Beranda blog

Persemendaan Melayu-Bugis

0
Contoh dua kolom syair panjang dalam Kitab Silsilah Melayu dan Bugis edisi cetak huruf jawi oleh Mathba’ah al-Imam, Singapura, tahun 1911. (Dok. Aswandi Syahri)

PERHUBUNGAN kekeluargaan itu terjadi melalui pernikahan emas. Pelakunya keturunan Melayu dan Bugis di kawasan Melayu—khasnya di Kepulauan Riau, Malaysia, dan Singapura—pada awal abad ke-18. Penyebabnya tiada lain, janji bangsa bertamadun tinggi yang menjunjung marwah: pantang budi tiada berbalas

Para perantau Bugis mulai berperan di kawasan Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang dan sekitarnya pada akhir abad ke-17. Kala itu banyak orang Bugis bermigrasi dari tanah kelahiran mereka di Sulawesi Selatan ke kawasan Melayu di sepanjang Selat Melaka sampai Laut China Selatan.

Di antara mereka yang berpindah itu adalah keluarga bangsawan Bugis Opu Tentriborong Daing Rilaka (Rilekke) dengan lima putranya: Daing Parani, Daing Manambun, Daing Marewah, Daing Cellak, dan Daing Kemasi (Kemase). Mereka awalnya tiba di Negeri Siantan (sekarang Kabupaten Anambas, Kepulauan Riau) di Laut China Selatan. Sebelum itu memang telah ada perantau Bugis yang tiba di kawasan Melayu semenjak Kesultanan Melaka. Kala itu mereka datang berniaga. “Mereka adalah para saudagar yang paling terkenal di pulau-pulau sebelah timur,” (Clodd dalam Kadir dkk. 2008, 86).

Setelah zaman Melaka, ada pelbagai penyebab orang Bugis berpindah dari kampung halaman mereka ke kawasan di sepanjang Selat Melaka. Di antara penyebab terbesarnya adalah akibat Kerajaan Makassar (Gawo-Tallo) kalah berperang melawan VOC-Belanda yang diakhiri dengan Perjanjian Bungaya, 18 November 1667. Menurut Kuchita (2008), perpindahan orang Bugis pada 1666 yang dipimpin oleh Daing Saleh meliputi 27 perahu. 

Mereka singgah di Temasik (Singapura), lalu pergi ke Limbongan Cermin, di pedalaman Bandar Maharani (Muar). Dari Muar terus ke Melaka sampai ke Selangor. Menurut Jessy, pada 1681 telah ada permukiman orang Bugis di sekitar Sungai Kelang dan Sungai Johor (Saleh, 1980). Bahkan, Opu Daing Parani adik-beradik ikut membantu pembangunan permukiman itu. 

Perihal Opu Daing Rilaka dan putra-putranya, sesampainya di kawasan Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang, kerajaan itu sedang berada dalam kekacauan politik dan pemerintahan. Berawal dari mangkatnya Sultan Mahmud Syah II yang dibunuh oleh Laksemana Megat Seri Rama pada Agustus 1699 ketika Baginda sedang dijulang dalam perjalanan ke masjid untuk menunaikan shalat Jumat. Peristiwa itu dikenal sebagai “Tragedi Seulas Nangka”.

Karena sultan tak memiliki anak, Bendahara Tun Abdul Jalil ditabalkan menjadi Sultan ke-11 Johor-Pahang-Riau-Lingga bergelar Sultan Abdul Jalil Riayat Syah (1699-1717). Pada masa pemerintahan Baginda, datanglah Raja Kecik yang mengaku dirinya sebagai putra Sultan Mahmud Mangkat Dijulang. Dia berasa berhak atas tahta Johor-Riau. Dia kemudian memerangi Johor dan dapat merebutnya pada 21 Maret 1717. 

Raja Kecik mengangkat dirinya menjadi Sultan Johor-Riau bergelar Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah (1717-1722). Setelah berkuasa, dia menurunkan pangkat Sultan Abdul Jalil ke kedudukan awalnya sebagai Bendahara Johor-Riau. Kemudian, Raja Kecik memindahkan semula pusat kerajaan ke Hulu Riau (wilayah Tanjungpinang sekarang). Dia juga mengambil putri Sultan Abdul Jalil, Tengku Kamariah, menjadi istrinya. Pada November 1721 Sultan Abdul Jalil dibunuh oleh para panglima suruhan Raja Kecik di Kuala Pahang.

“… di dalam hal antara itu datanglah pula seorang suruhan Raja Kecik, bernama si Emas Raden, membawa surat kepada Laksamana Nakhoda Sekam. Maka tersebut di dalam surat itu, ‘Janganlah Sultan Abdul Jalil dibawa ke Riau lagi, bunuhlah sekali, kita tahukan matinya sahaja. Maka pada waktu […] mengamuk itu baginda [Sultan Abdul Jalil, pen.] lagi di tikar sembahyangnya, baharu lepas sembahyang subuh tengah membaca wirid. Maka panglima […] itupun naiklah, pada sangka juak-juak baginda itu panglima sengaja hendak mengadap baginda, maka tiadalah dihiraukannya. Maka seketika lagi ia pun naik lalu diparangnya hulu baginda. Maka baginda pun terkejut lalu disambar baginda pedang panglima itu, maka dapatlah pada tangan baginda. Maka mengamuklah baginda diparangnya panglima-panglima itu mati dibunuh oleh baginda. Maka baginda pun rebahlah lalu mangkat,” (Ahmad & Haji dalam Matheson (Ed.) 1982, 68-69).

Putra-putri Sultan Abdul Jalil terkejut dan sangat marah karena pembunuhan kejam terhadap ayahanda mereka. Di dalam Tuhfat al-Nafis diperikan begini.

“Adapun Tengku Tengah apabila ia mendengar ayahandanya sudah hilang [maksudnya, ‘mangkat’, pen.] itu, maka keluarlah ia dengan halamang ditetaknya pada […] yang tinggal-tinggal itu. Maka menjeritlah Laksamana Nakhoda Sekam …,” (Ahmad & Haji dalam Matheson (Ed.) 1982, 69).

Tengku Tengah adalah putri Sultan Abdul Jalil Riayat Syah. Nama timangannya Tengku Erang atau Tun Irang. Beliau yang mula-mula dipinang oleh Raja Kecik untuk menjadi istrinya, tetapi kemudian Raja Kecik berubah hati kepada adindanya Tengku Kamariah. Sikap Raja Kecik menyebabkan Tengku Erang tersinggung bangat. Dia memendam dendam julungnya terhadap Raja Kecik yang dianggapnya telah menghinanya. “Tunggulah balasan Beta, wahai Raja Kecik!”  

Setelah pembunuhan terhadap ayahanda mereka, Tengku Sulaiman adik-beradik semakin dendam terhadap Raja Kecik. Mereka, kemudian, meminta bantuan bangsawan Bugis lima bersaudara: Daing Parani, Daing Manambun, Daing Marewah, Daing Cellak, dan Daing Kemasi. Negosiator utamanya adalah Tengku Erang. Kebetulan, kelima bersaudara itu juga pernah dikecewakan oleh Raja Kecik.

Raja Kecik akhirnya kalah. Selepas itu, pada 1722 Tengku Sulaiman—putra Sultan Abdul Jalil—ditabalkan menjadi Sultan Riau-Lingga-Johor-Pahang bergelar  Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah I. Sesuai dengan janjinya, Sultan Sulaiman melantik Daing Marewah, atas persetujuan saudara-saudaranya, menjadi Yang Dipertuan Muda I Riau-Lingga-Johor-Pahang. Ini adalah jabatan baru, satu tingkat di bawah Sultan atau Yang Dipertuan Besar. 

Selesai ditabalkan, Opu Daing Marewah mengucapkan sumpah setia, dikenal dengan Sumpah Setia Bugis-Melayu, 4 Oktober 1722. Sumpahnya dicatat di dalam Tuhfat al-Nafis.

“Yakinlah Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah, akulah Yang Dipertuan Muda yang memerintahkan kerajaanmu. Barang yang tiada suka engkau membujur di hadapanmu aku lintangkan, dan barang yang tiada suka engkau melintang di hadapanmu aku bujurkan. Barang yang semak di hadapanmu aku cucikan,” (Ahmad & Haji dalam Matheson (Ed.) 1982, 85). 

Dengan sumpah setia itu, perhubungan Melayu-Bugis diibaratkan bagai mata putih dan mata hitam, yang tak akan berfungsi jika dipisahkan. Bersamaan dengan itu, bermulalah babak baru perhubungan Melayu dengan Bugis. Perhubungan itu dipereratkan lagi dengan pernikahan di antara mereka. Tengku Tengah (“Sang Pembuat Perubahan” itu, adik Sultan Sulaiman) menikah dengan Opu Daing Parani, Tengku Mandak (adik Sultan Sulaiman) menikah dengan Opu Daing Cellak, Tun Cik Ayu putri Temenggung Riau menikah dengan Yang Dipertuan Muda I Opu Daing Marewah, dan seterusnya. Selanjutnya, zuriat merekalah yang berhak atas jabatan Yang Dipertuan Muda Riau-Lingga-Johor-Pahang secara turun-temurun.

Keturunan persemendaan Melayu-Bugis tak lagi menggunakan gelar bangsawan Bugis (Daing) atau Melayu (Tengku). Mereka menggunakan gelar baru, yakni Raja, seperti yang melekat pada Raja Haji Fisabillah, Yang Dipertuan Muda IV (1777-1784) dan Raja Lumu,  Sultan I Kerajaan Selangor (Malaysia). Keduanya adalah putra Opu Daing Cellak dan Tengku Mandak ibni Sultan Abdul Jalil Riayat Syah. Sampai sekarang adat-istiadat bergelar itu berlaku di Kepulauan Riau.

Di antara keturunan persemendaan itu ada yang memusatkan perhatian pada bidang keilmuan. Pemulainya Raja Ahmad Engku Haji Tua ibni Raja Haji Fisabilillah. Dari beliau menurun kepada Raja Ali Haji, anaknya, berlanjut ke generasi Aisyah Sulaiman, sampailah ke generasi sekarang. 

Sebelum itu, tradisi intelektual di Kesultanan Riau-Lingga telah dirintis oleh Bilal Abu. Beliau menulis Syair Siti Zawiyah pada 1820 sebagai karya emas pembuka gerbang penjelajahan ilmu. Penulis karya yang sangat memikat ini bukan keturunan bangsawan dan asli Melayu.***  

Sebab Itu Bodoh Selama

0
Gurindam Dua Belas.

AGAMA sungguh tak semata-mata bermatlamatkan akhirat yang abadi nun jauh di sana. Agama juga tak sekadar berurusan dengan persoalan dunia yang serbafana.

Agama pun, Islam khasnya, bahkan, menuntun umatnya untuk memanfaatkan kehidupan dunia untuk sebesar-besarnya keselamatan dan kesejahteraan kehidupan akhirat yang tiada bertolok banding dengan kehidupan dunia.

Oleh sebab itu, agama mengajarkan umatnya agar tak tertipu oleh kesemuan dan keseronokan dunia sehingga mencelakakan kehidupan akhiratnya. Pendek kata, agama berperan utama bagi manusia yang meyakini bahwa kehidupan tak semata-mata bernama dunia.

Bertolak dari pemikiran itulah, Raja Ali Haji rahimahullah, dalam karya beliau Gurindam Dua Belas, menempatkan perkara keyakinan agama pada Pasal yang Pertama, bait 1, karena sangat mustahaknya bagi manusia.

