Beranda blog

Jika Tergelincir Pekerjaan Salah

0

SETELAH sekian lama di Bintan, pusat kerajaan itu dipindahkan ke Temasik atau dikenal dengan nama barunya Singapura (dari singa pura-pura). Nama baru itu diberikan oleh penguasanya kala itu, Raja Seri Teri Buana, yang memindahkan pusat kerajaannya ke Singapura pada 1324. Semua pembesar kerajaan berpindah ke Singapura, termasuk Raja Seri Teri Buana, menterinya Demang Lebar Daun (mantan Raja Palembang yang menjadi mertua Seri Teri Buana, yang berhijrah ke Bintan bersama menantunya itu sekira 1270-an), Wan Seri Beni (ibu angkat Seri Teri Buana sekaligus mertuanya juga dan mantan Raja Bintan), serta pembesar kerajaan itu sekaliannya. Ringkasnya, semua pembesar kerajaan berhijrah ke Singapura bersama rajanya sehingga di Bintan tak ada lagi pemimpin tinggi, kecuali pemimpin setingkat Datuk Kaya (lebih kurang setara bupati saja dalam sistem pemerintahan sekarang). Tak berapa lama antaranya Datuk Demang Lebar Daun, Wan Seri Beni, para menteri senior, dan diikuti beberapa tahun kemudian oleh Raja Seri Teri Buana pun mangkat di Singapura dan mereka semuanya dimakamkan di Bukit Singapura.

Setelah sekian kali pergantian raja, dari anak ke cucu, dari cucu ke cicit Seri Teri Buana atau Sang Nila Utama, sampailah generasi piut Baginda yang memerintah Kerajaan Bintan-Temasik yang berpusat di Singapura itu. Namanya Raja Parameswara atau Iskandar Syah. Lebih kurang 30 tahun Baginda memerintah, terjadilah tragedi Singapura direbut oleh Majapahit sekitar 1376 karena kerajaan dari Jawa itu mulai melebarkan kekuasaannya di nusantara kala itu. Berkenaan dengan jatuhnya Singapura, bukanlah kehebatan Majapahit yang menjadi punca utamanya, melainkan ada perkara yang lebih daripada sekadar itu. Raja Ahmad Engku Haji Tua dan Raja Ali Haji rahimahullah menuturkannya di dalam karya sejarah mereka Tuhfat al-Nafis tentang duduk perkara yang sebenarnya.   

“Syahadan apabila mangkatlah Paduka Seri Maharaja itu, maka menggantikan kerajaannya puteranya yang bernama Raja Iskandar Syah, dan Raja Iskandar Syah inilah negeri Singapura dialahkan oleh Raja Manjapahit (sic). Adalah sebabnya itu Raja Iskandar Syah ada menaruh seorang gundiknya (baca: istri sah yang bukan istri gahara, bukan ‘istri pertama atau permaisuri’, HAM) daripada anak menterinya yang bernama Sang Rajuna Tapa, yang bergelar Penghulu Bendahari. Maka difitnahkan oleh seorang daripada gundiknya jua mengatakan gundik baginda anak Penghulu Bendahari bermukah (baca: berselingkuh, HAM) dengan seorang laki-laki. Maka murkalah Raja Iskandar Syah akan gundiknya anak Penghulu Bendahari itu, lalu disuruhnya seorang membunuhnya. Kemudian disuruhkannya pula pancungkan di Hujung Pasir, padahal pekerjaannya itu tiada dengan usul periksa lagi,” (Ahmad & Haji dalam Matheson (Ed.) 1982, 3).

Itulah punca tragedi tersebut. Raja Parameswara atau Iskandar Syah membunuh istrinya tanpa usul periksa. Baginda hanya mendengarkan fitnah dari orang lain yang iri kepada istrinya yang tak lain juga putri Sang Rajuna Tapa Penghulu Bendahari. Dibakar oleh amarahnya yang teramat sangat, Baginda Sultan Iskandar Syah langsung memerintahkan untuk menghukum pancung istrinya itu di muka umum.

British Library India Office, 1825, Wikimedia.org

Kemarahan Sang Rajuna Tapa, yang juga Sang Ayah dari istri Raja Singapura yang terhukum secara kejam itu, tak dapat dibendungnya lagi. Kalau memang benar anaknya bersalah, dia rela putrinya dibunuh. Akan tetapi, hanya berdasarkan fitnah orang yang iri kepada putrinya itu, Sang Raja langsung mengeksekusinya, bahkan dilakukan di muka umum, itu yang membuat Penghulu Bendahari tak dapat menerimanya. Dendamnya kepada Sang Raja tak dapat lagi dibendungnya. (Ingat Sumpah Setia Melayu: “Jika rakyat bersalah, bahkan harus dihukum mati, silalah dihukum. Akan tetapi, jangan dipermalukan!” Menghukum pancung di muka umum itu perbuatan yang mempermalukan). Maka, nantikanlah padahnya!

Kebetulan Sultan Iskandar Syah kala itu sedang bermusuhan dengan Kerajaan Majapahit. Kesempatan untuk membalas dendam dan atau menuntut bela digunakan oleh Sang Rajuna Tapa dengan memanfaatkan permusuhan Raja Parameswara dengan Raja Majapahit. Dia dan orang-orangnya membelot ke pihak Majapahit sehingga memudahkan serangan Majapahit ke Singapura. Pada 1376 Majapahit berhasil merebut Singapura atas bantuan Sang Rajuna Tapa dan pengikutnya yang membelot dari rajanya yang dianggapnya zalim karena mempermalukannya sekeluarga di hadapan rakyat. Memang, Sang Rajuna Tapa pun karena pembelotannya itu akhirnya meninggal dunia dalam keadaan yang sangat tragis. Akan tetapi, dendamnya telah terbalaskan!

Setelah dikalahkan oleh Majapahit, Raja Parameswara Iskandar Syah, piut Seri Teri Buana, keturunan Melayu Palembang dan Bintan, akhirnya berhijrah ke Melaka. Sejak itu, secara bertahap menjadi besarlah Kesultanan Melaka, yang dibangun oleh generasi penerus dari Kerajaan Bintan-Temasik sampailah Kesultanan Melayu yang besar itu, kemudian, dikalahkan oleh Portugis di Melaka pada 1511 dan dilanjutkan ke Bintan kembali sampai 1526.

Kerajaan warisan Bintan yang bertapak di Temasik atau Singapura mengalami tragedi kemanusiaan, yang berdampak pada tragedi politik, penyebab utamanya hanya satu: pemimpinnya, yakni Raja Parameswara Iskandar Syah, tak teliti dalam memutuskan perkara. Dia dibakar amarah hanya karena mendengar fitnah orang lain. Tanpa usul periksa, dia rela membunuh istrinya yang sesungguhnya sangat setia kepadanya walaupun istrinya itu bukanlah permaisuri. Jika dia agak bersabar, melakukan pemeriksaan dengan teliti sebelum menjatuhkan hukuman, mungkin keadaannya menjadi lain. Pasalnya, istrinya itu tak seperti yang dituduhkannya, dia bukanlah istri yang menyeleweng atau berselingkuh dengan laki-laki lain. Sesungguhnya, dia sangat mencintai dan menghormati suaminya. Apatah lagi, suaminya itu adalah juga atasan ayahandanya.

Dengan merujuk kejatuhan Kerajaan Bintan-Temasik yang berpusat di Singapura di bawah pentadbiran Sultan Iskandar Syah Parameswara, satu pelajaran kepemimpinan dapat dipetik. Pemimpin tak boleh gegabah. Oleh sebab itu, dalam menghadapi situasi seperti yang dialami oleh Sultan Iskandar Syah itu, setiap pemimpin haruslah teliti. Di bawah pemimpin yang berkarakter teliti, sesebuah negeri atau negara nescaya akan terhindar dari angkara murka, yang tak jarang dilakukan pihak-pihak tertentu, sama ada kawan ataupun lawan, untuk menjatuhkan seseorang pemimpin. Tak hanya Raja Parameswara yang pernah mengalami musibah kepemimpinan yang serupa, para pemimpin sebelum itu, bahkan banyak yang sesudahnya juga, harus tersungkur dari singgasana kekuasaan karena gegabah, kurang usul periksa, dan atau kurang/tak teliti.

Bersabit dengan itulah, Gurindam Dua Belas, Pasal yang Ketujuh, bait 3 (Haji, 1847) memberikan nasihat. Seyogianya kearifan itu senantiasa diingat agar pemimpin tampil sebagai pribadi yang terhormat. Jika tidak, penyesalan tak berkesudahanlah yang akan didapat. Bukankah contohnya sangat banyak dalam riwayat. 

Apabila kita kurang siasat
Itulah tanda pekerjaan hendak sesat

Raja Parameswara Iskandar Syah tak hanya harus kehilangan istri yang sesungguhnya sangat mengasihinya. Baginda juga telah membuat mertua sekaligus menterinya yang sangat setia harus membelot darinya demi marwah keluarga yang dipermalukan di muka umum. Lebih dari itu, Baginda juga harus kehilangan Kerajaan Bintan-Temasik yang telah dibangun oleh nenek-moyang sebelah ibunya (dari Kerajaan Bintan) dengan perjuangan keras dan cukup lama sejak tahun 300 sebelum Masehi. Hanya karena nila setitik, rusak santan sebelanga! Pasal apa? Raja Parameswara kurang siasat dalam mentadbir negeri. Dia sangat mudah diperdaya oleh fitnah pihak-pihak yang tak bertanggung jawab dan memang senantiasa mengintip sisi kelemahan seseorang pemimpin.

Adakah rujukan yang dapat dipercaya tentang mustahaknya sikap teliti bagi manusia, lebih-lebih bagi pemimpin, selain dari kisah-kisah yang diriwayatkan oleh manusia? Ternyata, memang ada dan sumber pedomannya langsung dari Allah SWT.

“Hai, orang-orang yang beriman! Jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu,” (Q.S. Al-Hujurat, 6).

Raja Parameswara telah menimpakan musibah kepada istrinya yang sangat setia. Musibah dipermalukan lebih-lebih dirasakan oleh keluarga istrinya. Dia lebih percaya kepada berita palsu yang dibawa oleh orang yang fasik. Malapetaka yang menimpanya tak sekadar kehilangan istri, tetapi lepasnya sebuah kerajaan (negara) yang telah diperjuangkan oleh nenek-moyangnya dengan darah dan air mata. Padahal, kalaulah Baginda Sultan Bintan-Temasik itu memperhatikan peringatan Allah dengan seksama seraya mengimplementasikannya dalam kepemimpinannya, tak sekadar membaca, mendengar, dan mempercakapkannya untuk kemudian disia-siakan dalam praktik kepemimpinannya, tentulah malapetaka itu tak akan menerpa diri, keluarga, dan kerajaannya.

Sultan bertitah seraya memandang
Kepada Duri muda terbilang
Apalah yang diharapkan oleh hulubalang
Hamba nin papa bukan kepalang

Bait syair di atas merupakan nukilan dari Syair Abdul Muluk (Haji, 1846), bait 968. Syair itu menggambarkan kemurungan Sultan Jamaluddin, Raja Kerajaan Barham ketika dia berbicara dengan Hulubalang Duri (Siti Rafiah). Dia menghiba sedemikian rupa ketika mendengarkan niat dan hajat Hulubalang Duri hendak mengabdi di kerajaannya. Mengapakah Sultan Barham itu sampai bertitah memilukan hati dan mengusik sukma sedikian rupa?

Dia tak memiliki kuasa apa-apa lagi di kerajaannya. Kekuasaannya telah dirampok oleh pamannya sendiri, musuh dalam selimut, yang tak pernah diperkirakannya. Kali ini musuh datang dari kalangan sendiri, bapa saudaranya. Dikiranya karena Bahsan adalah pamannya tak mungkin saudara kandung ibunya itu tergamak menganiayainya. Lupa dia bahwa syahwat kekuasaan boleh membuat orang lupa daratan, bersedia berbuat apa saja, terhadap sesiapa saja, tak kira saudara ataupun kawan seketawa. Dia jadi lalai dan tak teliti menilai orang-orang yang berada di sekelilingnya. Akibatnya, Sultan Jamaluddin hanya dapat meratapi nasib malang yang menimpa dirinya. Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian apalah gunanya.

Tak hanya Allah SWT, bahkan Rasulullah SAW juga mengingatkan umatnya agar senantiasa berhati-hati dan atau teliti dalam menghadapi semua persoalan kehidupan, apatah lagi kepemimpinan. Di antara hadits Baginda Rasul adalah berikut ini.

Rasulullah SAW bersabda, “Tergesa-gesa itu berasal dari syaitan dan berhati-hati (teliti) berasal dari Allah,” (H.R. Tirmidzi).  

Itulah di antara anjuran untuk bersikap teliti, apatah lagi dalam kepemimpinan, dari Rasulullah SAW. Karakter teliti yang ada di dalam diri setiap pemimpin nescaya akan menyelamatkan diri dan kepemimpinannya karena sumber ketelitian itu sesungguhnya berasal dari Allah, sedangkan lawannya, yakni tergesa-gesa dalam membuat keputusan, bersumber dari syaitan, yang sangat tak patut untuk dijadikan tauladan.

Bersabit dengan itu, sangat ariflah syair nasihat dalam Tsamarat al-Muhimmah (Haji dalam Malik (Ed.), 2013), bait 19, yang mengingatkan pemimpin agar tak tergelincir pada pekerjaan yang salah. Kesalahan yang dilakukan oleh pemimpin, antara lain karena ketaktelitiannya, dapat membuat rakyat berhati gundah, bahkan sangat mungkin mengundang murka Allah. Betapa tidak? Allah telah memerintah agar berhati-hati dan teliti dalam meningimplementasi kebijakan dan tindakan kepemimpinan, yang dilakukan malah eksperimen pembangkangan terhadap petunjuk yang seyogianya tak diragukan kebenarannya. 

Jika tergelincir pekerjaan salah
Pekerjaan anakanda beroleh lelah
Rakyat tentara tentu bencilah
Barangkali datang murkanya Allah

Pekerjaan salah selalu diikuti. Itulah sebabnya, banyak terjadi dalam sejarah kejatuhan pemimpin karena dia tak teliti. Dampaknya tak hanya membabitkan dirinya secara pribadi, tetapi merugikan negara dan rakyat seluruh negeri. Sebaliknya pula, pemimpin yang berjaya membawa bangsa dan negaranya kepada kemajuan yang didambakan sudah pasti akan dihormati. Kunci kejayaannya tiada lain karena dia secara konsisten menerapkan karakter teliti sebagai cermin kepemimpinannya beroleh pancaran cahaya Ilahi. Hal itu juga bermakna bahwa dia telah berjaya menjadikan dunia sebagai tempat berbuat bakti.***     

Kebakaran Besar Kampung Cina Senggarang di Tanjungpinang Tahun 1904

0
Pemandangan salah satu sudut di Kampung Cina Senggara di Tanjungpinang sekitar tahun 1900. (dok: aswandi syahri)

Meskipun tak seperti kisah terbakarnya Kampung Gelam di Singapura yang diabadikan oleh Abdullah bin Abdulkadir Munsyi dalam Syair Kampung Gelam Terbakar (1847), peristiwa kebakaran besar yang melanda Kampung Cina Senggarang, di seberang Tanjungpinang, pada tahun 1904 tercatat dalam beberapa bahan sumber sejarah tempatan dan tersiar dalam surat kabar sezaman yang terbit di Singapura.

