengku Sulung atau Engku Long. Urutan kelahiran itu sangat penting dalam Adat-Istiadat Diraja Melayu. Jika sultan mangkat, putra sulunglah yang menggantikan ayahndanya.

Waktu ayahndanya mangkat Tengku Husin tak dapat menyaksikannya. Kala itu beliau tak berada di Daik, Lingga. Konon sedang berada di Pahang karena menikah dengan putri Bendahara Pahang. Namun, bukan perkara itu yang menjadi punca beliau tak ditunjuk menggantikan ayahndanya. Ada perkara lain yang lebih mustahak, justeru, tak lazim menurut Adat-Istiadat Diraja Melayu selama ini. Apakah gerangannya?

Tengku Abdul Rahman atau Raja Jumat adalah adinda Engku Long. Anehnya, Sultan Mahmud berwasiat agar putra keduanya yang harus menggantikannya jika Baginda mangkat. Berdasarkan wasiat ayahndanya itulah Tengku Abdul Rahman diangkat menjadi sultan. Karena wasiat ayahndanya jugalah Tengku Husin, sebagai putra sultan,  seyogianya melupakan harapannya untuk menjadi Sultan Lingga-Riau-Johor-Pahang. Beliau semestinya secara kesatria harus berupaya untuk memahami kebijakan yang dilakukan oleh ayahndanya. Dan, karena wasiat itu jugalah orang-orang yang masih hidup pada masa itu dan seterusnya harus menghadapi keadaan serbasalah. Dimakan mati emak, diluah mati bapak.

Engku Puteri Raja Hamidah, ibu tiri sekaligus Mak Cik orang berdua beradik yang sedang memperebutkan tahta kerajaan itu, tak bersetuju Tengku Abdul Rahman diangkat menjadi  sultan. Konon, perhubungan antara Engku Puteri dengan Raja Jumat memang tak terlalu mesra jika dibandingkan dengan perhubungan beliau dengan Engku Long. 

Perempuan yang amat setia memegang amanah itu lebih sayang kepada Tengku Husin mulanya. Oleh sebab itu, beliau sangat berharap Engku Long yang menjadi sultan. Akan tetapi, bukan pasal itu yang menjadi penyebab utama putri Raja Haji Fisabilillah itu tak menyetujui Tengku Abdul Rahman menjadi sultan. Sebagai orang yang sangat setia menjunjung adat, Raja Hamidah tak hendak penunjukan dan pengangkatan sultan itu tak menurut Adat-Istiadat Diraja Melayu. 

Sebaliknya pula, Yang Dipertuan Muda VI Kesultanan Lingga-Riau-Johor-Pahang, Raja Jaafar ibni Raja Haji Fisabilillah, saudara kandung Engku Puteri, menyokong Tengku Abdul Rahman sepenuhnya. Konon, perhubungan Raja Jaafar dengan Tengku Husin tak mesra karena perseteruan mereka semasa muda. 

Raja Jaafar jatuh hati kepada dara manis bernama Encik Puan Bulang, yang nama timangannya Buntat, binti Engku Muda Temenggung Raja Melayu. Malang bagi Raja Jaafar, kekasih hatinya itu alih-alih menikah dengan Tengku Husin. Namun, bukan itulah yang menjadi punca beliau menyokong Tengku Abdul Rahman dan menolak Tengku Husin. Barang yang lepas biarlah berlalu walaupun ianya menorehkan pilu. Kewajiban melaksanakan wasiat sultan yang mangkatlah yang menjadi pegangan utama seorang pemimpin. 

Bukankah sultan pemegang utama teraju adat? Jika ada titah sultan yang tak sesuai dengan kelaziman selama ini, hal itu bermakna sultan menganggap ketentuan itu tak dapat lagi dipertahankan. Apatah lagi, kalau sudah berkaitan dengan kepemimpinan negara, yang marwah bangsa sebagai tagannya.

Keadaan menjadi semakin rumit dan sengit. Engku Puteri Raja Hamidah enggan menyerahkan regalia, alat kebesaran kerajaan, kepada Sultan Abdul Rahman Muazzam Syah I. Regalia selama ini berada di bawah penjagaan Engku Puteri karena beliau memang diamanahkan oleh Allahyarham Sultan Mahmud untuk menjaganya. Perempuan berhati baja itu menjaga amanah itu dengan penuh cinta-kasih walau jiwa-raganya sebagai taruhannya.

Pasalnya, beliau sangat memahami bahwa regalia merupakan simbol marwah Melayu. Padahal, tanpa regalia penabalan seorang sultan tak sah menurut Adat-Istiadat Diraja Melayu. Tak ada Kesultanan Melayu tanpa regalia kerajaan. Alhasil, orang-orang anak-beranak dan adik-beradik itu serta rakyat penyokongnya masing-masing harus menghadapi keadaan serbasalah.

Tatkala anak negeri menghadapi siatuasi yang remuk-redam, mulailah kuasa asing memainkan siasat busuknya. Tiada lain tujuannya, penguasaan politik dan ekonomi. Tengku Husin diangkat oleh Inggris menjadi Sultan Singapura pada 1819. Padahal, Singapura kala itu menjadi bagian Kesultanan Lingga-Riau-Johor-Pahang. Dengan demikian, Inggris telah membelah Kesultanan Melayu. 

Tak hanya itu. Inggris, dengan memanfaatkan Tengku Husin, mencoba untuk menyogok Engku Puteri dengan 50.000 ringgit Spanyol untuk mendapatkan regalia agar penabalan (pelantikan) Tengku Husin menjadi sah. Dengan demikian, penaklukan Singapura juga sah sampai bila-bila masa. Sekali lagi, bukankah regalia adalah kerajaan itu sendiri? Sesiapa yang menguasai regalia, dia pun penguasa sah kerajaan. Begitu pula sebaliknya. 