Tak hanya itu, bahkan, ditegaskan bahwa tanpa keyakinan agama, manusia—sesiapa pun dia—telah menyia-nyiakan nikmat kehidupan dunia yang dianugerahkan oleh Tuhan kepadanya.

Barang siapa tiada memegang agama
Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama

Tanpa agama manusia tak diperhitungkan. Pernyataan itu bukan berasal dari manusia, melainkan memang teserlah di dalam firman Tuhan. Jika ada manusia yang menyangkalnya, tentulah dia tergolong orang yang tak memercayai Tuhan.

Dengan demikian, tak ada suatu ajaran agama pun yang digunakan sebagai pedoman. Alhasil, pemikiran manusialah yang diandalkan.Baginya sesiapa pun yang menggunakan pedoman Tuhan dalam kehidupan dunia akan dilawan, apatah lagi yang bertentangan dengan pemikiran manusia yang menjadi pujaan, bahkan mungkin sesembahan.

Dia tak menyembah Tuhan karena tak meyakini agama, tetapi anehnya menyembah manusia yang menjadi pujaan. Hanya mungkin dia malu menyebut tuannya itu tuhan.
Golongan manusia seperti itu, yang memang ada dan tergolong cukup banyak di dunia ini, berdasarkan bait Gurindam Dua Belas di atas, sia-sia sajalah hidupnya.

Apatah lagi, kalau dikaitkan dengan tempat akhiratnya menurut keyakinan manusia yang beragama.
Bagi umat Islam pula, dalam perhubungannya dengan Allah, mereka dituntut untuk meyakini ini. Agama Islam merupakan anugerah Allah yang paling sempurna bagi manusia.

Keyakinan itu harus menjadi bagian dari karakter diri, yang mesti bersebati dalam pikiran, gagasan, perasaan, sifat, sikap, dan perilaku sehingga menjadi nikmat yang seyogianya paling disyukuri dalam kehidupan. Amanat itu dapat ditemukan di dalam Syair Sinar Gemala Mestika Alam (Haji dalam Malik & Junus, 2000, 131), bait 87

Agama Islam kekal berdiri
Ilal akhir yaumid dahari
Mansuh sekalian agama yang bahari
Yahudi [ … ] demikian peri

Sebagai konsekuensi dari karakter mulia dalam perhubungan dengan Allah itu, pedoman utama yang menjadi rujukan dalam kehidupan dunia ini demi keselarasannya dengan kesejahteraan kehidupan akhirat adalah ajaran agama. Jika ada ketentuan dan atau peraturan lain yang bertentangan dengan ajaran agama, tak boleh diikuti. Pasalnya, ketentuan atau dan perbuatan, apa pun itu, yang berseberangan dengan ajaran agama, jika ada, jelaslah melawan ketentuan dan ketetapan Allah. Kalau diikuti juga dengan pelbagai alasan, kecuali karena sangat terpaksa, maka sirnalah nikmat Allah dari kehidupannya.
Rujukan apakah yang dapat digunakan untuk membenarkan pemikiran itu? Jawabnya, tentulah pedoman Allah, yang segenap jiwa dan raga manusia di dalam genggaman-Nya, sama ada di dunia ataupun di akhirat. Kenyataan itu memang sulit dipahami oleh mereka yang tak berkeyakinan agama. Padahal, dengan kecerdasan yang dianugerahkan Allah kepadanya, kalau bersedia membuka hatinya, sebetulnya dia dapat menerimanya.
“ … Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …,” (Q.S. Al-Maaidah, 3).
Tiada keraguan sama sekali. Allah sendiri telah menjamin bahwa Dia telah menyempurnakan agama yang dianugerahkan kepada umat Islam. Bahkan, Dia telah meridhakannya bagi umat-Nya. Dengan jaminan kesempurnaan itu, tiada sesuatu apa pun keperluan manusia untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat yang tak terhimpun di dalam agama itu. Bahkan, Allah sendiri yang mengukuhkan bahwa Islam merupakan nikmat utama yang dianugerahkan kepada umat-Nya.
Bersabit dengan jaminan Allah itu, menjadi sangat masuk akal pesan yang terdapat di dalam syair nasihat yang termuat di dalam Tsamarat al-Muhimmah (Haji dalam Malik (Ed.), 2013), bait 53. Nasihat itu berkenaan dengan sikap yang harus diambil oleh sesiapa saja ketika berhadapan dengan pemikiran, perbuatan, dan atau ketentuan yang bertentangan dengan agama.

Sebab itu bodoh selama
Serta jahil akan agama
Tidak mengaji kepada ulama
Di mana ‘kan dapat pikir utama

Tak sebarang gelar yang diberikan. Bodoh merupakan ungkapan yang sungguh menyedihkan lagi menyakitkan. Pasalnya, manusia sesungguhnya bukanlah dungu, melainkan makhluk tercerdas di antara semua ciptaan Tuhan. Akan tetapi, kenyataan itu harus diterima. Iya tak iya pula, telah disediakan oleh Allah, Sang Maha Pencipta, ketentuan dan peraturan yang mahasempurna, masih ada juga manusia mengadakan pemikiran dan perbuatan, bahkan ditetapkan sebagai ketentuan yang wajib diikuti oleh manusia, yang bertentangan dengan pedoman agama. 

Bukankah Allah telah menjamin bahwa ketetapan agama-Nya telah disempurnakan-Nya untuk umat-Nya? Adanya ketentuan penyanding yang bertentangan dengan ketetapan-Nya jelaslah menunjukkan kualitas bebalnya. Bukankah Tuhan juga telah mengingatkan bahwa manusia tak diberikan ilmu, kecuali hanya sedikit? Mungkinkah ketinggaan (kedangkalan) ilmu itu dapat mengatasi kemahatinggian ilmu Allah Yang Mahasempurna? Jadi, kecerdasan manusia seyogianya selaras dengan kerelaan dan keikhlasannya menerima ketentuan Allah. Kualitas itu juga menunjukkan karakternya yang istimewa dan baru sah menyandang gelar makhluk yang paling cerdas lagi paling mulia.  

Dari Abu Dzarr r.a. beliau berkata, “Rasulullah SAW telah pergi meninggalkan kami (wafat) dan tak seekor burung pun yang terbang membalik-balikkan kedua sayapnya di udara, melainkan Baginda Rasulullah SAW telah menerangkan ilmunya kepada kami.” Berkata Abu Dzarr r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tak ada tertinggal sesuatu apa pun yang mendekatkan ke surga dan menjauhkan dari neraka, melainkan telah dijelaskan kesemuanya kepada kalian,” (H.R. At-Thabrani dan Ibnu Hibban).

Penjelasan terakhir yang disampaikan oleh Rasulullah yang dinukilkan di atas lebih memantapkan pikiran, hati, dan keyakinan kita. Agama yang diturunkan kepada Baginda telah lengkap dan sempurnalah segala-galanya. Perihal kesejahteraan dan kebahagiaan dunia telah disediakan semua pedomannya. Tinggal dipelajari, dipahami, diyakini, dan diterapkan secara konsisten dan konsekuen, maka akan diperolehlah hasil dan manfaatnya. 

Tak hanya sampai di situ tuntunan dan petunjuk yang disediakan. Berebut dunia tak boleh menyebabkan manusia melupakan akhirat yang pasti menanti kehadiran semua insan, tinggal menanti giliran. Fakta itu jelas kelihatan dalam kehidupan keseharian. Adakah yang pernah menyaksikan peristiwa yang berbeda dari ketetapan Tuhan? 

Seyogianya, bekalnya dihimpun di dunia dengan secara taat mengikuti petunjuk dan pedoman Tuhan. Sekadar mengerahkan kecerdasan yang hanya sekuku untuk berdebat dengan Tuhan, sabit di akalkah ianya kesampaian? Pertanyaan itu tentulah dijawab berbeda oleh mereka yang tak meyakini adanya Tuhan. Bagi mereka, alam akhirat hanyalah sekadar angan-angan. Mereka lupa, ada nikmat angan-suci yang diilhamkan oleh Tuhan.***  

Amalkan Dia Janganlah Berat

0

SETIAP manusia umumnya hendak tampil sebagai sosok yang dibanggakan oleh keluarganya. Keinginan yang baik itu seyogianya selaras dengan karakter yang diterapkannya. Dalam hal ini, sifat, sikap, dan perbuatannya menujukkan dia sebagai orang yang mengutamakan musyawarah dan mufakat dengan keluarga. Tak ada perkara yang berkaitan dengan keberlangsungan hidup keluarga diputuskannya seorang diri saja, bahkan walaupun dia seorang raja. 

Raja Ali Haji rahimahullah dalam karya beliau Syair Abdul Muluk (Haji, 1846) mengemukakan amanat mustahaknya musyawarah dan mufakat di dalam keluarga, antara lain, pada bait 461-463. Berikut ini bait 461 dan 463 syair itu yang menampilkan karakter penting yang wajib diterapkan dalam kehidupan berkeluarga.

Telah didengar duli mahkota
Diam berpikir di dalam cita
Kepada isteri baginda berkata
Adinda wai apalah bicara kita
………………………………….
Permaisuri menjawab kata
Sambil berlinang airnya mata
Barang yang baik kepada mahkota
Melainkan adinda menurut serta

Nukilan dua bait Syair Abdul Muluk di atas berkisah tentang perilaku bapak dan ibu mertua Sultan Abdul Muluk menanggapi permintaan izin menantu mereka untuk  kembali ke negerinya. Permintaan itu diutarakan oleh Abdul Muluk setelah sekian lama dia berada di negeri mertuanya. Kedua suami-isteri itu, anak mereka Siti Rafiah, dan Abdul Muluk bermusyawarah untuk mendapatkan putusan yang terbaik. 

Sultan Negeri Ban, dengan ungkapan yang lemah-lembut, meminta pendapat permaisurinya, ibu mertua Abdul Muluk. “Adinda, Wai, apalah bicara kita?” Masalah itu sangat penting karena Siti Rafiah putri tunggal kesayangan mereka. Setelah bermusyawarah, akhirnya mereka menemukan kata mufakat: Abdul Muluk dan istrinya, Siti Rafiah (putri Negeri Ban), memang harus segera pulang ke Negeri Barbari, negeri Sultan Abdul Muluk. 

Walaupun kedua mertuanya sangat berat untuk berpisah dengan putri dan menantu tercinta, mereka merelakannya karena ada tugas negara yang harus dilaksanakan oleh Abdul Muluk sebagai kepala negara. Putusan itu tak dibuat sendiri oleh Sultan Abdul Muluk atau Sultan Ban walaupun mereka sultan yang berkuasa di negeri monarki absolut (Titah raja adalah juga firman Tuhan, raja merupakan bayang-bayang Tuhan di muka bumi). Mereka justeru menemukan mufakat dari musyawarah dengan semua anggota keluarga. Betapa demokratisnya kehidupan di dalam keluarga monarki itu. Jadi, cap tak terlalu penting, yang paling mustahak bagaimana ianya diterapkan.