Agaknya, inilah peristiwa kebakaran besar di Tanjungpinang yang mendapat perhatian cukup besar pula oleh sejumlah surat kabar di Singapura ketika itu, dan dicatat oleh pencatat sejarah tempatan dengan cukup detil. Tidak hanya karena menimbulkan korban jiwa, dan membakar gudang-gudang gambir serta lada yang sangat mahal ketika itu, tapi juga kerena kebakaran tersebut telah menghanguskan 450 rumah dari 500 bangunan yang ada di kampung itu.

Kebakaran besar tersebut terjadi pada pukul 10.30 pagi, hari Senin tanggal 21 Maret 1904. Sehari kemudian, berita tentang peristiwa itu sampai ke Singapura. Pada hari itu juga, Selasa 22 Maret 1904, surat kabar The Straits Timesyang terbit di Singapura melansir berita kebakaran tersebut dalam ruang korespondensinya dengan judul, Great Fire at Rhio (Kebakaran Besar di Riau).

Esok harinya, 23 Maret 1904,  masih dalam judul berita yang sama dramatisnya, The Great Fire at Rhio, detil peristiwa kebakaran besar di Pulau Senggarang yang dibawa oleh awak kapal uap Emilymilik pemerintah Belenda di Tanjungpinang (sebuah kapal uap yang melayari rute Tanjungpinang-Singapura pulang pergi) muncul pula dalam surat kabar The Singapore Free  Press & Mercantile Advertiser.

Many Burned to Death”, “Banyak Yang Terbakar Hingga Mati”, tulis surat kabar Singapore Free Press di awal laporannya tentang kebakaran besar itu. Ketika peristiwa tersebut terjadi, Kampung CinaSenggarang, Tanjungpinang, dihuni oleh nalayan, serta para petani gambir dan lada dari kalangan suku Tio-chiu. Menurut kabar yang diterima oleh The Singapore Free Presss & Mercantile Advertiser dari pihak kapal uap “Emily”, sumber api dalam kebakaran besar itu berpunca dari pondok  milik seorang nelayan.

“…The fire started in a fisherman’s hut through his carelessness while cooking his morning meal, and the hut was quickly ablaze and soon set the adjoining houses on fire. Fanned by a strong sea breeze the fire spreat through the whole village with incredible rapidity and the flying sparks set huts in all direction on fire, and the village was soon burning in five or six place at once…”, tulis surat kabar The Singapore Free  Press & Mercantile Advertiser.

Bila dterjemahkan, sebab-musabab kebakaran besar di Kampung Cina Senggarang yang dilansir The Singapore Free  Press & Mercantile Advertiser dalamlaporan berjudul The Great Fire at Rhio itu, adalah sebagai berikut: “…Kobaran api itu bermula di sebuah pondok seorang nelayan, karena kecerobohan ketika mamasak sarapan paginya, dan gubuknya dengan cepat terbakar dan segera menjalar ke rumah-rumah yang bersebelahannya dengannya. Ditiup pula oleh angin yang kuat sehingga menyebabkan api menyebar ke seluruh kampung dengan luar biasa cepatnya, dan percikan api yang berterbangan telah menyebabkan pondok-pondok di segala penjuru terbakar, dan lima atau enam tempat di kampung itu terbakar sekaligus…”

Kebakaran besar di Kampung Cina Senggarang telah menyebabkan sejumlah korban korban jiwa. Pada hari Selasa pagi, tanggal 22 Maret 1904, jasad tiga laki-laki dan dua perempuan ditemukan hangus terbakar diantara reruntuhan bangunan yang masih membara.

Ketika peristiwa itu terjadi, Resident Riouw William Albert de Kanter, tidak berada di tempat, karena berkunjung ke Karimun, Lingga, dan Singkep. Ia baru kembali ke Tanjungpinang pada pukul 3 petang, tanggal 24 Maret 1904. Sementara itu Sultan Riau, Abdulraman Mu’azamsyah, juga sedang berada di Lingga.

Tak banyak yang bisa dibuat oleh pemerintah Belanda di Tanjungpinang dan pembesar Kerajaan Riau-Lingga di Pulau Penyengat. Mesin pemadam api manual (manual-fire-engine) dan pompa manual menggunakan tangan (hand-pums) yang dibawa dari Tanjungpinang tak mampu melawan kobaran api. “…and the greater part of the village was soon a crackling, roaring furnace, giving off intense heatMany of unfortunate fisherman, whose huts projected over the water leaped into the sea, but faoud the the heat of the water almost unbearable…”,  “…dan sebagian besar dari kampung itu segera berderak, menderu bagaikan tungku, dan menghasilkan panas yang hebat…Banyak nelayan malang yang pondoknya berada di atas air, melompat ke laut, namun panasnya air laut tak tertahankan…” tulis The Singapore Free Press & Mercantile Advertiser.

Pada pukul 3 petang hari itu juga, akhirnya kobaran api padam sendiri. Tercatat dari 500 buah rumah yang ada kampung itu, hanya 50 buah yang tersisa. Sebagian besar gambirdanlada yang siap dikirim ke Singapura musnah. Malangnya, pada hari itu juga, sekelompok orang Melayu dari Pulau Pemangkat tiba. Semula mereka dikira akan membantu, namun alih-alih menjarah harta benda korban.

***

Peristiwa kebakaran besar di Kampung Cina Senggarang ini juga dicatat oleh Encik Abdullah anak Datuk Syahbandar Ismail di Pulau Penyengat. Ia adalah salah seorang penduduk Pulau Penyengat yang pertamakali melihat kobaran api itu ketika ia berada Kampung Cina di Pulau Penyengat, dan sekaligus menjadi saksi yang menuliskan laporan padangan matanya tentang peristiwa itu.

 Pada pagi hari ketika kebakaran itu terjadi, Encik Abdullah sedang berada di Kampung Cina Pulau Penyengat. Ia dikejutkan oleh teriakan budak-budak (anak-anak) mengatakan Kampung Cina Senggarang terbakar.

“Maka, betul, pukul 10 setengah kami hendak berjalan ke kantor (Mahkamah Besar) dan singgah di rumah Saleh, Bapa si Yusuf, dekat Kampung Cina.  Maka kami turun di rumah itu, budak2 berteriak mengatakan Kampung Cina Senggarang terbakar. Dan kami lihat permulaan yang dimakan api rumah dekat pasar ikan hingga ke ujung dimana tangga tempat sampan2 tambang berikat. Kemudian dimakan api rumah2 pasar kiri kanan jalan sebelah laut dan sebelah darat habis…” tulis Encik Abdullah dalam baris-baris catatan hariannya untuk tarikh 21 Maret 1904.

Tentang kerugian dan bangunan-bangunan yang dilalap api dalam peristiwa kebaran besar ini  ini, Encik Abdullah mencatat dengan cukup detil dalam catatan hariannya. Selain gudang gambir dan lada, api juga meluh-lantakkan sejumlah rumah milik tiga Letnan Cina dan kedai-kedai di Senggarang:

Api membakar rumah Letnan Tan Cin Siang dan rumah Letnan Tean Teng Kiung, dan berhenti api di sebelah laut dekat rumah Letnan Gu Kam Pau terus ke darat. Dan rumah-rumah batu yang di sebelah darat ada satu yang terbakar hingga gambir lada yang terjemur di pelantar-pelantar habis dimakan api. Dan yang kami ketahui, beras Letnan Tan Cin Siang yang terbakar dua ratus lima puluh goni, gambir 1000 pikul, dan lada 400 pikul, dan babi empat kandang kira2 100 ekor. Lain rumah-rumah toke2 cina lain…”

Pada ketika itu Encik Abdullah  bersama beberapa orang pembesar Kerajaan Riau-Lingga dan penduduk Pulau Penyengat datang membantu ke Senggarang. Mereka bahu-membahu memamadamkan api bersama pembesar Belanda yang datang dari Tanjungpinang:

“…Maka yang datang bersama-sama kami dari Penyengat: orang Pulau Jemaja nama si Pang dan si Mamat anak Merojol, dan Raja Khalid (Bentara Kiri Kerajaan Riau-Lingga). Kemudian Raha Zailnal (Bentara Kanan Kerejaan Riau-Lingga) datang dengan bot seperti opas, naik menolong bersama opas gubernemen menggoyang pompa yang datang bersama sekretaris Boer (Boer de Vil Boer, sekretaris Residen Riouw) dan Komis nama Hoeboer dan lain-lain orang putih juru tulis kantor (Resident di) Tanjungpinang sampai pukul dua lebihMaka adalah rumah-rumah kedai kedai kecil yang terbakar 200 pintu dan rumah kedai gambir dan lada lebih kurang tiga ratus pintu…”

Dari penyelidikan yang dilakukan oleh pihak Kerajaan Riau-Lingga dan Resident Riouw, disimpulkan bahwa peristiwa kebakaran besar di Kampung CinaSenggarang yang sangat dramatis dan menggerunkan itu telah memusnahkan ribuan dolar harta benda!

Untuk mencegah agar peristiwa serupa tak terjadi kembali, Resident Riouw (William Albert de Kanter) yang mengunjungi lokasi kebaran itu pada 26 Maret 1904 membuat beberapa kesimpulan dan keputusan. Salah satu diantaranya,  “…tidak diberinya (izin) membuat rumah (berbahan) atap (rumbia di Senggarang) melainkan rumah batu…” tulis Encik Abdullah dalam catatan hariannya.***

Tiadalah Aku Takut dan Ngeri

0
Salinan surat Sumpah Setia antara Yang Dipertua Muda Raja Abdulrahman (1832-1844) dengan Duli Yang Maha Mulia Yang Dipertuan Besar al-Sultan Muhammad ibni al-Marhum Sultan Abdulrahman Syah (832-1841), yang dicantumkan dalam manuskripSejarah Raja-Raja Riau koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. (foto: aswandi syahri)

SULTAN Sulaiman Badrul Alam Syah I, Yang Dipertuan Besar Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang (1722-1760), sejak kali pertama ditabalkan sampai akhir masa jabatan Baginda didampingi oleh tiga orang Yang Dipertuan Muda (Raja Muda). Yang pertama Yang Dipertuan Muda Daeng Marewah (1722-1728), yang kedua Yang Dipertuan Muda Daeng Celak (1728-1745), dan yang ketiga Yang Dipertuan Muda Daeng Kamboja (1745-1777). Jabatan Yang Dipertuan Muda, yakni setingkat di bawah sultan, sejak 1722 memang dianugerahkan kepada putra-putra Raja Bugis melalui perjanjian yang dikenal dengan Sumpah Setia Bugis-Melayu. Penganugerahan jabatan itu dilakukan karena Daeng Parani, saudara tertua Opu Lima Bersaudara dari Bugis, dan saudara-saudaranya membantu Sultan Sulaiman mengalahkan musuh Baginda pada 1722.

Masa pemerintahan Sultan Sulaiman I dan Yang Dipertuan Muda Daeng Kamboja tercatat paling sering terjadi “pergesekan” antara keturunan Melayu dan keturunan Bugis di Kerajaan Melayu itu. Pemimpin pihak Melayu dalam pertikaian itu adalah Yang Dipertuan Terengganu Raja Kecik, Tun Dalam, yang juga adalah menantu Sultan Sulaiman. Di pihak Bugis tentulah Daeng Kamboja pemimpinnya.

Dalam hal ini, setelah lebih kurang 23 tahun diikrarkannya Sumpah Setia, mulai dijumpai ketakserasian di antara kedua belah pihak, kecuali Sultan Sulaiman yang senantiasa menjaga dan menampilkan kebijaksanaan Baginda sebagai sosok sultan yang arif. Oleh sebab itu, Baginda Sultan tak berpihak kepada salah satu di antara kedua kelompok itu, bahkan Baginda senantiasa berupaya untuk mendamaikannya.

Berhubung dengan ketakharmonisan perhubungan antarpihak itu, Raja Ahmad Engku Haji Tua dan Raja Ali Haji rahimahullah dalam karya mereka Tuhfat al-Nafis mencatatnya sebagai berikut.

“… Maka waktu ini pula baharu hendak ditolong kita semua Bugis, serta hendak dibatalkan sumpah setia serta serta hendak diberi malu kita dengan dibatalkan pula jabatan kita [huruf miring oleh HAM] selama-lamanya.

Maka di dalam pada itupun (sic) jikalau Sultan Sulaiman hendak menyertai pekerjaan sebelah suku-suku Melayu itu, iaitu kita lawan juga dahulu dengan jalan yang patut, atau undur dahulu kita. Adapun yang lain daripada Sultan Sulaiman, boleh juga dicuba laki-lakinya…. Syahadan inilah ambilan anak raja-raja Bugis,” (Ahmad & Haji dalam Matheson (Ed.) 1982, 127).

Catatan di atas memerikan kekesalan Yang Dipertuan Muda III Daeng Kamboja kepada Tun Dalam dan kelompoknya. Pasalnya, Tun Dalam berupaya hendak membatalkan Sumpah-Setia Bugis-Melayu yang telah diikrarkan oleh pendahulu mereka dan selanjutnya menghapus jabatan Yang Dipertuan Muda (Raja Muda). Tentulah Daeng Kamboja dan keturunan Bugis tak dapat menerima perlakuan itu karena pantang nenek-moyang mereka, baik pihak Melayu maupun pihak Bugis, untuk ingkar janji. Sikap dan perilaku berpaling tadah itu tak terpuji atau tercela.

Dalam menghadapi suasana yang genting itu, Yang Dipertuan Muda Daeng Kamboja dan pengikut Baginda mengambil dua sikap. Pertama, kepada Seri Paduka Baginda Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah I: jika Sultan berpihak kepada menantu Baginda, Daeng Kamboja akan melawannya secara bermartabat (patut) atau berundur sementara dari Riau-Lingga untuk memulihkan perhubungan di antara mereka. 

Kedua, kepada Tun Dalam dan pengikutnya: Daeng Kamboja dan pengikutnya siap beruji “kejantanan”, suatu keadaan yang sebetulnya tak menguntungkan kedua belah pihak jika sampai terjadi karena akan menguntungkan pihak ketiga. “Kalah jadi abu, menang jadi arang!” Padahal, kedua belah pihak sejak diikrarkan Sumpah Setia—yang mengibaratkan diri seperti mata putih dan mata hitam yang tak dapat dipisahkan, saling menjaga dan melindungi—telah berbaur dalam perhubungan darah dan zuriat melalui pernikahan. Artinya, keturunan Melayu adalah juga keturunan Bugis, begitu pula sebaliknya, dalam arti yang sesungguhnya, bukan sekadar ungkapan pemanis janji. Pahit dan maung kehidupan telah dijalani dan dirasakan bersama-sama selama ini.