Betapa Engku Puteri merasa terhina oleh upaya raswah Inggris. Bagi beliau, perilaku itu sama dengan hendak membeli marwah Melayu. Beliau jadi berbalik membenci Tengku Husin, anak yang sebelumnya sangat disayanginya, karena ternyata begitu rapuhnya Tengku Long. Itu juga membuktikan bahwa politik uang untuk mendapatkan kekuasaan sangat nista dalam budaya Melayu. Pelakunya, seperti yang coba dilakukan Tengku Husin dengan sokongan Inggris, diyakini pasti menerima padah (akibat buruk), cepat atau lambat.

Karena tak berhasil membujuk, pada 13 Oktober 1822 Gubernur Belanda di Melaka, Timmerman Tijssen, dengan pasukan tentaranya mengepung istana Engku Puteri di Pulau Penyengat Indera Sakti. Perempuan Melayu yang kokoh itu hanya sendiri ditodong dengan senjata para serdadu. Regalia akan dirampas dari tangannya secara paksa. Benda pusaka itu direjamnya dari tingkap istananya. Pang! Dan, Belanda pun mengutipnya di bawah tingkap.

Akan tetapi, Belanda tak paham akan hal ini. Pengambilan yang tak beradab dan tak beradat itu membuat regalia tak lagi memiliki nilai tuah dan keramatnya. Belanda tak pernah berhasil menaklukkan marwah Melayu, kecuali memungut kepingan logam di atas debu. Walau terbuat dari emas, logam itu tak bernilai apa pun secara kultural. Marwah Melayu tak pernah tergadai. Dan, janganlah sesiapa pun coba melakukannya pada masa kini atau nanti. Pasalnya, perilaku itu akan buruk padahnya!

Di kelompok sebelah, Sultan Abdul Rahman Muazzam Syah I dan YDM Raja Jaafar pun bagai mati akal berhadapan dengan ibu dan saudara perempuannya yang sangat berwibawa itu. Alhasil, baru pada 27 November 1823 Tengku Abdul Rahman disahkan menjadi Sultan Lingga-Riau-Johor-Pahang.

Tak lama sesudah itu, 17 Maret 1824, kuasa asing Inggris dan Belanda mengapling Kesultanan Melayu itu melalui Traktat London. Lingga-Riau dan daerah takluknya berada di bawah pengawasan Belanda, sedangkan Johor, Singapura, dan Pahang dikuasai Inggris. Di Kesultanan Lingga-Riau laut memerah oleh darah para syuhada. Sebaliknya, di kawasan Sultan Husin Syah nyaris tak terdengar hiruk-pikuk serupa. Alhasil, Singapura lepaslah sudah dari dekapan sayang Bunda Tanah Melayu.

Tatkala kita sanggup membuka ruang hati yang terdalam seyogianya sadarlah kita akan punca segalanya. Sangat diperlukan kecerdasan, khasnya kecerdasan kultural, untuk memahami dan menghayati kearifan yang ditauladankan oleh para pendahulu dalam menjaga bangsa dan negara. Persebatian haruslah diutamakan agar marwah bangsa tetap terjulang sampai bila-bila masa. Dari dahulu sampai sekarang, begitulah adanya juga adatnya.***

Mengunjungi Kepulauan Anambas Tahun 1900

0
Rumah, Perahu dan Perbukitan: Pemandangan salah satu sudut kampung Tarempa di Kepulauan Anambas pada akhir abad ke-19 . (foto: dokumentasi aswandi syahri)

Selama bulan Agustus hingga September 1900, Cecil Boden Kloss, seorang zoologist Inggris  yang kemudian menjadi menjadi direktur Raffles Museum Singapura (kini, Singapore History Museum) menjelajahi pulau-pulau di Laut Cina Selatan yang ketika itu merupakan wilayah kerajaan Riau-Lingga dan daerah takluknya. Penjelajahan itu adalah bagian dari sebuah “perlayaran ilmiah” untuk mengumpulkan berbagai spesimen mamalia, burung-burung, dan berbagai objek zoologi lainnya dari kawasan itu.

Setelah singgah di Pulu Lingga, Pulau Taya, Pulau Nyamok, Pulau Pengikik, Pulau Tambelan, Pulau Benua, Tambelan Besar, Pulau Wai, dan pulau-pulau kecil lainnya,  Kloss sampai di Kepulauan Anambas, dan singgah di Tarempa.

Berselang tiga tahun kemudian, kisah perlayaran dan catatannya selama di Tarempa dipublikasikan dalam Notes on a Cruise in the Southern China Sea yang dimuat dalam Journal of the Straith Branch of the Royal Asiatic Society edisi bulan Januari 1904. Berikut ini adalah sedutan terjemahan bagian catatan ketika ia singgah di Kepulauan Anambas pada bulan Agutus tahun 1900.

***

Kampung Tarempa

Tarempa terletak pada sebuah teluk kecil di Pantai Utara Pulau Siantan dan merupakan sebuah pemukiman terbesar di belahan Timur Anambas. Luasnya sekitar 20.000 hektar: sebuah pemukiman  padat  yang diseliputi oleh hutan lebat, berbukit-bukit yang  menjulang hingga ketinggian 1855 kaki.

Kampung Tarempa adalah sebuah tempat kecil yang tumbuh subur, dengan sebuah tempat pekuburan orang Cina, dan dua puluh atau tiga puluh kedai milik orang Cina beratap besi berlapis seng dengan proporsi penduduk Cina yang berimbang.

Sebuah kapal uap kecil bernama “Banka” singgah di derah ini sekali atau dua kali dalam sebulan.  Tarempa terbentang  sepanjang kepala teluk dan mempunyai sebuah anak sungai yang airnya masin dan bermuara di belakangnya.