Kisah pada bait-bait syair itu mengesankan bahwa bukan hanya putusannya tergolong arif, bijak, dan baik sehingga hasilnya pun sangat bermutu. Yang juga berhikmah adalah cara membuat putusan dengan bermusyawarah untuk mencapai mufakat itu merupakan amalan hidup yang baik. Walaupun bapak dan ibu mertua Sultan Abdul Muluk masih mengharapkan menantu dan anaknya, Siti Rafiah, masih tetap bertahan di negerinya karena baru saja melangsungkan pernikahan, mereka bersepakat bahwa tugas dan tanggung jawab Abdul Muluk sebagai Sultan Negeri Barbari harus lebih diutamakan daripada perasaan belum hendak berpisah di antara anggota keluarga. Itulah karakter terpuji dan mulia sebagai petunjuk kehalusan budi para anggota keluarga bangsawan dalam syair Abdul Muluk

Di dalam Tsamarat al-Muhimmah (Haji dalam Malik (Ed.), 2013), ada amanat langsung dari penulisnya kepada anak-cucunya. Menurut beliau, kebiasaan bermusyawarah dalam membuat putusan hendaklah diamalkan dan dibudayakan di dalam hidup ini. 

Inilah akhir kalam tersurat
Kepada medan ilmu musyawarat
Amalkan dia janganlah berat
Supaya tertolak segala mudarat

Bait terakhir, 73, syair nasihat di dalam karya Tsamarat al-Muhimmah di atas menyuratkan anjuran ini. Utamakan dan biasakanlah bermusyawarah untuk menghasilkan setiap putusan. Dengan demikian, kita akan terhindar dari perbuatan mudarat. Jelaslah bahwa peran musyawarah dan mufakat di dalam keluarga sangat mustahak sehingga setiap anggota keluarga seyogianya memiliki karakter mulia itu.

Di dalam Tuhfat al-Nafis pun perihal mustahaknya musyawarah dan mufakat di dalam keluarga ditampilkan juga. Periannya, antara lain, tentang Opu Lima Bersaudara.

“Syahadan kata sahibul hikayat maka apabila suruhan itu sampai ke Siantan maka naiklah mengadap (sic!) opu yang lima beradik itu mempersembahkan surat itu kepada Opu Dahing Parani, kerana ia lebih tua daripada opu-opu yang lain itu. Maka apabila dibaca oleh Opu Dahing Parani akan surat Sultan Muhammad Zainul Din, maka ia pun musyawarahlah (huruf miring oleh HAM) adik-beradik serta punggawanya dan indera gurunya pada pekerjaan membantu Sultan Muhammad Zainul Din itu. Maka  sudah sama-sama satu muafakatnya akan pergi maka pada ketika saat yang baik berlangkahlah ia, lalu berlayar ke Matan dengan enam buah perahunya,” (Ahmad dan Haji dalam Matheson (Ed.) 1982, 63).

Kisah di dalam Tuhfat al-Nafis di atas bercerita tentang kebiasaan baik Opu Dahing Parani adik-beradik melakukan musyawarah untuk menghasilkan putusan yang penting. Dari musyawarah itulah, kemudian, akan diperoleh kata mufakat, yang menjadi putusan bersama. Kenyataan itu membuktikan bahwa musyawarah dan mufakat di antara anggota keluarga menjadi adat dan kebiasaan yang dipandang baik di dalam budaya kita dan menjadi bagian dari karakter bangsa. Karena bernilai mulia dan terpuji, semestinya adat bermusyawarah dan bermufakat itu tetap dipelihara dan diamalkan di dalam hidup ini, khususnya di dalam keluarga, sama ada kecil ataupun besar.

Amanat yang disiratkan oleh nukilan karya-karya di atas tiada lain: musyawarah dan mufakat merupakan karakter utama lagi mulia. Oleh sebab itu, setiap manusia seyogianya dapat menerapkannya dalam kehidupan, lebih-lebih di dalam keluarga. Sangat tak elok kalau ada manusia yang hanya suka pada putusan sendiri, tak bertimbang rasa pada pikiran dan penanggungan orang lain. Lalu, dipaksakannyalah orang lain menyetujui putusannya dengan pelbagai nada dan gaya. Sesiapa pun yang menentangnya akan dihabisi dengan pelbagai helah dan cara.

“Dan, (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka; dan mereka menafkahkan sebahagian daripada rezeki yang Kami berikan kepada mereka,” (Q.S. Asy-Syuuraa, 38).

Ternyata, musyawarah dan mufakat merupakan karakter mulia yang bersumber dari ajaran Tuhan. Oleh sebab itu, memang tak eloklah berseorang diri membuat dan memaksakan putusan. Entahlah, kalau memang bersedia beradu kekuatan dan kekuasaan dengan Tuhan. Di dunia mungkin aman karena dilapisi pelbagai balutan kekuasan. Di akhirat apakah juga boleh tahan? Sama-samalah kita nantikan dan kita saksikan.***

Nasib Bahasa Melayu

0

SEMUA manusia beragama percaya kepada takdir. Takdir jugalah yang menentukan nasib bahasa Melayu dalam perjalanannya yang panjang sampai dengan keadaannya yang paling mutakhir. Perbincangan dan perdebatan tentang peran, kedudukan, dan fungsinya dalam perikehidupan kebangsaan Indonesia pun nyaris tak mengenal kata berakhir. Keadaan yang paling menyedihkan seolah-olah ada pihak-pihak tertentu yang mencoba untuk menolak takdir.

Bahasa Melayu yang telah pesat perkembangannya, dan mencapai puncaknya pada masa Kesultanan Riau-Lingga, semakin berkembang setelah Indonesia merdeka. Dalam pada itu, perannya sebagai pemerkokoh persatuan bangsa Indonesia semakin mengemuka pula. Dengan demikian, sangat bijaksana pernyataan Dr. H. Muhammad Hatta, Wakil Presiden I Republik Indonesia (RI) pada 1979 dan K.H. Abdurrahman Wahid, Presiden ke-4 RI, pada 29 April 2000 bahwa tanpa jasa Raja Ali Haji, Pahlawan Nasional RI dan Bapak Bahasa Indonesia, bangsa Indonesia belum tentu menjadi bangsa yang kokoh seperti sekarang ini (Malik, 2019).

Bahasa Melayu Kepulauan Riau atau Bahasa Melayu Tinggi memang sejak 28 Oktober 1928 disebut dengan nama politisnya, bahasa Indonesia, berdasarkan kesepakatan yang tertuang di dalam Sumpah Pemuda, hasil Kongres II Pemuda Indonesia di Jakarta. Setelah resmi digunakan sebagai bahasa perjuangan, bahasa Melayu (nama linguistisnya) atau bahasa Indonesia (nama politisnya) telah memberikan kontribusi nyatanya dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, hanya 17 tahun setelah diikrarkan.

Dalam perjalanan panjangnya, lembaga pengembang dan pembina bahasa yang dibentuk oleh  pemerintah sangat banyak melakukan pembakuan bahasa Indonesia. Sudah tentu pula produk pembakuan itu sangat membantu perkembangan bahasa Indonesia, termasuk ragam ilmiahnya. Di antara produk yang dihasilkan oleh lembaga bahasa itu adalah ejaan baku, pedoman pembentukan istilah, tata bahasa baku (sejak 1988), pedoman teknis penulisan karya ilmiah, kamus umum, kamus istilah pelbagai bidang ilmu, glosarium, dan lain-lain.

Khusus mengenai ejaan baku, ada pula kesepakatan di antara tiga negara yang menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional. Kesepakatan itu merupakan perkembangan yang sangat membanggakan dalam pemakaian bahasa Melayu atau bahasa Indonesia, khasnya ragam tulis baku sejak negara-negara yang menggunakan bahasa Melayu itu merdeka. Pada Sidang ke-30 Majelis Bahasa Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia, 4—6 Maret 1991 di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam, telah disepakati penggunaan ejaan baku bersama ketiga negara itu (Ali, (Ed.) 1997, 1147), yang sudah tentu pula diikuti oleh Singapura dan Thailand Selatan dalam penulisan bahasa Melayu. 

Kesepakatan itu memungkinkan penulisan bahasa Melayu di negara-negara itu menjadi seragam sehingga memudahkan pengguna bahasa Melayu atau bahasa Indonesia dalam membaca dan menulis dalam bahasa tersebut. Di Indonesia ejaan baku itu disebut Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan terakhir disebut Ejaan Bahasa Indonesia saja.  

Upaya serupa juga dilakukan oleh perguruan tinggi di seluruh tanah air dengan kuantitas dan kualitasnya yang beragam. Penelitian-penelitian ilmiah yang dilakukan oleh perguruan tinggi di Indonesia yang dimuat dalam laporan penelitian dan jurnal ilmiah sangat membantu perkembangan bahasa Indonesia ragam ilmiah. Berhubung dengan itu, dalam perkembangan selanjutnya Kemenristek Dikti (2014-2019), mendapat banyak kritik karena lebih memuliakan bahasa asing dalam penulisan ilmiah, khususnya artikel ilmiah.

Upaya para sarjana secara perorangan pun memberikan sumbangan yang positif. Para sarjana Indonesia telah menulis dan menerbitkan buku-buku ilmiah dan semi-ilmiah pelbagai bidang ilmu, kamus, tata bahasa, ensiklopedia, dan lain-lain juga ikut meningkatkan perkembangan bahasa Indonesia ragam ilmiah.

Peran media massa, cetak dan elektronik, yang berkembang begitu pesat juga sangat berarti dalam perkembangan bahasa Melayu atau bahasa Indonesia dengan pelbagai ragamnya. Media-media itu telah mengembangkan dan atau menyebarkan tulisan ilmiah, semi-ilmiah, dan ilmiah populer dalam pelbagai bidang yang menggunakan bahasa ragam bahasa tersebut. Bahasa yang digunakan oleh media massa itu lebih cepat diakses oleh masyarakat. 

Perkembangan bahasa Indonesia yang begitu pesat dan cenderung menggembirakan bukanlah tanpa catatan sama sekali. Dalam pembakuan istilah, misalnya, disebutkan ada tiga sumber pembentukan istilah bahasa Indonesia. Ketiga sumber itu adalah (1) kosakata bahasa Indonesia, (2) kosakata bahasa serumpun, dan   (3) kosakata bahasa asing (Ali, (Ed.) 1997, 1165-1166). Yang dimaksudkan kosakata bahasa Indonesia pada (1) adalah bahasa Melayu, sedangkan bahasa serumpun pada (2) adalah bahasa daerah.

Malangnya, dalam pelaksanaannya pengembangan istilah baku bahasa Indonesia dewasa ini cenderung lebih banyak diambil dari sumber bahasa daerah dan bahasa asing daripada bahasa Melayu itu sendiri. Sumber istilah dari bahasa daerah (bahasa serumpun) pula didominasi oleh bahasa daerah tertentu saja. Gejala itu menunjukkan kemiripan dengan pembinaan bahasa Indonesia pada masa Pemerintah Kolonial Jepang sebagaimana yang diamati oleh Mees (1957). 

Tak setakat istilah saja, bahkan, struktur kalimat bahasa Indonesia pun cenderung hendak dipaksakan untuk mengikuti struktur bahasa daerah. Upaya sistematis dan terencana itu terus saja berlangsung dari waktu ke waktu dalam perjalanan pengembangan dan pembinaan bahasa Indonesia.