Mengapakah Daeng Kamboja mengambil sikap yang ekstrem seperti itu? Jawabnya, pantang pemimpin dipermalukan! Pertikaian yang hendak memisahkan mereka merupakan upaya mempermalukan. Pertama, mempermalukan Seri Paduka Baginda Yang Dipertuan Besar Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah I. Pasalnya, janji setia itu dibuat bersama antara Sultan dan para ayahanda mereka, Opu-Opu Lima Bersaudara, dalam upaya yang sangat sakral. Untuk itu, tak ada tekanan dari kedua belah pihak, kecuali didasari oleh keikhlasan semata-mata. 

Kedua, Yang Dipertuan Muda menganggap pertikaian itu hendak mempermalukan keturunan Bugis sehingga jabatan mereka akan dihapus. Bukan soal jabatannya yang mustahak, melainkan jika tindakan itu dilaksanakan, seolah-olah pihak Bugis telah melakukan kesalahan besar terhadap Sultan Melayu. Itulah sebetulnya yang paling ditentang oleh Baginda Daeng Kamboja.

Di dalam Tsamarat al-Muhimmah memang ditegaskan bahwa pemimpin tak boleh mempermalukan dan dipermalukan. Itulah sebabnya, sikap terpuji itu harus diikrarkan ketika seseorang akan dilantik menjadi pemimpin.   

“Pertama, bahwa kami [baca: raja dan atau pemimpin, HAM] tiada memperbuat pekerjaan zalim di atas kamu [baca: bawahan, HAM], sama ada pada nyawa kamu atau badan kamu atau harta kamu, Insyaa Allah Ta’ala, intaha. Kedua, bersungguh-sungguh kami memeliharakan nama kamu dan memeliharakan marwah kamu dan memeliharakan kemaluan [‘rasa malu’, HAM] kamu, sama ada pada diri kamu atau pada ahli [‘anggota keluarga’, HAM] kamu, intaha,” (Haji dalam Malik (Ed.), 2013).

Pantang dipermalukan, sama ada secara tersembunyi ataupun terang. Jika ada gelagat buruk hendak mencabarnya, tak ada jawaban lain, kecuali perang! Pasalnya, marwah diri tak boleh diperjualbelikan, apatah lagi diperlakukan bagai barang dagangan di pasar lelang. Murah bangat … sehingga tak sesiapa pun bersedia memandang, jangankan membilang. Intinya, jangan pernah mau dipermalukan. Itulah karakter pemimpin yang sadar akan marwah dirinya lagi terbilang.

Bersabit dengan karakter hebat itu pulalah, syair nasihat dalam Tsamarat al-Muhimmah (Haji dalam Malik (Ed.), 2013), bait 21, menuturkan hikmahnya.

Tutur yang manis anakanda tuturkan
Perangai yang lembut anakanda lakukan
Hati yang sabar anakanda tetapkan
Malunya orang anakanda pikirkan

Tak ada pemimpin yang boleh mempermalukan orang lain, apatah lagi bawahan dan rakyatnya, seperti halnya tak ada pemimpin yang boleh dipermalukan. Untuk itu, pemimpin harus arif dan bijaksana dalam bertutur, bersikap, dan berperilaku. Itu bermakna dia tahu mengukur marwah dirinya. Jika tidak, bukan orang lain yang melakukannya, melainkan dialah yang mempermalukan dirinya sendiri. Kalau sampai yang disebutkan terakhir itu terjadi, maka sebuah tragedi kepemimpinan, bahkan kemanusiaan, telah berlaku sehingga akan diperkatakan orang tak cukup sewindu. Matlamat perbincangannya tentulah agar malapetaka serupa tak menimpa anak-cucu. Puah sisih, petuah penangkalnya diucapkan begitu.

Atas dasar kearifan itulah, Gurindam Dua Belas, Pasal yang Kelima (Haji, 1847), bait 2, menitipkan amanat. Tujuannya tiada lain untuk ditimbang dan diingat-ingat, terutama bagi pemimpin yang memahami nilai-nilai mulia sebuah martabat.

Jika hendak mengenal orang yang berbahagia
Sangat memeliharakan yang sia-sia

Perangai mempermalukan merupakan perbuatan yang sia-sia. Itu bukanlah sifat, sikap, dan perilaku orang beradab dalam sebuah tamadun yang terala. Pelakunya mengindikasikan dirinya, tak hanya tercela, tetapi juga tak berbahagia. Orang yang berbahagia tak pernah mau melakukan sesuatu yang sia-sia, apatah lagi perangai itu memang diharamkan oleh Allah SWT.  

“Hai, orang-orang yang beriman! Janganlah sekumpulan laki-laki mencela kumpulan yang lain, boleh jadi yang dicela itu lebih baik dari mereka. Dan, jangan pula sekumpulan perempuan mencela kumpulan yang lain, boleh jadi yang dicela itu lebih baik lagi. Dan, janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandungi (makna) ejekan. Seburuk-buruknya panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman. Dan, barang siapa yang tak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim,” (Q.S. Al-Hujuraat, 11).

Itulah larangan Tuhan Yang Mahamulia. Tak sepatutnya perilaku mempermalukan dan atau mencela manusia menjadi bagian dari kehidupan sesiapa pun, apatah lagi pemimpin. Demikian pula sebaliknya, tak sesiapa pemimpin pun boleh menerima dirinya dipermalukan oleh pihak lain, sesiapa pun dia dan dengan latar apa pun alasannya. Jika ada juga sebarang pihak hendaknya mencobanya, sikap yang harus diambil seyogia dan semulia-mulianya seperti yang dilakukan oleh Baginda Yang Dipertuan Muda Daeng Kamboja, “Boleh juga dicuba (ke-)laki-laki(-an)nya!” Itu dia dan itu yang seharusnya.Begitulah para pemimpin bermarwah menampilkan aura kepribadiannya.

Seperti halnya yang dilakukan oleh Sultan Abdul Muluk, penguasa Kerajaan Barbari, dalam Syair Abdul Muluk (Haji, 1846). Setelah memasuki wilayah Kerajaan Barbari secara sembunyi-sembunyi dan mengepung ibukotanya, barulah Raja Hindustan berkirim surat kepada penguasa Negeri Barbari. Isi suratnya termaktub dalam syair  bait 569. Di dalam surat itu disebutkan tujuannya menyerang Kerajaan Barbari, yakni hendak menguasai negeri yang kaya dan makmur itu

Inilah surat Sultan Hindi
Datang kepada Sultan Barbari
Adapun aku datang ke mari
Hendak memiliki seisi negeri

Gentar dan kecutkah Sultan Abdul Muluk, karena negerinya telah terkepung, terhadap gertakan Sultan Hindustan terhadap dirinya? Dayus hukumnya seseorang pemimpin berasa takut dan gentar ketika musuh telah menggertak. Kepada hulubalang musuh yang mengantarkan surat itu, dengan lantang dia bertitah.

“Hei, hulubalang! Sampaikan kepada raja kalian yang biadab itu. Pantang Raja dan rakyat Barbari dihina dan dipermalukan oleh sesiapa saja di dunia ini. Apatah lagi, sekadar pemimpin kalian bangsa Hindustan!” merona durja Sultan Abdul Muluk menahan geram dan amarah yang teramat sangat.

Bait 574 Syair Abdul Muluk meneruskan kisahnya. Di situlah ditampilkan karakter Sultan Barbari itu sebagai pemimpin besar walaupun masih muda usianya. Hendak bersahabat, bekerja sama dalam bidang apa pun berdasarkan prinsip sebagai bangsa yang setara, bahkan berniaga dengan memperhatikan adab, adat, dan hukum bangsa yang mulia, kesemuanya itu akan disambutnya dengan tangan terbuka. Akan tetapi, begitu marwah dirinya dan lebih-lebih bangsanya dicabar, jiwa dan raganyalah yang dipertaruhkannya. Tak rela dia sekadar duduk manis di singgasana istana, tetapi menanggung malu selama-lamanya, bahkan memalukan bangsanya juga.

Lalu bertitah sultan bestari
Hai hulubalang katakan kembali
Jikalau sekadar Sultan Hindi
Tiadalah aku takut dan ngeri

Begitulah karakter pemimpin sejati yang berjiwa cemerlang. Tak pernah dibiarkannya dirinya dipermalukan orang. Kalau angkara itu tetap juga datang meski tak diundang, tak akan dirinya membuang belakang. Lebih-lebih lagi, karakter buruk mempermalukan orang, memang harus dibalas tanpa harus berasa bimbang. Bukankah pedomannya memang telah diberikan oleh pemimpin besar lagi terbilang? 

Rasulullah SAW bersabda, “Cukuplah seseorang berbuat keburukan jika dia merendahkan saudaranya sesama muslim,” (H.R. Muslim).

Tak ada sesiapa pun berhak merendahkan dan mempermalukan sesama manusia. Perilaku itu tergolong kejahatan kemanusiaan yang memang patut diberikan balasan. Jika ada upaya pihak lain hendak mempermalukan dirinya dan bangsanya, setiap pemimpin mesti berani membuat perhitungan terhadap mereka. Pasalnya, pantang dipermalukan merupakan karakter pemimpin yang dibenarkan oleh Tuhan.***

Rangkaian Sumpah Setia Melayu dan Bugis di Riau-Lingga

0
Salinan surat Sumpah Setia antara Yang Dipertua Muda Raja Abdulrahman (1832-1844) dengan Duli Yang Maha Mulia Yang Dipertuan Besar al-Sultan Muhammad ibni al-Marhum Sultan Abdulrahman Syah (832-1841), yang dicantumkan dalam manuskripSejarah Raja-Raja Riau koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. (foto: aswandi syahri)

(Sejak di Negeri Riau Tahun 1722 M Hingga di Pulau Penyengat Tahun 1895 M)

Sejak ditubuhkan, “pakatan”pemerintahan antara Melayu dan Bugis di “Kerajaan Johor yang baru” di Negeri Riau (yang kemudian bertukar ganti  menjadi Kerajaan Johor-Riau-Lingga-Johor-Pahang dan Kerajaan Riau-Lingga) telah dibuhul oleh “ikatan politik” dalam bentuk Persetian atau Sumpah Setia yang berulangkali dikrarkan dan dituliskan sejak tahun 1722 M  hingga 1895 M.

“Penjaga Equilibrium”

Sepanjang perjalanan sejarahnya, Sumpah Setiatersebut untuk pertama kali diikrarkan dan dituliskan setelah sultan yang pertama dalam “Kerejaan Johor yang Baru” d Negeri Riau, Sultan Sulaiaman Badrul Alamsyah menabalkan Kelana Jaya Putera Daeng Marewah sebagai yang Dipertuan Muda Riau yang pertama pada tahun 1722 M.

Inilah permulaan bersetia Bugis dengan Melayu seperti yang tersebut dalam surat-surat setia itu adanya,” tulis Raja Ali Haji dalam Tuhfat al-Nafis. Dokumen atau manuskrip sumpah setia pertama yang isinya antara lain menyebutkan bahwa ikatan dan “pakatan politik” antara pihak Melayu dan Bugis dalam pemerintahan “Kerejaan Johor yang baru” di Negeri Riau adalah bagaikan “mata hitam dan mata putih yang tidak dapat dipisahkan”.

Dalam kronik-kronik istana Riau-Lingga,Sumpah Setiayang pertama itu dikenal juga sebagai Persetian Marhum Sungai Baharu, bersempena nama gelar Yang Dipertuan Muda Riau Daeng Marewah yang mangkat dan dimakam di Sungai Baharu, di kawasan Hulu Riau, Tanjungpinang.

Dipandang dari kaca mata ilmu politik, maka ikrar Sumpah Setia antara pihak Melayu dan Bugis dalam kerajaan ini dapatlah dilihat sebagai sebuah kontrak politik pejaga equilibrium (kesimbangan) dalam internal kekuasaan dan pemerintahan ‘koalisi’ antara pihak Melayu dan Bugis di Kerajaan Johor-Riau-Lingga-dan Pahang.Salah satu alasannya, adalah karena Sumpah Setia ini berulang kali dibuat dan diikrarkan. Sumpah Setia ini tidak hanya diulang kembali ketika terjadi pergantian Sulta Yang Dipertuan Besar atau Yang Dipertuan Muda karena kemangkatannya, tetapi juga diikrarkan kembali ketika terjadi ‘pertelagahan’ dan ‘konflik politik’ diantara kedua tampuk pemeritahan itu.

Sebagai ilustrasi, ketika terjadi “perselisihan politik” yang berat antara Sultan Mahmud Muzafarsyah dengan Yang Dipertuan Muda Riau Raja Abdulrahman, sebuah surat Sumpah Setia yang baru dibuat dan dikrarkan kembali.Tentang akhir penyelesaian ‘perselisihan itu,  dicatat oleh Raja Ali Haji dalam Tuhfat al-Nafis sebegai berikut: “…maka Yang Dipertuan Muda [Raja Abdulrahman] mengajaklah Sultan Mahmud [Muzafarsyah] bersetia seperti setia adat istiadatnya Yang Dipertuan Muda yang dahulu-dahulu dengan Yang Dipertuan besar, yakni setia antara Bugis dan Melayu. Maka bersumpah setialah keduanya di atas balairung di bawah payung ubur-ubur kebesaran, serta sama-sama memegang Qur’an al-‘azim betapa adat sumpah setia yang dahulu-dahulu adanya…”

Sebagai penjaga equilibrium dan penyelesai konflik internal dalam pemerimtahan kerajaan sejak zaman pemerintahan Kerajaan  Johor di Negeri Riau pada tahun 1722 M sehinggalah pada masa penabalan Sultan Abdulrahman Muazamsyah di Pulau Penyengat pada tahun 1895 M, telah terjadi tujuh kali pengulangan ikrar Sumpah Setia itu, sebagaimana dicatat oleh Raja Ali Kelana dalam kitab Kumpulan Ringkas Berbetulan Lekas (1910 M).

Menurut Raja Ali Kelana, Sumpah Setia itu diulang kembali untuk pertama kalinya pada masa pemerintahan Sultan Sultan Sulaiman Badrus Alamsyah yang pertama dan Yang Dipertuan Muda Daeng Marewah   di Negeri Riau. Setelah itu, secara beturut-turut, diulang kembali oleh Yang Dipetuan Muda Daeng Celak dan Sultan Sulaiman pada tahun 1728 M. Diulang lagi  pada zaman pemerintahan Yang Dipertuan Muda Daeng Kamboja dan Sultan Sulaiman pada tahun 1753; diulang kembali pada masa Raja Ali Marhum Pulau Bayan dan Sultan Mahmud Ria’ayatsyah tahun1804; dan berulang kembali pada zamanpemerintahan Sultan Mahmud Muzafarsyah dan Yang Dipertuan Muda Riau Raja Ali (Marhum Kantor)pada 18 Juli 1845 M.

Bahkan, sumpah setia dalam “formatyang baru” dibuat pula setelah Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah mangkat di Lingga pada 1883: ‘Sumpah Setia’ yang diperbaharui ini, dibuat  antara ayah dan anak, yaitu antara Raja  Muhammad Yusuf  sebagai Yang Dipertuan Muda Riau X dan Raja Abdulrahman sebagai  Sultan Yang Dipertuan Besar Kerejaan Riau-Lingga dan daerah takluknya  (1885 M -1911 M) pada tahun 1895 M.