Pada salah satu sisi kampung itu, yang mebentang  kearah laut, berjajar rapi  kedai-kedai Cina dengan tempat pengisap candu, sebuah sekolah Cina disebelah kirinya, serta beberapa rumah rumah orang Melayu di ujung jalan itu.

Bijih Besi Hitam

Di tengah-tengah kampung itu terletak rumah Dato’s (Datuk Kaya) – berupa bangunan kayu dengan model yang beradab; sebuah rumah besar milik Sultan Lingga. Merentang jauh di sebelah kanannya terletak bagian terbesar  rumah-rumah  orang Melayu: di belakang hamparan datar, tempat dimana kampung itu dibangun dengan latar belakang bukit-bukit ditutupi hutan dan pohon kelapa yang tumbuh di kawasan miring yang berbentuk setengah lingkaran. Semunya membrikan efek pemandangan yang sangat indah.

Bila melihat ke bawah di sepanjang lereng bukit akan tampak atap rumah-rumah itu, dan teluk berbentuk setengah lingkaran dengan  perahu-perahu yang sedang labuh jangkar. Kemudian di seberangnya sebuah jalur perairan dengan bukit berhutan yang muncul di sebelahnya.

Lebih satu mil ke sebelah Utara Pulau Siantan terletak dua pulau yang cukup luas,  pulau Mobur dan Mata (Matak)  dengan sebuah selat kira-kira satu mil lebarnya membentang diantara keduanya.

Diantara pulau Mata dan Siantan terhampar sebuah selat yang sangat indah meskipun dihalangi oleh banyak pulau-pulau kecil dan beting karang di ujung sebelah Timurnya, Perairan ini mempunyai perairan yang dalam di bagian Barat tepat dimana Teluk Tarempa terletak.

Tidak hanya pada daerah yang terakhir itu kapal-kapal dapat berlindung di perairan yang dalam dari semua terpaan angin, namun jauh hingga ujung Timur pantai itu terdapat sebuah teluk dimana kapal dapat berlabuh pada jarak 10-15 fathoms berhampiran pantai. Pelabuahan yang terbaik dalam sebuh ukuran yang kecil tidak dapat diharapkan karena air dan kayu sulit didapat.

Datuk Kaya Tarempa sangat boros. Meskipun memiliki senuah rumah baru dan agak mencolok, tetapi ia tinggal di rumah kedua, sebuah tempat tinggal yang lebih sederhana. Ia memperlihatkan kepada kami contoh bijih besi hitam, yang sangat banyak terdapat di bukit di belakang kampung.

Kami memperoleh berbagai bekalan di sini, berkat adanya orang Cina; kelapa bermutu yang berlimpah dan air tawar  yang dapat disauk di sebuah kolam besar dekat pantai.

Air Terjun 400 Kaki

Sampan-sampan di pulau ini sangat mirip dengan sampan-sampan yang terdapat di Tambelan; hanya saja mereka berbeda secara prinsip dalam hal haluan dan buritan  yang agak tinggi, lebih ringan dan rendah dengan buritan kurang menjorok ke depan.

Sampan-sampan ini digerakkan dengan dua bilah pendayung. Sementara itu, sampan-sampan yang digunakan oleh orang-orang Cina adalah dari jenis yang sangat besar,  dengan ujung haluan cendrung manaik dan tinggi.

Setelah diceritakan oleh seorang anak Sultan Lingga yang tinggal di kampung itu tentang sebuah air terjun yang terletak di bagian timur Pulau Siantan, kami bersiap-siap pergi ketika terbit matahari di suatu pagi untuk mengunjunginya dengan menggunakan sebuah perahu penangkap ikan paus.

Angin di hadapan mati dan kami harus berkayuh -sejauh sekitar delapan mil- dan harus menguras tenaga. Jalur pelayaran itu terletak di sebelah kanan selat antara pulau Siantan dan Mata (Matak), kemudian memotang pantai sebelah Timur dan akhirnya melintas mendekati pohon-pohon bakau yang memungkinkan kami membawa perahu untuk mendekat ke bawah air terjun itu.

Dengan dibatasi oleh hutan,  serangkain air terjun  jatuh dari ketinggian sekitar 400 kaki. Ada dua belas atau tiga belas air terjun seluruhnya, dan pesona utamanya terletak pada kerangamannya – aliran air berbusa bagaikan pita yang besar mengalir lembut diatas permukaan batu. Mengalir panjang beriring-iringan tanpa hentinya dari ketinggian, dan serangkaian air terjun kecil jatuh melayang di atas batu-batu menyerupai anak tangga. Dimana-mana, diantara air-air terjun itu terhampar kolam-kolam yang tampak tenang dan menggoda.

Raja yang merupakan anak Sultan Lingga itu  sebenarnya akan ikut menyertai kami, namun ia terlambat datang. Walaupun ia tiba sebelum kami meninggalkan tempat itu, namun  kami telah mulai bersiap untuk berlayar pulang, karena saat itu angin bertiup sedang.

Bagaimanapun, kami tidaklah lama jalan bersamanya, karena perahu milik Raja itu -sebuah perahu yang dibangun di Singapura dalam tahun yang sama dengan perahu yang kami punya- sedikit lebih besar dengan layar yang lebih banyak tersebut segera meninggalkan kami dibelakang, dan kami mencapai Siantan dengan gerak yang tidak pantas.

Teluk Ayer Bini

Hari-hari antara tanggal 24 Agustus dan 5 September dilewati dengan mengunjungi pulau-pulau di sebelah Utara. Namun pada hari yang terakhir, kami berlayar mengelilingi Pulau Siantan dan pulau-pulau yang tersebar di ujung bagian Timurnya karena selat di sebelah Utara tidak dapat dilayari. Pada petang harinya kami menambatkan perahu di Teluk Ayer Bini, sebuah teluk  yang sebagiannya terlindung oleh sebuah pulau pada pintu masuknya.

