Beranda blog Halaman 10

Akhbar Jawi Peranakan di Singapura (1876-1896)

0
Halaman muka Akhbar Jawi Perenakan edisi Nomor 563, 16 Januari 1888. (foto: dok. aswandi)

Punya Perwakilan di Pulau Penyengat

Kehadiran majalah Peringatan sebagai  pers (berbahasa Melayu) pertama dan sekaligus menjadi tonggak  penting dalam sejarah pers di Kepulauan Riau pada tahun 1939, tidak lepas dari peranan dan pengaruh yang dimainkan Singapura sebagai tempat akhbar-akbar (surat kabar) berbahasa Melayu di rantau ini mula bertapak.

Tidaklah berlebihan bila mengatakan bahwa perjalanan sejarah pers awal di Kepulauan Riau mengambil jalan yang berbeda dari perjalanan sejarah pers di daerah lainnya di Indonesia: karena yang menjadi rujukan dan “kiblat” para perintis sejarah pers awal di Kepulauan Riau di Tanjungpinang pada awal-awal abad ke-20 bukanlah kota-kota pers yang penting di Jawa dan Sumatra, akan tetapi Singpura.

Hal ini bukan saja kerena letak geografis Kepulauan Riau  yang memungkinkan komunikasi dengan Singapura pada masa lalu lebih mudah dan cepat jika dibandingan dengan “pusat denyut sejarah” di Sumatra dan Jawa, tapi juga karena kait-kelindan sejarahnya.  Selain itu, sejak akhir akhir abad ke-19 hingga awal-awal abd ke-20, Singapura yang telah berkembang menjadi salah satu bandar penting di rantau ini, dan  telah tampil sebagai tempat berseminya “gagasan-gagasan” kemajuan dan pembaharuan di kalangan “generasi Melayu baru” yang sedang berdepan-depan dengan dengan “kuasa Barat” sebagaimana telah didedahkan oleh William R. Roff dalam bukunya yang sangat terkenal, The Origins of Malay Nationalism (1975).


Halaman muka Akhbar Jawi Perenakan edisi Nomor 214, 28 Maret  1881. (foto: dok. aswandi)

Laman kutubkhnah minggu ini akan menyibak peran Singapura yang penting artinya bagi awal sejarah pers (berbahasa Melayu) di Kepulauan Riau melalui sebuah akhbar (surat kabar) bernama Jawi Peranakan yang sangat terkenal dan telah ditahbiskan sebagai surat kabar berbahasa Melayu pertama dalam sejarah pers Melayu di Alam Melayu.

Seperti tergambar dari namanya, akhbar berbahasa Melayu pertama yang terbit di Singpura ini diterbitkan oleh sekelompok orang Islam keturunan India (anak-anak kacukan, yang berasal dari perempuan Melayu yang menikah dengan laki-laki India muslim, terutama yang berasal dari Malbari atau Malabar). Dari merekalah lahir kelompok masyarakat yang disebut  jawi perenakan.

Seperti halnya sejarah penerbitan dan pencetakan buku-buku berbahasa Melayu, sejarah awal pers di Negeri-Negeri Selat (Singapura-Pulau Pinang-Melaka) dan Kepulauan Riau, tak lepas dari peranan kelompok masyarakat jawi peranakan yang telah banyak melahirkan munsyi-munsyi sekelas Abdullah bin Abdulkadir Munsyi yang terkenal itu.

Demikianlah, pada tahun 1876, beberapa munsyi terpelajar di Singapura berikhtiar menerbitkan sebuah akhbar (surat kabar) yang mereka beri nama Jawi Peranakan, yang kemudian tampil dengan gemilangnya dalam perjalanan perjalanan sejarah pers berbahasa Melayu di Alam Melayu.

Pada mulanya akhbar bersejarah yang bertahan hingga tahun 1896 ini dipimpin oleh Munsyi Alie al-Hindi. Selepas itu, tampuk pimpinan akbar ini kemudian diambil alih oleh Munsyi Muhammad Said bin Dadad Muhyiddin dengan dibantu oleh Haji Muhammad Siraj, seorang entrepreneur asal Jawa, pemilik pecetakan dan kedai buku terkenal di Singapura  pada kahir abad ke ke-19 hingga tiga dekade pertama abad yang lalu.

Sebagai sebuah akhbar mingguan, Jawi Perenakan terbit setiap haris Isnin (Senin) tarikh Miladiah (tahun dan bulan Islam). Menurut Ahmad Adam (1994), Akbar Jawi Peranakan dicetak secara tipografis (menggunakan huruf timah) aksara jawi atau huruf Arab Melayu oleh Mathba’ah al_Saidi milik Muhammad Said yang beralamat di No. 431, Victoria Street (Kampung Gelam) Singapura.

Pada awalnya, Akhbar Jawi Peranakan menggunakan cogan kata “Tawakal Itu Sebaik-Baik Bekal” sebagai mottonya. Namun dalam perkembangannya (dalam tahun 1888, umpamanya) cogan kata itu diperbaharui menjadi “Tawakal Itu Sebaik-Baik Bekal Kepada Yang Berakal Peliharalah Sampai Kekal”.

Sebagai sebuah surat kabar berbahasa Melayu pertama di Singapura, Akhbar Jawi Peranakan tampaknya telah merintis sebuah pers yang positif dengan suguhan jurnalistik (pengkhabaran) yang objetif dan benar adanya. Dengan ungkapan yang berani dan menantang, hal ini ditegaskan oleh para pengelolanya dengan mencantumkan kalimat berikut ini pada setiap halaman pertama Akhbar Jawi Peranakan: “Adapun akhbar ini semata-mata benar pengkhabaran dan akhbar inilah yang dijadikan Tuhan tauladan diantara akhbar Melayu yang lain-lain itu adanya”.

Suguhan jurnalistiknya mencakupi berbagai hal semasa. Mulai dari berita politik dan pemerintahan hingga informasi penting berkenaan dengan ekonomi dan perdagangan semasa. Cakupan wilayah perkabarannya meliputi Singapura, Tanah Semenanjung, dan negeri-negeri serantau di Hindia Belanda yang penduduknya mampu membaca tulisan jawi atau Arab Melayu.

Seperti halnya Johor Baharu, Larut, Melaka, Pulau Pinang, Perak, Perlis, Tapah, Serawak (di Malaysia), Padang (Pulau Pertja atau Sumtara), dan Paris (Perancis), Kepulauan Riau-Lingga yang ketika itu merupakan wilayah Kerajaan Riau Lingga dan daerah zelfbestuur dalam pemerintahan Residentie van Riouw juga menjadi salah satu wilayah jangkauan jaringan sirkulasi Akhbar Jawi Peranakan ini.

Di Kepulauan Riau-Lingga akhbar Jawi Peranakan mempunyai perwakilan di Pulau Penyengat: yang terajunya dipercakan kepada Datuk Syahbar Riau, yakni salah seorang cucu Syahbandar Haji Ibrahim Orang Kaya Muda Riau, yang bernama Datuk Syahbandar Encik Ismail.

Melalui Datuk Syahbandar Encik Ismail inilah khalayak pembaca di Kepulauan Riau-Lingga yang menguasai tulisan jawi, paling tidak di Pulau Penyengat, untuk pertamakalinya berkenalan dengan pers modern berbahasa Melayu dalam arti yang sesungguhnya.

Selama sekitar dua puluh tahun kehadirannya di panggung sejarah pers berbahasa Melayu di Singapura dan Semenanjung, Akhbar Jawi Peranakan telah meninggalkan bekas yang mendalam dalam cara pandang orang Melayu terhadap situasi bangsa dan negerinya ketika itu. Sebagai pionir, kehadirannya telah memicu dan memberi laluan lahirnya enam belas pers Melayu lainnya di Singapura dan Semenanjung sepanjang akhir abad ke-19 hingga dua dekade pertama abad yang lalu.

Lantas apa yang membekas dari pengaruh akhbar Jawi Peranakan dalam sejarah pers berbahsa Melayu di Kepulauan Riau-Lingga? Sedikitpun saya tak meragukan bahwa keterlibatan orang seperti Raja Ali Kelana dan Khalid Hitam dalam majalah al-Imam yang diterbitkan oleh Syekh Muhammad Thahir dan kawan-kawan di Singapura pada trahun 1906, tidak terlepas pengaruh Akhbar Jawi Peranakan ini.

Sebagai sebuah proses berkelindan yang mengalir dalam ruang dan waktu, terbitnya Majalah Peringatan di Pulau Penyengat pada tahun 1939 tentu juga tak terlepas dari ‘saham sejarah’ yang telah ditanamkan oleh akhbar Jawi Perananakan melalui perwakilannya di Pulau Penyengat hingga tahun 1896.***

Adat Laki-Laki Tiadalah Begitu

0

BULAT sudah tekad Siti Rafiah untuk menuntut bela sekaligus mengembalikan kemerdekaan negerinya, Kerajaan Barbari, dari belenggu penjajahan Kerajaan Hindustan. Akan tetapi, tak mudah bagi istri Sultan Barbari itu untuk menunaikan niat sucinya, mentelah lagi kini dia dalam pelarian. Perempuan jelita yang berpenampilan laki-laki itu harus mengembara dari satu ke lain negeri untuk membangun koalisi dan menghimpun kekuatan.

            Setelah sekian lama mengembara dan mengubah tampilan diri dengan menggunakan nama Duri dan berprofesi sebagai hulubalang, sampailah dia ke Negeri Barham. Malangnya, negeri yang dikunjunginya itu sedang dirundung nestapa. Penguasa sahnya, Sultan Jamaluddin, baru saja digulingkan oleh pamannya sendiri (adik almarhumah ibunya), Bahsan, yang dimabuk kuasa.

Kekurangan pengalaman keponakannya, yang baru ditinggal mangkat oleh ayahandanya, dimanfaatkan oleh Bahsan untuk menghasut dan menekan rakyat dan tentara sehingga sebagian besar dari mereka berpihak kepadanya. Kebetulan, kala itu sebagian rakyat dan prajurit memang sedang terjangkiti penyakit menular “gila harta”. Keadaan itu dimanfaatkan oleh Bahsan dengan menyediakan obat mujarabnya, yang diberikan dalam amplop bermerek “Duita”. Gayung bersambut, syahwat kekuasaan paman Sultan Jamaluddin itu pun terpuaskan. Tanpa belas kasih sedikit pun, disingkirkannya keponakannya dari singgasana kekuasaan, termasuk diancamnya rakyat dan tentara yang masih setia kepada penguasa sah itu dengan pelbagai cara.

Tak memerlukan waktu lama bagi hulubalang Duri (Siti Rafiah) untuk mengetahui selok-belok pertikaian kelas atas Kerajaan Barham. Dia pun menaruh simpati kepada Sultan Jamaluddin karena raja yang berusia muda itulah seharusnya pemimpin yang sah. Dengan bantuan menteri berida (senior), akhirnya dia dapat menghadap Sultan Jamaluddin seraya menyatakan sokongannya kepada pemimpin Negeri Barham yang tersandera itu.

Disingkatkan kisahnya, setelah bertanya langsung kepada Sultan Jamaluddin alasannya tak mau melawan Bahsan diperolehlah jawaban yang pasti. Jamaluddin menganggap semua yang menimpa diri dan keluarganya itu memang telah ditakdirkan oleh Allah. Oleh sebab itu, dia harus tabah dan sabar menghadapinya. Selanjutnya, Syair Abdul Muluk (Haji, 1846), bait 1.002—1.003, meneruskan kisahnya.

Duri berdatang sembah suatu
Sebenarnya titah Tuanku itu
Tetapi ikhtiar boleh di situ
Adat laki-laki tiadalah begitu

Manusia nin sekurang-kurang akalnya
Mengambil muslihat akan dirinya
Jikalau tiada begitu adanya
Jadilah sia-sia juga hidupnya

Syair Abdul Muluk ~Raja Ali Haji

Duri bersetuju akan keyakinan Sultan Jamaluddin. Dalam hal ini, tabah dan sabar dalam menghadapi masalah memang mustahak, lebih-lebih bagi pemimpin. Pemimpin tak boleh gopoh atau terburu-buru dalam bertindak. Akan tetapi, setiap masalah harus diselesaikan atau dipecahkan dengan berusaha, tak boleh dengan berdiam diri saja, apatah lagi dalam konteks Jamaluddin. Dialah pihak yang benar, pemimpin sah Negeri Barham.

Menurut hulubalang Duri, “Adat laki-laki tak boleh begitu.” Dalam hal ini, ketika malapetaka datang menerpa, pemimpin harus bertindak atau sekuat dapat berikhtiar, jangan berdiam diri saja. Bukankah Bahsan merebut kuasa yang bukan haknya, yang tak dibenarkan oleh bangsa-bangsa beradab di mana sahaja di seluruh dunia? Bahkan, Tuhan pun mungkin akan murka kalau perbuatan onar seperti itu dibiarkan tanpa perlawanan yang semestinya.

Dengan keyakinan itu, Duri berjanji akan menolong Sultan Jamaluddin. Pasalnya, di samping bertawakal kepada Allah, manusia sekuatdapatnya mesti menggunakan akal anugerah-Nya untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi. Tak boleh semata-mata berserah diri kepada Tuhan Yang Mahakuasa seraya duduk bermuram durja.  

Sultan Jamaluddin yang muda usia berasa tercerahkan oleh nasihat dari hulubalang yang perkasa itu. Karena Duri memang ikhlas seikhlas-ikhlasnya hendak membantunya, diserahkannya hulubalang dan prajurit yang masih setia kepadanya di bawah pimpinan Duri, hulubalang tangguh dari Negeri Barbari. Tak banyak memang sisa tentara yang masih setia kepada pemimpin sah itu, tetapi mereka adalah para prajurit pemberani yang sangat setia kepada negara sehingga tak mempan dibujuk, digertak, disogok, apatah lagi ditipu oleh Bahsan dan kroni-kroninya. Bagi mereka, keselamatan bangsa dan negara di atas segala-galanya. Dalam taksiran Duri, tanpa strategi yang jitu, dengan jumlah tentara dan persenjataan yang serbakurang, mereka akan kalah menghadapi Bahsan dan pasukannya hanya dalam satu malam peperangan. Akan tetapi, kesemuanya itu bukanlah menjadi alangan bagi mereka untuk berjuang.

Atas pertimbangan itu dan berdasarkan kepercayaan Sultan Jamaluddin, Duri akan menyamar menjadi tukang kecapi yang miskin. Eh, mengapa pulakah dia harus menjadi pemain musik? Rupanya, itulah strateginya. Pasalnya, Bahsan sangat gemar menyaksikan pertunjukan dan mendengarkan musik kecapi.

Ternyata benarlah adanya. Setelah mengetahui dari menterinya ada pemain kecapi hebat datang ke negerinya, Bahsan memanggil pemain musik miskin itu ke istananya. Jadilah Duri bermain kecapi setiap malam di istana Bahsan sehingga dia dapat lebih mengenal watak penjahat itu dan tentu lengkap dengan kelemahannya juga. Ringkasnya, bermodalkan kemahiran bermain kecapilah, Duri dapat mengalahkan Bahsan—tentu dengan menggunakan senjata, bukan kecapi—dan mengembalikan Sultan Jamaluddin ke singgasana kekuasaannya. Dalam hal ini, Duri menggunakan kecerdikannya untuk mengalahkan dan menewaskan si angkara murka.

            Raja Ali Haji rahimahullah menegaskan bahwa kecerdikan merupakan karakter yang seyogianya dimiliki oleh setiap pemimpin. Dalam Tsamarat al-Muhimmah perkara itu diungkapkan beliau sebagai berikut.

“Bermula adalah pekerjaan menurunkan qadi ditanggalkan dari jabatannya itu, yaitu dengan sebab hilang daripadanya ahlil qada, seperti gila dan pitam dan lalai dan tuli dan pelupa yang menghilangkan khabit dan cerdik (huruf miring oleh HAM) dan fikir,” (Haji dalam Malik (Ed.), 2013).

Nukilan di atas memang menyuratkan qadi. Akan tetapi, siratannya boleh meliputi semua pemimpin. Dengan demikian, syarat pemimpin, antara lain, haruslah cerdik. Jika seseorang tak memiliki kecerdikan, dia tak layak menjadi pemimpin. Lalu, apakah yang dimaksudkan dengan karakter itu? Pemimpin yang cerdik bermakna dia cepat memahami keadaan atau masalah dan pada gilirannya mahir pula mencari pemecahannya. Dia tak pernah “mati akal” ketika menghadapi masalah kepemimpinan, apatah lagi sampai menyalahkan, bahkan memusuhi orang lain dan sering rakyat pula yang dibabitkan.