Dokumen Sumpah Setia

Hingga kini, tak sedikit orang yang meragukan keberadaan dokumen tertulis Sumpah Setia Melayu dan Bugis ini. Seperti apakah kandungan isi sumpah setia atau ’ikrar politik’ antara Bugis dan Melayu di kerajaan Johor Riau-Lingga-dan Pahang tersebut?

Pada kesempatan ini akan diketengahtiga contoh isi dokumen sumpah setia antara Melayu dan Bugis di kerajaan Johor Riau-Lingga-dan Pahang yang dibuat dalam periode yang berbeda, dan tersebab latar belakang politik atau masalah yang berbeda pula. Dua yang pertama dialih aksarakan salinan dokumenSumpah Setia yang ditulis menggunakan huruf Arab Melayu, dan dicantumkan dalam sebuah manuskrip Riau-Lingga yang berjudul Sejarah Rajaj-Raja Riau, simpanan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PERPUSNAS) di Jakarta. Adapun yang ketiga adalah hasil alih aksara sebuah dikumen Sumpah Setia yang asli.

Dokukuman yang pertama berisikan Sumpah Setia yang dibuat antara Yang Dipertuan Muda Raja Abdulrahman ibni al-Marhum Yang Dipertuan Raja Jakfar dan Duli Yang Maha MuliaYang Dipertuan Besar al-Sultan Muhammad ibni al-Marhum Sultan Abdulrahman Syah.

Adapun isi lengkapnya adalah sebagai berikut: “…Adalah Yang Dipertuan Muda Raja Abdulrahman seumpuma mata putih dengan mata hitam yang tiada sekali-kali boleh bercerai dan tiada berpaling sembah serta bertitah salah pada kebawah Duli Yang Dipertuan Besar. Dan Jikalau ia munkir seperti yang telah tersebut itu, niscaya dibinasakan Allah dan RasulNya. Tiada selamat dunia dan akhirat. Wa-Allah wa-Billah dama-Allam. Sekali-kali tiada boleh mengubahkan sumpah setia ini hingga sampailah kepada anak cucu cicitnya antara kedua pihak. Washalli-Allah-‘ala-Syaidina-Muhammad-wa-‘alihi-wa-sahbihi-ajma’in. Termaktub di dalam Negeri Riau [Pulau Penyengat] pada tarikh yang tersebut itu adanya.

Dokumen yang kedua, sebuah salinan dokumenSumpah Setia yang dikurniakan oleh Sultan Mamud Muzafarsyah kepada Yang Dipertuan Muda Raja Abdulrahman, bersempena mengkahiri sebuah “perselisisihan”, sebagaimana  juga dicatat oleh Raja Ali Haji dalam Tuhfat al-Nafis.Dalam dokumenSumpah Setia yang dibuat tahun 1842 M ini disebutkan sebagai berikut: “… Maka inilah Sumpah Setia Yang Dipertuan Besar al-Sultan Mahmud Muzafarsyah ibni al-marhum Sultan Muhammad Syah dengan Yang Dipertuan Muda Raja Abdulrahman, seumpama mata putih dengan mata hitam yang tiada boleh bercerai sekali-kali. Dan Yang Dipertuan Besar tiada boleh membuangkan Yang Dipertuan Muda, serta tiada boleh bertitah salah antara keduanya, yaitu Yang Dipertuan Besar dan Yang Dipertuan Muda, sebagaimana adat-istiadat almarhum yang dahulu-dahulu jualah antara Yang Dipertuan Besar dan Yang Dipertuan Muda. Dan barang siapa yang munkir Dibinasakan Alllah ta’ala dan rasulNya. Tiadalah ia dapat selamat dunia akhirat. Wa-Allah wa-Billah….Sekali-kali tiada boleh mengubahkan sumpah setia yang tersebut ini turun-temurun hingga sampailah kepada anak cucu cicitnya atas yang Dipertuan Besar dan Yang Dipertuan Muda adanya. Intiha.”

Adapun yang ketiga, adalah sebuah dokumen Sumpah Setia antara Sultan Mahmud Muzafarsyah dengan Yang Dipertuan Muda Raja Ali Marhum Kantor yang diikrarkan pada 18 Juli 1845. Dokumen ini adalah Sumpah Setia yang dibuat oleh Sultan Mahmud Muzafarsyah pada masa pemerintahannya di Daik-Lingga (1841-1857).

Dokumen asli Sumpah Setia yang telah delaminating ini masih ada, dan menjadi bagian dari pusaka keluarga yang berada dalam simpanan Tengku Husin ibni Tengku Muhammad Saleh di Tanjungpinang.

Isi lengkap dokumenSmpah Setia yang dibubuhi stempel kebesaran Sultan Mamud Muzafarsyah dan Raja Ali Marhum Kantor yang letaknya dalam posisi sejajar  pada bagian atas baris-baris isi Sumpah Setia  itu, adalah sebagai berikut:

Kepada hijrat al-Nabi Sali-Allah-‘Alaihi-wassalam sanah 1261 kepada ampat belas hari bulan Rajab kepada hari Jum’at waktu jam pukul satu siang inilah Sri Paduka Baginda Yang Dipertuan Besar menyatakan telah diperbuat surat setia perjanjian antaranya Raja Muda dengan Yang Dipertuan Besar menyatakan setia yang tiada boleh diubah-ubah kerana sudah ridha antara keduanya. Inilah yang diperbuat oleh Raja Muda dengan Yang Dipertuan Besar seperti badan dengan nyawa. Maka tiadalah sekali2 boleh menyangkal lagi yang akan datang barang sebagainya titah.”***

Hendaklah Jauhkan Pekerjaan Mungkir

0

JANUARI hari yang ke-6, 1784, pasukan Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang menang telak dalam Perang Riau I melawan Belanda di perairan Tanjungpinang dan sekitarnya. Walaupun begitu, Yang Dipertuan Besar Sultan Mahmud Riayat Syah dan Yang Dipertuan Muda IV Raja Haji Fisabilillah tak puas hanya sampai di situ. Belanda harus dihalau keluar dari Bumi Nusantara. Demikianlah azam kuat lagi hebat kedua pemimpin besar Melayu itu. Lalu, dikejar merekalah Belanda sampai ke markas penceroboh itu di Melaka (bagian Malaysia sekarang).

            Pertempuran di Melaka pun berlangsung berbulan-bulan. Sebagian besar wilayah Melaka telah dikuasai oleh pasukan koalisi Melayu yang terus berdatangan. Sampailah pada hari itu, Juni 1784, 18 hari bulan. Pertempuran besar terjadi di Teluk Ketapang setelah Belanda berhasil mendatangkan bala bantuan. Mereka menyerbu kubu Baginda Raja Haji Fisabilillah, yang dikisahkan oleh Raja Ahmad Engku Haji Tua dan Raja Ali Haji rahimahullah dalam Tuhfat al-Nafis dengan narasi yang sungguh berkesan.     

“… Maka Yang Dipertuan Muda pun bertitah menyuruh amuk. Maka Arung Lenga pun memacu kudanya padahal ia tengah sakit pak ipa. Maka keluarlah ia menempuh baris Holanda itu maka lalulah ia mengamuk. Maka matilah ia dan kudanya pun mati juga dan Holanda banyak juga mati dibunuhnya. Maka dimasukkannyalah kubu Yang Dipertuan Muda oleh segala orang besar-besar Holanda itu serta dengan serdadunya. Maka mengamuklah Dahing Saliking dan Panglima To Lesang serta Haji Ahmad maka ketiganya menyerbukan diri kepada baris Holanda yang berlapis-lapis itu. Maka seketika ia mengamuk maka matilah ia pun syahid fi sabil Allah ketiganya dengan nama laki-laki. Dan beberapa lagi orang yang baik syahid itu dengan tiada membuang belakang…,” (Ahmad & Haji dalam Matheson (Ed.), 1982).

Dengan takdir Allah, beberapa prajurit dan panglima perang Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang syahid dalam peperangan besar itu. Tersebutlah Arung Lenga, Dahing Saliking, Panglima To Lesang, dan Haji Ahmad yang gugur dalam perang melawan Belanda di Teluk Ketapang itu. Dan, pemimpin besar perang itu, Yang Dipertuan Muda IV Riau-Lingga-Johor-Pahang, Raja Haji Fisanilillah, pun menjadi salah satu syuhada dalam pertempuran yang hampir dimenanginya itu. Mereka gugur sebagai patriot sejati tanpa sedikit pun membuang belakang, tentu tanpa cacat dan cela sebagai pembela bangsa dan negara.

Mengapakah tokoh-tokoh yang dicacat oleh Tuhfat al-Nafis itu rela berkorban jiwa dan raga mereka? Padahal, kalau mereka menyerahkan diri, dan selanjutnya negeri, kepada penjajah Belanda, tentulah mereka tak sampai dihukum mati. Jawabnya tiada lain, pantang bagi patriot dan pemimpin sejati untuk bertekuk lutut kepada penjajah. Di dalam diri mereka telah tertanam begitu kuat dan kokoh sikap dan perilaku setia kepada bangsa dan negara.

Dengan sikap dan perilaku mulia itulah, mereka berperang membela bangsa dan negara walau harus gugur di medan juang. Bagi mereka, lebih baik mati mulia daripada hidup menderita dan menanggung aib di bawah cengkeraman penjajah. Pasalnya, tanggung jawab membela dan mempertahankan bangsa dan negara memang telah diamanahkan kepada mereka dan mereka pun  dengan ikhlas menerimanya. Dengan demikian, setia membela bangsa dan negara memang menjadi karakter pemimpin terbilang. Dengan karakter itu, mereka tak rela negeri dan rakyat terjejas karena lemahnya karakter pemimpinnya.    

Dalam Tsamarat al-Muhimmah ditegaskan juga tentang mustahaknya sikap setia kepada bangsa dan negara, terutama bagi para pemimpin. Pasalnya, pemimpinlah seyogianya berada di posisi paling depan dalam tugas suci membela negara dan bangsa. Jika pemimpin telah menunaikan kewajiban itu dengan benar, rakyat pasti akan mengikutinya.

Kalau roboh kota Melaka
Papan di Jawa kami dirikan
Kalau sungguh bagai dikata
Nyawa dan badan kami serahkan

“Maka barang siapa yang masuk di dalam pekerjaan kerajaan …, hendaklah ia satu jalan dan satu pekerjaan pada yang sama-sama di dalam pekerjaan itu, pada segala hukuman yang sudah sah pada syariat yang mulia, yang sudah disebutkan hikmat oleh raja atau haibnya, maka jangan siapa keluar dan ingkar daripada yang demikian itu adanya, intaha,” (Haji dalam Malik (Ed.), 2013).

Nukilan di atas menegaskan bahwa para pemimpin tak boleh ingkar dan atau berkhianat kepada bangsa dan negeranya. Sekali tugas kepemimpinan diterima, ianya harus dilaksanakan dengan kesetiaan yang sesungguhnya. Amanat itu ditekankan lagi dalam syair nasihat yang termaktub dalam karya yang sama, Tsamarat al-Muhimmah, bait 18 (Haji dalam Malik (Ed.), 2013). Kenyataan itu membuktikan bahwa karakter setia kepada bangsa dan negara sangat mustahak adanya dalam diri setiap pemimpin sehingga negara dan bangsa menjadi kuat.

Hendaklah periksa adabnya wazir
Di dalam kitab sudah terukir
Hendaklah jauhkan pekerjaan mungkir
Supaya jangan jadi gelincir

Berdasarkan bait syair di atas, dapatlah disimpulkan bahwa sikap dan perilaku pemimpin yang berkhianat kepada bangsa dan negaranya tergolong tercela. Karakter negatif itu, apa pun alasannya, menunjukkan bahwa seseorang pemimpin telah menyimpang dari nilai-nilai mulia kepemimpinan. Jika tanda-tanda pengkhiatan telah terlihat pada sikap dan perilaku pemimpin, tindakan pencegahannya sudah sepatutnya segera dilakukan. Jika tidak, bangsa dan negara akan tergadai sehingga cita-cita mulia kehidupan berbangsa dan bernegara tak akan tercapai.   

Sesungguhnya, pedoman sekaligus peringatan bagi pemimpin untuk senantiasa terus meningkatkan kesetiaan kepada bangsa dan negara memang telah diberikan oleh Allah. Oleh sebab itu, dapat dipastikan sesiapa pun yang mengingkarinya akan mendapatkan padah, yang berat dan ringannya terpulanglah kepada Allah sebagai Sang Pemberi Amanah.

“Dan, (ingatlah) ketika Kami mengambil janji dari kamu, (yaitu) kamu tak akan menumpahkan darahmu (membunuh orang) dan kamu tak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa) dari kampung halamanmu, kemudian kamu berikrar (akan memenuhinya), sedangkan kamu mempersaksikannya,” (Q.S. Al-Baqarah, 84).

Atas dasar itulah, Gurindam Dua Belas, Pasal yang Kedelapan, bait 1 (Haji, 1847), mengingatkan manusia untuk berhati-hati dalam memilih pemimpin. Dalam hal ini, carilah yang setia, bukan yang khianat.

Barang siapa khianat akan dirinya
Apa lagi kepada lainnya

Berdasarkan kearifan yang dikemukakan dalam bait Gurindam Dua Belas di atas, tak terlalu sulit untuk mengesan orang yang berpotensi berkhianat jika telah menjadi pemimpin. Dalam hal ini, dia pun cenderung berkhianat kepada dirinya sendiri dalam takaran manusia yang bersikap dan berperilaku terpuji. Jika orang-orang dengan ciri-ciri tak terpuji itu dijadikan pemimpin, padahal mengurusi diri sendiri saja dia tak beres, akan terjadilah apa yang dibidalkan oleh orang tua-tua, “Sudah retak mencari belah.” 

Dalam Syair Abdul Muluk (Haji, 1846), bait 800 dan 802, dikemukakan juga tauladan pemimpin yang sangat setia kepada bangsa dan negaranya. Dengan keunggulan sikap dan perilakunya itu, dia rela melakukan apa saja demi kembalinya marwah bangsa dan negaranya dari upaya pihak tertentu yang mencabarnya.

Ia pun mengambil pedang suaminya
Yang tinggal di tempat peraduannya
Keluarlah ia dari jendelanya
Berjalan tu dengan air matanya
………………………………………
Menyamarlah ia sambil berjalan
Seorang pun tiada yang menegurkan
Sudahlah yang demikian
Lepaslah ia ke dalam hutan

Tokoh pemimpin yang boleh dibanggakan itu bernama Siti Rafiah, seorang perempuan. Dia adalah istri Sultan Abdul Muluk dari Negeri Barbari. Ketika negerinya diserang oleh Kerajaan Hindustan dan suaminya ditawan oleh musuh, Siti Rafiah melarikan diri dari istana. Tekadnya sudah bulat bahwa dia tak akan pernah bertuankan penjajah, apa pun tantangan yang harus dihadapinya. Pelariannya berhasil dengan masuk hutan keluar hutan untuk menghindari kejaran musuh.