Pantai itu berwarna kemerahan, sangat curam , dan tidak bersih, kecuali pada satu atau dua tempat dimana rumah-rumah penduduk berada dan telah dibuat kebun serta tempat bercocok tanam di ladang.

Butuh kerja keras untuk memanjat lereng yang licin karena siraman air hujan yang tidak henti-hentinya turun di seluruh tempat kami berada. Sebuah aliran sungai dengan dua cabangnya mengalir ke bagian ujung teluk dan kami terus berkayuh pada salah satunya hingga dihentikan oleh sebuah air terjun kecil. Sementara itu, kawasan lainnya hanyalah hamparan bongkahan batu-batu granit yang kering.

Buruknya cuaca membuat spesimen jarang didapat dan setelah tiga atau empat hari yang tidak menguntungkan itu, kami berlayar untuk terakhir kalinya mengunjungi Tarempa.

Lebih empat hari waktu yang dihabiskan disini untuk berkerja dan melakukan pengumpulan bahan-bahan contoh yang agak baik dari jenis mamalia dan burung-burung. Kemudian kami meninggalkan Polo Telaga dan berlayar ke arah Barat.***

Bagi-Bagilah

0

“APALAH kalian ini. Tak salah ‘kan kalau aku sekadar mengambil sedikit keuntungan dari jerih-payahku? Bukannya banyak sangat. Pun bukan untukku seorang. Ada bagian untuk keluargaku, saudara-saudaraku, anak buahku, timku, dan sekitar-sekitar itu. Lagi pula, untuk mendapatkan kesemuanya itu, aku harus mengeluarkan modal, bukannya gratis,” tinggi suara Wak Entol menyergah orang-orang yang mengeritiknya. 

“Kalian memang SMS-lah. Susah melihat (orang) senang, senang melihat (orang) susah, suka membuat sensasi!” suara Wak Entol semakin lantang dan berapi-api.

Karena disergah Wak Entol, orang-orang dan para pemuda kampung tak mau kalah. Mereka memandang Wak Entol dengan penuh kebencian. Di antara mereka ada pula yang hendak menerkam, menikam, bahkan mencencang Wak Entol sampai mati karena begitu geramnya. Ada pula di antara orang muda-muda itu yang hendak menelan Wak Entol mentah-mentah tanpa dimuntahkan kembali, biar terkubur abadi di dalam perutnya, tak keluar-keluar lagi.

Aneh dan malangnya, mereka ragu melaksanakan niat itu. Pasalnya, mereka mengetahui bahwa Wak Entol memiliki ilmu hitam peringkat tertinggi. Bahkan, peringkatnya konon sampai mencecah langit ketujuh. Dia tak mudah dikalahkan dalam perlawanan fisik. Nyali orang kampung dan para pemuda ciut mengecut ketika mengingat semua kehebatan Wak Entol dalam bertarung. Tinggallah kebencian dan kegeraman mereka terpendam di hati, tak mampu diwujudkan dalam kenyataan. Kasihan dan malang nian nasib mereka karena tak mampu meluahkan gesaan sanubari yang bertubi-tubi.

“Kalau hendak untung, jadi pedagang saja, Wak. Jangan jadi perantara kami. Makan-sumpah nanti!” balas Ketua Pemuda kampung dengan mengerahkan semua tenaga yang dimilikinya. Dia memberanikan diri dengan membangkitkan semua semangat yang dimilikinya melalui “ilmu pembangkit semangat” dari tujuh tanjung tujuh teluk seraya mengacungkan tangan yang terkepal. Walaupun begitu, malangnya lagi kepalan tangannya tak kokoh dan terlalu ketara gemetarnya. 

“Iya kan, Saudara-Saudara?” dia meminta kepastian orang-orang kampung yang hadir dan para pemuda yang datang ke rumah Wak Entol petang itu.

“Iyalaaah, iyaaaa, iyalaaah!” jawab orang-orang dan para pemuda serempak, serentak, dan kompak. Semua mereka mengepalkan tangan dan mengacungkannya ke atas sambal berteriak keras, entah apa. 

Keberanian orang-orang dan para pemuda agak muncul juga karena Si Ketua Pemuda sanggup menjawab sergahan Wak Entol. Akan tetapi, mereka tetap takut beradu mata dengan Wak Entol. Konon ada petuah, orang yang memiliki ilmu hitam, matanya tak boleh ditentang. Kalau ditentang, si penentang akan semakin tunduk di bawah kehendaknya. Jadilah keberanian orang-orang itu berubah-ubah: terkadang timbul terkadang tenggelam pula, kadang-kadang hangat, kadang-kadang sejuk pula, tergantung situasi, macam hangat-hangat tahi ayam, bidal orang dulu-dulu.

“Sumpah, kata kalian. Aku ini kebal sumpah. Tak akan termakan sumpah kalian. Dan, jangan kalian pikir kalian saja yang punya sumpah, aku juga punya sumpah. Malah, sumpahku jauh lebih hebat daripada sumpah kalian. Tak ada yang gratis di negeri ini. Aku juga harus mengumpulkan modal untuk membeli suara kalian. Mau apa rupanya kalian!” Wak Entol mencabar garang.

Tak ada yang berani menjawab tantangan Wak Entol. Pasalnya, waktu berkata tadi suara Wak Entol membahana, menggelegar, terdengar sampai ke seberang lautan yang sangat jauh. Langit tiba-tiba berubah menjadi mendung semendung-mendungnya. Itu bermakna peringkat kemarahan Wak Entol sudah hampir mencapai titik didihnya.