Jika pemimpin tak cerdik, dia akan mengundang masalah. Jangankan menyelesaikan persoalan, malah dialah yang menjadi punca masalah. Akibatnya, negeri merana bagai tak sudah dan rakyat yang seharusnya berbahagia, justeru hari demi hari didera gundah. Pemimpinnya, malah, dimanfaatkan orang-orang yang bermaksud jahat dan berperangai berdebah.

Dalam keadaan seperti itu, pemimpin yang “mati akal” karena ketakcerdikannya mulailah berbuat pelbagai karenah. Jika ada rakyat yang berani mengeritiknya, dia pun mengancam dengan hukuman yang konon berasal dari negeri suci antah-berantah. Itulah yang dilakukan oleh Bahsan kepada rakyat dan tentara Kerajaan Barham untuk membungkam dan menipu mereka sampai tak seorang pun sanggup membantah.

Padahal, bukankah pemimpin sesungguhnya pengemban amanat penderitaan rakyat? Gagasan itu tak berarti rakyat harus dibuat menderita dan atau dijadikan musuh dengan pelbagai taktik yang menjerat. Sebaliknya, pemimpin harus berjuang, tentu bersama dan dengan sokongan penuh seluruh rakyat, untuk melenyapkan segala bentuk penindasan terhadap bangsanya, mewujudkan kemakmuran negeri, dan membahagiakan rakyat. Dia seyogianya tak rela menyaksikan rakyat melarat, apatah lagi kalau penyebab kemelaratan itu adalah praktik kepemimpinan yang dia buat.

Dalam tradisi kepemimpinan Melayu sangat dikenal ucapan sakral kepemimpinan berupa Sumpah-Setia Melayu yang dilakukan oleh Sang Sapurba atau Seri Tri Buana dan Datuk Demang Lebar Daun di Bukit Siguntang Mahameru. Begini sebagian persetiaan itu diucapkan dengan takzimnya.

Maka sembah Demang Lebar Daun, “Adapun Tuanku segala anak-cucu patik [baca: rakyat, HAM] sedia (men-)jadi hamba ke bawah duli Yang Dipertuan; hendaklah ia diperbaiki [baca: diperlakukan dengan baik, adil, HAM] oleh anak-cucu duli Tuanku [baca: penguasa, HAH]. Dan, (jika) ia berdosa, sebesar-besar (apa) dosanya pun, jangan ia difadhihatkan, dinista, dengan kata yang jahat; jikalau besar dosanya (sehingga harus) dibunuh [baca: dikenakan sanksi hukuman mati, HAM], (silalah dihukum sesuai dengan kesalahannya), itu pun jikalau berlaku pada hukum syarak.”

Sumpah-Setia itu ditutup dengan ungkapan yang sangat menggerunkan sesiapa pun yang terbiasa dengan kehidupan yang berperadaban tinggi kalau sampai berani melanggarnya. “Maka keduanya pun bersumpah-sumpahlah, barang siapa mengubahkan perjanjiannya itu dibalik(kan) Allah subhanahu wa taala bumbungan rumahnya ke bawah, kaki tiangnya ke atas.” Oleh sebab itu, orang Melayu sangat percaya bahwa sesiapa pun pemimpin yang melanggar persetiaan itu akan tertimpa tulah berupa padah yang amat pedih, apa pun bentuknya. Itulah tandanya bahwa “bumbungan rumahnya telah dijungkirkan ke bawah dan kaki tiangnya telah dibalikan ke atas.” Kearifan lama itu, terutama dahulu, selalu diingatkan kepada para calon pemimpin dan atau pemimpin akan bahayanya kalau Sumpah-Setia itu dilanggar.

Lalu, bagaimanakah kiat memelihara kecerdikan? Syair nasihat dalam Tsamarat al-Muhimmah (Haji dalam Malik (Ed.), 2013), bait 10, memberikan petuah berkenaan dengan perkara itu.

Jika ilmu tidak diindah
Sebab anakanda buat permudah
Rakyat datang membawa gundah
Anakanda tercengang duduk tengadah

Tsamarat al-Muhimmah ~Raja Ali Haji

Sumber kecerdikan itu tiada lain adalah ilmu. Oleh sebab itu, setiap pemimpin mestilah berilmu, menyukai ilmu yang benar dan bermanfaat, dan suka bermusyawarah dengan orang-orang yang berilmu lagi jujur. Jangan sebaliknya, memusuhi dan atau menganggap orang berilmu sebagai saingan. Setelah berdiskusi dengan Duri yang cerdik-cendekialah, Sultan Jamaluddin menjadi terbuka pikiran dan hatinya sehingga tak salah dalam menginterpretasikan takdir Allah. Pasalnya, Duri yang kaya ilmu itu memahami dan meyakini benar pedoman dari Allah kepada makhluk-Nya.

“Sesungguhnya Allah tak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan, apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka, selain Dia,” (Q.S. Ra’d, 11).

Atas dasar itulah,  Gurindam Dua Belas, Pasal yang Kedua Belas, bait 4 (Haji, 1847), mengingatkan pemimpin untuk senantiasa bersinergi dengan orang berilmu dan berperilaku mulia.

Kasihkan orang berilmu
Tanda rahmat atas dirimu

Gurindam Dua Belas, Pasal yang Kedua Belas, bait 4 ~Raja Ali Haji

Manusia yang beroleh rahmat ditandai sifatnya yang lemah-lembut, senantiasa berupaya berbuat baik, dan penyayang kepada sesama. Rakyat manakah yang tak berbangga memiliki pemimpin yang berkualitas unggul seperti itu adanya? Pasalnya, dengan sifat mulianya itu, sesiapa pun pemimpinnya pasti tak rela negerinya terdera dan rakyatnya menderita. 

            Hulubalang Duri dengan keelokan perilaku dan ketinggian ilmunya telah membuka jalan kearifan kepada Sultan Jamaluddin, pemimpin sah, tetapi kekuasaannya tersandera. Masalah kepemimpinan tak boleh didiamkan begitu saja, oleh sesiapa saja, tetapi harus diselesaikan secara cerdik-cendekia. Itulah karakter pemimpin yang namanya tak akan pernah tercela. Bahkan, oleh rakyat dia akan senantiasa dibela. Di atas itu akan ada pertolongan dari Allah Ta’ala.

Hulubalang Duri itu sesungguhnya perempuan, yang menyamar menjadi laki-laki karena alasan tertentu. Dengan gagah dan arifnya dia menasihati pemimpin laki-laki, Sultan Jamaluddin, “Adat laki-laki tiadalah begitu,” karena dia prihatin akan kepemimpinan yang tiada bermutu. Itulah sebabnya, ditunjukkannya kiat cantik lagi cerdik mengalahkan penjahat Bahsan yang, oleh sebagian besar rakyat Negeri Barham selama ini, dianggap jauh lebih perkasa daripada hantu. Dengan kecerdasan, kecerdikan, dan keindahan petikan kecapinya, ternyata hantu besar yang menggerunkan itu malah mati kutu.***

Asal Usul Raja-Raja Kerajaan Riau-Lingga

0
Versi rumi (huruh latin tulisan tangan) pasal kedua manusrip Mukhtasar Tawarikh al-Wustha yang dicantumkan sebagai sandingan versi jawinya dalam menuskrip Muhkatasar Tawarikh al-Wustha koleksi Perpustakaan Universitas Leiden.

Sejumlah manuskrip yang berisikan sejarah (historiografi) istana Kerajaan Riau-Lingga tidak hanya menjadi bagian dari korpustradisi tulis Riau-Lingga yang gemilang, tapi juga menjadi ‘dokumen istana’, pegangan raja-raja yang memerintah, dan sumber legitimasi historis pemerintahannya.

Salah satu khazanahmanuskripsejarah Riau-Lingga yang memainkan ‘peran ganda’ itu adalah manuskrip Mukhtasar Tawarikh al-Wustha, yaknisebuah keringkasan manuskrip yang berjudulTawarikh al-Wustha. Manuskripinisangkateratkaitannyadenganduamanuskriplainnya yang berjudul, Tawarikh al Qubra dan Tawarikh al-Suhgra. Konon kabarnya, ketiga manuskripasli sejarah Riau-Lingga ini pernah hilang dari lemariarsip milikYang Dipertuan Muda Riau di Pulau Penyengat.

Sepintas kilas, manuskrip Mukhtasar Tawarikh al-Wustha telah penah diperkenal dalam ruang kutubkhanah ini. Dan untuk sekedar mengingatkan kembali, manuskrip Mukhtasar Tawarikh al-Wustha yang paling tua (bila dilahat dari tarikh penyalinannya, tahun 1854) kini berada dalam simpanan Perpustakan Universitas Leiden, di Negeri Belanda.

Selaian itu, beberapa versi salinannya dimuat dalam kitab kumpulan salinan manuskrip dan arsip Kerajaan Riau-Lingga yang berjudul SadjarahRiouwLingga dan Daerah Taaloqnja koleksi Perpustakaan Universitas Leiden, dan di dalam kitab Tsamaratulmathlub-fi-anuarilqulubyang diusahakan oleh  Khalid Hitam di Riau-Pulau Penyengat, dan kini tersimpan di Perpustakaaan Dewan Bahasa dan Pustaka, Malaysia.

Sabagaisebuahkeringkasan (mukhtasar), kitabTawarikh al-Wustha yang beradadalamsimpnanarsip Yang Dipertuan Muda di Pulau Penyengat pada suatu ketika dulu, mengandungiberbagai“narasiresmi” tentangsejarahhubunganantara Raja-Raja Bugis dan Raja-Raja Melayudalam Kerajaan Riau-Lingga yang ‘dipadatkan’ menjadi lima pasal (oleh karenaitumanuskripmukhatasarinidikenal juga sebagaiUndang-Undang 5 Pasaldari Riau).

Pasal yang pertama, menguraikanasal-usuldan susurgalur Sultan Yang DipertuanBesar, Yang Dipertuan Muda, Bendahara, dan Temenggungdalamsejarahpemerintahankerajaan Riau-Lingga.Pasal yang kedua, menjelasakanperihalempathaldalamadat-istiadat raja-rajaMelayu yang berbedadariadat raja-raja di negeri-negeri diatasangin (Arab, Persia, dan India).

Pasal yang ketiga, menjelaskan segala tokong pulau dan teluk rantau yang menjadi wilayah takluk kerajaan Riau-Lingga, lengkap dengan keringkasan sejarahnya. Khusus dalam pasal tiga ini, terdapat sedikit tambahan pada manuskrip yang disalin oleh Raja Khalid Hitam dan dimuat dalam kitab Tsamarat al-Matlub. Pada margin halaman 192 manuskrip salinannya, Raja Khalid Hitam mancatumkan tambahan nama-nama gelar kebesaran Datuk Kaya dan Petinggi  dikawasan Pulau Tujuh dan Tambelan yang dikemas dalam “catatan pinggir” yang disebut disebut buton.

Pasal yang keempat, menjelaskan perihal bahasa diraja,  bahasa adat tatkala dipakai dalam istiadat, aturan kelengkapan (semberap) pawai diraja, sejarah nobat, dan peraturan penggunaan nobat sebagai salah satu simbol kebesaran istana Kerajaan Riau-Lingga.

Pasal yang Kelima, menjelaskansejarah dan asal-usul istilah wakil mutlak serta kandungan maknanya sebagaimana dipergunakan didalam kontrak-kontrak politik antara Kerajaan Riau-Lingga dengan Belanda sejak tahun 1824.

            Dalam kutub khanah ini, akan diulas sekilas-lintas kandungan isi pasal pertama Mukhtasar Tawarikh al-Wutha,  yang isinya berkenaan dengan asal-usul Yang Dipertuan Besar, Yang Dipetuan Muda, Bendahara, dan Temenggung dalam sejarah kerajaan Riau-Lingga. Dalam manuskrip Muhtasar Tawarikh al-Wustha, empat teraju negeri itu (Yang Dipertuan Besar, Yang Dipetuan Muda, Bendahara, dan Temenggung) diperlambangkan sebagai“…kain kafan buruk tiada berganti lagi, yang artinya;,orang yang tiada boleh dipecat dimakzulkan kecuali gila atau keluar dari agama Islam”.

Yang Diperpegang Raja-Raja

Kedudukan manuskrip Mukhtasar Tawarikh al-Wustha sebagai ‘dokumen istana’, pegangan raja-raja yang memerintah, dan sumber legitimasi historis pemerintahan raja-raja Kerejaan Riau-Lingga, dinyatakan pada bagian pembuka (bagian awal) manuskrip tersebut.

Jikadirumikan, paragrafawalbagianpembukaituadalahberikut: “Bahwa sesungguhnya inilah yang diperpegang pada masa ini oleh raja-raja, yang dikeluarkan daripada [kitab] Sejarah Melayu yang bernama Tawarikh al-Wustha, yang diperbuat antara Raja Melayu dan Raja Bugis, yakni Yang Dipertuan Besar dengan Yang Dipertuan Muda, yang [kemudian] dimukhtasarkan disini karena hendak mengambil sempena yang telah dimufawaidkan, yang amat teguh.”

Selain itu, seperti telah ditunjukkan oleh Annabel Teh Gallop dalam sebuah artikelnya tentang esensi penggunaan stempel diraja pada sejumlah manuskrip Melayu, Exception to the Rule: Malay Seal in Manuscripts Book (2007); stempel merah milik Raja Ali Yang Dipertuan Muda Riau (Marhum Kantor) yang dicantumkan pada bagian akhir manuskrip Mukhtasar Tawarikh al-Wusthainijuga erat kaitannya dengan kandungan isinyayang menjelaskan aspek legitimasi historis, aturanadat, dan asalusul raja-raja Riau-Lingga; dengan kata lain stempeldirajaitutidakhanyasekedar sebuah tandapengesahan yang sifatnya umum belaka.

Demikianlah, kandunganisi Pasal pertama manuskrip Mukhtasar Tawarikh al-Wustha, menjelaskan asal raja-raja Melayu Riau-Lingga serta hubungannya dengan anak raja-raja Bugis yang kemudian menjadi Yamtuan Muda Riau.

Dalamhalmenjelaskanasal-usul raja-raja Riau-Lingga, manuskripMukhtasar Tawarikh al-WusthaberbedadariSejarah Melayu (Sulalatussalatin) dan Tuhfat al-Nafis. Di dalamMukhtasar Tawarikh al-Wusthasusur galur raja-raja Melayu yang memerintah Riau-Lingga tidak  dimulaidenganmitos raja Melayu yang turun di Bukit Siguntang (Palembang).

Garis asal-Usul Raja-Raja Riau-Lingga “ditarik” dari keturunan Datuk Bendahara Johor yang kemudian menjadi Raja Kerajaan Johordengangelarkebesaran Sultan Abdul Jalil (Marhum Kuala Pahang) dan berkait kelindan dengan anak-raja Bugis Lima Saudara.

Susur galur itu diawali dengan anak Sultan Abduljalil yang bernama Raja Sulaiman, yang kemudian dirajakan oleh Daeng Marewah adik-beradik setelahberhasil membantu Raja Sulaiman merebut kembali tahta ayahnya dari kekuasan Raja KecikSiak, di Negeri Riau. Dari Sultan Sulaiman inilah sultan-sultan dari garis “sebelah bapanya” mewarisi gelar kebesaran Yang Dipertuan Besar dalam kerajaan Riau-Lingga hingga menjelang tahun 1885.

Sementara itu, melalui Daeng Marewah yang mewakili anak raja-raja Bugis  lima saudara yang membantu Raja Sulaiman merebut tahta ayahandanya dari Raja Kecik, diamanahkan pula sebuah jabatan,sempena menjalankan pemerintahan kerajan, dengan gelar kebesaran Yang Dipertuan Muda Riau: sebuah jabatan penting yang terus dipakai secara turun-temurun menurut garis laki dalam kerajaan Riau-Lingga hingga tahun 1899.

