Beranda blog

Muhamad Khalid Kasim (1932-2012)

0
Khalid Kasim (jongkok di sebelah kiri) ketika bereperan sebagai Awang pengasuh bersama Mak Ungu (berdiri di sebelah kanan) yang berperan sebegai Pak Yong dalam sebuah pemetasan teater Makyong pada malam hari di halaman rumah Said Husin Al-Atas di Jl. Rumah Sakit No. 7, Tanjungpinang pada tahun 1975. FOTO: DOK. KOLEKSI ASWANDI SYAHRI

In Memoriam: Maestro Teater Mak Yong dari Mantang Arang

Pagiitu, Selasa (11/9/2012) di sebuah kedai  kopi. Satu pesan singkat (SMS) masuk ke telepon genggam (HP) sahabat saya Teja al-Habd. Berberapa saat kemudian ia menzahirkan apa yang termaktub dalam pesan singkat itu kepada kami yang duduk semeja dengannya: “Pak Khalid berpulang pukul 7.30 pagi ini, di Pulau Mantang. Inna-lillahi-wainna-ilaihirajiun”.

Perjumpaan saya dengan almarhum Pak Khalid bermula ketika ia tampil memerankan tokoh Awang Pengasuh dalam sebuah pemetasan teater Mak Yong Mantang Arang di halaman rumah almarhum Said Husin al-Attas di Jl. Rumah Sakit, Tanjungpinang, beberapa hari mejelang mereka berangkat sempena penampilan untuk pertamakalinya di Jakarta pada tahun 1975.

Sejenak ingatan saya melayang jauh. Mengingat-ingat kembali pementasan itu, dan beberapa kali pertemuan serta wawancara dengan Pak Khalid sekitar sepuluh tahun sebelum ia berpulang: ketika saya mengumpulkan bahan-bahan sumber untuk penulisan buku, Mak Yong: Teater Tradisional Kabupaten Kepulauan Riau pada tahun 2005.

***

Muhammad Khalid Kasim, yang akrab saya sapa Pak Khalid, lahir di desa Mantang Kayu Arang (Pulau Mantang, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau) pada 3 Mei 1932. Ia adalah salah seorang maestro atau empu yang mempunyai peran penting dalam setiap pementasan Teater Mak Yong Mantang Arang melalui tokoh Awang Peran atau Awang Pengasuh yang fasih dilakonkannya.

Pak Khalid mulai terlibat dalam pentas teater tradisional Mak Yong (di) Mantang Arang sejak sebelum zaman Jepang, ketika usianya 7 tahun. Beliau satu kelompok dengan seorang maestro lainnya yang telah lebih dahulu berpulang: almarhum Mak Ungu dan almarhum Tengku Muhammad Atan Rahman. Mula-mula beliau memainkan ‘peran kecil’ saja, sebagai pumukul alat musik gong.

Teater Mak Yong Mantang Arang dan ‘peran besar’ tokoh Awang Pengasuh atau Awang Peran yang kemudian dimainkan oleh Pak Khalid adalah sesuatu yang ‘ditemukan kembali’ untuk pertama kalinya oleh budayawan Tanjunginang, al-marhum Said Husin al- Attas pada tahun 1965. Semua bermula tatkala Said Husin menggelar pementasan kelompok teater Mak Yong Mantang Arang bersempena memeriahkan pesta pernikahan putrinya yang bernana Syarifah Aisyah dengan Abdul Razak bin Abu Bakar Ali di halaman rumahnya di Jl. Rumah Sakit No. 7 Tanjungpinang pada tahun 1965.

Usaha yang dirintis oleh Said Husin itu telah berhasil memperkenalkan kembali teater Mak Yong Mantang Arang dan sekaligus memperkenalkan Pak Khalid sebagai tokoh seni teater tradisional Melayu yang pada ketika itu telah “dianggap punah”. Bahkan Said Husin berhasil menampilkannya di pentas nasional.

Sepuluh tahun kemudian, tepatnya 1975, di bawah asuhan Said Husin al-Attas, untuk pertamakalinya Pak Khalid dan teater tradisional Melayu yang dianggap “arkhais” ini tampil di Taman Ismail Marzuki di Jakarta. Selanjutnya, pada tahun 1977, Pak Khalid dan beberapa orang pemain teater Mak Yong Mantang Arang yang telah sepuh, sempat pula mencuri perhatian Presiden Suharto ketika tampil di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Jakarta.

Sebagai bentuk apresiasinya, Presiden Suharto menganugerahkan pingat emas dan tabanas sebesar dua juta rupiah kepada pemain teater Mak Yong tersebut, yang diserahkan melalui Gubernur, Riau Arifin Achmad, di Gedung Daerah. Tanjungpinang. Dua kali penampilan di Jakarta itulah yang kemudian membuka mata para pakar seni pertunjukan tradisi, di Universitas Indonesia (UI) dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), tentang keberadaan sebuah kelompok teater tradisional yang hanya dikenal satu-satunya di Indonesia kala itu. Kemudian barulah muncul berbagai program penyelamatan, revitalisasi, dan berbagai bentuk program lainnya seperti yang dilakukan oleh Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) hingga kini.

Pada zamannya, gerak-gerik dan tingkah polah Awang Peran atau Awang Pengasuh yang diperankan Pak Khalid dalam setiap pementasan teater Mak Yong, selalu mengundang decak kagum dan tentu saja gelak tawa setiap orang yang menyaksikannya. Namun kini semuanya telah menjadi ingatan dan catatan sejarah seni peran Melayu di Provinsi  Kepulauan Riau.

Memasuki pertengahan tahun 1980-an, peranan Pak Khalid tak hanya sebatas berperan sebagai salah satu tokoh dalam pementasan ceritan teater Mak Yong. Beliau juga terlibat langsung dalam melestarikan dan mengembangkan teater Mak Yong. Oleh karena itu dalam tahun 1987, ia membentuk pula sebuah kelompok teater Mak Yong di Kampung Mantang Arang yang ia beri nama “Sabda Puri” (Sanggar Amanah Budaya Kepulauan Riau).

Di sisa usianya, Pak Kahlid pernah pula terlibat langsung dalam meluahkan pengetahuan dan kepandaiannya dalam membawakan cerita-cerita dalam teater Mak Yong kepada sejumlah anak-anak muda Kepulauan Riau yang ketika itu bersekolah di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) di Tanjungpinang tahun tahun 1990-an. “Agar Mak Yong tak punah,” ungkap Pak Khalid pada suatu ketika.***

GDB, Karya Agung Penyair Ulung

0
Gurindam Dua Belas.

SAYA tiba-tiba terbayang akan peristiwa itu. Selasa, 23 Rajab 1263 Hijriah atau 6 Juli 1847 Masehi, tepatnya hari itu. Pulau Penyengat Indera Sakti nan mungil menjadi saksi telah diselesaikannya sebuah antologi puisi baru Melayu.

Karya itu tergolong jenis baru karena belum pernah ada dalam bentuk tertulis selama ini. Jika pun ada, karya sejenis sangat jarang ditemukan dari pelbagai jenis puisi yang tersebar luas di nusantara dan Dunia Melayu seperti pantun dan syair.

Pulau Penyengat, yang mulai 1806 menjadi pusat teraju Yang Dipertuan Muda Kesultanan Riau-Lingga, sejak 1820 memang telah menjadi tapak baru pengembangan tradisi intelektual Melayu. Ianya menggantikan kedudukan Kesultanan Melaka dan Riau-Lingga-Johor-Pahang. Tradisi itu dimulai oleh intelektual Bilal Abu yang menulis karya perdananya, diikuti oleh cendekiawan Raja Ahmad Engku Haji Tua dan sejumlah penulis lain, laki-laki dan perempuan, kalangan bangsawan dan rakyat cendekiawan.  

Antologi puisi baru itu merupakan karya kedua Raja Ali Haji ibni Raja Ahmad Engku Haji Tua (1808-1873). Setahun sebelumnya, beliau telah menerbitkan karya sulung syair naratif yang monumental, yakni Syair Abdul Muluk (1846).

Karya terbaru itu adalah Gurindam Dua Belas (GDB), yang berisi dua belas pasal. Setiap pasalnya berkaitan dengan sebuah tema utama yang diperinci atas bait-bait. Sejak itu terkenallah jenis puisi gurindam dalam sastra tulis Melayu. Dengan demikian, Raja Ali Haji merupakan pelopor penulisan puisi jenis gurindam di nusantara. 

Bersamaan dengan itu masyhur pulalah nama penulisnya. Bahkan, walaupun beliau telah menulis sekurang-kurangnya 20 puluh karya dan umumnya karya-karya  itu merupakan perintis di bidangnya, masyarakat lebih mengingat GDB. Apatah lagi, karya itu menjadi materi wajib dalam Pelajaran Bahasa dan Sastra Melayu/Indonesia dari jenjang pendidikan terendah sampai menengah di Indonesia sejak zaman Hindia-Belanda sampai sekarang. 

Tulisan beliau sesudah itu meliputi pelbagai bidang. Ada karya bahasa, sejarah, agama, sastra, politik, hukum, pemerintahan, dan sebagainya. Kalau disanding dan dibandingkan, maka akan terlihat rangkaian benang merah yang mempersatukan semua karya itu. Menariknya, GDB menjadi semacam induk atau rujukan utama semua karya penulis prolifik ini.

Maksudnya, topik-topik yang dibahas dalam karya-karya berikutnya, inti pokoknya telah ada di dalam GDB. Topik pemerintahan yang baik dalam Pasal yang Kedua Belas GDB, misalnya, dikupas lengkap dalam karya bidang hukum dan politik, Muqaddima Fi Intizam (1857) dan Tsamarat al-Muhimmah (1858).

Lalu, apakah gurindam itu sesungguhnya? Raja Ali Haji menyajikan takrifnya di dalam karya beliau tersebut.

“Adalah beza antara gurindam dengan syair itu aku nyatakan pula. Bermula arti syair Melayu itu perkataan yang bersajak yang serupa dua berpasang pada akhirnya dan tiada berkehendak pada sempurna perkataan pada satu-satu pasangannya bersalahan dengan gurindam. Adapun gurindam itu yaitu perkataan yang bersajak juga pada akhir pasangannya, tetapi sempurna perkataanya dengan satu pasangannya sahaja, jadilah seperti sajak yang pertama itu syarat dan sajak yang kedua itu jadi seperti jawab,” (Haji, 1847).

Berdasarkan definisi itu, dapatlah diketahui bahwa gurindam adalah jenis puisi Melayu yang terdiri atas dua baris sebait yang bersajak /a-a/. Larik pertama menyatakan sebab, sedangkan larik kedua menyatakan akibat. 

Antologi Gurindam Dua Belas diterbitkan dalam teks Arab-Melayu sekaligus diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda oleh E. Netscher. “De twaalf spreukgedichten, Een Maleisch gedicht door Radja Ali Hadji van Riouw, uitgegeven envan de vertaling en aanteekeningen voorzien door E. Netscher”. Dimuat dalam Tijdshrift van het Bataviaasch Genootschap ll (1854,11-32). Tulisan itu sangat menarik karena Netscher juga menyertakan pengantar Raja Ali Haji yang memerikan dasar penciptaan GDB. Sejak itu, terkenal pulalah karya ini di kalangan peminat dan pemerhati sastra internasional.

Apatah lagi, ketika Netscher menerbitkan tulisannya, Raja Ali Haji telah pula menerbitkan karya linguistik sulungnya, Bustan al-Katibin (Haji, 1850). Karya itu merupakan buku linguistik pertama yang ditulis oleh penulis nusantara, yang berisi tentang peraturan ejaan dan tata-bahasa bahasa Melayu. Bersamaan dengan itu, Bustan al-Katibin digunakan sebagai pedoman bahasa Melayu baku yang diajarkan di sekolah-sekolah pribumi yang mulai didirikan Pemerintah Hindia-Belanda pada 1849.

 Terjemahan GDB ke dalam bahasa Inggris, antara lain Pasal yang Kedua Belas, pernah dikerjakan oleh S. Jaafar Husin. Hasilnya dimuat dalam Ketika Kata Ketika WarnaIn Words in Colours, yang diterbitkan oleh Yayasan Ananda, Jakarta, 1995.