 Dalam pelarian itulah dia mengatur strategi. Pertama, dari seorang putri yang berparas jelita, diubahnya diri dengan penampilan laki-laki. Kedua, dihimpunnya kekuatan dengan membentuk koalisi bersama pemimpin negeri-negeri yang dijumpai dalam pelarian dan pengembaraannya seraya menolong kerajaan-kerajaan itu sesuai dengan kemampuan yang dia miliki. Ketiga, dalam perjuangan itu tak dipedulikannya segala penderitaan yang dialami, berat dan ringan semuanya dihadapi. Keempat, setelah kekuatan yang diperlukan diperkirakannya memadai, diserangnyalah Kerajaan Hindustan yang menjajah negerinya sehingga musuh itu pun menjadi jera dan ngeri. Alhasil, sebagai pemimpin yang setia, Siti Rafiah menampilkan keunggulan dirinya karena dia sangat yakin akan pedoman dan ajaran yang diberikan oleh Baginda Nabi.

Dari Arfajah, beliau berkata bahwa beliau mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Jika ada orang yang datang kepada kalian, ketika kalian telah bersepakat terhadap satu orang (sebagai pemimpin), lalu dia ingin merusak atau memecah persatuan kalian, maka perangilah dia,” (H.R. Muslim).

Bangsa sesuatu negara sesungguhnya himpunan dari manusia yang bersepakat untuk bersatu padu dalam suka dan duka untuk mencapai cita-cita mulia menjadi bangsa yang mulia, sejahtera, dan bahagia. Mereka berniat, berazam, dan berjuang dengan upaya-upaya yang bermartabat untuk dapat hidup berdampingan dengan bangsa lain dalam kedudukan yang setara. Tak ada hak pihak mana pun untuk membubarkan persatuan mereka dengan alasan apa pun apatah lagi sampai menimbulkan angkara murka.

Jika cabaran atau tantangan datang juga untuk memecah belah persatuan mereka, adalah kewajiban mereka memerangi pihak mana pun yang hendak melenyapkan mereka sebagai bangsa. Oleh sebab itu, setiap negeri memerlukan pemimpin yang patriotik lagi setia kepada bangsa dan negara. Dengan begitu, generasi demi generasi boleh berbangga menjadi bangsa yang keberadaannya diperhitungkan di peringkat dunia.

Bangsa dan generasi manakah yang tak akan berbangga jika pernah dipimpin oleh pemimpin, bahkan perempuan, sehebat Siti Rafiah? Siasat dan strateginya yang luar biasa telah mengembalikan martabat bangsanya yang sebelumnya sempat dirampas oleh kaum penjajah. Semangat yang digelorakannya membuat musuh berhati gundah sehingga akhirnya menyerah kalah dengan tampilan mati darah.

Rasanya, tak ada anak bangsa yang tak bahagia pernah memiliki pemimpin berkelas karena kesetiaannya kepada rakyat dan tanah air seperti Sultan Mahmud Riayat Syah dan Raja Haji Fisabilillah. Berkat perjuangan mereka, tentu dengan inayah Allah, negeri ini masih boleh dan dengan hikmatnya dapat menggunakan ikon “Negeri Bermarwah”. Maka, tetaplah setia dan hendaklah jauhkan pekerjaan mungkir karena itu bermakna berpaling tadah. (Dirgahayu Kota Tanjungpinang: 6 Januari 1784—6 Januari 2020).***

Jemala Mendirikan Hak dengan Seksama

0

TANPA maklumat perang walau sepatah kata pun, Kerajaan Hindustan menyerang Negeri Barbari. Dari berita yang diketahui kemudian, matlamat penceroboh yang datang tiada lain untuk merebut negeri yang makmur itu dengan dalih pembalasan dendam yang terpendam lama sekali. Masalahnya, nafsu dan dendam itu tak berlandaskan pemikiran yang bestari. Takkanlah boleh penjahat kehidupan dan kemanusiaan hendak dilindungi. Adat dan hukum mana pun tak membenarkan orang seperti itu dipuja-puji hanya karena dia dekat dengan pemimpin negeri. Tempat terbaiknya sememangnyalah bui.

Gemparlah seisi Kerajaan Barbari. Pasalnya, selain tiba-tiba, jumlah pasukan musuh yang datang tiada terperi. Dalam suasana kacau-bilau dan kalang-kabut, untunglah, kepemimpinan Sultan Abdul Muluk yang karismatik ternyata mampu menenangkan rakyat seisi negeri. Hulubalang dan laskar tak sedikit pun berasa takut dan gundah di hati.

            Tak hanya terbatas pada pemimpin utamanya. Dalam suasana yang amat genting,  berdatanganlah para pemimpin rakyat dari segala ceruk dan rantau menghadap Sultan Barbari. Mereka minta izin kepada pemimpin utama itu untuk ikut berperang demi mempertahankan tanah tumpah darah mereka agar tak dikuasai musuh yang angkuh dan sangat bernafsu menaklukkan negeri nan elok itu. Untuk itu, mereka rela dan ikhlas walaupun harus mati demi membela marwah bangsa dan negara, pun demi kebanggaan anak-cucu kelak sebagai bangsa yang merdeka. Dengan begitu, mereka dapat hidup setaraf dengan bangsa mana pun di dunia ini. Padahal, kewajiban mempertahankan negara dari serangan musuh, terutama, terletak pada para hulubalang dan tentara, bukan menjadi kewajiban rakyat biasa.

            Alangkah suka-citanya Sultan Abdul Muluk karena seluruh rakyatnya bersatu padu hendak membela negeri. Tak seorang pun di antara mereka yang berbeda pendapat, apatah lagi sampai berkhianat menjadi kaki tangan musuh. Jadilah perang dengan Kerajaan Hindustan itu  melibatkan semua lapisan bangsa Barbari: mulai dari sultan, sebagai panglima perang tertinggi, para menteri, hulubalang, laskar (tentara), sampai kepada rakyat sekaliannya. Kecuali, orang tua-tua yang telah uzur dan kanak-kanak.

Walaupun tak terlibat secara fisik dalam perang itu, para lansia dan kanak-kanak masih melibatkan diri dengan berdoa.  Dalam isak tangisnya, kanak-kanak—generasi penerus Kerajaan Barbari—berdoa kepada Allah agar angkara murka segera dilenyapkan dari negeri mereka. Bersamaan dengan itu, semoga para penjahat, perusuh, dan atau penceroboh yang datang ke negeri mereka segera mendapat hukuman setimpal dari Allah.

            Walaupun begitu, ada permintaan dari seorang bawahannya yang agak merunsingkan pikiran Sultan Barbari. Dalam Syair Abdul Muluk, bait 612 (Haji, 1846), Raja Ali Haji rahimahullah menuturkan permohonan yang mengundang perdebatan antara Sang Sultan dan si pemohon.

Berdatang sembah suaranya merdu
Mohonkan ampun di bawah cerpu
Jikalau ada izin duli tuanku
Patik mengeluari musuhnya itu

Permohonan itu berasal dari Wazir Suka, seorang menteri Kerajaan Barbari yang masih muda usianya. Sepatutnya, walaupun berjabatan menteri, karena masih sangat belia, dia tak boleh ikut berperang. Dengan pertimbangan itu, Sultan Abdul Muluk tak mengizinkan Wazir Suka berperang. Akan tetapi, menteri muda itu tetap kokoh dengan pendiriannya. Setelah perdebatan, inilah yang kemudian terjadi.

Terlalu suka wazir yang muda
Sujud di kaki duli baginda
Bersalaman dengan menteri yang ada
Sekalian mendoakan di dalam dada

Akhirnya, Sultan Barbari tak mampu membendung azam dan tekad Wazir Suka yang telah mewakafkan dirinya untuk mempertahankan bangsa dan negaranya. Menteri belia itu tetap pada pendiriannya untuk berjuang bersama Sang Sultan, para pembesar lain, dan rakyat sekaliannya. Rasa haru dan bangga Sultan Abdul Muluk tak dapat disembunyikannya karena mendapati pengorbanan yang tulus semua bawahan dan seluruh rakyat pada detik-detik yang menentukan kelangsungan tanah air mereka.

Bawahan dan rakyat begitu pula. Mereka berbahagia dapat berjuang bersama pemimpin yang sangat mereka banggakan lagi berwibawa. Demi marwah bangsa dan negara, manusia yang sadar akan harga dirinya memang tak pernah berhitung soal hidup atau mati, yang pasti akan dihadapi juga.

            Di samping keadaannya cukup mendesak, Sultan Barbari tak dapat melarang rakyatnya ikut berperang. Pasalnya, memang hak mereka untuk mempertahankan negeri yang mereka cintai. Sama halnya dengan hak rakyatnya untuk hidup sejahtera dan bahagia yang selama ini dinikmati sebelum musuh datang dari luar negeri. Sebagai pemimpin, Abdul Muluk menganggap dirinya wajib memperjuangkannya sekuat dapat dan memberikan hak bawahan dan rakyat sekalian. Baginya, itulah alasan dirinya diperlukan sebagai pemimpin negeri. Dia tak rela kepemimpinannya, justeru, menjadi penghambat bawahan dan rakyat untuk memperoleh hak-hak sah mereka dengan alasan yang dibuat-buat dan tiada terpuji.  

Bersabit dengan hak-hak bawahan dan rakyat, Raja Ali Haji rahimahullah dalam karya beliau Tsamarat al-Muhimmah menegaskan kewajiban pemimpin terhadap orang-orang yang dipimpinnya. Di antara kewajiban itu mesti diungkapkan dalam bentuk janji suci pemimpin yang harus diucapkan di hadapan rakyat dan tak boleh dikhianati.

“Seboleh-bolehnya bahwa kami [baca: pemimpin, HAM] menyampaikan hajat kamu [baca: bawahan dan atau rakyat, HAM] yang diharuskan di dalamnya pada syariat dan pada adat yang boleh sekuasa kami menyampaikannya pada pekerjaan yang layak dan yang patut kepada kamu, intaha,” (Haji dalam Malik (Ed.), 2013).

Atas dasar itulah, pemimpin tak dibenarkan menahan hak-hak bawahan dan rakyatnya. Jika tertahannya hak-hak bawahan dan rakyat itu disengaja, dibuat-buat, dan atau terkandung maksud jahat, jelaslah bahwa pemimpinnya tak layak memimpin sesebuah negeri karena keberadaannya, justeru, menghalangi bawahan dan rakyat untuk maju dan berbakti secara optimal kepada bangsa dan negara.

Gagasan dan pemikiran tentang pemenuhan hak-hak bawahan dan rakyat dalam kepemimpinan, sejatinya tak berasal dari pemikiran manusia. Ianya telah termaktub dalam firman Allah, antara lain, dalam salah satu hadits qudsi yang dinukilkan ini.

Dari Abu Hurairah r.a. beliau berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Allah Ta’ala berfirman, ada tiga jenis (manusia) yang Aku akan menjadi musuhnya pada Hari Kiamat kelak: laki-laki yang memberi (berjanji) atas nama-Ku, kemudian dia berkhianat; laki-laki yang menjual orang merdeka, lalu dia memakan uang hasil penjualannya; dan laki-laki yang mempekerjakan manusia, yang memenuhi (melaksanakan) pekerjaannya, tetapi dia tak memberikan upahnya,” (H.R. Bukhari).

Kamu menjadi musuh Allah! Itulah ancaman Tuhan terhadap para pemimpin—sesiapa pun dia, pada peringkat apa pun dia memimpin, dan di mana pun dia berada—yang tak memenuhi hak-hak bawahan dan rakyatnya. Oleh sebab itu, di dunia apatah lagi di akhirat dia akan menerima padah (akibat buruk dari perbuatannya). Tak ada satu makhluk pun yang menjadi musuh Allah dapat lepas dari bala dan azab yang akan dibalaskan kepadanya, sama ada dahulu ataupun sekarang.

Bukankah Fir’aun terkenal dalam sejarah? Dia menganggap dirinya sebagai pemimpin paling perkasa di dunia sehingga tak sesiapa pun berani menyanggah. Karena mengingkari Allah, di dunia saja dia telah menerima padah. Dari pedoman yang ada, dapat dipastikan bahwa di akhirat kelak pun bala dan balasan yang lebih dahsyat lagi mengerikan telah disediakan baginya oleh Allah.

Rasanya, Fir’aun hidup dan berkuasa tak berlama-lama bangat. Dalam rentang waktu yang pendek itu pun dia telah menerima hukuman yang pedihnya teramat sangat. Malang lagi baginya, di akhirat kelak, waktu telah distel dan dikunci sedemikian rupa tanpa menunjukkan angka penamat.  

Berdasarkan kenyataan itu, kearifan yang disuratkan oleh syair nasihat dalam Tsamarat al-Muhimmah, bait 23 (Haji dalam Malik (Ed.), 2013), boleh dijadikan bahan pengingat. Lebih-lebih, bagi pemimpin yang berhendakkan namanya dikenang dan diingat karena memberi manfaat kepada rakyat.

Hendaklah anakanda jagakan nama
Mendirikan hak dengan seksama
Pekerjaan bid’ah jangan diterima
Walaupun kecil seperti hama

Walaupun kecil dan tak seberapa nilainya bagi orang besar-besar, hak-hak bawahan dan rakyat mestilah mereka terima. Tak ada alasan sekecil apa pun bagi para pemimpin untuk menahannya. Seperti halnya hama, kebiasaan menunda hak-hak bawahan dan rakyat akan menjadi penyakit yang mengunggis hati, yang pada gilirannya akan merusakkan sendi-sendi kepemimpinan. Virus itulah yang akan menyebarkan penyakit syahwat kekuasaan sehingga akhirnya tak dapat lagi dikendalikan. Alhasil, ianya suatu ketika akan menjadi senjata makan tuan. Betapa tidak, petunjuknya memang ada sebagai rujukan.

Rasulullah SAW bersabda, “Menahan hak orang lain atau (menunda) penunaian kewajiban (terhadap orang lain, bagi yang mampu) termasuk kejahatan,” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Amanat Rasulullah SAW itulah seyogianya diperhatikan. Setiap kejahatan ibarat anak panah yang dilepaskan dari busurnya, tetapi entah bagaimana kemudian ianya berbelok dan berbalik menikam si pemanah itu sendiri tanpa dapat dihindari. Panah itu tak seperti senjata yang digunakan oleh rakyat Barbari, yang melesat cepat dan tepat ke jantung musuh-musuh yang mengharubirukan negeri. Pasalnya, selain jenis panahnya berbeda, niat, azam, dan perilaku pemanahnya juga bertolak belakang. Yang pertama hendak mematikan peradaban yang luhur dan suci, sedangkan yang kedua hendak membela tamadun yang terala itu dari sebarang angkara murka yang datang menerpa. Punca segala malapetaka manusia.

Kearifan mendirikan hak dengan seksama berasaskan nilai keadilan. Hal itu bermakna orang-orang, terutama pemimpin, yang memberikan hak orang lain—bagi bawahan dan rakyat oleh pemimpin—menunjukkan dirinya menjunjung tinggi nilai keadilan. Orang dengan karakter terpuji itu tak pernah sampai hati melalaikan dan atau menahan hak orang lain yang memang harus diberikan. Dia mampu berlaku arif seperti itu karena mendapat anugerah istimewa dari Tuhan.  

Berhubung dengan perkara itu, Gurindam Dua Belas, Pasal yang Kedua Belas, bait 3 (Haji, 1847), memberikan penjelasan yang tentulah sangat menarik bagi sesipa saja yang berjuang memajukan peradaban.