“Mengapa kalian terdiam macam kera bodoh, hah? Tunggu, ini sumpahku untuk kalian semua, tak besar tak kecil, tak tua tak muda,” Wak Entol mengancam seraya merapal sumpahnya di dalam hati. Tak ada sesiapa pun yang mendengar sumpah-seranahnya.

roh kembali darah kembali
mani manikam darah gemuruh
darah gemuruh dalam tubuhku
darah berani naik ke kepalaku
jembalang puaka di hatiku
harimau mengamuk di mukaku
kuseru dikau
jadikan orang-orang di hadapanku
kera bodoh tak tahu lalu
berkat kuasa sembahan abadiku
tuhan fir’aun penguasa tujuh
tujuh lapis langit tujuh lapis bumi
kreeeh… kreeeh… kreeeh!

Entah bagaimanalah cara Wak Entol melakukannya, begitu dia selesai merafal sumpah-seranahnya, orang-orang dan para pemuda yang datang menyansang ke rumahnya sekonyong-konyong berubah menjadi kera semuanya, kecuali Si Ketua Pemuda kampung. Rupanya, ketika melihat gelagat Wak Entol mulai mengamuk dan merapal serapah, pemuda itu pun menggunakan ilmu batinnya untuk melawan ilmu hitam Wak Entol. 

Dia memang terhindar dari “Sumpah Kera Bodoh” yang diucapkan oleh Wak Entol. Akan tetapi, semangatnya melayang entah ke mana, bagai makhluk yang melompat dari satu pohon ke pohon yang lain, dari satu dahan ke dahan yang lain. Dia kena tempias angin lompat, dampak terkecil dari serapah kera bodoh Wak Entol.

“Hahaha … Itu baru sumpah namanya, para jagoan. Jadi kera kalian semuanya, bukan? Jangan kalian coba melawanku. Kalau menurut kataku saja, tak perlu susah-susah kalian jadi kera segala.” 

Wak Entol makin naik daun di depan orang-orang yang telah menjadi kera bodoh itu. Walaupun begitu, dia kagum juga kepada Si Ketua Pemuda yang tak mempan disumpahnya. 

“Hebat juga ilmu kau, Anak Muda? Kalau mau, kau boleh menjadi anak buahku secara permanen dengan gaji tetap ditambah bonus yang berfluktuasi sesuai dengan income yang kita peroleh. Kau pikirkanlah tawaranku itu. Daripada ilmumu tak bermanfaat dan hanya untuk menentangku, yang pasti tak sanggup kau lawan, lebih baik kau gunakan kebolehanmu itu untuk mengabdi dan berbakti kepadaku. Itu jauh lebih baik daripada harus melawan arus terus-menerus,” Wak Entol berhenti sekejap seraya memandang lekat kepada Si Ketua Pemuda. 

“Untuk kauketahui,” dia melanjutkan, “pusaran arusnya memang seperti yang aku lakoni kini. Inilah arus yang kami ciptakan. Arus kemenangan yang tak tertandingi, arus para pemuja roh Fir’aun Sang Abadi. O, ya. Sebetulnya, apa yang kalian mau dariku sehingga datang beramai-ramai ke rumahku ini. Dan, mengganggu ketenteraman dan kenyamananku yang sedang menikmati indahnya kemenangan?” 

“Kami tak minta banyaklah, Wak Entol. Sebelum saya utarakan hajat kami, sudilah Wak membebaskan orang-orang ini dan kawan-kawanku dari sumpah Wak Entol itu. Kasihan mereka kalau harus menjadi kera bodoh seumur hidup. Saya akui bahwa saya tak mampu mengubah mereka menjadi manusia semula. Ilmu saya masih terlalu rendah jika dibandingkan dengan ilmu Wak Entol,” Si Ketua Pemuda merayu Wak Entol. Matanya semakin kuyu dan tubuhnya semakin layu. Dia, Si Ketua Pemuda itu, terengah-engah kelelahan seperti orang baru selesai melompat dan meloncat. Batinnya bagai melompat dan meloncat dari satu pohon ke pohon yang lain, dari satu dahan ke dahan yang lain di belantara yang tiada bertepi. Musuh terus mengejarnya sehingga dia tak boleh berhenti.

“ATAS nama diri saya dan kawan-kawan kera saya  ini, kami mohon maaf dan ampun beribu ampun kepada Tuan Besar Entol. Saya juga bermohon dengan amat sangat, kembalikanlah mereka menjadi manusia semula. Kasihanilah mereka. Berilah kami yang tiada berdaya ini belas kasihmu, wahai Tuan. Tanpa kasih Tuan, apalah artinya hidup kami di dunia ini. Tuanlah yang menjadi penentu hidup dan mati kami. Hitam kata Tuan, maka hitamlah kami. Putih kata Tuan, maka putihlah kami.” 

Ketua Pemuda menghiba sejadi-jadinya di hadapan Wak Entol seraya terus terengah-engah. Wajahnya kelihatan sendu sesendu-sendunya, pilu sepilu-pilunya, dan sedih sesedih-sedihnya. Bahkan, akan menjadi semakin menyedihkan jika dilihat oleh orang yang lalu. Untunglah, tiada manusia yang tersisa berani lalu di tempat itu. 

“Kalau Tuan Entol berkenan mengubah mereka menjadi manusia semula, saya bersedia menjadi hamba abdi Tuan, menjadi anggota Geng Entol, Pemuja Roh Fir’aun Yang Abadi. Jangankan setakat itu. Bahkan, sampai ke neraka jahanam sekalipun saya rela menjadi hamba abdi Tuan Entol Yang Mulia.”

Wak Entol bertepuk tangan kecil tiga kali. Dari raut wajahnya terlihat jelas bahwa dia sangat senang dan bahagia bangat. Dia mengernyitkan dahinya secara khas berkali-kali seraya tersenyum bangga sebangga-bangganya, gembira sejadi-jadinya. 