Catatan lainnya juga sangat merisaukan. Gejala pengingkaran bahasa Indonesia adalah juga bahasa Melayu sangat ketara dalam Kebijakan Bahasa Nasional setakat ini. Dalam Politik Bahasa Nasional, bahasa Melayu dimasukkan ke kelompok bahasa daerah. Dalam pada itu, kendatipun tak “secara kasar” mendepak bahasa Melayu, Kebijakan Bahasa Nasional memandang bahasa Melayu sebagai bahasa tersendiri, di luar bahasa daerah (Alwi dan Sugono, (Eds.) 2003, xii) dan tentu pula di luar bahasa Indonesia. Dengan demikian, sesuai dengan kebijakan itu, Indonesia dianggap memiliki tiga kelompok bahasa: (1) bahasa Indonesia, yang menjadi bahasa nasional dan bahasa negara, (2) bahasa Melayu, dan (3) bahasa-bahasa daerah.

Praanggapan yang melatari perlakuan terhadap bahasa Melayu oleh Politik Bahasa Nasional itu adalah setelah menjadi bahasa Indonesia (yang padahal hanyalah nama politis belaka!), perkembangan bahasa Melayu tak akan sepesat perkembangan bahasa Indonesia. Dengan ungkapan yang lebih lunak, biasa disebut bahwa bahasa itu  mengalami perkembangan yang berbeda. 

Sabit di akalkah praanggapan itu? Sudah menjadi wataknya yang asli bahwa bahasa Melayu itu sangat dinamis sehingga mampu mencapai taraf bahasa internasional. Oleh sebab itu, bahasa Melayu akan tetap berkembang pesat sesuai dengan kemajuan zaman walaupun tak diubah namanya menjadi bahasa Indonesia, bahkan sangat mungkin jauh lebih berkembang sebagai bahasa modern jika tak “diangkat” sebagai bahasa Indonesia. Buktinya, perkembangan bahasa Melayu di Brunei Darussalam, Malaysia, dan Singapura tak kalah kuantitas dan kualitasnya dari bahasa Indonesia.

Lagi pula, kenyataan empirisnya setiap penutur bahasa Melayu ketika menulis, mereka menulis dalam bahasa Melayu. Dalam lingkup yang lebih luas, dalam hal ini masyarakat Indonesia, umumnya, tulisan mereka pasti dipahami sebagai bahasa Indonesia. Setiap penulis Melayu-Indonesia pasti menulis dalam bahasa Melayu baku, kecuali mereka menulis dalam bahasa asing. Sama halnya dengan tulisan Raja Ali Haji pada abad ke-19. Bedanya mungkin hanya pada gayanya saja.

Siapakah yang dapat membedakannya dengan bahasa Indonesia? Dengan demikian, bagi bangsa Indonesia yang penutur asli bahasa Melayu, tak ada bedanya antara bahasa Melayu dan bahasa Indonesia, khususnya ragam baku. Akan berbeda halnya memang jika yang dimaksudkan itu bahasa percakapan dalam komunikasi takresmi, yang dalam “bahasa Indonesia” pun—kalau itu dianggap bahasa Indonesia—sangat banyak ragamnya.

Pertanyaan terpentingnya adalah sekarang kita hendak menuju ke mana? Tidakkah kita menghargai pemikiran, perjuangan, dan jasa para pendahulu yang telah berjuang dan berkorban dalam mempersatukan bangsa yang besar ini? Lalu, matlamat politik kekinian itu adakah manfaatnya bagi kita sebagai bangsa? Seraya memperingati Hari Sumpah Pemuda dan Bulan Bahasa-Sastra 2020, pertanyaan-pertanyaan itu patutlah kita jawab secara kesatria, dengan dada yang lapang dan pikiran yang jernih.***

Bulan Kedelapan Nabi Sulaiman

0

INILAH perintah Allah kepada manusia, khasnya umat Islam, Rasulullah SAW wajib diimani. Perkara itu memang telah ditetapkan oleh Allah kepada makhluk-Nya sebagai bakti yang tak boleh diingkari. Lagi pula, kebenaran Rasulullah memang terbukti. Baginda hadir membawa kebaikan kepada seluruh alam sehingga jiwa yang tercerahkan pasti menerimanya dengan sepenuh hati. 

Akhlak dan atau karakter Baginda yang agung dijamin oleh Allah. Alhasil, sesiapa pun yang menauladaninya akan menikmati kebahagian sejati yang didambakan oleh semua makhluk ciptaan Ilahi. Orang-orang yang memercayainya dengan sepenuh jiwa akan beroleh keselamatan, tak hanya di dunia, tetapi lebih-lebih di akhirat yang kekal selama-lamanya. 

Atas dasar itulah, karakter manusia yang berhubung dengan Rasulullah ditandai oleh adanya keimanan kepada Baginda. Amanat itu terkandung di dalam karya Raja Ali Haji rahimahullah. Di dalam Tuhfat al-Nafis, misalnya, dikisahkan perihal raja-raja nusantara yang mengimani Rasulullah.

“… Syahadan adalah Raja Opu La Maddusilat inilah awal Raja Bugis yang mula-mula masuk agama Islam yang berimankan Nabi kita Muhammad salla Allahu ‘alaihi wasallam,” (Ahmad & Haji dalam Matheson (Ed.) 1982, 24).

Nukilan di atas menjelaskan perihal keturunan Raja-Raja Bugis yang mula-mula memeluk agama Islam. Keislaman Raja Opu La Maddusilat ditandai oleh berimannya beliau kepada Rasulullah SAW, yang sudah tentu pula tak dapat dipisahkan dengan keimanan kepada Allah SWT. Secara tersirat, petikan Tuhfat al-Nafis di atas mengandungi pesan ini. 

Dalam kehidupan ini, bahkan kehidupan sesudah mati pun, untuk mendapatkan syafaat dari Baginda pada hari kiamat, perhubungan manusia dengan Rasulullah itu sangat mustahak. Dengan kata lain, terutama bagi umat Islam, perhubungan dengan Rasulullah wajib dipelihara. Untuk itu, manusia wajib mengimani Baginda Rasulullah. Tanpa iman, mustahil terjalin perhubungan yang mesra antara umat dan Rasul pilihan Allah.

Adakah keterangan yang dapat dirujuk untuk mengonsultasikan amanat yang termaktub di dalam Tuhfat al-Nafis itu? Perkara ini mustahak bangat karena berkaitan erat dengan persoalan hidup semasa hidup di dunia dan hidup setelah mati di dunia, yakni kehidupan yang abadi di akhirat.

“Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tak sesat dan tak pula salah. Dan, tiadalah yang diucapkannya itu (Alquran) menurut kemauan hawa nafsunya.  Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya),” (Q.S. An-Najm, 1-4).

Begitulah jaminan Allah akan kebenaran kenabian sekaligus kerasulan Muhammad SAW. Sebagai konsekuensinya, manusia wajib beriman kepada Baginda. Pasalnya, perintah beriman itu memang berasal dari Allah. Apatah lagi, kebenarannya dijamin oleh Allah. Sesiapa pun yang mengimani Allah, seyogianya juga mengimani Rasulullah. 

Lebih lanjut, perian tentang keimanan kepada Nabi Muhammad SAW juga terkandung di dalam Syair Sinar Gemala Mestika Alam (Haji dalam Malik & Junus (Eds.), 2000). Syair ini secara keseluruhan memang berkisah tentang peri kehidupan Rasulullah secara naratif yang sungguh memikat. Perkara yang sedang dipercakapkan ini, perihal mengimani Rasulullah, terdapat pada untaian syair bait 3-19. Berikut ini hanya disajikan kutipan bait 7 saja.

Bulan kedelapan Nabi Sulaiman
Datang dengan kesukaan iman
Memberi khabar yang keterangan
Buntingkan Nabi akhirul zaman

Bait syair di atas merupakan bagian dari kisah yang menceritakan peristiwa ketika Rasulullah masih di dalam kandungan ibunda Baginda. Dalam bulan-bulan kehamilan Baginda itu, Ibunda Nabi terus didatangi arwah para nabi terdahulu. Bait syair di atas bercerita tentang kedatangan Nabi Sulaiman a.s. 

Tak hanya datang, tetapi Nabi Sulaiman pun membuktikan bahwa beliau sendiri juga beriman kepada Rasulullah. Kesemuanya itu adalah bukti kebenaran yang kelak akan dibawa oleh Baginda Rasulullah untuk menjadi berkah bagi alam semesta dan manusia sejagat. Dan, Nabi Sulaiman memastikan bahwa tak ada nabi lagi setelah Rasulullah SAW (Nabi akhirul zaman).

Kisah yang diriwayatkan di dalam bait syair di atas menyiratkan amanat kepada manusia, khasnya umat Islam, agar beriman kepada Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, beriman kepada Rasulullah tergolong karakter mulia lagi terpuji. Keteguhan sifat dan sikap yang secara konsisten diterapkan dalam perilaku keimanan itulah yang harus dibuktikan oleh manusia, khususnya orang-orang beriman, jika hendak berjaya di dunia ini dan berbahagia di akhirat kelak. 

Pasalnya, beriman kepada Rasulullah bermakna mengikuti secara taat syariat yang dibawa oleh Baginda. Kesemuanya juga pada akhirnya untuk kebahagiaan di dunia dan di akhirat bagi sesiapa pun yang secara konsisten dan konsekuen menerapkannya dalam semua tindakan dan perbuatannya di kehidupan dunia ini. Soal akhiratnya, tinggal menikmati indahnya keimanan yang telah diterapkan dalam kehidupan yang serbafana, juga serbatipu daya, tetapi telah diantisipasi dengan baik. Penangkal terbaiknya, ya keimanan itu tadi.  

Lalu, apakah yang dimaksudkan dengan beriman? Rasulullah bersabda tentang iman di dalam salah satu hadits Baginda. Pelajaran dan hikmah tentang iman itu, antara lain, terdapat di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim.

Pada suatu hari kami (Umar bin Khattab r.a. dan para sahabat) duduk-duduk bersama Rasulullah SAW. Lalu, muncul di hadapan kami seseorang yang berpakaian putih. Rambutnya hitam sekali dan tak nampak tanda-tanda perjalanan. Tak seorang pun dari kami yang mengenalnya. Dia langsung duduk menghadap Rasulullah SAW. … Kemudian, dia bertanya lagi, kini beri tahu aku tentang iman.” Rasulullah SAW menjawab, “Beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada qadar baik dan buruknya….” (H.R. Muslim).

Sabda Rasulullah yang dikemukakan oleh Umar bin Khattab dan diriwayatkan oleh Imam Muslim di atas menegaskan bahwa yang tergolong beriman itu termasuk beriman kepada Rasulullah dan para rasul yang lain. Hadits itu juga menjadi pembenaran tentang ajaran bahwa manusia, khasnya umat Islam, wajib mengimani Rasulullah.

Bulan kedelapan kehamilan ruh Nabi Sulaiman datang berkunjung kepada Ibunda Rasulullah SAW. Itu bukanlah datang sebarang datang. Kedatangan beliau membawa kabar yang teramat gembira. Akan hadir seorang pemimpin besar yang diutus oleh Allah untuk menyelamatkan manusia yang bersedia diselamatkan dan seluruh alam semesta. Maka, amat beruntunglah sesiapa pun yang ikhlas menjadi pengikut Baginda.

Tak hanya sampai di situ. Kehadiran Nabi Sulaiman juga menampilkan sesuatu yang sangat patut untuk ditiru. Beliau menunjukkan karakter manusia yang bermutu. Walau kehadirannya sebagai pesuruh Allah jauh lebih dahulu, beliau menyatakan keimanannya kepada Rasulullah sebagai Nabi dan Rasul Penghulu. Orang beriman memang terlihat dari sifat, sikap, pikiran, perkataan, yang kesemuanya konsisten dengan perilaku.