Puisi gurindam karya Raja Ali Haji itu sangat luas dikenal, terutama karena ianya senantiasa ada di dalam buku-buku pelajaran kesusatraan Indonesia. Tak kurang dari S.T. Alisyahbana dalam bukunya Puisi Lama menyertakan karya ini. Demikian juga dengan penulis-penulis buku pelajaran kesusastraan seperti Madong Lubis, Sabaruddin Ahmad, Zubir Usman, dan lain-lain. 

Begitulah selanjutnya, GDB senantiasa menjadi bahan kajian para sarjana, baik Timur maupun Barat. Hasilnya dituangkan dalam tulisan ilmiah, semi-ilmiah, bahkan tulisan populer di media massa. Para pengkaji tak hanya meninjaunya dari sudut ilmu bahasa dan sastra, tetapi juga dari pelbagai disiplin ilmu sosial-budaya. Oleh sebab itu, semakin terkenallah karya Raja Ali Haji rahimahullah itu dari dahulu sampai sekarang. 

Para pembacanya tak hanya dapat menikmati keindahan bahasa yang sungguh memikat. Mereka pun pasti akan memperoleh faedah ilmu dan tunjuk-ajar khas Melayu yang menambat sukma. Tentu bagi orang yang sanggup mencernanya dengan hati dan pikiran terbuka. “Hati itu kerajaan di dalam tubuh, jikalau zalim segala anggota pun roboh.” Aduhai!

Dari karya itu diperoleh empat pedoman utama kehidupan: keyakinan ketuhanan, peribadatan, budi pekerti, dan perhubungan dengan sesama manusia. Sebagai susastra, ianya tak sekadar indah, tetapi juga bermanfaat bagi manusia karena memberikan tuntunan tentang pelbagai perkara yang berkaitan dengan kehidupan dari dunia sampai ke akhirat.

Kandungan nilai budi pekerti yang ditawarkannya, jika diterapkan kepada manusia semenjak kanak-kanak (usia dini), memungkinkannya tumbuh dan membesar menjadi makhluk yang berkarakter unggul. Mereka pasti menjadi insan yang tangguh dan cemerlang, yang sememangnya didambakan oleh setiap orang. 

Karena muatannya sejalan dengan ajaran Allah, ada yang mengibaratkan GDB laksana khutbah yang sastrawi. Karya ini benar-benar memenuhi mutu seri pantai dan seri gunung, yang diidealkan dalam susastra Melayu. Inilah karya yang sadu perdana dan bernilai tujuh laksana. Karya kelas utama yang bernilai mutu tujuh bintang. 

GDB telah memanfaatkan potensi bahasa Melayu yang fleksibel melalui daya kreatif penulisnya yang memang terbilang. Pada gilirannya, ia telah menempatkan bahasa Melayu sekaligus karya itu di singgasana terhormat lagi terjulang. Karya serupa itu memang susah dilupakan orang.

Itulah karya agung warisan penyair ulung yang terus dibaca dan dikaji orang. Tak hanya dahulu, semakin menjadi-jadi gejalanya hingga sekarang.***  

Tuah dan Marwah Bahasa Melayu (2)

0

Awal mendekati pertengahan abad ke-19 di Singapura bersinar kepengarangan Munsyi Abdullah bin Munsyi Abdulkadir. Buah karya beliau  kesemuanya ditulis dalam bahasa Melayu. Karya-karya Munsyi Abdullah itu penting artinya bagi pengembangan bahasa Melayu sebagai tahap awal menuju tradisi Melayu semimodern.

Kemuncak utama pengembangan dan pembinaan bahasa Melayu terjadi di Kesultanan Riau-Lingga. Sejak pertengahan ke-19 sampai awal abad ke-20 Pulau Penyengat Indera Sakti, Tanjungpinang, menjadi pusat kreativitas ilmu-pengetahuan dan tamadun Melayu. Di sini aktivitas intelektual merecup kembali. Pada masa itu Kesultanan Riau-Lingga menjadi pusat tamadun Melayu-Islam, pasca-Kesultanan Melaka.

Pada masa Kesultanan Riau-Lingga bahasa Melayu telah menunjukkan ciri bahasa Melayu modern dan tetap mempertahankan fungsinya sebagai bahasa komunikasi utama di nusantara dan  bahasa internasional. Pelbagai karya dalam beragam bidang ilmu-pengetahuan dikembangkan, termasuk bidang ilmu bahasa sehingga bahasa Melayu telah berwujud bahasa modern.

Berpuluh-puluh penulis telah terbabit dalam kreativitas menulis dan menghasilkan ratusan karya. Pada masa inilah karya tulis Melayu paling banyak dihasilkan. Tokoh utamanya adalah Raja Ali Haji, seorang pakar bahasa, sastra, sejarah, agama, dan pelbagai bidang ilmu lainnya.

Pada 1849 Pemerintah Hindia-Belanda mendirikan sekolah modern bagi bumiputra. Walaupun mereka berupaya hendak menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar pendidikan, Gubernur Jenderal Rochussen menegaskan bahwa pendidikan harus menggunakan bahasa Melayu. Pasalnya, bahasa Melayu telah menjadi alat komunikasi di seluruh nusantara. Lagi pula, rakyat dan raja-raja nusantara menolak penggunaan bahasa Belanda.

Rujukan utama bahasa pendidikan itu adalah karya Raja Ali Haji. Karya tersebut awalnya adalah Syair Abdul Muluk (1846) dan Gurindam Dua Belas (1847).

Kebijakan itu diambil karena bahasa Melayu standar Riau-Lingga (bahasa Melayu Tinggi) telah tersebar luas dan sangat disukai oleh seluruh penduduk Kepulauan Nusantara. Di pihak pemerintah kolonial Belanda, mereka telah memiliki model bahasa Melayu standar dari karya Raja Ali Haji.

   Pada 1857 Pemerintah Hindia Belanda mengirim H. von de Wall ke Tanjungpinang. Beliau ditugasi untuk menyusun buku tata bahasa Melayu, kamus Melayu-Belanda, dan kamus Belanda-Melayu untuk kepentingan pendidikan dan administasi pemerintahan Kolonial Belanda. Beliau bekerja sama dengan Raja Ali Haji dan Haji Ibrahim untuk menyelesaikan tugasnya dan mendalami bahasa Melayu.

Bersamaan dengan itu, Raja Ali Haji telah menerbitkan buku tata bahasa dan ejaan bahasa Melayu Bustan al-Katibin (1850) dan Kitab Pengetahuan Bahasa (1858), yakni kamus bahasa Melayu. Kedua karya bidang bahasa Melayu itu melengkapi rujukan untuk pendidikan pribumi di Hindia-Belanda.

Dalam masa tugasnya juga Von de Wall telah menyunting buku karya Haji Ibrahim: Cakap-Cakap Rampai-Rampai Bahasa Melayu Johor, karya dalam bidang etimologi. Jilid pertama buku itu  diterbitkan di Batavia pada 1868 dan pada 1872 terbit pula jilid keduanya.

Pada Mei 1864 datang lagi pakar Belanda H.C. Klinkert ke Tanjungpinang. Beliau dikirim oleh Majelis Injil Belanda untuk mempelajari bahasa Melayu yang murni. Tujuannya untuk memperbaiki terjemahan Injil dalam bahasa Melayu.

Karena keunggulan bahasa Melayu tinggi Riau-Lingga itulah, Pemerintah Hindia-Belanda membuat Peraturan untuk Pendidikan Dasar Pribumi yang mulai ditetapkan pada 1872. Pada Pasal 28 peraturan itu disebutkan sebagai berikut.

“Untuk pendidikan dalam bahasa rakyat, dipakai bahasa yang paling murni ucapannya dan yang paling berkembang di tempat-tempat itu. Bahasa Melayu akan diajarkan menurut aturan dan ejaan bahasa Melayu murni yang dipergunakan di Kepulauan Riau dan bahasa-bahasa selebihnya akan ditentukan kemudian,” (Groeneboer 1995, 166).

Jelaslah bahwa pada masa Kesultanan Riau-Lingga telah dilakukan kodifikasi pertama bahasa Melayu oleh Raja Ali Haji dan kawan-kawannya sehingga menjadi bahasa baku dan digunakan dalam sistem pendidikan kolonial Belanda di Indonesia. Selanjutnya, pemerintah kolonial Belanda melakukan kodifikasi kedua untuk lebih memantapkan fungsi bahasa Melayu dalam pendidikan pribumi.

R.M. Suwardi Soerjaningrat (Ki Hajar Dewantara) merupakan orang pertama yang mengusulkan bahasa Melayu dijadikan bahasa persatuan dalam pergerakan nasional jika Indonesia merdeka. Usul itu disampaikan beliau ketika menjadi pembicara Kongres Pengajaran Kolonial di Den Haag, Belanda, 1916.

Pada 2 Mei 1926 dilaksanakan Kongres I Pemuda Indonesia di Jakarta. Selanjutnya, 28 Oktober 1928 diselenggarakan Kongres II Pemuda Indonesia, juga di Jakarta. Putusan Kongres II ini mengukuhkan bahasa Melayu menjadi bahasa nasional, yang disebut dengan nama bahasa Indonesia dan dikenal sebagai bahasa nasional. Bahasa itulah yang mampu mempersatukan bangsa Indonesia sehingga berjaya merdeka pada 17 Agustus 1945.

Apakah bahasa Indonesia Itu? Dalam makalahnya “Bahasa Indonesia di dalam Perguruan”, yang disajikan dalam Kongres I Bahasa Indonesia  di Solo pada 1938, Ki Hajar Dewantara dengan tegas mengatakan, “Yang dinamakan ‘bahasa Indonesia’ adalah bahasa Melayu … dasarnya berasal dari ‘Melayu Riau’.”

Muhammad Hatta, Wakil Presiden I Republik Indonesia, di Majalah Pelangi terbitan 1979 (154-155) mengatakan  bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu yang dikembangkan di Pulau Penyengat, Kepulauan Riau.

Berdasarkan kenyataan itu, Presiden IV Republik Indonesia, K.H. Abdurrahman Wahid, mengapresiasi jasa Raja Ali Haji yang berjaya mengokohkan persatuan bangsa Indonesia sampai sekarang. Akhirnya, Raja Ali Haji dianugerahi gelar Pahlawan Nasional RI dan Bapak bahasa Indonesia pada 2004. Sejak 18 Agustus 1945, bahasa Melayu-Indonesia juga berkedudukan sebagai bahasa negara.

Bagi bangsa asing, bahasa Melayu itu menarik di antaranya karena faktor ini. Penyebarannya telah terjadi berabad-abad sehingga menjadi bahasa internasional. Bahasa itu menonjol karena sederhana susunannya dan sedap bunyinya, tak ada bunyinya yang sulit diucapkan oleh orang asing. Bahasa Melayu dapat menjalankan perannya sebagai bahasa internasional karena syarat kemantapan strukturnya sangat baik.

Logat Melayu yang diutamakan ialah yang digunakan di Kepulauan Riau-Lingga, yakni di Pulau Penyengat dan di Daik-Lingga. Ianya dijadikan rujukan karena sebagian besar kepustakaan tertulis ada dalam bahasa itu dan bahasanya sangat terpelihara.

Sebagai bahasa alamiah, bahasa Melayu telah memenuhi semua fungsinya sebagai alat komunikasi untuk pelbagai bidang kehidupan, termasuk sebagai bahasa sains dan teknologi. Jumlah penuturnya yang besar dan persebarannya yang semakin luas di dunia menjadi faktor penentu yang sangat meyakinkan.

Dalam prespektif peneliti asing, bahasa Melayu pun telah sejak lama diakui sebagai bahasa internasional. Apatah lagi, unsur intrabahasanya sebagai bahasa modern sudah sangat memadai sampai setakat ini

Berdasarkan kenyataan itu, bahasa Melayu sangat potensial menjadi bahasa antarbangsa pada era globalisasi ini. Kesemuanya terpulang kepada bangsa dan negara (ASEAN) yang memiliki dan menggunakan bahasa Melayu. Untuk itu, sangat diperlukan kemauan bersama serta kerja sama yang konsisten dan berkelanjutan di antara bangsa dan negara pemilik bahasa yang bertuah dan bermarwah ini.***   

Tuah dan Marwah Bahasa Melayu (1)

0
pemandangan Sungai Carang yang penuh legenda-f-dok.Noesaja

Bahasa Melayu telah lama dikenal dan memainkan peran istimewanya sebagai bahasa perhubungan luas di nusantara. Bahkan, kala itu bahasa Melayu telah diakui menjadi bahasa internasional.