Hukum adil atas rakyat
Tanda raja beroleh inayat

Itulah sisi menariknya. Pemimpin yang adil—dengan antara lain memberikan hak bawahan dan rakyat—menandakan (menjadi indeks) bahwa dirinya beroleh inayat atau pertolongan. Yang dimaksudkan tentu dan pasti pertolongan dari Yang Maha Penolong, yakni Allah. Dengan pertolongan Tuhan, kerja-kerja kepemimpinan pasti menuai kejayaan. Oleh sebab itu, karakter memberikan hak bawahan dan rakyat mengindikasikan pemimpinnya berkelas dan terbilang.

            Sebaliknya pula, pemimpin yang enggan dan atau menahan hak bawahan dan atau rakyat menunjukkan jati dirinya yang tak memenuhi syarat kepemimpinan. Jika diserahi tanggung jawab kepemimpinan, orang-orang seperti itu tak hanya mengecewakan orang-orang yang dipimpinnya, tetapi juga mencelakakan dirinya sendiri. Bahkan, sanksi yang dijanjikan kepadanya dari Allah sangat berat dan sungguh mengerikan.

Rasulullah SAW bersabda, “Tiada seorang hamba pun yang diserahkan kepadanya kepemimpinan terhadap rakyat, lalu dia mati (dan) pada hari kematiannya (dia) dalam keadaan berkhianat kepada rakyatnya, kecuali Allah haramkan surga baginya,” (H.R. Muttafaqun ‘alaihi).

Itulah padah yang akan diterima. Dengan melalaikan hak-hak bawahan dan rakyat, pemimpin telah mengkhianati amanah istimewa yang diberikan oleh Tuhan kepadanya. Pasalnya, dengan sikap dan perilaku negatifnya itu, dia telah membuat orang lain menderita dan sengsara. Oleh sebab itu, neraka memang tempat yang cocok dan pas bangat bagi pemimpin yang tak amanah dan berkarakter jelek itu. Karena peringatan itu bersumber dari Rasulullah SAW, tak disangsikan lagi kepastian sanksi yang akan diterimanya. 

Rakyat yang hak-haknya terpenuhi nescaya akan sejahtera dan bahagia. Oleh sebab itu, bangsa mana pun di dunia ini mendambakannya. Tak heranlah mereka senantiasa berharap dan berjuang untuk memiliki pemimpin yang dapat diharap dan sanggup membuat mereka bangga. Pemimpin yang mampu memperjuangkan dan mewujudkannya tak diragukan lagi memiliki karakter mulia. Intaha.*** 

Cetera Yang Bernama Pohon Perhimpunan

0
Halaman judul Pohon Perhimpunan karya Raja Ali Kelana yang dirumikankan oleh Hasan Junus Tahun 1983. (foto: aswandi)

Pada Menyatakan Peri Perjalanan ketika Komisi ke Pulau Tujuh 1896

BERITA, adalah sejarah yang ditulis pada hari ini. Ungkapan ini sangat tepat untuk untuk menyebut esensi lain dari hasil kerja seorang jurnalis. Sebuah ungkapan lain yang sangat terkenal dan mengena, menyebutkan pula bahwa seorang jurnalis adalah pencatat sejarah di garis depan.

Di Kepulauan Riau Lingga, esensi kerja seorang jurnalis ini telah dimulai oleh Raja Ali Kelana melalui karyanya yang berjudul Pohon Perhimpunan. Mengapa?

Raja Ali Kelana

Siapa Raja Ali Kelana? Beliau adalah seorang tokoh politik, tokoh intelektual anti kolonial, dan pembesar Kerajaan Riau-Lingga. Dalam struktur pemerintahan kerajaan Riau-Lingga pada akhir abad ke-19, jabatannya adalah Kelana atau calon Yang Dipertuan Muda Riau, yang diposisikan untuk mengganti ayahandanya Raja Muhammad Yusuf,Yang Dipertuan Muda Riau X.

Sebagai seorang Kelana pembesar kerajaan yang menjalankan kerja-kerja Yang Dipertuan Muda Riau, kedudukan Raja Ali Kelana istimewa. Beliau adalah satu-satunya calon Yang Dipertuan Muda Riau yang menghasilkan karya tulis. Salah seorang peneraju perkumpulan Rusydiah Club Riouw Pulau Penyengat yang luas pengetahuannya: baik dalam bidang agama, bahasa, siasah, dan lain sebagainya.

Sejauh yang dapat diketahui, sebagai seorang penulis dan cendekiawan, Raja Ali Kelana telah menghasilkan sedikitnya delapan buah karya dalam berbagai bidang. Salah satunya adalah Pohon Perhimpunan.

Raja Ali kelana juga salah seorang aktor intelektual di balik perlawanan pasif  (lidelijk verzet) cendekiawan Riau-Lingga yang telah menggoyang parlemen Hindia Belanda di Batavia, yang berujung pada pemakzulan Sultan Kerajaan Riau-Lingga pada tahun 1911 serta penghapusan kerajaan bersejarah itu pada 1913.

Demi marwah, Kelana Riau-Lingga yang akhirnya memengundurkan diri ini hijrah ke Johor Baharu setelah Belanda memakzulkan Sultan Riau-Lingga pada 1911. Beliau mangkat di Jl. Tebrau, Johor Baharu, pada hari Ahad, pukul 8 pagi tanggal 10 Jumadil Akhir 1346 Hijriah bersamaan dengan 4 Desember 1927.Jenazahnya dimakamkan di komplek pemakaman diraja Johor di Bukit Mahmudiah, Johor Baharu.

Pohon Perhimpunan

Judul lengkapnya adalah Pohon Perhimpunan Bahwa Inilah Cetera Yang Bernama Pohon Perhimpunan Pada Menyatakan Peri Perjalanandengan tambahan keterangan, Yang Telah Dikarang Oleh Raja Ali Kelana bin Yang Dipertuan Muda Raja Muhammad Yusuf al-Ahmadi Ketika Komisi ke Pulau Tujuh pada tahun 1313 (1896). Dalam katalogus perpustakaan, karya Raja Ali Kelena yang dicetak oleh Mathba’ah al-Riauwiyah Pulau Penyengat pada 1897 ini, dan edisi alih aksara dalam huruf rumi atau huruf latin yang diselenggarakan oleh Hasan Junus pada tahun 1983, dikenal sebagai Pohon Perhimpunan saja.

Ian Proudfoot telah mencantumkan Pohon Perhimpunan dalam katalog buku-buku Melayu cetakan awal yang diterbitkan hingga tahun 1920-an, yang menghimpukannya dalam sebuah buku setebal 859 halaman yang berjudul Early Malay Printed Books (1993).

Karya Raja Ali Kelana Pohon Perhimpunanini tergolong kepustakaan sangat langka yang dalam dunia perpustakaan diklasifikasikan sebagai buku langka, buku nadir, ataurare books. Sangat sedikit eksemplar yang masih tersisa. Berdasarkan data dan informasi katalogus sejumlah perpustakaan dan koleksi pribadi, satu satunya eksemplar Pohon Perhimpunan yang diketahui, dan telah dikonservasi oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, adalah eksemplar berada dalam simpanan Balai Maklumat Kebudayaan Melayu Riau di Pulau Penyengat.

 Berdasarkan informasi dalam Notulen Bataviaasch Genootschap (sekarang Museum Nasional) tahun 1903, Pohon Perhimpunan pernah menjadi salah satu koleksi perpustakaan museum yang dibangun oleh Thomas Stamford Raffles itu. Namun sayang, karya Raja Ali Kelana tersebut kini tak ditemukan lagi dalam koleksi perpustakaan peninggalan Belanda itu yang sekarang berada dalam simpanan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia di Jakarta.

“Laporan Jurnalis”

Pohon Perhimpunan adalah sebuah buku yang berisikan catatan dan laporan perjalanan Raja Ali Kelana selama 15 hari mengunjungi Pulau Tujuh (Pulau Jemaja, Pulau Siantan, Pulau Bunguran, Pulau Serasan, dan Pulau Tambelan) dari tanggal 9 Februari 1896 hingga 6 Maret 1896, dan dilengkapi dengan sejumlah foto yang ditempelkan.

Laporan perjalanan ini merupakan saripati dari sebuah komisi (perjalanan inspeksi atau memeriksa) hal-ihwal kawasan Pulau Tujuh di Laut Cina Selatan yang ketika itu merupakan wilayah kerajaan Lingga-Riau dan daerah takluknya.

DalamPohon Perhimpunan terdapat empat belas kisah perjalanan. Diawali dengan perjalanan pertama dari labuhan(pelabuhan)Tanjungpinang pada hari Arba’a (Rabu) tanggal 6 Ramadhan 1313 H yang bersamaan dengan tanggal 19 Februari 1896 M. Seluruh rangkaian perjalanan ini juga berakhir di pelabuhan Tanjungpinang pada tanggal 23 Ramadan yang bersamaan dengan hari Sabtu pukul 5 petang, tanggal 6 Maret tahun 1896 M.

Melalui Pohon Perhimpunan sejumlah pakar telah mentasbihkan Raja Ali Kelana sebagai seorang peletak dasar dunia jurnalistik di kerajaan Riau-Lingga dan Alam Melayu. Mengapa?

Menurut Hasan Junus, jarak antara peristiwa atau kejadian yang dilihat dan didengar oleh Raja Ali Kelana dengan penyiarannya dalam Pohon Perhimpunan kurang dari dua tahun. Satu ukuran yang cukup dekat dan cepat untuk ukuran zamannya. Kenyataan inimenjadi sebuah syarat yang lebih dari cukup untuk menyebutnya sebagai sebuah karya jurnalis untuk ukuran zaman itu;mengingat keterbatasan sarana dan prasarana transportasi dan komunikasi zaman itu.

Di lain pihak, Jan van der Putten menyebut Pohon Perhimpunan sebagai sebuah karya yang cukup syarat untuk disebut sebagai hasil kerja seorang jurnalis ‘pencatat’ sejarah di garis depan, karena benyaknya tempelan foto yang berkaitan dengan apa yang tertulis dalam Pohon Perhimpunan. Jan van der Putten menyimpulkan bahwa, teks yang disertai dengan ilustrasi berupa foto ini menjadi penanda bahwa Pohon Perhimpunanadalah sebuah publikasi yang ditujukan untuk dilihat dan dibaca oleh orang banyak dan bukan lagi bagian dari sebuah tradisi lisan.

Pohon Perhimpunanjuga sebuah contoh sempurna yang memperlihatkan peralihan dari tradisi manuskrip kepada teknik cetak tipografi menggunakan huruf timah: sebuah kecenderungan baru yang sedikit banyak dipicu oleh perkembangan teknologi percetakan di Kerajaan Riau-Lingga dan Singapura pada akhir abad ke-19.***

Akhbar Jawi Peranakan di Singapura (1876-1896)

0
Halaman muka Akhbar Jawi Perenakan edisi Nomor 563, 16 Januari 1888. (foto: dok. aswandi)

Punya Perwakilan di Pulau Penyengat

Kehadiran majalah Peringatan sebagai  pers (berbahasa Melayu) pertama dan sekaligus menjadi tonggak  penting dalam sejarah pers di Kepulauan Riau pada tahun 1939, tidak lepas dari peranan dan pengaruh yang dimainkan Singapura sebagai tempat akhbar-akbar (surat kabar) berbahasa Melayu di rantau ini mula bertapak.

Tidaklah berlebihan bila mengatakan bahwa perjalanan sejarah pers awal di Kepulauan Riau mengambil jalan yang berbeda dari perjalanan sejarah pers di daerah lainnya di Indonesia: karena yang menjadi rujukan dan “kiblat” para perintis sejarah pers awal di Kepulauan Riau di Tanjungpinang pada awal-awal abad ke-20 bukanlah kota-kota pers yang penting di Jawa dan Sumatra, akan tetapi Singpura.

Hal ini bukan saja kerena letak geografis Kepulauan Riau  yang memungkinkan komunikasi dengan Singapura pada masa lalu lebih mudah dan cepat jika dibandingan dengan “pusat denyut sejarah” di Sumatra dan Jawa, tapi juga karena kait-kelindan sejarahnya.  Selain itu, sejak akhir akhir abad ke-19 hingga awal-awal abd ke-20, Singapura yang telah berkembang menjadi salah satu bandar penting di rantau ini, dan  telah tampil sebagai tempat berseminya “gagasan-gagasan” kemajuan dan pembaharuan di kalangan “generasi Melayu baru” yang sedang berdepan-depan dengan dengan “kuasa Barat” sebagaimana telah didedahkan oleh William R. Roff dalam bukunya yang sangat terkenal, The Origins of Malay Nationalism (1975).


Halaman muka Akhbar Jawi Perenakan edisi Nomor 214, 28 Maret  1881. (foto: dok. aswandi)

Laman kutubkhnah minggu ini akan menyibak peran Singapura yang penting artinya bagi awal sejarah pers (berbahasa Melayu) di Kepulauan Riau melalui sebuah akhbar (surat kabar) bernama Jawi Peranakan yang sangat terkenal dan telah ditahbiskan sebagai surat kabar berbahasa Melayu pertama dalam sejarah pers Melayu di Alam Melayu.

Seperti tergambar dari namanya, akhbar berbahasa Melayu pertama yang terbit di Singpura ini diterbitkan oleh sekelompok orang Islam keturunan India (anak-anak kacukan, yang berasal dari perempuan Melayu yang menikah dengan laki-laki India muslim, terutama yang berasal dari Malbari atau Malabar). Dari merekalah lahir kelompok masyarakat yang disebut  jawi perenakan.

Seperti halnya sejarah penerbitan dan pencetakan buku-buku berbahasa Melayu, sejarah awal pers di Negeri-Negeri Selat (Singapura-Pulau Pinang-Melaka) dan Kepulauan Riau, tak lepas dari peranan kelompok masyarakat jawi peranakan yang telah banyak melahirkan munsyi-munsyi sekelas Abdullah bin Abdulkadir Munsyi yang terkenal itu.

Demikianlah, pada tahun 1876, beberapa munsyi terpelajar di Singapura berikhtiar menerbitkan sebuah akhbar (surat kabar) yang mereka beri nama Jawi Peranakan, yang kemudian tampil dengan gemilangnya dalam perjalanan perjalanan sejarah pers berbahasa Melayu di Alam Melayu.

Pada mulanya akhbar bersejarah yang bertahan hingga tahun 1896 ini dipimpin oleh Munsyi Alie al-Hindi. Selepas itu, tampuk pimpinan akbar ini kemudian diambil alih oleh Munsyi Muhammad Said bin Dadad Muhyiddin dengan dibantu oleh Haji Muhammad Siraj, seorang entrepreneur asal Jawa, pemilik pecetakan dan kedai buku terkenal di Singapura  pada kahir abad ke ke-19 hingga tiga dekade pertama abad yang lalu.

Sebagai sebuah akhbar mingguan, Jawi Perenakan terbit setiap haris Isnin (Senin) tarikh Miladiah (tahun dan bulan Islam). Menurut Ahmad Adam (1994), Akbar Jawi Peranakan dicetak secara tipografis (menggunakan huruf timah) aksara jawi atau huruf Arab Melayu oleh Mathba’ah al_Saidi milik Muhammad Said yang beralamat di No. 431, Victoria Street (Kampung Gelam) Singapura.