Maka, Nabi Sulaiman memang patut dijadikan tauladan. Beliau datang membawa pesan sekaligus menampilkan contoh manusia yang memiliki karakter beriman. Pasalnya, contoh itu memang diperlukan bagi umat yang datang kemudian. 

Dengan ketauladanan itu, menjadi jelaslah bagi nurani yang terbuka untuk diambil sebagai pedoman. Karakter beriman kepada Rasulullah memang wajib diterapkan dalam kehidupan, sama ada dalam peribadatan atau pekerjaan keseharian yang semata-mata tugas keduniaan. Dengan begitulah, manusia akan selamat pada hari ini dan hari kemudian.  Nescaya, mereka akan terhindar dari segala godaan dan perilaku syaitan.***

Pulau Pengujan Abad 19

0
Pemandanga makam Keramat Panjang di Pulau Pengujan pada tahun 2006. “Adalah pulau [Pengujan] itu ada kubur keramat.Konon, daripada masa dahulu kala tempat raja2 bermain2 dan tempat orang berkaul dan bernazar…” tulis Raja Ali Haji dalam sepucuk suratnya kepada Von de Wall bertarikh 10 Maret 1869. (foto: aswandi syahri)

Dari  Artefak Hindu Hingga Pondok Raja Ali Haji

Dalam sebuah laporannya tentang Kepulauan Riau-Lingga pada tahun 1855, Letnan Angkatan Laut Belanda  G.F. De Bruyn Kopsantara lain mencatat adanya temuan sejumlah artefak yang berasal dari pendukung kebudayaan Hindu pada sejumlah tempat di daerah pesisir Teluk Bintan.

Pada pertengan abad ke-19 itu, di beberapa tempat seperti Keter, Keke, dan Pulau Pengujan di Teluk Bintan, ditemukan sejumlah artefak tinggalan arkeologis yang berasal dari kebudayaan Hindu, sepert: berbagai ornament dari emas murni yang halus buatannya, patung-patung dewa agama Hindu, gelang yang terbuat dari emas, piring, cangkir porselin, sejumlah jambangan, dan artefak lain.

Menurut Bruyn Kops, terdapat kemiripan antara artefak yang ditemukan pada beberapa tempat di Teluk Bintan tersebut dengan barang-barang sejenis yang ditemukan di pantai Coromandel, khususnya di sebelah Tenggara  pantai India di Teluk Benggala.

Terkait dengan informasi tentang artefak kebudayaan Hindu di Pulau Pengujan tersebut, dilaporkan pernah dilakukan sebuah penggalian liar oleh penduduk tempatan pada zaman pemerintahan Yang Dipertuan Muda Riau VIII, Raja Ali Marhum Kantor. Dari hasil penggalian liar itu berhasil diteemukan sisa-sisa tulang belulang, pinggan berhiaskan bunga, dan sejumlah mangkuk yang berhiaskan emas

Dari sejumlah tempat di sekitar Teluk Bintan itu, tampaknya Pulau Pengujan mempunyai kedudukan yang penting sejak sebelum kerajaan kerajaan Johor berpusat di Hulu Sungai Riau. Bahkan, setelah reorganisasi pemerintahan Keresidenaan Riouw pada 1870, di Pulau Pengujan pernah ditempatkan seorang Controleur Belanda untuk mengatur kawasan District Bintan.

Keramat Panjang

Salah satu situs sejarah yang sangat tekenal di Pulau Pengujan adalah sebuah makam tua yang kini dikenal sebagai ”keramat panjang.” Situs ini juga pernah dilaporkan oleh J.G. Schot dalam sebuah laporannya yang berjudul “Bijdrage tot Kennis van Oud Bintan” (Sumbangan Bagi Pengetahuan Tentang Kawasan Bintan Lama) pada akhir abad ke-19. Ia menyebutnya groote kramat  (keramat besar). Nama atau penyebutan ini mungkin erat kaitannya dengan ukuran panjang makam tersebut yang mencapai lebih kurang 13 meter. Namun bagaimanapun, kini masyarakat setempat menyebutnya Keramat Panjang.

Ketika mengunjungi Pulau Pengujan pada tahun 1882, Schot melaporkan bahwa makam keramat ini sangat dimuliakan.Dipagari dengan dinding bata, dan dijaga dengan baik. Pada kedua bagian tengah dinding tembok makam ini diberi anak tangga untuk masuk ke bagian dalam makam yang ditandai dengan dua buah batu nisan.

Lokasi makam ini agak ke arah Utara dari sisi tengah kawasan bagian Timur Pulau Pengujan. Disekelilingnya juga terdapat sebaran makam-makam lain dengan ukuran lebih kecil dan usianya lebih muda. Menurut Schot, makam-makam kecil yang tersebar di sekitarnya adalah makam orang-orang yang dulu pernah tinggal di sekitar makam keramat tersebut.

Sejak dahulu, makam keramat di Pulau Pengujan telah menjadi tempat ziarah yang sangat terkenal: tempat orang-orang berkaul dan tempat raja-raja Riau membayar nazar, sebagaimana djelaskan oleh Raja Ali Haji dalam sebuah penjelasannya tentang Pulau Pengujan yang dilampirlan dalam surat kepada Von de Wall bertarik 10 Maret 1869: “Adalah pulau [Pengujan] itu ada kubur keramat.Konon, daripada masa dahulu kala tempat raja2 bermain2 dan tempat orang berkaul dan bernazar daripada selamat [dari] bala[k].”

Dalam sepucuk surat kepada Von de Wall yang bertrikh 11 Juni 1872,  Raja Ali Haji juga menjelaskan adanya tradisi ziarah ke makam keramat di Pulau Pengujan pada setiap Hari Raya Idul Adha. Ada kalanya juga, orang berziarah ke tempat ini dalam rangka membayar nazar dengan cara mendirikankan panji-panji tiang bendera,. Raja Ali Haji juga pernah melakukannya. Bahkan hingga masa kini, tradisi bernazar dengan memasang panji-panji atau bendera warna putih masih dilakukan.

Sejauh ini, belum ada informasi akurat tentang siapa yang dimakamkan di Keramat Panjang Pulau Pengujan. Bahkan penduduk yang ditemui J.G. Schot ketika mengunjungi pulau itu pada tahun 1883, tidak mengetahui dengan pasti asal-muasal makam tersebut.

Namun demikian, menurut Schot,  ada satu cerita yang amat popular tentang makam ini: “Makam ini dipercayai sebagai kuburan masal pahlawan-pahlawan Melaka [yang gugur] tatkala menentang penyerangan Portugis ke [Pulau] Bintan, basis kekuatan kerajaan Melayu setelah Melaka dikalahkan. Menurut Riwayat, dalam perang itu sebuah perahu perang Melayu terbakar, di dalamnya ditemukan sejumlah pahlawan yang telah gugur, hanyut ke pantai Pulau Pengujan. Perahu dan jenazah-jenazah yang tidak dikenal lagi itu telah dikubur secara bersama-sama di pantai pulau itu. [kubur perahu dan pahlawan-pahlawan Melaka] Itulah kemudian terkenal dengan sebutan “Makam Panjang” .”

Sembilan Podok Raja Ali Haji

Selain Pulau Penyengat, maka Pulau Pengujan di Teluk Bintan adalah tempat yang penting dalam kehidupan Raja Ali Haji.

Sebagaimana dapat dibaca dalam sepucuk suratnya kepada Herman von de Wall, Raja Ali Haji tampaknya mulai membangun sembilan buah pondok berdinding kajang dibawah naungan pohon niur(kelapa), tempat beliau mengajar anak-anak mengaji dan juga tempat “mengasingkan diri” dan menulis di pulau itu. Dalam sepucuk surat kepada Von de Wall yang ditulis pada bulan Oktober 1862, Raja Ali Haji mengatakan:

Insya Allah taala nati kita balik dari Pengujan kita hendak ziarah jaga kepada sahabat kita, sebab kita ada sedikit lagi kerja kita di Pengujan menyudahkan pondok2 tempat anak2 yang mengaji2, melapangkan ia.Satu hari boleh bermain2 di situ serta boleh bercakap2kan pendapatannya.Sebab itu tempat pun suci lagi dapat angin berkeliling dan di bawah naung pokok niur. Adalah pondok yang kita buat itu sembilan buah, dindingnya kajang saja adanya.”

Sejak tahun 1862, Raja Ali Haji kerap berulang-alik mengayuh sampan antara Pulau Penyengat dan Pulau Pengujan. Selain mengajar anak mengaji, di Pulau Pengujan menulis sejumlah bahan, catatan, dan kata-kata yang dikumpulkannya untuk kamus Bahasa Belanda-Bahasa Melayu  yang sedang dikerjakan oleh Herman Von de Wall ketika itu.

Salah satu diantara sembilan podok yang dibangun Raja Ali Haji di Pulau Pengujan, sudah barang tentu juga berfungsi sebagai  kediamannya. Sebab, dari surat-suratnya kepada von de Wall, terlihat bahwa ada kalanya Raja Ali Haji tinggal dan beristirahat selama beberapa hari di Pulau Pengujan.

 Apalagi beliau juga berternak memelihara lembu di pulau itu. Tentang aktifitas Raja Ali Haji di Pulau Pengujan ini, juga disebutkan oleh Haji Ibrahim dalam sepucuk suratnya kepada von de Wall, yang bertarikh 30 Juni 1872: “…Maka adalah sahaya maklumkan, ini paduka Engku Haji mengantar sedikit daging lembu yang pelihara sendiri di Pengujan…”***

Perahu Kuno di Sungai Jakas Pulau Bintan (1883-1979)

0
Sejak dilaporkan oleh Controleur J.G. Schot pada tahun 1883, inilah salah satu foto pertama yang merekam artefak (keramik, potongan kayu, dan pasak perahu dari kayu sepang) yang ditemukan di perahu kuno Sungai Jakas di Pulau Bintan pada tahun 1979. Dirilis oleh surat kabar Straits Times, Singapura, pada bulan Mei 1979. (dokumentasi aswandi Syahri)

Jauh sebelum sebuah laporan viral yang ditulis Alice Wong berkenaan penemuan  perahu kuno (yang ketika itu diyakini sebagai jung dari zaman Dinasti Ming) dilansir oleh Sttraits Times, Singapura, pada tahun 1979, sesungguhnya keberadaan perahu kuno di Sungai Jakas, Pulau Bintan, telah pernah dilaporkan oleh Controleur Batam, J.G. Schot,  yang mengunjungi sejumlah kawasan di pedalaman Pulau Bintan pada tahun 1882.

Menurut Schot, di likasi sisa perahu (vaartuig) itu, ditemukan pasak besar dari kayu sepang (sapan houten) yang masih utuh, tidak rusak dimakan usia. Schot juga mencatat sebuah cerita pusaka orang Bintan yang erat kaitannya dengan sisa-sisa sebuah wangkang seorang bangsa Cina yang disebut Tok Sekoedai.

Selain itu, di Sungai Bere, sekitar 200 meter dari kaki gunung Bintan, Schot juga melaporkan penemuan dua buah pelatuk meriam tembaga yang dikaitkan juga dengan tokoh Tok Sekoedai yang terdampar bersama perahunya.