Faktor yang paling menentukan adalah kewibawaannya sebagai bahasa diplomasi utama dan satu-satunya yang digunakan oleh kerajaan-kerajaan tradisional nusantara. Para raja dan rakyat nusantara pada masa lampau sangat setia dan hanya menggunakan bahasa Melayu. Perhubungan diplomatik dan bisnis, baik dengan sesama pemimpin nusantara maupun pemerintah asing, kesemuanya menggunakan bahasa Melayu. Mereka menolak menggunakan bahasa asing dalam semua urusan itu.

Puncak pertama kejayaan bahasa Melayu di nusantara terjadi sejak abad VII  (633 M.) sampai dengan abad XIV (1397 M.), yakni masa keemasan Kerajaan Sriwijaya. Dari catatan Yi Jing (I Tsing), diketahui bahwa bahasa Kunlun digunakan secara luas sebagai bahasa resmi kerajaan, bahasa agama, bahasa sains, bahasa perdagangan, dan bahasa dalam komunikasi sehari-hari di seluruh wilayah Kerajaan Sriwijaya dan daerah takluknya. Bahasa Kunlun telah dipelajari dan dikuasai oleh para pendeta agama Budha Dinasti Tang.

Bahasa Kunlun merupakan bahasa resmi Kerajaan Sriwijaya dengan seluruh daerah takluknya yang meliputi seluruh Asia Tenggara. Pada masa itu bahasa Kunlun telah menjadi bahasa internasional. Bahasa Kunlun tiada lain adalah bahasa Melayu Kuno.

   Pada masa Sriwijaya bahasa Melayu telah bertembung dengan bahasa Sansekerta yang dibawa oleh kebudayaan India. Bangsa India menyebut bahasa Melayu sebagai Dwipantara sejak abad pertama masehi.  Pada masa ini bahasa Melayu telah berkembang menjadi bahasa sains. Hal itu disebabkan oleh Kerajaan Sriwijaya telah mendirikan perguruan tinggi agama Budha. Tinggalan bahasa Melayu tinggi tersebar di prasasti yang terdapat di Indonesia sekarang.

   Antara abad ke-12 hingga abad ke-14 berdiri pula Kerajaan Melayu di Selat Melaka. Kerajaan Melayu tua itu bernama Kerajaan Bintan-Temasik, yang wilayah kekuasaannya meliputi Kepulauan Riau dan Semenanjung Tanah Melayu, termasuk Singapura. Sesudah masa Bintan-Temasik inilah termasyhur pula Kesultanan Melaka sejak abad ke-14.

   Awal abad ke-15 Kesultanan Melaka sudah menjadi pusat perdagangan dunia di sebelah timur yang maju pesat. Para saudagar yang datang ke Melaka berasal dari Persia, Gujarat, dan Pasai. Sambil berniaga mereka menyebarkan agama Islam di seluruh wilayah kekuasaan Melaka.

Tak hanya itu, mereka pun menyebarkan bahasa Melayu karena penduduk tempatan yang mereka kunjungi tak memahami dan tak mau menggunakan bahasa para peniaga itu. Mereka harus menggunakan bahasa Melayu. Bersamaan dengan masa keemasan Melaka ini, dimulailah tamadun Melayu-Islam. Bahasa Melayu pun mendapat pengaruh bahasa Arab dan bangsa-bangsa pedagang itu (Arab, Persia, dan lain-lain) yang menjadikannya sebagai bahasa kedua mereka.

   Menurut Ensiklopedia Bahasa Utama Dunia (1998, 56), ulama Gujarat seperti Nuruddin al-Raniri berkarya dan berdakwah dengan menggunakan bahasa Melayu. Begitu pula Francis Xavier yang menyampaikan summon dalam bahasa Melayu ketika beliau berada di Kepulauan Maluku. Masuknya Islam ke Dunia Melayu semakin meningkatkan peran bahasa Melayu sebagai bahasa internasional dalam Dunia Islam dan menjadi bahasa kedua terbesar setelah bahasa Arab.

   Pada masa kejayaan Melaka bahasa Melayu juga menjadi bahasa resmi kerajaan, bahasa perdagangan, bahasa sains, di samping bahasa perhubungan sehari-hari rakyat. Surat-surat raja-raja Melaka yang ditujukan kepada para pemimpin negeri atau negara lain menggunakan bahasa Melayu. Oleh itu, bahasa Melayu zaman Melaka juga digunakan di peringkatantarbangsa. Zaman keemasan Melaka merupakan puncak kedua kejayaan bahasa Melayu.

Puncak ketiga bahasa Melayu terjadi pada era Kesultanan Riau-Johor. Pada masa ini teraju kepemimpinan Melayu dilanjutkan oleh putra Sultan Mahmud Syah I Melaka yang bergelar Sultan Ala’uddin Riayat Syah II. Beliau mendirikan negara Melayu baru yang pemerintahannya berpusat di Johor sejak 1528.

Sultan Johor-Riau itu berkali-kali berusaha untuk merebut kembali Melaka. Malangnya, upaya itu tak berjaya. Setelah sekian lama di Johor, pusat pemerintahan Kesultanan Riau-Johor dipindahkan ke Hulu Riau, Tanjungpinang, Kepulauan Riau pada 1678 oleh Sultan Ibrahim Syah.

Sebelum itu Hulu Riau (Tanjungpinang, sekarang) telah dibangun oleh Laksemana Tun Abdul Jamil sebagai pusat pemerintahan menggantikan Batu Sawar, Johor Lama. Sejak itu, berkembanglah Kesultanan Riau-Johor atau Riau-Lingga-Johor-Pahang di Kepulauan Riau.

   Di Johor dilakukan pengembangan dan pembinaan bahasa dan kesusastraan untuk menggantikan khazanah Melaka yang telah musnah. Di samping itu, diterbitkan pula karya-karya baru. Di antara karya tradisi Johor itu yang terkenal Sejarah Melayu (Sulalatu’s Salatin ‘Peraturan Segala Raja’)  tulisan Tun Muhammad Seri Lanang yang bergelar Bendahara Paduka Raja.

Karya yang masyhur itu mulai ditulis di Johor pada 1535 dan selesai pada 1021 H. bersamaan dengan 13 Mei 1612 di Lingga, Kepulauan Riau, sekarang. Bahasa yang digunakan dalam tradisi Johor ini biasa disebut bahasa Melayu Riau-Johor atau bahasa Melayu Johor-Riau.

Pada era Johor-Riau ini bahasa Melayu semakin meningkat pengaruh dan perannya di nusantara. Antonio Galvâo, Gubernur Portugis di Maluku (1536-1539) menulis bahwa bahasa Melayu Riau-Johor itu telah tersebar luas di Maluku dan masyarakat di sana sangat suka menggunakannya. Kemasyhuran bahasa Melayu telah menyamai Bahasa Latin di Eropa.

Misi Belanda di bawah pimpinan William Valentijn berkunjung ke Tanjungpinang pada 2 Mei 1687. Mereka mendapati kawasan itu telah menjadi bandar perdagangan yang sangat maju dan ramai. Manusia dari pelbagai penjuru dunia berdatangan dan mereka terkagum-kagum akan kepiawaian orang Melayu Kepulauan Riau dalam bidang perniagaan dan pengelolaan sektor maritim umumnya.

Pada 1778 perdagangan di Kesultanan Riau-Johor bertambah maju. Negerinya makmur dan rakyat sejahtera, yang diikuti oleh kehidupan beragama (Islam) yang berkembang pesat. Kala itu pemerintahan dipimpin oleh Sultan Mahmud Riayat Syah (1761-1812) sebagai Yang Dipertuan Besar Riau-Lingga-Johor-Pahang dan Raja Haji (1777-1784) sebagai Yang Dipertuan Muda Riau IV.

Menurut Francois Valentijn, pada abad ke-18 bahasa Melayu di bawah Kesultanan Riau-Johor telah mengalami kemajuan pesat dan telah menyamai bahasa-bahasa Eropa. Berikut ini penuturannya (Karim 2003, 14; Hassim, Rozali, & Ahmad 2010, 4; Malik, 2014).

“Bahasa mereka, bahasa Melayu, tak hanya dituturkan di daerah pinggir laut, tetapi juga digunakan di seluruh Kepulauan Melayu dan di semua negeri Timur, sebagai suatu bahasa yang dipahami di mana-mana pun oleh setiap orang, tak ubahnya seperti bahasa Perancis atau Latin di Eropa, atau sebagai bahasa lingua franca di Italia dan Levant. Sungguh luas persebaran bahasa Melayu itu sehingga kalau kita memahaminya tak mungkin kita kehilangan jejak, karena bahasa itu tak hanya dipahami di Persia, bahkan lebih jauh dari negeri itu, dan di sebelah timurnya sehingga Kepulauan Filipina.”

Pada 17 Maret 1824, melalui Perjanjian London, Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang dibelah dua oleh Belanda dan Inggris. Kawasan Riau-Lingga berada di bawah Belanda, sedangkan Johor dan Pahang di bawah pengawasan Inggris.

Singapura lebih dulu terpisah ketika Thomas Stanford Raffles mengangkat Tengku Husin ibni Sultan Mahmud Riayat Syah, kakanda Sultan Riau-Lingga, sebagai Sultan Singapura, Januari 1819. Padahal, sebelum itu Singapura dan Johor berada dalam satu wilayah pemerintahan ketemenggungan di bawah Kesultanan Riau-Johor. (Bersambung)

Perjuangan Memartabatkan Bahasa Melayu

0

PEJABAT (Kantor) Perdana Menteri Malaysia menyelenggarakan Simposium Pengantarabangsaan Bahasa Melayu pada 22-24 Mei 2022. Kegiatan tiga hari itu dipusatkan di Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur. Acaranya dibuka langsung oleh Perdana Menteri, Datuk Seri Ismail Sabri Yaacob. Beliaulah tokoh utama dari perjuangan mulia ini.

Dari pidato sambutan beliau pada acara pembukaan dapat dikesan kenyataan ini. Beliau bertekad kuat untuk memartabatkan kembali bahasa Melayu menjadi bahasa internasional. Tekad itu pun disepadukan beliau dengan tindakan nyata dengan menggunakan bahasa Melayu dalam pertemuan-pertemuan internasional walaupun beliau sangat fasih berbahasa Inggris.

Para pakar tak kurang dari 17 negara menjadi pemakalah dalam simposium bergengsi itu. Kesemua pemakalah, sama ada dari negara-negara Asia ataupun di luar Asia, sangat menyokong internasionalisasi bahasa Melayu. Alasannya, secara ilmiah, bahasa Melayu memang sangat layak diangkat menjadi bahasa internasional.

Tak sesiapa pun dapat membantah bahwa bahasa Melayu telah berperan sangat istimewa di nusantara. Keistimewaan itu disebabkan oleh persebarannya sangat luas di Asia, khususnya di Asia Tenggara. Kejayaan bahasa Melayu sekurang-kurangnya telah dimulai sejak abad ke-7, yakni pada  masa Kerajaan Sriwijaya. Keunggulannya terus berlanjut sampai masa Kesultanan Melayu Melaka, Kerajaan-Kerajaan Melayu lainnya di nusantara, Riau-Lingga-Johor-Pahang, dan berpuncak di Kesultanan Riau-Lingga.

Khasnya di Indonesia, bahasa Melayu telah diangkat  menjadi bahasa nasional dengan nama bahasa Indonesia sejak 28 Oktober 1928, dijadikan bahasa pemersatu bangsa, dan alat perjuangan melawan penjajah Belanda dan Jepang. Sejak 18 Agustus 1945, setelah Indonesia merdeka, ia juga berkedudukan sebagai bahasa negara.

 Keistimewaannyalah yang menyebabkan bahasa Melayu mampu menjadi satu dari lima bahasa yang memiliki jumlah penutur terbanyak di dunia. Bahasa Melayu telah lama dikenal dan memainkan peran penting sebagai bahasa diplomasi, perniagaan, agama, sains, sastra, dan bahasa perhubungan luas di nusantara. Oleh sebab itu, bahasa Melayu juga sebetulnya telah lama diakui sebagai bahasa internasional oleh bangsa asing, sejak kejayaaan Sriwijaya.