“Hahaha…” Wak Entol terbahak-bahak sampai liurnya berjujuhan keluar. “Mantap kali kau ini. Itulah pemuda harapanku. Kau memang sosok pemuda yang mampu membaca situasi walau belum sampai ke peringkat tinggi. Pemuda yang berpikiran pragmatis dan maju, harapan masa depan. Kalau banyak pemuda di kampung ini seperti kamu, Geng Besar Entol akan melesat jauh dengan cepat dan, sudah pasti, banyak keuntungan yang akan kita raup dalam waktu yang tak terlalu lama,” Wak Entol menyeringai lagi.  

“Aku bangga terhadap pemuda cerdas seperti kau ini, Anak Muda. Inilah era kalian. Kau mesti memanfaatkan kesempatan emas ini dengan sebaik-baiknya. Dan, kesemuanya itu harus dipertahankan sampai ke tetesan darah yang penghabisan. Sampai bila-bila masa. Apa pun caranya. Paham kau kata-kataku ini? Jangan tak paham pula kau!”

“Tetapi, Tuan Besar Entol. Bagaimanakah nasib kawan-kawan saya ini? Bolehkah mereka menjadi manusia semula?” Ketua Pemuda masih ragu akan komitmen Wak Entol.

“Ow…ow…ow… Nyaris lupa pula aku kalau tak kauingatkan. Soalnya, aku sangat girang  mendengar pengakuanmu, Anak Muda. Tentu saja mereka boleh kujadikan manusia kembali. Kautunggu sekejap ya. Jadi dari sumpah, kembali juga dengan serapah. Paham kau?”

Wak Entol pun merapal serapahnya. Seperti biasanya, tiada sesiapun boleh mendengarnya, termasuk Si Ketua Pemuda di hadapannya.

kera ada di rimba raya
sifat degil menjadi kera
kalian melawan aku
raja dari segala raja
melawan nenek-moyangku
melawan tuhan fir’aun sembahanku
dengan belas kasihku
aku balikkan kalian semula 
jadi manusia 
bukan manusia sebarang manusia
manusia patuh kepadaku
jangan kalian melawan aku
jadi kera kalian tujuh keturunan
tiada jembalang melawan aku
berkat perkenan tuhan fir’aun
sembahanku nan abadi
puah… puah… puah!

Begitu Wak Entol menyelesaikan semburan terakhirnya, puah!, sekonyong-konyong semua orang yang tadinya menjadi “kera bodoh” berubah menjadi manusia semula. Sungguh, suatu keajaiban dan fenomena yang luar biasa. Patutlah apa pun yang dikehendaki oleh Wak Entol, pasti jadi. Kalau dia mau orang jadi sakit, sakitlah orang. Kalau dia mau orang jadi penurut, penurutlah orang. Mereka, kesemuanya, termasuk Si Ketua Pemuda, kemudian, bersimpuh takzim di bawah telapak kaki Wak Entol, tuan penentu hitam-putihnya perjalanan hidup mereka. 

Mereka mohon ampun kepada Pemimpin Kaum Pemuja Roh Fir’aun Sang Abadi. Bahkan, ada di antara mereka yang menangis tersedu-sedu nan menyanyat pilu, yang kepiluannya terdengar sampai jauh ke negeri-negeri nun di seberang tujuh lautan.

 “Sudahlah, lupakan kesalahpahaman ini,” Wak Entol menegaskan perintahnya dengan nada suara yang dibapak-bapakkan. “Mengapa kalian menggertakku tadi sehingga aku terpaksa menyumpah kalian menjadi . . . eh . . . ,” Wak Entol menahan kata-katanya karena jika diteruskannya, orang-orang itu akan menjadi kera bodoh lagi, “apa sebenarnya yang kalian inginkan dariku sehingga harus main gertak segala?” 

“Kami minta jatah kami. Sudah lama kering ini, Tuan Besar Entol,” jawab Ketua Pemuda yang telah berikrar menjadi anggota Geng Besar Entol dengan suara mantap karena yakin akan  pelindungan tuannya terhadap dirinya.

 “Oh, minta jatah rupanya kalian. Mengapa tak cakap dari tadi? Mengapa kalian berbelit-belit ke sana ke mari. Kalau begitu kan mudah, aman, senang sama senang namanya. Itu baru kerja sama yang saling menguntungkan, yang lagi trend di mana-mana kini,” Wak Entol memberikan tunjuk ajar pertamanya kepada anggota barunya. 

“Jangan terlalu kampunganlah, harus kalian ikuti perkembangan zaman. Walaupun begitu, untungku tentu harus jauh lebih besar daripada kalian. Tradisi geng memang macam itu sejak dahulu kala. Kalian tak perlu memprotesnya. Kalau kalian protes, aku sumpah kalian jadi … lagi.” 

“Jangan diteruskan, Tuan Besar Entol. Kami tak mau jadi kera bodoh lagi. Ampun beribu ampun, Tuan Besar yang penuh kasih tak pilih kasih!” 

“Kalian usah cepat-cepat memotong perbicaraanku. Maksudku, aku sumpah kalian menjadi anak buahku yang paling setia. Anak buah yang menyediakan segenap jiwa dan raganya hanya untuk kejayaan Tuan Besar Entol dan keabadian Geng Besar Pemuja Fir’aun Sang Abadi,” Wak Entol tersenyum penuh arti.  

Mereka bahagia bangat mendengar sumpah terakhir Wak Entol. Kesemuanya meloncat-loncat kegirangan bagai kera mendapat pisang. Hentakan kaki mereka sampai menggoncangkan seluruh negeri, bagai gempa menggoyang bumi, macam air-bah memorakporandakan sekotah negeri.

“Kami kira disumpah menjadi kera bodoh lagi, Tuan Besar!” ucap mereka serempak, serentak, dan kompak seraya tersenyum karena tak disumpah menjadi kera semula.