Cerita masyarakat setempat tentang Tok Sekoedai yang terdampar itu, sebagaimana dicarat oleh Schot, kurang lebih sebagai berikut: “Konon, putera Tok Sekoedai yang hilang ketika wangkang itu terdampar masih hidup. Namun demikian ia telah berubah menjadi seekor burung, dan terbanglah ia ke Tanah Siam, ke tempat bundanya, dan sedih hatinya bundanya mendengar kabar berita yang dibawanya dari seberang. Mendengar akan hal itu segera ia pergi mencari ayahandanya, dan terbang kembali ke Bintan, sambil mencari ke sana-kemari. Namun sia-sia”.

Menurut Schot, hingga tahun 1883, di Pulau Bintan masih terdengar sejenis burungyang oleh Orang Bintan dinamakan Tok Sekoedai, dan erat hubungannya dengan kisah perahu itu. Namun demikian, laporan Schot dan cerita pusaka orang Bintan tentang perahu itu kemudian terkubur waktu. Cukup lama. Setelah kemerdekaan, barulah cerita tentang perahu kuno ini kembali mendapat perhatian. Paling tidak, hingga tahun 1979,  telah dilakukan dua kali survei dan penelitian terhadap sisa-sisa perahu kuno ini oleh pemrintah Indonesia melalui pihak terkait. Dan penelitian tahun 1979 adalah penelitian yang terbesar, yang pernah dicatat.

Pertama, sebuah survei mula-mula sekali dilakukan oleh pemerintah daerah Kabupaten Kepulauan Riau. Bupati Kepulauan Riau ketika itu membentuk tim survei IDAKEB yang dipimpin oleh M.A. Effendi B.A sempena penelitian situs-situs sejarah di Pulau Bintan yang dilakukan pada tanggal 11 hingga tanggal 13 Juli 1968: salah satu fokusnyasurveinya adalah sisa-sisa perahu kuno di Sungai Jakas, Pulau Bintan.

Hasil kerja tim suvei IDAKEB tersebut menyimpulkan sisa-sisa perahu kuno itu sebagai sisa-sisa bahtera Bai Intan dari kerajaan Melayu (Tulang Bawang) yang kandas di Pulau Bintan dalam perjalannya ke negeri Cina. Sama seperti, J.G. Schot, tim ini juga melaporkan masih terdapat sisa pasak kayu yang terbuat dari kayu sepang.

Penelitian kedua, yang menjadi penelitian terpenting dan melibatkan pakar arkeologi, dilakukan lebih kurang sebelas tahun kemudian (pada bulan Mei 1979). Tepatnya, penelitian ini dilakukan setelah surat kabar Straits Times di Singapura merilis sebuah laporan berjudul “Jung dating back to  ming period found” pada bulan Mei 1979. Laporan yang ditulis oleh wartawan Alice Wong berdasarkan wawancara dengan seorang pedagang antik bernama Lee Swee Hoe yang mengaku pernah mengunjungi sisa-sisa perahu ini. Laporan tersebut sempat viral dan  mengehebohkan jagad arkeologi dan sejarah maritim di Singapura dan Indonesia. Salah satu sebabnya adalah karena adanya pernyataan Lee Swee Hoe  yang mengatakan bahwa “…artefak (pecahan keramik dan potongan kayu) dan sisa-sisa perahu kuno di Pulau Bintan itu adalah bagian dari salah satu perahu armada Zhenghe (Cheng Ho)pada zaman Dinasti Ming, dan perahu itu mengandungi harta karun….”

Laporan Alice Wong yang dirilis oleh surat kabar Straits Times ini kemudian menarik perhatianPierre-YvesManguin, seorang  arkeolog berkebangsaan Prancis darilembaga riset Ecole Francaise d’Extreme-Orient (EFEO) yang berpangkalan di Singapura. Singkatnya, setelah mendapat informasi lebih jauh tentang lokasi dan keberadaan sisa perahu kuno tersubut, Manguin menghubungi Pusat Penelitian Arkeologi Nasional(Puslit ARKENAS)  di Jakarta untuk bekerjasama melakukan penelitian  arkeologi.

Manguin dan timPuslit ARKENASuntuk pertama kalinya berhasil menyingkap endapan lumpur dan genangan air laut yang menutupi sisa-siasa perahu di  Sungai Jakar ini melalui penggalian arkeolgis (ekskavasi) antara tanggal 21 Deseber 1981 hingga  9 Januari 1982. Hasilnya, tim gabungan ini antara lain berhasil mengungkap bagian-bagian perahu yang terdiri dari: lunas, papan, sekat (bulkhead), alas tiang (mast step) dan tiang-tiangnya. Berdasarkan temuan-temuan dalam ekskavasi, dapat dipastikan bahwa haluan perahu menghadap kenarah Tenggara dan buritan kearah Barat Laut.

Ekskavasi yang dilakukan tim gabungan ini juga menemukan sejumlah pecahan tembikar dan keramik di dalam badan perahu; berupa tiga pecahan tembikar kasar dan satu pecahan keramik Cina. Pecahan keramik warna biru dan putih tersebut berasal dari pertengahan abad XVII (zaman Ming Akhir). Selain itu, tim ini juga melakukan analisis Carbon 14@ Carbon Dating terhadap contoh kayu sisa perahu pada Laboratoire du Radiocarbone,  Centre des Faibles Radioactivites (CEA/CNRS), Prancis.

Hasil penelitian dan ekskavasi tim gabungan Indonesia-Pranci ini menjelaskan bahwasanya situs perahu karam di Bukit Jakas bukanlah Jung Ming atau salah satu perahu armada Cheng Ho sebagaimana diyakini sebelumnya.

Mengapa? Karena, teknik sambungan papan, lubang tiang pengapit, dan model lubang mata kakap pada perahu tersebut adalah khas perahu Melayu pada masa lalu. Apalagi, papan dan pasak yang digunakan pada perahu tersebut adalah kayu sepang yang banyak terdapat di Kawasan Pulau Tujuh, Pulau Lingga.Dan kayu sepang tersebut tidak dikenal di Negeri Cina.

Kini, sisa-sisa perahu kuno Melayu ini terletak kira-kira 2 Km dari muara sungai Bintan, di ujung Teluk Bintan. Atau, pada titik kordinat 10 4’ Lintang Utara dan 1040 28’ 40’ Bujur Timur:tepatnya di sisi kiri sebuah anak Sungai Bintan, bernama  Sungai Jakas yang bermuara di sisi kanan Sungai Bintan, di kaki Bukit Bintan Besar yang disebut juga Bukit Jakas: nama bukit dan nama anak Sungai bintan itulah yang dilekatkan pada nama situs perahu kuno itu.***

Badang Perkasa

0
Makam pahlawan Melayu, Badang di Pulau Buru, Karimun (Foto: Ahmad Masaul Khoiri/detikcom)
Makam pahlawan Melayu, Badang di Pulau Buru, Karimun (Foto: Ahmad Masaul Khoiri/detikcom)

DATUK Badang, begitulah sapaan takzim orang kepadanya. Kala masa kanak-kanak dan remajanya dia disapa Badang saja sampai nama itu melegenda. Di dalam angan masyarakat dia tak pernah tua, tetap muda selamanya. Yang pasti, dia menjadi salah satu tokoh legendaris dalam sejarah Melayu sehingga terkenal di mana-mana.

Raja Ali Haji rahimahullah (RAH) dalam karya beliau Tuhfat al-Nafis (TAN) menyebutkan bahwa Badang hidup pada masa Kerajaan Melayu berpusat di Temasik (Singapura). Rajanya kala itu bernama Raja Muda bergelar Seri Ratna Wikrama. Raja ini adalah cucu Raja Seri Tri Buana yaitu raja pertama Melayu yang turun dari Bukit Siguntang ke Bintan, yang menjadi raja di Bintan menggantikan ibu angkat kemudian menjadi mertuanya, seorang raja perempuan, Wan Seri Beni namanya. 

Setelah membangun Bintan, Seri Tri Buana memindahkan pusat pemerintahan ke Temasik. Beliau pulalah yang mengubah nama Temasik menjadi Singapura karena melihat “singa jadi-jadian” (singa pura-pura, … tak tahunya sekarang Singapura menjadi singa sungguhan di Asia Tenggara!). Peristiwa itu terjadi ketika beliau membuka hutan Temasik untuk dijadikan pusat pemerintahan. Karena semasa dengan Raja Seri Ratna Wikrama berarti Badang hidup sekitar abad ke-13. Anehnya, Badang jauh lebih masyhur daripada Sang Raja.

Beberapa hari ke belakang ini perasaan Badang mengharu biru: kesal, marah, sedih, dan heran berbaur menjadi satu. Betapa tidak? Tak seperti hari-hari sebelumnya, pemuda nelayan pantai itu mendapati lukahnya kosong, tak berisi ikan walau setengah ekor pun. Anehnya, sisik-sisik ikan ada di dalam lukahnya, sedangkan ikannya raib entah ke mana. Itu gejala yang tak biasa karena tak ada ikan yang sudah masuk ke lukah dapat lepas kembali. Terlintaslah di benaknya bahwa ada orang yang mencuri ikan-ikannya.

Dalam deraan perasaan yang berbaur itu, keesokan harinya dia mengintai di sebalik pohon besar, tak jauh dari lukahnya. Tak perlu menanti terlalu lama. Menjelang tengah hari dia dapat menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri ada makhluk yang mendekati lukahnya seraya melahap isinya. 

Dalam terpaan marah yang memuncak, tanpa berpikir panjang dan dengan ketangkasan khas nelayan, Badang menerkam si pencuri yang sedang asyik melahap ikan-ikan itu dari belakang. Tangkapannya tepat dan dipeluknya erat-erat makhluk itu. Ternyata, pencuri itu hantu laut. 

Pelukan keras Badang menyebabkan si pencuri nyaris tak dapat bernapas. Dalam perjuangan hidup dan mati, si hantu meminta belas kasihan agar dia dilepaskan dari pelukan Si Badang. Dia berjanji akan meluluskan apa pun permintaan si pemilik lukah itu.

Tawaran si hantu diterima dengan baik oleh Badang. Dia minta agar dirinya dijadikan orang kederat (kuat, perkasa). Si hantu heran dan bertanya, ”Mengapa tak minta uang atau harta?” Badang menjawab bahwa sudah lama dia bercita-cita membantu raja dan kerajaannya membuka hutan untuk membangun Negeri Singapura. Jika memiliki kederat, tentulah raja tak akan menolaknya untuk berbakti. Kata yang empunya cerita, fisik Si Badang ini kurus sehingga tak akan meyakinkan kalau mengajukan diri untuk membaktikan diri membangun negeri kala itu. 

“Engkau boleh menjadi orang kederat dengan dua syarat,” kata si hantu. “Pertama, engkau harus makan muntah aku. Syarat kedua, engkau tak boleh menikah. Jika kelak engkau menikah, kekederatanmu akan lenyap.”

“Apa pun persyaratannya akan kutaati asal dapat membaktikan diri kepada negeriku,” jawab Si Badang mantap. Si hantu pun muntahlah, lalu muntahan itu dimakan Si Badang tanpa rasa jijik sedikit pun. Pasalnya, semangatnya untuk mengabdikan diri kepada negeri dan bangsanya mengatasi semua hal yang dapat merintanginya. Dalam keadaan si hantu masih dalam pelukan eratnya, Badang mencoba kekuatannya untuk menumbangkan pohon besar tempat dia bersembunyi tadi. Betul, dengan hanya sentuhan ujung jari telunjuk, pohon itu pun tumbanglah. 