Kejayaan itu diperoleh karena ini. Para raja, pemimpin, dan seluruh rakyat nusantara sejak Kerajaan Sriwijaya menolak penggunaan bahasa asing di negeri mereka, dengan bangsa mana pun dan dalam urusan apa pun. Oleh sebab itu, bangsa asing yang berhubungan dengan bangsa nusantara harus mampu menggunakan bahasa Melayu.

Faktor apakah yang dapat mempercepat bahasa Melayu menjadi bahasa internasional pada masa kini? Jawabnya adalah bangsa-bangsa yang menggunakan bahasa Melayu dan atau bahasa Indonesia, baik sebagai bahasa ibu (bahasa pertama) maupun sebagai bahasa nasional dan bahasa negara (bahasa kedua), harus yakin dan berpandangan positif terhadap bahasanya. Itulah tauladan yang telah ditunjukkan oleh nenek-moyang mereka.

Mereka adalah bangsa yang besar dan memiliki bahasa yang besar pula dalam perjalanan sejarahnya lebih dari 1.500 tahun. Dengan jumlah penuturnya lebih dari 300 juta jiwa, potensi dan daya bahasa Melayu sangat besar. Itu belum lagi dihitung jumlah pemakainya sebagai bahasa asing di seluruh dunia.

Fakta itu tak boleh diabaikan. Ianya harus dimanfaatkan untuk memartabatkan kembali bahasa Melayu dalam masyarakat internasional. Kesemuanya itu memiliki alasan yang kuat.

Setakat ini ada 219 perguruan tinggi di 96 negara di dunia, di luar negara yang menggunakan bahasa Melayu, melaksanakan pembelajaran bahasa Melayu atau bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua atau bahasa asing. Itu bermakna bangsa asing menaruh minat yang sangat besar untuk mempelajari bahasa Melayu. Dengan demikian, daya tarik negara-negara ASEAN yang memiliki bahasa Melayu akan menyokong percepatan internasionalisasi bahasa Melayu.

Adakah program pembelajaran bahasa Melayu di negara-negara asing itu merupakan bentuk sokongan nyata pemerintahnya bagi internasionalisasi bahasa Melayu? Memang belum ada pernyataan resmi tentang perkara itu. Akan tetapi, dengan mencermati gejala positif itu, dapat diprediksi bahwa jalan ke arah itu sudah sangat terbuka. Apatah lagi, sokongan yang sangat bermakna dari kalangan akademisi negara-negara luar tersebut tentu diperhitungkan oleh para pemimpin mereka karena berdasarkan pemikiran ilmiah.

Faktor yang paling menentukan perjuangan ini adalah rakyat dan pemerintah pemilik bahasa Melayu. Jika kita bersungguh-sungguh, sokongan dari pelbagai pihak akan segera mengalir. Pasalnya, masyarakat dunia pun sangat mengharapkan peningkatan peran bahasa Melayu seperti yang pernah dialaminya pada masa lampau.

Di negara-negara pemilik bahasa Melayu usaha yang harus dilakukan adalah meningkatkan penguasaan dan kemahiran berbahasa Melayu di kalangan warganegaranya sendiri. Hal itu bermakna kemahiran berbahasa Melayu warganegara harus terus ditingkatkan. Mutu pendidikan dan pembelajaran bahasa Melayu di lembaga-lembaga pendidikan, dari jenjang terendah (taman kanak-kanak) sampai dengan pendidikan tinggi, pun harus terus diperbaiki. Dengan demikian, pemikiran masyarakat yang berkembang sesuai dengan zaman yang terus berubah terwadahi dengan bahasa yang semakin baik.

Jika mutu pendidikan dan pembelajaran bahasa Melayu meningkat, warganegara akan terbiasa menggunakan dan memahami pemikiran canggih yang disampaikan dengan bahasa Melayu yang semakin canggih pula. Oleh sebab itu, kualitas pendidikan dan pembelajaran bahasa Melayu untuk meningkatkan pengetahuan bahasa, kemahiran berbahasa, dan sikap positif (rasa setia dan cinta) terhadap bahasa Melayu harus dilakukan secara bersungguh-sungguh.

Yang juga mustahak adalah peningkatan mutu pembelajaran bahasa Melayu sebagai bahasa asing. Ini bagi pelajar asing yang belajar di negara berbahasa Melayu atau mereka yang belajar di negaranya masing-masing. Semakin mudah mereka mempelajarinya, akan semakin tertarik mereka terhadap bahasa Melayu. Apatah lagi, pedoman ejaan, buku tata bahasa, kamus umum, kamus istilah pelbagai bidang ilmu, dan unsur intrabahasa Melayu lainnya telah tersedia cukup baik walaupun harus terus ditingkatkan kuantitas dan kualitasnya.

Sebetulnya, masyarakat dunia sudah tak sabar menanti bahasa Melayu, yang termasuk bahasa besar dunia, dimartabatkan menjadi bahasa internasional. Oleh sebab itu, sesiapa pun warganegara di negara Melayu yang membantah akan kebaikan perjuangan ini dia tergolong orang yang naif. Apatah lagi, bantahannya dengan alasan yang tak sabit di akal. Semua bangsa yang bertamadun tahu bahwa bahasalah yang menunjukkan bangsa.

Berdasarkan kenyataan di atas, bahasa Melayu memang layak dimartabatkan menjadi bahasa internasional kini dan ke depan ini. Dengan demikian, usaha murni Perdana Menteri Malaysia, Ismail Sabri Yaacob, patut disokong dengan sepenuh hati.***  

Kerasukan Pasir (2)

0
sand dunes in the desert
Photo by Vitor Monthay on Pexels.com

Dalam pada itu, kawan-kawan lamanya, Bujang, Atan, Dara, dan Comel melakukan gerakan perlawanan. Pasalnya, mereka sangat khawatir melihat gejala daratan kampung mereka terus mengecil dari hari ke hari. Mereka menyuarakan bahwa gerakan makan pasir itu berbahaya, primitif, tergolong kejahatan kemanusiaan terbesar abad ini. Pulau-pulau menjadi semakin kecil karena abrasi pantai. Lingkungan tercemar, habitat air punah-ranah, pendapatan nelayan menurun, dan marwah bangsa tergadai.

“Gerakan makan serta menjual tanah (dan) air ini harus segera dihentikan. Selamatkan negeri dari gerakan barbar Geng Entol. Pulau-pulau terluar harus terjaga, masyarakatnya jangan ditelantarkan. Kerasukan pasir ini harus dimusnahkan sampai ke akar-akarnya!” pekik mereka setiap hari. Perlawanan Bujang dan kawan-kawan mendapat peliputan luas oleh media dalam dan luar negeri, cetak dan elektronik. Tak ketinggalan media sosial, terutama yang tak kebagian kontrak dari Geng Entol.

Media yang mendapat kontrak membela Geng Entol dengan menyebutkan perjuangan Entol cs. adalah gerakan perubahan yang patut disokong. Itu gerakan orang hebat untuk membangun masyarakat hebat sejagat. Akibatnya, terjadilah perang media saban hari yang menyebabkan masyarakat semakin bingung. Makin bingung masyarakat, makin gembiralah Entol dan sindikatnya. Tujuan mereka tentu akan semakin cepat tercapai.    

Bukan Entol namanya kalau dia kehabisan akal menghadapi gertakan pemuda kampung, yang menurutnya kampungan. Dia membuat gerakan tandingan. Borol dan Bangkup diutus untuk meyakinkan masyarakat agar tak terpengaruh provokasi Bujang dkk. Masyarakat diberikan seratus ribu rupiah sebulan setiap keluarga.

“Ambil saja,” bujuk Borol, “kalau Awak menangkap ikan di laut dan berkebun di darat belum tentu dapat segini. Banyak duit dari Tuan Besar Entol ini.” Itu yang diprovokasi oleh Borol dan Bangkup. Masyarakat pun banyak yang termakan bujuk rayu anak buah Entol yang tertular bercakap besar itu.

Bujang dan kawan-kawan tak berputus asa. Mereka terus bergerak sampai mengirim surat protes ke Istana. Akhirnya, pihak Istana rinsa (gerah) juga. Alhasil, Istana mengeluarkan fatwa bahwa makan pasir dinyatakan perbuatan haram. Sejak fatwa itu diterbitkan, sesiapa pun yang melanggarnya akan dihukum dengan sanksi yang seberat-beratnya dan sebesar-besarnya. Ada pula yang menduga bahwa Istana mengeluarkan fatwa itu karena tak mendapat bagian makan pasir dari Geng Entol. Padahal, konon, Paduka ingin juga mencoba makan pasir supaya menjadi lebih besar. Entah ya tidak dugaan itu, hanya Tuhan-lah yang tahu.

Entol cs. masih banyak helah. Mereka terus berunding di dalam dan luar negeri. Soalnya, mereka betul-betul sudah kerasukan pasir bak orang ketagihan narkoba. Akhirnya, diperolehlah ide besar: pendalaman alur laut. Dengan pendalaman alur laut, kapal besar-besar, dalam dan luar negeri, akan dapat berlabuh. Devisa negara akan masuk bagai dicurahkan dari langit, dari cukai labuh kapal. Rakyat akan sejahtera. Itulah iklan yang mereka sebarkan setiap hari, baik secara langsung maupun melalui media, termasuk media sosial yang pengelolanya telah ditunjuk. Pokoknya, gerakan mereka semakin terorganisasi demikian canggihnya.

Dewan rakyat pun tergoda oleh iklan itu. Mereka telah mengetukkan tukul ke kepala masing-masing berkali-kali tanda bersetuju. Konon, anggotanya yang bernama Markus yang paling nyaring berteriak setuju. Entol pun telah membayangkan lemaknya makan pasir kembali. Tak sesiapa pun dapat menghalangi rencananya lagi. Dari Negeri Seberang telepon terus-menerus berdering.

Tiba-tiba, Ahad lalu surat kabar terbesar di kampung itu, Pos Bantuan namanya, menurunkan liputan khusus tentang geng kerasukan pasir. “Menggali Kubur untuk Anak Cucu” tajuknya. Bagai terbakar membacanya, Entol jadi rinsa. Jangan-jangan masyarakat terpengaruh setelah membaca tulisan itu. Akibatnya, rencana besarnya boleh jadi gagal besar.

Ibu Entol baru tahu perilaku aneh anaknya. Bujang terpaksa memberitahukan tabiat Entol kepada ibu bekas kawannya itu. Maksudnya, kalau terjadi sesuatu terhadap Entol kelak, ibunya tak terperanjat atau terpukul. Selama ini ibunya mengira anaknya memang tumbuh menjadi orang baik-baik dan berhasil dalam hidup karena bekerja keras dari bisnis halalnya. Mendapat kabar dari Bujang, perempuan tua yang baik hati itu jadi malu semalu-malunya. Dia menangis pilu sejadi-jadinya dan air matanya pun menitik jatuh, terus mengalir sampai jauh, meresap ke seluruh tanah dan pasir ke sekutah-kutah negeri.

Hari masih pagi. Matahari baru saja muncul agak malas karena dihalangi oleh awan hitam yang cukup pekat. Mungkin tak lama lagi akan turun hujan lebat. Dalam suasana itulah tiba-tiba lidah Entol kecur hendak bangat makan pasir. Pokoknya, sarapan paginya hari ini harus pasir. Macam orang perempuan hamil muda mengidam rasanya. Air liurnya keluar berjujuh-jujuh. Tak sanggup lagi dia menahan tagihnya makan pasir, yang telah diamalkannya sekian tahun. Lezat dan lemaknya terus saja menggoda laksana mengerenyam di otaknya. Dia tak lena tidur karena terus membayangkan makanan favoritnya itu.

Tak berlengah lagi, diambilnya pasir di halaman rumahnya dan dihadapinya pasir sebakul penuh. Apakah yang terjadi sejurus kemudian? Pasir-pasir itu tiba-tiba berubah menjadi ulat, lipan, lipas, ular, kalajengking, biawak, dan bangkai tikus. Hewan-hewan itu berwujud dalam pelbagai ukuran besar-kecil dan berwarna-warni. Perubahan wujud seaneh-anehnya itu tak menyurutkan Entol untuk melahapnya sampai habis. Nafsunya untuk menyantap pasir demikian menggebu-gebu sehingga mengalahkan rasa mual dan takut manusia normal ketika berhadapan dengan binatang yang menjijikkan dan mengerikan.