Selain menjelaskan hubungan susur-galur raja-raja Melayu keturan Bendahara Abduljalil (yang kemudian menjadi sultan) dengan anak raja-raja bugis dalam kerajaan Riau-Lingga yang dibuhul oleh ikatan pernikahan, manuskrip Mukhtasar Tawarikh al-Wusthaini juga menjelaskan sedikit-sebanyak asal-usul Bendahara dan Temenggung dalam sejarah kerajaan Riau-Lingga.

Tentang asal-asul Bendahara ini, antara lain dijelaskan sebagai berikut: “Bermula Bendahara Johor daripada masa alah Riau oleh Siak itu hingga pada masa tarikh surat itu [pada masa manuskrip Tawarikh al-Wustha ditulis] yaitu pertama-tama, Tun  Abbas. Kedua Tun Abdul Majid. Ketiga Tun Koris. Keempat Tun Ali. Kelima Tun Muhammad Tahir yang maujud pada tarikh surat ini [pada masa Mukhtasar Tawarikh al-Wustha ditulis]. Adalah suku-suku Bendahara ini tidak berkerabat dengan Raja Bugis, akan tetapi ada ia satu asal dengan Raja Johor, yaitu Saudara Tua kepada almarhum Abdul Jalil yang mangkat di Kula Pahang adanya”.

Sebaliknya, meskipun seasal dengan Bendahara, namun susur galur Temenggun dalam Kerajaan Riau-Lingga berkelindan dengan silsilah raja-raja Bugisi masa udara melalui Daeng Perani. Dalam Mukhtasar Tawarikh al-Wustha perihal ini dinyatakan sebagai berikut:

Bermula adalah Raja Maimunah putera Arung Perani (Daeng Perani) dengan Tengku Tengah (adik Sultan Sulaiman). Maka bersuamikan (ia) Temenggung Johor (Temenggung Abdul Jamal). Dan adalah Daeng Kecik (putera Temenggung Abdul Jamal) beranakkan Temenggung Abdulrahman, dan Temenggung Abdulrahman beranakkan Temengung Selat (Temenggung Ibrahim) yang sekarang (pada masa Mukhtasar Tawarikh al-Wustha ini ditulis, bermastautin) di Singapura.”***

Nafsu yang Jahat Hendaklah Lawan

0

TERSEBUTLAH anak-anak raja berempat beradik. Raja Bayang, Raja Hijau, Raja Mastika, dan Raja Lais masing-masing nama mereka yang berempat itu. Suatu hari mereka berkunjung ke negeri tetangganya, Kerajaan Inderagiri.

            Sesampainya di Negeri Inderagiri, orang berempat beradik itu pun menghadap Sultan Inderagiri kala itu, Sultan Hasan nama Baginda. Dalam kunjungan ke istana Inderagiri, anak-anak raja berempat itu secara tak sengaja melihat putri Sultan Inderagiri, Raja Halimah namanya. Konon, Putri Inderagiri itu jelita bangat sehingga salah seorang dari anak-anak raja yang berempat itu, Raja Bayang, langsung terpikat, bahkan tergila-gila, kepada Tuan Putri yang kulitnya kuning langsat. Sebagai laki-laki sejati, putra raja pula, Raja Bayang langsung melamar Raja Halimah untuk dijadikan istrinya, entah keberapa. Setelah berbasa-basi kepada Baginda Sultan, Raja Bayang pun menyampaikan hasratnya yang tak dapat lagi dipendamnya walaupun hanya untuk beberapa ketika.

            “Ampun Tuanku Duli Syah Alam, sembah patik harap diampun. Jika ada perkenan Tuanku, maksud utama kedatangan patik ke Negeri Inderagiri ini adalah untuk melamar putri Tuanku untuk patik jadikan istri patik. Ampun, Tuanku!” sembah Raja Bayang dengan takzimnya.

            Begitu mendengar lamaran langsung Raja Bayang, Sultan Hasan agak terkejut juga. Hatinya langsung berbisik bahwa ada sesuatu yang agak ganjil, tak biasa. Pasalnya, baru saja anak raja itu melihat putrinya sudah berasa jatuh cinta, bahkan langsung meminangnya. Ada apakah gerangan di sebalik siasat pinangannya yang tergesa-gesa?

            “Anakanda Raja Bayang,” titah Sultan Hasan dengan suara berat dan berwibawa, “bersabit dengan pinangan anakanda itu, beta meminta waktu agak seketika. Hendak beta bicarakan perkara ini kepada Tuanku Permaisuri (istri Sultan, HAM) dan anakanda Raja Halimah karena dia yang akan menjalani hidup berumah tangga.” Sultan Hasan memandang lekat ke mata Raja Bayang dengan sorot mata yang tajam.

            “Kalau demikian titah Tuanku, patik adik-beradik menanti dengan penuh harap hasil musyawarah Tuanku bersama Tuanku Permaisuri dan adinda Halimah,” jawab Raja Bayang seraya mengelak dari tatapan tajam Sultan Hasan.

            Sultan Hasan pun beredar dari balairung seri untuk berunding dengan Tuanku Permaisuri dan menanyakan kesediaan anakanda mereka. Setelah ditanyakan langsung kepada Tuan Putri, diperolehlah jawabannya yang pasti. Mendengarkan jawaban Putri Halimah, Sultan Inderagiri yang sangat berwibawa itu pun kembali ke balairung seri dan duduk kembali ke singgasana Baginda. Sekejap kemudian, Baginda pun bertitah.

            “Anakanda Raja Bayang adik-beradik. Beta anak-beranak sangat berbahagia karena anakanda Raja Bayang hendak mempersunting putri beta. Inilah jawaban beta sekeluarga setelah beta dan Tengku Permaisuri bertanya langsung kepada anakanda Halimah,” jawab Sultan Hasan dengan suara berat, tetapi tegas.

            Kisah selanjutnya diperikan oleh Raja Ahmad Engku Haji Tua dan Raja Ali Haji rahimahullah dalam karya penulis berdua beranak itu, Tuhfat al-Nafis. Berikut ini nukilannya.   

“Syahadan apabila Raja Haji Pangeran Suta Wijaya mendengar Indera Giri sudah rosak dan Retih sudah diperintah oleh Raja Bayang, maka ia pun sangatlah marahnya. Maka lalulah ia pergi melanggar Retih. Maka berperanglah Engku Kelana itu dengan Raja Bayang. Maka tewaslah [kalah, HAM] Raja Bayang itu, lalu ia berundur ke Indera Giri. Maka diperikut oleh Engku Kelana ke Indera Giri, maka lalu berperang pula. Maka bantu dari Jambi datang pula, maka jadi besarlah perang itu, beramuk-amukan dan berbunuh-bunuhan sebelah menyebelah. Maka tiada berapa lamanya larilah raja yang berempat tiada berketahuan membawa dirinya. Maka Indera Giri pun dapatlah oleh Engku Kelana. Kemudian pergilah Engku Kelana ke Gaong mengambil Sultan Indera Giri itu lalu dibawanya balik diserahkannya Indera Giri itu kepada Sultan Indera Giri semula dan termasuk Batin Enam Suku diambil oleh Kelana Pangeran Suta Wijaya, kerana Raja Bayang mengambil Indera Giri itu selalu diambilnya Tapukan itu sekali,” (Ahmad & Haji dalam Matheson (Ed.) 1982, 154-155).

Mengapakah Raja Haji, yang kala itu menjabat Kelana (Wakil sekaligus calon Yang Dipertuan Muda) Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang sampai berperang dengan pasukan Raja Bayang? Inilah puncanya. Rupanya, pinangan Raja Bayang ditolak oleh Sultan Hasan. Alasan penolakan itu, yang empunya diri, Putri Halimah Inderagiri belum mau menikah kala itu karena dia berasa usianya belum cukup untuk menjalani kehidupan berumah tangga. Mungkin itu alasan penolakan pinangan secara halus karena Putri Inderagiri yang jelita itu sesungguhnya tak sudi bersuamikan Raja Bayang. Akibatnya, Raja Bayang seperti orang mabuk kepayang dan angannya pun jadi melayang-layang. Dia bagai orang yang tak mengukur badan dengan bayang-bayang.

Karena tak menerima lamarannya ditolak, tak berapa lama kemudian, Raja Bayang adik-beradik bersama pasukan besarnya menyerang Kesultanan Inderagiri. Dalam peperangan itu Inderagiri dapat mereka rebut. Untunglah, Sultan Inderagiri dan keluarga Baginda dapat melarikan diri ke Gaong (masih bagian Kesultanan Inderagiri, sekarang Kecamatan Gaung Anak Serka, Kabupaten Inderagiri Hilir, Provinsi Riau).

Raja Haji mendengar kabar bahwa Kesultanan Inderagiri diserang dan dikalahkan, bahkan dluluhlantakkan, oleh Raja Bayang adik-beradik. Tak lengah lagi, Baginda yang juga bergelar Kelana Pangeran Suta Wijaya bertolak ke Inderagiri untuk memerangi Raja Bayang adik-beradik dan pasukannya. Dalam perang itu, Raja Haji mendapat bantuan pasukan perang dari Kesultanan Jambi. Tak lama berperang, akhirnya Raja Haji dan pasukannya dapat mengalahkan Raja Bayang adik-beradik dan pasukannya. Karena kalah dalam perang itu, Raja Bayang adik-beradik melarikan diri dari Inderagiri, tak jelas ke mana rimbanya.

Setelah berjaya merebut kembali Inderagiri, Raja Haji Kelana Pangeran Suta Wijaya membawa kembali Sultan Hasan sekeluarga ke Istana Inderagiri dari Gaong (Gaung), tempat persembunyian Baginda. Raja Hasan pun, kemudian, kembali menerajui Kesultanan Inderagiri dalam keadaan aman, damai, dan sejahtera seperti sedia kala. Badai yang dibawa oleh pihak penceroboh dan atau  perusuh telah berlalu walau sempat membuat luka. Negeri Inderagiri kembali berseri, yang dipaduserasikan oleh cahaya kejelitaan Putri Halimah ibni Raja Hasan Inderagiri yang tiada duanya.

Mirip dengan tindakan yang dilakukan oleh Raja Haji Fisabilillah. Sultan Duri (nama samaran laki-laki Siti Rafiah, istri Sultan Abdul Muluk, penguasa sah Kerajaan Barbari) pada ketika yang tepat menyerang Kerajaan Hindustan. Peristiwanya dikisahkan dalam Syair Abdul Muluk (Haji, 1846), bait 1.298.

Setelah sudah memberi titah
Menggertaklah kuda duli khalifah
Serta sepuluh hulubalang yang gagah
Ke dalam laskar ia menyerbulah

Syair Abdul Muluk, Raja Ali Haji

Bait syair di atas memerikan suasana ketika Sultan Duri (Siti Rafiah) memerangi Kerajaan Hindustan. Pasalnya, Kerajaan Hindustan menjajah Kerajaan Barbari, yakni negeri suami Siti Rafiah, Sultan Abdul Muluk. Untuk mengembalikan kemerdekaan negerinya, Siti Rafiah menggunakan pelbagai taktik dan strategi, termasuk menyamar sebagai laki-laki, dan mengembara dari satu ke lain negeri, berbilang tahun dia jalani untuk menghimpun kekuatan diri. Setelah kekuatan yang terhimpun dianggapnya memadai, Siti Rafiah (Sultan Duri) menyerang Kerajaan Hindustan. Dengan persiapan yang matang, strategi yang jitu, dan kekuatan yang memadai, Siti Rafiah dan pasukannya dapat mengalahkan Kerajaan Hindustan. Bersamaan dengan itu, Raja Hindustan dapat ditawan,  kemudian diberi hukuman, tentu setimpal dengan perbuatan dan atau kejahatan yang dilakukan.

Berhubung dengan peristiwa-peristiwa (dari Tuhfat al-Nafis peristiwa nyata dalam sejarah dan dari Syair Abdul Muluk peristiwa fiktif) yang diperikan di atas, pertanyaan yang muncul adalah ini. Mengapakah tokoh seperti Raja Bayang dan Raja Hindustan begitu bernafsu untuk menjajah dan atau menguasai negeri orang dengan pelbagai cara yang tercela? Padahal, baik Raja Bayang maupun Raja Hindustan sama-sama pemimpin yang seyogianya menampilkan karakter pemimpin yang baik, lebih-lebih terhadap negeri jirannya. Jawabnya tiada lain, di samping tak mampu mengendalikan syahwat kekuasaan yang memang sangat keras mengunggis sanubari kedua-duanya, mereka juga tak mampu menahan nafsu amarah, suatu penyakit hati yang memang mematikan kemanusiaan. Oleh sebab itu, Gurindam Dua Belas, Pasal yang Keempat, bait 4 (Haji, 1847), mengingatkan sesiapa saja, lebih-lebih pemimpin, dengan tunjuk ajar ini.

Pekerjaan marah jangan dibela
Nanti hilang akal di kepala

Gurindam Dua Belas, Pasal yang Keempat, bait 4 , Raja Ali Haji

Karena asyik dengan “hewan peliharaan marah”-lah, Raja Bayang dan Raja Hindustan tak mampu mengendalikan kemanusiaan mereka. Sebagai pemimpin, mereka tergolong pemimpin yang berperangai tercela.

            Apakah hubungannya dengan marah? Betapa tidak. Raja Bayang marah kepada Raja Hasan Inderagiri karena pinangannya kepada putri Sultan Inderagiri itu ditolak. Padahal, alasan penolakan itu memang sabit di akal seperti yang dituturkan oleh yang empunya diri, Putri Halimah, bahwa dia berasa belum cukup usia untuk menikah. Raja Hindustan pula marah karena pamannya, pengusaha kain, ditangkap dan dihukum (dipenjarakan) di Kerajaan Barbari. Padahal, hukuman itu memang setimpal karena pengusaha Hindustan itu, walaupun paman Sultan Hindustan, melakukan penipuan di Negeri Barbari. Di Kerajaan Barbari, hukum diterapkan tanpa tebang pilih. Artinya, walaupun kerabat penguasa, jika terbukti melakukan tindak kriminal, dia tetap dihukum secara adil.

Pemimpin yang memperturutkan hawa nafsu seperti Raja Bayang dan Raja Hindustan tak mampu mencerna nilai-nilai kearifan yang dijunjung tinggi oleh pemimpin terbilang. Mereka merelakan diri terbelenggu dan atau terpasung secara kejam oleh nafsu jahat yang memang cenderung merusakkan nilai-nilai agung kepemimpinan. Padahal, dalam setiap tamadun, kearifan seperti yang tersurat dalam syair nasihat yang termaktub dalam Tsamarat al-Muhimmah, bait 72 (Haji dalam Malik (Ed.), 2013), bukanlah perkara yang asing, tentu bagi pemimpin yang nuraninya tercerahkan dan menerapkan nilai-nilai keadaban.

Inilah nasihat ayahanda tuan
Kepada anakanda muda bangsawan
Nafsu yang jahat hendaklah lawan
Supaya anakanda jangan tertawan

Tsamarat al-Muhimmah, bait 72 , Raja Ali Haji

Bukankah melawan hawa nafsu, lebih-lebih dalam praktik kepemimpinan, memang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Ketika ditanya tentang jihad yang paling afdhal, Rasulullah SAW bersabda, “Engkau ber-mujahadah (bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu) untuk meraih keridaan Allah SWT,” (H.R. Abu Nu’aim). Tauladan yang diberikan oleh pemimpin utama lagi mulia itu seyogianya dapat diterapkan oleh setiap pemimpin dalam praktik kepemimpinan dalam bidang dan peringkat apa pun.

Karakter Raja Bayang dan Raja Hindustan berbeda benar dengan budi pekerti Raja Haji Kelana Suta Wijaya dan Sultan Duri atau Siti Rafiah. Raja Haji menyerang Raja Bayang dan pasukannya karena Baginda menolong kerabat dan atau sahabatnya, Raja Hasan, penguasa sah Kesultanan Inderagiri. Baginda tak rela Raja Hasan dan negerinya dikuasai oleh orang yang tak berhak terhadapnya, secara hukum dan adat apatah lagi secara keturunan. Begitu pulalah halnya Siti Rafiah. Dia menyerang Kerajaan Hindustan karena negerinya dijajah oleh kerajaan jirannya itu. Dalam hal ini, Raja Haji dan Siti Rafiah sama-sama berjuang untuk membela kebenaran. Memang, sikap dan tindakan berani membela kebenaran, apa pun akibatnya, merupakan karakter pemimpin sejati lagi terbilang.