Pada awalnya, Akhbar Jawi Peranakan menggunakan cogan kata “Tawakal Itu Sebaik-Baik Bekal” sebagai mottonya. Namun dalam perkembangannya (dalam tahun 1888, umpamanya) cogan kata itu diperbaharui menjadi “Tawakal Itu Sebaik-Baik Bekal Kepada Yang Berakal Peliharalah Sampai Kekal”.

Sebagai sebuah surat kabar berbahasa Melayu pertama di Singapura, Akhbar Jawi Peranakan tampaknya telah merintis sebuah pers yang positif dengan suguhan jurnalistik (pengkhabaran) yang objetif dan benar adanya. Dengan ungkapan yang berani dan menantang, hal ini ditegaskan oleh para pengelolanya dengan mencantumkan kalimat berikut ini pada setiap halaman pertama Akhbar Jawi Peranakan: “Adapun akhbar ini semata-mata benar pengkhabaran dan akhbar inilah yang dijadikan Tuhan tauladan diantara akhbar Melayu yang lain-lain itu adanya”.

Suguhan jurnalistiknya mencakupi berbagai hal semasa. Mulai dari berita politik dan pemerintahan hingga informasi penting berkenaan dengan ekonomi dan perdagangan semasa. Cakupan wilayah perkabarannya meliputi Singapura, Tanah Semenanjung, dan negeri-negeri serantau di Hindia Belanda yang penduduknya mampu membaca tulisan jawi atau Arab Melayu.

Seperti halnya Johor Baharu, Larut, Melaka, Pulau Pinang, Perak, Perlis, Tapah, Serawak (di Malaysia), Padang (Pulau Pertja atau Sumtara), dan Paris (Perancis), Kepulauan Riau-Lingga yang ketika itu merupakan wilayah Kerajaan Riau Lingga dan daerah zelfbestuur dalam pemerintahan Residentie van Riouw juga menjadi salah satu wilayah jangkauan jaringan sirkulasi Akhbar Jawi Peranakan ini.

Di Kepulauan Riau-Lingga akhbar Jawi Peranakan mempunyai perwakilan di Pulau Penyengat: yang terajunya dipercakan kepada Datuk Syahbar Riau, yakni salah seorang cucu Syahbandar Haji Ibrahim Orang Kaya Muda Riau, yang bernama Datuk Syahbandar Encik Ismail.

Melalui Datuk Syahbandar Encik Ismail inilah khalayak pembaca di Kepulauan Riau-Lingga yang menguasai tulisan jawi, paling tidak di Pulau Penyengat, untuk pertamakalinya berkenalan dengan pers modern berbahasa Melayu dalam arti yang sesungguhnya.

Selama sekitar dua puluh tahun kehadirannya di panggung sejarah pers berbahasa Melayu di Singapura dan Semenanjung, Akhbar Jawi Peranakan telah meninggalkan bekas yang mendalam dalam cara pandang orang Melayu terhadap situasi bangsa dan negerinya ketika itu. Sebagai pionir, kehadirannya telah memicu dan memberi laluan lahirnya enam belas pers Melayu lainnya di Singapura dan Semenanjung sepanjang akhir abad ke-19 hingga dua dekade pertama abad yang lalu.

Lantas apa yang membekas dari pengaruh akhbar Jawi Peranakan dalam sejarah pers berbahsa Melayu di Kepulauan Riau-Lingga? Sedikitpun saya tak meragukan bahwa keterlibatan orang seperti Raja Ali Kelana dan Khalid Hitam dalam majalah al-Imam yang diterbitkan oleh Syekh Muhammad Thahir dan kawan-kawan di Singapura pada trahun 1906, tidak terlepas pengaruh Akhbar Jawi Peranakan ini.

Sebagai sebuah proses berkelindan yang mengalir dalam ruang dan waktu, terbitnya Majalah Peringatan di Pulau Penyengat pada tahun 1939 tentu juga tak terlepas dari ‘saham sejarah’ yang telah ditanamkan oleh akhbar Jawi Perananakan melalui perwakilannya di Pulau Penyengat hingga tahun 1896.***

Adat Laki-Laki Tiadalah Begitu

0

BULAT sudah tekad Siti Rafiah untuk menuntut bela sekaligus mengembalikan kemerdekaan negerinya, Kerajaan Barbari, dari belenggu penjajahan Kerajaan Hindustan. Akan tetapi, tak mudah bagi istri Sultan Barbari itu untuk menunaikan niat sucinya, mentelah lagi kini dia dalam pelarian. Perempuan jelita yang berpenampilan laki-laki itu harus mengembara dari satu ke lain negeri untuk membangun koalisi dan menghimpun kekuatan.

            Setelah sekian lama mengembara dan mengubah tampilan diri dengan menggunakan nama Duri dan berprofesi sebagai hulubalang, sampailah dia ke Negeri Barham. Malangnya, negeri yang dikunjunginya itu sedang dirundung nestapa. Penguasa sahnya, Sultan Jamaluddin, baru saja digulingkan oleh pamannya sendiri (adik almarhumah ibunya), Bahsan, yang dimabuk kuasa.

Kekurangan pengalaman keponakannya, yang baru ditinggal mangkat oleh ayahandanya, dimanfaatkan oleh Bahsan untuk menghasut dan menekan rakyat dan tentara sehingga sebagian besar dari mereka berpihak kepadanya. Kebetulan, kala itu sebagian rakyat dan prajurit memang sedang terjangkiti penyakit menular “gila harta”. Keadaan itu dimanfaatkan oleh Bahsan dengan menyediakan obat mujarabnya, yang diberikan dalam amplop bermerek “Duita”. Gayung bersambut, syahwat kekuasaan paman Sultan Jamaluddin itu pun terpuaskan. Tanpa belas kasih sedikit pun, disingkirkannya keponakannya dari singgasana kekuasaan, termasuk diancamnya rakyat dan tentara yang masih setia kepada penguasa sah itu dengan pelbagai cara.

Tak memerlukan waktu lama bagi hulubalang Duri (Siti Rafiah) untuk mengetahui selok-belok pertikaian kelas atas Kerajaan Barham. Dia pun menaruh simpati kepada Sultan Jamaluddin karena raja yang berusia muda itulah seharusnya pemimpin yang sah. Dengan bantuan menteri berida (senior), akhirnya dia dapat menghadap Sultan Jamaluddin seraya menyatakan sokongannya kepada pemimpin Negeri Barham yang tersandera itu.

Disingkatkan kisahnya, setelah bertanya langsung kepada Sultan Jamaluddin alasannya tak mau melawan Bahsan diperolehlah jawaban yang pasti. Jamaluddin menganggap semua yang menimpa diri dan keluarganya itu memang telah ditakdirkan oleh Allah. Oleh sebab itu, dia harus tabah dan sabar menghadapinya. Selanjutnya, Syair Abdul Muluk (Haji, 1846), bait 1.002—1.003, meneruskan kisahnya.

Duri berdatang sembah suatu
Sebenarnya titah Tuanku itu
Tetapi ikhtiar boleh di situ
Adat laki-laki tiadalah begitu

Manusia nin sekurang-kurang akalnya
Mengambil muslihat akan dirinya
Jikalau tiada begitu adanya
Jadilah sia-sia juga hidupnya

Syair Abdul Muluk ~Raja Ali Haji

Duri bersetuju akan keyakinan Sultan Jamaluddin. Dalam hal ini, tabah dan sabar dalam menghadapi masalah memang mustahak, lebih-lebih bagi pemimpin. Pemimpin tak boleh gopoh atau terburu-buru dalam bertindak. Akan tetapi, setiap masalah harus diselesaikan atau dipecahkan dengan berusaha, tak boleh dengan berdiam diri saja, apatah lagi dalam konteks Jamaluddin. Dialah pihak yang benar, pemimpin sah Negeri Barham.

Menurut hulubalang Duri, “Adat laki-laki tak boleh begitu.” Dalam hal ini, ketika malapetaka datang menerpa, pemimpin harus bertindak atau sekuat dapat berikhtiar, jangan berdiam diri saja. Bukankah Bahsan merebut kuasa yang bukan haknya, yang tak dibenarkan oleh bangsa-bangsa beradab di mana sahaja di seluruh dunia? Bahkan, Tuhan pun mungkin akan murka kalau perbuatan onar seperti itu dibiarkan tanpa perlawanan yang semestinya.

Dengan keyakinan itu, Duri berjanji akan menolong Sultan Jamaluddin. Pasalnya, di samping bertawakal kepada Allah, manusia sekuatdapatnya mesti menggunakan akal anugerah-Nya untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi. Tak boleh semata-mata berserah diri kepada Tuhan Yang Mahakuasa seraya duduk bermuram durja.  

Sultan Jamaluddin yang muda usia berasa tercerahkan oleh nasihat dari hulubalang yang perkasa itu. Karena Duri memang ikhlas seikhlas-ikhlasnya hendak membantunya, diserahkannya hulubalang dan prajurit yang masih setia kepadanya di bawah pimpinan Duri, hulubalang tangguh dari Negeri Barbari. Tak banyak memang sisa tentara yang masih setia kepada pemimpin sah itu, tetapi mereka adalah para prajurit pemberani yang sangat setia kepada negara sehingga tak mempan dibujuk, digertak, disogok, apatah lagi ditipu oleh Bahsan dan kroni-kroninya. Bagi mereka, keselamatan bangsa dan negara di atas segala-galanya. Dalam taksiran Duri, tanpa strategi yang jitu, dengan jumlah tentara dan persenjataan yang serbakurang, mereka akan kalah menghadapi Bahsan dan pasukannya hanya dalam satu malam peperangan. Akan tetapi, kesemuanya itu bukanlah menjadi alangan bagi mereka untuk berjuang.

Atas pertimbangan itu dan berdasarkan kepercayaan Sultan Jamaluddin, Duri akan menyamar menjadi tukang kecapi yang miskin. Eh, mengapa pulakah dia harus menjadi pemain musik? Rupanya, itulah strateginya. Pasalnya, Bahsan sangat gemar menyaksikan pertunjukan dan mendengarkan musik kecapi.

Ternyata benarlah adanya. Setelah mengetahui dari menterinya ada pemain kecapi hebat datang ke negerinya, Bahsan memanggil pemain musik miskin itu ke istananya. Jadilah Duri bermain kecapi setiap malam di istana Bahsan sehingga dia dapat lebih mengenal watak penjahat itu dan tentu lengkap dengan kelemahannya juga. Ringkasnya, bermodalkan kemahiran bermain kecapilah, Duri dapat mengalahkan Bahsan—tentu dengan menggunakan senjata, bukan kecapi—dan mengembalikan Sultan Jamaluddin ke singgasana kekuasaannya. Dalam hal ini, Duri menggunakan kecerdikannya untuk mengalahkan dan menewaskan si angkara murka.

            Raja Ali Haji rahimahullah menegaskan bahwa kecerdikan merupakan karakter yang seyogianya dimiliki oleh setiap pemimpin. Dalam Tsamarat al-Muhimmah perkara itu diungkapkan beliau sebagai berikut.

“Bermula adalah pekerjaan menurunkan qadi ditanggalkan dari jabatannya itu, yaitu dengan sebab hilang daripadanya ahlil qada, seperti gila dan pitam dan lalai dan tuli dan pelupa yang menghilangkan khabit dan cerdik (huruf miring oleh HAM) dan fikir,” (Haji dalam Malik (Ed.), 2013).

Nukilan di atas memang menyuratkan qadi. Akan tetapi, siratannya boleh meliputi semua pemimpin. Dengan demikian, syarat pemimpin, antara lain, haruslah cerdik. Jika seseorang tak memiliki kecerdikan, dia tak layak menjadi pemimpin. Lalu, apakah yang dimaksudkan dengan karakter itu? Pemimpin yang cerdik bermakna dia cepat memahami keadaan atau masalah dan pada gilirannya mahir pula mencari pemecahannya. Dia tak pernah “mati akal” ketika menghadapi masalah kepemimpinan, apatah lagi sampai menyalahkan, bahkan memusuhi orang lain dan sering rakyat pula yang dibabitkan.

Jika pemimpin tak cerdik, dia akan mengundang masalah. Jangankan menyelesaikan persoalan, malah dialah yang menjadi punca masalah. Akibatnya, negeri merana bagai tak sudah dan rakyat yang seharusnya berbahagia, justeru hari demi hari didera gundah. Pemimpinnya, malah, dimanfaatkan orang-orang yang bermaksud jahat dan berperangai berdebah.

Dalam keadaan seperti itu, pemimpin yang “mati akal” karena ketakcerdikannya mulailah berbuat pelbagai karenah. Jika ada rakyat yang berani mengeritiknya, dia pun mengancam dengan hukuman yang konon berasal dari negeri suci antah-berantah. Itulah yang dilakukan oleh Bahsan kepada rakyat dan tentara Kerajaan Barham untuk membungkam dan menipu mereka sampai tak seorang pun sanggup membantah.

Padahal, bukankah pemimpin sesungguhnya pengemban amanat penderitaan rakyat? Gagasan itu tak berarti rakyat harus dibuat menderita dan atau dijadikan musuh dengan pelbagai taktik yang menjerat. Sebaliknya, pemimpin harus berjuang, tentu bersama dan dengan sokongan penuh seluruh rakyat, untuk melenyapkan segala bentuk penindasan terhadap bangsanya, mewujudkan kemakmuran negeri, dan membahagiakan rakyat. Dia seyogianya tak rela menyaksikan rakyat melarat, apatah lagi kalau penyebab kemelaratan itu adalah praktik kepemimpinan yang dia buat.

Dalam tradisi kepemimpinan Melayu sangat dikenal ucapan sakral kepemimpinan berupa Sumpah-Setia Melayu yang dilakukan oleh Sang Sapurba atau Seri Tri Buana dan Datuk Demang Lebar Daun di Bukit Siguntang Mahameru. Begini sebagian persetiaan itu diucapkan dengan takzimnya.

Maka sembah Demang Lebar Daun, “Adapun Tuanku segala anak-cucu patik [baca: rakyat, HAM] sedia (men-)jadi hamba ke bawah duli Yang Dipertuan; hendaklah ia diperbaiki [baca: diperlakukan dengan baik, adil, HAM] oleh anak-cucu duli Tuanku [baca: penguasa, HAH]. Dan, (jika) ia berdosa, sebesar-besar (apa) dosanya pun, jangan ia difadhihatkan, dinista, dengan kata yang jahat; jikalau besar dosanya (sehingga harus) dibunuh [baca: dikenakan sanksi hukuman mati, HAM], (silalah dihukum sesuai dengan kesalahannya), itu pun jikalau berlaku pada hukum syarak.”