Karena janjinya sudah ditepati, si hantu dilepaskan dan raiblah dia dalam sekejap itu juga konon. RAH dalam TAN bertutur, “… dan masa kerajaannyalah mendapat seorang daripada rakyatnya yang gagah perkasa namanya Si Badang yang boleh mencabut kayu-kayu dua-tiga pemeluk, sebab ia makan muntah hantu konon.”

Tak terperikan betapa suka-citanya Badang karena perubahan dalam dirinya itu. Rupanya, hasrat untuk berubah ke arah yang lebih baik ada pada semua orang, pada semua masa! Itu yang perlu dicamkan bagi sesiapa pun yang hendak mengomentari masyarakat mana pun di dunia ini. Dalam hal ini, masyarakat tak pernah bahagia berada dalam keadaan statis, apatah lagi terpuruk.

Berbekal kegembiraan yang tak bertara, pulanglah Badang ke rumahnya. Dalam perjalanan pulang itu, disambilkannya menumbangi dan mencabuti pohon-pohon besar yang masih tumbuh liar di kampungnya. Menjelang sampai ke rumahnya, hampir separuh kampung sudah terang-benderang dan siap untuk dibangun rumah-rumah penduduk, kawasan pertanian, dan lain-lain. Gemparlah berita ke sekotah kampung bahwa Si Badang kini sudah berubah menjadi manusia kederat, memiliki kekuatan yang luar biasa. 

Kehebatan Badang akhirnya sampai juga ke Istana Singapura. Lalu, melalui utusannya Sang Raja mengundang pemuda itu menghadapnya ke istana. Sesampainya di istana, kekederatan Badang diuji dan, tentu, dia lulus dalam ujian itu. Bukan main gembiranya Raja Seri Ratna Wikrama mendapati rakyatnya yang perkasa. Kalau dilihat bentuk fisiknya sangat tak meyakinkan, tetapi dengan kuasa Tuhan, Si Badang memiliki kekuatan dalaman yang sungguh luar biasa. 

Si Badang pun lebih bahagia lagi karena dengan demikian, cita-citanya untuk berbakti kepada kerajaan dan rajanya menjadi kenyataan. Bersyukurlah dia kepada Tuhan dan tetap teguh memegang janjinya. Memang, “Pantang Melayu mungkir janji!” Bukankah Kerajaan Melayu itu didirikan dengan janji atau sumpah setia? Sesiapa pun yang mungkir janji di kawasan Melayu, cepat atau lambat, akan buruk padahnya.

Adalah Datuk Demang Lebar Daun, yang mewakili rakyat, dan Sang Sapurba atau setelah dirajakan bergelar Seri Tri Buana mengangkat sumpah setia. “Rakyat tak akan mendurhaka kepada raja, tetapi raja pun tak boleh mempermalukan rakyat!” Bukankah Singapura ditimpa bala dilanggar todak—sesudah masa Badang—ketika rajanya Paduka Seri Maharaja ingkar janji? Singapura di bawah Raja Iskandar Syah dapat dikalahkan Mojopahit juga karena penguasanya ingkar janji. Tragedi berdarah yang paling menggemparkan di alam Melayu yaitu Sultan Mahmud mangkat dijulang, dibunuh oleh Megat Seri Rama, juga karena rajanya mungkir janji. Dan, tidakkah Kerajaan Melaka yang amat masyhur dapat dijajah oleh Portugis juga karena penguasanya ingkar janji?

Itulah keistimewaan Datuk Badang. Dari karirnya sebagai pegawai rendah sampai menduduki puncak karir sebagai Panglima Hulubalang yang mengurusi dan mengawasi pembangunan Kerajaan Bintan-Temasik dan daerah takluknya, dia tetap setia dengan janjinya: mengabdikan diri untuk negeri dan tak menikah sampai mati. Setelah meninggal, dengan penuh penghormatan, termasuk kehormatan dari Raja India yang mengirimkan batu nisan khas, dia dikebumikan di kampung halamannya Pulau Buru, di Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau sekarang. 

Versi lisan dari mulut ke mulut masyarakat tempatan menyebutkan bahwa Buru itu adalah pulau hanyut. Artinya, dahulu pulau itu bagian dari daratan Temasik atau Johor. Hal itu dihubungkan dengan jarak antara Buru dan Temasik atau Johor sangat dekat, “Hanya selemparan batu,” kata orang tua-tua. Apatah lagi, kalau yang melemparkan batu itu Si Badang. 

Versi lain menyebutkan Badang sangat mencintai tanah kelahirannya sehingga kalau meninggal beliau minta dikebumikan di Buru. Yang jelas, Buru pada masa Kerajaan Melayu dulu sampai dengan Kerajaan Riau-Johor menjadi tempat transit yang penting bagi raja dan para pembesar dalam perjalanan dari Daik dan Bintan ke Temasik dan Johor pulang-pergi. Apa pun versinya, kawasan persebaran cicit-piut Datuk Badang itu memang sangat luas meliputi Kepulauan Riau, Riau, Semenanjung Malaysia, Singapura, sampailah ke negeri-negeri yang dekat dan jauh.

Masyarakat berharap, ada ikan yang masuk ke lukah “Azam Pembangunan Budaya” di kampung Datuk Badang.  Sampai kini azam masih terpendam, sedangkan harapan belum juga kesampaian. Padahal, kalaulah Datuk Badang dimakamkan di Singapura atau di Johor, siang-malam kuburnya akan harum dan terang-benderang sehingga takkan pernah sepi dari peziarah yang mengaguminya sebagai pejuang. Namun, itulah pilihan Sang Setia yang rela menderita demi keharuman tanah kelahiran. Sikap kesatria sejati sering dicuaikan orang sekarang. Suatu pilihan yang memang menuntut pengorbanan!*** 

Kota Kijang dan Penemuan Bijih Bauksit Tahun 1920

0
Pemandangan kawasan Sungai Kolak, di Kota Kijang, Pulau Bintan tahun 1937. Tampak menara setinggi 60 meter yang menyangga bentangan 360 meter kabel baja yang melintasi Selat Kijang. Wahana ini berfungsi sebagai lintasan kabelbaan atau lori pengangkut bijih bauksit dari Pulau Angkut dan Pulau Koyan ke Sungai Kolak. (foto: dok. aswandi syahri)

INDIKASIpertama tentang adanya kandungan bijih bauksit di Pulau Bintan diperoleh dari serangkaian penelitian tentang potensi bijih timah dan bahan tambang lainnya di Kepulauan Riau yang dilakukan oleh Dienst Mijnwezwn (Kantor Urusan Pertambangan Hindia Belanda yang berkedudukan di Bogor) di wilayah Kepulauan Riau yang dimulai sekitar tahun 1920.

Hasil penelitian sejak tahun 1920 itu dipublikasi pada tahun 1925 dalam Verslagen en Mededelingen betreffendeIndische delfstoffen en hare toepassingen(Laporan dan Pemberitahuan Terkait Bahan Tambang di Hindia Belanda dan Kegunaannya): kesimpulannya, penelitian lebih lanjut tentang potensi bijih bauksit di Pulau Bintan dihentikan, karena kualitas sampel bijih bauksit ditemukan berkadar rendah.

Akan tetapi dalam waktu yang bersamaan, penemuan cadangan bijih bauksit di Pulau Bintan itu telah mendapat perhatian serius pula dari oleh dua perusahaan tambang swasta, N.V. Oost-Borneo Maatschappij dan N.V. Stikstof Syndicaat yang berbasis di Bandung. Dengan biaya patungan dari dua perusahaan ini, telah dilakukan pula serangkaian penlitian lebih lanjut di Pulau Bintan dibawah pimpinan Biro Teknik  M. Schröter sejak tahun 1924.

Hasil penelitian tersebut menyimpulkan bahwa dengan metode pencucian bijih bauksit,  maka kadar kualitas bijih bauksit yang ditemukan di daerah Kijang, Pulau Bintan dapat ditingkatkan. Temuan baru yang mengembirakan telah membuka jalan kepada N.V. Oost-Borneo Maatschappijmengajukan izin eksploitasi penambangan bauksit di Pulau Bintan ke pemerintah tinggi di Den-Haag dan mebentuk perusahaan Bauxiet Syndicaat(Sindikat Bauksit) yang melibatkan N. V Billiton Maatschappij dan NV Mijnbouw Maatschappij Aequator pada tahun 1925.

Penemuan cara mengolah cadangan bijih bauksit di Kijang, Pulau Bintan pada 1924, dan pengeksploitasiannya sejak 1935 telah melambungkan nama Pulau Bintan, dan daerah Kijang sebagai penghasil bauksit utama di dunia pada dekade ketiga abad ke-20. Dan, berbeda dengan penambangan bauksit pada masa kini yang menimbulkan banyak masalah, maka penemuan dan penambangan bauksit di Kijang, Pulau Bintan pada masa lalu telah melahirkan sebuah kota baru di Pulau Bintan yang sangat terkenal  pada zamannya: Kota Kijang.

Demikianlah, dalam perjalanan sejarahnya, Kota Kijang tercatat sebagai salah kota penting dalam sejarah pertambangan di Indonesia. Di kota inilah tambang bouksit pertama dan tertua di Indonesia dibuka dan dikelolaN.V. Nederlandsch-Indische Bauxiet Exploitatie  Maatschappij – Maskapai Eksploitasi Bauksit Hindia Belanda (N.V. NIBEM) yang ditubuhkan pada bulan September 1935, setelah sebelumnya melikuidasi  Bauxiet Syndicaatpada tahun 1932.

***

Cadangan bauksit di Kijang, Pulau Bintan, untuk pertamakali ditemukan di daerah Sungai Kolak, yang lokasinya tepat berada di pusat Kota Kijang sekarang. Penemuan cadangan bijihbauksit ini adalah peristiwa penting, sekaligus menjadi tonggak awal perjalanan sejarah Kota Kijang dan sejarah dunia pertambangan bauksit di Indonesia. Karena sejak saat itu, daerah di belahan timur Pulau Bintan ini mulai berkembang menjadi sebuah “kota baru” dan dikenal dunia.

Untuk mendukung kegiatan eksploitasi peanambangan bauksit itu, N.V. NIBEM membangun sejumlah infrastruktur pendukung, instalasi pertambangan, pelabuhan, bangunan rumah baru, serta sejumlah pesanggrahan (loogergebouw) yang sisa-sisanya hingga kini masih berdiri kokoh menghiasi Kota Kijang.

Antara tahun 1933 hingga tahun 1935, N.V. NIBEM sibuk membangun sejumlah instalasi pendukung kegiatan pertambangan bauksit dan fasilitas lainnya secara besar-besaran. Pada tahun-tahun awal beroperasinya, di pusat instalasi pertambangan di daerah Sungai Kolak, mulai ditempatkan pula beberapa orang tenaga administrator yang terdiri dari:  1 orang machinist, 1 orang ahli kelistrikan, 1 orang ahli tanah, dan 1 orang pengawas (opzichter).

Setelah eksploitasi tambang bauksit di Pulau Bintan dimulai untuk pertama kalinya pada tahun 1935, sejumlah orang Cina Hakka dari daerah Kwangtung yang sebelumnya bekerja pada tambang timah di Pulau Bangka dan Belitung, mulai  berdatangan. Perlahan-lahan, Kijang mulai tumbuh sebagai sebuah kota seiring dengan aktivitas penambangan bauksit.