Hanya pemimpin sejati yang memiliki karakter berani membela kebenaran. Mereka tak akan berasa ragu apatah lagi takut walaupun jiwa dan raga menjadi tagan. Pemimpin yang berkarakter mulia tak pernah terbiarkan berjuang sendirian. Di hadapan mereka senantiasa ada inayah Tuhan.***

Berita District van Bintan

0
Encik Muhamad Apan (berdiri paling kanan), berpose bersama keluarga dalam sebuah kunjungan ke Bandung akhir tahun 1940-an.

Karya Muhamad Apan

Inilah hasil penyelidikan imiah pertama tentang perkembangan adat dan tahap-tahap struktur sosial-politik masyarakat Kepulauan Riau dari sudut pandang anak watan Kepulauan Riau-Lingga pada zaman Belanda.

***

Bila tak membaca langsung naskahnya, maka sepintas kilas terkesan  Berita District Van Bintan ditulis dalam bahasa Belanda. Meskipun di dalamnya terdapat cukup banyak istilah-istilah hukum dan pemerintahan dalam bahasa Belanda, seluruh isi naskah yang diketik ini menggunakan bahasa Melayu (Indonesia) ejaan lama.

Halama pertama salinan naskah Berita Distrik van Bintan Karya Muhamad Apan Tahun 1943, yang kemudian disalin di Tanjungpinang pada 12 Desember 1975.

Penulisnya juga seorang anak Melayu, anak watan Kepulauan Riau dari Pulau Penyengat. Dalam naskah asli Berita District VanBintan, tertera nama penulisnya adalah Muhamad Apan, seorang G.a.i.b. (pegawai pemerintah Belanda pemegang kuasa pemerintahan pribumi) yang bertugas di Kantoor Residentie van Riouw di Tanjungpinang tahun 1930-an. Sebagai seorang ambtenaar, ia juga pernah bertugas di Kantoor Assistent Resident van Riouw di Rengat.

Muhamad Apan berasal dari sebuah keluarga yang turun-temurun menjabat Syahbandar Riau di pulau Penyengat. Susur galurnya berkait kelindan dengan Syabandar Abdullah yang terkenal pada masa Yamtuan Muda Riau Raja Jakfar, dan sudah barang tentu punya hubungan susur galur dengan Haji Ibrahim, Datuk Syabandar Riau yang bergelar Datuk Orang Kaya Muda Riau.

Moyangnya, Haji Ibrahim, adalah salah seorang cendekia dari Pulau Penyengat yang cukup prolific dengan karya-karya seperti Tjakap-Tjakap Rampai-Rapai Bahasa Melajoe Djohor, Perhimpunan Pantun Melayu, Hikayat Raja Damsyik, Syair Raja Dmasyik. Haji Ibrahim ini adalah sahabat Raja Ali Haji, yang namanya banyak disebut oleh Raja Ali Haji dalam surat-surat kepada Hermaan Von de Wall.

Dalam sebuah silsilah Datuk Syahbandar Riau di Pulau Penyengat, jelas digambarkan hubungan susur galur antara Muhamad Apan dan Haji Ibrahim. Ayahnya adalah Encik Mohd Cik ibni Datuk Syahbandar Encil Ismail ibni Datuk Syahbandar Encik Ibrahim. Oleh Karena itu, secara adat nama dan gelar lengkap adalah Encik Muhamad Apan.

Muhamad Apan juga salah satu tokoh penting dalam sejarah modern Kepulauan Riau pasca proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Ia terlibat penuh dalam usaha-usaha membela proklamasi dan melepaskan daerah Kepulauan Riau dari Belanda. Beliau adalah Voorzitter (Ketua) Riouw Raad Sementara (Dewan Riouw Sementara ) yang kemudian dipilh menjadi Bupati Kabupaten Kepulauan yang pertama di Tanjungpinang (1948-1950).

***

Berita District Van Bintan tidaklah berisikan berita atau kabar-berita dalam pengertian an sich. Karena ianya adalah sebuah laporan penelitian, atau penyelidikan, sebagaimana istilah yang digunakan Muhamad Apan. Naskah laporan penelitian yang diketik ini diselesaikan pada tahun 1934, ketika Muhammad Apan menjabat sebagai G.a.i.b. di Keresidenan Riouw di Tanjungpinang.

Pada paragraf awal bagian Pendahuluan Berita Distrct Van Bintan, Muhamad Apan menjelaskan tujuan penelitian yang dilakukannya adalah untuk menjelaskan perihal adat dan struktur sosial-politik di District Bintan sejak zaman Bumi Putera Asli dan zaman setelah kedatangan Bumi Putra Tidak Alsi. Tercakup juga di dalamnya aspek-apek ‘historis’, ‘sosiologis’, ‘hukum’, dan ‘antrpologis’.

District Bintan yang menjadi cakupan wilayah penelitiannya itu meliputi: Seluruh wilayah Pulau Bintan, Pulau Rempang, Pulau Galang, Pulau Karas, Pulau Abang, Pulau Mantang, Pulau Kelong, Pulau Mapar (Mepar), dan lain sebagainya.

Sebagai sebuah laporan penelitian pada zamannya (awal tahun 1930-an), hasil kerja Muhamad Apan adalah sebuah pencapaian ‘ilmiah’ yang cukup maju untuk ukuran zaman itu. Agar objectief, data dan fakta dikumpulkannya menggunakan kaidah atau “metode”, seperti ditegaskannya pada bagian pedahahuluan Berita District van Bintan: “…Berita itu hendaklah berisi dengan keadaan yang sebenarnya ada (objectief) dan terjauh hendaknya dari pada angan-angan kosong (fantatie)…”

Selama proses penyelidikan untuk  laporan ini, Muhamad Apan benyak memanfaat bahan sumber sejarah Melayu (geschiedenish) seperti,Hikayat Hangtuah, manuskripSejarah Raja-Raja Bugis; arsip-arsip dan surat-surat perjanjian antara kerajaan Riau-Lingga dan Belada yang disebutnya Firman-Firman. Selain itu, ia juga memanfaatkan legenda-legenda (cerita pusaka) yang diwarisi masyarakat ketika itu. Bahkan ia juga menerapkan semacam ‘penelitian lisan’ dengan mewawancai 24 orang narasumber yang terukur.

Dalam mengumpulan informasi lisan tersebut, Muhammad Apan tidak Hanya mewawancarai kaum ‘elit diraja’ yang masih ada di Pulau Penyengat ketika it; seperti Raja Haji Ahmad di Penyengat, Raja Haji Sulaiman Imam Masdij Penyengat, Encik Tahir mantan Datuk Balai di Penyengat, atau Said Muhammad Syekh (bekas Penghulu Semberap Pawai Raja) saja. Ia juga menyauk informasi lisan dari tetua orang pesuku dan orang laut seperti, Kundang Batin di Perih, Munsa Juru di Pelangka, Tjabuk Hakim di Pulau Mantang, Uyub Batin di Kelong, Busu Batin Teluk Bakau, Dagang Batin di Pulau Karas, dan Ogek Batin di Pulau Mantang.

Memandangkan kandungan isinya, Hasan Junus dalam sebuah katalogus tentang Naskah dan Buku-Buku Lama Riau-Lingga (1998- tidak diterbit), memperkirakan bahwa Berita District Van Bintan ditulis “untuk kepentingan promosi kenaikan pangkat penulisnya”.

***

Muhammad Apan memilah kandungan isi Berita District Van Bintan menjadi beberapa bagian. Pertama, Pendahuluan, yang menjelaskan latar belakang pemikiran Penyelidikan. Pada bagian ini dijelaskan metode dan bahan yang digunakan. Kedua,Pendapatan, yang berisikan komulatif hasil penyelidikan yang didapat dari bahan sumber yang diperdigunakannya.

Pada bagian Pendapatan, yang menjadi teras utama Berita District Van Bintan ini, Muhammad Apan menguarikandengan dengan panjang lebar perkembangan adat dan hukum-hukum adat serta aspek-aspek sisial-politik masyarakat Kepulauan Riau-Lingga sejak zaman Pra-Kerajaan Johor-Riau-Lingga dan Pahang hingga masa-masa berakhirnya kerajaan itu pada tahun 1913.

Antara lain dijelaskan bagaimana bentuk pemerintahan masyarakat KepulauanRiau-Lingga sebelum kerajaan Johor bertapak di daerah ini. Bagaimana aturan hukum dan sistim pengadilannya (rechtspraak).  Begitu juga dengan aturan adat pergaulan sehari-hari (gemeenschap), dan tentang adat memilih serta menjadi ketua diantara sesamanya.

Dijelaskan pula bagaimana adat dan hak perkawinan, hak dan hukum tanah, sistim mata pencaharian, serta sumber-sumber pendapatan para Juru dan Batin yang diatur dalam hukum adat sebelum hadirnya kerajaan Johor-Riau-Lingga-Pahang.

Tentang sistim pemerintahan (bestuur) pada masa akhir Kerajaan Riau-Lingga di Penyengat, Muhamad Apan menjelaskan sebegai berikuT: “…Pada achir periode ini, atas nama Yamtuan Muda,  Tuan Hakimlah (Kepala Mahkamah Besar di Pulau Penyengat) sebagai Hoofdleider (Pemimpin Utama) dari Uitvoerende Orgaan (pejabat dalam pemerintah kerajaan)”.

Tuan Hakim ini (Raja Muhammad Thahir) sekaligus menjadi Hoofd der Centraal Bestuur  (Kepala Pusat Pemerintahan) bagiPenghulu Semberap Pawai Raja, Datuk Indraguru, Panglima Kawal, Penghulu Bugis, Datuk Bandar(Syahbandar), dan wakil-wakil kerajaan yang bergelar Amir (seperti Amir Batam di Pulau Buluh, Amir Lingga di Dabo Singkep, dan Amir Mandah di Indragiri).

Sebagai sebuah laporan pelitian dengan  kadar ‘ilmiah’ yang terukur, Berita District Van Bintan adalah bahan sumber yang kaya dan penting bagi siapa saja yang akan bertekun-tekun meneliti aspek hukum, adat, dan sistem pemerintahan tradisi dalam masyarakat Kepulauan Riau di masa lalu.***

Antara Badik dan Dala’il al-Khairat

0

TELAH berbulan-bulan para menteri, panglima, hulubalang, laskar, bahkan rakyat Negeri Barbari berperang melawan musuh yang datang dengan misi penaklukan. Mereka berjuang demi mempertahankan negeri tercinta yang akan direbut oleh lawan. Korban berjatuhan, baik pihak Kerajaan Barbari maupun pihak musuh, Kerajaan Hindustan. Demi bangsa dan negara, para wira sejati tak pernah memikirkan diri sendiri walau jiwa harus terkorban.

            Suasana itu diperikan dalam Syair Abdul Muluk karya Raja Ali Haji rahimahullah (1846). Dalam lanjutan syair itu dikisahkan pula keadaan ini. Karena melihat banyaknya prajurit yang gugur, sebagian hulubalang dan tentara yang masih meneruskan pertempuran agak menurun moralnya. Keadaan yang mengkhawatirkan itu, kemudian, dilaporkan oleh seorang menteri kepada Sultan Abdul Muluk di istana.

            Sultan yang karismatik itu lalu membuat keputusan. Walaupun para menteri berida (senior) kurang menyetujuinya, dia teguh pada pendiriannya. Dia tak boleh lagi sekadar menunggu laporan di istana, sedangkan prajurit dan rakyat banyak yang gugur untuk membela negara.

“Kini betalah yang harus turun ke medan perang. Hidup dan mati bukan di tangan manusia. Allah-lah yang menetapkan takdir-Nya. Tak berperang pun, kalau telah sampai ajalnya, beta akan mati jua. Bukan saatnya untuk memperhitungkan hidup atau mati sekarang. Kesemuanya beta serahkan kepada kehendak Tuhan,” titah tegas Sultan Barbari kepada para bawahan yang mendampinginya di istana.

Berangkat sultan muda yang majelis
Panah senapang berlapis-lapis
Pedang pemuras kiri kanan berbaris
Rupanya seperti di dalam tulis

Bait di atas merupakan kelanjutan Syair Abdul Muluk, bait 700, yang menggambarkan keberangkatan Sultan Abdul Muluk ke medan peperangan. Tekadnya sudah bulat untuk memimpin langsung para tentara dan rakyatnya berperang melawan musuh dari Kerajaan Hindustan. Pasalnya, dia tak rela negeri yang telah diperjuangkan dan diwariskan oleh nenek-moyangnya dengan darah dan air mata, bahkan nyawa, harus jatuh ke pihak musuh yang tak memiliki sifat dan perilaku mulia selayaknya insan.

Soal perjuangannya berjaya atau tidak, biarlah Allah yang menentukan. Mungkin serangan dadakan lawan itu pun merupakan ujian kepada dirinya sebagai pemimpin dan rakyat sekalian untuk membuktikan kecintaan kepada negeri anugerah Tuhan. Abdul Muluk, dengan sikap dan pilihannya itu, membuktikan dirinya sebagai pemimpin patriotik, suatu karakter terwaris yang dimiliki oleh setiap pemimpin terbilang.     

            Sikap patriotisme jugalah yang memotivasi Raja Muda Kesultanan Johor-Riau ketika Johor diserang musuh pada 1718. Kala itu Kesultanan Johor-Riau dipimpin oleh Sultan Abdul Jalil Riayat Syah, yang menggantikan Sultan Mahmud Mangkat Dijulang yang wafat pada 1699, tanpa meninggalkan keturunan. Tiba-tiba seseorang yang mengaku putra Sultan Mahmud Syah II yang telah mangkat itu menyerang Johor untuk memperebutkan tahta Johor-Riau dari pemimpin sahnya. Riwayatnya dikisahkan oleh Raja Ahmad Engku Haji Tua dan Raja Ali Haji dalam karya mereka Tuhfat al-Nafis. Patriotisme Raja Muda Johor-Riau sangat menonjol dalam perang itu.

“Maka Raja Muda pun membunuh isterinya lalulah ia keluar mengamuk pula, kerana fikirannya daripada isterinya diambil … diperbuatnya gundik, terlebih baik biar hilang sekali. Kemudian Raja Muda pun mengamuklah menyerbukan dirinya kepada pihak sebelah Raja Kecik itu. Lalu berkejar-kejaran hambat-berhambat hingga sampai ke Kayu Anak nama tempat itu. Maka Raja Muda pun mangkatlah di situ, sebab sabur menyabur orang beramuk itu,” (Matheson (Ed.) 1982, 57).

 Raja Muda memang tewas dalam pertempuran itu. Akan tetapi, namanya tercatat sebagai pembela tanah air sejati. Beliau merupakan satu di antara pemimpin patriotik yang pernah dimiliki oleh Kesultanan Johor-Riau-Pahang-Terengganu, nama lengkap kesultanan itu kala itu.

Karakter patriotik seyogianya memang melekat pada setiap pemimpin sejati. Kemuliaan seseorang anak manusia, lebih-lebih pemimpin, terserlah dari sikap dan perbuatan atau perjuangannya membela bangsa dan negara walaupun dia harus mengorbankan segala-galanya. Gurindam Dua Belas, Pasal yang Kelima, bait 3 (Haji, 1847) menyiratkan kearifan itu.

Jika hendak mengenal orang mulia
Lihat pada kelakuan dia

Gurindam Dua Belas, Pasal yang Kelima, bait 3

Pemimpin patriotik adalah pemimpin mulia. Dia mengutamakan kepentingan bangsa dan negara daripada kepentingan lainnya, termasuk kepentingan diri dan keluarganya. Dia tak pernah rela di bawah kepemimpinannya, justeru, negeri tergadai dan bangsanya terkulai, tak berdaya dalam persaingan bangsa-bangsa sejagat yang semakin lihai. Apatah lagi, jika kesemuanya itu karena perilakunya sebagai pemimpin yang abai dan lalai. Akibatnya, jadilah negerinya ibarat bahtera tembuk yang tersadai. Pasalnya, pemimpinnya tak mahir bermain di atas gelombang yang memang cenderung menggila di tengah badai.

Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang ternyata tak pernah putus dianugerahi para wira yang berjiwa patriotik. Patah tumbuh, hilang berganti. Pada Perang Riau I tercatatlah dengan tinta emas di hati para pewaris negeri patriotisme seorang Raja Haji Fisabilillah. Setelah menang perang melawan Belanda di Tanjungpinang pada 6 Januari 1784, Baginda Yang Dipertuan Muda, bersama Sultan, mengejar Belanda yang melarikan diri ke Melaka. Matlamatnya untuk merebut kembali Negeri Melayu itu dan membebaskannya dari cengkeraman penjajah. Setelah beberapa bulan berperang, Tuhfat al-Nafis merekamkan kisah selanjutnya. Perang itulah yang membuktikan kepahlawanan sejati sekaligus patriotisme Raja Haji Fisabilillah, Yang Dipertuan Muda Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang (1777-1784).

 “… Dan beberapa lagi orang yang baik syahid itu dengan tiada membuang belakang. Syahadan adapun Holanda mati di dalam perang itu ada kira-kira tujuh puluh orang dan tiga orang besarnya yang mati. Maka Yang Dipertuan Muda Raja Haji pun bangkit mengunus badiknya dan sebelah tangannya memegang Dala’il al-Khairat. Maka dipeluk oleh beberapa orang maka di dalam tengah berpeluk-peluk itu maka Yang Dipertuan Muda Raja Haji pun kenalah peluru baris senapang. Maka ia pun rebahlah mangkat syahidlah ia innalillahi wa inna ilahihi rajiun,” (Matheson (Ed.) 1982, 209).

Dalam perang di Teluk Ketapang, Melaka (bagian Malaysia sekarang), Raja Haji Fisabilillah dan sebagian prajuritnya gugur sebagai syuhada pada 18 Juni 1784. Baginda mangkat dengan sebelah tangannya memegang badik dan tangannya yang lain memegang kitab Dala’il al-Khairat. Panglima perang yang gagah perkasa, yang telah malang-melintang dalam pelbagai peperangan, baik di laut maupun di darat, itu telah membuktikan kepada generasi penerusnya tentang ini. Negeri yang telah dibangun oleh para pendahulu sejak berbilang zaman ini mesti dijaga dan dibela dengan sepenuh cinta walau harus mengorbankan harta, jiwa, dan raga. Jika tidak, para penceroboh akan merajalela dan anak negeri akan terlunta-lunta.

Di tengah kecamuk perang terakhirnya, Baginda telah berfirasat akan syahid dalam perang itu. Akan tetapi, jiwa patriotisme yang mengalir di dalam darahnya tetap membuncahkan semangat Baginda untuk berbakti kepada bangsa dan negara. Padahal, kalau hendak berdamai dengan Belanda, bangsawan perkasa yang sangat dikenal oleh Belanda seperti Raja Haji dijamin dapat duduk megah di singgasana mewah seraya menikmati harta yang berlimpah sepanjang hayatnya. Bahkan, anak-cucunya pasti akan dipelihara. Akan tetapi, Baginda bukanlah jenis pemimpin oportunis seperti itu. Dengan pilihan lebih mulia syahid di medan juang daripada negeri dan bangsanya terjajah, Raja Haji Fisabilillah secara bermartabat telah menunaikan baktinya sebagai pemimpin sejati sehingga patut dikenang segenap rakyat.

Rupanya pedoman dari Tuhan jualah yang memotivasi para wira sejati untuk mempertahankan tanah air dan bangsa. Itulah sebabnya, tak pernah ada keraguan sedikit pun di hati mereka untuk melaksanakan tanggung jawab mulia.

“Dan, tak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapakah sebagian dari setiap golongan di antara mereka tak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali agar mereka dapat menjaga diri,” (Q.S. At-Taubah,122).

Berperang untuk mempertahankan negara ketika musuh datang hendak menguasai negeri memang diwajibkan oleh Allah kepada sesiapa saja. Selain itu, menuntut ilmu-pengetahuan dan pada gilirannya mengembangkannya untuk kemajuan segenap bangsa juga tak boleh diabaikan. Pendek kata, segala bakti yang diperlukan untuk kelangsungan bangsa memang wajib diupayakan, terutama oleh pemimpin, sehingga rakyat tak salah telah memilihnya. Tak boleh pilih kasih dalam perkara ini. Bagi pemimpin patriotik, semua tanggung jawab itu sangat disadarinya sehingga seberat apa pun penanggungannya akan dilaksanakannya dengan bijak dan seikhlas-ikhlasnya.

Tak berselang lama. Perang Riau II berkecamuk di perairan Tanjungpinang dan sekitarnya pasca-Perang Teluk Ketapang, Melaka. Puncaknya terjadi pada 10-13 Mei 1787. Ini tak semata-mata upaya balas dendam. Akan tetapi, lebih-lebih untuk menyelamatkan negara dan bangsa dari cengkeraman penjajah, Holanda. Mereka memang menjadi musuh abadi Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang kala itu. Kali ini menyerlahlah patriotisme, kepemimpinan, dan kepiawaian Sultan Mahmud Riayat Syah (1761-1812). Saatnya orang nomer satu sekaligus bertindak sebagai pemimpin perang.

 “… Maka Holanda pun mengisilah meriamnya hendak membedil perahu lanun itu maka perahu-perahu penjajab yang di dalam Sungai Riau itu pun bersedialah rupa-rupa hendak membedil. Maka lanun rapatlah ke Tanjung Pinang, maka dibedil oleh penjajab-penjajab Riau dengan tiada berpeluru. Maka lanun pun naiklah ke darat lalu diamuknyalah Tanjung Pinang itu. Maka dilawan oleh Holanda maka beramuk-amuklah. Maka banyaklah Holanda-Holanda itu mati lalu lari turun ke kecinya dan turun ke belah semangkanya berlayarlah ia ke Melaka, mana yang hidupnya,” (Matheson (Ed.) 1982, 221).

Dilaporkan oleh Netscher (1870), Belanda memvonis bahwa yang bertanggung jawab sekaligus aktor intelektual Perang Riau I (1782—1784)  adalah Sultan Mahmud III. Dalam pada itu, Baginda tetap tak mau berunding apatah lagi berdamai dengan Belanda. Itulah yang memicu Perang Riau II di Tanjungpinang.

Dengan kemampuan diplomasinya yang luar biasa, Sultan Mahmud dapat meyakinkan pemimpin Tempasuk (Kalimantan) untuk berkoalisi dengannya. Dengan bantuan kekuatan 90 kapal perang dan 7.000 tentara dari Tempasuk, yang disebut lanun oleh Belanda, ditambah kekuatan pasukan sendiri, serangan besar-besaran pun dilakukan. Perang itu telah menghancurkan garnizun Belanda di Tanjungpinang dan menewaskan tentara mereka. Bahkan, David Ruhde, Residen Belanda di Riau kala itu,  terpaksa lari ke Melaka untuk menyelamatkan diri.

Selanjutnya, 24 Juli 1787 tanpa disangka-sangka oleh sesiapa jua, Sultan Mahmud memindahkan pusat pemerintahan sekaligus markas utama perjuangan ke Daik, Lingga. Di tempat yang baru itu, rupanya, Baginda menerapkan Perang Gerilya Laut. Dengan strategi itu, pasukan Sultan Mahmud betul-betul merugikan bisnis Belanda. Berdasarkan pengakuan Gubernur VOC di Melaka, de Bruijn, kekuatan armada VOC tak pernah mampu menandingi kekuatan armada laut Sultan Mahmud di Lautan Kepulauan Lingga, Selat Melaka, sampai ke perbatasan Laut Jawa.

Akhirnya, 29 Mei 1795 Gubernur Jenderal VOC-Belanda di Batavia mengakui kedaulatan Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang di bawah pimpinan Sultan Mahmud Riayat Syah. Sejak itu Kesultanan Melayu itu kembali merdeka. Selanjutnya, Sultan Mahmud terus membantu kerajaan-kerajaan nusantara lainnya melawan Belanda dengan angkatan perang dan atau persenjataan sampai akhir hayat Baginda (12 Januari 1812). Atas dasar itulah, pejabat Inggris di Penang (bagian Malaysia sekarang) melaporkan kehebatan kepemimpinan Sultan Riau-Lingga-Johor-Pahang itu pada Januari 1788. Dalan laporan itu disebutkan, “Sultan Mahmud Riayat Syah adalah penguasa terbesar dan paling jenius di kalangan pemimpin Melayu,” (Vos, 1993). Kita boleh berbangga karena negeri ini pernah memiliki pemimpin kelas dunia. Dengan patriotismenya, mereka tak pernah rela sebarang pihak mencabar kelangsungan negara dan bangsanya dengan cara apa pun. Oleh sebab itu, Raja Ali Haji berpesan kepada generasi penerusnya, terutama mereka yang diamanahkan menjadi pemimpin, dalam Tsamarat al-Muhimmah (dalam Malik, 2013). Harapannya janganlah pula pemimpin, pada peringkat mana pun, menjadi bagian dari yang disebutkan pada larik terakhir syair itu, seperti “pagar makan tanaman”.

Ayuhai segala raja menteri
Serta pegawai kanan dan kiri
Hendaklah jaga ingatkan negeri
Perampok penyamun perompak pencuri

Tsamarat al-Muhimmah , Raja Ali Haji

Antara badik dan Dala’il al-Khairat ada amanat hendak disampaikan. Negeri hebat anugerah Allah ini memerlukan kesetiaan setiap anak negeri untuk membelanya dari sebarang anasir yang tiada berhak untuk menguasainya dengan segala daya dan cara. Ada pesan kultural juga. Di negeri inilah perjuangan peradaban digelorakan oleh para syuhada yang tak mengenal rasa gerun dan takut untuk memartabatkan bangsa agar tetap setara dengan bangsa mana pun di jagat raya ini selama-lamanya.

Antara badik dan Dala’il al-Khairat seyogianya menyerlah jiwa patriotisme segenap anak bangsa, mentelah lagi pemimpinnya. Sampai bila-bila masa pun tetap setia mempertahankan ideologi negara, memperjuangkan kekuatan persatuan dan kesatuan bangsa, mengembangkan ilmu-pengetahuan dan teknologi, dan mengokohkan keyakinan beragama. Dengan begitu, rahmat, hidayah, dan inayah Allah akan menyertai perjuangan kita untuk menjadi satu di antara bangsa maju yang berperan penting dalam persaingan bangsa-bangsa sedunia.

Patriotik adalah karakter terwaris bangsa kita. Pantang dibiarkan ianya sirna, apatah lagi sampai menghantam saudara sebangsa. Itu dayus namanya!***

Keluarga dan Karakter

0

SETAKAT ini pendidikan karakter menjadi isu utama pemerintah, khasnya dalam bidang pendidikan. Selain menjadi bagian dari proses pembentukan akhlak atau budi pekerti anak bangsa, pendidikan karakter pun diharapkan mampu menjadi asas (fondasi) utama untuk menyukseskan Indonesia Emas 2045. Suatu isu yang memikat dan bermartabat.

Dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 13, ayat 1 disebutkan bahwa jalur pendidikan terdiri atas pendidikan informal, formal, dan nonformal. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan, yang berperan dan berkontribusi strategis dalam pencapaian keberhasilan pendidikan, terutama dalam pembentukan karakter peserta didik. Pasalnya, 70 persen waktu peserta didik berada di lingkungan keluarga dan masyarakat. Oleh sebab itu, karakter anak-anak mencerminkan karakter keluarga dan masyarakatnya.

Berhubung dengan kewajiban menerapkan pendidikan karakter terhadap peserta didik, terlebih dahulu karakter keluarga dan masyarakat harus terpelihara sebagai contoh atau tauladan manusia yang berkarakter baik. Jika tidak, pendidikan karakter yang diperoleh peserta didik dalam pendidikan formal akan sia-sia belaka karena tak disokong oleh lingkungan sekitar yang kondusif.

Selama ini pendidikan informal, terutama di lingkungan keluarga, cenderung belum memberikan kontribusi yang berarti dalam menyokong pencapaian kompetensi dan pembentukan karakter peserta didik. Ironisnya, justeru, karakter individu peserta didik Indonesia, bahkan, terasa di ambang yang sangat mengkhawatirkan, khususnya di beberapa wilayah negeri ini, terutama di kota-kota.

Media cetak dan elektronik selalu menyoroti rekaman yang sungguh mengerikan berhubung dengan kekerasan yang dilakukan oleh peserta didik. Di antaranya yang menyayat hati adalah perilaku penyakatan (bullying), perampokan, pengedaran narkoba, sampai kepada pembunuhan. Selain itu, perkelahian massal kerap terjadi di kalangan pelajar, nyaris menjadi kebanggaan. Bahkan, tak jarang terjadi seseorang atau sekelompok peserta didik mencabar gurunya untuk berkelahi di ruang kelas. Lebih malangnya, dalam konteks yang disebut terakhir itu, ada pula orang tua yang mendukung perilaku negatif anaknya.

Sebenarnya, kesemuanya itu adalah masalah bersama kita sebagai bangsa. Oleh sebab itu, diperlukan penanggulangan yang tepat dan cepat. Slogan revolusi mental yang dikedepankan pemerintah pun seolah-olah tak mendapat perhatian yang memadai dan sungguh-sungguh. Ironisnya, realitas yang diperikan di atas, justeru, terjadi pada era slogan itu digaungkan secara luas kepada masyarakat.

Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas)—sekarang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan—telah menerbitkan Kebijakan Pendidikan Karakter melalui Rencana Aksi Nasional (2010—2014). Dalam hal ini, pendidikan karakter adalah pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, dan pendidikan watak. Tujuannya adalah mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang telah baik, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati (Kemendiknas, 2010; Pusat Kurikulum, 2010).

Sejalan dengan itu, Kemendiknas juga menetapkan tiga fungsi pendidikan budaya dan karakter bangsa, antara lain, (1) pengembangan, yakni mengembangkan potensi peserta didik untuk menjadi pribadi yang berperilaku baik, khasnya bagi peserta didik yang telah memiliki sikap dan perilaku yang mencerminkan budaya dan karakter bangsa, (2) perbaikan, yakni memperkuat peran pendidikan nasional untuk bertanggung jawab dalam pengembangan potensi peserta didik yang lebih bermarwah atau bermartabat, dan (3) penyaring, yakni menyaring budaya bangsa sendiri dan budaya bangsa lain yang tak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang bermartabat (Kemendiknas, 2010; Pusat Kurikulum, 2010; Malik, 2014).

Untuk menangkal kejadian-kejadian seperti kekerasan dan perilaku negatif lainnya yang cenderung terjadi, perlu diupayakan secara bersungguh-sungguh pemahaman cara menanam dan menumbuhkan karakter seperti pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, dan pendidikan watak di lingkungan keluarga (Malik & Shanty, 2019; Zuriah, 2008). Sejalan dengan nilai-nilai itu, secara substantif, ada tiga unjuk perilaku yang saling berkaitan dan sangat mustahak bagi anak-anak, yakni: (1) moral knowing; (2) moral feeling; dan (3) moral behavior (Lickona, 2013). Kesemuanya itu harus diterapkan dalam pendidikan karakter.

Keluarga merupakan faktor internal yang palingberpengaruh terhadap perkembangan karakter anak-anak. Peran orang tua menjadi mata tombak yang sangat menentukan dalam pembentukan seseorang anak menjadi pribadi yang berkarakter positif. Akan tetapi, memang ada juga perspektif yang berbeda. Dalam hal ini, ada pendapat bahwa penentu seseorang anak-anak menjadi baik atau tidak tergantung pada guru. Pernyataan yang disebutkan terakhir itu dapat dipastikan tak sepenuhnya benar walaupun peran guru dalam pendidikan formal memang sangat signifikan dan tak boleh dinafikan. Hanya, guru tak mungkin bertepuk sebelah tangan tanpa sokongan yang berarti dari orang tua dan masyarakat.

Sebagian besar waktu kanak-kanak dihabiskan di lingkungan keluarga dan masyarakat. Mereka merekam semua peristiwa yang terjadi hari demi hari di lingkungan sehingga tersimpan dengan baik dalam memori mereka. Hal ini sangat riskan. Pasalnya, semua kejadian itu terekam, baik positif maupun negatif. Di sinilah peran orang tua dan masyarakat sangat dipelukan untuk mengantisipasi hal itu, terutama pengalaman negatif (Malik, 2015). Oleh sebab itu, penerapan pendidikan karakter kepada anak-anak di lingkungan keluarga mesti dilaksanakan sejak dini.

Pemikiran tentang kewajiban memberikan pendidikan, termasuk dan lebih-lebih pendidikan karakter, terhadap anak-anak sesuai benar dengan kearifan yang tersurat dalam Gurindam Dua Belas, Pasal yang Kesepuluh, bait 3, karya Raja Ali Haji rahimahullah (Haji, 1847).