“Sedaaap aaaakh!” katanya, sambil terus mengunyah dan menyantap hidangan khas sarapan pagi itu dengan lahapnya. Mulutnya mencuap-cuap bagai menikmati makanan panas, pedas, lemak, masam, dan manis yang berbaur menjadi satu rasa.

Ketika menyantap makanan yang aneh-aneh itu, tiba-tiba tubuh Entol pun ikut berubah. Kepalanya membesar, matanya menjojol keluar, giginya mengeluarkan taring yang besar-besar, perutnya terus membuncit nyaris meletus, kakinya berubah bak kaki gajah, badannya bersisik keras bagai kulit penyu, lidahnya terjulur laksana lidah komodo, dan suaranya pun berubah seperti gonggongan serigala yang sedang melihat hantu pada malam hari.

Alangkah terkejutnya Entol melihat perubahan fisiknya itu. Dia menjerit panjang sambil berlari ke sana ke mari. Rasanya dia telah berusaha berteriak minta tolong seperti manusia normal dengan teriakan, Tolooooooong!” Kenyataannya, suara yang keluar dari mulutnya malah, “Kung kuuung kuuuuuuung …” persis suara serigala yang melolong panjang.

Orang-orang kampung mendengar suara gonggongan serigala yang sangat aneh. Pelbagai pikiran bermunculan di benak mereka. Malah, banyak yang berasa ngeri dan takut mendengarkan suara gonggongan yang tak biasa itu. Walaupun begitu, rasa ingin tahu mengalahkan rasa ngeri mereka. Berbondong-bondonglah mereka berlari ke arah suara gonggongan aneh itu.

Alangkah terkejutnya mereka. Ternyata, sumber suara aneh itu berasal dari rumah Tuan Besar Entol.

Mereka semakin terkejut setelah sampai di rumah itu. Sesosok makhluk aneh seaneh-anehnya keluar dari rumah sambil meraung dan menggonggong seraya menggeliat dan menggelepar-gelepar. Melihat makhluk yang sangat mengerikan itu, orang kampung pun lari bertempiaran ke sana ke mari tak tentu arahnya. Ada yang ke pantai, ada yang ke hutan, ada yang ke bukit. Bahkan, ada yang menceburkan diri ke sungai untuk bersembunyi. Mereka khawatir diserang oleh “serigala” superaneh lagi buruk rupa.

Di sebalik dinding rumah itu sesosok makhluk misterius mengintip segala tingkah laku Tuan Besar Entol yang berubah wujud seaneh-anehnya setelah makan pasir. Makhluk yang entah dari mana asalnya itu menyeringai. Sambil berlalu meninggalkan Entol yang terus menggonggong, mengerang, dan meraung, dia bersiul lagu “Anak Anjing Saya” dengan irama gambus yang dipadu rentak Mak Inang Melenggang Sayang.***

Kerasukan Pasir (1)

0
aerial shot of sand dunes
Photo by Pixabay on Pexels.com

ENTOL naik, lalu masuk ke rumah dengan mengendap-endap. Tak lama di dalam rumah, dia keluar lagi dari pintu belakang, melalui dapur, terus ke belakang rumah menuju perigi untuk mandi. Sekujur badan dan pakaiannya berkubang, berselekeh, terkena tanah dan pasir. Sejak pulang dari sekolah dia pergi bermain bersama kawan-kawan sebayanya. Bakda magrib, baru dia pulang.

Keadaan di perigi sangat gelap ketika dia mandi. Bagi Entol mandi di kegelapan malam tak pernah menyulitkannya. Semua orang sekampungnya terbiasa dengan keadaan itu. Tak heranlah matanya bagaikan mata musang yang dapat melihat jelas di kegelapan malam.

Sekejap saja dia mandi, sekadar bersiram, membasuh badan dan kepala ala kadarnya. Bersabun pun dia tidak. Dia naik ke rumah terus ke biliknya untuk bersalin pakaian. Dia keluar lagi menuju dapur dan bersila menghadapi hidangan yang tersedia. Dengan takzim Entol membuka tudung saji. Alangkah terkejutnya dia.

Ibu dan bapaknya yang telah selesai salat Magrib memandang tingkah laku anak laki-laki mereka itu tanpa berkata sepatah pun. Ekor mata mereka saja yang mengikuti segala gerak-geri Entol.

 “Mak, tak ada makanankah? Entol lapar betullah Mak?” dia bertanya kepada ibunya karena di bawah tudung saji tak ada makanan. Biasanya sesusah-susahnya hidup mereka, walau tak ada nasi, sagu atau ubi dan lauk-pauk sekadarnya pasti ada.

“Apa? Makan? Tahu lapar juga kau ya!” sergah ibunya. “Kan engkau membawa pasir di badan dan pakaian yang engkau pakai tadi? Sudah Emak cakap, kalau hendak bermain, selesai salat Ashar baru bermain dan harus balik sebelum Magrib. Anak seumur engkau memang harus bermain, tetapi harus ada peraturan. Sudah sembilan tahun umur engkau, Entol, tak salat pula. Ashar tinggal, Magrib pun luput. Isya nanti pasti tak salat juga, sudah mengantuk karena penat. Belajar di rumah tak pernah Emak nampak lagi akhir-akhir ini.”

“Tak menunaikan salat, sudah besar nanti hendak jadi apa? Jadi pengikut iblis, punggawa setan ya? Itukah cita-cita tertinggimu, Entol? Ini semua salah bapak dia,” ibu Si Entol mengarahkan pandangannya ke arah bapak Si Entol sekejap, lalu melanjutkan, “terlalu memanjakan anak, inilah akibatnya. Tak ada makanan malam ini. Kalau hendak makan, engkau makan pasir di bajumu saja!” ibunya bingkas berdiri lalu masuk ke bilik.

Bapaknya juga mengikuti ibunya masuk ke bilik tidur. Lelaki yang mulai menua itu tak sepatah pun berkata-kata. Dia hanya memandang anak laki-lakinya itu dengan pandangan tajam menghunjam sejurus saja terus berbalik ke  arah bilik, lalu masuk menyusul istrinya. Jantungnya berdegup kencang karena menahan amarah yang amat sangat.

Waktu berjalan begitu cepat. Si Entol pun teruslah membesar. Bukan hanya badannya yang besar, dia pun telah menjadi orang besar. Rumahnya juga besar dengan bilik yang juga besar-besar. Ruang makannya pun besar, tak seperti rumah orang tuanya dulu yang ruang makannya menyatu dengan dapur dan dibatasi sedikit saja dengan ruang tengah.

Itu baru rumah besar yang dibangun di kampungnya. Rumahnya di tempat lain jauh lebih besar. Dia sengaja membeli rumah besar-besar di tempat-tempat lain yang tempatnya juga besar-besar karena tahu kampungnya kian mengecil. Suatu hari kelak tak ada lagi tempat yang layak dihuni, apatah lagi bagi orang besar seperti dirinya.

Kebesarannya dilengkapi dengan beberapa mobil yang juga besar-besar. Duitnya semuanya duit besar. Sesekali dia bersedekah duit kecil-kecil kepada orang-orang kecil agar kebesarannya terawat. Strategi merawat kebesarannya itu dilakukannya dengan menjual slogan “Tolacil” yaitu akronim dari “Tuan Besar Entol Pembela Orang Kecil”. Di kalangan masyarakat sekampungnya slogan itu sudah sangat dikenal. Tak heranlah ada orang kecil yang menyapanya dengan panggilan Tuan Tolacil.

Kadang kala ada juga masyarakat kampung yang kecewa terhadapnya. Penyebabnya pastilah mereka tak mendapatkan duit kecil dari Tuan Tolacil. Kalau sudah begitu, akronim Tolacil pun dipelesetkan artinya menjadi Si Tolol Berotak Kecil. Tentulah mereka tak berani mengatakan pelesetan itu secara terus terang di hadapan Tuan Entol. Pasalnya, kalau Tuan Besar itu tahu nyawalah taruhannya bagi si pengeritik, siapa pun orangnya. Tak sesiapa pun boleh mengeritik Tuan Besar Entol. Itu hukum yang berlaku dalam kehidupan besarnya kini. Kalau tak percaya, cobalah. Nescaya, nyawa akan melayang!

Memang selalu juga Entol tak memberikan duit kecil kepada masyarakat kecil yang konon hendak dibelanya. Keenakan diberi, rupanya banyak pula warga masyarakat itu yang terus-menerus meminta kepadanya. “Jika terus begini, gunung pun akan runtuh,” kutuk Entol kepada para peminta kecilnya.

Kalau berbicara pun sekarang, dia suka bercakap besar. Tak ada lagi kamus kecil yang melekat dalam diri seorang Entol. Yang kecil telah lama ditinggalkannya sebagai masa lalu yang tak hendak dikenangnya lagi. Hari ini dan ke depan adalah yang besar-besar. Hanya dengan sikap seperti itulah seseorang boleh menjadi besar, pikirnya. Oleh sebab itu, dia terus memburu kebesaran, apa pun caranya pasti ditempuhnya, tanpa mempertimbangkan risiko bagi dirinya, apatah lagi bagi orang lain. “Apa peduliku kepada orang lain!” itu tekad yang ditanamkannya ke dalam dirinya.

Rupanya ada rahasia besar di sebalik membesarnya Entol begitu pesat. Kesemuanya berkaitan dengan pasir. Dahulu walau disuruh makan pasir oleh ibunya karena orang tuanya itu marah kepadanya, dia tak pernah berani memakannya.

“Mana mungkin pasir dimakan,” pikirnya kala masih kecil. Kemudian, dia berubah pikiran. “Baik kucoba makan pasir seperti yang dianjurkan oleh Emak,” dia membatin, “mana tahu dengan makan pasir, aku boleh membesar dengan cepat. Soalnya, selalu minum susu Cap Nona yang menjadi kebiasaanku pun tak membuatku membesar secara fantastis.”

Betul, dia makan pasir: sekali, dua, terus berkali-kali, sampailah dia ketagihan. Sejak itu, dia tak pilih-pilih: pasir darat, pasir sungai, pasir laut, pasir gunung dihembatnya semua. Pokoknya pasir. Rupanya lagi, makan pasir terasa lezat dan nikmat bangat.

Hebatnya pula, kala hendak makan pasir dibayangkannya menikmati makanan yang lezat di restoran besar. Tiba-tiba, dia sudah berada di restoran besar dan menikmati makanan yang lezat pula, persis yang ada dalam pikirannya.  Jika dia membayangkan makan besar di restoran besar suatu negeri besar, dia pun tiba-tiba telah berada di negeri besar itu sambil menghadapi hidangan besar di restoran besar yang dibayangkannya. Bahkan, rumah besar, mobil besar, tanah besar, dan duit besar yang dibayangkannya kesemuanya terwujud.

Ajaib sungguh makan pasir. Makin besar pasir yang dimakan, akan makin besar pula keajaiban yang ditimbulkannya. Sungguh luar biasa! 

Setelah jadi orang besar, Entol menjadi aset nasional. Kawan-kawannya pun kesemuanya orang besar-besar yang bermain di peringkat nasional dan internasional. Kalau dulu kawan-kawannya hanyalah Bujang, Atan, Borol, Dara, Bangkup, Comel, yang budak-budak sekampungnya saja. Kini kawan-kawan semasa kecilnya itu tak menjadi kawannya lagi, tak selevel dengan dialah konon, malah menjadi musuhnya, kecuali Borol dan Bangkup yang kini mendapat status baru menjadi kaki-tangannya.

Kawan-kawan barunya kini ada Jacko, Buncock, Bowjung, Ackey, Cowkown, Carrey, dan masih banyak lagi, yang dulu pun orang kecil juga, tetapi kini kian membesar pula. Mereka membentuk organisasi: Pemakan Pasir Internasional Club. Untuk membesarkan kelab, mereka berbagi ladang pasir, berbagi wilayah permakanan, justeru di kampung Si Entol, bukan di kampung kawan-kawan barunya.

Tentulah jaringan mereka tak hanya di dalam negeri. Di Negeri Seberang banyak pula anggotanya. Kalau berkunjung ke Negeri Seberang, Entol disambut selayaknya menyambut Tuan Besar, ditempatkan di hotel besar, naik mobil besar, dan makan besar di restoran besar. Pasalnya, geng mereka di sana berasa berutang budi kepada Entol. Mereka menjadi makin besar karena makan pasir besar.