Kegembiraan mereka menjadi seriang-riangnya. Mereka suka suka-sesukanya. Pasalnya, Wak Entol bersiul irama chacha seraya membagikan jatah kepada mereka. Di sebalik dinding, sesosok makhluk, entah jenis apa, menyaksikan kedermawanan Wak Entol seraya bernyanyi lagu “Bagi-Bagilah”. Dengan senyum sejuta kemenangan, santai dia meninggalkan rumah. Diiringi irama dondang kreatif yang berpadu serasi dengan tingkah rock n roll, lagu makhluk “entah apa itu” terdengar semakin lincah. Ewaaah!***

Manuskrip Sulusilah dan Sedjarah Riau-Lingga dari Karimun

0
Digitalisasi manuskrip Sulusilah dan Sedjarah Riau-Lingga dari Karimun koleksi Haji Raja Azli Tanjungbalai Karimun pada tahun 2015 . (foto: aswandi syahri)

SUSUR galur keluarga istana raja-raja Melayu tidak di hanya diabadikan dalam Hikayat, Tawarikh, Tarikh, Sejarah, dan sejenisnya. Diagram “pohon keluarga” juga banyak digunakan untuk menggambarkan susur galur raja-raja Melayu beserta anggota keluarganya yang belapis-lapis itu. Begitu juga di Kerajaan Riau-Lingga.

Selain ditulis dalam format naratif seperti dicantumkan oleh Raja Ali Haji dalam narasi Silsilah Melayu dan Bugis dan Sekalian Raja-Rajanya serta pada bagian-bagian awal narasi Tuhfat al-Nafis, susur galur keluarga diraja Riau-Lingga juga divisualisasikan dalam rangkaian diagram “pohon keluarga” yang membentuk percabangan-percabangan hubungan individu dengan individu lainnya dalam istana Kerjaan Riau-Lingga.

Rangkaian diagram yang  menggambarkan hubung-kait seorang individu dengan invidu lainnya  dalam sebuah susur-galur keluarga ini menyerupai cabang dan dan ranting pohon yang melebar ke bawah, sehinga membentuk sebuah “pohon keluarga”. Secara leksikografis diagram “pohon keluarga” seperti ini disebut silsilah. Namun demikian, ada juga ragam bahasa tempatan lainnya  yang menyebutnya Ranji, Salah-Silah, Salasilah, Silah-silah, Salsilah, Sulusilah, dan lain sebagainya, yang sumber asal-usul etimologisnya merujuk kepada Silsilat atau Silsilah dalam bahasa Arab.

Di kerajaan Riau-Lingga pada masa lalu, yang wilayah kini mencakupi seluruh wilayah Provinsi Kepulauan Riau, tradisi penulisan silsilah dengan pola lama atau pola “pohon keluarga” tersebut, masih terus dilanjutkan oleh keluarga kerajaan Riau-Lingga, khusus dari Karimun, hingga masa kini. Dalam format yang paling “mutakhir”,  silsilah dalam format “pohon keluaga” ini antara lain disusun oleh Raja Muhammad ‘Asyura bin Raja Ibrahim dari Karimun pada tahun 2002, yang kemudian diterbitkan dengan judul Silsilah Keluarga, pada tahun 2011.

Masih dari Karimun, saya dan Irwanto (yang kini berkhidmat di Dinas Kebudayaan Provinsi Kepulauan Riau) juga menemukan sebuah silsilah yang disusun dalam format “pohon keluarga” ini ketika mengumpulan bahan sumber untuk penulisan buku Khazanah Masjid Bersejarah Bumi Berazam (Kabupaten Karimun) pada bulan September 2015.

Wujudya adalah manuskrip himpunan berbagai Silsilah, yang oleh penyusunnya disebut Sulusilah, dan digabungkan dengan berbagai narasi Sedjarah. Termasuk narasi-narasi pendek pada nama-nama  indivisu tertentu yang dicanumkan pada untaian “pohon keluarganya”. Pola silsilah ini menunjukkan bahwa penyusunannya masih menggunakan cara lama, namun demikian tidak lagi menggunakan huruf jawi atau huruf Arab Melayu. Manuskrip Sulusilah dan Sedjarah dari Karimun itulah yang akan dipaparkan sebar ringkas dalam ruang Kutubkhanah minggu ini.

***

Sebagaimana tertulis pada halaman awalnya, Manuskrip Sulusilah dan Sedjarah dari Karimun yang kini berada dalam simpanan H. Raja Azli (seorang Aparatur Sipil Negara Kabupaten Karimun) disusun oleh Radja Hadji Abbdullah Os (Oesman) pada 27 November 1968. Siapa Raja Haji Abdullah? Dari manuskrip silsilah ini  dapat diketahu bahwa Radja Hadji Abdullah bin Raja Oesman yang menyusun manuskrup silsilah keluarga Raja-Raja Riau-Lingga dari Karimun ini  adalah zuriat para Amir (wakil Sultan dan Yang Dipertuan Muda Riau) yang  memimpin Karimun dan bersemayam di daerah Meral. Bahkan Raja Hadji Abdullah bin Raja Oesman pernah pula menjabat To-Cho, yakni Amir Karimun di Meral pada zaman pendudukan Jepang (1942-1945).

Dalam arsip dan bahan-bahan sumber lain tentang Raja Hadji Abdullah Oesman ini, dapat pula diketahui bahwa beliau adalah salah seorang tokoh sentral dalam pergerakan kesultan Riau-Lingga (Sultanaat Riouw Beweging) antara tahun 1946 hingga 1949. Beliau pernah menjadi president Jawatan Pengurus Rakjat Riau (JPKR) yang mempunyai misi untuk merestorasi Kerajaan Riau-Lingga ketika itu.