Sumpah-Setia itu ditutup dengan ungkapan yang sangat menggerunkan sesiapa pun yang terbiasa dengan kehidupan yang berperadaban tinggi kalau sampai berani melanggarnya. “Maka keduanya pun bersumpah-sumpahlah, barang siapa mengubahkan perjanjiannya itu dibalik(kan) Allah subhanahu wa taala bumbungan rumahnya ke bawah, kaki tiangnya ke atas.” Oleh sebab itu, orang Melayu sangat percaya bahwa sesiapa pun pemimpin yang melanggar persetiaan itu akan tertimpa tulah berupa padah yang amat pedih, apa pun bentuknya. Itulah tandanya bahwa “bumbungan rumahnya telah dijungkirkan ke bawah dan kaki tiangnya telah dibalikan ke atas.” Kearifan lama itu, terutama dahulu, selalu diingatkan kepada para calon pemimpin dan atau pemimpin akan bahayanya kalau Sumpah-Setia itu dilanggar.

Lalu, bagaimanakah kiat memelihara kecerdikan? Syair nasihat dalam Tsamarat al-Muhimmah (Haji dalam Malik (Ed.), 2013), bait 10, memberikan petuah berkenaan dengan perkara itu.

Jika ilmu tidak diindah
Sebab anakanda buat permudah
Rakyat datang membawa gundah
Anakanda tercengang duduk tengadah

Tsamarat al-Muhimmah ~Raja Ali Haji

Sumber kecerdikan itu tiada lain adalah ilmu. Oleh sebab itu, setiap pemimpin mestilah berilmu, menyukai ilmu yang benar dan bermanfaat, dan suka bermusyawarah dengan orang-orang yang berilmu lagi jujur. Jangan sebaliknya, memusuhi dan atau menganggap orang berilmu sebagai saingan. Setelah berdiskusi dengan Duri yang cerdik-cendekialah, Sultan Jamaluddin menjadi terbuka pikiran dan hatinya sehingga tak salah dalam menginterpretasikan takdir Allah. Pasalnya, Duri yang kaya ilmu itu memahami dan meyakini benar pedoman dari Allah kepada makhluk-Nya.

“Sesungguhnya Allah tak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan, apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka, selain Dia,” (Q.S. Ra’d, 11).

Atas dasar itulah,  Gurindam Dua Belas, Pasal yang Kedua Belas, bait 4 (Haji, 1847), mengingatkan pemimpin untuk senantiasa bersinergi dengan orang berilmu dan berperilaku mulia.

Kasihkan orang berilmu
Tanda rahmat atas dirimu

Gurindam Dua Belas, Pasal yang Kedua Belas, bait 4 ~Raja Ali Haji

Manusia yang beroleh rahmat ditandai sifatnya yang lemah-lembut, senantiasa berupaya berbuat baik, dan penyayang kepada sesama. Rakyat manakah yang tak berbangga memiliki pemimpin yang berkualitas unggul seperti itu adanya? Pasalnya, dengan sifat mulianya itu, sesiapa pun pemimpinnya pasti tak rela negerinya terdera dan rakyatnya menderita. 

            Hulubalang Duri dengan keelokan perilaku dan ketinggian ilmunya telah membuka jalan kearifan kepada Sultan Jamaluddin, pemimpin sah, tetapi kekuasaannya tersandera. Masalah kepemimpinan tak boleh didiamkan begitu saja, oleh sesiapa saja, tetapi harus diselesaikan secara cerdik-cendekia. Itulah karakter pemimpin yang namanya tak akan pernah tercela. Bahkan, oleh rakyat dia akan senantiasa dibela. Di atas itu akan ada pertolongan dari Allah Ta’ala.

Hulubalang Duri itu sesungguhnya perempuan, yang menyamar menjadi laki-laki karena alasan tertentu. Dengan gagah dan arifnya dia menasihati pemimpin laki-laki, Sultan Jamaluddin, “Adat laki-laki tiadalah begitu,” karena dia prihatin akan kepemimpinan yang tiada bermutu. Itulah sebabnya, ditunjukkannya kiat cantik lagi cerdik mengalahkan penjahat Bahsan yang, oleh sebagian besar rakyat Negeri Barham selama ini, dianggap jauh lebih perkasa daripada hantu. Dengan kecerdasan, kecerdikan, dan keindahan petikan kecapinya, ternyata hantu besar yang menggerunkan itu malah mati kutu.***

Asal Usul Raja-Raja Kerajaan Riau-Lingga

0
Versi rumi (huruh latin tulisan tangan) pasal kedua manusrip Mukhtasar Tawarikh al-Wustha yang dicantumkan sebagai sandingan versi jawinya dalam menuskrip Muhkatasar Tawarikh al-Wustha koleksi Perpustakaan Universitas Leiden.

Sejumlah manuskrip yang berisikan sejarah (historiografi) istana Kerajaan Riau-Lingga tidak hanya menjadi bagian dari korpustradisi tulis Riau-Lingga yang gemilang, tapi juga menjadi ‘dokumen istana’, pegangan raja-raja yang memerintah, dan sumber legitimasi historis pemerintahannya.

Salah satu khazanahmanuskripsejarah Riau-Lingga yang memainkan ‘peran ganda’ itu adalah manuskrip Mukhtasar Tawarikh al-Wustha, yaknisebuah keringkasan manuskrip yang berjudulTawarikh al-Wustha. Manuskripinisangkateratkaitannyadenganduamanuskriplainnya yang berjudul, Tawarikh al Qubra dan Tawarikh al-Suhgra. Konon kabarnya, ketiga manuskripasli sejarah Riau-Lingga ini pernah hilang dari lemariarsip milikYang Dipertuan Muda Riau di Pulau Penyengat.

Sepintas kilas, manuskrip Mukhtasar Tawarikh al-Wustha telah penah diperkenal dalam ruang kutubkhanah ini. Dan untuk sekedar mengingatkan kembali, manuskrip Mukhtasar Tawarikh al-Wustha yang paling tua (bila dilahat dari tarikh penyalinannya, tahun 1854) kini berada dalam simpanan Perpustakan Universitas Leiden, di Negeri Belanda.

Selaian itu, beberapa versi salinannya dimuat dalam kitab kumpulan salinan manuskrip dan arsip Kerajaan Riau-Lingga yang berjudul SadjarahRiouwLingga dan Daerah Taaloqnja koleksi Perpustakaan Universitas Leiden, dan di dalam kitab Tsamaratulmathlub-fi-anuarilqulubyang diusahakan oleh  Khalid Hitam di Riau-Pulau Penyengat, dan kini tersimpan di Perpustakaaan Dewan Bahasa dan Pustaka, Malaysia.

Sabagaisebuahkeringkasan (mukhtasar), kitabTawarikh al-Wustha yang beradadalamsimpnanarsip Yang Dipertuan Muda di Pulau Penyengat pada suatu ketika dulu, mengandungiberbagai“narasiresmi” tentangsejarahhubunganantara Raja-Raja Bugis dan Raja-Raja Melayudalam Kerajaan Riau-Lingga yang ‘dipadatkan’ menjadi lima pasal (oleh karenaitumanuskripmukhatasarinidikenal juga sebagaiUndang-Undang 5 Pasaldari Riau).

Pasal yang pertama, menguraikanasal-usuldan susurgalur Sultan Yang DipertuanBesar, Yang Dipertuan Muda, Bendahara, dan Temenggungdalamsejarahpemerintahankerajaan Riau-Lingga.Pasal yang kedua, menjelasakanperihalempathaldalamadat-istiadat raja-rajaMelayu yang berbedadariadat raja-raja di negeri-negeri diatasangin (Arab, Persia, dan India).

Pasal yang ketiga, menjelaskan segala tokong pulau dan teluk rantau yang menjadi wilayah takluk kerajaan Riau-Lingga, lengkap dengan keringkasan sejarahnya. Khusus dalam pasal tiga ini, terdapat sedikit tambahan pada manuskrip yang disalin oleh Raja Khalid Hitam dan dimuat dalam kitab Tsamarat al-Matlub. Pada margin halaman 192 manuskrip salinannya, Raja Khalid Hitam mancatumkan tambahan nama-nama gelar kebesaran Datuk Kaya dan Petinggi  dikawasan Pulau Tujuh dan Tambelan yang dikemas dalam “catatan pinggir” yang disebut disebut buton.

Pasal yang keempat, menjelaskan perihal bahasa diraja,  bahasa adat tatkala dipakai dalam istiadat, aturan kelengkapan (semberap) pawai diraja, sejarah nobat, dan peraturan penggunaan nobat sebagai salah satu simbol kebesaran istana Kerajaan Riau-Lingga.

Pasal yang Kelima, menjelaskansejarah dan asal-usul istilah wakil mutlak serta kandungan maknanya sebagaimana dipergunakan didalam kontrak-kontrak politik antara Kerajaan Riau-Lingga dengan Belanda sejak tahun 1824.

            Dalam kutub khanah ini, akan diulas sekilas-lintas kandungan isi pasal pertama Mukhtasar Tawarikh al-Wutha,  yang isinya berkenaan dengan asal-usul Yang Dipertuan Besar, Yang Dipetuan Muda, Bendahara, dan Temenggung dalam sejarah kerajaan Riau-Lingga. Dalam manuskrip Muhtasar Tawarikh al-Wustha, empat teraju negeri itu (Yang Dipertuan Besar, Yang Dipetuan Muda, Bendahara, dan Temenggung) diperlambangkan sebagai“…kain kafan buruk tiada berganti lagi, yang artinya;,orang yang tiada boleh dipecat dimakzulkan kecuali gila atau keluar dari agama Islam”.

Yang Diperpegang Raja-Raja

Kedudukan manuskrip Mukhtasar Tawarikh al-Wustha sebagai ‘dokumen istana’, pegangan raja-raja yang memerintah, dan sumber legitimasi historis pemerintahan raja-raja Kerejaan Riau-Lingga, dinyatakan pada bagian pembuka (bagian awal) manuskrip tersebut.

Jikadirumikan, paragrafawalbagianpembukaituadalahberikut: “Bahwa sesungguhnya inilah yang diperpegang pada masa ini oleh raja-raja, yang dikeluarkan daripada [kitab] Sejarah Melayu yang bernama Tawarikh al-Wustha, yang diperbuat antara Raja Melayu dan Raja Bugis, yakni Yang Dipertuan Besar dengan Yang Dipertuan Muda, yang [kemudian] dimukhtasarkan disini karena hendak mengambil sempena yang telah dimufawaidkan, yang amat teguh.”

Selain itu, seperti telah ditunjukkan oleh Annabel Teh Gallop dalam sebuah artikelnya tentang esensi penggunaan stempel diraja pada sejumlah manuskrip Melayu, Exception to the Rule: Malay Seal in Manuscripts Book (2007); stempel merah milik Raja Ali Yang Dipertuan Muda Riau (Marhum Kantor) yang dicantumkan pada bagian akhir manuskrip Mukhtasar Tawarikh al-Wusthainijuga erat kaitannya dengan kandungan isinyayang menjelaskan aspek legitimasi historis, aturanadat, dan asalusul raja-raja Riau-Lingga; dengan kata lain stempeldirajaitutidakhanyasekedar sebuah tandapengesahan yang sifatnya umum belaka.

Demikianlah, kandunganisi Pasal pertama manuskrip Mukhtasar Tawarikh al-Wustha, menjelaskan asal raja-raja Melayu Riau-Lingga serta hubungannya dengan anak raja-raja Bugis yang kemudian menjadi Yamtuan Muda Riau.

Dalamhalmenjelaskanasal-usul raja-raja Riau-Lingga, manuskripMukhtasar Tawarikh al-WusthaberbedadariSejarah Melayu (Sulalatussalatin) dan Tuhfat al-Nafis. Di dalamMukhtasar Tawarikh al-Wusthasusur galur raja-raja Melayu yang memerintah Riau-Lingga tidak  dimulaidenganmitos raja Melayu yang turun di Bukit Siguntang (Palembang).

Garis asal-Usul Raja-Raja Riau-Lingga “ditarik” dari keturunan Datuk Bendahara Johor yang kemudian menjadi Raja Kerajaan Johordengangelarkebesaran Sultan Abdul Jalil (Marhum Kuala Pahang) dan berkait kelindan dengan anak-raja Bugis Lima Saudara.

Susur galur itu diawali dengan anak Sultan Abduljalil yang bernama Raja Sulaiman, yang kemudian dirajakan oleh Daeng Marewah adik-beradik setelahberhasil membantu Raja Sulaiman merebut kembali tahta ayahnya dari kekuasan Raja KecikSiak, di Negeri Riau. Dari Sultan Sulaiman inilah sultan-sultan dari garis “sebelah bapanya” mewarisi gelar kebesaran Yang Dipertuan Besar dalam kerajaan Riau-Lingga hingga menjelang tahun 1885.

Sementara itu, melalui Daeng Marewah yang mewakili anak raja-raja Bugis  lima saudara yang membantu Raja Sulaiman merebut tahta ayahandanya dari Raja Kecik, diamanahkan pula sebuah jabatan,sempena menjalankan pemerintahan kerajan, dengan gelar kebesaran Yang Dipertuan Muda Riau: sebuah jabatan penting yang terus dipakai secara turun-temurun menurut garis laki dalam kerajaan Riau-Lingga hingga tahun 1899.

Selain menjelaskan hubungan susur-galur raja-raja Melayu keturan Bendahara Abduljalil (yang kemudian menjadi sultan) dengan anak raja-raja bugis dalam kerajaan Riau-Lingga yang dibuhul oleh ikatan pernikahan, manuskrip Mukhtasar Tawarikh al-Wusthaini juga menjelaskan sedikit-sebanyak asal-usul Bendahara dan Temenggung dalam sejarah kerajaan Riau-Lingga.

Tentang asal-asul Bendahara ini, antara lain dijelaskan sebagai berikut: “Bermula Bendahara Johor daripada masa alah Riau oleh Siak itu hingga pada masa tarikh surat itu [pada masa manuskrip Tawarikh al-Wustha ditulis] yaitu pertama-tama, Tun  Abbas. Kedua Tun Abdul Majid. Ketiga Tun Koris. Keempat Tun Ali. Kelima Tun Muhammad Tahir yang maujud pada tarikh surat ini [pada masa Mukhtasar Tawarikh al-Wustha ditulis]. Adalah suku-suku Bendahara ini tidak berkerabat dengan Raja Bugis, akan tetapi ada ia satu asal dengan Raja Johor, yaitu Saudara Tua kepada almarhum Abdul Jalil yang mangkat di Kula Pahang adanya”.

Sebaliknya, meskipun seasal dengan Bendahara, namun susur galur Temenggun dalam Kerajaan Riau-Lingga berkelindan dengan silsilah raja-raja Bugisi masa udara melalui Daeng Perani. Dalam Mukhtasar Tawarikh al-Wustha perihal ini dinyatakan sebagai berikut:

Bermula adalah Raja Maimunah putera Arung Perani (Daeng Perani) dengan Tengku Tengah (adik Sultan Sulaiman). Maka bersuamikan (ia) Temenggung Johor (Temenggung Abdul Jamal). Dan adalah Daeng Kecik (putera Temenggung Abdul Jamal) beranakkan Temenggung Abdulrahman, dan Temenggung Abdulrahman beranakkan Temengung Selat (Temenggung Ibrahim) yang sekarang (pada masa Mukhtasar Tawarikh al-Wustha ini ditulis, bermastautin) di Singapura.”***

Baharu

Hak Cipta Terpelihara. Silakan Bagikan melalui tautan artikel