Anehnya lagi, tinja mereka yang meresap ke tanah menyebabkan Negeri Seberang bertambah besar berpuluh kali lipat, jauh lebih luas daripada kampung Si Entol. Itulah sebabnya, mereka mendapat untung besar. (BERSAMBUNG)

Cahaya Malam Tujuh Likur

0
Tradisi Lampu Colok Bengkalis Malam tujuh likur , sumber: infopublik.id

MALAM ke-27 Ramadan tepatnya hari itu. Malam Tujuh Likur setiap Ramadan memang senantiasa ditunggu. Dapat berjumpa dengannya saban tahun membuat sesiapa pun begitu bahagia berbaur haru. 

Setelah berbuka puasa dan shalat magrib, Awang dan Dara, kanak-kanak berdua beradik itu, sama-sama membilang. Satu, dua, tiga, Bismillah! Keduanya menyotongkan korek api ke colok khas masing-masing yang sudah dibuatkan oleh ayah mereka sejak dua hari lalu. Begitu disotong, colok Dara memancarkan cahaya api dengan motif “Selendang Delima Melayang Manja” dan milik abangnya, Awang, bercorak “Tanjak Tuah Bersanding Keris Pusaka”. 

Begitu rangkaian colok berhias itu menyala, mereka bersorak gembira. Wajah mereka merona bahagia. Ibu dan ayah saling berpandang sekejap di anjung rumah untuk kemudian ikut ketawa. Colok berhias corak Melayu menjadi ikon rumah mereka sampai dengan malam-malam Aidilfitri nanti. Rumah-rumah jiran pun dihiasi colok-cangkok bercorak istimewa sesuai dengan selera masing-masing.

Langit cemerlang, gemintang berkelip-kelip riang. Hujan pun tak hendak mengusik kebahagiaan. Cahaya colok dan cangkok penuh menghiasi malam: dari rumah ke rumah sampai sepanjang jalan, seluruh kampung. Kanak-kanak berdua beradik itu berpimpin tangan memandangi colok-colok yang menghiasi rumah mereka. Wajah mereka bercahaya, hati keduanya berbunga-bunga.

Tak lama selesai magrib, jemaah telah sampai ke rumah mereka. Acara berdoa pun dimulailah oleh imam masjid. Doa mengucapkan syukur kepada Allah karena mereka sekampung telah dapat melaksanakan rangkaian ibadah Ramadan. Bersamaan dengan itu, mereka bermohon kepada Allah agar dapat melanjutkan ibadah pada sisa Ramadan sampai ke Aidilfitri. Doa juga dimohonkan bagi para arwah yang telah mendahului dan untuk keselamatan serta kesejahteraan kampung halaman mereka.

 Tak lama, hanya sekitar lima belas menit saja. Orang-orang mencicipi hidangan. Kanak-kanak mendapat hadiah juadah utama: apam beras bertabur kelapa parut (kadang-kadang kelapa dicampurkan gula pasir) atau belebat (lepat) dan bingka ubi. Mereka bersorak gembira menerima juadah khas malam tujuh likur itu. 

Pak Imam mengucapkan salam seraya minta izin untuk meninggalkan rumah Pak Likur, lalu menuju rumah Pakcik Atan. Pak Likur sekeluarga tentu saja ikut serta. Memang begitulah tradisinya.

Rumah Makngah Minah, janda dengan tiga orang anak, mendapat giliran dikunjungi terakhir sebelum salat Isya dan tarwih. Kebetulan rumah perempuan shalihah itu di samping masjid. Kendati orang-orang menaruh kasihan kepadanya karena harus membesarkan anak-anaknya seorang diri, Makngah Minah tak pernah menunjukkan kesedihannya. Perempuan itu senantiasa tegar menghadapi dan menjalani kehidupan.

“Tak baik bagi perkembangan anak-anakku   kalau aku bersedih,” jawab perempuan yang ketika daranya dulu menjadi bunga desa itu kepada sahabatnya, Mak Likur suatu hari dahulu. Ketika sedang sendiri, barulah terasa olehnya segala remuk-redam dan rindu-dendam. Aminah tak pernah dapat melepaskan kenangan bersama suaminya tercinta yang tenggelam di laut ketika sedang menjaring ikan, tiga tahun lalu. Mayat suaminya sampai hari ini tak ditemukan. Tiga orang menjadi korban dalam peristiwa angin ribut yang membawa naas itu.

Bakda tarwih, doa bersama dari rumah ke rumah dilanjutkan. Tentulah rombongan harus dibagi-bagi dalam kelompok. Soalnya, semua rumah seisi kampung harus mendapat giliran dalam satu malam. Tak boleh disambung malam besok. Berkat malam tujuh likur ada pada malam ini. Besok dan seterusnya berkat lain lagi, bukan berkat cahaya malam tujuh likur.

Tiba pula giliran rumah Paklong Basar. Long nampaknya agak malu menerima jemaah. Sebaliknya, istrinya, Maklong Buntat menyambut para tamu dengan ramah dan senyum khasnya yang membuat sesiapa pun sulit melupakannya. Anak-anak mereka yang berempat itu pun langsung berbaur dengan teman-teman mereka yang datang dan bermain dengan gembira.

Acara berdoa di rumah keluarga-berada di kampung itu selesailah sudah. Orang-orang akan meminta diri untuk ke rumah yang lain pula. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh tingkah Paklong Basar. Dia menangis sejadi-jadinya sambil memeluk erat Pak Imam. Semua mata tertuju kepadanya dengan pandangan hiba, termasuk anak-istrinya.

“Maafkan saya, Pak Imam. Selama ini saya kurang bergaul di kampung ini. Saya larut dalam urusan sendiri. Saya jarang berjamaah ke masjid. Nyaris lupa dengan saudara-saudara sekampung, bahkan kepada istri dan anak-anak. Saya minta maaf karena lupa diri dan berubah menjadi sombong belakangan ini.”

Paklong Basar termasuk orang yang paling berhasil secara politik dan ekonomi di kampung itu. Dia dapat membesarkan bisnisnya sehingga terkenal ke mana-mana. Karena keberhasilan itu, dia diangkat menjadi pengurus inti partainya. Dengan jabatan itu, dia semakin mudah memperbesarkan bisnisnya dan kelompoknya. Dia jadi lebih banyak bergaul dengan orang-orang luar. Nyaris tak bersinggungan lagi dengan orang-orang sekampungnya belasan tahun. 

Itulah yang menyebabkan dia lupa diri, termasuk lupa kepada kawan-kawan yang menolongnya dulu. Pak Imam termasuk sahabatnya yang paling banyak membantu karir politik Long Basar. Sayangnya, Long bagai kacang lupakan kulit. Padahal, dia hanyalah pemuda dari keluarga yang sangat sederhana sebelumnya, sama dengan masyarakat di kampung itu umumnya.

“Sudahlah, Long. Lupakan saja semua yang telah berlalu. Yang penting Long mau berubah, balik ke pangkal jalan. Kami semua di kampung ini sayang kepada Long sekeluarga. Kita ini keluarga besar, harus saling membantu, saling mengingatkan. Syukurlah sekarang Long sudah sadar. Dunia ini sampai di manalah batasnya, Long,” nasihat Pak Imam kepada Paklong Basar. 

Paklong Basar tak kuasa menahan deraian air mata. Dia terisak-isak. Semua yang hadir juga larut dalam isak tangis. Mereka bersyukur, Long Basar telah kembali ke fitrahnya semula. Masih menangis, Long Basar menyalami jemaah satu per satu, besar-kecil semua disalaminya. 

Sudah lama perbuatan baik itu tak dilakukannya secara ikhlas, kecuali basa-basi untuk kepentingan politik dan bisnisnya. Dia pun memeluk anak-istrinya. Long Basar sungguh berasa tercerahkan pada malam bersimbah cahaya itu.

Pak Imam mengajak Long Basar ikut berkeliling ke rumah-rumah masyarakat. Ajakan itu langsung diterima Long dengan suka cita. Telah lama kebiasaan itu ditinggalkannya, kecuali dalam acara Safari Ramadan, yang juga lebih banyak berhias ungkapan basi daripada basanya yang murni.

Lampu-lampu colok di sekeliling dan di sekitar rumah keluarga Long Basar semakin terang menyala. Ditiup angin sepoi-sepoi malam itu cahayanya menjadi begitu indah. Ada desauan merdu dari elusan kayu dan bambu yang saling menyentuh membuat malam semakin cemerlang. Kanak-kanak semakin asyik bermain dengan riang gembira di ruang bebas beratapkan langit terbentang yang berhias bintang nan sungguh memesona.

Awang dan Dara berpandang-pandangan setelah mendengarkan kisah keistimewaan Malam Tujuh Likur di pengujung malam itu dari orang tua mereka. Mata mereka berkaca-kaca. Dalam hati, mereka bangga memiliki ayah dan ibu yang sangat mencintai mereka. Mereka pun sangat bahagia karena ayah dan ibu senantiasa menjaga adat-istiadat dan tradisi yang baik. Dan, mereka dididik dengan tradisi yang baik pula. Serentak, mereka memeluk ayah-bunda. 

Colok dan cangkok pun meneruskan bakti, memancarkan terang sampai ke pagi. Cahayanya semakin berseri-seri.

Taqabballahu minna wa minkum. Mohon maaf zahir dan batin. Salam Aidilfitri.***    

Ramadan yang Berkesan

0
Bubur Pedas Melayu Medan Tradisi ramadhan masjid Al Mashun Medan. sumber: medcom.id

MATAHARI terbenam di ufuk barat penanda magrib telah tiba. Orang-orang yang berpuasa pun berbuka. Berbeda dengan orang lain, mu’azin hanya mencicipi minuman perbukaan sekadar saja. Beliau langsung melaksanakan tugas rutinnya. 

Azan pun bergumandang mendayu-dayu memecah senja, membahana ke angkasa raya, menyeru manusia untuk merebut kemenangan sebagai undangan dari Allah Yang Mahakuasa. Dua kemenangan besar diperoleh sekaligus. Kemenangan menunaikan ibadah puasa dan kemenangan mendirikan salat, seperti yang diajarkan oleh Baginda Rasulullah pilihan-Nya.

Di rumah-rumah orang berbuka bersama keluarga. Mereka makan bersama menikmati perbukaan yang telah dipersiapkan sejak senja. Pada hari-hari lain di luar Ramadan, entah karena kesibukan masing-masing, barangkali ada di antara anggota keluarga tak sempat makan malam bersama. 

Tatkala Ramadan setiap orang senantiasa berupaya agar dapat berbuka bersama keluarga. Jika karena sesuatu hal seseorang tak dapat bersama keluarga saat berbuka, maka berkuranglah bahagia, berganti duka.

Berbuka bersama menjadi bagian dari tradisi Ramadan. Di dalam masyarakat modern berbuka bersama biasa dilakukan oleh orang-orang sekantor, seperusahaan, separtai, seperkumpulan, sesekolah, dan sebagainya. Tempat-tempat tertentu—biasanya restoran, rumah makan, aula, dan sebagainya—menjadi pilihan untuk tempat berbuka bersama. Tempat-tempat yang memiliki fasilitas untuk salat berjamaah selalu menjadi pilihan utama. Pasalnya, setelah berbuka, orang harus melaksanakan salat magrib. 

Alangkah malangnya jika acara berbuka bersama tak diiringi salat magrib berjamaah karena tempat berbuka tak memiliki fasilitasnya, misalnya. Akibatnya, puasa dikerjakan, tetapi salat magrib terpaksa ditinggalkan. Di tempat-tempat berbuka bersama yang menyediakan fasilitas salat berjamaah tak jarang juga dilangsungkan ibadah salat isya dan tarwih berjamaah. Itulah tempat yang baik untuk menjalin tali silaturahim dengan menggunakan media berbuka bersama.

Masih di dalam masyarakat modern, tradisi berbuka bersama sering juga dimanfaatkan oleh mereka yang sedang memiliki hajat besar yang harus memobilisasi masyarakat. Contohnya, Ramadan datang menjelang dilaksanakannya pemilihan umum atau pemilihan kepala daerah. Tradisi berbuka puasa bersama biasanya dijadikan media oleh para calon untuk menyosialisasikan diri dan atau programnya kepada konstituen dan atau masyarakat pemilih. 