Nama Radja Hadji Abdullah Oesman telah tersimpan lama dalam catatan saya, dan menjadi orang “yang paling saya cari” di Karimun. Mengapa demikian? Beliau adalah salah seorang penyimpan sejumlah bahan sumber penting tentang sejarah kerajaan Riau-Lingga dan Kepulauan Riau, dan salah seorang yang terlibat dalam sebuah diskusi cendekia Kepulauan Riau yang ditaja oleh Raja Haji Muhammad Junus Ahmad di Tanjungpinang sempena menghimpun bahan sumber sejarah Riau  pada tahun 1955. Manuskrip Sulusilah dan Sedjarah dari Karimun ini adalah salah satu buktinya.

***

Bila dilihat sepintas kilas, pola susunan “pohon keluarga” dalam Manuskrip Sulusilah dan Sedjarah dari Karimun ini sama seperti pola silsilah dalam manuskrip silsilah kerajaan Riau-Lingga lainnya. Namun demikian, dalam banyak hal ianya unik dan langka. Meski fokusnya adalah silsilah keluarga besar istana Riau-Lingga yang bermula sejak masih bernama Johor dan kait kelindannya dengan Bintan dan Raja-Raja Singapura pra Islam, silsilah dalam manuskrip Sulusilah dan Sedjarah dari Karimun ini mencantumkan juga berbagai rangkaian silsilah yang menjelaskan hubungan antara kelaurga besar Raja-Raja Riau-Lingga dengan keluarga Raja-Raja Indragiri, Siak, Bugis, Kalimantan Barat (Pontianak), Terengganu, Perak, Selangor, Pahang, dan lain sebagainya: Cakupan sangat luas.

Namun lebih dari itu, Manuskrip Sulusilah dan Sedjarah dari Karimun ini adalah sebuah manuskrip “silsilah plus”. Berbagai informasi plus, yang tak mungkin ditemukan dalam silsilah Riau-Lingga lainnya ditemukan dalam silsilah ini. Karena ia adalah Sulusilah yang juga mengandungi narasi Sedjarah. Umpamanya, kita dapat membaca sebuah salinan Sedjarah yang berjudul, “Kisah Sedjarah Melaju Jang Diringkaskan Karangan Datuk Hadji Mohamad Said Tulisan Bahasa Arab Bagi Cetakan Jang pertama 1939”.

Sebagai sebuah “silsilah plus”, maka didalamnya kita juga akan menemukan berbagai penjelasan dan pengetahuan tentang gelar nama-nama raja-raja Melayu yang berasal dari bahasa Arab dan Bahasa Hindu (Sansekerta). Begitu pula dengan daftar berbagai nama timang-timangan keluarga raja-raja Riau-Lingga menurut sifatnya, yang lazim dilekatkan pada nama batang tubuh anak raja-raja Melayu. Seperti, Budjang, Bulad, Andut, Emas, dan lain sebagainya. Begitu pula dengan apa yang dikenal sebagai nama Base-Base: seperti, Long [Sulong], Ngah [Tengah], Su [Bungsu], Andaak {Pandak], Entih [Putih], Ambong, dan lain-lainnya. 

Tidak seperti silsilah dalam format pohon keluarga yang lazim dikenal, dalam manuskrip Sulusilah dan Sedjarah dari Karimun ini, kita mendapatkan banyak tambahan informasi lainnya berkenaan dengan nama-nama individu penting yang dicantumkan dalam “pohon silsilah”.

Umpamanya,  pada nama Sultan Abdulrahman Muazamsyah, Sultan terakhir Kerajaan Riau-Lingga (1885-1911), terdapat penjelasan tambahan yang ditulis menggunakan tinta merah sebagai berikut:

Setelah Sultan Abdur Rahman Muazamsjah diangkat djadi sultan Lingga-Riau, maka pangkat dari Radja Moeda ini dihapuskan dengan mupakat Sultan dengan Belanda, dan pangkat Radja Moeda diserah oleh Sultan pada Belanda jang mendjadi Resident Riau. Maka itu Belandalah jang mendjalankan pemerintah di Riau bahagian bangsa asing, dan orang2 Melaju dibawah kekuasaan Radja”….dan [Sultan Abdulrahman Muazamsyah] “Dipetjat oleh Belanda karena tidak mau menurut kemauannja [Belanda] dan mau ditangkap, lalu pindah ke Singapore sampai habis hajatnja. Makamnya ada di Teluk Belanga. Mulai dari sinilah pangkat Radja Muda dihapuskan dengan pengaruh Belanda, karena pangkat itu diberi pada Belanda jang menjalankan.”

Lebih dari itu semua, manuskrip Sulusilah dan Sedjarah dari Karimun ini juga menjelaskan mengapa sebuah silsilah harus ditulis dan ditukuk-tambah oleh waris-warisnya di kemudian hari. Dalam konteks penulisan silsilah sebagai sebagai sebuah  genre dalam tradisi pensejarahan istana Kerajaan Riau-Lingga yang berkelanjutan,  maka manuskrip Sulusilah dan Sedjarah dari Karimun ini juga menjelaskan apa saja bahan sumber yang dipergunakan dalam penyusunannya: sebuah informasi yang langka dalam sejarah penulisan silsilah Kerajaan Riau-Lingga.

Dalam penjelasannya, Radja Hadji Abdullah Oesman antara lain menyebutkan bahan sumber yang dipergunakannya untuk merampungkan manuskrip Sulusilah dan Sedjarah dari Karimun ini. Antara lain ia menggunakan sebuah manuskrip silsilah yang disusun oleh Tengku Abubakar dari Lingga, dan “…tjatatan-catan lama tulisan jawi jang beberapa dintaranja telah sukar dibaca karena rusak…”***

Baharu

Hak Cipta Terpelihara. Silakan Bagikan melalui tautan artikel