Diantara instalasi dan fasilitas penting yang pertama dibangun N.V. NIBEM adalah: Kerekan dan tangki batu bara; instalasi oven pengeringbijih bauksit (droogoven); tempat penampungan bijih bauksit (opslagplatts) berkapasitas 10.000 ton yang dilengkapi dengan beberapa buah transportband pengangkut bijih bauksit di Selat Kijangyang berkapasitas 250 ton per jam untuk setiap transportband; instalasi pencucucian bijih bauksit; sentral pembangkit listrik, dan pelabuhan ekspor di Selat Kijang.

Ketika cadangan bijih bauksit dengan kualitas yang lebih baik ditemukan dalam jumlah yang banyak pada dua buah pulau yang tepat berada di seberangSungai Kolak (Pulau Angkut dan Pulau Kojan atau Koyan), dibangun pula instalasi kabelbaanatauloriatau“gerobak gantung”, yang pembangunannya dilakukan oleh sebuah perusahaan Jerman (Duitsche firma).

Instalasi kabelbaan ataulori ini ditopang oleh dua buah menara tinggi untuk menyangga kawat baja kabelbaan yang membentang di atas Selat Kijang. Kabelbaand inilah yang membawa bijih bauksit dari Pulau Angkut dan Pulau Koyan ke Sungai Kolak. Instalasi kabelbaanataulori ini sangat terkenal, dan menjadi daya tarik sekaligus  “landmark” kota Kijang pada zamannya.

Setelah beroperasi selama tujuh tahun, aktivitas N.V. NIBEM sempat beralih ke tangan pemerintah pendudukan Jepang ketika menguasai Kepulauan Riau yang mereka rubah namanya menjadiBintan  To,  dan berada dibawah kendali Syonan To atau Singapura sejak tahun 1942 hingga tahun 1945.

Aktivitas pertambangan secara perlahan dimulai kembali oleh N.V. NIBEM pada tahun 1946. Ketika ditinggalkan oleh pemerintah pendudukan Jepang, di Sungai Kolak, Kijang, terdapat 150.000 ton bauksit yang siap untuk diekspor.

N.V. NIBEM mengelola tambang bauksit Kijang hingga tahun 1959. Setelah itu tambang bauksit ini diambil alih pemerintah Republik Indonesia seiring dengan nasionalisasi semua perusahaan asing, terutama milik Belanda di bekas daerah Hindia Belanda. Terakhir, dan sebelum dihentikan untuk selamanya, tambang bauksit di Kota Kijang ini dikelola oleh P.T. Aneka Tambang unit Pertambangan Bauksit Kijang.***

Istiadat Mengarak Mempelai Raja Berusung Dalam Istiadat Istana Riau-Lingga

0
Hasil rekonstruksi pawai mengarak mempelai raja bersar berusung berdasarkan manuskrip Haza al-Kitab al-Qanun al-‘Urus al-Daulat al-Karim yang ditampilkan dalam pawai kebesaran adat Lembaga Adat Melayu (LAM) Provinsi Kepulauan Riau sempena Festival Tamadun Alam Melayu di Tanjungpinang, September 2013. (foto: aswandi syahri)

Manuskrip Tuhafat al-Nafis karya Raja Ali Haji yang ditemukan di Istana Terengganu, Malaysia, pada tahun 1986, dan kemudian dikenal luas dalam dunia manuskrip Melayu sebagai ‘Tuhfat al-Nafis naskah Terengganu’, adalah sebuah manuskrip Tuhfatal-Nafis yang istimewa dalam beberapa hal dibanding manuskrip Tuhfat al-Nafis lainnya.

            Keistimewaan itu antara lain terletak pada sejumlah lampiran yang dicantumkan pada bagian akhir manuskrip tersebut, dan manjadi bagian yang tidak terlepaskan dari narasi sejarah yang terkandung dalam teks utama Tuhfat al-Nafisyang selesai disalin di Pulau Karimun itu.

            Salah satu lampiran yang menjadikan manuskrip Tuhfat al-Nafis dari Terengganu tersebut ‘istimewa’ adalah dua muka surat pada bagian akhir manuskrip tersebut yang berisikan aturan atau istiadat Mengarak Mempelai Raja Berusung yang telah menjadi bagin dari tradisi kebesaran  adat istiadat istana Riau-Lingga-Johor-dan Pahang sejak zaman Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah di Hulu Riau (Riau Lama).

            Istiadat mengarak mempelai raja berusung yang menjadi salah satu kebesaran dalam prosesi adat-istidat pernikahan diraja di istana Riau-Lingga pada masa lalu tersebut telah lama punah. Di istana Riau-Lingga, untuk terakhir kalinya istiadat Mengarak Mempelai Raja Berusung ini diselenggarakan pada tahun 1885 ketika Raja Abdulrahman ibni Yamtuan Muda Raja Muhammad Yusuf menikah di Pulau Penyengat, dan kemudian ditabalkan sebagai Sultan Abdulrahman Muazamsyah pada tahun itu juga. Beberapa lembar foto sejarah kerajaan Riau-Lingga, yang menjadi bagian dari koleksi foto warisan KITLV, Leiden, dan kini berada simpanan Asia Library, Universiteit Leiden,  merekam jalannya prosesi adat tersebut.

            Aturan istiadat Mengarak Mempelai Raja Berusung yang dilampirkan pada bagian akhir manuskrip Tuhafat al-Nafis dari Terengganu ini bersumber dari sebuah manuskrip yang berjudul Haza al-Kitab al-Qanun al-‘Urus al-Daulat al-Karim: sebuah kitab yang menjadi pegangan dalam menjalankan istiadat diraja di istana Riau-Lingga-Johor-dan Pahang yang disusun pada zaman Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah yang memerintah di Negeri Riau (Riau Lama di Hulu Riau) sejak tahun 1722.

            Seperti dinyatakan pada bagian pembuka dalam menuskrip tersebut,al-Kitab al-Qanun al-‘Urus al-Daulat al-Karimadalah petunjuk dan auturan dalam istiadat pengantin raja yang besar lengkap dengan semberapnya(alat kelengkapan dalam istiadatnya) yang didalamnya antara lainya dinyatakan bahwa “Inilah kitab pada menyatakan ‘adat-istiadat bagi pengantin raja yang besar, yaitu peri mengaturkan semberabnya, yang dijalankan oleh raja yang dahulu kala adanya intiha…”

            Sebagai sebuah manuskrip salinan atas salinan yang bersumber dari Kitab al-Qanun al-‘Urus al-Daulat al-Karim, manuskrip aturan Mengarak Mempelai Raja Berusung yang dilampirkan di dalamTuhfat al-Nafis dari Terengganu ini pada mulanya disalin oleh Yamtuan Muda Riau Raja Jakfar berdasarkan suratan (salinan) Haji Kinuh bin Nakhoda Salamah yang menuliskan berdasarkan informasi dari ayahnya.

            Salinan yang dibuat oleh Yamtuan Muda Riau Raja Jakfar ini kemudian disalin ulang oleh Yamtuan Muda Riau Raja Ali Marhum Kantor ketika beliau berada di Daik-Lingga. Selanjutnya, salinan yang dibuat oleh Yamtuan Muda Riau Raja Ali Marhum Kantor ini  disalin ulang di Pulau Penyengat pada 15 Desember tahun 1886.

Salinan versi tahun 1886 itulah yang kemudian disalin sekali lagi dan dimuat oleh penyalin Tuhfat al-Nafis dari Terengganu, yakni Haji Abdulrahman ibni Encik Long cicit Tuan Lebai Sambas al-din, dan kemudian dilampikan dalam manuskrip Tuhfat al-Nafis dari Terengganu yang selesai disuratnya pada sannah 1318 Hijriah bersamaan dengan tahun 1900 Miladiah.

Dalam salinan manuskrip istiadat Mengarak Mempelai Raja Berusung tersebut, terdapat dua pasal. Pasal pertama berisikan aturan mengarak mempelai raja berusung lengkap dengan semberap (kelengkapan) istiadat dan ururan iring-iringan dalam pawai mengarak mepelai raja berusung di istina Riau-Lingga di Pulau Penyengat. Adapun pasal kedua, berisikan penjelasan tentang penggunaan tombak yang sebatang dan tombak yang enambelas dalam iring-iringan pawai mengarak pengantin raja berusung yang disandingkan dengan ringkasan sejarah dan hubungan silsilah antara Raja Melayu dan Bugis yang berkenaan dengan adat-istiadat tersebut.

Dibawah ini dinukil bagian dari dua pasal tersebut, terutama yang khusus berkenaan dengan istiadat Mengarak Mempelai Raja Berusung itu:

Pasal yang pertama, peri pada menyatakan mengarak mempelai raja berusung. Pertama usungan bersaput kuning dan khemahnya demikian juga. Dan jikalau raja besar kuning, dan jikalau raja kecil hijau khemahnya.

Dan yang di atas usungan itu mempelai serta dengan pengapitnya berdua, serta memegang kipas daripada emas atau perak. Dan pawainya yang diatasnya usungan itu yang membawak tepak, dan kedua membawa kain panjang, dan ketiga membawa ketur, dan keempat orang membawak ceper ambur beras kuning yang telah bercampur emas, yaitu berdiri kepada tiang usungan itu.

Adapun ternang, dan puan dan bungkusan, yaitu berjalan di tanah, dihadapan usungan. Adapun yang dihadapan puan itu suatu tombak kerajaan, dan dihadapan tombak itu genderang nobat. Dan dikiri kanan gendarang nobat itu baris tompak atau senapang. Dan kiri kanan usungan itu dian sebelah menyebelah, ampat sebelah atau lapan sebelah. Di belakang usungan itu kain dukung.

 Di belakang kain dukung itu orang menyelampai. Di belakang orang menyelampai itu segala perempuan baik. Atau dahulu sekali daripada usungan. Di belakang perempuan banyak itu orang membawa keromong serta segala bunyian. Maka terkembanglah payung ampat atau delapan, yaitu ubur kuning, dua kuning dan dua putih. Atau ampat kuning dan ampat putih.

Jika raja besar lapan payungnya. Pawainya seri anam belas juga. Jika raja kecil, payungnya ampat. Pawainya seri delapan. Maka berbunyilah bedil tujuh atau sembilan atau anam belas kali. Maka serta sampai usungan itu, maka berbunyilah lagi yang tersebut itu juga adanya.”

Pasal yang keampat pada menyatakan peraturan tombak sebatang itu lebih sedikit daripada tombak yang anam belas itu. Di belakang tombak itu [alat] kebesaran, yaitu gendang nobat dengan serunai dan nafiri. Dan di belakang genderang nobat itu amas kahwin. Dan apabila berjalan, maka berbunyilah genderang nobat itu lagu arakanserta segala bunyiannya adanya, intiha…”

Pada tahun 2013, saya mencoba merekonstruksi istiadat  yang telah punah ini berdasarkan berdasar manuskrip ini dan dokumentasi foto yang tersimpan di KITLV, Leiden. Lengkap dengan membuat replika usungangan diraja yang atapanya bersaput kain kuning serta dielnkapi pula denga replika  semua semberab atau perlengkapan dalam perarakannya. Selanjutnya, bersempena Festival Tamadun Melayu yang ditaja oleh Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau di Tanjungpinang pada bulan September 2013, hasil rekonstruksi itu dimpilkan di hadapan Wakil Presiden Republik Indonesia, Dr. H. Boediono, sebagai bagian dari pawai kebesaran Lembaga Adat Melayu (LAM) Provinsi Kepulauan Riau pada pembukaan festival tersebut.***

Baharu

Hak Cipta Terpelihara. Silakan Bagikan melalui tautan artikel