Tak jarang pula tradisi itu dimanfaatkan sebagai unjuk kekuatan kepada calon(-calon) lain di “seberang” yang lain. Kesemuanya sah-sah saja untuk ukuran dunia, selagi tak menyalahi akidah. Asal jangan berbuka bersama, justeru, berubah menjadi perilaku riya. Jika hal yang disebutkan terakhir itu terjadi, nilai ibadah puasa pun sekurang-kurangnya berkurang, kalau tak sampai tercemar sama sekali. Pendek kata, kesemuanya tergantung pada niat dan implementasinya pada saat kegiatan berlangsung.

Dalam acara itu, kita dapat menyaksikan fenomena yang sangat menarik. Walaupun mungkin tak dimaksudkan demikian, susunan duduk orang-orang di dalam majelis itu pun ternyata berlapis-lapis. Lapis pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya sampailah kepada lapis awam yang diukur dari jarak kepentingan dengan sang calon. 

Dapat diduga fenomena yang terjadi jika calonnya menang kelak. Orang-orang yang “menikmati kemenangan” itu sesuailah pula dengan susun-lapis duduknya. Entah calonnya menjadi anggota legislatif atau pemimpin eksekutif (kepala negara atau kepala daerah).

Itu pun jika tak terjadi “kecelakaan” di belakang hari. Misalnya, jasa pemenangannya terlupakan setelah sang calon naik ke singgasana kekuasaan. Padahal, susun-lapis itu terbentuk berdasarkan “kekuatan” yang dimiliki sang tokoh, entah karena kontribusi pemikiran taktik pemenangan yang cemerlang, sederet panjang calon pemilih yang ada di belakang dan dimanfaatkannya, taksiran ketokohannya di dalam masyarakat, dan pelbagai pertimbangan kekuatan lainnya. 

Faktanya senantiasa ada akhir bahagia. Akan tetapi, tak kurang juga akhir duka berkaitan dengan fenomena politik praktis itu. Pendeknya, tak pernah ada penyesalan di depan hari.

Terlepas dari gejala modern yang diperikan di atas, tradisi berbuka bersama yang sesungguhnya dan sebenarnya terjadi di rumah-rumah ibadah, di musalla dan masjid, misalnya. Kegiatan itu diusahakan oleh masyarakat secara mandiri, tanpa campur tangan penguasa. Berbuka bersama dilengkapi dengan menu utama yang disebut bubur berlauk

Di tempat tertentu mungkin ada nama lain seperti bubur pedas atau, bahkan, ada variasi nama lain di daerah lain. Apa pun namanya, jenis juadahnya relatif sama atau mirip. Begitu pula tujuan, proses dan teknik memasaknya, serta cara menikmatinya sama, yakni sama-sama dalam kebersamaan. 

Yang pasti, bubur berlauk itu adalah makanan khas perbukaan berupa bubur nasi atau nasi bubur. Bukan bubur sebarang bubur, melainkan bubur yang segala lauk-pauknya yang terdiri atas ikan, udang, daging, sayur-sayuran, rempah-ratus, dan rencahnya dicampur dan dimasak di dalam kawah (kuali besar) atau periuk besar. 

Aroma lada hitam atau merica begitu terasa. Tak heranlah makanan ini tergolong agak pedas. Kepedasan itu pulalah yang menjadi satu di antara sekian variasi rasa sedapnya, yang sulit dilupakan oleh sesiapa pun yang pernah menikmatinya.

Sesungguhnya, rasa sedap dan keindahan utamanya ada di sini. Masyarakat membawa bahan-bahannya dari rumah masing-masing ke masjid. Biasa juga mereka menyumbangkan sejumlah uang untuk membeli bahan-bahannya. Mereka pulalah yang memasaknya secara bersama-sama di halaman samping atau belakang masjid untuk kemudian dinikmati secara bersama-sama kala berbuka puasa. 

Tentulah ada seorang juru masak yang memimpin proses memasaknya. Namanya juga juru masak, dia seseorang memang ahli memasak dan biasanya dia adalah tukang masak untuk acara-acara besar di kampung seperti acara pesta pernikahan. 

Sesiapa pun yang datang ke masjid untuk salat magrib berjamaah boleh menikmati bubur berlauk itu walaupun dia tak ikut memasaknya. Pendek kata, bubur berlauk memang makanan khas untuk berbuka bersama dan terbuka bagi semua untuk menyantapnya bersama-sama dengan hati yang terbuka. Bahkan, juga terbuka untuk mereka yang tak berpuasa.

Tradisi berbuka bersama dengan menu utama bubur berlauk dilaksanakan untuk memperindahkan Ramadan. Suatu masa dahulu, masa-masa emas kesejahteraannya, hampir merata masyarakat di kawasan berbudaya Melayu-Islam melaksanakannya. Setakat ini, di Kepulauan Riau tradisi itu telah mulai berkurang walaupun belum punah sama sekali.  

Di satu-dua kampung tradisi itu masih berlangsung dengan semarak. Berbeda dengan daerah kita, tradisi itu masih sangat terasa di kalangan masyarakat muslim negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei Darusslam. Di sana masjid-masjid pasti menyediakan makanan perbukaan untuk jemaah dan makanan khas lagi istimewanya tentulah bubur berlauk.

Begitulah Ramadan yang penuh berkah. Ianya menyerlahkan nilai-nilai yang bermanfaat bagi manusia. Tradisi berbuka bersama, apatah lagi yang dilaksanakan di rumah-rumah ibadah, sarat akan nilai sosial-kemasyarakatan. Nilai yang dimaksudkan itu adalah kebersamaan dan bertimbang rasa (empati), yang menjelma dari nilai religius yang terpatri di hati. 

Di dalam bulan yang penuh maghfirah ini janganlah sampai terjadi yang sebaliknya. Ada orang tak dapat berpuasa. Pasalnya, hanya karena mereka tak sanggup menyediakan makanan dan juadah ketika bersahur dan berbuka. Seyogianya, Ramadan membawa berkah bagi semua umat manusia.***

Sang Pengokoh Persatuan Bangsa

0

HARI itu Sabtu, 29 April 2000. Pekanbaru, ibukota Provinsi Riau, kedatangan tamu istimewa, Presiden IV Republik Indonesia (RI), K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang kehadirannya memang ditunggu. 

Di antara agenda kegiatannya membuka Temu Akbar I Thariqat Mu’tabarah Se-Sumatera di Masjid Agung Annur. Dalam pidato beliau ditegaskan mustahaknya persatuan dan kesatuan bangsa. Sesuai dengan tema pidatonya, Gus Dur menyatakan pengakuan resmi Pemerintah RI terhadap jasa Raja Ali Haji rahimahullah (RAH) mempersatukan bangsa.

“Tanpa jasa beliau itu (RAH, pen.), kita belum tentu menjadi bangsa yang kokoh seperti sekarang ini.” Pernyataan Presiden karismatik itu disambut dengan tepuk tangan yang bergemuruh dan membahana di ruang masjid kebanggaan rakyat Riau itu.

Bagaimanakah Gus Dur, dalam kapasitas beliau sebagai Presiden RI, boleh membuat simpulan yang signifikan itu? Adakah karena beliau berkunjung ke Provinsi Melayu (sekarang Provinsi Riau dan Provinsi Kepulauan Riau, sejak 2002), lalu beliau hendak menyenangkan hati rakyat dari kalangan Melayu? Perian akan datang ini menyerlahkan kecerdasan dan kearifan Presiden yang juga seorang Kyai itu dalam  perkara ini.

Kejeniusan RAH dalam bidang bahasa telah diketahui luas sejak lama, bahkan oleh pemimpin penjajah Belanda. Pada1849 Gubernur Jenderal Rochussen di Batavia membuat keputusan penting. Pertama, Pemerintah Hindia-Belanda akan mendirikan sekolah bagi anak-anak pribumi. Kedua, bahasa pengantar pendidikan pribumi itu adalah bahasa Melayu. 

Alasannya, bahasa Melayu kala itu telah tersebar luas ke seluruh nusantara. Dalam pada itu, para raja dan seluruh rakyat nusantara menolak penggunaan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar pendidikan di Hindia-Belanda (Indonesia, sekarang). Masalahnya adalah bahasa komunikasi sehari-hari tak serta-merta dapat digunakan sebagai bahasa pendidikan. Dalam hal ini, bahasa pendidikan harus memenuhi standar kebakuan yang memadai.  

Dalam konteks itulah, Pemerintah Hindia-Belanda merekomendasikan karya RAH sebagai rujukan utama. Pertama, Syair Abdul Muluk (1846) telah dikenal luas, diterjemahkan, dan diterbitkan di majalah berbahasa Belanda Tijdschrift voor Nederlands Indie (1847). Kedua, Gurindam Dua Belas (1847) sebagai karya agung, juga dimuat dalam Tijdshrift van het Bataviaasch Genootschap ll, 1854. Kedua karya berbahasa Melayu Tinggi Kesultanan Riau-Lingga itu telah tersebar luas. Jadi, karya RAH telah menyelesaikan persoalan rujukan bahasa pengantar pendidikan bagi pribumi di Hindia-Belanda.

Dalam kelanjutan programnya, Belanda pada 1857-1873 mengutus pakar bahasa mereka H. von de Wall ke Kesultanan Riau-Lingga (Tanjungpinang) untuk mendalami bahasa Melayu. Beliau ditugasi menyusun buku tata bahasa Melayu serta kamus Melayu-Belanda dan Belanda-Melayu yang akan digunakan dalam pendidikan pribumi. Berdasarkan penilaian Pemerintah Hindia-Belanda, bahasa Melayu Riau-Lingga dijadikan acuan karena masih terpelihara dan paling murni di antara dialek Melayu yang ada di nusantara.

Von de Wall menunjuk RAH dan Haji Ibrahim (juga penulis ternama Riau-Lingga) sebagai konsultan pakar. Bersamaan dengan tugas barunya itu, RAH menyelesaikan buku beliau Bustan al-Katibin, buku tata bahasa dan ejaan baku bahasa Melayu,1850. Berikutnya, beliau menerbitkan Kitab Pengetahuan Bahasa, kamus bahasa Melayu, 1858. Dengan demikian, pendidikan pribumi mendapatkan rujukan yang lebih baik tentang tata bahasa dan kosakata bahasa Melayu. 

Kedua karyanya itu telah mencatatkan RAH sebagai pakar bahasa (linguis) pertama dari kalangan pribumi. Lebih daripada itu, karya beliau menjadi rujukan utama bagi pendidikan anak bangsa nusantara kala itu.

Dalam pada itu, Haji Ibrahim pun menulis buku etimologi (asal-usul kata bahasa Melayu). Jilid I diterbitkan pada 1868 dan jilid II pada 1872. Kedua buku itu diterbitkan di Batavia.

Setelah keputusan Rochussen, Pemerintah Hindia-Belanda membuat keputusan penting baru tentang pendidikan bagi pribumi. Pada 1872 diberlakukan “Peraturan untuk Pendidikan Dasar Pribumi”.    Di antaranya pada Pasal 28 tertuang kebijakan berikut.

“Untuk pendidikan dalam bahasa rakyat, dipakai bahasa yang paling murni ucapannya dan yang paling berkembang di tempat-tempat itu. Bahasa Melayu akan diajarkan menurut aturan dan ejaan bahasa Melayu murni yang dipergunakan di Kepulauan Riau.”

Teserlah bangat pengaruh RAH dan atau bahasa Melayu Tinggi Riau-Lingga di dalam peraturan yang dibuat Belanda itu. Dalam hal ini, hasil pendidikan yang diperoleh H. von de Wall dari RAH dan Haji Ibrahim jelas manfaatnya. Kalangan terdidik pribumi pun semakin banyak yang mahir berbahasa Melayu baku.

Waktu terus berlalu. Sampailah ke masa pergerakan nasional. Pada 28 Agustus 1916 Ki Hajar Dewantara diundang sebagai pembicara Kongres Pengajaran Kolonial di Den Haag, Belanda. Dalam kongres itulah, beliau mengusulkan pemakaian bahasa Melayu untuk pergerakan kebangsaan dan bahasa persatuan setelah Indonesia merdeka. Sebuah gagasan yang cerdas, rasional, dan sangat patriotik.

Pada 2 Mei 1926 dilaksanakan Kongres I Pemuda Indonesia di Jakarta. Dalam kongres ini juga dibahas usulan tentang bahasa nasional. M. Yamin mengusulkan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional Indonesia. M. Tabrani juga mengusulkan bahasa Melayu, tetapi dengan perubahan nama menjadi bahasa Indonesia. Usul M. Tabrani diterima seluruh peserta kongres.