Dengan anak janganlah lalai
Supaya boleh naik ke tengah balai

Gurindam Dua Belas, Pasal yang Kesepuluh, bait 3, Raja Ali Haji

Dalam bait gurindam di atas terkandung amanat tentang kewajiban utama orang tua untuk mendidik anak-anak mereka. Orang tualah pihak pertama yang paling bertanggung jawab terhadap baik-buruk pendidikan dan, pada gilirannnya, karakter anak-anak mereka. Jika ibu-bapak gagal memberikan pendidikan yang baik, benar, dan bermanfaat, anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter buruk seperti contoh-contoh perilaku negatif yang diperikan di atas, yang menerpa peserta didik kita.

Tentu, tugas itu selanjutnya terbebankan juga kepada masyarakat secara nonformal, terutama tentang contoh-contoh sikap dan perilaku yang baik dalam masyarakat sehingga dapat ditauladani oleh anak-anak. Dalam masyarakat yang selamba terhadap sebarang jenis penipuan, apa pun bentuknya misalnya, anak-anak tak mendapatkan contoh perilaku yang berkarakter baik sehingga praktik menipu mereka anggap biasa atau normal saja. Begitu pulalah perilaku negatif lainnya.

Selanjutnya, guru secara formal memang ditugasi untuk melaksanakan tanggung jawab mulia itu sesuai dengan profesi mereka. Dalam hal ini, pendidikan akademik dan pendidikan karakter harus diberikan kepada peserta didik secara proporsional. Semakin rendah jenjang pendidikannya, porsi pendidikan karakter seyogianya lebih banyak daripada pendidikan akademik.

Di negara-negara maju, bahkan, masalah karakter telah selesai begitu anak-anak menamatkan pendidikan dasar. Artinya, anak-anak tamatan sekolah dasar telah berasa sangat malu untuk berbuat kesalahan, baik secara hukum, sosial, maupun moral. Itulah sebabnya, di Jepang, misalnya, seseorang pejabat yang baru menjadi tertuga berbuat kesalahan, dengan suka rela mengundurkan diri dari jabatannya.

Berhubung dengan guru pula, ada baiknya dihayati nasihat Gurindam Dua Belas, Pasal yang Keenam, bait 2.

Cahari olehmu akan guru
Yang boleh tahukan tiap seteru

Gurindam Dua Belas, Pasal yang Keenam, bait 2

Setiap gurusejati seyogianya mampu memberikan pedoman dan tauladan bersikap, bertutur, dan berperilaku kepada anak didiknya. Dia tak hanya sekadar mengajarkan anak didiknya tentang ilmu-pengetahuan atau pendidikan akademik saja. Lebih daripada itu, guru yang sebenarnya guru mampu membentuk karakter anak didiknya menjadi manusia yang berkarakter terala (luhur dan mulia) dengan guru itu sendiri sebagai contoh terbaiknya.

Pokok-pangkal tentang pendidikan anak-anak, terutama pendidikan karakter, memang tertumpu kepada orang tua. Perkara itu telah ditunjukkan dengan sangat jelas oleh Rasulullah SAW dalam salah satu hadits Baginda.

Rasulullah SAW bersabda, “Apabila seseorang telah meninggal dunia, maka putuslah seluruh amalnya, kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya,” (H.R. Muslim).

Hanya anak-anak yang berkarakter baik yang dapat menjadi anak shalih. Anak-anak dengan kualitas unggul itu baru wujud kalau mendapat pendidikan yang benar dan baik dari orang tuanya, sama ada pendidikan duniawi ataupun pendidikan agama. Pada akhirnya, anak-anak yang berkarakter shalih itu pulalah yang dapat  menyelamatkan orang tuanya dalam persidangan akhirat di hadapan Sang Khalik dengan doanya, bukan anak yang berkarakter buruk.

Bersabit dengan pentingnya, Tim Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Maritim Raja Ali Haji telah beberapa kali melakukan sosialisasi tentang pendidikan karakter di lingkungan keluarga masyarakat Kota Tanjungpinang. Pelaksanaannya melalui  kegiatan pengabdian kepada masyarakat, yang menjadi salah satu darma dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kegiatan yang dilaksanakan, terutama, dalam bentuk (1) sosialisasi tentang pendidikan karakter dan (2) pelatihan implementasi pendidikan karakter di lingkungan keluarga.

            Pelaksanaan kegiatan umumnya meliputi empat aktivitas utama. Pertama, sosialisasi, yakni memberikan sosialisasi tentang pendidikan karakter kepada para peserta; kedua, pelatihan implementasi, yakni melatih para peserta mengimplementasikan pendidikan karakter kepada anak-anak di lingkungan keluarga; ketiga, penerapan, yakni para peserta melaksanakan pendidikan karakter kepada anak-anak dan atau adik-adiknya masing-masing; dan keempat, pemantauan, yakni pelaksana memantau semua aktivitas peserta dari awal sampai akhir kegiatan seraya dilakukan penilaian berdasarkan tanya-jawab, diskusi, dan praktik impelemtasi yang dilaksanakan oleh peserta. 

Dalam kegiatan itu, delapan belas nilai karakter diterapkan di lingkungan keluarga. Nilai-nilai karakter itu adalah religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab (Pusat Kurikulum, 2010; Zuriah, 2008).

Implementasi pendidikan karakter itu diintegrasikan dengan kearifan lokal yang terdapat di dalam masyarakat. Unsur budaya Melayu yang ada di Kepulauan Riau sangat kaya akan nilai pendidikan karakter. Kesemuanya itu dapat digunakan sebagai bahan atau sumber pendidikan karakter, antara lain, (1) lagu mengulik (mendodoikan anak), (2) lagu-lagu tradisional, (3) pantun, (3) syair, (4) gurindam, (5) cerita rakyat, (6) petatah-petitih, (7) tarian tradisional, (8) pantang-larang, (9) teater tradisional: bangsawan, mendu, makyong, dan lain-lain.

Selama kegiatan berlangsung, diperoleh banyak keluhan yang disampaikan para orang tua tentang gejala anak-anak mereka yang semakin kurang positif karakternya. Tak jarang pula para orang tua agak kewalahan menghadapi gejala negatif yang dialami oleh anak-anak mereka. Tambahan lagi, para orang tua memang tak memahami program pemerintah tentang pendidikan karakter di lingkungan keluarga. Alhasil, mereka tak memahiri penerapan sistematis pendidikan karakter kepada anak-anak.

Kenyataan yang agak membimbangkan itu menunjukkan gejala ini. Program pendidikan karakter yang diandalkan oleh pemerintah belum tersosialisasikan dengan baik di lingkungan keluarga dan masyarakat. Data ini menjadi kejutan tersendiri. Sebelum dilaksanakan kegiatan, penguasaan peserta (orang tua) tentang pendidikan karakter hanya 44 persen. Indikatornya meliputi pengetahuan, pemahaman, kemahiran, kebiasaan, dan sikap dalam mengimplementasikan pendidikan karakter di rumah tangga. Di dalamnya termasuklah penguasaan dan kemahiran menerapkan kearifan lokal budaya daerah untuk pendidikan karakter anak-anak.

Alhamdulillah, setelah dilaksanakan pelatihan sekitar tiga bulan, persentase itu naik secara signifikan. Dalam hal ini, kenaikan rata-ratanya 47 persen sehingga para orang tua yang menguasai pendidikan karakter menjadi rata-rata 91 persen untuk semua indikatornya. Kenyataan itu membuktikan lagi bahwa sebenarnya para orang tua tak terlalu asing terhadap pendidikan karakter, lebih-lebih yang nilai-nilainya terdapat dalam kearifan lokal budaya mereka. Persoalannya hanyalah mereka kurang menyadarinya selama ini dan tak terbiasa menerapkannya secara sistematis dalam pendidikan anak-anak di rumah tangga.      

Berhubung dengan fakta yang ditemukan itu, para pihak yang berkepentingan, terutama pemerintah, hendaklah memperhatikan perkara ini secara bersungguh-sungguh. Pertama, pendidikan karakter harus lebih intensif disosialisasikan kepada masyarakat. Pasalnya, sebagian besar masyarakat belum sepenuhnya memahami cara menerapkannya dalam pendidikan informal di lingkungan keluarga. Kedua, nilai-nilai karakter yang terdapat dalam kearifan lokal tempatan seyogianya terus digali agar dapat diterapkan dalam program pendidikan karakter di lingkungan keluarga dan masyarakat. Dengan demikian, sumber pendidikan karakter benar-benar berasal dari budaya positif masyarakat. Alhasil, anak-anak tak berasa asing dengan materi yang diterapkan kepada mereka.

“Wahai, orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka serta selalu mengerjakan apa yang diperintahkan(-Nya),” (Q.S. At-Tahrim, 6).

Memelihara keluarga, khasnya anak-anak, memang menjadi tanggung jawab kita bersama. Untuk itu, pendidikan karakter harus diterapkan sejak anak-anak masih dini usianya. Jadilah tauladan yang elok bagi anak-anak kita. Berhentilah berpura-pura dan bercitra semu yang tak ada faedahnya. Hanya dengan cara itu kita akan berjaya mewujudkan generasi Indonesia Emas 2045.

Janganlah kesemuanya itu menjadi slogan kosong sebagai penghias bibir belaka. Pasalnya, generasi anak-cucu kita yang akan menanggung beban dan padahnya. Entahlah kalau kita memang tak lagi menaruh setetes kasih pun kepada mereka.***

Kitab Panduan Kanak-Kanak

0
Sampul Kitab Panduan Kanak-Kanak cetakan pertama oleh Ma’thba’ah al-Ahmadiah 50 Minto Road, Singapura, 1339 H / 1920 M. (Dok. Aswandi Syahri)

Memperkenalkan Karya Raja Haji Muhammad Sa’id bin Raja Muhammad Thahir Riau

PENTINGNYA pendidikan budi pekerti, adab, dan akhlak sebagai penunjang pengajaran ilmu pengetahuan bagi anak-anak di sekolah, telah dipikirkan juga oleh sejumlah cendekiawan Riau-Lingga pada masa lalu. Gagasan ini antara lain dikemukakan oleh Raja Haji Muhammmad Sa’id melalui sebuah karanya yang berjudul Kitab Panduan Kanak-Kanak.

Early Malay Printed Books

Bila merujuk kepada hasil penelitian bibliografis buku-buku klasik Melayu oleh Ian Proudfoot (1992), maka Kitab Panduan Kanak-Kanak dapat dikategorikan sebagai salah satu Early Malay Printed Books (Buku Melayu Cetakan Lama) yang pernah dihasilkan oleh pengarang Riau-Lingga dari Pulau Penyengat pada masa lalu.

Namun sayang, kitab ini luput dari jangkauan Proudfoot, sehingga tidak tercantum dalam laporan penelitianya yang kemudian dipublikasikan sebagai sebuah ‘katalog’ buku-buku Melayu beranotasi setebal 860 halaman.

Edisi pertama Kitab Panduan KanakKanak dicetak dan dikeluarkan oleh Mathba’ah al-Ahmadiah, yang beralamat di Minto Rood, Singapura, pada tahun 1339 H bersamaan dengan 1920 M.Seperti dijelaskan dalam catatan singkat salah seorang pengurus Mathba’ah al-Ahmadiah (Raja Haji Umar bin Raja Haji Hasan bin Raja Ali Haji) yang diamuat pada bagian akhir kitab ini, pencetakan dan penerbitannya terwujud “dengan kehendak” Raja Ali ibni almarhun Raja Haji Muhammad Riau (Tengku Nong), yang ketika itu menjabat sebagai ketua (Mudir) Mathba’ah al-Ahmadiah, Singapura.

Mathba’ah al-Ahmadiah mencetak kitab ini secara tipografis menggunakan huruf jawi pada 72 muka surat berukuran 16,5 x 12,5 cm yang kemudian dijilid dengan cara dijahit.

Raja Haji Muhammad Sa’id

Catatan pada bagian akhir Kitab Penduan Kanak-Kanak ini juga menyebutkan bahwa pengarangnya adalah, “…seorang muda yang mepunyai perangai yang terpuji dan tingkah laku yang diridhai….” Nama batang tubuh orang muda itu Raja Haji Muhammad Said. Ayahnya, Raja Haji Muhammad Thahir, adalah ahli ilmu falak dan hakim Mahkamah Besar kerajaan RiauLingga di Pulau Penyengat.

Sedangkan datuknya, selain menjabat Yamtuan Muda Riau, adalah seorang Mursyid Tarekat Naqsyabadiah alKhalidiahdi Kerajaan Riau-Lingga yang dibaiat oleh Syekh Ismail Ismail bin Abdullah al-Khalidi al-Minangakauwi.

Raja Haji Muhammad Sa’id lahir di Pulau Penyengat pada tarikh yang belum diketahui angka tahunnya, dan mangkat di Singapura pada hari Selasa 11 Safar 1338 H bersamaan dengan 4 November 1919 M.

Seperti ayahnya, ia juga pakar dalam ilmu falak, dan anggota Tarekat NaqsyabandiahKhalidiah di Pualau Penyengat. Sama seperti ayah dan saudara perempuannya yang bernama Badariah Muhammad Thahir, Raja Haji Muhammad Sa’id meninggalkan sejumlah karya selain Kitab Panduan Kanak-Kanak.

Dari beberapa karyanya, dapatlah diperkirakan bahwa Raja Muhammad Sa’id mulai menulis di Pulau Penyengat pada akhir abad ke-19.Karya pertamanya adalah sebuah kitab berjudul Wa li Nafsi wa li Ikhwani, yang selesai ditulis di Pulau Penyengat pada 9 Safar 1316 H bersamaan dengan 29 Juni 1896, dan kemudian dicetak oleh Mathba’ah al-Ahmadiah Singapura.

Ia juga menulis sebuah karya berjudul Jalan Kesatuan atau Al-Irsyad ila Thariq at-Taalufi wa al-Ittihad. Ditulis di Pulau Penyengat pada pada 25 Syawal 1325 H bersamaan dengan 1 Oktober 1907 H. Atas usaha Raja Haji Umar bin Raja Hasan Riau, Al-Irsyad ini diterbitkan pula oleh Mathba’ah alAhmadiah Singapura pada 1345 H bersamaan 1927 M.

Sebuah terjemahan atas karya Jakfar al-Barzanji yang kemudian diberi judul I’dul Jauhar fi Maulid an-Nabi alAzhar juga lahir dari pena Raja Haji Muhammad Sa’id. Terjemahan kitab puji-pujian dan sejarah Nabi Muhammad S.A.W ke dalam bahasa Melayu ini diselasaikan di Pulau Penyengat pada malam Ahad, 11 Ramadhan 1327 H bersamaan dengan 26 Sepetember 1909, dan dicetak oleh Mathba’ah alAhmadiah, Singapura, pada tahun itu juga.

Pada 4 Muharam 1335 H bersamaan 16 Oktober 1916 M, beliau menyelesaikan pula penulisan Syair Nazam Tajwid al-Qur’an di Pulau Penyengat, dan kemudian dicetak untuk keduakalinya oleh Mathba’ah al-Ahmadiah pada 1346 H bersamaan dengan 1927 M.

Ia juga menerjemahkan karya Syekh Ibrahim Al-Mashiri tentang sejarah Islam dan sejarah Rasulullah S.A.W yang kemudian diberi judul Simpulan Islam. Terjemahan ini dikemas dalam dalam format dwi-bahasa (Arab dan Melayu) ‘…yang amat ringkas dan amat mudah difahamkan oleh muridmurid di dalam tempat pelajaran’. Buku dwi-bahasa ini dicetak oleh Mathba’ah al-Ahmadiah pada 1336 H bersamaan dengan 1921 M.

Sebagai seorang ahli falakiah, Raja Haji Muhammad Sa’id juga menghasilkan kitab Naskah Hisab dan sejumlah Natijah (hasil perhitungan persamaan tarikh hari bulan dan tahun berdasarkan ilmu falak dan hisab) yang selesai ditulis di Singapura pada 1 September 1910 M.

Ian Proudfoot (1992), berdasarkan catatan penelitian lapangan Virginia Matheson di Pulau Penyengat, juga mencatat Raja Haji Muhammad Sa’id sebagai penerjemah pertama karya Ali Afandi Fikri yang diberi judul Adab alFatat atau Adab al-Fatah.