Pada 28 Oktober 1928 diselenggarakan Kongres II Pemuda Indonesia, juga di Jakarta. Putusan Kongres II ini mengukuhkan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia, yang disebut sebagai bahasa persatuan, dijunjung oleh seluruh anak bangsa Indonesia.

Lima tahun setelah Kongres II Pemuda Indonesia masih ada juga pihak yang tak memahami apakah yang dimaksud dengan bahasa Indonesia. Berhubung dengan itu, S.T. Alisjahbana menjelaskannya dalam Majalah Pujangga Baru, 1933.

“Nyatalah kepada kita, bahwa perbedaan yang sering dikemukakan orang [antara bahasa Melayu dan bahasa Indonesia] itu tiada beralasan sedikit juapun. Dan saya yakin, bahwa meski bagaimana sekalipun orang tiada akan mungkin menunjukkan perbedaan yang se-sungguh2nya nyata antara bahasa yang disebut sekarang bahasa Indonesia dengan bahasa yang disebut bahasa Melayu.”

Bahkan, sepuluh tahun berikut pun hal itu masih diperdebatkan. Itulah sebabnya, Ki Hajar Dewantara dalam Kongres I Bahasa Indonesia, Solo, 1938, menjelaskannya.

“Yang dinamakan ‘bahasa Indonesia’ adalah bahasa Melayu. Dasarnya berasal dari ‘Melayu Riau’.”

Perdebatan tak kunjung berakhir. Oleh itu, Muhammad Hatta, Bapak Proklamator dan Wakil Presiden I Republik Indonesia (RI) menjadi ikut menegaskannya.

“Pada permulaan abad ke-20 ini bahasa Indonesia belum dikenal. Yang dikenal sebagai lingua franca ialah bahasa Melayu Riau. Orang Belanda menyebutnya Riouw Maleisch. Ada yang menyebutnya berasal [dari] logat sebuah pulau kecil yang bernama Pulau Penyengat dalam lingkungan Pulau Riau (Pelangi 1979, 154-155).

Bersabit dengan semua itulah Pemerintah RI, kemudian, menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional dan Bapak Bahasa Indonesia kepada Raja Ali Haji. Beliau merupakan tokoh utama perjuangan bahasa Melayu menjadi Bahasa Nasional RI, yang pada gilirannya memperkokoh persatuan bangsa seperti kata Gus Dur. Penyerahan plakatnya dilaksanakan oleh Presiden VI RI, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, di Istana Negara, Jakarta, 11 November 2004. 

Mengapakah bahasa Melayu Riau-Lingga yang dikembangkan dan dibina oleh RAH terkesan begitu istimewa? Tanyaan itu dijawab oleh van Ophuijsen (1910), antara lain, sebagian besar kepustakaan tertulis ada dalam bahasa itu. Dan, struktur bahasa Melayu Riau-Lingga itu mantap sehingga dapat menjadi bahasa internasional. Itulah di antara ciri khas terpentingnya dan paling menentukan dibandingkan bahasa lain di nusantara. Selebihnya, bahasa Indonesia ya, bahasa Melayu.***

Bahasa Kita Bahasa Dunia

0
Sumber gambar : narabahasa.id

BAHASA Melayu dan atau bahasa Indonesia ternyata sangat diminati oleh masyarakat berbilang bangsa. Minat bangsa asing, baik Timur maupun Barat, terhadap bahasa dan budaya nusantara sebetulnya telah dimulai sejak mereka mengenal alam dan tamadun nusantara. 

Keperkasaan dan kemahiran kebaharian bangsa nusantara pada masa lampau menjadi salah satu penyebab budaya kita dipelajari oleh masyarakat berbilang bangsa. Di samping itu, mereka sangat tergiur terhadap kelimpahan alam kita. Pada era sekarang, justeru, minat masyarakat antarbangsa terhadap bahasa dan budaya kita semakin menggelora.

Bahasa Melayu atau bahasa Indonesia sampai setakat ini paling banyak dipelajari di banyak negara luar. Kenyataan itu sesuai dengan salah satu fungsi bahasa sebagai alat komunikasi. Hal itu berarti untuk mengenal bangsa Indonesia dan budayanya, orang asing terlebih dahulu harus menguasai bahasa Indonesia. Bahkan, selain bahasa nasional, bahasa-bahasa daerah di Indonesia memiliki kelompok peminat yang tak sedikit di luar negeri.

Salah satu stasiun TV swasta di Jakarta beberapa waktu lalu menampilkan liputan perkuliahan bahasa Indonesia di University of Melbourne, Australia. Gambar diambil ketika para mahasiswa sedang berdiskusi di bawah bimbingan dosennya. Terlihat jelas para mahasiswa itu sangat tekun mengikuti perkuliahan. 

Sebagai perbandingan, selama saya menjadi dosen, tak kurang dari 35 tahun, belum pernah saya menjumpai mahasiswa Indonesia belajar bahasa Indonesia seserius itu. Kecuali, ketika saya mengajarkan mahasiswa Universitas Leiden, Belanda, dan mahasiswa National University of Singapore, Singapura, yang tingkat kesungguhannya hampir sama dengan mahasiswa Australia yang diliput oleh TV swasta tersebut.

Memang demikianlah adanya. Bagi penutur asli, berbahasa sendiri ibarat bernapas. Ketika orang selesa (nyaman) bernapas, napas dan proses bernapas tak pernah menjadi perhatian utama. Bilakah pernapasan itu mulai menarik perhatian manusia? Jawabnya, ketika manusia terserang semput (sulit bernapas). Kala itu barulah napas dan pernapasan mendapat perhatian yang seserius-seriusnya.

Para mahasiswa Australia tadi dibimbing oleh profesor bahasa yang berasal dari Amerika Serikat. Beliau, bahkan, bukan sarjana bahasa Indonesia, melainkan sarjana bahasa Inggris. Akan tetapi, beliau pernah mengajarkan bahasa Inggris di salah satu universitas di Indonesia. Selama di Indonesia beliau juga banyak belajar kebudayaan dan kesenian Indonesia, khasnya gamelan Cirebon, yang menarik perhatiannya.

Sebagai profesor bahasa, pengetahuan kebahasaan (linguistik) sang dosen tak perlu diragukan. Hanya dalam hal lafal (ucapan) dan intonasi bahasa Indonesianya memang menjadi masalah. Beliau belum dapat berbahasa Indonesia dengan lafal dan intonasi yang seharusnya. Bahasa Indonesia diucapkannya dengan lafal dan intonasi bahasa Inggris seperti lazimnya orang Barat berbahasa Indonesia. Walaupun begitu, kita dapat memahami bahasa Indonesia yang diucapkannya kendatipun kedengaran “aneh” dan di sana-sini cenderung lucu.

Selain mengajarkan bahasa, sang profesor juga mengajarkan kesenian Indonesia, khasnya gamelan Cirebon. Sekali lagi, para mahasiswa itu menunjukkan keseriusan yang luar biasa. Apakah yang menjadi penyebab kesemuanya itu?

Para mahasiswa Australia belajar bahasa Indonesia dengan pelbagai latar pengalaman sebelumnya. Ada di antara mereka yang memang telah belajar bahasa Indonesia sejak sekolah dasar karena di sekolahnya bahasa Indonesia menjadi mata pelajaran wajib. Ada pula yang baru belajar setelah di sekolah menengah, baik sebagai mata pelajaran pilihan maupun wajib. 

Kesemuanya mengaku belum lancar berbahasa Indonesia walau telah belajar bertahun-tahun. Keadaan itu menggesa mereka untuk belajar lebih giat lagi supaya betul-betul fasih berbahasa Indonesia. Hambatan seperti itu memang lumrah dihadapi karena mereka bukan penutur asli bahasa Indonesia dan hidup di luar lingkungan Indonesia.

Hambatan yang dihadapi oleh peserta didik Indonesia yang belajar bahasa asing di dalam negeri begitu juga. Pasalnya, sehari-hari mereka berbahasa Indonesia dan atau berbahasa daerah. Pembelajar Singapura lebih cepat menguasai bahasa Inggris, misalnya, karena bahasa sehari-hari antaretnis di sana adalah bahasa Inggris Singapura (Singlish). Dengan kata lain, di Singapura bahasa Inggris menjadi bahasa kedua seperti halnya kedudukan bahasa Indonesia bagi bangsa Indonesia umumnya.

Yang juga menarik adalah motivasi peserta didik dan mahasiswa Australia belajar bahasa Indonesia. Di antaranya dengan motivasi integratif yaitu mereka ingin bergaul dengan orang Indonesia. Menurut mereka, masyarakat dan budaya Indonesia umumnya baik sehingga mereka hendak mengenal dan bergaul lebih rapat lagi dengan bangsa Indonesia sebagai tetangga.

Memang ada juga kekhawatiran mereka tentang pelbagai peristiwa kekerasan yang pernah terjadi di Indonesia beberapa waktu lalu. Dalam peristiwa berdarah “Bom Bali”, misalnya, pelancong Australia termasuk yang terbanyak menjadi korban. 

Bagaimanapun mereka menyadari bahwa kekerasan bukan karakter asli orang Indonesia. Kesemuanya itu dipicu oleh motivasi politik dan ekonomi oleh segelintir orang, Indonesia dan asing, untuk mendapatkan keuntungan politik dan ekonomi dari keadaan Indonesia yang agak labil.

Sebagian mahasiswa asing itu belajar dengan motivasi instrumental. Mereka hendak bekerja di Indonesia suatu hari kelak. Begitulah Indonesia menjadi negara tujuan utama mereka sebagai tempat bekerja. Mereka berasal dari pelbagai spesialisasi ilmu: kedokteran, teknik, pendidikan, kelautan, pertambangan, dan lain-lain. Dengan demikian, mereka menganggap bahwa Indonesia merupakan pasar kerja yang menjanjikan, sekarang dan ke depan. 

Sebagai orang asing, apatah lagi Barat, tentulah mereka akan mendapatkan gaji yang lebih besar. Bukankah aksi mogok yang dilakukan oleh pilot Garuda beberapa waktu lalu di Jakarta dipicu oleh alasan itu? Dalam hal ini, pilot Indonesia menuntut gaji yang sama dengan pilot asing. Kenyataannya di negara kita segala yang berbau asing cenderung mendapat tempat yang terhormat. Indonesia juga memang dikenal sebagai surga bagi (orang) asing.

Di Jepang pun kegilaan terhadap bahasa dan budaya Indonesia semakin menjadi-jadi. Selain bahasa, musik Indonesia, terutama musik dangdut, menjadi hiburan yang banyak dicari. Bahkan, kini telah ada musisi Jepang yang membentuk kelompok musik dangdut Indonesia dan sangat digemari di sana. Gejala serupa juga terjadi di Amerika Serikat. 

Kuliner Indonesia pun menjadi primadona di Negeri Sakura. Jepang, selain dikenal sebagai bangsa yang pernah menjajah Indonesia, sekarang bagi orang Indonesia lebih menarik perhatian. Pasalnya, selain kemajuannya pada segala bidang, pemimpinnya siap mundur jika ternyata gagal memenuhi janji kampanyenya walaupun baru menjabat dalam hitungan hari. Fenomena itu nyaris tak ditemukan di Indonesia.

Begitulah apresiasi bangsa asing terhadap bahasa dan budaya kita. Di negara kita, justeru, budaya sendiri nyaris asing di kalangan peserta didik. Kalau keadaan itu terus berlanjut, bukan tak mungkin, suatu ketika nanti bangsa asinglah yang lebih menguasai dan mendapatkan manfaat lebih dari kekayaan dan keunikan budaya kita. Semoga perkara serius ini mendapat perhatian ekstra dalam program pembangunan bangsa kita. 

Gejala positif tentang minat bangsa asing terhadap bahasa (dan budaya) kita seyogianya dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk mengangkat kedudukan bahasa Indonesia. Dalam hal ini, bahasa Indonesia dapat menjadi bahasa internasional yang diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Lagi pula, bahasa kita termasuk lima besar dunia. Moga dipermudahkanlah urusan ini hendaknya.*** 

Baharu

Hak Cipta Terpelihara. Silakan Bagikan melalui tautan artikel