Budi Pekerti dan Ilmu Pengetahuan

Melalui Kitab Panduan KanaKanak, Raja Haji Muhammad Sa’id menegaskan kait-kelindan antara budi pekerti, akhlak, dan adab seorang anak dengan ilmu pengetahuan yang diperolehnya dari tempat pelajaran (sekolah).

Bagi Raja Muhammad Sa’id, pendidikan budi pekerti sangat menentukan manfaat yang dipetik oleh seorang anak dari berbagai pelajaran dan ilmu pengetahuan yang dipelajarinya di tempat pelajaran atau sekolah. Korelasi antara budi pekerti dan capaian pengetahuan yang diperoleh seorang anak di bangku sekolah sangat menentukan faedah yang dapat dipetiknya di masa hadapan.

Menurut Raja Muhammad Sa’id, “…apabila baiklah pekerti kanakkanak itu, niscaya sukalah ibu bapanya. Dan tatkala jadilah ia besar dengan kelakukan yang baik, niscaya mencapailah ia akan pangkat ketinggian diantara segala manusia. Tetapi jika jahat perangainya niscaya dibenci orang akan dia dan menyesallah ia kelak pada kemudian hari…”

Sebagaimana dijelaskan oleh Raja Haji Muhammad Sa’id, Kitab Panduan Kanak-Kanak ini sesungguhnya adalah sebuah kitab pelajaran asas budi pekerti dan akhlak yang dikemas secara singkat atau secara “…pandakatas jalan peringatan dan pengajaran.”

Secara keseluruhan, Kitab Panduan Kanak-Kanak ini berisikan 29 pelajaran atau ‘bab’ tentang budi pekerti dan aklak yang dikemas atau terhias didalamnya dengan “berbagai cetera yang berguna dan ibarat yang berfaedah bagi membaikkan perangai” anak-anak agar sepurna hidupnya apabila besar kelak.

Dalam 29 ‘bab’ pelajaran itu, atara lain terdapat penjelasan dan petunjuk tentang adab kepada ibu bapa dan keluarga; Adab di dalam tempat pelajaran atau sekolah; perihalperangai yang baik; perihal murah(perangai) dan burbudi; perihal membalas kejahatan dengan kebajikan; perihal (ke)wajib(ban) manusia kepada dirinya; perihal (ke)wajib(ban) manusi kepada orang yang lainnya; dan perihal adab berkata(-kata).

Pelajaran adab dan budi pekerti ini disisipi pula dengan ilustrasi dan pembayang-pembayangpengajaran yang berguna, yang dipetik dari pelajaran dasar agama Islam dan kisahkisah dunia binatang (fable) yang ringkas dan jelas, seperti: cerita-cerita Dua Ekor Kucing dan Seekor Kera; Gagak dan Kucing; Merpati dan Srigala dan Punai; dan kisa-kisah pembayang lainnya yang mengandungi pelajaran dan pengajaran.

Secara substansial, Kitab Panduan Kanak-Kanak karya Raja Haji Muhammad Sa’id adalah sebuah kitab pelajaran adab dan budi pekerti yang dapat disanding-bandingkan dengan sebuah karya sejenis berjudul Adab al-Fatah, sebuah karya berbahasa Arab yang diterjemahkan oleh saudara perempuannya, seorang pengarang perempuan Riau Lingga, yang bernama Badariah Muhammad Thahir.***

Perlawanan Dari Bukit Bahjah: Dari Kontrak Politik 1905 Hingga Penghapusan Kerajaan Riau-Lingga 1913

0
Barisan korps sukarelawan (vijwilligerskorps) Kerajaan Riau-Lingga yang dipimpin oleh Tengku Besar Umar. Berbaris Padang Semen di depan Istana Keraton di Pulau Penyengat tahun 1910. (foto: dok. aswandi syahri)

Sekitar setahun setelah penandatanganan kontrak politik (Contract met Lingga, Riouw en Onderhoorigheden) oleh Sultan Abdulrahman Muazamsyah dari Kerajaan Riau-Lingga dan Resident Riouw, William Albert de Kanter, dari pihak pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 18 Mei 1905 , hubungan antara Pemerintah Hindia Belanda di Tanjungpinang dan istana Riau-Lingga di Pulau Penyengat semakin genting.

Isi kontrak politik itu menjadi salah satu isu penting yang dibahas dalam meeting kelompok oposisi (verzerpartij), yakni para anggota Rusydiah Club Riouw Pulau Penyengat, yang dipimpin oleh Raja Ali bekas Kelana Riau-Lingga (mantan calon Yang Dipertuan Muda Riau) di kediamannya di Bukit Bahjah, Pulau Penyengat. Lebih-lebih sejak pihak pemerintah Hindia Belanda mengusulkan sebuah “kontrak politik baru” yang akan menggantikan kontrak politik yang dibuat tahun 1905 itu.

Raja Ali bekas Kelana dan anggota Rusydiah Club Riouw Pulau Penyengat yang menjadi teras utama kelompok oposisi ini  selalu memperbandingkan keadaan kerajaan Riau-Lingga saat itu dengan masa-masa kejayaannya di masa lalu. Mereka juga selalu memberikan pandangan-pandangan politis dan pemahaman kepada Sultan Riau-Lingga, Sultan Abdulrahman Mu’azzamsyah, dengan mengatakan bahwa selama ini baginda Sultan tidak hanya telah banyak menyerahkan uang, tapi juga harga diri dan marwahnya kepada pemerintah Hindia Belanda.

Ketegangan politik antara Kerejaan Riau-Lingga dan Resident Riouw (yang menjadi perpanjangan tangan pemerintah Hindia Belanda di Kerajaan Riau-Lingga) mencapai puncaknya ketika kelompok oposisi pimpinan Raja Ali bekas Kelana (melalui Tengku Besar Umar) berhasil merubah fikiran Sultan Abdulrahman.  Sultan akhirnya menolak menandatangani kontrak politik “baru” tahun 1910 dan menarik semua komitmennya dengan pemerintah Hindia Belanda. Menurut pandangan kelompok oposisi dari Bukit Bahjah, kontrak politik yang baru itu akan semakin menghilangkan wibawa dan kekuasaan Sultan Riau-Lingga. Jika kontrak politik pengganti itu ditandatangani, maka status Kerajaan Riau-Lingga dan daerah takluknya tidak lagi sekedar kerajaan pinjaman (leenrijk) di mata pemerintah Hindia Belanda, akan tetapi menjadi wilayah takluk Belanda dalam pengertian yang sesungguhnya:  menjadi daerah yang diperintah Belanda secara langsung (rechtstreekbestuur).

E.B. Kielstra dalam laporannya yang berjudul Nederland’s betrekkingen tot Riouw (1912), yang terbit sekitar setahun setelah pemakzulan Sultan dan Tengku Besar Kerajaan Riau-Lingga, mancatat adanya perubahan besar dalam sikap politik Kerajaan Riau Lingga itu mulai tampak sejak tahun 1906. Sejak saat itu dan seterusnya, perlahan-lahan Kerajaan Riau-Lingga mulai mengabaikan peringatan serius perihal bendera (penggunaan bendera Riau-Lingga dan bendera Belanda) yang pernah disampaikan langsung oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Willem Rooseboom, kepada Sultan Abdulrahman Muazamsyah dan Raja Ali Kelana ketika keduanya memenuhi panggilan “wakil raja Belanda” tersebut di istana Gubernur Jenderal di Bogor pada tahun 1903. Bahkan Sultan Abdulrahman telah melupakan permohonan maaf terkait pengabaian bendera Belanda pada tahun 1902 yang pernah disampaikannya secara langsung kepada Gubernur Jenderal Willem Rooseboom di Bogor pada tahun 1903.

Setelah tahun 1906, bebepaka kali terjadi tindakan pengabaian teradap bendera Belanda. Di kapalnya, Sultan Abdulrahman Mazamsyah memasang panji-panjinya tanpa didampingi Bendera Belanda. Bendera Kerajaan Riau-Lingga, bendera putih bertengkuk hitam,  juga pernah dipasang di tiang bendera Istana Kedaton tanpa didampingi oleh bendera Belanda ketika Resident Riouw mengunjungi istana Sultan yang terletak di Pulau Penyengat itu. Bahkan, pada tahun 1910, Tengku Besar Kerajaan Riau-Lingga telah mempunyai bendera sendiri tanpa sepengatahuan Resident Riouw.

Sikap perlawanan itu tidak hanya ditunjukkan melalui penggunaan bendera. Pada tahun yang sama (1910), di Pulau Penyengat ditubuhkan sebuah perkumpulan yang disamarkan sebegai perkumpulan olahraga (sportvereeniging) yang dengan cepat beralih fungsi menjadi korps sukarelawan (vijwilligerskorps). Korps sukarelawan ini dilatih oleh aggota keluarga dari Kerajaan Johor di Semenanjung dan dipimpin langsung oleh Tengku Besar Umar. “Yang lainnya dalam proses pembentukan, benar-benar diluar pemerintahan kita, semua pengawal seperti tak bersalah bekerja besuka-suka, ekspresi kesombongan tampak; disini mereka tanpa ragu-ragu, terutama ketika tahu bahwa Tengku Besar (calon pengganti Sultan) terikat ba’iat dengan pihak yang bermusuhan dengan kita (pihak Rusydiah Club Riouw Pulau Penyengat)”, tulis E.B. Kielastra.

Reaksi-reaksi dan sikap politik yang diperlihatkan oleh kelompok oposisi dari Bukit Bahjah ini telah membuka laluan bagi Resident Riouw di Tanjungpinang untuk memulai dan memutuskan sebuah kebijakan dan tindakan politik baru: antara lain dengan mengawasi secara langsung segala pergerakan dan manuver politik istana Riau-Lingga dan daerah takluknya, yang kelak bermuara pada sebuah tindak militer dan politik berupa pemakzulan Sultan, dan Tengku Besar (calon pengganti Sultan), yang kelak, diikuti dengan penghapusan Kerajaan Riau-Lingga.

Keputusan untuk melaksanakan tindakan politik dan militer itu akhirnya benar-benar terjadi pada pagi hari Rabu tanggal 3 Februari 1911. Hampir semua surat kabar besar yang terbit Negeri Belanda dan Batavia ketika itu, melaporkan bahwa situasi dan hubungan politik antara Kerajaan Riau-Lingga dan pemerintah Hindia Belanda ketika telah berada pada taraf konflik, yang “titik didih” tertingginya terjadi pada 11 Februari 1911.

Surat kabar Nieuwe Rotterdamsche Courant yang terbit di Rotterdam pada 11 Februari 1911, umpamanya, melaporkan pergerakan tiga kapal uap Koetai, Java, dan Tromp yang dikirim dari Pulau Jawa. Dengan moncong meriam yang diarahkan ke Pulau Penyengat, ketiga kapal perang Angkatan Laut Hindia Belanda itu menggelar formasi tempur di Kuala Riau (perairan antara Tanjungpinang dan Pulau penyengat) dan di laut depan Keraton Kerajaan Riau-Lingga di Pulau Penyengat,

Di atas ketiga kapal perang itu telah bersiap pasukan marechaussee (marsose), pasukan elit seperti yang pernah digunakan untuk mengakhiri perlawanan Rakyat Aceh tahun 1903, yang akan mendarat dan mengepung sejumlah tempat di Pulau Penyengat. Dapatlah dibayangkan betapa mencekamnya situasi ketika itu. Ditambah pula, ketika tindakan militer pemerintah Hindia Belanda ini dilakukan, Sultan Abdulrahman sedang berada di  Daik-Lingga.

Rakyat ketakutan. Surat Pemberitahuan yang isi antara lain mengingatkan agar penduduk Pulau Penyengat tidak melawan ditempelkan di sejumlah tempat. Selanjuynya, serdadu-serdadu marechaussee yang telah berjaga-jaga di Pulau Penyengat mulai mengepung Istana Kedaton, Istana Tengku Besar, istana bekas Kelana Raja Ali di Bukit Bahjah, serta tempat-tempat lainnya di Pulau Penyengat.

Apa sebenarnya yang terjadi di sebalik suasana yang mencekam itu semakin jelas setelah Controleur H.N. Veemstra datang dari Tanjungpinang membawa sepucuk surat pemberitahuan dari Resident Riouw ketika itu, G.F. de Bruinyskop. Surat  yang dibacakan di gedung Perdirian Rusydiah Club Riouw Pulau Penyengat itu menyatakan sebagai berikut :

Dengan nama Jang Dipertuan Besar Governeur General Betawi  dichabarkan Maka adalah Seri Paduka  Governement  Hindia Nederland menimbang fardu, ini hari djuga  Sri Padoeka Tuan Sultan Abdulrahman Mu’adzam Syah dan Tengku Umar  Kerajaan Riau Lingga serta daerah takluknya diberhentikan dari pada pangkatnya itu.

Maka tuan Sultan diberhentikan dari pangkatnya itu sebab banjak kali melanggar Politik Contract; beberapa kali djuga diberi nasehat oleh Sri  Paduka Governeur Generaal Betawi dan Sri Padoeka Toean Besar Resident Tanjoeng Pinang. Maka itu dengan tiada Tuan Sultan mengindahkan atau mengingatkan perdjandjian yang akan mengubahkan apa-apa jang tiada patut itu. Dan tiada sekali-kali  akan melanggar Polotik Contract lagi dan menurat segala perintah  dan aturan Sri Padoeka  Gouverneur dan wakilnya.

Dan djuga Tuan Sultan hendak menjalankan dan mengaturkan bersama-sama Wakil Governeur pemerintah yang adil dalam negerinya. Maka mungkirlah ia didalam perjanjiannya dan juga melanggar aturan yang menentang pasal memakai Bendera Holanda.

Maka Tengku Besar diberhentikan dari pangkatnya itu disebabnya sekali ianya mengikutkan orang yang berniat bemusuhan dengan Sri Padoeka Governeur Hindia Nederland dan ialah membujuk sampai anjurannya tidak menghindahkan sekalian nasehat Wakil Sri Padoeka Governeur itu. Maka itu Tuan Sultan juga sama sekali mengikutkan orang yang berniat kejahatan itu.

Maka mengikut pasal 6 ayat pada politik Contract t tahun 1905 maka ketiadaan Sultan maka pemerintahan itu di pengang oleh kita Sri Padoeka Toean Besar Resident Riouw dengan daerah takluknya sekalian.

Maka sekarang segala kepala-kepala dan Bumi putra dari kerajaan Riau Lingga dengan daerah takluknya sekalian hendaklah mengaku dengan sesungguhnya akan menjungjung dan  menghormati. Maka Sri Padoeka Toean Resident Riouw Lingga dengan daerah takluknya sekalianya yang memengang dengan sjah  pangkat Sultan di dalam kerajaan ini.

Maka pemerintah  ini akan dipeganag dengan segala keadilan  dan apa juga dijalankan suapya negeri-negeri di bawah pemerintah kita ini bertambah-bertambah dengan Keramaian dan kesentosaan, maka hendaklah kepala-kepala menolong kita didalam pekerjaan ini.”                                                                         

Oleh karena Sultan Abdulrahman Muazamsyah berada di di Daik-Lingga, maka Resident Riouw, G.F. de Bruynskop, memerintahkan Controluer P. Scheffer berangkat ke Daik-Lingga untuk memberitahukannya kepada  Sultan Abdulrahman Muazamsyah.

Sumber lisan di Pulau Peyngat dan jurnal (catatan harian) Abang Djahja, Datuk Syahbandar Lingga, mencatat adanya sebuah upaya perlawanan dari pihak istana Riau-Lingga. Bahkan dari tangan tokoh-tokoh utama dalam lingkaran kelopok perlawanan dari Bukit Bahjah, seperti Raja Ali Kelana serta Raja Khalid Hitam, disita sejumlah senjata api. Namun demikian, laporan-laporan surat kabar sezaman menyebutkan tidak terjadi kerususan (de rust niet is gestoord). Regalia alat-alat kebesaran kerajaan diserahkan kepada Belanda dan disimpan di kediamaan Resident Riouw di Tanjungpinang.

Menyusul tindakan militer dan kebijakan politik Belanda ini, terjadi exodus besar-besaran penduduk Kerajaan Riau-Lingga dan daerah takluknya ke Singapura dan Johor. Pada malam Sabtu 12 Februari 1911, dengan menggunakan kapal diraja bernama Sri Daik yang dinakhodai oleh Nakhoda Ninggal atau Wak Serang, Sultan Abdulrahman Mu’azzamsyah bersama Tengku Ampuan permaisuri baginda dan serta sanak keluarganya juga meninggalkan Pulau Penyengat menuju Singapura. Raja Ali Kelana, Raja Khalid Hitam, dan anggota kelompok oposisi dari Bukit Bahjah menyusul beberapa hari kemudian.

Selanjutnya, dua tahun kemudian, berakhirlah kerajaan Riau-Lingga dan daerah takluknya setelah pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan besluit Gubernur Jenderal Hindia Belanda tentang penghapusan Kerajaan  Riau-Lingga pada tahun 1913 yang kemudian diumumkan dalam stadblad  (Lembaran Negara) No. 19 tahun 1913.***

Dua Versi Gurindam Dua Belas

0
Contoh pasal keenam dalam manuskrip Gurindam Dua Belas koleksi van Ophuijsen yang berbeda dari manuskrip Gurindam Dua Belas koleksi von de Wall. (foto: aswandi syahri)

Koleksi von de Wall di Jakarta dan Koleksi van Ophuijsen di Leiden

Dalam korpus karya sastra Melayu abad 19, maka salah satu genre puisi lama berjudul Gurindam Dua Belas gubahan Raja Ali Haji (1809-1873) adalah sebuah masterpiece, dan sekaligus salah satu karya sastra klasik Melayu par-excellence.

Keluasan dan kedalaman kandungan isinya yang universal, telah menjadikan Gurindam Dua Belas  aktual sepanjang zaman. Kemampuannya menembus ke dalam setiap “semangat zaman” membuatnya paling dikenal, dan mampu bertahan melintasi ruang dan waktu. Walaupun lorong ruang dan waktu yang dilaluinya telah mencecah 174 tahun sejak selesai digubah oleh Raja Ali Haji.

Gurindam Dua Belas, adalah satu-satunya genre “sastra import” yang telah diubah suai menjadi gurindam cara Melayu, yang pernah dihasilkan sepanjang perjalanan sejarah tradisi tulis dan sastra Melayu di Kerajaaan Riau-Lingga sejak awal kurun ke-19 hingga dekade pertama kurun ke-20.

***

Raja Ali Haji berusia tiga puluh tujuh tahun ketika ia menyelesaikan manuskrip Gurindam Dua Belas pada 1846. Delapan tahun kemudian (tahun 1854), gurindam cara Melayu itu dipublikasikan di Batavia (Jakarta) oleh Elisa Netscher, seorang Belanda yang kemudian menjabat Resident Riouw di Tanjungpinang pada 1861 hingga 1870.

Netscher, yang dikenal fasih menguasai bahasa Melayu dan punya minat yang besar terhadap sejarah dan budaya Melayu, adalah orang yang besar jasanya dalam memperkenalkan Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji kepada khalayak yang lebih luas. Beliaulah yang pertamakali menerjemahkan gurindam cara Melayu itu ke dalam bahasa asing (dalam hal ini, Bahasa Belanda) dengan diberi judul, De Twaalf Spreukgedichten.

Teks terjemahan dalam bahasa Belanda tersebut disandingkannya dengan teks dalam bahasa Melayu menggunakan huruf jawi tau Arab Melayu, dan dipublikasikan dalam Tijdschrift voor Indische Taal-, Land-en Volkenkunde jilid II, yang diterbitkan oleh Bataviaasch genootschap van Kunsten en Wetenschappen  di Batavia, tahun 1854.

Judul lengkap hasil terjemahan Netscher itu adalah, De Twaalf Spreukgedichten Een Maleische gedicht door Radja Ali Hadji van Riouw, uitgegeven en van de vertalingen aanteekeningen voorzien (Gurindam Dua Belas sebuah syair Melayu oleh Raja Ali Haji dikeluarkan dan diterjemahkan serta diberi catatan). Dalam catatan pengantarnya,  Netscher memuji dan menilai keindahan cita-rasa dan ungkapan-ungkapan bernas dalam Gurindam Dua Belas, dengan kadar penilaian yang tinggi. Ia bahkan menyebut Raja Ali Haji sebagai, “sastrawan yang sangat terkenal di kalangan bangsanya” ketika itu.

Teks Gurindam Dua Belas edisi huruf jawi oleh Elisa Netscher inilah yang kemudian dialih-aksarakan, dan ditelaah untuk pertamakalinya Shaleh Saidi. Kemudian diterbitkan pula dengan judul, Gurindam Duabelas (Dibitjarakan dan ditranskripsikan kedalam huruf latin) oleh Direktorat bahasa dan Kesusastraan Direktorat Djenderal Kebudajaan Departemen Pendidikan dan Kebudajaan Tjabang Singaradja tahun 1969. 

Teks edisi yang diusahakan Shaleh Saidi telah memperkenalkan Gurindam Dua Belas ke ranah sastra modern Indonesia, hingga sampai kepada kepada khalayak yang lebih luas di  ruang-ruang sekolah melalui buku dan tulisan-tulisan Sutan Takdir Alisyahbana, Madong Lubis, Sabaruddin Ahmad, Zuber Usman, Abdul Hadi WM, dan lain sebagainya.

Dua Manuskrip Gurindam Dua Belas

Sesunguhnya, awal mula perjalanan panjang Guridam Dua Belas dalam menembus ruang dan waktu tersebut diawali oleh manuskrip awal gurindam cara Melayu karya Raja Ali Haji, yang  hingga kini belum diketahui dimana tersuruknya.   

Namun, satu hal yang pasti, sampai saat  ini, di seluruh dunia hanya diketahui ada dua salinan manuskrip Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji. Oleh karena itu dapatlah dikategorikan sebagai sebuah manuskrip Melayu yang langka, dan boleh dihitung dengan jari orang yang telah melihatnya secara lansung.

Tak satupun dari salinan manuskrip itu berada di tempat asalnya di pulau Penyengat. Satu salinan manuskrip berada di Jakarta, dan yang lainnya tersimpan nun jaun di Kota Leiden, Negeri Belanda.

Salinan manuskrip Gurindam Dua Belas yang berada di Jakarta berjudul, Inilah Gurindam Dua Belas Namanya. Manuskrip ini dicatat sebagai bagian dari koleksi besar manuskrip Melayu milik, Hermann Theodor Friederich Karl Emil Wilhem August Casimir vo de Wall di Tanjungpinang, yang kemudian disimpan di perpustakaan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen di Batavia (Jakarta), dan kini menjadi bagian dari koleksi Manuskrip milik Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PERPUSNAS) di Jakarta, dengan nomor katalogus W 233.

Manuskrip Gurindam Du Belas koleksi von de Wall ini ditulis pada kertas Eropa ukuran folio 32,7 x 21,5 cm. Tujuh halaman manuskrip ini selesai digubah di Pulau Penyengat pada 23 Rajab 1263 Hijriah bersamaan dengan 5 Juli 1847 Miladiah.

Kondisi manuskrip yang dijilid dan diberi kulit karton tebal ini sangat mengkhawatirkan. Mutu kertas yang kurang baik, rapuh, preservasi yang tak sempurna, membuat warna kertasnya menjadi kecoklatan.  Selain itu, tinta hitam yang digunakan untuk menulis manuskrip ini mengandungi senyawa besi (iron gall) yang yinggi kadarnya, sehingga menyebabkan banyak bagian tulisan dan kertas yang rusak dan tak terbaca lagi. Padahal, khat manuskrip ini sangat indah.

Adapun manuskrip Gurindam Dua Belas yang kedua, yang berada di Kota Leiden, adalah bagian dari dari sebuah kitab kumpulan beberapa buah salinan manuskrip Melayu. Ph. S. van Ronkel dalam Suplement-Katalogus Maleische en Minangkabausche Handschriften in de Leidsche Universiteit-Bibliotheek (Suplemen Katalogus Manuskrip Melayu dan Minangkabau Koleksi Perpustakaan Universitas Leiden, 1921), menyebut judul kumpulan manuskrip Melayu ini adalah, Minangkabausche Varia (Aneka Manuskrip Minangkabau). Didalamnya, Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji dimuat pada halaman folio 4rekso hingga folio 3verso.

Dalam volume pertama katalogus mutakhir koleksi manuskrip-manuskrip Melayu di Negeri Belanda yang disusun oleh alrmarhum Prof. Dr.Teuku Iskandar, Catalogue of Malay, Minangkabau, and South Sumatran Manuscripts in The Netherlands (1999), kitab kumpulan manuskrip Melayu milik Perpustakaan Universitas Leiden itu dicantumkan sebagai bagian dari koleksi van Ophuijsen atau Charles Adrian van Ophuijsen.

Koleksi van Ophuijsen ini kondisinya masih sangat baik dan tulisannya, menggunakan tinta hitam, masih sangat jelas terbaca. Namun demikian manuskrip Gurindam Dua belas koleksi van Ophuijsen ini belum banyak diketahui jika dibandingan dengan manuskrip yang ada dalam koleksi von de Wall, di Jakarta. Manuskrip Gurindam Dua Belas  koleksi van Ophuijsen disalin pada buku  folio bergaris dengan ukuran 34 x 21 cm.     

Siapa van Ophuijsen dan apa hubungannyya dengan manuskrip Gurindam Dua Belas koleksi Perpustakaan Universitas Leiden? Mengapa salah satu salinan manuskrip Gurindam Dua Belas dapat berada dalam sebuah kitab kumpulan salinan  manuskrip Melayu miliknya?

Van Ophuijsen adalah salah seorang petinggi urusan pendidikan di Sumatra dan sekaligus pengawas pada Kweeksschool (Sekolah Guru, atau Sekolah Rajo menurut lidah orang Melayu) di Fort de Kock (Bukittinggi) pada paruh terakhir abad ke-19.

Dengan dibantu oleh dua orang guru Kweekschool, ia menyusun dan mencipta sistim ejaan dalam tata-bahasa Melayu dengan kaidah bahasa Belanda dan Melayu,  untuk dipakai di sekolah-sekolah. Sistem ejaan dan tata-bahasa tersebut resmi dipergunakan di Hindia Belanda tahun 1901. Dalam sejarah bahasa Indoenesia tata tata-bahasa dan sistim ejaan bahasa Melayu  itu dikenal sebagai ejaan van Ophuijsen, yang dipergunakan sejak 1901 hingga 1947..

Untuk keperluan penyusunan sistim ejaan itu, van Ophuijsen bersama dua orang guru senior Kweekschool asal Kota Gadang (Engku Nawawi gelar Sutan Makmur dan Moh. Taib Sutan Ibrahim) jauh-jauh dari Bukitting datang ke Pulau Penyengat sekitar tahun 1896, untuk mengumpulkan bahan-bahan tentang bahasa dn tata bahasa Melayu di Kepulauan Riau-Lingga.

Selama di Pulau Penyengat, van Ophuijsen dan asistennya banyak menyauk informasi dari ‘munsyi’ bahasa Melayu Riau ketika itu, seperti, Raja Ali Kelana, Raja Hitam bin Akhir, dan Raja Haji Sulaiman atau Raja Muhammad bin Raja Ali Haji. Kisah kedatangan van Ophuijsen “mencari pengertian bahasa” Melayu ini, diabadikan pula oleh Raja Haji Sulaiman dalam Syair van Ophuijsen, yang juga dimuat dalam kitab kumpulan salinan manuskrip milik van Ophuijsen,  dimana  sebuah salinan manuskrip Gurindam Dua Belas juga ada di dalam .

Selama berada di Pulau Penyengat, bukan tak mungkin van Ophuijsen menyalin dan memperoleh sejumlah manuskrip Melayu, termasuk Gurindam Dua Belas, yang salinannya ada  dalam koleksinya, yang kini disimpan di Perpustakaan Universitas Leiden. Namun demikian, ada pula cerita lain yang menyebutkan bahwa, salah seorang anak Raja Ali Haji dengan Daeng Cahaya, yang bernama Daeng Menambun,  juga ada membawa beberapa manuskrip Melayu dari Pulau Penyengat ketika ia menjadi menuntut ilmu  pada Kweekschool (Sekolah Guru) di Fort de Kock, tempat van Ophuijsen bertugas. Bisa jadi juga, van Ophuijsen mendapatkannya dari Daeng Menambun?

“Dua versi Gurindam Dua Belas”

Secara tekstual, bagian-bagian manuskrip Gurindam Dua Belas koleksi von de Wall yang masih dapat dibaca, identik dengan teks edisi yang diterbitkan oleh Elisa Netscher tahun 1854. Karena itu, sudah barang tentu, identik pula dengan teks Gurindam Dua Belas yang dikenal luas pada masa kini.

Sebaliknya, terdapat banyak pebedaan yang mustahak pada beberapa pasal dalam manuskrip Gurindam Dua Belas koleksi van Ophuijsen jika diperbandingkan dengan manuksrip koleksi von de Wall, dan teks edisi yang diterbitkan oleh Eliza Netscher tahun 1854.

Kedua versi manuskrip ini esensinya sama, dan sama-sama mencantumkan Raja Ali Haji sebagai penulisnya. Sumbernya juga sama, yakni manuskrip yang selesai digubah pada 23 Rajab 1263 Hijriah bersamaan dengan 5 Juli 1847 Miladiah.

Hanya saja, perbedaan manuskrip koleksi van Ophuijsen itu sangat jelas dan menyolok sekali jika dibandingkan manuskrip Gurindam Dua Belas koleksi von de Wall dan teks edis yang dikenal luas. Terutama pada larik-larik kalimat dalamGgurindam Pasal Enam, Pasal Tujuh, Pasal Delapan, dan pada Pasal Dua Belas.

Berikut ini adalah contoh isi Pasal Enam Gurindam Dua Belas manuskrip van Ophuijsen yang judul pasalnya ditulis “Gurindam Pasal Yang 6” dan bukan “Ini Gurindam Pasal Yang Keenam” seperti dalam manuskrip Gurindam Dua Belas koleksi von de Wall. Larik-larik kalimat pada tiap-tiap baitnya sangat berbeda. Sajak pertamanya  lebih ringkas jika dibandingkan dengan bait-bait pasal yang sama dalam manuskrip Gurindam Dua Belas koleksi von de Wall dan teks edi yang telah dikenal luas.

Berikut ini adalah contoh bagian yang sangat berbeda dalam manuskrip Gurindam Dua Belas koleksi van Ophijsen:

Pasal Gurindam Yang 6

Cari sahabat               

Yang boleh dijadikan obat

Cari guru                    

Yang boleh tahukan tipu seteru

Cari istri                     

Yang boleh ia menyerahkan diri

Cari kawan                 

Pilih yang setiawan

Cari ‘Abdi

Yang ada sedikit Budi

Coba bandingkan dengan pasal yang sama, dalam teks yang telah dikenal luas, dan bersumber dari manuskrip Gurindam Dua Belas koleksi von de Wall:

Ini Gurindan Pasa Yang Keenam

Cahari olehmu akan sahabat
Yang boleh dijadikan obat

Cahari olehmu akan guru
Yang boleh tahukan tiap seteru

Cahari olehmu akan isteri
Yang boleh menyerahkan diri

Cahari olehmu akan kawan
Pilih segala orang yang setiawan

Cahari olehmu akan abdi
Yang ada baik sedikit budi

Mengapa terdapat perbedaan yang menyolok dalam hal penggunaan kosa kata, sajak, dan kalimat pada larik-larik dalam manuskrip Gurindam Dua Belas koleksi von de Wall di Jakarta dengan Manuskrip koleksi van Ophuijsen yang kini berada dalam simpanan Perpustakaan Univesitas Leiden?

Mengapa beberapa bait yang terdapat dalam manuskrip koleksi von de Wall dan teks edisi oleh Elisa Nescher; seperti bait, Apabila anak tidak dilatih / Jika besar bapanya letih pada pasal ketujuh, dan bait Hormat akan orang pandai / Tanda mengenal kasa dan cindai pada pasal dua belas, tidak ditemukan dalam manuskrip Gurindam Dua Belas koleksi van Ophuijsen yang berada dalam simpanan Perpustakaan Universitas Leiden?

Menga ada dua versi Gurindam Dua Belas? Tulisan hanya mendedahkan sebuah temuan. Selanjutnya, para  filologlah yang layak menjawab persoalan ini.***

Baharu

Hak Cipta Terpelihara. Silakan Bagikan melalui tautan artikel